Jumat, 31 Agustus 2012

Kisah Hikmah Nabi Musa (as) dan seorang gembala.

Chen Chen Muthahari
Alkisah, ada seorang gembala berjiwa bebas yang tidak memiliki baik uang atau pun keinginan untuk mempunyai uang. Segala yang dimilikinya hanyalahh hati yang murni dan baik, hati yang mengalahkan apapun, yang berdenyut dengan cinta hanya untuk Tuhannya. Sepanjang hari ia berjalan riang dengan gembalaannya melintasi padang rumput, dataran hijau, dan hamparan bunga, bernyanyi dan berbicara sepanjang waktu kepada Tuhan Kekasihnya: “Oh, Tuhan, dimanakah gerangan Engkau? Kepada siapa gerangan aku mengabdikan hidupku? Oh Tuhan, untuk siapa aku hidup dan bernafas, karena kasih karunia-Mu lah aku ada, betapa aku rela mengorbankan dombaku untuk berjumpa denganMu.”
Arakian, pada suatu hari Nabi Musa as melewati padang rerumputan yang luas terhampar dalam perjalanannya ke kota. Baginda melihat gembala, yang sedang duduk bersama gembalaannya dengan wajahnya menengadah ke langit, memuja Allah: “Ooo, Di manakah Engkau sehingga aku bisa menjahit pakaianMu, memperbaiki kaus kakiMu, dan merapikan tempat tidurMu? Dimana Engkau sehingga aku bisa menyisir rambutMu dan mencium kakiMu? Dimana Engkau sehingga aku dapat menyemir sepatuMu dan membawakan kepadaMu susu untuk Kauminum? “ Musa as mendekati gembala itu dan bertanya, “Siapakah yang kau ajak bicara?” “Aku bicara pada Dia yang telah menciptakan kita. Dia Tuhan pencipta siang danmalam, bumi dan langit. “ Musa as marah dengan jawaban gembala tersebut. “Beraninya kau bicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kau katakan adalah penghujatan.Kau harus sumpal kapas di mulutmu jika kamu tidak dapat mengontrol lidahmu. Maka, setidaknya, tidak ada yang akan mendengar kata-kata keterlaluan penuh hina dariMu yang telah meracuni atmosfir di sini. Kamu harus berhenti berbicara seperti itu sekaligus, supaya Yang Mahakuasa tidaklah menghukum seluruh umat manusia karena dosa-dosamu! “ Sang gembala, yang telah muncul setelah menyadari bahawa Baginda adalah Sang Nabii, berdiri terguncang. Dengan air mata mengalir di pipinya, ia mendengarkan kata-kata lanjutan Musa as: “Apakah Allah SWT seorang manusia biasa sehingga Dia harus memakai sepatu dan kaus kaki? Apakah Dia bayi membutuhkan susu untuk membuat Dia tumbuh? Tentu saja tidak! Allah tak terbatas dan tak perlukan itu semua! Dengan berbicara kepadaTuhan seperti yang kau lakukan, aibmu tidak hanya bagi diri sendiri tapi semua makhluk Allah. Kamu tidak lain hanyalah sebuah penghancur agama dan musuh Allah. Pergi dan bertobatlah, jika kamu masih memiliki akal sehat! “ Gembala yang sederhana tidak benar-benar mengerti apa yang ia katakan kepada Allah SWT itu sebagai kasar seperti menurut Nabi Musa, atau mengapa Nabi telah memanggilnya musuh. Namun ia tahu bahwa seorang nabi Allah pastilah tahu lebih baik daripada orang lain. Hampir tidak bisa menahan isak tangis, ia mengatakan kepada Musa as, “Anda telah membakar jiwaku. Mulai sekarang mulutku disegel “Dengan menarik napas panjang, maka ia pun berpaling dari domba-dombanya dan berjalan menuju padang pasir.
Nabi Musa sambil melanjutkan perjalanannya pun bersyukur bahwa ia telah memperbaiki seseorang. Lalu, nabi Musa as melanjutkan perjalanannya menuju kota sambil kemudian Allah SWT berkata kepadanya: “Kenapa kau datang antara Kami, di antara hamba setiaKu? Mengapa Engkau memisahkan kekasih dari Kekasih? Aku telah mengirimMu sehingga Engkau bisa menyatukan satu sama lain, tidak memutuskan hubungan mereka.” Musa mendengarkan kata-kata Illahi tersebut dengan kagum dan kerendahan hati. “Kami tidak menciptakan dunia ini dalam rangka untuk mendapatkan keuntungan dari itu, penciptaan adalah untuk kepentingan makhluk. Kami tidak membutuhkan pujian atau penyembahan, jamaah makhluklah yang mendapatkan manfaat darinya. Ingat bahwa dalam Cinta, kata-kata hanyalah kulit luar dan tak berarti apa-apa. Aku tidak memperhatikan keindahan frase atau komposisi kalimat. Aku hanya melihat bagian yang terdalam dalam batin. Dengan cara yang demikian Ku-tahu ketulusan makhluk, meskipun kata-kata mereka mungkin polos (tak bermakna). Bagi mereka yang terbakar dengan Cinta maka telah terbakar pula kata-kata mereka.” Allah SWT melanjutkan: “Mereka yang terikat oleh kepatutan tidak seperti orang-orang yang terikat dalam Cinta, dan bangsa agama bukanlah bangsa Cinta, sebab kekasih tidak mengenal agama selain Sang Kekasih sendiri.” Tuhan mengajarkan demikian, mengajarkan kepada Nabi Musa as rahasia Cinta, dan sekarang ia mengerti kekurangannya, maka Nabi menyesali ucapannya. Dan sehingga ia bergegas untuk menemui gembala itu lagi dan meminta maaf. Selama berhari-hari Baginda as berjalan-jalan di padang rumput dan gurun, bertanya kepada orang-orang apakah mereka melihat sang gembala. Masing-masing menunjuk ke arah yang berbeda. Tampaknya pencarian sia-sia, tetapi akhirnya Musa tiba juga berjumpa dengan sang gembala, pakaiannya telah robek dan berantakan. Dia dalam keadaan meditasi yang mendalam dan tidak melihat Musa, yang menunggu waktu yang lama untuk menyapanya. Akhirnya sang gembala mengangkat kepalanya dan memandang Nabi. “Aku memiliki pesan penting bagiMu.” Kata Musa. “Tuhan telah berbicara, dan Dia mengatakan kepadaku bahwa tidak perlu etiket bagimu berbicara kepada Tuhan. Kau bebas untuk berbicara kepada-Nya dalam cara apapun yang Kau suka, dengan kata-kata yang Kau dapat memilihnya. Apa yang aku tadinya kira adalah penghujatanmu, sebenarnya adalah iman dan kasih yang menyelamatkan dunia.” Sang gembala hanya menjawab: “Saya telah melewati tahap kata-kata dan frase. Hatiku kini diterangi dengan kehadiran-Nya. Saya tidak bisa menjelaskan kondisi saya kepada engkau. Juga tak dapat menggambarkan kata-kata untuk orang lain.” Gembala itu kemudian bangkit dan memulai perjalanannya lagi.. Nabi Musa as menatap menyaksikan sosok gembala sampai ia tak bisa melihatnya lagi. Kemudian ia berangkat meneruskan perjalanan ke kota terdekat, mengagumi pelajaran yang diterimanya dari seorang penyembah buta huruf yang sederhana. (Posted on August 31, 2012, Bayt al-Hikmah Institut)

Selasa, 28 Agustus 2012

Menunggu Mati di Sampang

Oleh: Agnes Hening Ratri
Aku mendekap anak-anak siang ini, tepat pukul 11 siang. Sementara suara teriakan untuk membunuh dan membakar rumah terus mendekat. Suara-suara itu terus mendekati rumahku, tepatnya bekas rumah yang di bakar orang akhir tahun lalu. Di sisa puing-puing ini, aku tetap bertahan hidup dan menghidupi anak-anakku, sementara suamiku berada di penjara.
Siang tadi dentum kematian itu kian mendekati rumahku, di Nangkerenang, Kecamatan Omben, Sampang, Madura, suara teriakan berpadu dengan gemuruh batu terus mendekat. Makin dekat..aku merasa kematian sudah menjemputku dengan amat riuh. Tubuhku menggigil membayangkan semua itu, sementara tangis anakku berpacu seiring detak jantungku yang kian cepat. Aku memeluk mereka erat, meskipun tanganku terasa dingin dan menggigil. Hari ini kampungku diserang lagi, aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang aku tahu, siang ini anak-anak akan kembali ke pesantren diluar desa, mereka akan bersiap untuk sekolah lagi. Tapi rombongan mereka kembali ke kampung dengan ketakutan. Anak-anak perempuan yang berada di angkutan itu menangis, memanggil orang tua, menjerit karena di kejar oleh orang-orang yang membenci kami. Aku hanya mampu mengintip dari celah dinding bambu yang masih gosong. Ketika mereka masuk ke kampung ini, mereka berhamburan, berlarian mencari persembunyian yang aman. Namun dapat dibayangkan, tak ada celah sedikitpun untuk mereka bersembunyi. Rumah-rumah yang tinggal puing mulai terlihat berasap, suara jerit beradu dengan kobaran api. Siang tadi kampungku begitu mencekam, lebih miris dari kejadian Desember tahun lalu. Ribuan orang terus merangsek masuk kempung, mereka menuju ke arah rumahku, mereka semakin dekat dan terus mendekat. Tubuhku kian lunglai ketika membayangkan ibu mertuaku yang sudah tua berada di dapur sendirian..kemudian anak-anakku terus menangis memanggil nama bapaknya. Duh Gusti..aku sangat kacau hari ini. Tetangga depan rumah sudah berlarian entah kemana, sementara asap sudah mulai mengepung kampungku. Aku harus meyelamatkan anak-anak dan mertuaku. Harus..kekuatan itulah yang mendorongku berlari menyeret anak-anak dan mertuaku untuk keluar rumah, biarlah rumahku dibakar, asal keluargaku selamat. Biarlah… Mereka terus memburuku dan meneriakkan nama suamiku, mereka ingin membunuh kami. Itu yang terbayang hari ini. Sungguh aku tak pernah tahu apa sebenarnya yang terjadi, yang menyeret suamiku ke dalam penjara, kemudian membakar kampung dan membunuh beberapa orang. Aku tak pernah tahu alasan mereka. Yang aku tahu bahwa suamiku mengajari kami untuk tidak membunuh dan membalas kekerasan yang dilakukan oleh orang lain. Hal itulah yang akhirnya membuat ia masuk penjara dengan tuduhan penistaan agama. Aku juga tidak tahu, apa maksud dari tuduhan itu. Sejak aku menikah, suamiku telah menjadi guru ngaji dan apa yang diajarkan itu tidak pernah menyimpang dari apa yang aku ketahui selama ini. Tapi entahlah aku tidak tahu… Tubuhku mengejang, ketika aku akhirnya dapat bersembunyi agak jauh dari rumahku. Ibu mertuaku terduduk lemas dalam usia yang tak lagi muda, ia terenggah mengumpulkan nafasnya. Sementara anakku memeluk kakiku. Aku tidak tahu pasti berapa lama kami bersembunyi, mataku begitu perih menyaksikan api terus membakar rumah-rumah termasuk rumahku. Sementara jerit minta tolong dan mengaduh terus terdengar. Suara kematian itu telah menjemput di desaku hari ini…meskipun aku tahu bahwa tiap orang akan mati, tetapi apakah harus dengan cara seperti ini? Aku tidak tahu harus mengadu pada siapa. Suamiku pelindung keluarga, masih harus di penjara 2 tahun lamanya. Kepada polisi, aku takut untuk berbicara, jika nasibku apes bisa jadi aku menyusul masuk penjara. Kepada pemerintah, aku tak tahu mana yang baik, yang bisa melindungi atau justru menyalahkan kami. Kepada pimpinan agama, aku takut bertemu mereka..karena mereka menganggap kami sesat. Mungkin pada nasib saja kami terus menunggu…menunggu mati..seperti kematian yang menjemput Muhammad Kosim danThohir sementara , Mat Siri dan Abdul Wafi masih dalam kondisi kritis.(IRIB Indonesia / Kompasiana / SL) Jogja, 27 Agustus 2012 Buat keluarga Muslim Syiah di Sampang Madura

Rabu, 15 Agustus 2012

Hikmah Ramadhan; Shalat Kunci untuk Menyingkap Tabir Hijab yang Menjauhkan Kita dari Allah

Sabtu, 2012 Agustus 11 09:45
Rasulullah Saw berpesan kepada sahabat beliau, Abu Dzar al-Ghifari, "Wahai Abu Dzar, Allah menjadikan shalat sebagai cahaya mataku dan menjadikannya kecintaanku, sebagaimana rasa lapar mencintai makanan dan rasa haus mencintai air. Bedanya, rasa lapar ketika dipertemukan dengan makanan akan menjadi kenyang dan rasa haus ketika diberikan air akan terpuaskan, namun, aku tidak pernah merasa kenyang dengan shalat."
Deskripsi terbaik tentang betapa seseorang mencintai sesuatu adalah menyerupakan sesuatu itu sebagai cahaya matanya. Nabi Muhamamd Saw dalam hadis ini menyebut shalat sebagai cahaya matanya. Hal itu menggambarkan betapa beliau sangat mencintai shalat. Sebagaimana kita ketahui, bila kita selama beberapa kita waktu tidak makan, tentu kita akan merasa kelaparan. Pada saat rasa lapar benar-benar menyiksa, yang benar-benar kita inginkan saat itu tentu saja adalah makanan. Begitu pula, ketika rasa haus benar-benar sedang menyiksa kerongkongan, sudah pasti yang sangat kita inginkan dalam hidup ini adalah air pelepas dahaga. Namun, ada perbedaan besar antara makanan dan sholat. Ketika seseorang lapar, setelah dia menyantap makanannya, dia pun akan merasa kenyang dan tidak lagi menginginkan makanan. Namun orang yang mencintai shalat, tidak akan pernah merasa kenyang oleh shalat. Dia akan terus merindukan saat-saat indah yang dirasakannya ketika menunaikan shalat. Rasulullah berpesan kepada Abu Dzar, "Ketika engkau sedang melakukan shalat, anggaplah dirimu sedang mengetuk pintu gerbang rumah seorang raja, setiap orang yang banyak mengetuk pintu raja itu, maka pintu itu akan dibukakan untuknya." Tentu saja, pesan yang diungkapkan Nabi Muhammad itu adalah sebuah perumpamaan sederhana yang mudah dipahami oleh orang-orang awam. Namun sesungguhnya, hubungan antara makhluk dan Tuhannya adalah hubungan yang sangat dekat, bukan sekedar hubungan antara raja dan rakyat. Namun, kedekatan hubungan antara Tuhan dan hamba-Nya seringkali tertutupi oleh dosa-dosa yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya itu. Dosa-dosa adalah bagaikan hijab atau tirai pembatas yang menjauhkan hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Berbagai bentuk ibadah, terutama shalat, adalah kunci untuk menyingkap tabir hijab yang menjauhkan kita dari Allah Swt. Shalat akan membuka pintu-pintu rahmat ilahi agar tercurahkan kepada kita. Nabi Muhamamd bersabda, jika seseorang ingin mendapatkan rahmat dan kasih sayang ilahi, dia harus pergi mengetuk pintu rumah Allah dengan cara menunaikan shalat secara konsisten. Nabi Muhammad juga berpesan kepada Abu Dzar sebagai berikut, "Wahai Abu Dzar, manusia yang beriman ketika dia berdiri untuk shalat, maka rahmat Allah akan meliputinya hingga ke Arasy. Malaikat akan didatangkan kepadanya dan berseru, "Wahai anak Adam jika engkau mengetahui apa yang akan diberikan kepadamu ketika engkau melakukan shalat dan mengetahui dengan siapa engkau sedang bercakap-cakap dalam shalatmu itu, maka engkau tidak akan pernah berhenti melakukan shalat." Jika seseorang benar-benar menginginkan pertolongan dan rahmat dari Allah, maka dia harus berusaha sebisa mungkin mengenali Allah. Ketika menghadapi kehidupan sehari-hari yang penuh persoalan, kita jangan pernah melupakan kehadiran Allah Swt dan selalu menjadikan Allah sebagai tujuan hidup. Ketika melaksanakan shalat, sesungguhnya manusia sedang bercakap-cakap dengan Alalh Swt, Tuhan yang menguasai alam semesta, Tuhan yang mengatur kehidupan dan kematian semua makhluknya, Tuhan yang mencurahkan nikmat dan rahmat bagi hamba-hamba-Nya. Dengan kesadaran seperti ini, kita akan menunaikan shalat dengan penuh kekhusyukan dan keyakinan. * * * Tidak diragukan lagi, kesehatan adalah hal yang paling berharga dalam kehidupan manusia, yang dianugerahkan oleh Allah Swt. Sebagaimana banyak disebutkan oleh ahli kesehatan, dalam tubuh yang sehat juga terdapat akal yang sehat pula. Imam Sajjad juga menyebut pentingnya kesehatan ini dalam doa yang beliau ajarkan, yaitu doa Abu Hamzah Tsumali, sebagai berikut, "Ya Tuhanku, karuniakanlah keselamatan dan kekuatan badan kepadaku." Keselamatan dan kesehatan jasmani adalah sumber dari kenyamanan hidup. Tanpa keselamatan tubuh, kita tentu tidak bisa bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup. Salah satu cara terpenting dalam menjaga kesehatan adalah dengan mengatur makanan sebaik mungkin. Dalam surat al-‘Araf ayat 31 Allah berfirman, "Makanlah dan minumlah namun jangan berlebihan." Makan berlebihan adalah sumber dari segala macam penyakit. Hal ini disebabkan karena kelebihan makanan yang masuk ke tubuh kita tidak bisa diserap oleh badan, sehingga akan tertumpuk begitu saja sebagai lemak atau gula. Kelebihan lemak dan gula di dalam tubuh ini akan mengakibatkan munculnya berbagai bentuk penyakit, antara lain penyakit jantung, tekanan darah tinggi, atau kolesterol. Salah satu manfaat puasa adalah membiasakan diri untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dan dalam jumlah yang seperlunya saja. Makanan yang cukup gizi dan tidak berlebih-lebihan akan membuat tubuh kita sehat. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita berbuka dan sahur dengan makanan yang sehat dan seperlunya saja, jangan berlebih-lebihan. Bila kita mempraktekkan pola makan yang sehat ini, insya Allah kehidupan kita akan lebih terasa indah karena kita akan terjauhkan dari penyakit. (IRIB Indonesia)

Manusia di Mata Imam Ali as

Jumat, 2012 Agustus 10 05:20
Allamah al-Qunduzi dalam kitabnya Yanabi' al-Mawaddah menukil bahwa pada malam terjadinya pemukulan atas diri beliau oleh Abdurrahman bin Muljam, Imam Ali as berkali-kali keluar dari rumahnya dan memandang ke arah langit. Berulang kali beliau mengatakan, "Demi Allah aku tidak berbohong dan aku tidak menerima berita yang bohong. Malam ini adalah malam yang dijanjikan untukku."
Dengan langkah perlahan Imam Ali berjalan menuju masjid. Saat memasuki Masjid beliau melihat Ibnu Muljam sedang tertidur. Imam Ali membangunkannya lalu berjalan menuju ke mihrab untuk melaksanakan shalat Subuh. Masjid telah dipenuhi oleh jamaah yang berbaris rapi membentuk shaf-shaf. Ali memuji Tuhannya dengan mengangkat tangan. Allahu Akbar! Pujian itu diikuti oleh jamaah shalat yang telah siap. Tak lama kemudian Ali ruku lalu meletakkan dahi di atas tanah seraya mengagungkan Tuhannya. Tiba-tiba saat mengangkat kepala dari sujud, pedang Ibnu Muljam yang beracun mendarat tepat di kepalanya. Gema Allahu Akbar yang keluar dari mulut Ali membubarkan barisan shalat. Ibnu Muljam ditangkap massa. Darah segar mengucur dari kepala Ali yang terbelah. Meski demikian, putra Abu Thalib ini sempat melarang massa menghakimi orang yang berniat membunuhnya itu. Beliau meminta Ibnu Muljam dibawa ke hadapannya. Kepadanya beliau berkata, "Mengapa engkau lakukan ini padaku? Apakah aku pemimpin yang buruk bagimu?" Ali memerintahkan orang-orang untuk membawa Ibnu Muljam namun melarang mereka menyakitinya. Masjid Kufah mendadak tenggelam dalam tangis dan duka. Untuk mengenang syahadah Imam Ali as, ada baiknya kita membahas pandangan beliau mengenai hakikat manusia. Imam Ali AS adalah orang yang mendapat gelar pintu kota ilmu dan tahu benar hakikat manusia yang sebenarnya. Mengenai orang-orang zalim dan congkak yang berbuat kerusakan di muka bumi dengan segala kesombongannya Imam Ali as berkata, "Bukankah manusia adalah mahluk yang pernah Allah tempatkan di kegelapan rahim seorang ibu?" Menurut Washi dan Khalifah Rasul ini, manusia adalah mahluk yang melewati berbagai periode kesempurnaan. Periode terpentingnya adalah pengenalan hakikat. Manusia seperti ini akan sadar dan mengetauhi aib dan cela yang ada padanya, tidak mudah terpengaruh oleh polusi yang ada di sekitarnya, dan dengan keimanan serta tekad yang kuat berhasil melepaskan diri dari sifat sombong. Beliau lebih lanjut mengarahkan manusia untuk mengenali potensi yang ia miliki. Menurut Imam Ali, keselamatan manusia ada pada keseimbangan perkembangan seluruh potensi yang dimilikinya. Amirul Mukminin Ali as menyebutkan bahwa pengembangan sifat-sifat mulai hanya bisa dilakukan dengan memperkuat pondasi ilmu dan akal. Karenanya beliau menganjurkan kepada seluruh manusia untuk menghidupkan pelita makrifat di dalam diri mereka dan memanfaatkan potensi akal. Semua itu supaya diri manusia mampu melawan godaan hawa nafsu. Sebab dengan akal dan ilmu, manusia bisa mengekang nafsunya. Beliau berkata, "Carilah jalan kebenaran dengan akalmu dan lawanlah hawa nafsumu tentu engkau akan sukses." Hal inilah yang saat ini ramai dibicarakaan oleh para pakar psikologi. Mereka mengatakan, "Orang yang sehat secara akal akan memiliki jiwa yang sehat." Pernyataan para psikolog ini hanyalah penemuan yang mereka dapatkan melalui berbagai eksperimen. Namun Imam Ali as yang mengenal hakikat manusia menerangkan lebih jauh dan mendalam. Beliau menegaskan bahwa kepercayaan akan alam akhirat adalah periode awal yang harus menjadi bagian dari kehidupan manusia. Dengan kepercayaan ini, orang akan yakin bahwa apa yang dilakukannya di dunia sebelum kematian akan sangat menentukan nasibnya di alam akhirat sana. Keimanan inilah yang mendorong manusia untuk melakukan kebaikan. Saat ini, kebersihan diri seseorang dilihat dari hubungan sosialnya. Artinya, manusia memiliki hubungan erat dengan masyarakat. Selayaknya dia menyintai masyarakatnya dan sebaliknya, masyarakat juga menyintainya. Mengenai hubungan dengan masyarakat Imam Ali AS menekankan bahwa sebelum segala sesuatunya, manusia harus menjaga tindak tanduknya di tengah masyarakat dan menghindari perbuatan dosa. Beliau juga menganjurkan hubungan baik dengan keluarga, yang disebutnya sebagai penguat mental dan spiritual. Sayangnya pada zaman ini, manusia telah menjauh dari tujuan asli penciptaan-Nya dan tenggelam dalam krisis etika kemanusiaan. Imam Ali as menyebutkan beberapa sifat terpuji yang ada pada insan mulia. Di antaranya tanggungjawab, cinta terhadap sesama, tepat janji, dan tidak enggan untuk bermusyawarah dengan orang lain. Tindakan membela diri dan kehormatan masyarakat juga dipandang oleh Ali sebagai sifat terpuji yang dimiliki oleh orang yang sehat di tengah masyarakatnya. Orang semacam ini sudah tentu tidak memiliki sifat congkak, riya, dan kemunafikan. Sikap mengambil hikmah sejarah masa lalu disebut oleh satu-satunya manusia yang lahir di dalam Kabah ini sebagai faktor yang penting dalam menekan kesalahan bertindak dan bersikap. Hal ini juga disinggung dalam wasiatnya kepada putranya Imam Hasan as. Di mata Imam Ali as, orang yang sukses adalah mereka yang memiliki hubungan baik dengan diri, masyarakat dan Tuhannya. Untuk mengenal diri sendiri hendaknya manusia memahami arti kehidupan dan tujuannya. Karena itu, Imam Ali as menghimbau semua orang untuk mengenal posisinya di dunia ini dan tidak melakukan perbuatan yang bisa menurunkan derajatnya. Imam Ali AS berkata, "Siapa yang tidak mengenal dirinya maka ia binasa." Dalam ungkapan lain beliau mengatakan, "Sebaik-baik makrifat adalah pengenalan diri sendiri." Satu hal lagi yang dipandang penting pada diri manusia adalah hubungannya dengan Tuhan. Hubungan inilah yang membentuk jati diri seseorang. Dalam hal ini, Imam Ali as menyebutkan bahwa Tuhan yang hidup dan kekal ada di semua tempat dan selalu memantau tingkah laku seluruh hamba-Nya. Orang yang mengikat kehidupannya dengan masalah ketuhanan akan mampu menundukkan hawa nafsunya dan bergerak menuju kepada kesempurnaan. Di mata Imam Ali as, manusia adalah mahluk yang memiliki kehendak sendiri dan melakukan semua perbuatan dengan kehendaknya. Beliau menghimbau manusia untuk memanfaatkan kehendak ini di jalan yang benar yang dapat menghantarkannya ke dejarat tertinggi kesempurnaan. Ali as adalah contoh nyata dari manusia sempurna yang berhasil mencapai derajaat tertinggi kesempurnaan dengan iman dan kekuatan tekadnya. Karena itu kata-kata yang beliau ucapkan ketika pedang Ibnu Muljam menghantam kepalanya adalah, "Demi Pemilik Kabah Aku beruntung." Tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriah manusia sempurna ini meninggalkan dunia yang fana. Innaa Lillaahi wa Innaa Lillaahi Raji'uun. (IRIB Indonesia)

Hari Quds Sedunia, Peluang Menjalin Persatuan Islam

Selasa, 2012 Agustus 14 22:30
Forum Dunia Pendekatan Antarmazhab Iran dalam statemennya menyebutkan, "Hari Baitul Maqdis Sedunia, merupakan kesempatan terbaik dalam menjalin persatuan antarbangsa Muslim, mengingat proses globalisasi yang berasaskan pada kebangkitan Islam dan kesadaran duni dalam melawan imperialisme dan zionisme internasional."
Fars News (14/8) melaporkan, Forum Dunia Pendekatan Antarmazhab menyatakan, "Hari Baitul Maqdis Sedunia adalah hari revivalisasi Islam dan hari seruan pembebasan Palestina dari cengkeraman rezim Zionis perampok. Dan penentuan hari Jumat terakhir di bulan Ramadan sebagai Hari Quds Sedunia merupakan inisiatif historis Imam Khomeini ra, adalah kesempatan untuk mewujudkan ikatan permanen antarumat Islam sedunia dan para penuntut kebenaran untuk bangsa Palestina, sehingga nama Palestina dan cita-cita pembebasan Baitul Maqdis itu tidak akan terlupakan dalam liuk rutinitas kehidupan." Saat ini, adalah era Kebangkitan Islam dan pencerahan islami, dan Palestina berada di titik pusat kebangkitan tersebut. Kebangkitan Islam di kawasan dan krisis ekonomi di dunia Barat, protes terhadap pemerintahan Barat, serta demonstrasi di dalam negeri rezim Zionis, membuat pelaksanaan Hari Quds Sedunia tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dengan terciptanya persatuan antarbangsa Muslim, akan terbentuk front kokoh di hadapan musuh Islam dan kita semua harus mempersiapkan ruang bagi kerjasama dan persatuan antar Muslim bersamaan dengan gelombang revolusi regional dan Kebangkitan Islam. Oleh karena itu, partisipasi proaktif semua pihak dalam peringatan ini, menjadi tugas dan kewajiban setiap insan bebas dan penuntut keadilan. Seperti yang ditetakankan oleh Rahbar (Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei), masalah Palestina dari sudut pandang Islam untuk seluruh Muslim di duni adalah masalah esensial dan kewajiban, dan satu-satunya jalan untuk melenyapkan tumor berbahaya ini adalah dengan muqawama dan perjuangan.(IRIB Indonesia/MZ)

Kamis, 09 Agustus 2012

Sekelumit dalam Pulsar 135 LS

Barangkali berkah bagi produsen kendaraan bermotor di indonesia umumnya atau khususnya di kota Bandung adalah karena tidak tersedianya sistem transportasi masal yang konferehanship. Tidak adanya tata kelola perumahan yang terintegrasi dengan sistem transportasi menyebabkan penduduk kelabakan tatkala harus keluar rumah untuk tujuan kerja maupun keperluan lain misal mengantar anak ke sekolah. Tiada pilihan lain kecuali harus memiliki kendaraan pribadi baik itu roda 2 (motor) ataupun roda 4 (mobil).
Begitupula halnya dengan yang saya alami. Tempat tinggal yang terletak di pinggiran kota, sungguh sangat sulit anak pergi sekolah ke kota dengan menggunakan kendaraan umum. Disamping waktu yang panjang maka ongkosnya juga lumayan mahal karena harus gonta-ganti angkot & bahkan ojeg.
Pilihan akhirnya, harus membeli motor untuk keperluan tersebut. Jaman sekarang produk motor sungguh sangat melimpah, penjualan kendaraan roda 2 ini bak kacang goreng, saking banyaknya permintaan di negeri ini. Mulai yang produk Jepang dengan berbagai merk, maupun produk eropa & bahkan yang baru mencoba peruntungan dari pabrikan India. Singkat cerita, saya akhirnya pingin mencoba yang berbeda, produk Jepang hampir semua merk sudah pernah pakai. Produk Eropa juga pernah walaupun hanya scooter/vespa. Yang belum pernah ya produk India dengan merk Bajaj. Dan pilihan jatuh pada “Pulsar 135 LS” Inilah Spseifikasi-nya : MESIN Type 4 Tak, Pendingin Udara DTS-i (Hak Paten Bajaj) 4 Katup (Pertama di Dunia : 4 Katup DTS-i) SOHC Volume Langkah 134.66 cc Perbandingan Kompresi 9.8 : 1 Tenaga Maksimal 13.5 HP @ 9000 rpm Torsi Maksimal 11.4 Nm @ 7500 rpm Starter Kick + Electric Starter, SUSPENSI Depan Teleskopik dengan pelapis anti-gesek (Stroke 130) Belakang NitroX, BAN Depan 2.75 x 17.41 P Belakang : 100/90 x 17.55 P, REM Depan 240 mm Cakram Belakang : 130 mm Tromol, TANGKI Kapasitas 8 Liter Reserve, Useable : 2.5 Liter, 1.6 Liter, ELEKTRIK Aki : 12 V Full DC Lampu Depan : 35/35 W dengan 2 Lampu Pilot, DIMENSI Panjang : 1995 mm Lebar : 765 mm Tinggi : 1045 mm Jarak Sumbu Roda : 1325 mm Jarak Terendah ke Tanah : 170 mm Berat Kosong : 122 Kg, FITUR ISTIMEWA Auto Choke : Ya ExhausTEC : Ya Stang Jepit : Ya Speedometer : Digital Tachometer : Tipe Digital dengan Tampilan Analog Indikator Bensin : Digital Tripmeter : Digital, GARANSI 3 Tahun Atau 36000 Km ** Kalo ini motornya :
Pengalaman setelah 2 bulan menggunakan Pulsar, tidak jauh beda dengan motor sekelas yang pabrikan Jepang, baik tongkrongannya maupun akselerasinya. Bahkan produk India ini mempunyai nilai tambah pada harga yang lebih murah. Pulsar dengan teknologi terbaru temuan sendiri “India” yaitu DTSI bisa dikatakan sebuah kebanggan nasionalisme. Kapan Indonesia bisa berbuat banyak ya……..? sekedar untuk mengikutinya saja kelihatannya sulit, apalagi mememukan inovasi teknologi terbaru………………? Tapi denger-denger ada lho nanti produk Indonesia asli yang akan mengejutkan dunia. Ngga percaya………? Tunggu aja…….., halah koq malah ngelantur ya. Kembali ke “Pulsar 135 LS” tapi apa yang mau diceritakan? Lha wong udah banyak yang cerita di milis/ blog sebelah baik yang suka maupun yang tidak suka, tinggal baca aja kan. Tapi yang jelas, saya salut sama India-nya, sama orng-orangnya, sama tokoh-tokoh pahlawan-nya sama semangat kemandirian-nya. Kapan hal tersebut bisa terwujud di bumi pertiwi Nusantara ini………? (ASTo'0812)

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...