Rabu, 23 November 2016

Ibn Arabi: Hidup Ini Hanyalah Mimpi (Bagian Ketiga)




Salah satu cara menarik Ibn Arabi dalam memaparkan pemikirannya ialah dengan menarik kita ke dalam perasaan atau pengalamannya. Dia ingin mengatakan kepada kita bahwa meskipun alam wujud ini bertingkat-tingkat, namun bentuknya bukan seperti bangunan bertingkat yang bersifat ‘spasiotemporal’. Yang terjadi ialah satu tingkatan selalu ada bersamaan dengan tingkatan lainnya. Hanya saja, berbagai tingkatan itu layaknya kelap kelip cahaya yang ketika di sini mati, di sana tetap menyala dan demikian pula sebalinya. Lampu yang jadi media cahaya di tiap tingkatan pun selalu tersedia meski tidak selalu terpakai.
Sebagai ilustrasi, Ibn Arabi membawakan pada kita kisah Nabi Idris dan Nabi Ilyas. Menurutnya, kedua nabi ini jatidirinya sama meski punya dua sosok yang berbeda. Nabi Idris mendaki alam malakut dan sesampainya di tempat tertinggi, Allah mengatakan pada nabi yang diutus sebelum Nabi Nuh itu untuk turun lagi dan mengulang secara terbalik. Allah tidak hanya menyuruhnya turun ke alam manusia, tapi memintanya turun hingga ke alam paling bawah dan hidup layaknya benda-benda mineral. Untuk itu, Dia mengutus Nabi Idris dalam sosok Nabi Ilyas.
Nabi Ilyas, menurut Ibn Arabi, merupakan nabi yang mengaktualisasikan semua potensi biologisnya sampai dia turun dari alam binatang menuju ke alam bebatuan dan mineral, lalu mengaktualisasikan seluruh potensi mineralnya hingga turun lagi ke alam yang paling rendah. Kata Ibn Arabi, di alam yang paling rendah ini dia menemukan hakikat yang sama yang dia temukan di alam yang tinggi (malakut). Karena kedua alam itu bertemu kembali, kedua alam itu adalah dua dimensi dari Wajah Al-Haq yang berbeda.
Perjalanan kita, menurut Ibn Arabi, dari alam dzarra, rahim, dan seterusnya adalah perjalanan yang tiada henti. Manusia saja yang mengira bahwa perjalanannya akan berhenti. Padahal Allah tidak menghentikan apapun. Mustahil bagi-Nya menghentikan sesuatu. Toh, Dia Maha Kaya dan tidak takut kehilangan apa-apa. Allah Maha Pemurah lagi Maha Pemberi tidak mungkin menghentikan kemurahan dan pemberian. Dia akan memberi semua sarana bagi tiap makhluk untuk terus menyempurna. Dan inilah yang dimaksud dengan wahdatul wujud: penyatuan wujud dalam berbagai tingkatan, derajat dan dimensi yang berbeda-beda.
Wahdatul wujud berarti wujud yang berderajat atau bertingkat. Tapi dalam setiap tingkatannya, ada kesadaran yang berbeda-beda. Misalnya, ketika kita ada pada kesadaran indrawi dan biologis, maka kesadaran kita pada tingkatan wujud lainnya untuk sementara ‘off’. Begitu pula dengan tingkat wujud yang lain lagi juga ‘off’.  Nah, saat kita ‘off” atau mati dari kesadaran indrawi dan biologis, barulah kita ‘on’ di kesadaran tingkatan lain. Begitu kita mati dari kesadaran indrawi ini, maka kita memasuki kesadaran alam selanjutnya. Sesaat setelah  tingkatan ini ‘off’, kesadaran pada tingkatan lainnya akan ‘on’.
Namun, menurut Ibn Arabi, ‘off’ bukan berarti tidak ada, atau baru diciptakan. Hal ini karena prinsip Ibn Arabi bukan prinsip penciptaan, tapi prinsip penyadaran dan kebangkitan sebagaimana hadis Nabi yang berbunyi: “Semua manusia tidur. Setelah mati (off) barulah mereka terbangun.”
Pada titik ini, pandangan Ibn Arabi berbedan dengan para teolog. Para teolog berpijak pada ‘creatio ex nihilo’ atau ‘penciptaan dari ketiadaan’. Kata Ibn Arabi, mengapa Allah (harus) mengadakan dan menciptakan sesuatu? Bukankah Allah selalu Ada?! Dan karena Dia selalu Ada, maka tentu tajalli dan penampakan-Nya selalu ada. Dan Allah memberikan tajalli kepada siapa saja, dan kepada seluruh titik alam ini dengan pancaran cahaya-Nya, bayang-bayang eksistensi-Nya, dengan kehendak-Nya, tanpa batas.
Jadi, penciptaan segala sesuatu itu bukan dari suatu ketiadaan, karena ketiadaan itu bukan sesuatu untuk dapat menjadi sumber bagi penciptaan. Atau bahwa Dia menciptakan satu tingkatan lalu setelah sekian lama menciptakan tingkatan lain lagi. Mengapa (harus) menunggu? Kesadaran manusia-lah yang melihat demikian, lantaran -“on-off”-kesadarannya. Manusia mimpi memasuk satu tingkatan dan kesadarannya di tingkatan lain “off” sampai dia “off” (baca: mati) dari tingkatan yang pertama dan “on” di tingkatan berikutnya dan begitu seterusnya.
Menariknya, dengan pemaparannya ini, Ibn Arabi telah ‘menghangatkan’ cara berfikir filsafat yang cenderung kering dan dingin. Bahkan, dia telah ‘mendidihkan’ filsafat hingga bergolak. Sedemikian sehingga orang yang memiliki latar belakang filsafat saat membaca Ibn Arabi akan menemukan suatu pergolakan, pendidihan, dan penghangatan. Ketika filsuf berbicara tentang konsep-konsep universal yang seolah tidak ada wujudnya di alam ini, Ibn Arabi mampu mengamati dan menafsirkan isyarat-isyarat yang detail dan kecil di alam ini. Termasuk mengamati kisah-kisah hagiografis para nabi.
Oleh sebab itu, dalam otobiografinya, Ibn Arabi mengisahkan perjalanan hidupnya sejak kecil dengan detail, termasuk pertemuannya dengan tokoh lain seperti Ibn Rusyd, bagaimana dia menghafal Al-Qur’an, berjalan dari Andalusia dan sebagainya yang semuanya diingat dengan baik. Hal ini berbeda dengan filsuf yang cenderung tidak suka dengan hal-hal yang detail atau partikular. Karena kelebihan ini, para filsuf Islam juga memiliki ketertarikan pada pemikiran Ibn Arabi.
Boleh dikatakan, Ibn Arabi turut mempengaruhi perjalanan filsafat Islam sebagaimana dia mempengaruhi perjalanan tasawuf dalam Islam. Hal ini tidak lepas dari kekayaan dan kehangatan pemikirannya, imajinasinya yang melanglang buana serta ‘eksploitasnya’ yang mendalam dan cantik terhadap Al-Qur’an. Termasuk bagaimana dia menggunakan keunggulan bahasa Al-Qur’an ini dalam membuka cakrawala pemikiran Islam.
Sebagai contoh, dalam tema tanzih dan tasybih, biasanya orang mengatakan ‘subhanallah’ diartikan Allah itu tidak menyerupai (tasybih) makhluk. Kemudian kita nafikan (tanzih) keserupaan antara Allah dan makhluk-Nya. Sementara kata Ibn Arabi, ketika Allah menyatakan ‘laisa kamitslihi syaiun wa hua as-sami’ul bashir’, itu berarti; ‘tiada keserupaan yang menyerupai-Nya,’ pada saat yang sama Dia menyatakan; ‘dan Dia Maha Mendengar dan Melihat’.
Bukankah mendengar dan melihat juga pekerjaan makhluk? Tentu tidak serupa dengan dengan makhluk-Nya tapi (tetap) ada penyerupaan. Oleh sebab itu, ketika berbicara tentang Nabi Nuh dan kaumnya, Ibn Arabi mengatakan bahwa Nabi Nuh dan kaumnya saling bertentangan. Kaumnya menyembah berhala (tasybih) sedang Nabi Nuh ingin menafikan berhala (tanzih). Menurut Ibn Arabi, ini adalah mazhab Furqan atau memisahkan antara tasybih dan tanzih. Yang benar, bagi Ibn Arabi, ialah mazhab Qur’an. Arti Qur’an adalah ‘al-jam’u bayna al-tasybih wa al-tanzih’ (mengumpulkan antara tasybih dan tanzih).
Kembali kepada Nabi Nuh. Kata Ibn Arabi, sekiranya Nabi Nuh menganut mazhab Qur’an maka beliau tidak akan menafikan umatnya. Dan inilah (keunggulan) mazhab Rasulullah Saw. Mazhab Rasulullah Saw tidak menafikan penyembah berhala apalagi menghancurkannya. Beliau menggabungkan semua dalam rahmat dan kasih sayang. Bukankah orang yang menyembah berhala juga bermaksud menyembah Allah Swt? Jadi, beliau bisa menerima sekalipun berhala-berhala itu tidak boleh di tempat-tempat tertentu dimana tanzih harus dilakukan. []

Edy/Islam Indonesia/Ditranskrip dari Bedah Buku Taoisme dan Sufisme karya Toshihiko Izutsu. 2 Maret 2016 di UIN Sunan kalijaga

Ibn Arabi: Hidup Ini Hanyalah Mimpi (Bagian Kedua)




Toshihiko Izutsu memiliki kepakaran dalam bidang “permainan bahasa” ala Ibn Arabi. Bisa dikatakan, Toshihiko memiliki kepekaan semantik dan cita rasa bahasa yang baik. Karenanya, dia mulai mempresentasikan pemikiran Ibn Arabi dengan mengatakan bahwa, bagi Ibn Arabi, apapun yang kita lihat, rasakan, dengarkan, dan semua kita yang saling bertatapan saat ini adalah “mimpi”. Tentu, sebagai seorang literalis, Ibn Arabi berpijak pada hadis ini: “Annasu niyamun idza maatuu intabahuu” yang berarti semua manusia tidur, barulah terbangun setelah mereka mati.
Pintu masuk yang dipilih oleh Toshihiko ini memang ‘canggih’ dan dahsyat. Dari sekian banyak pengalaman, ternyata ia memilih pintu masuk ini. Dan ini termasuk salah satu sisi kreatifnya. Kemudian kata Ibn Arabi, karena kita ini mimpi, ia perlu ditakwil. Apa arti ditakwil? Artinya dicari makna sesungguhnya. Seperti kita yang saling bertatapan dan saling berdialog (dalam sebuah forum pertemuan atau kelas), menurut Ibn Arabi, semua ini perlu ditakwil agar kita menemukan makna sebenarnya di alam yang sesungguhnya.
Selanjutnya Ibn Arabi mulai mendedah alam mimpi itu dengan berbagai contoh. Misalnya, Ibn Arabi mengatakan bahwa Nabi Yusuf tidak bisa dibandingkan dengan Nabi Muhammad. Hal ini disebabkan Nabi Muhammad sejak awal telah mengatakan bahwa manusia ini tertidur dan sedang bermimpi. Mimpinya pun bermacam-macam. Ada yang bermimpi (sedang) jadi presiden, meski kelihatannya jadi presiden. Namun, kata Ibn Arabi, mimpi kita ini bukanlah mimpi palsu, ilusi atau tanpa makna. Ini adalah, menurut Ibn Arabi, mimpi di dalam mimpi. Siapakah yang mimpinya di dalam mimpi? Orang yang mimpinya benar seperti para nabi yang melihat ‘ru’yah shodiqah’ maupun yang mimpinya semu dan tidak bermakna seperti kaum materialis.
Kembali ke soal Nabi Yusuf. Ibn Arabi berkata bahwa Nabi Yusuf sejak muda bermimpi melihat “ahada asyara kaukaban wa syamsa wal qamara raitu hum li saajidiin,” (sebelas bintang, bulan, dan matahari bersujud kepadanya. – Q.S. Yusuf; 5) . Lalu Ayahnya meminta beliau merahasiakan mimpi tersebut, agar saudara-saudaranya tidak berbuat makar kepadanya.
Menurut Ibn Arabi, maqam (kedudukan spiritual) Nabi Yusuf di bawah Nabi Muhammad. Mengapa? Karena Nabi Yusuf masih ingin mengetahui mimpi di dalam mimpi. Sementara Nabi Muhammad telah mengatakan bahwa semua ini adalah mimpi. Dan takwil mimpi kita akan terungkap setelah kita mati, yakni ketika kita semua terbangun ke alam yang lain.
Nah, karena kita saat ini sedang mimpi, menurut Ibn Arabi, ada dua cara agar kita terbangun dari mimpi kita. Kedua cara itu, meminjam istilah filsafat, adalah cara ‘epistemologis’ dan ‘ontologis’.
Cara ontologis bangun dari mimpi adalah dengan ‘ifna ad-zat’ (penghilangan ego). Yaitu merontokkan diri di hadapan Sang Maha Hadir. Dan dengan mem-fana-kan atau menghilangkan ego, sesungguhnya kita telah mengoyak hijab tidur di alam biologis ini. Kita telah membangunkan diri hakiki kita. Salah satu yang bisa kita pahami dari fana ialah sirna atau binasa. Lalu bagaimana metode ‘pembinasaan’ ego itu?
Ibn Arabi banyak sekali berbicara tentang fana. Mungkin di antara yang cukup mempengaruhi Ibn Arabi dalam soal terminologi fana ini adalah gurunya sendiri, Syekh Abu Madyan. Orang-orang bisa melihat Ibn Arabi dalam melakukan metode ontologis dari memandang Ibn Arabi sebagai orang yang sangat syar’i. Maksudnya, dia menjalankan syariat sangat teguh. Sedemikian sehingga orang ini dikenal dalam literatur hagiografisnya sebagai seorang yang sangat kecil tubuhnya, kurus, dan pucat wajahnya. Jika kita melihat langsung di masa hidupnya, mungkin kita tidak mengenali bahwa inilah orang yang memiliki pemikiran hebat karena penampilannya yang kusam, kurus, kering, pucat disebabkan seringnya puasa dan melancong.
Bagi Ibn Arabi, ketika orang melepaskan unsur-unsur biologisnya, ketika itu pula orang bangun dari tidur biologisnya. Ia terjaga ke suatu kesadaran spiritual. Ini salah satu cara dan cara lainnya, menurut Ibn Arabi, meninggalkan nalar. Meninggalkan nalar di sini bukan berarti menjadi orang yang irasional. Tetapi membatasi rasionalitas dan menerima apa yang datang dari Allah sebagai pengetahuan sepenuh hati.
Perlu diingat, (yang dimaksud ialah) meninggalkan interpretasi atau analisis atas pengetahuan yang datang – biasa ia menyebutnya sebagai ‘waridat’ atau isyarat yang datang padanya. Karena menurutnya, (proses) nalar seperti inilah yang membuat manusia tertidur di alam nalarnya. Nalar ini membawa kita ke interpretasi sehari-hari di alam mimpi dan sudah terbiasakan seperti itu. Sedemikian terbiasanya nalar ini mengikuti panca indra alam mimpi itu, maka nalar ini perlu ditinggalkan dulu untuk dapat bangun dari tidur biologis.
Ibn Arabi juga mengatakan bahwa akal manusia berderajat sebagaimana wujud manusia. Akal manusia biologis akan mengikuti panca indranya dan karena panca indra merupakan alat yang terbatas maka akal ikut terbatasi. Oleh sebab itu, menurut Ibn Arabi, di alam mimpi ini, orang harus sering menggunakan imajinasinya (quwwah khayaliyyah). []

Selasa, 22 November 2016

Sembah Cipta, Bersuci dengan Memerangi Hawa Nafsu


Oleh Parni Hadi
Setelah mampu menjalankan sembah raga atau sholat lima waktu sehari semalam sesuai Syariat, orang dapat meningkat ke tahap berikutnya, yakni sembah cipta atau sembah kalbu. Di sini hubungan antara manusia dengan Tuhan dilakukan melalui kalbu.
Bersucinya tidak lagi dengan air (wudhu) seperti dalam sembah raga, melainkan dengan memerangi hawa nafsu atau menjauhkan diri dari angkara murka dan segala sesuatu yang dapat memecah konsentrasi lakunya, demikian menurut Wedhatama.
Lakunya adalah bertindak tertib, teliti, berhati-hati dan tekun, betapapun sulit dan berat. Ini akan menumbuhkan watak dan kebiasaan ingat dan waspada atau “eling lan waspodo”. Jika diterima oleh Allah, hasil sembah cipta ini pelakunya akan mampu melihat jalan yang sebenarnya, tarekat, menuju “kasunyatan” atau kenyataan yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Sembah cipta juga disebut salat tarekat.
Apabila dilaksanakan dengan tertib, sembah cipta akan berakibat lenyapnya  penghalang yang memisahkan  pemandangan alam lahir dan alam bathin, demikian menurut  Dr. Hj. Koosinah Soerjono Sastrohadikoesoemo dalam bukunya “Serat Wedhatama, suatu Kajian Pemikiran Filsafat“.
Lenyapnya penghalang atau hijab ini disebut “tinarbuko” dalam bahasa Jawa. Ini mulai dirasakan pada sembah ketiga, yakni sembah jiwa/sukma. Tanda sudah sampai pada tataran ini adalah keadaan seolah-olah pingsan atau setengah tidur, antara sadar dan tidak. Wedhatama menyebutnya  masuk ke alam “ngaluyut”.
Wedhatama mengungkapkan ini dalam bait ke 13, yang biasa dilantunkan sebagai Suluk oleh dalang, sbb:
Tan samar pamoring suksma,
Sinuksmaya ing ngasepi,
Sinimpen telenging kalbu,
Pambukaning warana
Tarlen saking layap liyeping ngaluyup,
Pindha pesating supeno sumusuping rasa jati.
Terjemahan bebasnya: Tidak ada keraguan akan cahaya jiwa yang tersimpan dalam dasar kalbu, yang memancar di kala sepi, terbukanya tabir/penghalang yang menutupi (pemandangan bathin),  sewaktu mata sedang terbuka dan terkejab dengan ingatan setengah sadar, saat itu Rasa Jati menyusup dengan cepat ke dalam kalbu seperti mimpi. 
Untuk sampai pada pengalaman ini, orang harus sabar dalam segala tindak, dan terlaksananya dengan “eneng, ening, eling”, yaitu dengan tenang, syahdu dan sadar. Sembah cipta akan gagal  kalau orang bersikap tidak setia akan hasrat dan tujuan semula dan menjadi sombong, ingin puji-pujian dari para pengikutnya. Karena itu, harus selalu ingat dan waspada terhadap yang membatalkan sembah ini.
“Kasunyatan”  berasal dari bahasa Sanskrit “sunyata”, yang berarti sunyi atau “suwung” atau tidak ada apa-apa, menurut “Kunci Swarga” (Miftahul Jannati), buku dalam bahasa Jawa karya Bratakesawa yang terbit tahun 1952.
Menurut Bratakesawa, hasil sembah cipta adalah “makrifating tarekat”. Artinya, pengertian yang ditangkap  oleh tiga indra (tri indriya) dari delapan indra (astendriya). Ke delapan indra itu terdiri dari pancaindra (mata, kuping, lidah, hidung dan kulit) dan tiga indra, yakni jantung, otak dan “pringsilan” ( buah pelir).
Ketiga indra dalam “Wirid Hidayat Jati”, karya Ronggowarsito, disebut Betalmukaram (Baital Muharram), Betalmakmur (Baital Makmur) dan Betalmukadas (Baitul Maqdis). Betalmukaram disebut rumah larangan, karena dianggap arasy, tempat Tuhan bersemayam.
Betalmukaram, tempat rahasia “Ingsun” bertahta di dada manusia. Di dalam dada ada hati dan jantung, di dalamnya ada budi. Di dalam budi ada angan-angan, di dalamnya ada sukma (rahsa), di dalam rahsa ada Ingsun”. Yang dimaksud “Ingsun” adalah Tuhan. Wallahu alam bissawab.[]

Syarah Haidar Bagir atas 7 Nasihat Rumi


Berikut ini adalah 7 nasihat #Jalaluddin Rumi yang disyarah oleh #Haidar Bagir dalam akun twitter-nya;
1. Dalam hal kedermawanan dan menolong orang, jadilah seperti sungai.
Penjelasan: Biarkan mengalir tak henti-henti dan tanpa mengharap kembali.
2. Dalam kasih sayang dan berkah, jadilah seperti matahari.
Penjelasan: Berilah kehangatan kepada siapa saja tanpa diskriminasi.
3. Dalam menutupi aib orang lain, jadilah seperti malam.
Penjelasan: Tutupi semua aib rapat-rapat, tanpa pernah membocorkannya.
4. Dalam keadaan marah dan murka, jadilah seperti orang mati.
Penjelasan: Diamlah, jangan lakukan apa pun, agar tidak menimbulkan kesalahan dan menyesal kemudian.
5. Dalam hal kesederhanaan dan kerendahhatian, jadilah seperti bumi.
Penjelasan: Selalu menempatkan diri di bawah dan meninggikan yang lain.
6. Dalam hal toleransi, jadilah seperti laut.
Penjelasan: Berlapang dada seluas-luasnya dan siap menampung pandangan-pandangan yang berbeda.
7. Tampillah seperti diri sejatimu, atau jadilah seperti tampilanmu.
Penjelasan: Hiduplah dengan penuh integritas. Sama antara lahir dan batin.

Berbagai Makna Tasawuf menurut kalangan Sufi dan Ulama


Oleh Haidar Bagir

Ada begitu banyak defenisi tasawuf yang bisa digali dari karya para sufi dan ulama di dunia Islam. Di antaranya pandangan Abul Hasan Syadzili yang medefinisikan tasawuf sebagai praktik dan latihan diri melalui cinta dan penghambaan yang mendalam untuk mengembalikan diri ke jalan Tuhan. Adapun menurut Syekh Akbar Ibn Arabi, tasawuf berarti berakhlak dengan akhlak Allah (at-takhalluq bi akhlaqil-laah).
Akhlak yang dimaksud ialah menanamkan sifat Allah yang intinya adalah rahmat atau kasih-sayang. Definisi lain menyebutkan tasawuf sebagai hidup yang mendekatkan (taqarrub) kepada Tuhan (Sang Inti) kehidupan agar tak relevan lagi kesenjangan antara “aspirasi”-ku dan “realitas”-ku.
Dalam bahasa yang sederhana lagi, Muhammad bin Ali Kattany mengatakan bahwa tasawuf adalah akhlak yang baik. Maka, bagi Kattany, siapa yang melebihimu dalam akhlak yang baik, berarti dia melebihimu dalam tasawuf. Sedemikian mendasarnya akhlak dalam tasawuf sehingga orang yang terus-menerus berupaya memelihara ketulusan kepada Allah dan berakhlak baik kepada makhluk, menurut Al-Suyuthi, adalah sufi.
Sufi merupakan terminologi yang umumnya dilekatkan pada orang yang mengamalkan ajaran tasawuf. Secara khusus, terminologi ‘sufi’ juga memiliki beragam defenisi. Imam Nawawi misalnya mendefinisikan mereka sebagai pemelihara kehadiran Allah di dalam hati, taat pada sunnah Nabi, menghindari ketergantungan pada orang dan mensyukuri karunia-Nya meskipun sedikit. Ahmad an-Nury menambahkan, tanda bahwa orang itu termasuk sufi ialah dia rela ketika tidak punya dan peduli pada orang lain ketika punya.
Dengan indah Junayd al-Baghdadi memberi analogi bahwa para sufi itu seperti bumi yang rela diinjak-injak oleh orang saleh maupun pendosa. Mereka, lanjut Junayd, seperti mendung yang memayungi segalanya dan seperti hujan yang mengairi semuanya. Di sisi lain, Abu Nashr Sarraj pernah bertanya pada Ali Al Hushry, “Siapakah sufi itu?” Al Hushry menjawab, “Dia yang tak dibawa bumi dan tak dinaungi langit.” Maksudnya bahwa sufi ialah mereka yang mengalami fana.
Sebagaimana defenisi Imam Nawawi, tasawuf tidak terlepas dari ketaatan pada syariat (fikih). Sedemikian sehingga orang yang sebatas memiliki ilmu yang luas belum cukup dikatakan sufi. Ilmu bagi Ibn Ajiba, adalah awal perjalanan tasawuf, tengahnya amal dan ujungnya karunia Ilahi yang berupa penyingkapan hakikat. Begitu pentingnya syariat ini, meskipun ada orang yang mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan manusia pada umumnya tidak meniscayakan dia adalah sufi.
Dalam hal ini, Bayazid Busthami mengingatkan: “Jangan terkelabui oleh pelaku mukjizat yang mampu terbang di udara. Tapi nilailah berdasar ketaatannya pada syariat.”
Tidak jarang ada orang yang mengkalaim dirinya sufi namun menafikan salat, puasa dan syariat lainnya. Merekalah yang oleh Malik bin Anas disebut sebagai zindik. Siapa bertasawuf tanpa berfikih, kata Imam Malik, zindiklah dia. Sebaliknya, lanjut ulama kelahiran Madinah ini, siapa yang berfikih tanpa bertasawuf, maka fasiklah dia. Zindik di sini berarti menyeleweng dan fasiq berarti merusak.
Dalam berbagai literatur tasawuf, syariat (fikih) menempati posisi yang penting dalam perjalanan sufi mencapai hakikat. Al Hallaj mengatakan, “Batin Al-Haqq punya zhahir, yakni syariat. Siapa yang mencari hakikat lewat syariat, akan tersingkap baginya batin syariat, yakni ma‘rifat.”
Selain Imam Malik, Imam Syafi’i juga mengingatkan bahwa tasawuf dan syariat haruslah sejalan. Ulama kelahiran Gaza, Pelestina, ini mengatakan, “Jadilah pelaku fikih dan pejalan sufi. Jangan hanya jadi salah satunya demi Allah, inilah nasehatku.”
Jika dianologikan secara sederhana, syariat (fikih) adalah jalan raya, sedangkan thariqah (tasawuf) adalah jalan kecil. Untuk menuju Allah, kita harus melalui jalan raya, lalu masuk ke jalan yang lebih kecil. Atau, seperti pada roda yang berangkat dari lingkaran (syariah), menempuh jari-jari (thariqah) untuk menuju pusat lingkaran (haqiqah).
Dari uraian di atas bisa dikatakan bahwa syariat (fikih) adalah ajaran lahir yang memiliki makna batin, sedangkan tasawuf adalah pengalaman batin yang terwujud dalam laku lahir. Dengan syariat, para sufi terus bergerak mendekati titik keseimbangan sehingga meraih ketenteraman hidup (surga), bahkan sejak masih di dunia.
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” (QS. al-Fajr [89]: 27-30)
“Siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia berbuat ihsan (menghamba kepada Allah sesempurna mungkin dalam keadaan memiliki hubungan intim penuh cinta dengan-Nya), maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Baqarah [2]: 112)
Jiwa atau hati yang tenang dapat diraih oleh orang-orang yang mendekati pusat roda hakikat. Mereka tak lagi diterpa goncangan-goncangan pasang-surut roda kehidupan sebagaimana orang yang terus tinggal di pinggirannya.

Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...