Jumat, 03 Maret 2017

SASTRA JENDRA HAYU NINGRAT PANGRUWATING DIYU

MANDALAJATI NISKALA Seorang Filsuf  Sunda Abad 21 Menjelaskan Dalam Buku SANG PEMBAHARU DUNIA DI ABAD 21, Mengenai Filsafat SASTRA JENDRA HAYU NINGRAT PANGRUWATING DIYU YANG ADA KAITANNYA DENGAN BAHASA IBU 
Filsafat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu oleh Mandalajati Niskala dianalogikan bagai sebuah kotak yang berisi rahasia besar. Kotak itu berukuran panjang 1M, lebar 1M dan tinggi 1M. Kotak terbuat dari bahan yang tidak bisa dihancurkan oleh kekuatan apapun, sebab kotak itu diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Kemudian kotak dikunci dengan gembok rahasia yang juga tidak bisa dibobol oleh kekuatan apapun karena gembok rahasia itupun diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Di atas kotak tersebut diletakan Handbook sebagai pedoman untuk membuka kotak rahasia, dan harus didahului bagaimana caranya membuka gembok rahasia itu. Jika gembok rahasia telah mampu dibuka, di dalamnya terdapat isi yang sangat rahasia dan misteri yang bernama Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu. Aneh bin ajaib jangankan isi kotak, gemboknya saja hingga kini abad 21 belum ada yang sanggup membuka. Handbook kotak tersebut berisi simpul-simpul dan simpul-silmpul tersebut merupakan cerita; Resi Wisrawa memulai penjabaran apa arti ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

Namun sebelum wejangan berupa penjabaran makna ilmu Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu diajarkan kepada Dewi Sukesih, Resi Wisrawa memberikan sekilas tentang ilmu itu kepada Sang Prabu Sumali. Resi Wisrawa berkata lembut, bahwa seyogyanya tak usah terburu-buru, kehendak Sang Prabu Sumali pasti terlaksana. Jika dengan sesungguhnya menghendaki keutamaan dan ingin mengetahui arti sastra jendra.

Ajaran Ilmu Sastra Jendra itu adalah, barang siapa yang menyadari dan menaati benar makna yang terkandung di dalam ajaran itu akan dapat mengenal watak diri pribadi. Nafsu-nafsu ini selanjutnya dipupuk, dikembangkan dengan sungguh-sungguh secara jujur, di bawah pimpinan kesadaran yang baik dan bersifat jujur. Dalam pada itu yang sifat buruk jahat dilenyapkan dan yang bersifat baik dikembangkan sejauh mungkin. Kesemuanya di bawah pimpinan kebijaksanaan yang bersifat luhur, dan seterusnya……, dan seterusnya hingga cerita tuntas setebal buku.

Handbook itu diperebutkan dan diklaim sebagai kitab Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu. Muncullah disana-sini akhli kitab Sastra Jendra, sebab disangkanya Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu itu berupa “KIWIR KIWIR SETEBAL BUKU”, padahal buku yang terletak diatas kotak itu, hanyalah sebuah Handbook untuk membuka gembok rahasia agar kotak dapat dibuka.

Jika kotak ternyata dapat dibuka karena Handbook dibaca dengan benar, di dalam kotakpun masih ada Handbook lainnya sebagai pegangan tata-titi untuk membuka rahasia Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu.
Sampai saat ini kotak itu masih tertutup rapat dan gembok rahasiapun belum ada yang sanggup membuka. Ketahuilah jika nanti Gembok rahasia dapat diketahui kuncinya, sehingga kotak itu dapat dibuka, maka Kitab Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu beserta Handbooknya HILANG DITELAN ALAM atas izin Tuhan Yang Maha Kuasa, melanglang jagat “Trimurti” menemui “Sejati Diri”, mengendap merelung darah “HUDAR, HADIR, HIDIR”, sehingga orang yang berebut untuk mewarisinya hanya mendapati kotak dengan RUANG KOSONG.

Inilah sebuah analogi yang disampaikan oleh Mandalajati Niskala mengenai Filsafat Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu yang masih menjadi sebuah misteri besar dalam dunia filsafat dan spiritual. Menurut pandangan Mandalajati Niskala bahwa Filsafat Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu merupakan kamus ilmu yang tanpa limit dalam sebuah sistem filsafat kehidupan semesta, namun hingga kini bagi banyak kalangan akhli masih terbalut selaput tebal. Mandalajati Niskala mampu menyingkapnya menjadi sebuah mustika ilmu pengetahaun yang luar bisa. Jujur saja rata-rata para pakar seperti kami, tidak faham akan kandungan filsafat Sastra Jendra dan hanya terjebak pada alur cerita Wisrawa, Dewi Sukesih, dll.

Terbongkarnya kandungan filsafat Sastra Jendra oleh Mandalajati Niskala, ditandai dengan penjelasan panjang lebar yang beliau sampaikan pada bahasan filsafat di banyak pertemuan. Akibatnya banyak kalangan yang intinya ingin memahami lebih jaun mengenai Sastra Jendra dan bertanya kepada beliau tentang rahasia yang terkandung didalamnya. Kami mengikuti dan mengamati apa yang dijelaskan Mandalajati Niskala sangat berbeda dengan yang dipahami oleh mereka yang mengklaim para akhli budaya. Mereka umumnya hingga kini masih buta dan meraba-raba. Gambaran rahasia Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu ditandai dengan lahirnya syair “Nitis Ngawanci” yang beliau tulis sebagai berikut: ———————————–

Cur pulung Mandala Agung,
- Mandala Sastrahing Jendra,
- Mandala Hayuning Ratu,
- Mandala Pangruwating Diyu,
- Mandala jatining rasa Geus ngucur jati rahayu,
- Jati Langit Lohing Mahpud,
- Nitis Bumi Loh Jinawi,
- Nitis sumereping ati,
- Ati kula ati Sunda,
- Matarema Insun – Dia,
- Ati rasa nu sajati,
- Nu ngancik na jero diri.
Pur ngempur cahyahing Mandalajati, nu ngebrak gilang gumilang, Nu hurung jero kurungan
Pur ngempur Mandala Agung Cahyahing gilang gumilang Nu nyaangan Pawenangan Sastrahing Jendra Hayuning Ratu Pangruwating Diyu PANGGUMULUNG “keun upayakeun” Mandala Jati kana “kun fayakuning” Mandala Agung.
Rep rerep sumerep-hing gumulung nyarungsum balung Tis nitis tumitis-hing ngagetih ngaati Jleg ngadeg Sastra-hing Jendra Hayun-hing Ratu Pangruwat-hing Diyu Nyurup ngamanusa Sunda Dina adegan Khalifah,
- —————————–
Begitu dahsyat kandungan syair Nitis Ngawanci, yang menyebabkan kami ingin menggali lebih jauh. Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu dalam penjelasan Mandalajati Niskala yang sempat kami simak, ternyata sebuah wahana rahasia raksasa yang tersimpan di Lauh Mahfud yang merupakan Trinata dari Sistem Asmaakullaha, yang kemudian melahirkan seluruh system turunan lainnya diantranya; Sistem Tatanan Ilmu Kalam, Sistem Tatanan Kehidupan, Sistem Tatanan Wujud dsb. Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu hanyalah sebuah istilah yang dibuat berdasarkan kaidah pada ketetapan Tuhan YMK dalam Ayat Kauniyah, bukan pada Ayat-ayat Kauliyah. Kandungannya tidak mungkin dapat dikitabkan karena Maha Luas, Maha Menyeluruh dan tanpa limit, mengikuti sifat-sifat Tuhan Yang Maha Segalanya. Jika ada orang mengatakan bahwa ada kitab Sastra Jendra karangan Si A, Si B dan seterusnya, jelas itu merupakan kebohongan nyata yang lahir dari sifat kebodohan dan ketidakfahaman akan Sastra Jendra itu sendiri.

Demikian kata Mandalajati Niskala. Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebuah Sistem Tri Tangtu di Buana yang tidak terlepas dan merunut pada hukum-hukum Tuhan yang bermula dari sebuah titik Jawahar Awal sebagai “ASAL MUASAL” kehidupan, surup ke Jawahar Akhir. Sastra Jendra tak lain adalah cahaya ilmu yang di pancarkan dariLOH MAHFUD (Loh=Lauh) menerangi LOH JINAWI sebagai titik pusat Bumi, yang terletak di Puser Parahyangan. LOH MAHFUD sendiri adalah sebagai Pusat dan Dokumentasi ilmu Jagat Raya yang tanpa limit. Karena itu Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu adalah merupakan sebuah ILMU KALAM yang maha luas dan tanpa limit, yang berada di Lauh Mahfud sebagai Pusat Ilmu Alam Semesta, yang dapat diakses pada Pusat Bumi Lauh Jinawi sebagai Pusat Pemerintahan Sang Ratu Adil. Ilmu Kalam tanpa limit adalah ilmu sastra yang maha luas tanpa limit. Maha luas tanpa limit disebut JENDRA. Kalau memiliki titik limit tidak disebut JENDRA tetapi disebutnya JENDRAL. Dengan demikian maka arti Sastra Jendra sebenarnya adalah SEBUAH ILMU RAHASIA BAHASA YANG MEMILIKI KEKAYAAN KOSAKATA YANG TANPA LIMIT. itulah Bahasa Sunda yang tanpa limit sebagai Handbook yang akan membongkar rahasia Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu.

Kalau tidak percaya, coba bandingkan antara kamus bahasa Inggris yang hanya memiliki perbendaharaan 100.000 kosakata dengan bahasa Sunda Saptapuraga yang memiliki perbendaharaan kata sebanyak 1.300 TRILIUN KOSAKATA. Apabila kosakata Saptapuraga dijadikan kamus seperti kamus bahasa inggris, maka akan berjumlah 13 MILIAR KAMUS. Jika ukuran volume kamus bahasa Inggris 25X30X8cm yaitu 6.000cm3 atau 0,006M3 maka volume kamus bahasa Sunda Saptapuraga adalah 78 JUTA METER KUBIK. Jika kamus disusun dengan ketinggian satu meter maka lahan yang dibutuhkan untuk menyimpan kamus tersebut seluas 78 JUTA METER PERSEGI. Dapat dibayangkan Kota Bandung akan penuh dengan kamus bahasa Sunda Saptapuraga.

Demikian Mandalajati Niskala menjelaskan kepada kami. Semua orang akan merasa heran dengan jumlah kosakata bahasa Sunda sebanyak itu. Kami mencoba menanyakan dengan maksud supaya kami betul-betul yakin terhadap ucapan Mandalajati Niskala: “Apakah betul kosakata bahasa Sunda seluruhnya ada 1.300 Triliun Kosakata”? Mandalajati Niskala menjawab: “SALAH……. Saya katakan tanpa limit, BUKAN SEBANYAK ITU. Itu hanya dalam cakupan Saptapuraga, maksudnya hanya contoh untuk dibandingkan dengan “KAMUS YAHUDI””. Waduh……., penulis tambah bingung dan tambah penasaran. Baik kami akan mencoba bertanya terus untuk meyakinkan kami dan para pembaca: “Apakah 1.300 TRILIUN KOSAKATA anda mamahaminya”? Mandalajati Niskala menjawab: “Bukan memahaminnya tapi insyaalloh saya hafal seluruhnya di luar kepala”. Tentu saja sangat mengagetkan, setengah tidak percaya namun keyakinan yang terpantul pada raut wajah Mandalajati Niskala dengan jawaban yang tandas, menjadikan rasa penasaran kami semakin meningkat. Kami tanyakan lebih jauh: “Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membaca kamus sebanyak 1.300 Triliun Kosakata”? Beliau menjawab sambil seloroh: “Wa…ah anda pura-pura tidak bisa menghitung. Begini, jika membaca satu kosakata membutuhkan waktu rata-rata 2 detik, kemudian kita baca kamus tersebut terus menerus sampai selesai tanpa istirahat, maka waktu yang dibutuhkan adalah 80 JUTA TAHUN. Silakan anda hitung sendiri…!!! Heheeh lucu ya…!!!”

Mandalajati Niskala menatap dengan mata yang disorotkan sambil langsung menebak kebenaran perasaan kami dengan sebuah pertanyaan sebagai berikut: “Pasti anda akan bertanya manusia mana yang punya umur sepanjang itu?” Bener juga tebakan Mandalajati Niskala ini….! Selanjutnya kami mencoba mengkorek pendapat Mandalajati Niskala mengenai para Budayawan Sunda: “Kalau boleh saya tahu; Apakah seperti Ajip Rosidi, Hidayat Suryalaga alm., Nina Lubis, Ibu Oce Jungjunan dan lain-lain yang memiliki predikat sebagai Akhli Budaya Sunda memahami masalah ini; Soalnya kami perhatikan berpuluh tahun mereka malah punya pemahaman bahwa kosakata bahasa Sunda banyak menyerap dari bahasa lain”?

Jawaban Mandalajati Niskala: “Maaf disiplin ilmu tiap orang bisa berbeda. Demikian pula pasti mereka punya rujukan ilmu. Saya yakin tiap orang punya kelebihan pada disiplin ilmunya, karena mereka semua mengorbankan waktu untuk sebuah ilmu. Janganlah hal-hal yang saya uraikan dijadikan standar untuk mengukur kompetensi orang lain, sebab bisa jadi dapat merusak citra orang lain”. Para Pembaca Mandalajati seperti yang malas untuk mengkritisi para akhli budaya, selanjutnya Mandalajati Niskala menjelaskan bahwa bahasa Sunda adalah bahasa primer tanpa limit yang tak lain adalah Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu. Tutur Mandalajati Niskala berikutnya: “Ada tiga filsafat kalam yang semuanya tanpa limit, yaitu Filsafat Sastra Jendra, Filsafat Hayu Ningrat dan Filsafat Pangruwating Diyu. Itulah yang seyogyanya dibongkar oleh para filsuf, kemudian diregulasi oleh para ilmuwan menjadi sajian ilmu. Sehingga hasanah pengetahuan yang luar biasa ini tidak distigma sebagai mitos.

Anggapan mitos terhadap khasanah kekayaan Sunda bisa jadi hanya dikarenakan ketidaktahuan dan ketidakfahaman mengenai Filsafat Sunda. Para filsuf Sunda sampai hari ini masih sembunyi. Mereka punya tugas yang lebih dari sekedar diskusi di forum-forum. Mereka semua sedang berhadapan dengan Dazal dan Yahudi. Perlu saya tegaskan, sebenarnya jika rahasia Sastra Jendra terbuka maka terbukalah Dunia dan telanjanglah Dazal dan Yahudi yang selalu memanipulasi ilmu pengetahuan.

Tidak boleh menutup mata bahwa ilmu pengetahuan yang kita konsumsi saat ini adalah produk Dzal dan Yahudi. Baik itu masuk melalui PINTU BARAT maupun masuk melalui PINTU TIMUR. Sastra Jendra tak lain adalah ilmu kalam berupa AYATULLAH KAUNIYAH untuk membuka kebenaran rahasia alam ini. Sekian lama Sastra Jendra bergeser dari titik pusatnya. Diluar pusatnya manusia manapun tidak akan sanggup untuk membongkar kandungannya, karena kandungan Sastra Jendra harus dibongkar menggunakan bahasa primer yaitu bahasa Sunda. Jika demikian bahasa Sunda memiliki kecakapan untuk menterjemahkan ‘makna energy’ seluruh bahasa di Dunia. INILAH YANG DIMAKSUDKAN BAHASA IBU ATAU IBU BAHASA. Bahasa Ibu atau Ibu bahasa tak lain Bahasa Babon atau Bahasa Bibit. Bahasa ini tentunya sebagai bahasa wiwitan yang fitrah, yang sejatinya adalah bahasa yang dipakai oleh Ibu Hawa. Bahasa-bahasa yang sekarang dipakai diseluruh permukaan Bumi adalah merupakan bahasa turunannya YANG SEYOGYANYA DIKATAKAN SEBAGAI BAHASA ANAK atau ANAK BAHASA. 

Kita digiring mengikuti jalan pikiran Dazal dan Yahudi yang sengaja berniat memanipulasi supaya manusia lupa kepada bahasa ibunya yang asli, yaitu Bahasa Sunda. Semua bahasa dikatakan sebagai bahasa Ibu dan istilah IBU BAHASA ditiadakan diganti dengan istilah BAHASA IBU, dengan maksud untuk mempermudah memanipulasikan makna. Istilah Ibu Bahasa disembunyikan, kemudian dipublikasikan istilah Bahasa Ibu dalam berbagai konfrensi bahasa untuk melahirkan devinisi. Gagasan kejahatan ini berlangsung sangat tidak terasa. Intinya AKAN MENGHILANGKAN KEBERADAAN BAHASA BABON, SEBAB BAHASA BABON ITU AKAN MENGARAH KEPADA BAHASA SUNDA”.

Demikian yang dituturkan Mandalajati Niskala sambil menambahkan: “Saya tegaskan. Sebenarnya yang dimaksud oleh Dazal dan Yahudi bahwa bahasa Ibu itu adalah Ibu bahasa. Selanjutnya Boleh-boleh saja bahasa manapun mengatakan sebagai Bahasa Ibu atau Ibu bahasa asal mampu memenuhi syarat-syarat sebagai bahasa ibu. Setelah istilah Ibu bahasa berganti menjadi bahasa Ibu, maka menjadi logis bahasa Ibu itu didefinisikan sebagai bahasa ‘Si Mamah’ kepada anaknya. Harapannya jika ibu-ibu di permukaan Bumi ini lancar berbahasa Inggris, maka dia akan merasa bangga melatihkan tutur kata keseharian kepada anak-anaknya. 

Suatu saat akan timbul keadaan bahwa bahasa Ibu itu bahasa Inggris, karena secara realita dan fakta bahwa bahasa Inggis merupakan bahasa yang dipakai sebagai tutur kata seorang ‘Mama’ kepada anaknya diseluruh permukaan bumi. Jika kondisi sudah seperti ini maka istilah bahasa Ibu akan dikembalikan menjadi Ibu bahasa, dan logis jika dikatakan bahwa Ibu bahasa adalah bahasa Inggris. . . . Heheheh……, KOP BAE MANGGA DAZAL UPAMI TIASA MAH….!’” . 

Mandalajati Niskala membeberkan lebih rinci sebagai berikut: “Inilah rekayasa akibat kedengkian Dazal. Ketahuilah bahasa terlahir bukan atas sebuah kesepakatan atau rekayasa manusia. Bahasa akan terlahir mengikuti kaidah alam yang fitrah; yang merupakan ‘energy kalam’ dari PURAGABASA, UNGKARABASA, TANGARABASA, UGABASA dan WARUGABASA. Di sisi lain ada yang namanya AZASI BAHASA dan ‘Panca Maha Buta’. Tentu saja semua orang ‘BLENG’ termasuk ‘Sang Juru Rekayasa’ terhadap istilah dan kosakata di atas. Bahasa adalah energy kalam yang muncul alami selaras dengan cakupan alam. Cakupan alam dalam ruang lingkup Semesta Jagat Raya, maka logis bahasa itu dikatakan sebagai BAHASA TUHAN atau selanjutnya menjadi BAHASA KHALIFAH. 

Cakupan alam dalam ruang lingkup Bumi, maka logis bahasa itu dikatakan sebagai BAHASA IBU atau disebut sebagai BAHASA IBU HAWA. Cakupan alam dalam ruang lingkup Nusa, maka logis bahasa itu dikatakan sebagai BAHASA NUSA atau BAHASA BANGSA. Bahasa yang muncul secara runut dalam ruang lingkup Nusa disebut bahasa et~nusa atau bahasa etnis. Bahasa yang muncul tersebut otomatis akan selaras dengan alam ke~nusa~an yang ada disekitarnya. Inilah yang disebut ANAK BAHASA. Runut munculnya anak bahasa sebagai berikut: nu~’SA’ :: ma~nu~’SA’ :: et~nu~’SA’ :: ba~’SA’ (bahasa) Belajar bahasa atau sastra bagi para akhli bukan hanya soal belajar bicara, belajar buat puisi dan sebagainya, tapi seyogyanya menyelidiki keberadaan bahasa tersebut sampai pada tingkat filosofi atau tingkat hakekat. 

Ketahuilah bukan sebuah pendapat atau hipotesa bahwa segala sesuatu itu ada ketentuannya atau hukum-hukumnya. Keberadaan hukum ini menjadi ketetapan Tuhan dalam mengatur keselarasan alam. Selanjutnya hukum ini bisa disebut hukum alam.

Demikian juga dalam hal bahasa ada ketentuan alamnya. Ketentuan alam ini disebut KETENTUAN FITRAH dalam berbahasa. Tentu saja semua bahasa memiliki ketentuan Fitrah karena bahasa itu lahir mengikuti ketentuan Tuhan YMK. Bahasa Fitrah yang saya maksudkan adalah bahasa awal yang dipakai umat manusia sejak jaman Ibu Hawa”. “Jika kita mancermati secara teliti; sebuah bahasa dapat dikatakan sebagai bahasa awal umat manusia yang digunakan sejak jaman Ibu hawa, harus mampu melahirkan bahasa-bahasa turunannya. 

Bahasa Ibu Hawa tersebut lazim disebut sebagai Bahasa Ibu; atau Ibu Bahasa atau Bahasa Wiwitan karena memenuhi ketentuan alam SEBAGAI BAHASA AWAL. Inilah yang saya maksudkan bahwa bahasa Sunda sebagai BAHASA AWAL YANG DIGUNAKAN OLEH IBU HAWA, karena memiliki ketentuan alam yang tidak bisa dicapai oleh bahasa manapun. Ketentuan alam tersebut sebagai berikut:
1.BAHASA IBU HAWA harus memenuhi HUKUM-HUKUM RASIONAL, yaitu harus mampu menggambarkan KEKAYAAN KOSAKATA yang tanpa limit, karena kekayaan kosakata ini akan diwariskan kepada ‘turunannya’. Kekayaan kosakata yang tenpa limit ini disebut SASTRA JENDRA.
2.BAHASA IBU HAWA harus memenuhi KETENTUAN IRASIONAL yaitu harus mampu menggambarkan KEKAYAAN dan KELUHURAN NILAI yang tanpa limit, kerena nilai ini akan diwariskan kepada ‘turunannya’. Kekayaan dan keluhuran nilai yang tanpa limit ini disebut HAYU NINGRAT.

3.BAHASA IBU HAWA harus memenuhi KETENTUAN HIRASIONAL yaitu harus mampu menggambarkan KEKAYAAN ENERGI yang tanpa limit, kerena kekayaan energi ini akan diwariskan kepada ‘turunannya’ Kekayaan energi yang tanpa limit ini disebut PANGRUWATING DIYU”. 

“Saya yakin para akhli sastra, budaya, pilolog, antropolog dsb., akan bingung menyimak tiga ketentuan di atas; Walaupun notabene mereka para akhli, tetap saja mereka sangat tidak faham karena sederat gelar kesarjanaan yang dicapai selama ini dan dijadikan kebanggaan sebagai buah pendidikan hanyalah merupkan korban produk pemikiran Dazal Barat dan Dazal Timur, kemudian dibuat tidak sadar menjadi para propaganda pemikiran Dazal tersebut di dalam Dunia Pendidikan”. 

Mandalajati Niskala menjelaskan lebih lanjut sekaligus mengklarifikasi agar tidak menimbulkah fitnah, bahwa kesalahan itu terletak pada sistem yang dibuat oleh Dazal. Penjelasan beliau sebagai berikut: “Saya katakan dengan tegas bahwa sama sekali para akhli di atas tidak salah, karena sistem yang dibuat oleh Dazal yang menjadikan kita tidak sadar; Yang salah adalah dunia pendidikan tidak pernah melahirkan para filsuf yang handal dan hakiki, sehingga sistem dunia pendidikan dikendalikan Dazal Barat maupun Dazal Timur. Mungkin layak kita pertanyakan; Siapa Sang Produser dari Dazal Barat dan Dazal Timur yang bercokol disana? Saya sendiri tidak berniat untuk merubah scenario pendidikan, karena akan membuang energy dan bisa dikatakan melangkah terlalu cepat hingga akan terjebak di kubangan. 

Soal di atas bukan hal yang pokok dalam sebuah kebangkitan. Biarkan saja jangan hiraukan nantipun akan ada yang merobahnya”. Demikian ungkapan Mandalajati Niskala yang tidak bisa kami tuangkan seluruhnya, namun kami telah menagkap kesimpulan bahwa beliau memiliki kekayaan sulur buah fikiran yang luar biasa. Untuk hal tersebut rasanya kami tidak salah menenpatkan beliau sebagai FILSUF SUNDA Jabangtutuka Satu dari “Seribu Jabangtutuka Sunda” yang secara bergiliran akan muncul pada buku Sang Pembaharu Dunia Di Abad 21.
————————————————————
Naskah ini dicuplik dari Editing Penulis.
Judul Buku: SANG PEMBAHARU DUNIA DI ABAD 21
Sub Judul: “SERIBU JABANGTUTUKA SUNDA” Serial: “Jabangtutuka 1 Mandalajati Niskala”
Tebal Buku 200 Halaman

http://ahmadsamantho.wordpress.com/2012/02/15/filsafat-sastra-jendra-hayu-ningrat-pangruwating-diyu-yang-ada-kaitannya-dengan-bahasa-ibu/

Minggu, 22 Desember 2013

Pak Tua

PAK TUA
Mandalajati Niskala; Bandung,11 Maret 2000
Untaian nada 1998 terdengar sumbang tak beraturan.
Dari sekian suasana terkumpul meruncingkan benci-benci.
Bahkan seolah sesama musuh bersatu.
Mendesak menekan tubuh yang renta.
Dan hampir terlempar jurang.
Semua membawa judul lagu lama.
Lagu suara rakyat jelata.
Tentu saja Pak Tua terperanjat.
Tak mampu menahan gelombang masa menghempas.
Topan itu kan menyapu Bapak Tua macan lumpuh.
Bahkan siapa saja yang coba mendekatinya.
Semua berkhianat jadinya.
Bubar mencari selamat.
Cukuplah akhirnya
Pak Tua menanggung dosa semesta.
Dari dirinya yang sedang di akhiri menuju khusnul khatimah.
Namun yang kabur membuang puntung.
Cepat-cepat mencuci tangan.
Padahal katanya 11 Maret ’66:
Dia penyelamat bangsa.
1 Oktober ’66:
Pahlawan sejati pengkikis gembong komunis.
Aku tahu saat itu semua berseru: Hidup Bapakku.
Bahkan 32 tahun lamanya
Menyandang gelar Begawan Pembangunan.
Tadinya aku tepekur bingung.
Siapa gerangan penyusun cerita dibali layar ?
Yang menciptakan pahlawan gagah.
Lalu dijadikan macan renta tak bertulang.
Namun kini aku ingat.
Karena firasat 5 tahun yang lalu mengabariku.
Ketika Pak Tua datang dalam tidurku.
Bercerita terbata-bata dengan mata berkaca-kaca.
Menepuk pundakku dari belakang lalu meminta saran.
Aku terheran dan iba.
Padahal dia adalah seteru batinku.
Saudaraku dibantai di Aceh, Lampung dan Tanjung Priuk.
Dia buka sebuah rahasia penumbang tahta
Ketika dia siap menjadi musuh penguasa Dunia
Musuh sekampung akan terhasut.
Mengungkap luka-luka lama.
Sejarah duka Sang Proklamator menimpa dirinya.
Gelombang masa dan Mahasiswa.
Walau hanya sekedar alat pendakwa yang bisa resah karena rekayasa alur cerita.
Ampuh menjadi senjata pamungkas yang memilukan.
Aku tahu siapa gerangan pencipta resah.
Dan aku dilarangnya bercerita, mengumumkan siapa tokoh utama.
Heran aku menjadi kasihan.
Mungkin karena Pak Tua hanyalah boneka yang mulai insyaf.
Dari sekian banyak yang akan mencuat dan ditumbangkan di saat sadar.
Kemudian akan diangkat boneka baru.
Tentu mendapat giliran menumpas saudaraku yang lugu teriak ingin merdeka.
Sekarang aku sadar.
Siapa gerangan Sang Perencana.
Dan aku prihatin Pak Tua terancam mati.
Karena dia memegang kunci rahasia.
Siapa gerangan sutradara dibalik layar.
Yang membiayai keresahan Negeri ini.
Bandung,
Mandalajati Niskala
50 Puisi Filsafat Gelombang Baru

http://galuhkiwari.wordpress.com/2011/04/21/ruhsiyah-jelema-manusa/

Dosa Siapa

DOSA SIAPA
Mandalajati Niskala; Bandung, 30 sept. 1999
Ranting rapuh.
Daun-daun gugur.
Akar yang menghujam mencuat terangkat.
Tak lagi terlihat rindang ceria kota dan lagu pedesaan penawar pilu.
Calon-calon penguasa.
Kapitalis-kapitalis.
Pemuka rakyat.
Dan politisi pencuat lidah.
Berekayasa menuai keserakahan.
Mencari untung.
Apa adanya apa katanya mas media menabur racun.
Memicu subur jelata meronta-ronta.
Pohon kiara raksasa bercabang lebat yang tah pernah berbuah.
Rubuh digeranyang rayap-rayap.
Diri-diri khawatir diktatot proletar datang merajalela.
Salah siapa ?
Dosa siapa ?
Lagu merdu perkotaan berganti onar arak-arakan.
Salah siapa ?
Dosa Siapa ?
Lagu rindu pedesaan berganti jerit tangis ketakutan.
Negeri ini tergelincir.
Terbelah rebah.
Buta mata buta fakta mati hati.
Fitnah dan hasutan merajalela.
Naga-naga pencipta reka menari gembira.
Gajah dan singa renta lumpuh membisu.
Bangsa ini jadilah sasaran fitnah dunia.
Siapa gerangan yang mampu menabur benih kembali ?
Menyuburi tanah gersang negeri ini.
Dengan pepohonan rindang berbuah lebat.
Menjadi pembungkus reka perdaya dan dusta siasat naga.
Namun kelak akan disadari pula.
Siapa gerangan naga berbisa.
Di saat kekuasaan menjelang bubar oleh penumbang kapital.
Salah siapa ?
Dosa semesta merambah.
Lantaran Tuhan hanya dijadikan pajangan.
Dan agama dijadikan hiasan lidah.
Bandung,
Mandalajati Niskala
50 Puisi Filsafat Gelombang Baru
http://galuhkiwari.wordpress.com/2011/04/21/ruhsiyah-jelema-manusa/

Puisi dan Lukisan

PUISI DAN LUKISAN
Mandalajati Niskala; Bandung, 21 Juli 2000
Apakah ini sebuah artikulasi ?
Yang satu menyuguhkan alunan kata.
Yang satunya menampilkan tata warna.
Yang satu butuh lantun.
Yang lainnya butuh cahaya.
Yang satu buat telinga.
Yang lainnya buat mata.
Pena dan kwas.
Bagaikan penyair dan pelukis.
Semua orang dapat membuat dan merenungi.
Puisi dan lukisan sama-sama menawarkan tema dan cerita.
Yang satunya dibunyikan dengan kata.
Satunya lagi dipamerkan dengan warna.
Perhatikan ?
Jika aku tulis dan bacakan karya khairil dan Taufiq Ismail.
Dia tersenyum terenyuh.
Tapi jika aku lukis dan pamerkan karya Afandi dan Basuki Abdullah.
Bisa jadi akhli warisnya akan mendakwa.
Bagi Khairil dan Taufiq
Ini apresiasi.
Tapi bagi pihak Afandi dan Basuki Abdulah.
Ini adalah pembajakan.
Aneh bukan ?
Puisi yang bagus gelandanganpun tak butuh.
Lukisan yang indah konglomerat mengejar-ngejar.
Membuat puisi cukup dengan melamun.
Tapi tinta, kanvas dan kuas tidak datang tiba-tiba.
Melarat dan senang adalah cerita lama.
Ibarat sebuah lintasan yang membentang.
Di satu ujung ke ujung lainnya.
Disana kedua seniman berkisah.
Coba kita tanyakan kepada air yang jernih.
Dan api yang datang dan hilang.
Atau kepada hujan dan matahari.
Atau kepada saat yang terus bergerak.
Atau kepada gelombang suara dan cahaya.
Atau kepada hakekat ada dan tiada.
Kepada bertahan dan musnah.
Atau kita himpun lebih banyak lagi ?
Coba saja yang satu ini.
Khairil Anwar.
Sajak Aku.
Tak dirawat tak pernah musnah.
Banyak lukisan menawan tinggal cerita.
Terancam entah dimana rimbanya.
Apakah setiap puisi akan abadi ?
Dan setiap lukisan terancam musnah ?
Renungi ini !
Yang buta mata mampu menikmati syair.
Yang tuli bisu dapat menatap lukisan.
Puisi dan lukisan sarat makna untuk jadi pelajaran.
Jika kita tak tahu apa itu puisi ?
Cari tahu lebih dulu apa itu lukisan ?
Jika tak ada jawaban ?
Lebih baik kita renungkan !
Bandung,
Mandalajati Niskala
50 Puisi Filsafat Gelombang Baru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...