Kamis, 07 Februari 2013

MENELISIK ERA SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU.




Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (PINANDITO) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum  / petunjuk Allah SWT  (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah SWT, insya Allah bangsa ini akan mencapai  zaman keemasan sejati.
      Selain masing masing satrio itu menjadi ciri ciri dari masing masing pemimpin NKRI pada setiap masanya, ternyata  tujuh sifat satrio piningit itu melambangkan tujuh sifat yang menyatu dalam diri seorang Pandita yang telah kita tahu adalah putra Betara Indra yang juga Budak Angon seperti telah diungkap diatas. Berikut adalah sifat sifat "Satrio Piningit" itu.

* Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro.

Melambangkan orang yang sepanjang hidupnya terpenjara namun namanya harum mewangi . Sifat ini hanya dimiliki oleh orang yang telah menguasai Artadaya (ma'rifat sebenar benar ma'rifat). Diberikan anugerah kesaktian oleh Allah SWT, namun tidak pernah menampakan kesaktiannya itu. Jadi sifat ini melambangkan orang berilmu yang amat sangat tawadhu'.

* Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar.

Melambangkan orang yang kaya akan ilmu dan berwibawa, namaun hidupnya kesandung kesampar, artinya penderitaan dan pengorbanan telah menjadi teman hidupnya yang setia. Tidak terkecuali fitnah dan caci maki selalu menyertainya. Semua itu dihadapinya dengan kesabaran,ikhlas dan tawakal.

* Satrio Hamong Tuwuh.

Melambangkan orang yang memiliki dan membawa kharisma leluhur suci serta memiliki tuah karena itu selalu mendapatkan pengayoman dan petunjuk dari Allah SWT. Dalam budaya jawa orang tersebut biasanya ditandai dengan wasilah memegang pusaka tertentu sebagai perlambangnya.

* Satrio Boyong Pambukaning Gapuro

Melambangkan orang yang melakukan hijrah dari suatu tempat ke tempat lain yang diberkahi Allah SWT atas petunjuk-Nya. Hakekat hijrah ini adalah sebagai perlambang diri menuju pada kesempurnaan hidup (kasampurnaning ngaurip). Dalam kaitan ini maka tempat yang dituju itu adalah lebak cewene = gunung perahu = semarang tembayat.

* Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu.

Melambangkan orang yang memiliki enam sifat diatas. Sehingga orang tersebut digambarkan sebagai seorang pinandhita atau alim yang selalu mendapat petunjuk dari Allah SWT. Maka hakekat Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu adalah utusan Allah SWT atau bisa dikatakan seorang Aulia.

* Serat Kalatidha Ronggowarsito.

Guna melengkapi wacana kita tentang sifat dan karakter "satrio piningit" yang telah diuraikan diatas, ada baiknya kita cermati pula Serat Kaladhita karya Ronggowarsito yang tertuang dalam serat centhini jilid IV (karya susuhunan Pakubuwono V) pada pupuh 257 dan 258. Kutipan ini menggambarkan situasi yang terjadi dan akhirnya muncul Satrio Piningit yang dinanti :

Wong agunge padha jail kurang tutur,marma jeng pamasa,tanpa paramarteg dasih, dene datan ana wahyu kang sanyata.
Artinya:
Para pemimpinnya berhati jahil, bicaranya ngawur, tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang sejati.

Keh wahyuning eblislanat kang tamurun,apangling kang jalma, dumrunuhsalin sumalin,wong wadon kang sirna wiwirangira
Artinya:
Wahyu yang turun adalah wahyu dari iblis dan sulit bagi kita membedakannya,para wanitanya banyak yang kehilangan rasa malu.

Tanpa kangen mring mitra sadulur, tannawarta nyata, akeh mlaratmawarni, daya deye kalamun tyase nalangsa.
Artinya:
Rasa persaudaraan meluntur, tidak saling memberi berita dan banyak orang miskin beraneka macam yang sangat menyedihkan kehidupannya.

Krep paprangan,sujana kapontit nurut,durjana susila dadra andadi,akeh malingmalandang marang ing marga.
Artinya:
Banyak peperangan yang melibatkan para penjahat,kejahatan / perampokan dan pemerkosaan makin menjadi jadi dan banyak pencuri malang melintang di jalan jalan.

Bandhol tulus, mendhosol rinamu puguh, krep grahana surya, kalawan grahana sasi,jawah lindhu gelap cleret warsa.
Artinya:
Alam pun ikut terpengaruh dengan banyak terjadi gerhana matahari dan bulan, hujan debu dan gempa bumi.

Prahara gung, salah mangsa dresing surur, agung prang rusuhan,mungsuheboya katawis,tangeh lamun tentreming wardaya.
Artinya:
Angin ribut dan salah musim,banyak terjadi kerusuhan seperti perang yang tidak ketahuan mana musuhnya yang menyebabkan tidak mungkin ada rasa tentram di hati.

Dalajading praja kawuryan wus suwung, lebur pangreh tata,karana tanpa palupi,pan wus tilar silastuti tata.
Artinya:
Kewibawaan negara tidak ada lagi,semua tata tertib,keamanan,dan aturan telah ditinggalkan.

Prasujana,sarjana satemah kelu, klulun kalathida,tidhem tandhaning dumadi,hardayengrat dening karoban rubeda.
Artinya:
Para penjahat maupun para pemimpin tidak sadar apa yang diperbuat dan selalu menimbulkan masalah / kesulitan.

Sitipati nareprabu utamestu,papatih nindhita,pra nayaka tyas basuki,panekare becik becik cakrak cakrak.
Artinya:
Para pemimpin mengatakan seolah olah bahwa semua berjalan dengan baik padahal hanya sekedarmenutupi yang jelek.

Nging tan dadya,paliasing kalabendu,mandar sangking dadra,rubeda amhrubedi,beda beda hardaning wong sanagara.
Artinya:
Yang menjadi pertanda zaman kalabendu,makin lama makin menjadi kesulitan yang sangat, dam berbeda beda tingkah laku/pendapat orang senegara.

Katatangi tangising mardawa-lagu,kwilet tyas duhkita,kataman ring reh wirangi,dening angupaya sandi samurana.
Artinya:
Disertai dengan tangis dan kedukaan yang mendalam,walaupun kemungkinan dicemooh,mencoba untuk melihat tanda tanda yang tersembunyi dalam peristiwa ini.

Ing paniti sastra wawarah,sung pemut, ing zaman musibat,wong ambeg jatmika kontit,kang mangkono yen niteni lamampahan.

Artinya :
Memberikan peringatan pada zaman yang kalut dengan bijaksana, begitu agar kejadiannya / yang akan terjadi bisa jadi peringatan.

Nawung krida, kang menangi jaman gemblung, iya jaman edan, ewuh aya kang pambudi, yen meluwa edan yekti nora tahan.

Artinya :
Untuk dibuktikan, akan mengalami jaman gila, yaitu zaman edan, sulit untuk mengambil sikap, apabila ikut gila/edan tidak tahan.

Yen tan melu, anglakoni wus tartamtu, boya keduman, melik kalling donya iki, satemahe kaliren wekasane.
Artinya :
Apabila tidak ikut menjalani, tidak kebagian untuk memiliki harta benda, yang akhirnya bisa kelaparan.

Wus dilalah, karsane kang Among tuwuh, kang lali kabegjan, ananging sayektineki, luwih begja kang eling lawan waspada.
Artinya :
Sudah kepastian, atas kehendak Allah SWT, yang lupa untuk mengejar keberuntungan, tapi yang sebetulnya, lebih beruntung yang tetap ingat dan waspada (dalam perbuatan berbudi baik dan luhur).

Saka marmaning Hayang Sukma, jaman Kalabendu sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenengan nata, ing kono raharjanira, karaton ing tanah Jawa, mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka.
Artinya :Atas izin Allah SWT, zaman Kalabendu hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Indonesia menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara murkapun mereda.

Marga sinapih rawuhnya, nata ginaib sanyata, wiji wijiling utama, ingaranan naranata, kang kapisan karanya, adenge tanpa sarana, nagdam makduming srinata, sonya rutikedatonnya.
Artinya :
Kedatangan pemimpin baru tidak terduga, seperti muncul secara gaib, yang mempunyai sifat-sifat utama.

Lire sepi tanpa srana, ora ana kara-kara, duk masih keneker Sukma, kasampar kasandhung rata, keh wong katambehan ika, karsaning Sukma kinarya, salin alamnya, jumeneng sri pandhita.
Artinya :
Datangnya tanpa sarana apa-apa, tidak pernah menonjol sebelumnya, pada saat masih muda, banyak mengalami halangan dalam hidupnya, yang oleh izin Allah SWT, akan menjadi pemimpin yang berbudi luhur.

Luwih adil paraarta, lumuh maring branaarta, nama Sultan Erucakra, tanpa sangakan rawuhira, tan ngadu bala manungsa, mung sirollah prajuritnya, tungguling dhikir kewala, mungsuh rerep sirep sirna.
Artinya :
Mempunyai sifat adil, tidak tertarik dengan harta benda, bernama Sultan Erucakra (pemimpin yang memiliki wahyu), tidak ketahuan asal kedatangannya, tidak mengandalkan bala bantuan manusia, hanya sirullah prajuritnya (pasukan Allah) dan senjatanya adalah se-mata2 dzikir, musuh semua bisa dikalahkan.

Tumpes tapis tan na mangga, krana panjenengan nata, amrih kartaning nagara, harjaning jagat sadaya, dhahare jroning sawarsa, denwangeni katahhira, pitung reyal ika, tan karsa lamun luwiha.
Artinya :emua musuhnya dimusnahkan oleh sang pemimpin demi kesejahteraan negara, dan kemakmuran semuanya, hidupnya sederhana, tidak mau melebihi, penghasilan yang diterima.

Bumi sakjung pajegira, amung sadinar sawarsa, sawah sewu pametunya, suwang ing dalem sadina, wus resik nir apa-apa, marmaning wong cilik samya, ayem enake tysira, dene murah sandhang teda.
Artinya :
Pajak orang kecil sangat rendah nilainya, orang kecil hidup tentram, murah sandang dan pangan.

Tan na dursila durjana, padha martobat nalangas, wedi willating nata, adil asing paramarta, bumi pethik akukutha, parek lan kali Katangga, ing sajroning bubak wana, penjenenganin sang nata.
Artinya :
Tidak ada penjahat, semuanya sudah bertobat, takut dengan kewibawaan sang pemimpin yang sangat adil dan bijaksana.

Dari gambaran yang tertulis di dalam Serat Kalatidha di atas, maka kita akan mendapatkan gambaran yang sama dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Percaya atau tidak, kenyataannya semua yang telah digambarkan para leluhur nusantara ini telah terjadi dan sedang berlangsung serta insya allah akan terjadi, baik lambat ataupun cepat. Karena apa yang telah dituangkan para leluhur kita dalam bentuk karya sastra adalah hasil “olah batin” ataupun “perjalanan spiritual” beliau-beliau di dalam menangkap lambang-lambang-Nya di alam nyata maupun gaib. Inilah yang diistilahkan dalam kawruh jawa sebagai Sastrajendra Hayuningrat.
(sastra tanpa wujud – papan tanpa tulis, tulis tanpa papan). Sehingga dalam mengungkapkannya penuh dengan perlambang (pasemon ataupun sanepan). Semuanya hanya ingin mengingatkan kita anak cucu leluhur nusantara ini untuk senantiasa Eling dan Waspada.


1 komentar:

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...