Rabu, 26 Desember 2018

Panduan belajar Patrap

Setiyo Purwanto
Patrap adalah metode untuk belajar menyadari Allah, dalam islam menyadari Allah ini dinamakan IHSAN. Jadi patrap adalah metode untuk ber-Ihsan. Semua ibadah yang berdasarkan Iman dan Islam harus berada dalam keadaan Ihsan dimana setiap ibadah melibatkan seluruh aspek diri untuk benar benar menyadari Allah.
Patrap itu sederhana
Patrap itu mudah, gampang  dan sangat sederhana yaitu “menyadari Allah” jika kita sudah bisa menyadari Allah maka kita sudah berhasil dalam belajar PATRAP (IHSAN). Yang diperlukan dalam belajar patrap bukanlah teori dan metode yang rumit, yang diperlukan dalam belajar patrap adalah “kesungguhan”, bahasa sundanya “Keukeuh” itu yang pertama, yang kedua adalah tidak ada tujuan yang lain kecuali hanya “Allah”. Terganggunya tujuan ke “selain Allah” misalnya belajar patrap untuk mencari sensasi misalnya getaran, tenang, etc., mencari efek efek samping lain… agar bisa ini dan itu.
Syarat selanjutnya yang ketiga adalah sebaiknya sebelum belajar patrap peserta sudah tidak meragukan lagi tentang pentingnya belajar IHSAN dengan metode yang namanya PATRAP. Jika masih banyak pertanyaan sebaiknya diskusi terlebih dahulu dengan mentor sebelum praktek PATRAP.
Ketika praktek Patrap sensai yang muncul biasanya merupakan hal yang baru bagi peserta, pada saat praktek jangan terlalu banyak bertanya tentang sensasi yang terjadi ikuti saja keadaan atau kejadian yang muncul namun tetap keukeuh atau tetap lurus menuju ke Allah. Karena inilah latihan kesadaran yaitu kesadaran diatas tubuh dan kesadaran diatas rasa. Jika ditengah praktek PATRAP pikiran kita banyak pertanyaan …lho kok begini… apa ini? … biasanya sensasi dan kesadaran kita kepada Allah akan lenyap dan hilang. Sehingga harus memulai dari awal.
Bagaimana Menyadari  Allah
Inipun cukup mudah, manusia itu terbagi tiga tingkatan unsur dalam diri
1.       Tubuh (fisik)
2.       Jiwa (ego)
3.       Ruh (kesadaran)
Nah yang kita gunakan dalam patrap adalah kesadaran kita yaitu unsur Ruh, karena hanya Ruh lah yang bisa menyadari Akan keberadaan Allah.
“Allah itu lebih dekat dari Urat leher”.
Jadi Allah itu sangat dekat dengan kita, dalam belajar patrap kesadaran bahwa Allah yang dekat inilah yang kita gunakan untuk berlatih dan berlatih secara kontinyu menyadari Allah (ihsan).
Patrap tidak menggunakan instrument pikiran (tubuh) sebaiknya tinggalkan pikiran, beralihlah pada kesadaran. Perbedaan antara pikiran dan kesadaran terletak pada keluasan, pikiran (unsur  tubuh) adalah dibawah kekuasaan kesadaran (unsur Ruh) jika kita sadar Allah maka pikiran akan mengikuti apa yang disadari oleh kesadaran.
Bukan pikiran tapi kesadaran.
Hal yang sering menjadi kesulitan dalam belajar patrap adalah peserta tidak dapat membedakan mana pikiran dan mana kesadaran. Ketika belajar patrap peserta masih menggunakan pikirannya sehingga sensasi yang terjadi kepala seperti kaku dank eras serta seperti menggunakan helm. Aktivasi pikiran ketika patrap akan menyebabkan ketegangan otot otot disekitar kepala sehingga terasa kaku. Jika kesadaran yang diaktivasi maka tubuh terasa relaks, otak lebih relaks (menurunnya  gelombang otak) dan getaran getaran halus akan terasa.
Patrap Bukan Trance apalagi ada unsur “JIN”
Ketakutan bagi pemula adalah munculnya trance (tidak sadar selama patrap), ketakutan ini wajar karena ketika praktek patrap reaksi atau sensasi yang muncul seperti orang yang trance, teriak teriak, getar getar, dan reaksi hebat lainnya. Namun hal ini sangat berbeda dengan trance , perbedaannya terletak pada jika trance orang tidak sadar dengan apa yang terjadi dalam dirinya tapi jika patrap , peserta sangat sadar terhadap apa yang terjadi dalam dirinya.
Reaksi yang keras dan hebat pada peserta patrap seringkali diidentikan dengan kesurupan, ke JIN an, atau ada hubungannya dengan makhluk gaib lainnya. Patrap adalah reaksi fisiologis yang bisa dijelaskan secara ilmiah tidak ada hubungannya dengan Jin dan makhluk ghoib lainnya.
Belajar PATRAP  takut  sesat
PATRAP adalah metode bukan suatu model ibadah, metode untuk belajar IHSAN. Ya .. samalah dengan metode IQRO , Cuma kalau metode IQRO kan untuk belajar membaca quran.
Nah Patrap belajar untuk ke Allah jadi jangan takut sesat. Islam diturunkan, rasulullah di tunrunkan agar umat ini mengenal Allah jadi kalau kita ke Allah sudah sesuai dengan tujuan dari Islam dan Rasulullah diturunkan.
“Masak sih ke ALLAH sesat, dan masak sih Allah tega menyesatkan kita kalau kita hendak ke Allah….”
Praktek Patrap
Patrap dapat dilakukan sendiri atau berjamaah, belajar otodidak atau melalui bimbingan, namun saya sarankan untuk belajar patrap ini ada komunitas dan ada mentor nya. Sebab sensasi patrap cukup bervariasi dan spiritual experience nya sangat dalam dan luas, jika ada komunitas dan mentor hal-hal yang  baru (kejadian selama patrap)  dapat di konsultasikan dan didiskusikan.
Inti dari patrap adalah menuju ke Allah, sedangkan program patrap ada 3
Patrap SATU : Bergerak menuju ke Allah (mendekat, taqorub)
Patrap DUA : Menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah (pasrah)
Patrap TIGA : Menyadari yang ada hanya Allah (laa ilaha ilallah)
a.       Dasar dasar praktek patrap
Kita ada dan Allah juga ada, sekarang jika kita yakin bahwa Allah ada maka Allah tinggal kita sebut dan Panggil dengan penuh kerendahan hati. Panggillah Allah dengan penuh kerendahan hati … Yaa Allah…. Yaa Allah… Yaa Allah….
Memanggil Allah dengan penuh Iman, jangan hanya yaa Allah .. yaa Allah tanpa IMAN. Karena jika kita menyebut Allah dengan Iman maka, “bila kita sebut Nama Allah maka hati kita akan bergetar”. Nah getaran ini lah yang akan membuat kita lebih bertambah Iman kita kepada Allah.
b.      Contoh praktek
  • Berdiri lah dengan relaks seperti berdiri dalam sholat,
  • kemudian tengadahkan tangan seperti  berdoa
  • kemudian, mohon ampun kepada Alllah
  • bangkitkan Iman kita (percaya bahwa Allah ada) dengan bersyahadat,
  • sambung  dengan bershalawat ,
  • kemudian berdoa “ya Allah, ajari saya untuk berdzikir , bersyukur dan beribadah yang khusyu”
  • sebut dan panggil Allah Tuhan kita dengan penuh kerendahan yaa Allah….., Yaa Allah…..Yaa..Allah…. Yaa Allah…….
  • (lakukan dengan relaks jangan berpikir apapun kecuali menyebut dan memanggil)
  • Tutuplah dengan bersujud dan bersyukur kepada Allah.
Memanfaatkan patrap
1.       Untuk Ibadah (sholat, puasa, haji dan ibadah lainnya)
2.       Kehidupan sehari hari agar selalu “mode ON” ke Allah
3.       Menguatkan afirmasi dari doa yang kita panjatkan sehingga memiliki daya keyakinan untuk dikabulkan Allah
4.       Menstimulasi otak untuk lebih mudah menerima ilham dari Allah
5.       Dan manfaat lainnya
Beberapa Aplikasi Patrap
1. patrap gerak :
patrap ini merupakan latihan dasar yang harus dikuasi bagi siapapun yang akan belajar patrap patrap yang lain .
tujuan dari patrap ini adalah menguatkan hati, pikiran dan jiwa sehingga kuat dalam sambung ke Allah. membedakan secara jelas mana fisik dan mana jiwa, mengenal kekuatan Allah dan mahakuasa Allah atas tubuh kita.
2. Patrap diam
ini merupakan kelanjutan dari patrap gerak. pengertian diam disini adalah diam fisiknya, tapi jiwa tetap bergerak menuju ke ALlah
manfaat dan tujuan pelathan ini adalah: peserta dapat melepas kesadaran fisiknya menuju pada kesadaran jiwa. hal ini penting sekali bagi kita karena inilah dasar untuk menuju kekhusyuan dalam sholat, untuk ihlas, dan untuk menapatkan pengalaman pengalaman spiritual yang lebih dalam dan lebih sensasional.
3. patrap gerak rasa
setelah diam peserta akan dilatih bagaimana mengaktifkan gerak rasa yaitu suatu gerak intuitif yang akan membangkitkan indera keenam kita. tujuan utama daripatrap gerak rasa ini adalah untuk melatih peserta agar mampu mengingat Allah dalam segala gerak. dan ini merupakan dasar untuk melatih patrap patrap aplikatif lainnya seperti patrap jalan, patrap tidur dan lain sebagainya
patrap aplikatif
4. patrap jalan
melatih peserta agar ketika kita berjalan baik itu jalan kaki atau mengendarai sepeda motor dapat ingat kepada Allah.
manfaat dari patrap jalan ini sangat besar terutama untuk jamaah haji karena ritual haji banyak yang menggunakan ibadah dengan jalan kaki seperti tauwaf, sai, lempar jumrah, dan lain sebagainya, sehingga latihan patrap gerak ini sangat pas jika di latihkan kepada jamaah haji
5. patrap tidur
patrap tidur merupakan tidurnya rasulullah, dimana tidurnya rasulullah tidak sekedar tidur namun rasulullah tetap sadar dan mengingat ALlah.
tujuan dari patrap tidur ini adalah melatih peserta agar mampu dzikir ketika tidur,mampu menangkap ilham dikala tidur, dan terutama sekali meningkatkan kualitas tidur kita, serta bagi peserta yang mengalami insomnia (gangguan tidur) insya Allah dengan patrap tidur akan sembuh
6. patrap bicara
sering kali ketika kita berbicara kita lupa Allah , nah dengan latihan ini kita berlatih agar ketika kita bicara tidak lupa kepada Allah.
tujuan dari pelatihan ini adalah agar kita lebih sadar dengan apa yang kita bicarakan dan jika bicara kita memerlukan ide ide kreatif maka dengan patrap bicara ini insya Allah, Allah akantuntun pikiran kita
7. patrap jima’
kehidupan seksual bagi sebagian orang sangat penting namun seringkali akan mengalami hambatan terutama pada ejakulasi dini. dengan patrap kamasutra ini peserta akan dijelaskan bagaimana mengingat Allah ketika berhubungan dengan pasangan. sehingga kepuasan dapat tercapi baik bagi suami maupun bagi istri.
manfaat dari patrap ini adalah peserta dapat memperpanjang masa hubungan dengan istri sehingga kedua duanya baik istri dan suami mengalmai kepuasan.
Patrap tahlil
merupakan penggabungan dari sikap patrap dan tahlil yaitu membaca kalimat thoyibah. manfaat dari latihan ini mempercepat proses pemahaman tentang ketiadaan diri dan eksistensi kemutlakan Allah
Patrap shalawat
yaitu menyambungkan diri ke ALlah kemudian mendoakan rasulullah dalam bentuk shalawat. patrap ini daya nya besar. patrap ini sangat cocok bagi kita yang menyukai shalawat atau mereka yang banyak membaca shalawat.
Tempat belajar patrap :
Di Padepokan Patrap : Dusun Prayan rt 01 rw2 Gumpang Kartasura Solo
Di Internet : www.setiyo.wordpress.com
Info pelatihan : Irwan : 0271 9183108
Ucapan terimakasih dan penghormatan setinggi tingginya kepada guru saya
1.       Bp. H. Slamet Utomo Banyuwangi
2.       Bp. H. Salim Bahreisy (ust Abu Sangkan)
3.       Ust Muh. Muin Jayengan solo

Rabu, 19 Desember 2018

Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)


Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi sembah raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.

Sembah Raga
Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara bersucinya sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air (wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus menerus, seperti bait berikut:
Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu wataking wawaton
Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembah raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini didahului dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking warih). Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali. Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang wus lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu yang wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup. Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan rukun, maka sembah itu tidak sah.
Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat fisiknya, ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.

Sembah Cipta ( Kalbu )
Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1 dan Pupuh Gambuh bait 11 berikut :
Samengkon sembah kalbu / yen lumintu uga dadi laku / laku agung kang kagungan narapati / patitis teteking kawruh / meruhi marang kang momong.
Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau keinginan yang tersimpan di dalam hati, kalbu berarti hati , maka sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah hati, bukan sembah gagasan atau angan-angan.
Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning kalbu).
Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat tingkat.
Pertama, membersihkan hadats dan najis yang bersifat lahiriah.
Kedua, membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan dosa.
Ketiga, membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi pekerti yang hina.
Keempat, membersihkan hati nurani dari apa yang selain Allah. Dan yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin.
Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan kotoran yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan menahan dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang ketiga dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang selain Allah.

Sembah Jiwa
Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma ( Allah ) dengan mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi secara menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:
Samengko kang tinutur / Sembah katri kang sayekti katur / Mring Hyang Sukma suksmanen saari-ari / Arahen dipun kecakup / Sembahing jiwa sutengong
Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat penting. Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan suluk). Inilah akhir perjalanan hidup batiniah. Cara bersucinya tidak seperti pada sembah raga dengn air wudlu atau mandi, tidak pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu, tetapi dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan alam baka/langgeng), alam Ilahi.
Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan jelas pada bait berikut :
Sayekti luwih perlu / ingaranan pepuntoning laku / Kalakuan kang tumrap bangsaning batin / Sucine lan awas emut / Mring alaming lama amota.
Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong amagang laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir kepada Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.
Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat untuk diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan Mangkunegara IV pada bait berikut:
“Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud / jagad agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring kelaping alam kono.”

Sembah Rasa
Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya. Ia didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta alam, demikian menurut Mangkunegara IV.
Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka sembah rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti ruh. Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga (inti ruh yang paling halus).
Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.
Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
Semongko ingsun tutur / gantya sembah lingkang kaping catur / sembah rasa karasa wosing dumadi / dadi wus tanpa tuduh / mung kalawan kasing batos.
Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.
Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.
Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam, tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus merampungkannya sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:
Iku luwih banget gawat neki / ing rarasantang keneng rinasa / tan kena ginurokake / yeku yayi dan rampung / eneng onengira kang ening / sungapan ing lautan / tanpa tepinipun / pelayaran ing kesidan / aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.

https://alangalangkumitir.wordpress.com/category/k-e-j-a-w-e-n/

Uraian Bagi Istilah MAHDI


Para sarjana dan cendekiawan Islam di seluruh dunia telahpun menghuraikan secara panjang lebar akan maksud kalimah Mahdi. Malah ada yang menulis risalah yang hanya memperkatakan tentang asal-usul dan maksud perkataan Mahdi itu saja. Begitulah mendalam dan halusnya penelitian mereka terhadap
soal istilah ini. Berdasarkan itu, penulis berasa tidak perlulah menjelaskan maksud kata Mahdi tersebut.
Namun, terasa pula kekurangan yang nyata pada buku ini, karena para cendekiawan hari ini pasti tidak akan berpuas hati sekiranya maksud istilah Mahdi itu tidak dijelaskan, biar pun berupa uraian pendek. Sebenarnya bagi penulis, uraian istilah tidaklah sepenting mana karena asal-usul
penggunaan sesuatu istilah itu tidak membawa apa-apa ketahui, melainkan jika istilah itu membawa makna sesuatu yang buruk. Selagi sesuatu istilah itu diluluskan syarak, harus saja kita menggunakannya. Tidak perlulah mengkajinya secara mendalam dan disusur secara halus.
Perkataan Mahdi yang digunakan oleh orang-orang Melayu pada hari ini, berasal dari bahasa Arab jati, dipinjam oleh orang-orang Melayu dengan sedikit perubahan bunyi, yaitu Mahadi. Secara khusus di dalam bahasa Melayu, Mahadi atau Mahdi adalah merujuk kepada suatu jawatan yang sangat mulia, yang akan muncul pada akhir zaman, membangunkan Islam dan meninggikannya di atas agama-agama lain. Biasanya orang-orang Melayu menyebutnya sebagai Imam Mahadi, sebagai suatu penghormatan kepada beliau. Malah ada orang Melayu menyebutkannya sebagai baginda, merujuk kepada ketinggian keturunannya. Ada juga ulama yang menggunakan isim muannas, yaitu dengan menyebutnya Mahdiah, atau pengikut Mahdiah.
Sehubungan itu, untuk mengambil berkat daripada gelaran al-Mahdi itu, ramailah orang Melayu di Nusantara ini sejak dahulu lagi, menamakan anak mereka dengan nama Mahadi, sama ada secara tunggal atau ditambah nama lain di hadapan atau belakangnya. Contohnya Mahadi bin Abdullah. Yang ditambah namanya separti Puteh Mahadi bin Puteh Ramli dan sebagainya. Yang dua di atas adalah sekadar contoh saja, bukan sebenarnya.
Namun, orang-orang Melayu pada hari ini sudah kurang menghormati Imam Mahdi, karena para sarjana dan cendekiawan Islam-Melayu hanya menyebutkan beliau sebagai Mahdi atau al-Mahdi saja, tidak separti yang lazim dilakukan oleh orang-orang Melayu zaman dahulu, yang memanggilnya Imam Mahadi sebagai tanda penghormatan kepadanya. Dan dalam buku ini, penulis sendiri pun ikut banyak menggunakan istilah Mahdi atau al-Mahdi saja, untuk menjimatkan ruang, bukan karena terpengaruh dengan sebutan para cendekiawan tadi.
Menurut bahasa Arab pula, istilah al-Mahdi atau Mahdi berarti ‘orang yang mendapat petunjuk’. Dari segi istilahnya pula, petunjuk yang dimaksudkan adalah petunjuk dari Allah, yaitu sama dengan petunjuk yang pernah diterima oleh keempat-empat orang Khalifah Rasulullah SAW dahulu.
Petunjuk yang dimaksudkan adalah petunjuk untuk membawa seluruh manusia kepada Allah, petunjuk dalam kepemimpinan mereka dan petunjuk khusus untuk diri mereka, yang tidak didapat oleh sebarang-barang orang, pada sebarang-barang masa dan pada sebarang-barang tempat saja.
Mereka menjadi laluan untuk orang ramai mendapatkan Tuhan mereka, sehingga mereka menjadikan Allah SWT itu penuh di segenap ruang hati mereka, sentiasa basah di hujung lidah mereka, sentiasa bergerak pada setiap suku anggota tubuh badan mereka, sentiasa turun dan naik bersama-sama turun dan naiknya nafas mereka, sentiasa hidup bersama-sama roh mereka dan sentiasa mencahayai akal fikiran mereka. Tuhan itulah cinta kasih mereka, cinta agung mereka, malah segalagalanya
Tuhanlah yang dihadapkan, seterusnya menjadikan mereka bangsa yang tinggi imannya, tinggi takwanya, tinggi amalannya, tinggi agamanya dan tinggi sebutannya. Perkara-perkara inilah yang perlu diperjuangkan semula oleh kita, agar kita mendapatkannya semula, suatu permata paling berharga yang telah sekian lama hilang dari dalam diri kita. Tenggelam ditelan oleh lubuk lumpur jahiliyah kali kedua yang lebih dikenali oleh kita sebagai jahiliyah moden.
Juga dimaksudkan bahwa sesiapa yang mengikut sungguh-sungguh Imam Mahdi itu setelah munculnya kelak, akan diberikan petunjuk oleh Allah SWT kepadanya dalam urusan agamanya, akhiratnya dan dunianya. Dan orang yang tidak mau mengikut Imam Mahdi itu, nyata dilihat oleh mata kasar, tidak akan mendapat petunjuk daripada Allah.
Maksud-maksud yang seni dan mendalam inilah yang masih terselimut kukuh daripada pengetahuan para sarjana dan cendekiawan Islam, dan jika mereka tahu pun, tidak dapat diselesaikan atau diketemukan lagi. Demikianlah serba sedikit uraian mengenai istilah Mahdi itu sendiri, dari persepsi dua bahasa dan dua bangsa, yang menguasai dunia dan memperjuangkan Islam pada dua zaman. Itulah bahasa Melayu dan bahasa Arab, bangsa Melayu dan bangsa Arab, yang menguasai dunia pada awal kurun Hijrah dan pada akhir kurun Hijrah, mereka jugalah yang gigih memperjuangkan Islam pada awal kurun Hijrah dan akhir kurun Hijrah.
Dan separti dimaklumi, al-Mahdi itu adalah gelarannya, bukan namanya. Namanya yang sebenar adalah Muhammad bin Abdullah. Namanya di langit ialah Ahmad. Sebab-sebab beliau digelar sebagai al-Mahdi itu adalah karena Rasulullah SAW sendiri yang menyebut beliau dengan panggilan al-Mahdi. Kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW hendaklah menghormatinya dengan memanggilnya Imam Mahdi. Rasulullah SAW bolehlah memanggilnya Mahdi saja karena Imam Mahdi itu adalah anak cucunya, sedangkan kita adalah pengikut dan umatnya saja. Selain itu, baginda SAW adalah seorang yang bertaraf rasul, sedangkan Imam Mahdi itu hanyalah seorang yang bertaraf wali saja. Layaklah baginda SAW memanggilnya Mahdi saja. Baginda SAW juga adalah rasul kita semua, dan Imam Mahdi itu adalah salah seorang umat baginda SAW sendiri. Dikarenakan itu pula, layaklah pula kita memanggilnya Imam, sebagai tanda kita amat mengasihi dan menghormatinya. Hal ini sebenarnya telah dipersetujui oleh sekalian ulama, karena menurut mereka, gelaran al-Mahdi itu adalah suatu gelaran yang bersifat syar’i. Ulama hadits telah menapis semua riwayat mengenainya hingga nyatalah kebenarannya. Demikian dihuraikan akan katakata
Al-Allamah al-Muhaddis as-Sayid Ahmad al-Ghumari.
Selain itu, ada dua buah asar sahabat RA yang menjelaskan sebab-sebab beliau dinamakan sebagai al-Mahdi. Asar pertama datang daripada riwayat Imam Amrud Dani al-Hafiz, dalam Sunannya. Beliau mengambil riwayat daripada Abdullah bin Syauzab, yang katanya, sebab beliau dinamakan dengan al-Mahdi adalah karena dinisbahkan kepada sebuah gunung di Syam, tempat lembaran-lembaran Kitab Taurat yang asli akan dikeluarkan kembali yang akan membuktikan kesesatan kaum Yahudi hingga mereka mengakuinya dan memeluk agama Islam. Maknanya, Imam Mahdi itu dapat membawa petunjuk kepada ramai kaum Yahudi yang amat kukuh dibelenggu oleh kesesatan itu.
Riwayat kedua adalah asar yang datang daripada Kaab bin Alqamah yang berkata, sebab beliau dipanggil al-Mahdi karena beliau memberi petunjuk dalam hal-hal yang tidak jelas atau tidak nyata. Beliau juga akan mengeluarkan peti yang berisi lembaran-lembaran Kitab Taurat dan lain-lain.

Riwayat ini telah dikeluarkan oleh Imam Nuaim bin Hamad dalam kitabnya, Al-Fitan. Ringkasnya, Imam Mahdi adalah orang yang dapat memberi petunjuk dalam hal-hal yang selama ini tidak jelas atau tidak nyata, hingga nyatalah hukumnya dan rahsia-rahsianya kepada sekalian umat Islam dan juga orang-orang bukan Islam, termasuk orang-orang Yahudi. Selain itu, istilah al-mahdi di dalam bahasa Arab juga bermaksud buaian. Ini adalah istilah yang umum digunakan oleh orang Arab, malah ada beberapa buah hadits yang menggunakan istilah almahdi dengan arti buaian. Contohnya sebuah hadits dhaif yang selalu kita dengar yang menyatakan kewajipan menuntut ilmu sejak dari dalam buaian hingga ke liang lahad.

Para pengikut Imam Mahdi digelar sebagai Mahdiyyin atau Mahdiyyun, yang artinya
golongan Mahdi atau pengikut Imam Mahdi. Istilah ini masih belum digunakan secara umum lagi pada hari ini karena para pengikut Imam Mahdi masih belum dapat ditentukan batang tubuhnya oleh orang ramai. Juga karena Imam Mahdinya sendiri pun masih belum keluar ke dunia ini, maka pengikutnya pun masih belum ditentukan lagi. Yang pasti, pengikut Imam Mahdi ini bukanlah orang yang biasa, malah merupakan orang-orang yang sangat istimewa pada zamannya dan amat terpilih di antara yang amat terpilih.
Istilah Mahdiyyin atau Mahdiyyun juga digunakan untuk kumpulan atau golongan yang mempercayai konsep Imam Mahdi, atau menerima hadits-hadits mengenai Imam Mahdi dengan penuh yakin di dalam hati. Golongan ini adalah majoriti masyarakat Islam sejak dahulu hingga ke hari ini, didahului oleh para ulama muktabar yang bertaraf mujaddid dan mujtahid, mendapat darjat wali-wali besar dan utama di kalangan umat ini.

Jenis-jenis al-Mahdi
Berdasarkan uraian dan keterangan ulama terdahulu, terdapat beberapa jenis al-Mahdi. Jika digabungkan semua pendapat dan hujah para ulama sejak zaman-berzaman, maka didapatlah beberapa jenis Mahdi. Berikut ini adalah beberapa jenis Mahdi dan uraiannya secara serba ringkas.
1. Mahdi dalam hal kebaikan, yaitu Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Maka tidaklah salah jika kita meletakkan seseorang sebagai Imam Mahdi karena Khalifah Umar bin Abdul Aziz sendiri digelar orang sebagai Imam Mahdi, selagi yang dimaksudkan itu bukan Imam Mahdi yang sebenar. Tidak bolehlah kita menghukum sesat kepada seseorang yang mendakwa orang lain sebagai Imam Mahdi, selagi yang didakwa itu bukan bermaksud Imam Mahdi sebenar.
Jika gelaran Mahdi itu salah jika diberikan kepada seseorang, tentulah para tabiin menjadi orang pertama yang menentangnya dengan sekeras-kerasmya. Mereka jugalah yang pertama yang akan menghukum si pendakwa itu sebagai sesat, syirik dan membahayakan akidah.
1. Mahdi dalam hal peperangan yaitu orang yang sentiasa bergelimang dalam peperangan fi sabilillah. Dalam kes ini, Mahdi yang dimaksudkan adalah sekumpulan orang, yaitu orangorang yang istiqamah dalam urusan perjuangan mereka itu, demi menegak dan meninggikan kalimah Allah di atas muka bumi ini.

2. Mahdi dalam hal agama yaitu Nabi Isa bin Maryam AS. Beliau adalah orang yang sempurna Mahdinya yaitu tidak pernah melakukan dosa dan maksiat, yang bersifat dengan maksum, karena beliau adalah seorang nabi dan rasul, malah rasul yang Ulul ‘Azmi. Maka karena itulah beliau dianggap sebagai Imam Mahdi yang sempurna agamanya. Pemerintahannya ke atas seluruh dunia selepas kemangkatan Imam Mahdi adalah suatu yang pasti karena sudah disebutkan oleh Rasulullah SAW sendiri.

3. Mahdi dalam hal pemerintahan yaitu Khulafa ur-Rasyidin yang berempat. Mereka dikatakan khalifah ‘yang mendapat petunjuk’ dalam pemerintahan mereka. Dan penggunaan istilah ‘yang mendapat petunjuk’ itu bermaksud bahwa mereka juga adalah al-Mahdi bagi umat ini, dan jumlah al-Mahdi ini adalah empat orang separti yang lazim diketahui umum.

4. Imam al-Mahdi yang Muntazar, hanya seorang saja yaitu Muhammad bin Abdullah, Ahlulbait AS. Inilah al-Mahdi yang sebenar, yang telah menimbulkan terlalu banyak kontroversi, suatu jawatan yang cukup diminati oleh sekian banyak orang, yang dibuktikan dengan terlalu banyaknya dakwaan sebagai Imam Mahdi. Namun satu perkara yang pasti adalah, al-Mahdi yang sebenar tetaplah Imam Mahdi, manakala yang palsu tetap akan lenyap. Ini sesuai dengan firman Allah SWT, “Apabila datang yang hak, yang batil pasti akan sirna…”

5. Mahdi palsu yang sentiasa muncul di sana-sini dari masa ke masa. Inilah al-Mahdi palsu, yaitu golongan yang coba mengambil kesempatan di atas kejahilan dan kelemahan umat Islam untuk tujuan peribadi. Namun yang batil tetaplah batil, akhirnya pasti akan lenyap ditelan zaman, lenyap bersama-sama dengan lenyapnya si pendakwa dirinya Imam Mahdi itu.

6. Mahdi di kalangan para aulia Allah. Mereka ini adalah wali-wali besar pada zaman mereka dan menjadi pemerintah bagi sekalian wali pada zaman masing-masing. Mereka ini adalah para Wali Qutub dan Wali Ghaus, yang mempunyai peranan yang cukup besar dalam Wilayah Auliya. Peranan mereka tidak begitu diketahui oleh orang awam, tetapi cukup dirasakan oleh kalangan wali-wali dan para solihin.

7. Mahdi yang diambil berkat yaitu orang yang menggunakan gelaran al-Mahdi pada hujung namanya, bukan sebagai tokoh yang khas. Oleh karena Mahdi itu bermaksud orang yang mendapat petunjuk, maka beberapa orang pemerintah turut menggunakan gelaran al-Mahdi, dengan tujuan mengambil berkat daripada peribadi sebenar yang digelar al-Mahdi itu. Orang Melayu menamakan anak mereka dengan Mahadi, sebagai mengambil berkat tersebut.

Persoalan Imam Mahdi Adalah Persoalan Sejagat
Masalah Imam Mahdi adalah masalah yang sangat rumit dan sukar pula untuk dihuraikan dengan tepat, jika dilihat dari segi ilmu sosiologi moden, ilmu hadits, ilmu sejarah dan ilmu tauhid.
Ada pelbagai tanggapan dan tafsiran yang dapat dirumuskan daripada setiap pengakuan yang dibuat oleh para ulama dan sarjana. Masalah ini adalah masalah yang paling kontroversi di kalangan umat Islam sejak dahulu hingga kini. Masalah Imam Mahdi ini boleh juga dikatakan sebagai masalah universal, yang melibatkan semua agama di dunia, sama ada agama samawi atau wasni. Sebabnya, Imam Mahdi itu adalah pemimpin sejagat, pemimpin bagi seluruh manusia, bukan sekadar pemimpin umat Islam atau sekelompok manusia saja.
Sejak dari zaman tabiin dan tabiit tabiin lagi, masalah Imam Mahdi sudah muncul dan ini menyebabkan banyak pihak coba mengambil peluang ini untuk menonjolkan diri dan keluarganya, malah tanah airnya kepada masyarakat umum dengan pengakuan sebagai Imam Mahdi yang ditunggutunggu itu. Ini adalah berdasarkan beberapa riwayat yang dapat dikutip daripada para tabiin lagi. Salah satunya adalah separti berikut.
Khalid bin Samir RH berkata,
Musa bin Talhah bin Ubaidillah lari daripada (kejaran tentara) Al-Mukhtar ke Kota Basrah karena penduduknya percaya bahwa dia adalah Imam Mahdi.”
Riwayat di atas menunjukkan dengan jelas memang masalah Imam Mahdi sudahpun diperkatakan sejak dari zaman tabiin lagi, dan tidak heranlah jika ia terus diperkatakan sehingga kini. Sementelahan pula, orang ramai memang diakui sepanjang zaman sebagai tidak mempunyai pengetahuan yang mencukupi mengenai Imam Mahdi, walaupun diakui pula bahwa mereka cukup berminat dengan nama besar itu. Hal ini dikarenakan periwayatan mengenai Imam Mahdi jarang atau tidak dibuat secara terbuka dan terus terang karena ditakuti ada side effect dari pihak pemerintah pada zaman masing-masing terhadap diri mereka.
Jika didasarkan masalah ini secara umum, terdapat dua kelompok utama di kalangan umat Islam. Golongan pertama adalah golongan yang amat yakin akan kemunculan Imam Mahdi sehingga sebahagiannya jadi berlebih-lebihan pula keyakinan mereka itu, pada hal itu tidaklah dituntut, melainkan jika ada bukti yang sahih, khabar yang yakin dan sumber yang hak. Akibatnya mereka jadi tersalah dan sesat. Kedua, ialah golongan yang langsung tidak mau percaya akan kemunculan Imam Mahdi sehingga memandang ringan masalah ini seringan-ringannya. Akibatnya, mereka kerugian satu ilmu yang amat berguna pada masa ini, masa umat Islam sedang begitu lemah akibat ditekan-tekan oleh pihak musuh dari semua arah. Uraian lanjut mengenainya ada disertakan pada bahagianbahagian berikut nanti.
Memang diakui bahwa Imam Mahdi adalah harapan terakhir, sempadan terakhir dan benteng terakhir umat Islam. Bagindalah sebenarnya sumber agama dan penaik semangat umat Islam untuk meneruskan hidup dalam tekanan yang maha hebat oleh pihak musuh pada zaman ini. Nama Imam Mahdi itu sendiri pun sudah menjadi ‘bara yang terpendam’ di dalam lubuk hati setiap umat Islam yang sedang gigih berjuang menegakkan kalimah Allah di atas muka bumi ini.
Jika kita melihat berdasarkan sejarah umum di kalangan umat Islam, sudah terdapat lebih tiga ribu peribadi di seluruh dunia yang telah mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi sejak pertengahan tahun 200 Hijrah lagi sehinggalah ke hari ini. Sebahagiannya pula didakwa oleh orang lain sebagai Imam Mahdi, sedangkan dia tidak pernah mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi. Ini sebenarnya melibatkan semua mazhab dalam Ilmu Tauhid separti Ahlus Sunnah wal Jamaah, Syiah, Khawarij dan lain-lain lagi.
Pada setiap tahun, ada saja kedengaran berita bahwa si anu mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi dan berpusat di sekian sekian tempat. Pengikutnya pula memakai tanda-tanda atau pakaian tertentu, dengan slogan-slogan tertentu dan dengan matlamat yang tertentu pula. Ada yang radikal, ada yang sederhana radikal dan ada yang terus-menerus bergerak secara sembunyi-sembunyi, tanpa menampakkan sebarang tanda.
Pergerakan kumpulan mereka amat rahsia, tidak diketahui oleh orang luar. Mereka mempunyai buku-buku rujukan sendiri yang isinya amat pelik dan tidak ada kena-mengena dengan syariat, yang tidak boleh dibacakan kepada orang ramai secara terbuka. Amalan-amalan yang mereka lakukan juga jauh menyalahi amalan yang lazim terdapat di dalam syariat kita. Fatwa-fatwa mereka amat pelik dan tidak sesuai dituruti oleh orang ramai secara bebas, dibuat oleh ketua mereka dan hanya sesuai untuk kegunaan dalaman saja.
Kita seharusnya mengakui bahwa yang benar tetap benar, manakala yang salah itu tetaplah salahnya. Tidak boleh yang benar itu disalah-salahkan dan yang salah itu sedaya upaya coba juga dibenarkan, walaupun tidak boleh dan tidak mungkin dapat dibenarkan. Maka ikhtilaf atau kontroversi di sekitar persoalan Imam Mahdi ini amatlah memerlukan penjelasan yang tidak berat sebelah, tidak dipengaruhi oleh sebarang sentimen dan sikap taksub, supaya kekeliruan yang menyelubunginya selama ini dapat diselesaikan dengan baik dan tidak lagi berlarutan.
Demikianlah kesejagatannya isu Imam Mahdi ini. Isu ini adalah isu yang cukup tersembunyi, sangat misteri dan amat luas diperkatakan. Isu ini sememangnya cukup tersembunyi tetapi cukup membara, panas sepanjang masa, sejak dari dahulu lagi hinggalah ke hari ini. Isu Imam Mahdi ini cukup menarik sehingga setiap bangsa, setiap agama, setiap masa dan setiap tempat di atas muka bumi ada mempunyai Imam Mahdinya sendiri.
Bagi yang rajin meneliti masalah ini lagi, akan didapati pula bahwa Imam Mahdi adalah suatu perkara yang tidak terhad kepada sesuatu sempadan negara saja karena hampir setiap negara di dunia ini mempunyai Imam Mahdi mereka sendiri. Tidak terhad kepada sesuatu sempadan masa saja karena pada setiap zaman itu ada Imam Mahdinya sendiri sama ada benar atau palsu. Tidak terhad juga kepada sesuatu bangsa saja karena semua bangsa mempunyai Imam Mahdi mereka sendiri sama ada benar atau palsu. Tidak juga terhad kepada sesuatu sempadan agama saja karena hampir setiap agama ada mempunyai Imam Mahdi mereka sendiri. Hanya nama, sifat dan gelarnya saja yang berbeda-beda. Dan yang paling menarik ialah, setiap hati yang beriman pasti mau tidak mau amat mengharapkan kedatangan seorang juruselamat yang bakal menyelamatkan mereka daripada terus karam dan tenggelam dalam pelbagai cobaan dan dugaan masa, yang ternyata amat melemaskan hati beriman mereka.
Agama-agama Lain pun Ada ‘Imam Mahdi
Kalau kita beranggapan bahwa hanya di dalam agama Islam saja yang ada Imam Mahdi, maka eloklah kita berfikir sekali lagi. Andaian tersebut tidak tepat sama sekali, dan lebih bersifat andaian melulu. Seharusnya kita mengkaji semula persoalan ini dengan lebih teliti dan saksama. Yang berbeda adalah dari segi nama, sikap, cara hidup, tujuan turunnya, masa turun dan tempat turunnya.
Jika dilihat dalam agama lain pula, terdapat juga konsep Imam Mahdi ini. Kebanyakan agama di dunia ini sangat menantikan kedatangan seorang sang penyelamat yang akan membebaskan mereka daripada kezaliman, kesengsaraan dan penindasan. Selain daripada Islam, agama-agama lain separti Yahudi, Kristian, Majusi dan Hindu juga sangat menantikan kedatangan seseorang yang bakal muncul membawa keamanan dan keadilan kepada dunia.
Orang-orang Yahudi mazhab ortodoks percaya bahwa akan lahir Imam Mahdi dari kalangan mereka. Mereka percaya Imam Mahdi ini akan lahir dengan segala macam keramat dan kelebihan, akan mengembalikan mereka ke tanah tumpah asal mereka, Baitulmaqdis, Bukit Tursina dan Palestin. Mereka ini dipanggil golongan Messianic yaitu golongan yang percaya akan tibanya sang juru selamat. Perkataan Messianic itu sendiri datang dari kata Messiah, yaitu orang yang digelar ‘Imam Mahdi’ (menurut ajaran agama mereka).

Kenyataan mengenai Imam Mahdi ada disebutkan dengan jelas sekali di dalam Kitab Taurat yang asli dan karena itulah hal ini sangat diyakini oleh orang-orang Yahudi, sebelum akhirnya golongan Zionis melarang umatnya mempercayai hal-hal keramat sedemikian. Hal yang demikian turut juga dicatatkan di dalam sejarah orang-orang Yahudi zaman pertengahan dahulu.

Kepercayaan akan tibanya Messiah yang dinanti-nanti, yang membawa mereka kembali semula ke Palestin, memenangkan bangsa Yahudi atas semua bangsa di dunia, menghapuskan semua agama lain, penuh dengan kekeramatan yang sangat luar biasa dan sangat dikultuskan oleh mereka, akhirnya berjaya dihapuskan setelah ajaran sekular Zionis dipaksakan ke atas semua umat Yahudi mulai tahun 1890 Masihi.
Sejak itu, semua anggapan terhadap kehebatan Messiah yang dinanti-nantikan itu lenyap dan orang-orang Yahudi kembali semula ke ‘alam nyata’ dan berusaha sendiri membina bangsa dan negara mereka tanpa perlu menunggu-nunggu dan mengharapkan kedatangan Messiah itu lagi.
Orang-orang Yahudi selepas itu mulai meninggalkan khayalan keramat Imam Mahdi mereka dan hidup dalam dunia nyata mereka sehinggalah ke hari ini.
Dalam Kitab Perjanjian Lama, Kitab Kejadian (Genesis) 18:20
“Dan bagi Ismail, Aku mendengar doanya; Sungguh, Aku akan
memberkatinya dan menjadikannya mewah dan Aku akan kembang biakkan
keturunannya, Dua Belas Raja akan dilahirkannya dan Aku akan jadikannya
bangsa yang besar”
Manakala di dalam Kitab Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud AS, ada dituliskan satu ayat yang bunyinya (terjemahannya) kira-kira begini:
“ …dan Allah akan memunculkan para wali yang akan menjadi pemilik dunia
ini dan menyelesaikannya selama-lamanya” (Mazmur 37, 10-37).
Selain daripada kepercayaan yang demikian, bagi orang-orang Yahudi, disebabkan mereka telah kehilangan tanah suci dan tanah asal mereka, lalu dijadikan hamba abdi oleh bangsa Kaldea dan Suryani pada zaman dahulu, mereka menjadikan salah seorang nabi mereka sebagai Mahdi yang akan muncul, yang bakal menyusun kembali bangsa Yahudi dan akan mengembalikan mereka ke tanah suci yang dijanjikan itu, pada masa depan.
Menurut kepercayaan itu, orang-orang Yahudi menganggap bahwa Nabi Elijah (Nabi Ilyas AS) telah diangkat ke langit oleh Tuhan, belum mati, dan akan diturunkan semula ke dunia ini pada akhir zaman untuk menyelamatkan anak-anak Israel daripada kesusahan dan kezaliman. Itulah Mahdi mereka. Menurut Islam, memang pun Nabi Ilyas AS belum mati, dan akan muncul kembali pada zaman Imam Mahdi tetapi bukan beliau yang menjadi Imam Mahdi. Beliau hanyalah salah seorang pengikut Imam Mahdi, sebagai pembantu kanan Imam Mahdi.

Orang Kristian juga sangat yakin dengan konsep Imam Mahdi ini, yang kononnya akan lahir dari kalangan penganut agama mereka pula. Dan konsep kepercayaan ini lebih bersifat literal (dari mulut ke mulut) dan bukan merupakan satu kepercayaan yang diwajibkan mempercayainya. Apa yang jelas, Imam Mahdi yang dimaksudkan itu sebenarnya adalah Nabi Isa As sendiri. Hasilnya, sebahagian besar saja yang percaya, manakala sebahagian yang lain tidak menyatakan kepercayaan mereka atau langsung tidak percaya.
Mereka juga, sebahagian besarnya, percaya bahwa Nabi Isa AS pun akan turun ke dunia ini sekali lagi untuk mengamankan seluruh bumi ini. Maka tidak heranlah (sebagai hasilnya) jika di negeri China, terdapat orang Cina beragama Kristian yang mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi dan sekali gus jelmaan suci Nabi Isa AS. Beliau ialah Hung Hsiu-chuan, pemimpin Gerakan T’aiping pada tahun 1890 yang amat terkenal itu.
Nietzsche, seorang tokoh sastera terkenal di Jerman, juga mengaku dirinya Jesus, sekaligus sebagai sang penyelamat. Dia mengantar surat kepada raja-raja dan pembesar-pembesar yang mengandungi dakwaan bahwa dirinya sebagai Jesus. Keadaan yang sama turut dilaporkan berlaku di Eropah Timur dan Amerika Utara. Malah di Amerika Latin juga, ada dilaporkan orang-orang yang mendakwa dirinya sebagai Imam Mahdi, sekali gus sebagai Jesus Christ. Benua Afrika sendiri tidak terkecuali karena baru-baru ini seorang paderi bernama Maitreya turut mendakwa dirinya sebagai jelmaan semula Jesus, dan sekaligus menjadi Imam Mahdi bagi umat Kristian.

Agama Hindu juga sangat yakin dengan kedatangan seorang Mahdi yang akan mengembangkan ajaran agama Hindunya ke seluruh dunia, pada akhir zaman kelak. Disebutkan gelarannya Mansur atau Maha Shiva atau nama sebenarnya Mahmat atau Ahmad. Selain itu ada beberapa nama lagi yang diberikan kepadanya, sebagai menunjukkan ketinggian kemuliaannya dan besar kedudukannya.
Dalam kitab “Veda” yaitu salah sebuah kitab suci dalam agama Hindu, tertulis suatu ayat yang terjemahannya kira-kira begini:
“Pada penghujung (umur) dunia, setelah berlaku penyelewengan di muka
bumi, (muncul) seorang pemimpin yang dipanggil Mansur. Dia akan
menguasai seluruh dunia, dia amat dikenali oleh setiap orang sama ada yang
beriman atau yang kafir, dan apa saja yang dipintanya, Tuhan akan
tunaikan dia”.
Selain itu, para penganut Hindu juga percaya, berdasarkan keterangan kitab mereka bahwa Dewa Krisyna adalah seorang dewa jejaka yang bujang, tidak pernah berkahwin. Beliau digambarkan sebagai seorang pemuda yang sedang disalib dengan ditebuk kedua-dua belah tangan dan kedua-dua belah kakinya. Pada tengah dadanya tergambar ulu hati manusia, manakala kepalanya pula memakai mahkota. Menurut kepercayaan mereka lagi, Dewa Krisyna itu akan turun semula ke dunia ini pada akhir zaman untuk menyelamatkan manusia dan dunia ini daripada segala mala petaka. Maknanya, selain Imam Mahdi, Dewa Krisyna juga akan turun membantu mengamankan dunia ini. Penganut agama Buddha juga yakin dengan kedatangan Mahdi yang akan membersihkan dunia ini dari kekejaman, dan Mahdi itu dibekalkan dengan segala macam kuasa hebat dan ilmu sakti (keramat menurut Islam). Mahdi yang dimaksudkan itu disebut sebagai Shammaraja (Raja yang Sangat Adil). Nama sebenar dan tempat lahir Mahdi itu tidak dinyatakan dengan jelas. Tetapi mereka percaya, atas perkhabaran para sami mereka, zaman sekarang ini adalah zaman untuk Shammaraja itu memunculkan dirinya dan menyelamatkan dunia ini.
Mereka juga percaya bahwa Siddharta Gautama, pengasas agama Buddha itu, yang dikatakan datang dari kalangan bangsawan Sakra di negeri Kapilawastu (di Nepal sekarang) adalah dari kelahiran tunggal, dan akan turun semula ke dunia ini pada akhir zaman kelak untuk membersihkan dunia daripada kesengsaraan dan kekejaman. Tapi, konsep ini sebenarnya sama dengan kepercayaan penurunan semula Nabi Isa AS ke dunia ini separti yang terdapat di dalam agama Kristian dan agama Islam.

Orang-orang Majusi aliran Mazda, yang menganut ajaran ciptaan Zarathustra (Zoroaster) yaitu golongan penyembah api suci, yang jumlahnya hari ini kira-kira setengah juta orang di Iran dan beberapa ribu lagi di India, juga yakin dengan konsep Imam Mahdi. Ajaran mereka menyatakan bahwa tiga orang penyelamat besar akan muncul, dimulai oleh Aushedar dan diikuti pula oleh Aushedar-mah. Yang terakhir keluar ialah seorang lelaki perkasa bernama Saoshyant / Shayoshant, yang berasal dari anak cucu Zoroaster, yang akan muncul dan memusnahkan Ahriman, kuasa jahat, sekali gus membersihkan dunia ini daripada kegelapan dan kesengsaraan. Dia memerintah dunia dengan adil dan saksama selama seribu tahun, mendirikan kerajaan Ahura Mazda yang sepenuhnya. Mereka tidak menyebutnya dengan sebutan Mahdi tetapi maksudnya sama dengan Mahdi bagi umat Islam. Dan daripada ajaran Mazda inilah orang-orang Syiah menyerapkan konsep Imam Mahdi mereka, karena meyakini Imam Mahdi Syiah itu akan memerintah dunia ini selama seribu tahun.
Bagi mendapatkan penjelasan lanjut, kitab ‘Yanaseb / Yasna’ yang ditulis oleh salah seorang murid kanan Zoroaster yang mengasaskan agama Majusi itu membuat penyataan yang terjemahannya berbunyi kira-kira:
“Dari jazirah tanah Arab , dari anak cucu Hasyim, seorang lelaki yang
kepalanya besar, badannya besar dan berkaki besar akan muncul, lalu
meneruskan agama datuknya dengan pasukan tentara yang besar, datang ke
Iran lalu memerintah dunia dan memenuhkan bumi ini dengan keadilan”.
Demikianlah sekelumit pandangan dan penyataan mengenai turunnya sang penyelamat bagi beberapa buah agama besar dunia, separti yang kita dapati daripada kitab-kitab suci agama masing-masing.
Semoga ilmu dan kefahaman kita akan bertambah setelah membaca keterangan ini. Cuma kita tidaklah harus mempedulikan sangat tentang keperibadian sang penyelamat mereka itu, karena yang demikian tidaklah perlu diambil perhatian. Tidak perlu diulas benar atau tidaknya kepercayaan mereka ini, sebab kalau pangkalnya yakni akidahnya saja pun sudah sesat, maka hujung-hujungnya pastilah sesat juga. Mustahil pangkal yang sesat dapat menghasilkan hujung yang betul. Maka apa-apa jua keterangan daripada mereka tidaklah dapat menambahkan apa-apa kepada kita dan tidak pula mampu mendatangkan apa-apa ketahui buruk kepada kita.
Yang perlu ditekankan di sini adalah, begitulah terkenalnya sekali tokoh istimewa ini, hingga setiap bangsa, dari setiap agama, pada setiap tempat dan pada setiap zaman, ada saja dilaporkan orang yang mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi, atau orang lain mendakwakan bahwa si anu itu adalah Imam Mahdi. Malah, orang yang telah benar-benar mati pun tidak terlepas daripada didakwa sebagai bakal Imam Mahdi! Yang peliknya, ramai pula yang terus percaya bulat-bulat, walaupun tiada sebarang persamaan antara individu yang didakwa itu dengan sifat-sifat Imam Mahdi separti yang telah digariskan oleh hadits-hadits.

Share this:

https://mataram351.wordpress.com/imam-mahdi/uraian-bagi-istilah-mahdi/

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...