Kamis, 30 Januari 2014

Kapan Sebaiknya Anda berhenti atau Resign dari Pekerjaan?




Ketika anda bekerja di sebuah perusahaan, anda dituntut untuk mampu menyelesaikan segala permasalahan yang ada dengan cara profesional serta dewasa.
Stres pun merupakan bagian yang terhindarkan dari pekerjaan, sehingga karyawan yang baik sebaiknya tidak buru-buru mengajukan permintaan pengunduran diri alias resign setiap kali terbentur masalah, sepanjang masalah tersebut dapat diselesaikan; hal ini dapat memicu tingkat frekuensi berhenti kerja yang tinggi dan kurang baik untuk riwayat kerja.
Sebaliknya, mungkin ada saat-saat yang membuat anda benar-benar berpikir kapan sebaiknya resign alias mengundurkan diri.
Ketika anda merasa bahwa anda benar-benar sudah tidak mungkin lagi mendapat kemajuan dalam karir anda atau terbentur masalah yang tidak bisa diselesaikan, mungkin anda patut memikirkan untuk mengundurkan diri.
Berikut adalah beberapa situasi dimana seorang karyawan sah-sah saja bila memikirkan untuk mengundurkan diri, bahkan cenderung dianjurkan:
• Perusahaan anda beroperasi dengan metode dan cara yang tidak etis. Jika anda menemukan bahwa perusahaan anda membuat anda dan para pegawai lain terlibat hal-hal seperti pemalsuan faktur penjualan, pencurian informasi dari pesaing, pembajakan atau peniruan ide tanpa ijin, penggelapan, penipuan pajak dan sejenisnya yang secara moral dan etika jelas salah, tidak perlu bertanya-tanya kapan sebaiknya resign. Segeralah mengundurkan diri agar anda tidak perlu ikut terlibat jika terjadi sesuatu.
• Anda mengalami perubahan dalam hidup yang mengharuskan anda untuk mengubah pilihan pekerjaan. Contohnya, gaji anda tidak ada kemungkinan untuk naik padahal anda baru menikah atau memiliki bayi baru, atau anda diwajibkan untuk bekerja di luar negeri sementara di saat yang bersamaan orang tua anda sakit dan hanya anda yang bisa merawat mereka. Dalam hal ini, sah-sah saja anda minta berhenti, kecuali jika anda bisa bernegosiasi dengan atasan.
• Perusahaan anda mulai mengalami tanda-tanda menjelang kebangkrutan dimana situasinya tidak ada harapan lagi. Ketika tanda-tanda menjelang kebangkrutan mulai terlihat, anda tidak bisa dipersalahkan jika anda ingin mengundurkan diri sesegera mungkin, terutama jika kehidupan anda dan keluarga sangat bergantung pada uang gaji anda.
• Pekerjaan anda memiliki tingkat stres yang tinggi dimana hal tersebut membuat anda mengalami perubahan fisik, psikis dan kehidupan sosial yang sifatnya negatif. Kapan sebaiknya resign?
Dalam hal ini, segera setelah anda mulai menyadari bahwa kesehatan anda mulai terganggu, kehidupan keluarga anda berantakan atau anda sering mengalami masalah akibat stres dan depresi akibat pekerjaan.
Akan tetapi, hal ini harus dibedakan dari pekerjaan yang memang menyiapkan pegawainya untuk tingkat stres pekerjaan yang tinggi seperti pemadam kebakaran, prajurit lapangan dan perawat. Dalam hal ini, stres telah menjadi sesuatu yang diantisipasi.
• Pekerjaan anda tidak memberi ruang untuk mengembangkan karir sekalipun anda telah mendedikasikan waktu dan kemampuan anda dalam waktu yang cukup lama. Jika anda merasa hanya begitu-begitu saja di kantor dan tidak pernah lagi merasa tertantang, tidak ada salahnya mengundurkan diri.
Akhirnya, walaupun perselisihan pribadi bisa jadi tidak terhindarkan di lingkungan kerja, hal ini pun bisa menjadi pemicu resign yang sah.
Jika anda bertanya-tanya kapan sebaiknya resign, dalam hal ini ketika masalah pribadi antara anda dengan para staf atau atasan sudah sedemikian rupa sehingga bahkan menghambat pekerjaan dan komunikasi harian anda di kantor, padahal mencampurkan antara hal pribadi dan urusan pekerjaan seharusnya sebisa mungkin dihindari.
http://menjadiwirausaha.com/

Cara Ampuh untuk Membuat Dirimu menjadi Lebih Baik dan Lebih Sukses





Setiap dari kita tentu pernah merasakan bagaimana rasanya gagal saat hendak meraih tujuan. Mungkin juga, sudah banyak di antara kita yang mencoba untuk mendorong atau bahkan “memaksakan” diri untuk mencapai target tersebut, tetapi tetap saja sulit untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.
Banyak yang menyatakan bahwa kegagalan bukan berarti kita akan gagal selamanya, karena mungkin hal itu terjadi lantaran kita tidak tahu bagaimana memotivasi diri kita sendiri untuk menemukan cara terbaik dalam meraih target yang selama ini kita buat. Dengan memiliki motivasi yang lebih, maka kita tidak akan kehabisan energi untuk berusaha.
Sama halnya dengan dunia bisnis. Banyak yang bilang bahwa dunia bisnis adalah dunia yang keras karena persaingan yang terjadi seringkali sangatlah kejam dan tidak pandang bulu. Dunia bisnis mengharuskan setiap pelaku untuk lebih kreatif dan selalu inovatif.
Berkreasi dan berinovasi memerlukan upaya lebih, dan tanpa motivasi yang cukup, maka saat menemukan kegagalan, semangat untuk bangkit akan sulit didapatkan kembali.
Jika sekarang anda sedang memerlukan masukan agar diri anda lebih termotivasi, maka tips berikut dapat menjadi pemacu.
- Belajarlah pada kekurangan yang ada pada diri anda. Jangan melihat kekurangna yang ada pada anda atau pada usaha yang anda geluti sebagai kelemahan. Kekurangan yang ada haruslah dijadikan penyemangat agar bisa menjadi lebih baik. Mengikuti berbagai pelatihan atau forum diskusi akan menambah pengetahuan anda akan bagaimana cara terbaik dalam mengurangi kelemahan yang ada. Seringkali, justru banyaknya kekurangan memberikan pengetahuan yang lebih akan apa yang seharusnya dilakukan.
- Berikan fokus lebih kepada kelebihan yang anda miliki. Satu kelebihan yang anda miliki bisa menghapus seratus kekurangan. Jangan hanya terfokus kepada hal-hal teknis, tetapi yang non-teknis pun harus diberikan perhatian. Kekurangan dalam hal teknis bisa ditutupi dengan yang non-teknis seperti semangat untuk berusaha, belajar dan niat yang kuat.
- Buatlah target. Hal ini mutlak untuk dilakukan, bukan hanya oleh anda yang berkecimpung di dunia bisnis tetapi juga oleh semua orang. Anda tidak perlu membuat target yang terlalu muluk, namun cukup satu target yang benar-benar realistis. Anda bisa memulai dengan mebuat daftar target di secarik kertas kemudian memilih satu di antara yang paling reaistis.
Tentukan berapa lama yang harus anda habiskan agar target tersebut tercapai dan tuliskan pula kemungkinan hambatan yang akan anda temui. Berikan focus lebih kepada mimpi atau target anda tersebut hingga benar-benar tercapai.
- Nikmati setiap prosesnya. Hal ini yang sering dilupakan oleh banyak orang. Seringkali yang dipikirkan hanyalah hasil akhir tetapi mereka lupa bahwa yang paling penting adalah proses yang harus dijalani. Setiap hal yang terjadi dalam proses pencapaian target menjadi bumbu penyedap, baik itu yang baik maupun yang buruk. Jika anda bisa menikmati setiap hal terjadi dalam proses pencapaian tujuan, maka apapun hasilnya pasti akan memberikan pelajaran yang lebih.
- Belajarlah. Belajar tidak perlu di bangku sekolah tetapi anda bisa memetik pelajaran dari apapun yang anda temui. Dengan memetik hikmah dari setiap kejadian, maka anda akan mampu mengevaluasi diri anda sendiri agar tidak melakukan kesalahan atau memperbaiki hasil yang seudah dicapai.
Dengan menerapkan poin-poin di atas, anada akan memiliki semangat berlipat dalam berusaha.
Dalam bisnis hal ini sangat penting karena setiap hal yang anda lakukan akan menentukan bagaimana level kesuksesan anda nantinya. Dan anda juga harus ingat bahwa setiap hal yang anda temui bisa memberikan ilmu yang berharga.
Blog Manajemen Bisnis (admin@strategimanajemen.net)

Rabu, 22 Januari 2014

Mahzab CINTA



Rudolf Otto, seorang pemikir yang dianggap sebagai seorang ahli fenomenologi agama, menyebutkan ada­nya dua situasi pertemuan manusia dengan Tuhannya. Dalam situasi pertama, Tuhan tampil di hadapan manusia sebagai suatu “misteri yang menggentarkan” (mysterium tremendum).  Pada situasi lainnya, Dia hadir sebagai “misteri yang memesonakan” (mysterium fascinum).  Biasanya, para ahli—seperti  Van der Leeuw—melihat Islam (dan juga agama Yahudi) sebagai mewakili situasi yang pertama. Secara hampir refleks, para ahli seperti ini pun me-reserve situasi yang kedua—yang didomi­nasi cinta—untuk Kekristenan. Namun, para ahli me­ngenai aspek esoterisme Islam (spiritualitas Islam atau tasawuf) yang lebih belakangan, seperti diwakili de­ngan baik oleh Annemarie Schimmel, melihat Islam se­ba­gai tak kurang-kurang mempromosikan orientasi cinta dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan­nya sebagai berorientasi cinta. Bahkan, seperti akan diuraikan di bawah ini, dalam hal ini Islam justru lebih memujikan orientasi cinta ketimbang orientasi yang di­dominasi rasa takut.

Untuk memulai pembahasan mengenai soal ini, perlu disampaikan bahwa khazanah pemikiran Islam klasik sesungguhnya juga telah mengenal kedua situasi pertemuan manusia dan Tuhannya ini. Yakni, aspek ke­dahsyatan yang menggentarkan (disebut jalâl ) dan as­pek keindahan yang memesonakan (jamâl ).  Namun, adalah benar juga bahwa selama berabad-abad—khu­susnya selama abad-abad modernistik belakangan ini—kaum Muslim seperti lupa pada sisi esoteris agama me­reka yang melihat hubungan manusia-Tuhan seba­gai kecintaan makhluk kepada keindahan yang meme­sonakan Sang Khalik. Jadilah Islam, seperti diungkap­kan oleh para ahli fenomenologi agama itu, sebagai suatu agama yang secara eksoteris melulu berorientasi nomos (syarî‘ah dalam arti sempit, hukum) dan kering dari orientasi eros (cinta, hubb).

Kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu an u‘rafâ’. Fa khalaqtu al-khalqa li kay u’raf [Aku adalah perbenda­hara­an yang terpendam. Aku cinta (ahbabtu) un­tuk di­ketahui.  Maka Aku ciptakanlah alam semesta]. Demi­kianlah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam suatu hadis qudsi. Basis dari penciptaan sejak awal-mulanya, me­nu­rut hadis yang merupakan kutipan standar dalam hampir setiap uraian tasawuf ini, adalah kerinduan atau kecintaan Tuhan akan (mar‘ifah) manusia. Lepas dari “ocehan” para sufi ini, Al-Quran menegaskan hubung­an cinta an­tara Allah Sang Pencipta (Al-Wadûd) dan ma­nusia (lihat, antara lain, Al-Quran Surah Al-Mâ’idah [5]: 54; Al-Baqarah [2]: 165, 216).Inilah salah satunya:

“Adapun orang-orang yang beriman itu, sangat dalam kecintaan mereka kepada Allah.”

Menurut salah satu penelitian, bukan saja lebih ba­nyak porsi dalam 99 nama Allah (al-asmâ’ al-husnâ) bagi nama-nama yang termasuk dalam aspek jamâl Allah Swt., seperti Maha Pengasih (Al-Rahmân), Maha Penyayang (Al-Rahîm), Maha Pencinta (Al-Wadûd ), Maha Pemaaf (Al-Ghafûr), Maha Penyabar (Al-Shabûr), Maha Lembut (Al-Lathîf ), dan seterusnya. Bahkan di dalam Al-Quran terdapat 5 kali lebih banyak ayat yang me­ngan­dung nama jamâliyyah ini ketimbang jalâliyyah. Sebagai contoh, menurut catatan kata-kata Al-Rahmân dan Al-Rahîm dipergunakan sebanyak 124 kali dalam Al-Quran. Sementara kata-kata ghadhab (murka) dan bentuknya terdapat hanya 7 kali dalam seluruh kitab suci yang sama. Dengan kata lain, Allah menampilkan dirinya—dan tak ada yang dapat menampilkan Allah kecuali diri-Nya sendiri—lebih sebagai Zat yang indah dan memesona serta menimbulkan cinta kasih, ketim­bang sebagai suatu misteri dahsyat yang menggen­tarkan.

Kenyataan ini tentu sama sekali tak berarti bahwa kita harus mengabaikan penampilan Allah Swt. dalam segenap kedahsyatannya. Tapi, bahwa segenap kedah­syatan Allah itu—kemurkaan, kepemaksaan, janji pem­balasan-Nya terhadap kejahatan makhluk, dan seba­gai­nya—merupakan bagian dari kecintaan-Nya kepada makhluk. Dalam sebuah hadis qudsi, disebutkan bah­wa Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya kasih-sayang-Ku mendahului kemurkaan-Ku.” Di dalam Al-Quran, Dia sendiri menyatakan sebagai “telah menetapkan atas-Diri-Nya sifat pengasih (rahmat),” serta mengajar­kan bahwa rahmat-Nya “seluas langit dan bumi” dan “meliputi segala sesuatu.Sejalan dengan itu, Nabi-Nya pernah mengabarkan kepada kita bahwa: “Allah memiliki seratus rahmat. (Hanya) satu yang ditebar­kan-Nya ke atas alam semesta, dan itu sudah cukup untuk menanamkan kecintaan di hati para ibu kepada anak-anaknya.” Sehingga, “seekor induk kuda meng­ang­kat kakinya agar tak menginjak anaknya, dan se­ekor ayam betina mengembangkan sayapnya agar anak-anaknya berlindung di bawahnya.”

Sayangnya, dalam segenap kegentaran kita kepada kedahsyatan (jalâl ) Allah Swt., banyak di antara kita sulit membayangkan bentuk hubungan cinta antara Yang Maha Segala dan makhluk ringkih bernama manusia ini. Paling banter, orang akan menafsirkannya sebagai sinonim dari keterikatan atau ketaatan seorang hamba (‘abd ) yang takut kepada Tuhan (Rabb)-nya.

Untuk membuyarkan fiksasi kita tentang Allah yang menakutkan ini, izinkan saya mengungkapkan simbo­lisasi Ibn ‘Arabî dalam karya-besarnya, Fushûsh Al-Hikam. Hubungan cinta antara Allah dan manusia, kata sang sufi besar yang kontroversial ini, adalah seperti hu­bung­an cinta antara manusia lelaki dan perempuan. (Ini­lah, kata Ibn ‘Arabî, hikmah hadis termasyhur Nabi Saaw. mengenai kecintaan beliau kepada perempuan, di samping kepada shalat dan wangi-wangian. Bisa jadi pada awalnya sang sufi besar itu berpikir: “Pasti ada hikmah yang lebih ‘sakral’ di balik kesukaan Sang Ma­nusia Sempurna Saaw. kepada objek profan yang tam­pak ‘remeh-temeh’ itu”). Artinya, kecintaan Allah kepada manusia—dan yang sebaliknya—adalah seperti cinta-kasih dua sejoli anak manusia yang asyik âsyiq-masyuk (istilah bahasa Arab yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia ini sebetulnya merupakan bentukan dari kata ‘isyq—berarti cinta—yang merupakan salah satu istilah kunci dalam tasawuf). Banyak sekali ujar-ujar para sufi besar lainnya mengenai hal ini.

Selain dari sufi-sufi seperti Ibn ‘Arabî dan Ibn Al-Faridh, yang menonjol di antaranya adalah dari sufi perem­puan Rabi‘ah Al-‘Adawiyyah. Dia dikenal dengan syair-syair menggetarkan yang menunjukkan hubung­an cinta kasih antara manusia dan Tuhan:


“Ya Allah,” demikian munajatnya di suatu malam, “saat ini gelap telah menyelimuti bumi. Lentera-lentera telah dimatikan, dan para manusia telah berdua-dua dengan kekasih-Nya. Maka, inilah aku, mengharapkan-Mu.”

Diriwayatkan, dia pernah ditemui orang berjalan di jalanan Kota Bagdad sambil membawa obor di salah satu tangannya, dan seember air di tangannya yang lain. Ketika ditanya orang tentang tujuannya, dia men­jawab: “Aku akan membakar surga de­ngan obor ini, dan memadamkan api neraka dengan seember air ini.” Memang Rabi‘ah juga dikenal luas dengan syairnya:

“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena ber­ha­rap surgamu, maka jauhkanlah surga itu dariku. Jika aku menyembah-Mu karena takut nerakamu, maka masukkan aku ke dalamnya. Tapi, jangan halangi aku dari melihat wajah-Mu.”

Munajat Rabi‘ah ini kiranya sejalan belaka dengan berbagai ujaran ‘Ali ibn Abi Thalib—sahabat dan pene­rima wasiat Nabi, guru para sufi awal, dan pangkal ham­pir semua silsilah tarekat—khususnya bagian-bagi­an tertentu dalam Doa Kumail yang oleh Nabi diajar­kan kepadanya:

“… kalaupun aku sabar menanggung beban-pen­deritaan (di neraka) bersama musuh-musuh-Mu dan Kau kumpulkan aku dengan para penerima siksa-Mu, dan Kau ceraikan aku dari para kekasih dan sahabat-Mu … kalaupun aku, Wahai Ilah-ku, Tuanku, Sahabatku, dan Rabb-ku, sabar menanggung siksa-Mu, bagaimana kubisa sabar menanggung perpisahan dengan-Mu ... kalaupun aku bisa bersabar menanggung panas-neraka-Mu, bagaimana kubisa bersabar dari melihat kemu­lia­an-Mu ….”

Dalam konteks ini menjadi terpahamkan ketika, suatu kali, ‘Ali menyayangkan ibadah ala budak yang keta­kut­an, atau ala pedagang yang selalu menghitung-hitung imbalan, seraya memuji hubungan yang berlan­das­kan cinta.

Seolah menjelaskan maksud ujaran Bapaknya, Husain ibn ‘Ali menyeru: “… merugilah perdagangan seorang hamba yang tidak menjadikan cinta kepada-Mu se­ba­gai bagiannya.”

Akhirnya, munajat cucu Nabi dan mazmur ‘Ali Zainal ‘Abidin berikut ini dapat menjelaskan hubungan kompleks antara manusia dan Tuhan dalam ajaran Islam:

“Wahai Zat yang memberikan kelezatan persaha­bat­an kepada para kekasih-Nya sehingga mereka bisa berdiri tegak dengan akrab di hadapan-Nya, dan wahai Zat yang memberi para wali-Nya pakaian kebe­saran se­hingga mereka bisa berdiri tegak di hadapan-Nya seraya memohon ampunannya.”



(Oleh : Haidar Bagir)

Minggu, 19 Januari 2014

A Second Wife ( Seorang istri kedua)






 Ilustrasi
Bism Allah Ar-Rahman Ar-Rahim. . .

Bagi sebagian besar masyarakat kita rumah tangga poligami digambarkan sebagai bentuk ketidak setiaan seorang suami terhadap istri sebelumnya. Istri kedua dianggap sebagai perebut suami orang dan istri pertama adalah korban.

Benarkah demikian?

..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..(Qs. An Nisaa’ (4) : 3) Inilah penjelasan Al-Quran tentang poligami.

Pada hakikatnya kedudukan istri pertama maupun kedua ialah sama yang membedakan hanyalah kapan dan siapa lebih dahulu dinikahi. Permasalah korban dan pelaku itu adalah anggapan yang kurang mendasar sebab ketika suatu rumah tangga dibangun pastilah tak lepas dari pertikaian. Namun jika seorang laki-laki memutuskan menikah kembali tanpa menceraikan istri pertamanya dan tetap mengayominya bersama-sama istri kedua tersebut apakah masih dapat dikatakan sebagai korban dan pelaku?

Islam sebagai agama mayoritas di negeri ini ternyata telah memudar dari banyak sanubari. Islam telah mengatur poligami sebagai suatu HAK mutlak bagi kaum adam dengan syarat-syarat tertentu. Ketika syarat-syarat ini terklaksana tak ada yang menjadi korban maupun pelaku.

Berbalik dari situasi diatas pernahkah anda berfikir istri kedualah sang korban?

Pernahkan ada selintas banyang rasa cemburu dapat menjalari seorang wanita kedalam kesia-siaan perilaku? Cemburu adalah sebuah fitroh manusia dan juga wanita termasuk didalamnya. Bahkan seorang ummu mukminun Aisyah RA sanggup memecahkan piring madunya karena cemburu.

Namun ketika kecemburuan telah memasuki areal hasad (menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain) inilah yang tercela.

Berkaitan dengan hal itu istri pertama hendak memisahkan antara suaminya dengan istri kedua ataupun melakukan penekanan-penekanan yang bersifat memojokan baik kepada suami maupun madunya. Inilah salah satu realitas yang terlupakan oleh banyak masyarakat kita. Rumah tangga poligami terlanjur digeneralisasi sedemikian rupa tanpa lagi mengkaji fakta-fakta lapangan dan BAHKAN MEREMEHKAN ATAU MENCIBIR peranan istri kedua tersebut padahal iapun memiliki HAK & KEWAJIBAN YANG SAMA.

Korban ataupun tidaknya seseorang didalam rumah tangga adalah tergantung dari semua pihak dalam pertalian rumah tangga tersebut. Suamipun dapat menjadi korban ketika api cemburu merasuki istri-istrinya secara membabi buta tanpa lagi memandang kaidah-kaidah agama.

Pernikahan seharusnya memberi ketentraman kepada seluruh anggota keluarga dan ini dapat dijalankan dalam rumah tangga monogami maupun poligami karena realitas lapangan menunjukan banyak rumah tangga poligami yang sukses dalam bahtera rumah tangganya.

Karena yang terpenting dari semuanya adalah rasa syukur dalam kehidupan ini..

“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667)

Oleh : Rarasati
Label: Ruang Hati
 http://duniakuberwarna.blogspot.com/

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...