Selasa, 24 April 2012

MENSYUKURI PEKERJAAN

Salam hormat, Mari Berbagi Semangat! DEKA - Dadang Kadarusman – 11 April 2012 Author, Trainer, & Public Speaker ”Natural Intelligence”
Tiba-tiba semua orang keluar sambil bersorak. Ada yang sambil bersuit-suit segala. Tapi semuanya tertawa lepas. Kecuali satu orang. Jeanice. Dia terjebak diantara kebingungan. Dan kekesalan. Orang-orang pada memeluknya. ”Selamat!” kata mereka. ”Anda masuk dalam Cubical Candid Camera.....!” ”Dassssar....” umpat Jeanice. ”Elo ngerjain gue ya!!!” makinya. Rasa kesalnya sudah mulai mencair setelah tahu jika kejadian yang membuatnya kesal tadi itu hanyalah kejailan teman-temannya di kubikal. Gimana nggak kesal. Soalnya satpam tidak mengijinkan masuk kedalam kantor. Tanpa alasan yang jelas, gitu deh. ”Pokoknya, Anda tidak diizinkan masuk ke kantor kami!” beraninya satpam-satpam itu bilang begitu. ”Kenapa gue nggak boleh masuk kantor?!” protesnya. ”Maaf, Bu,” jawab satpam. ”Tidak sembarangan orang diperkenankan masuk ke kantor kami.” ”Elu pikir gue siapa, heh?” sewot Jeanice. Semuanya terekam dalam kamera. ”Buka pintunya!!” ”Mohon maaf Bu, kami hanya menjalankan tugas,” jawab satpam. ”BUUKA PINTUNYA!!!” sekarang Jeanice sudah berteriak. Kemarahannya mulai memunca
Pada saat kritis itulah teman-teman kubikal pada keluar sambil bertepuk tangan. Puas sekali rasanya telah ngerjain temannya. ”Dasssar udah pah gila, elo pade ya,” Jeanice masih bersungut-sungut. ”Matikan tuch kamera. Emangnya gue ini artis, apa?” dia berusaha untuk menerobos lari ke kubikalnya. Teman-temannya mengikutinya di belakang. Opri yang masih dengan gigihnya merekam ekspresi wajah Jeanice. ”Oke teman-teman.” teriak Aiti. ”Mari kita berikan ucapan terima kasih kepada teman kita Jeanice,” lanjutnya. ”Terima kaaaasih, Jeaniiiiiiice....” semua orang di kubikal merunduk. Jeanice kembali keungungan. Ini orang-orang udah pada kesambet apa ya? Anehnya udah diluar kebiasaan. Selama ini pun mereka sudah aneh. Hari ini. Anehnya udah nggak jelas gitu deh. Sekris maju dengan membawa sebuah bungkusan. ”Jean...,” katanya dengan gaya gemulai khas bodi bongsornya. ”Ini hadiah dari teman-teman, buat elo... thanks ya....” ”Apa-an lagi nih.” Jeanice menarik badannya. ”Elo belum puas ngerjain gue, eh?” Matanya melotot. Pipinya merah. Mulutnya manyun. Tapi ya dasar Jeanice. Biar mukanya kayak begitu ya tetep aja kelihatan cantiknya. ”Nggak Jean,” Fiancy mendekatinya. ”Udah selesai kok...” bujuknya. Tadi itu orang-orang di kubikal sedang melakukan eksperimen soal menu hari ini dari Natin. Natin menulis di whiteborad pantry begini: ”BERSYUKURLAH KARENA BISA MASUK KANTOR HARI INI”
Mereka berusaha untuk membayangkan bagaimana seandainya mereka tidak diizinkan masuk ke kantor ini. Faktanya. Nggak semua orang boleh keluar masuk kantor ini. Sedangkan mereka yang setiap hari keluar masuk dengan bebasnya sering kali tidak melihat hal itu sebagai sebuah anugerah. Bisa masuk ke kantor. Bekerja. Berinteraksi. Dan dibayar pula. Apa bukan nikmat yang indah tuch? Kitanya saja yang sering kehilangan rasa syukur. Jadinya ya nggak heran kalau kita masih sering mengeluhkan soal ini dan itu. Kerja mah. Dikantor manapun. Nggak bakal 100% oke semuanya. Lirik kantor orang lain mungkin indah. Tapi kalau sudah masuk kesana? Kita akan tahun the in-and out-nya. Segala sesuatunya. Dan kita juga akan tahu enak dan tidaknya. Natin bilang. Syukuri anugerah pekerjaan itu. Syukuri. Hari ini kita masih bisa berkantor. Mereka membayangkan. Benarkah kata-kata Natin itu. Namun mereka sangat sulit untuk sekedar membayangkannya. Makanya itu. Mereka sepakat untuk melakukan eksperimen. Dan korbannya adalah... Jeanice. Hari itu mereka baru merasakan kebenaran kata-kata Natin. Dia benar. Bahwa bahkan sekedar bisa melewati pintu kantor tanpa dicegat satpam pun sudah merupakan anugerah. Yang patut kita syukuri. Apalagi dengan pekerjaan ini. Raya syukur kita. Harus lebih besar dari itu. Tiba-tiba terdengar suara seperti kunci pintu yang tidak bisa dibuka. Pak Mergy. Sedang berusaha memutar kunci ruang kerjanya. Macet. Nggak bisa dibuka. Mungkin kuncinya karatan. ”Nggak bisa dibuka Pak?” kata Opri. Sambil menawarkan bantuan. Gagal. Sekris nggak mau ketinggalan. Dicobanya. Gagal juga. Aiti. Begitu juga. Semua orang mencoba. Dan tidak ada yang berhasil. Lalu mereka menyerah. Kasihan Pak mergy. Nggak bisa masuk ke ruang kerjanya hari ini. Tiba-tiba saja Pak Mergy beteriak. ”O, iyya.” Katanya. ”Maaf anak-anak,” lanjutnya. ”Ketuker. Itu kunci lemari pakaian saya......” Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa selama ini mereka sering lupa untuk mensyukuri anugerah pekerjaan yang dimilikinya hari ini. Bukan soal kita tergantung kepada pemberi kerja. Atau menyerah kepada perusahaan. Bukan soal itu. Melainkan soal betapa hidup kita menjadi lebih bermakna. Ketika kita mendapatkan pekerjaan yang layak. Yang kita sukai. Yang kita cintai. Dan yang memberi kita. Kehidupan sejahtera. Maka benar kata Natin. Bersyukurlah. Karena bisa masuk kantor. Hari ini.

Kaderisasi Bisnis Gaya Si Mantan Anak Bandel

Posted on May 12, 2011 by Eddy Dwinanto Iskandar
Pernah dipenjara saat remaja, Yacob Kusmanto ternyata mampu mengubah jalan hidupnya. Kini, jebolan kelas 2 SMA itu sukses membangun 16 perusahaan tekstil dan distribusinya. Misi hidupnya kini: mencetak 2.000 pemimpin bisnis! “Maaf, saya terlambat turun. Tadi saya ditelepon orang yang saya beri mentoring bisnis. Dia dan keluarganya habis dipukulin warga di rumahnya di Tangerang.” Kalimat yang membuat SWA agak terkejut itu diucapkan dengan nada biasa oleh seorang pria separuh abad yang hendak diwawancarai SWA, penghujung Februari lalu, di Apartemen CBD Pluit, Jakarta. Itulah Yacob Kusmanto, pengusaha handuk, tirai, gorden, perlengkapan dapur, dan perlengkapan bayi yang berbasis tekstil di Bandung. Bagi pengusaha yang kenyang makan asam-garam kehidupan dan mengalami jatuh-bangun kodisi perekonomian Indonesia ini, tidak ada lagi peristiwa yang membuatnya kaget. “Karena, memang semua situasi itu netral. Tidak ada kepahitan, tidak ada kesusahan. Kecelakaan pun punya kesan yang baik, yang positif. Semua kondisi menarik,” ujarnya.
Hal yang sama diajarkannya kepada mentee-nya atau orang yang diberi mentoring olehnya, yang dipukuli warga itu. “Saya bilang ke dia, bersyukurlah bahwa kamu dan ketiga anakmu yang masih kecil dan remaja itu sudah belajar kepekaan hidup sejak dini. Mereka kan digebukin karena meledakkan petasan kencang-kencang sehingga warga sekitar marah. Ya sudah. Anggap saja itu pelajaran agar mereka lebih peka lingkungan ke depannya,” ungkap Yacob. Demikian juga di ranah bisnis. Saat salah seorang karyawannya hengkang dengan membawa banyak karyawan kunci, Yacob hanya tersenyum menceritakannya. “Itulah pilihannya,” ujar pria kelahiran Bandung, 13 Januari 1961, ini tanpa kesan mendendam.
Yacob memang tidak patut bersedih atas hilangnya karyawan ataupun hadirnya pesaing. Toh, perusahaan miliknya kini berjumlah total 16 buah. Jadi, roda bisnisnya tidak akan goyah hanya karena ada satu pesaing baru. Yacob bercerita, separuh perusahaannya digunakan untuk berproduksi dan separuhnya lagi untuk mendistribusikan produknya. PT Tirai Pelangi Nusantara memproduksi selimut, tas, handuk dan perlengkapan bayi bermerek Snobby. PT Tegar Prima Nusantara membuat perlengkapan bayi berbasis tekstil bermerek Dialogue. PT Harmoni menghasilkan tirai dan kelambu bermerek Harmoni. PT Imanuel memproduksi taplak meja. PT Adiguna membuat gorden tebal. CV Duta Baby menghasilkan tas gendong, kasur dan kelambu bayi. PT Kota Pelangi memproduksi perlengkapan dapur seperti kain penutup air mineral. PT Garmindo Utama mendistribusikan merek Dialogue. Lalu, PT Rabat dan PT Putra Raja Sejahtera mendistribusikan merek Snobby. “Saya lupa sisa nama perusahaan saya, ha-ha-ha,” ujarnya sambil tertawa kecil. Wajar bila Yacob, yang mempekerjakan kurang-lebih 2.000 karyawan, lupa. Sebab, ia mengaku kini hanya babat alas alias sekadar membuka jalan demi pendirian perusahaan. Setelah didirikan, perusahaan itu langsung dipercayakan kepada anak buahnya yang dirasanya kompeten dan berintegritas tinggi. “Kalau tidak begitu, kapan kita ada waktu memikirkan yang lain,” ujarnya santai. Ia tidak khawatir bisnisnya hancur dengan pola demikian. ”Saya kan juga kontrol sesekali. Kalau ada yang salah, ya saya tegur. Kalau tidak ada, ya silakan saja teruskan.” Bagi Yacob, yang utama adalah integritas dan militansi seseorang dalam bekerja. Dia menyukai orang yang tidak hitung-hitungan dalam bekerja. Atas dasar itulah, ia kini memiliki seorang lulusan STM yang memimpin produksi merek Dialogue; seorang lulusan SMA yang notabene mantan pramuwiswa di rumahnya kini menjadi manajer pabrik perlengkapan bayi bermerek Snobby, dan seorang lulusan SMEA Akuntansi yang memimpin CV Duta Baby, pabrik perlengkapan bayi miliknya yang lain. Mudah saja dicari alasannya mengapa Yacob berprinsip demikian. Sebab, ia juga menerapkan perilaku serupa semasa menjadi karyawan dulu. “Itulah yang saya alami di masa lalu.” Di ruang apartemennya yang jauh dari kesan mewah, Yacob pun mengajak SWA menelusuri masa lalunya. Ia melewati masa kecilnya dengan penuh perjuangan. Sebagai anak pasangan sopir taksi 4848 di Bandung dan penjual kue, ia terbiasa dengan kondisi ekonomi pas-pasan. “Kami lahir dari keluarga miskin di Bandung. Kami miskin sekali,” ungkapnya. Tak ada kesan berupaya menarik simpati dengan pengulangan itu. Malah, yang terdengar justru nada ceria. Yacob mengaku bersyukur atas masa kecilnya. Dari kondisi yang penuh keterbatasan itulah justru dirinya diperkenalkan dengan kerja keras, pemahaman bisnis, dan pengelolaan keuangan yang cermat sejak dini. “Saya diajari bisnis sejak umur 4-5 tahun,” ungkapnya. Ketika itu, ia terbiasa mendapat uang jajan jika membantu memarutkan kelapa untuk usaha kue semprong, telur asin dan tauge yang dibuat ibunya. Berhubung “upah” yang diterimanya sangat kecil, ia jadi terbiasa berhemat dan menabung. Bahkan, untuk sekolah, ia hanya membawa bekal nasi hangat yang dikepal-kepal dengan “lauk” garam. Namun, perjalanan hidupnya sempat memasuki masa kelam saat remaja. Ketika bersekolah di SMA Santa Maria, Bandung, ia kerap berkelahi dengan sesama siswa di sekolahnya. “Saya lemah di sekolah. Maka, untuk eksis, saya berusaha menonjolkan diri dengan cara lain. Saya berkelahi dengan kakak kelas yang lebih besar agar saya populer,” tuturnya seraya tersenyum. Akibatnya, ia kerap mendapat perlakuan tidak enak. Bahkan, pernah karena kenakalannya, ia dipenjara di Bandung dan merasakan “kenikmatan” saat kakinya ditekan dengan kaki meja dan tulang keringnya digetok pistol. Akibat itu juga, ia terpaksa hengkang dari rumahnya dan terdampar di lingkungan yang penuh dengan minuman keras dan narkotika.
Untung saja, pada suatu ketika Yacob sadar. Ia lantas meminta pekerjaan kepada Yamin Haryanto, teman sekampung orang tuanya, dari Cilacap, yang berbisnis tekstil di Bandung. Bahkan, sebelum memutuskan keluar saat kelas 2 SMA di usia 18 tahun, ia membolos seminggu untuk menjajal suasana kerja. Akhirnya, ketika mantap bekerja, ia langsung izin dari kantornya untuk pamit kepada pihak sekolah. “Setelah itu, saya fokus bekerja di CV Wiska milik Pak Yamin,” ujarnya seraya menyebut produk-produk CV Wiska seperti handuk, gorden dan tirai. Di sinilah titik balik seorang Yacob terjadi. Ia yang bertekad berubah lantas bekerja sangat keras melebihi jam kerja normal. Ia selalu masuk pukul 6 pagi dan pulang di atas pukul 5 sore. Selalu mematuhi perintah atasan dan tidak pernah membantah saat dikritik atasan. “Saya mendapat pelajaran di keluarga untuk menghormati pemimpin, bagaimanapun kondisinya. Dan saya selalu berprinsip memberi lebih dari gaji yang saya terima,” katanya. Setelah lewat enam bulan bekerja, ia memberanikan diri membeli handuk-handuk reject dari CV Wiska. Ternyata, permintaannya dikabulkan. Beragam handuk cacat produksi itu lantas dipermaknya menjadi sapu tangan kecil dan wash lap sehingga cacatnya terbuang. Lebih jauh lagi, melihat ada tetangganya yang berbisnis printing, ia pun memberikan motif cetak di produknya. Ia lantas menjualnya di pasar tradisional Cibangkong, Bandung, tidak jauh dari kontrakannya saat itu di Gang Warta, Jalan Gatot Subroto, Cibangkong. Ternyata, hasilnya bagus. Ia pun mengangkat temannya sebagai tenaga penjualan untuk membantu pekerjaannya. Yacob kemudian menjajal peruntungannya di luar kota, Purwokerto tepatnya. Dengan kecerdikannya, ia bisa mengirim produknya dengan nyaris gratis ke luar kota. Pasalnya, ia kerap mencucikan kendaraan-kendaraan milik travel yang juga berlokasi tidak jauh dari tempat tinggalnya. Hasilnya, setiap libur kerja di Sabtu dan Minggu, ia mengirim produk ke daerah. “Maklum, orang kecil banyak akalnya,” ujarnya. Satu tahun 10 bulan bekerja di CV Wiska, Yacob digaji Rp 75 ribu/bulan. Namun, penghasilan dari bisnis sampingannya itu justru mencapai Rp 2 juta/bulan. Karena itu, 5 tahun kemudian, pada 1987 ia memutuskan membuka pabrik sendiri. Setelah pamit kepada atasannya, ia membuka pabrik pertamanya di Leuwigajah, Bandung, dengan mengontrak lahan seluas 1 hektare selama lima tahun. Berkat hubungan baiknya dengan mantan bosnya, ia diizinkan membeli mesin bekas milik mantan bosnya itu. Bahkan, tak cuma mesin, ia juga dipinjami suku cadang dan teknisi saat mesin-mesinnya mengalami masalah. Dari situ bisnisnya terus berkembang. Yacob mengakui, baginya sekarang lebih mudah membuka perusahaan. Sebab, pertama, selama ini ia selalu cermat mengalokasikan modalnya. Ia mengaku sebagai orang yang cukup hemat, baik dalam gaya hidup maupun pengeluaran perusahaan. Itu sebabnya, saat krisis 1997, dia justru mendapat untung besar dari pembelian aset-aset mesin perusahaan tekstil lainnya, sehingga perusahaannya bisa melakukan efisiensi biaya produksi dengan mesin-mesin yang baru tetapi bekas. Dari mana sumber dananya? “Ya, dari hasil penghematan itu,” ujarnya. Kedua, ia memiliki perusahaan distribusi sendiri untuk produknya. Berkat strategi tersebut, ia memiliki jaringan nasional yang kuat sampai ke pasar becek. Berkat itu pula, ia merasa tidak perlu berpromosi besar-besaran. “Ada berbagai cara untuk ekspansi. Saya sendiri memilih menguatkan distribusi kami yang hingga kini sampai ke pasar modern dan pasar becek,” katanya. Pilihan strategi ini juga yang membuat perusahaan-perusahaan Yacob tetap bernapas di saat perusahaan produk tekstil lainnya limbung dihajar produk kembaran asal Cina. Menurutnya, kebanyakan perusahaan jatuh karena terlalu mengandalkan pasar grosir. “Sektor tekstil itu dulu dipuja-puja, jadi banyak yang hanya bermain grosir. Sementara saya sudah menyasar ke pasar-pasar langsung dengan perusahaan distribusi. Jadi, begitu produk Cina menyerbu pada tahun 2000-an, saya sudah memiliki jaringan distribusi yang kuat,” ungkap suami dari Puji Binarti, atau yang akrab disapa Rosa itu. Strategi lainnya yang menurut Yacob menjadi salah satu kunci keberhasilan pengembangan bisnisnya adalah kemampuannya mencetak kader-kader pemimpin bisnis yang gres. Ia berprinsip, jika seorang karyawan sudah 10 tahun mengikutinya, itulah saatnya dia harus menjadi pemimpin. Kalau tidak, berarti yang salah pemimpinnya karena tidak mampu memercayai bawahannya. “Kalau saya terus-menerus menaruh curiga dan memupuk ketidakpercayaan, perusahaan saya tidak akan sampai sebanyak sekarang,” ujar ayah Sylviana Kusmanto dan Naomi Kristiana Kusmanto ini. Yacob menegaskan, bisnisnya yang sejati adalah mencetak pemimpin. Bisnis tekstil hanyalah kendaraan baginya. Dengan begitu, ia tidak sulit melepas perusahaan ke tangan orang yang dipercayainya. Bahkan, meski perusahaan itu baru didirikannya. Dengan pengalaman mengader orang, ia kini hanya menyingkat waktu kaderisasi dari 10 menjadi lima tahun saja. Dengan kian cepatnya kemampuan mencetak pemimpin, laju ekspansi perusahaan juga kian kencang. “Dulu untuk menambah satu perusahaan bisa lima tahun, kini satu tahun bisa membuat 3-4 perusahaan,” katanya. Ia memang tak ragu mengader anak buahnya yang berkarakter jujur, gigih dan tak hitung-hitungan dalam bekerja. Mirip dirinya semasa muda dulu. “Yang terpenting bagi saya dalam menunjuk pemimpin adalah karakternya. Soal pendidikan, skill, dan lainnya itu bisa dilatih.” Yacob mengaku prinsipmya merupakan kebalikan dari prinsip pengusaha lain yang kerap menutup rapat-rapat kondisi keuangan perusahaan. Di perusahaannya, mulai dari level kepala bagian sampai GM harus tahu kondisi keuangan perusahaan, berapa modal, berapa biaya pembelian, berapa harga jual, dan sebagainya. Ia tak takut rahasia bisnisnya dicuri pesaing atau karyawan yang berubah menjadi pesaing. Menurutnya, dari persaingan justru muncul kreativitas. Dan, Yacob lebih suka menyikapi kompetisi dengan dorongan untuk lebih kreatif ketimbang mengeluarkan sumpah serapah. Hal itu dibuktikan saat salah satu pegawainya hengkang dari perusahaannya dengan membentuk perusahaan sejenis, plus membetot beberapa karyawan kuncinya. “Memang, dia kurang elok keluarnya. Tapi ya sudah. Kami tidak perlu cemas. Kami terus saja berinovasi,” ceritanya seraya tersenyum. Yacob pun tidak merasa perlu mengubah pendiriannya. Toh, laju perusahaannya yang masih tak terbendung seakan-akan memberikan dukungan nyata bagi prinsip-prinsipnya. Retnowati, lulusan SMA yang menjadi Manajer Pabrik PT Tirai Pelangi Nusantara yang memproduksi Snobby, turut membuktikan implementasi prinsip bosnya. Sepuluh tahun lalu, Retno adalah pekerja di rumah Yacob yang juga dijadikan kantor. Berhubung turut tinggal di rumah Yacob di Bandung, Retno berinisiatif mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu dan mengepel sebelum masuk kerja dan setelah jam kantor usai. Semua itu dilakukan tanpa perintah Yacob. “Soalnya, saya sejak awal berkeinginan bekerja sebaik mungkin jika mendapat pekerjaan. Semua itu saya lakukan karena saya tidak ingin gagal karena sekolah saya saja dibantu orang lain. Jadi, saya harus berikan yang terbaik saat bekerja,” ungkap muslimah kelahiran Cilacap itu.
Yacob pun ternyata memperhatikan kegigihannya. Walhasil, Retno yang awalnya bekerja di bagian pengemasan diberi keterampilan menjahit, selanjutnya menjadi pemimpin grup jahit, lalu dididik pengetahuan administrasi, kemudian diberi kepercayaan memimpin sebuah grup jahit di Kembangan, Jakarta Barat. Tentu saja, tak semuanya berjalan mulus. Saat dipindahkan ke rumah Yacob di Kembangan yang juga merangkap kantor, Retno gagal memimpin grupnya. Ia pun kembali ditarik ke Bandung menjadi staf biasa. Meski sempat merasa kecewa pada diri sendiri, Retno tidak patah semangat. Dan ketika ada posisi lowong di PT Tirai pada 2009, ia pun kembali dipercaya Yacob menjadi manajer yang membawahkan bagian produksi. Dan, Juni 2010 ia dipercaya memegang seluruh kendali operasional, produksi dan pergudangan perusahaan tersebut dengan karyawan sekitar 500 orang. “Saya bersyukur diberi kepercayaan kembali. Saya sendiri ingin menaikkan omset perusahaan jadi dua kali lipat,” ujarnya yakin. Di mata Felix Ferryanto Lukman, pengamat bisnis sekaligus dosen Manajemen Strategi Prasetiya Mulya Business School, Yacob mampu mengatasi salah satu masalah utama dalam bisnis keluarga, yakni delegasi kekuasaan karena minimnya kaderisasi. Umumnya, menurut Felix, perusahaan keluarga berpola one man show. Namun, tidak dengan Yacob. Ia mampu mendelegasikan hal-hal penting plus dengan tanggung jawab sepenuhnya ke calon pemimpin. “Jadi, dia tidak menitipkan pistol berpeluru hampa,” ujar Felix bermetafora. Felix juga menyetujui langkah Yacob mendistribusikan produknya dengan memiliki perusahaan distribusi sendiri. Menurutnya, bisnis melulu bicara tentang sustainaibility. “Kalau Yacob mampu survive dengan cara ini, ya monggo,” ujarnya. Selain itu, dalam promosi tidak selalu harus mengandalkan iklan. Yacob bisa saja menggunakan word of mouth alias promosi getok tular dari para penjualnya yang terkadang bisa lebih berpengaruh ketimbang iklan di televisi. Terkait corporate social responsibility (CSR) di bidang mentoring bisnis, Felix berpendapat seharusnya Yacob mempromosikannya ke publik. Karena, hal tersebut akan menguatkan keyakinan masyarakat bahwa orang yang berada di balik produk Dialogue, Snobby, dan sebagainya adalah orang yang kerap membantu sesama. “Dan cara terbaik melakukannya adalah dengan menggunakan strategi public relations agar penerimaan masyarakat lebih baik.” Yacob, yang selalu enggan memaparkan omsetnya, tidak berniat berhenti di sini. Dirinya kini masih memiliki impian besar: mencetak 2.000 pemimpin, baik di lini bisnis maupun ranah masyarakat. “Saya bermimpi mencetak banyak general manager. Rumus saya untuk karyawan yang sudah saya serahi tanggung jawab sederhana: kalau mau dihancurkan, silakan; kalau mau dikembangkan, silakan. Karena ini semua juga milik Tuhan, saya hanya dipercaya jadi pengelolanya. Kalau pembantu rumah saya saja bisa jadi manajer, tentu yang lain juga. Itu yang saya katakan. Kita sebagai pemimpin bekerjanya juga jangan sampai jadi lokomotif yang terus-menerus menarik muatan. Tapi, mereka sendiri yang harus bisa mendorong dirinya. Dan, pendorong selanjutnya bukan saya, melainkan mereka. Ini saatnya mereka tampil,” kata Yacob menandaskan.(*) Riset: Evi

Senin, 23 April 2012

Perjalanan Spiritual Seorang RA Kartini

Sabtu, 21 April 2012, 20:11 WIB REPUBLIKA.CO.ID, Teguh Setiawan/Wartawan Senior Republika
Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis; Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya? Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca. Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya. Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?
RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon. Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. Namun, Kartini tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang -- lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat. Adalah Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, yang menuliskan kisah ini. Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya. Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.
Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu. Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh. "Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?" Kartini membuka dialog. Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. "Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?" Kyai Sholeh balik bertanya. "Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku," ujar Kartini. Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; "Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?" Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa. Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia. Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.
Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon. Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban. Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan. Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai. Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; "Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.

Senin, 16 April 2012

Madu Pahit Super Al-Mahaz

Dinkes P-IRT No. 109327701174
Dengan kandungan ALKALOID Tinggi ( zat anti infeksi) dan ANTIBIOTIK alami, menjadikan Madu Pahit Al-Mahaz sebagai salah satu alternatif yang terbaik untuk membantu mempercepat proses penyembuhan penyakit KRONIS (Insya Allah). Sangat aman dan dianjurkan terutama bagi penderita DIABETES MELITUS untuk membantu menormalkan gula darah tinggi, karena kadar GLUKOSA-nya yang RENDAH.
BERKHASIAT & BERMANFAAT 1.Meningkatkan kekebalan tubuh 2.Perawatan & pengobatan penyakit Diabetes mellitus. 3.Mengatasi masalah masuk angin 4.Pengobatan pada berbagai alergi 5.Diet alami / Over Weight 6.Membantu proses detoxifikasi 7.Menambah stamina & Vitalitas 8.Perawatan Keluhan Organ Ginjal 9.Pengobatan & Perawatan Stroke 10.Pengobatan penyakit Jantung 11.Mengatasi masalah pencernaan 12.Mengobati darah tinggi & rendah 13.Pengobatan pada Lemah Syahwat 14.Memperkuat kerja Liver / hati 15.Mengobati masalah mata 16.Membantu mengatasi keluhan : Asma, Batuk, Sakit tenggorokan, Paru-paru, Mengobati luka, Reumatik, Bau badan, Trigliserid, Kolesterol, Kualitas Tidur, Mengurangi dengkuran saat Tidur, dan lain-lain.
Harga & Kemasan : 1. Kemasan 460gr = Rp. 200.000,- 2. Kemasan 200gr = Rp. 100.000,- Pemesanan bisa hubungi : Ibu Dyah Mulyati Telp : 022-86600565/ 085624823517

Penelitian Madu sebagai Obat

Bukti ilmiah modern membuktikan akan kandungan dan khasiat madu. Madu mengandung berbagai jenis komponen gizi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Yaitu Karbohidrat, Asam amino, Mineral, Enzim, Vitamin, Air, dan Zat-zat organik lainnya. Madu sebagian besar mengandung Karbohidat berupa gula glukosa dan fruktosa, yang sudah jelas berbeda dengan gula pada gula pasir atau gula aren yaitu sebagian besar adalah gula sukrosa. Gula pada madu dapat langsung diserap darah, sedangkan sukrosa harus melalui proses pencernaan. Nilai kalori madu sangat besar 3.280 kal/kg, setara dengan kalori 50 butir telur ayam, 5,7 liter susu.
Madu kaya akan mineral penting (K, Ca, Fe, I, Na, S, Cl, P, Mn, Mg) yang dibutuhkan tubuh agar tetap bugar, asam lemak vitamin B komplek (kecuali B1), D, E dan K serta berbagai macam enzim. Kandungan garam mineral madu serupa dengan kandungan garam mineral dalam darah manusia. Zat besi Fe dapat meningkatkan jumlah Eritrosit darah ( Sel darah merah, eritrosit (en:red blood cell, RBC, erythrocyte) adalah jenis sel darah yang paling banyak dan berfungsi membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh lewat darah. Bagian dalam eritrosit terdiri dari hemoglobin, sebuah biomolekul yang dapat mengikat oksigen. Hemoglobin akan mengambil oksigen dari paru-paru dan insang, dan oksigen akan dilepaskan saat eritrosit melewati pembuluh kapiler. Warna merah sel darah merah sendiri berasal dari warna hemoglobin yang unsur pembuatnya adalah zat besi. Pada manusia, sel darah merah dibuat di sumsum tulang belakang, lalu membentuk kepingan bikonkaf. Sel darah merah sendiri aktif selama 120 hari sebelum akhirnya dihancurkan. ) dan meningkatkan kadar Hemoglobin ( Hemoglobin adalah metaloprotein (protein yang mengandung zat besi) di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Asetil kolin (Asetilkolin merupakan salah satu jenis neurotransmiter/zat kimia penghantar rangsangan saraf. Asetilkolin merupakan gabungan senyawa kimia yang berperanan pada proses penyimpanan dan pemanggilan kembali memori, perhatian (atensi), maupun tindak balas seseorang. Makin banyak asetilkolin yang disintesis, makin banyak pula yang dilepaskan ke dalam sistem saraf sehingga makin baik pula proses memori dan atensi. Ia juga berperanan dalam menghantar isyarat dalam bentuk kimia terus ke bahagian otot zakar dan bertindak balas secara mengembang, menutup salur darah dan mengeraskan zakar. ) dalam madu dapat melancarkan metabolisme seperti memperlancar peredaran darah dan menurunkan tekanan darah. Ada berbagai jenis enzim seperti diastase, invertase, katalase, peroksidase, dan lipase yang membantu proses pencernaan sehingga memperlancar metabolisme. Sejumlah asam amino seperti asam malat, tartarat, sitrat, laktat, juga berperan dalam metabolisme. Madu mengandung perangsang biogenik yang berperan meningkatkan kesegaran . Di dalam madu masih terkandung biose atau zat pengatur tumbuh yang mempercepat pertumbuhan akar, tunas, serta pembuangan pada tanaman, selain zat antibakteri, sehingga bisa membantu mempercepat pulihnya jaringan yang luka serta mencegah infeksi. Vitamin B2 dan B6 yang berperan dalam metabolisme protein dan mencegah penyakit kulit. Ada pula B3 (asam pantotenat) dan H (biotin) yang berperan dalam metabolisme lemak dan protein serta menghambat penyakit kulit seperti eksim dan herpes. Madu mengandung anti bakteri dan bersifat higrokopis (menarik air dari lingkungan), sehingga dapat digunakan sebagai kompres luka luar akibat infeksi dan luka yang bersifat basah akan lebih cepat kering. Zat antibakteri yang terdapat dalam madu adalah hidrogen peroksida, dan juga adanya peranan senyawa flavonoid (terutama asam caffeat, asam ferulat). Madu mengandung vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan yang dapat mencegah keriput atau penuaan dini. Semakin gelap warna madu maka semakin besar kandungan anti oksidannya (senyawa fenol). Zat antibakteri dalam madu dapat menyembuhkan jerawat. Hidrogen feroksida juga sangat efektif untuk membersihkan kulit. Enzim peroksidase melakukan oksidasi metabolisme peroksida yang merupakan limbah metabolisme, yang dapat mempercepat penuaan. Selain sebagai nutrisi kulit, madu sebagai pelembab alami kulit dan berperan dalam perawatan rambut. Ini terbukti, telah digunakannya madu pada produk perawatan kulit dan rambut. Beberapa asam organik madu (asam asetat, butirat, formiat,suksinat,glokolat, malat, sitrat,piruvat) terdapat juga hormon gonadotropin yang berguna bagi kesuburan refroduksi, serta berbagai senyawa penting lainnya yang sangat berguna bagi kesehatan kita. (Madu Pahit.com)

Selasa, 10 April 2012

Liwet Instan

MASAK NASI LIWET, TIDAK LAGI RIBET.
Nasi Liwet Instan 1001 merupakan hasil olahan dari beras Garut pilihan melalui 3 ( tiga) kali proses Penggilingan dan Penyaringan sehingga menjadikan praktis tanpa harus melakukan lagi pencucian dengan tetap menjaga mutu serta kualitasnya.
Liwet Instan, suatu waktu ada temen yang ke kantor, membawa oleh-oleh dari garut. kalo ngga salah beliau memberikan 4 dus ukuran 250 gr Liwet instan. Kemudian esok harinya, minta ke salah satu karyawan untuk memasaknya. Liwet tersebut dimasak di magic Com. Menjelang istirahat siang, begitu dibuka tutup megic Com yang dipakai masak langsung tercium bau semerbak Khas Liwet dengan aroma daun salam, sereh dan ikan asin/teri. Membuat lidah bergoyang karena pingin menyantapnya. Begitu istirahat tiba, maka langsung liwet tersebut diserbu dan disantap hanya dengan krupuk. Dengan membaca do'a mau makan, kami mulai menyuapkan liwet tersebut sesuap demi sesuap. Setelah aroma khas liwet yang tercium, berikutnya adalah "pulen" nya nasi terebut yang begitu memanjakan lidah. Tanpa terasa 1 piring "munjung" langsung habis dalam hitungan menit. Berawal dari situ, terlintas dalam benak saya untuk mencoba menyebarluaskan informasi. Bahwa ada liwet instan, yang praktis untuk dinikmati, kapan saja dan dimana saja. Kemasannya yang bagus dengan ukuran 250gr & 500gr bisa menjadi barang oleh-oleh.
BERAS TIDAK PERLU DICUCI LAGI. Bisa Langsung Dimasak di Magic Com, Periuk atau panci. Nasi Liwet Instan 1001 terbuat dari berbagai bahan alami sehingga menghasilkan nasi liwet yang pulen dengan aroma yang menggugah selera makan sekaligus memanjakan lidah penikmat liwet. Komposisi : Beras, Minyak, Bumbu & Rempah-rempah Tersedia dalam 5 ( Lima) rasa : Rasa Original, Rasa Jengkol, Rasa Pete, Rasa Teri dan Rasa Jambal. Harga : 1. 500 gr. : Rp. 25.000,- 2. 250 gr. : Rp. 15.000,-
Pingin mencoba, hubungi Ibu Dyah phone : 022-86600565/ 085624823517

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...