Kamis, 09 November 2017

Cinta Ahlul Bayt

Keharusan mencintai Ahlul Bait :

1. Syarat masuk surga Rasulullah Saw bersabda, "Pada Hari Kiamat manusia tidak akan melangkahkan kakinya hingga ditanya tentang empat hal; ..., tentang kecintaannya kepada kami Ahlul Bait." (Amali Syeikh Mufid, hal 353)

2. Upah Nabi menjalankan risalah Allah Swt berfirman, "... Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan..." (QS. 42: 23)

3. Cinta Ahlul Bait adalah cinta Rasulullah Rasulullah Saw bersabda, "Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang dianugerahkan kepada kalian. Cintailah aku karena cinta kalian kepada Allah dan cintailah Ahlul Baitku karena cinta kalian kepadaku." (Sunan Turmudzi, jilid 5, hal 664, hadis 3789)

4. Cinta Ahlul Bait dasar keimanan Rasulullah Saw bersabda, "Segala sesuatu ada dasarnya dan dasar keislaman adalah kecintaan kepadaku dan Ahlul Baitku." (Kanz al-Ummal, jilid 12, hal 105, hadis 34206)

Tanda cinta kepada Ahlul Bait :

1. Cinta dibarengi amal Imam Ali as berkata, "Barangsiapa yang mencintai kami Ahlul Bait, maka hendaknya ia beramal dengan perbuatan kami dan bertakwa kepada Allah." (Bihar al-Anwar, jilid 1, hal 92)

2. Cinta kepada pecinta Ahlul Bait Imam Ali as berkata, "Barangsiapa mencintai Allah, ia pasti mencintai Nabi dan barangsiapa yang mencintai Nabi, ia pasti mencintai kami Ahlul Bait dan barangsiapa yang mencintai kami Ahlul Bait, maka ia pasti mencintai Syiah kami." (Tafsir Furat Kufi, hal 128)

3. Menyembunyikan cinta di hadapan musuh Imam Ali as berkata, "Kalian jangan memuji kami di hadapan musuh. Jangan juga menyatakan cinta kepada kami di hadapan orang yang tidak layak. Karena mereka tidak dapat menahan diri di hadapan cinta kalian yang berujung pada penghinaan dan gangguan terhadap kalian." (al-Khishal, jilid 2, hal 628)

4. Siap menerima ujian Imam Ali as berkata, "Barangsiapa mencintai kami Ahlul Bait, maka hendaknya ia mempersiapkan kemiskinan sebagai pakaiannya." (Nahjul Balaghah, Shubhi Shaleh, hikmah 112)

5. Berlepas tangan dari musuh Ahlul Bait Di banyak hadis disebutkan, "Bohong, orang yang mengaku mencintai kami Ahlul Bait, tapi tidak berlepas tangan dari musuh-musuh kami." (Mustathrafat as-Sarair, hal 640)

Dampak dan berkah cinta Ahlul Bait
1. Dikumpulkan bersama Ahlul Bait di Hari Kiamat Imam Ali as berkata, "Barangsiapa yang mencintai kami, maka ia akan bersama kami di Hari Kiamat. Bila ada seseorang yang mencintai batu, maka Allah akan mengumpulkannya bersama batu itu." (Amali as-Shaduq, hal 209, majelis 37)

Menanamkan cinta kepada Ahlul Bait :

1. Kebaikan tertinggi Imam Ali as berkata, "Kebaikan tertinggi adalah mencintai kami Ahlul Bait dan keburukan tertinggi adalah membenci kami Ahlul Bait." (Ghurar al-Hikam, jilid 1, hal 211, hadis 3363)

2. Pendidikan anak Rasulullah Saw bersabda, "Didiklah anak kalian dengan tiga hal; cinta kepada Nabi, cinta kepada Ahlul Bait dan membaca al-Quran." (Kanz al-Ummal, jilid 16, hal 456, hadis 45409)

3. Ibadah Rasulullah Saw bersabda, "Mencintai Ahlul Bait Nabi dalam sehari lebih baik dari beribadah selama setahun dan barangsiapa yang meninggal karenanya, niscaya dimasukkan ke dalam surga." (Nur al-Abshar, hal 127).

Senin, 06 November 2017

Wisata Alam "Geopark Ciletuh"





Kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu juga meliputi Kawasan Cagar Alam Cibanteng, Tangkubanparahu, Sukawayana; Kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh; dan Taman Wisata Alam Sukawayana, dikelola Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Jawa Barat; kawasan latihan terpadu militer dikelola KOSTRAD; Kawasan konservasi Penyu di Pangumbahan; dan kawasan latihan angkatan udara di Tanjung Ujunggenteng; kawasan budidaya tambak udang di Mandrajaya dan Ujunggenteng serta kampung batik di Purwasedar (Rosana, dkk., 2015).
Geoarea Ciletuh memiliki bentang alam berupa dataran tinggi yang berbentuk tapal kuda (amphiteater) yang terbuka ke arah Teluk Ciletuh (Martodjojo, 1984). Bentuk amfiteater ini memiliki diameter lebih dari15 km, sehingga di yakini sebagai bentuk amfiteater alam terbesar di Indonesia. Di bagian tengah amfiteater terdapat sebaran batuan tertua di Jawa barat yang berupa batuan bancuh dan ofiolit hasil pengendapan dari aktivitas tumbukan antara kerak samudera dan kerak benua pada Zaman Kapur, lebih dari 65 juta tahun lalu.
Batuan melange dan ofiolit terdiri atas peridotit, gabro dan lava basal; batuan metamorfik berupa sekis hijau, serpentinit dan amfibolit; serta batuan sedimen berupa batupasir kuarsa-konglomeratik (Formasi Ciletuh). Batuan tersebut merupakan batuan tertua yang tersingkap kepermukaan di Jawa Barat yang terbentuk (terendapkan) di palung laut dalam. (sumber : http://ciletuhpalabuhanratugeopark.org)


Obyek wisata baru yang sedang naik daun, karena pemandangan alamnya yang memukau, kombinasi antara laut dan darat. Sehingga disebut Geopark (Taman Bumi). Jarak tempuh dari Kota Bandung sampai lokasi utamanya pantai Plampangan sekitar 200 km. Rute tersebut melalui jalur Kota, Cimahi - Cianjur - Sukabumi. Waktu tempuh dengan berkendaraan roda 2 (motor) sekitar 6 jam. Infrastruktur jalan sudah lumayan bagus, terutama masuk daerah Ciemas, jalan Hotmix dengan kondisi kelak kelok, hanya agak sempit. Untuk kendaraan roda 4 harus extra hati-hati.
Begitu masuk pantai Plampangan langsung disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Hamparan pantai yang landai karena berbentuk 2/3 bulatan. dengan ombak yang relatif kecil. Di kanan kiri pantai dan depan pantai pemandangan alam berupa perbukitan yang kelihatan hijau dan menyembul bebatuan kokoh dari rerimbunan tanaman khas tebing. Di bebrapa titik terlihat jelas air terjun membelah dinding tebing, kelihatan putih mempesona.

Suasana alam pedesaan sangat kental sekali, dengan bangunan rumah penduduk yang tidak terlalu mencolok, disekelilingnya ada hamparan sawah dan ladang. Dilihat dari atas tebing sungguh suasana yang tiada duanya di daerah lain.


Kamis, 02 November 2017

10 Prediksi Kehidupan Manusia pada 2025



Liputan6.com, New York - Perubahan adalah keniscayaan. Dan berlangsung cepat. Termasuk dalam bidang sains dan teknologi. Baru-baru ini Intellectual Property & Science business of Thomson Reuters merilis  'The World in 2025: 10 Predictions of Innovation' -- prediksi inovasi di tahun 2025. Berdasarkan telaah data paten global dan literatur ilmiah. 

Jadi seperti apa hidup manusia 11 tahun dari sekarang? 

Lisensi pilot akan menjadi simbol kedewasaan, tak hanya surat izin mengemudi (SIM) motor atau mobil. Juga teleportasi kuantum akan dimungkinkan, dan segala sesuatu dalam kehidupan sehari-hari -- dari rumah ke  surat kabar -- menjadi digital. 

Untuk melakukan studi tersebut, pada peneliti mengidentifikasi 10 bidang ilmiah yang berkembang berdasarkan analisis topik populer menggunakan Thomson Reuters Web of Science.

Mereka juga menelaah data paten global di Derwent World Patents Index untuk mengidentifikasi 10 bidang paten dengan jumlah penemuan tertinggi sejak tahun 2012. Juga 'hot spot' inovasi yang akan mengarah pada terobosan terbesar di masa depan. 

"Alih-alih menggunakan bola kristal (untuk meramal) kami memiliki sumber terbaik: kutipan literatur ilmiah dan konten paten," kata  Basil Moftah, pimpinan Thomson Reuters IP and Science dalam rilisnya, seperti Liputan6.com kutip dari Daily Mail, Selasa (1/7/2014). 

Analisis penelitian terkini dan aktivitas komersial menjadi dasar bagi prediksi perkembangan yang paling menarik yang akan muncul pada dekade berikutnya.

Moftah menambahkan, hal tersulit adalah memilih 10 prediksi final dari sekian banyak kutipan dan jurnal. "Menentukan sepuluh besar menjadi perdebatan utama," kata dia. 

"Ada banyak investasi yang terjadi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di seluruh dunia, dan seperti biasa, ada rentang yang luas dan bidang penelitian yang dilakukan di universitas-universitas dan lembaga.'

Salah satu prediksi yang dimuat dalam laporan menyebut, tenaga surya akan menjadi sumber energi terbesar di Bumi pada tahun 2025. 

Berdasarkan makalah-makalah ilmiah yang paling banyak dikutip dalam waktu 2 tahun, proses memanen dan mengubah energi matahari akan semakin maju. Pada akhirnya, menurut para ilmuwan, yang terjadi lebih dari sekedar sadar lingkungan: energi matahari akan digunakan oleh mayoritas penduduk dunia.

Tak hanya itu, pemetaan DNA juga akan menjadi yang paling menjanjikan. "Dalam waktu 10 tahun ke depan, pemetaan DNA melalui kelahiran akan menjadi hal biasa, kata Moftah. 

Para peneliti juga memprediksi uji teleportasi akan makin sering. "Berkat riset yang kemudian menjadi proyek Higgs Boson." 

Literatur ilmiah makin meriah terkait Higgs Boson, atau yang dikenal dengan 'partikel Tuhan'. Lebih dari 400 pada 2012. Hal itu, kata mereka, dianggap sebagai indikator kunci bahwa para ilmuwan akan mencoba teknik teleportasi kuantum yang lebih ambisius. Apa lagi yang lain? 
1. Tingkat demensia 

Angka demensia akan menurun. Demensia adalah penurunan fungsional yang disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak. Menurut laporan, pada 2015, 'Baby Boomers' -- bayi-bayi yang lahir selama ledakan jumlah kelahiran pasca-Perang Dunia II antara 1946 dan 1964 -- akan mencapai usia 80-an tahun ke atas. Akan ada lebih banyak dana penelitian ilmiah yang dikucurkan terkait penderitaan yang mungkin mereka hadapi.
2. Energi matahari

Metode memanen, menyimpan, dan mengubah energi matahari akan makin maju dan efisien. Tenaga surya akan menjadi sumber energi utama di planet kita.
3. Diabetes Tipe 1

Impian memodifikasi genom manusia akan menjadi kenyataan, menjadikan pencegahan penyakit diabetes, seperti diabetes tipe 1, menjadi mungkin. Diabetes melitus tipe 1 adalah diabetes yang terjadi karena berkurangnya rasio insulin dalam sirkulasi darah akibat hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. Dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa.
4. Kekurangan pangan berakhir

Berkat kemajuan dalam teknologi pencahayaan dan teknik pencitraan, ditambah dengan modifikasi genetik tanaman, kekurangan pangan dan fluktuasi harga pangan akan menjadi bagian dari masa lalu.
5. Pesawat Listrik

Teknik penerbangan berbobot ringan dan teknologi baterai baru akan memungkinkan alat transportasi bertenaga listrik makin banyak melaju di darat, juga udara. 

Pesawat mikro-komersial akan terbang di langit, melayani rute jarak pendek. Kapal terbang jenis baru tersebut bisa lepas landas dan mendarat di area yang lebih kecil, mendapatkan lisensi pilot bisa menjadi identitas kedewasaan seseorang di Abad ke-21.
6. Digitalisasi

Segala sesuatu akan dijitalisasi. Dari mobil hingga rumah, bisa merespon apa yang diinginkan pengguna. Sistem yang sama digunakan untuk mengubungkan wilayah geografis, juga setiap orang. 

"Bayangkan hari ketika seluruh benua Afrika benar-benar, terkoneksi secara digital," tulis para peneliti. "Hari itu akan terjadi pada 2025." 
7. Ramah lingkungan

Kemasan ramah lingkungan yang 100 persen biodegradable akan menjadi normal. Sementara kemasan berbasis minyak bumi tak akan ada lagi. 
8. Perawatan Kanker

Perawatan kanker akan lebih sedikit memiliki efek samping racun. Pengembangan obat akan jauh lebih tepat, mengikat protein tertentu dan menggunakan antibodi untuk memberikan mekanisme tindakan yang tepat.

Efek bahan kimia beracun yang melemahkan pada pasien akan berkurang secara signifikan.
9. Pemetaan DNA

Evolusi nanoteknologi, ditambah dengan teknologi 'Big Data' yang lebih luas -- yang menggabungkan data dari banyak orang yang berbeda, membuat pemetaan DNA (DNA mapping) saat kelahiran akan menjadi hal yang biasa, juga uji kesehatan setahun sekali. Hal-hal tersebut memungkinkan penyakit bisa teridentifikasi.

10. Teleportasi kuantum

Meskipun pada 2025 manusia belum akan bisa melakukan teleportasi antar-ruang, investasi yang signifikan dalam dan pengujian teleportasi kuantum akan berlangsung dengan menggunakan bentuk-bentuk materi 'eksotis', yang akan membuktikan konsep tersebut tak hanya mungkin tapi akan sangat berguna. (Yus).

Minggu, 22 Oktober 2017

Hakekat Cahaya

Hakekat Cahaya Al Qur'an HAKEKAT CAHAYA AL QUR'AN Allah telah menciptakan segala sesuatu selalu berpasang-pasangan. Karena segala ciptaan sudah ditetapkan selalu berpasang-pasangan, berarti Al Qur'an pun demikian, yakni ada Al Qur'an yang berwujud lahir : "Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur'an berbahasa Arab supaya kamu berfikir ". (Az zukhruf 43 : 3 ) "Sesungguhnya Kami telah memudahkan AI Qur'an itu dengan bahasamu agar dapat engkau memberi kabar gembira dengannya kepada orang-orang bertaqwa dan agar engkau memberi peringatan denganya kepada kaum yang membangkang ". (QS Maryam 19 : 97) Dan ada Al Qur'an yang berwujud batin (AI Qur'an yang hakiki). Al Qur'an yang hakiki jangan direlevansikan dengan lembaran kertas yang diatasnya di tulis dengan tinta hitam dalam bahasa Arab, yang berisi tentang berita dari Yang Maha Kuasa. Al Qur'an yang berupa lembaran kertas itu ditulis pada zaman khalifah Usman ratusan tahun setelah turunnya Al Qur'an yang hakiki. Al Qur'an hakiki yang dibawa Jibril (Jabr Ilahi) adalah berupa geteran-getaran yang Maha hebat. Jibril tidak mengantarkan kepada Nabi Muhammad lembaran Al Qur'an yang berupa kertas yang kita kenal sekarang, yang ditulis di batu-batu atau di pelepah-pelepah korma agar mudah diingat. "Qul nazzalahuu ruuhul kudusi mir rabbika bil haqqi" "Katakanlah : "Ruhul Kudus menurunkan Al-Qur'an dari Tuhan dengan benar". ( An-NahI 16 :102). Jibril (Jabr Ilahi) membawa Al-Qur'an itu dari sisi Rab-Nya. Tuhan berada pada dimensi yang maha halus berarti sangat mustahil Jibril (Jabar Ilahi) membawa Qur'an berupa kertas yang kasar. "Iqra" itulah ayat yang pertama kali sekali turun, dan bukan kertas dan juga bukan suara tetapi wahyu. Kata "Iqra" adalah kata-kata yang telah ditransfer ke dalam bahasa Arab agar orang Arab atau Bani Adam saat itu dapat mengerti. Tetapi "Iqra" yang sejati ditransfer dari wahyu tanpa huruf dan tanpa suara. Yang paling jelas apa itu AI-Qur'an yang hakiki adalah sesuai dengan firman Allah dalam AI Qur'an : "Wa innahu flu ummil kitaabi ladainaa la'alayyun hakiim" "Dan sesunggunya AI-Qur'an itu dalam induk Al-Kitab (lauh Mahfuz) di sisi Kami adalah benar-benar tinggi dan amat banyak mengandung hikmah" (QS Az Zukhruf 43 : 4) Jadi Al-Qur'an yang hakiki berada di sisi Tuhan yaitu di Lauhul Mahfuz, di alam yang sangat halus. Yang demikian itulah yang dibawa oleh Jibril (Jabr Ilahi), sehingga sewaktu Nabi menerimanya terasa amat berat sekali, seperti yang disabdakannya dalam hadits berikut : Dari Aisyah ibu kaum muslimin r.a, bahwasannya Harits bin Hisyam r.a bertanya kepada Rasulullah s.a.w, : "Wahai Rasulullah bagaimana datangnya wahyu kepada engkau ? "Rasulullah s.a.w, bersabda : "Kadang-kadang datangnya wahyu kepadaku seperti gemerincingnya lonceng, itulah yang paling berat atasku, kemudian wahyu itu terputus (selesai) dan saya telah hafal tentang apa yang dikatakannya; kadang-kadang malaikat itu menampakkan dirinya kepadaku maka saya hafal tentang apa yang dikatakannya ". Aisyah r.a berkata : "Saya melihat beliau ketika wahyu sedang turun pada suatu hari yang sangat dingin, kemudian wahyu itu terputus (selesai) sedang kening beliau mengalirkan keringat (HR. Bukhari). "Kadang-kadang wahyu itu seperti gemerincing lonceng, itulah yang paling berat atasku...." Inilah isyarat bahwa Al Qur'an itu bukan bahasa dan realita yang sebenarnya hanya Allah dan Rasulnya yang tahu. Kalau kita ambil sebuah perumpamaan bahwa apa yang dibawa oleh Jibril (Jabr Ilahi) saat itu berupa gelombang-gelombang elektronik dan setelah berada di bibir dan lidah Rasulullah Saw, berubah menjadi gelombang-gelombang suara. Bila kita bandingkan dengan suara petir bagaimanapun kerasnya tidak pernah mencucurkan keringat manusia yang mendengarnya, namun ketika Nabi Saw menerima wahyu, beliau sampai mencucurkan keringat padahal dalam cuaca yang cukup dingin. Beliau pada saat itu merasa betapa beratnya menerima wahyu yang berupa Nur atau getaran tinggi itu, sebab Al-Qur'an adalah Nur yang Maha hebat getarannya, melebihi getaran Nuklir, melebihi getaran sang iblis, lebih dari malaikat, dan lebih dari bencana apapun namanya di dunia ini. Al Qur'an adalah sesuatu yang hidup, sesuatu yang gaib di balik yang gaib. "Lau anzanaa haadzal qur-aana'alla jabalil la raaitahuu khaasyi'ammutashaddi'ammin khasyyatillaahi wa tikal amtsaalu nadhribuhaa lin naasi la'allahum yatafakkaruun" "Seandainya kami menurunkan AI-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk pecah belah disebabkan takut kepada Allah, dan perumpamaan¬perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS Al Hasyr 99 : 21) Inilah Al Qur'an yang mencucurkan keringat Nabi ketika menerimanya dari Ruhul Kudus. Inilah Al Qur'an dari Lauhul Mahfuz yang Maha dahsyat dari sisi Tuhan, Raja di langit dan di bumi. Al Qur'an itulah yang dapat menghancurkan gunung itu. Lalu bagaimana dengan Al-Qur'an yang ditulis dalam bahasa Arab yang kita baca sehari-hari ? Apakah ia bisa menghancurkan gunung ? Mari kita uji, bawa Al Qur'an yang berupa kertas itu, lalu letakkan di atas gunung mana yang hancur, gunung atau Al Qur'an yang berupa kertas itu ? Al Qur'an yang tertulis itu hanya menjadi petunjuk untuk mengenal Al Qur'an yang hakiki. Yang perlu kita gali sekarang ini adalah Al Qur'an dengan segala kehebatannya. Bagaimana cara untuk mendapatkannya ? Bertanyalah kepada ahli dzikir jika engkau tidak mengetahui karena merekalah teknokratnya. Itulah maksud Tuhan dengan firman-Nya : "Tsumma auratsnal kitaabal ladziinash thafainaa'ibaadinaa" "Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba¬hamba Kami (QS Faathir 35 : 32) Orang yang berhak menerima warisan Al Qur'an itu adalah mereka yang rohaninya sederajat dengan Nabi Saw, kalau tidak akan hancurlah orang itu, sebab Al-Qur'an itu maha hebat getarannya, melebihi dari getaran tenaga listrik, atom dan nuklir. Inilah Al Qur'an yang hakiki dari Rabbul Alamin. Mari kita perhatikan kalimat di atas, "....kepada orang yang kami pilih", sesuatu pengkhususan bukan umum. Jadi, yang bisa mewarisinya adalah orang-orang pilihan. Siapakah orang pilihan itu ? "Laa yamassuhuu illal muthahharuun" "AI-Qur'an (ini) tidak disentuh kecuali bagi orang-orang yang disucikan" (QS Al Waaqi'ah 56 79). Dalam riwayat yang sangat terkenal, Nabi Saw, sebelum mengadakan perjalanan Isra' dan Mi'raj beliau dioperasi terlebih dahulu oleh Jibril dalam rangka mengemban tugas menerima sholat untuk mendapatkan Al Qur'an. Dalam tempo bertahun-tahun beliau menyepi di Gua Hira untuk mencapai kesucian sebab beliau nantinya akan menerima Al Qur'an yang maha hebat. Kemudian mari kita renungi Nabi Saw adalah kekasih-Nya, baru bisa dan berhak menerima Al Qur'an yang hakiki tersebut terlebih dahulu harus disucikan. Lantas bagaimana dengan diri kita masing-masing apakah berhak menerima Qur'an itu sebelum disucikan ? Ingat di sini bukan kata "menyucikan" tetapi "disucikan" jelas berbeda maknanya. Al Qur'an yang harus kita warisi itu adalah yang dibawa Jibril (Jabr Ilahi) ke dalam hati Nabi Saw. "Nazala bihir ruuhul amiin" "Dia (AI-Qur'an) di bawa turun oleh ar ruh Al Amin". (QS. Asy syu'araa 26 : 193). Bagaimana Jibril (Jabr Ilahi) memberikan AI Qur'an itu ? Apakah dengan kata-kata yang di dengar ditelinga lalu dihafal oleh Nabi atau berupa lembaran-lembaran kertas dari surga atau berupa batu atau kayu yang ditulis, lalu Nabi membaca dan menghafalnya ? 'Alas qalbika "Ke dalam Qalbu-mu (hai Muhammad) ". (QS Asy Syu'araa' 26 : 194 ). Al Qur'an diturunkan ke dalam hati karena qalbu itu memiliki sifat-sifat khusus, karena alasan itulah Al Qur'an diturunkan ke dalam qalbu. Al-Qur'an merupakan misteri, sesuatu misteri dalam misteri, suatu misteri yang terdiri dari dan diliputi oleh misteri. Oleh karena itu perlu bagi Al-Qur'an untuk menjalani proses penurunan guna mencapai tingkat yang terendah dari manusia. Disinilah kunci kelemahan sebagian umat Muslim dewasa ini, mereka telah salah persepsi terhadap Al Qur'an, akhirnya mereka terpendam jauh ke lumpur kelupaan. Al Qur'an hanya dijadikan sebagai sebuah nyanyian (mengaji). Sebagaimana hadis qudsi berikut : "Saya tii'alaa ummatii zamaanun laa yabqaa diinuhum illaa ismuhuu walaa mina) qur aani illaa rasmuhuu "Akan datang pada waktuku, suatu masa di mana agama Islam tinggal namanya dan Al-Qur'an tinggal tulisannya". (HR. Ibnu Majah dan Ath Thirmidzi). Yang bisa berbahasa Arab, Al Qur'an itu dibaca maknanya, sejarahnya, kemudian dipermainkan diotaknya, lalu dikajinya sebagaimana proses pengkajian ilmu-ilmu filsafat. Tetapi Al Qur'an yang hakiki itu tetap tidak bisa dijangkau oleh akal. "Bawasannya AI-Qur'an ini satu ujungnya di tangan Allah dan satu lagi di tangan kamu hai Muhammad" (HR. Abu Syurairah Al Khuja'i). Yang satu ujungnya di tangan Nabi Saw, maksud hadits tersebut bukan lahirnya tetapi masih merupakan hakikat dan sangat tersembunyi di dalam diri Rasulullah Saw. "Al-Qur'an itu memiliki lahir dan batin, akhir dan awal" (Al Hadits). Al-Qur'an dan hadits itu suatu wujud ilmu Allah yang satu, yang tiada berkesudahan atau tanpa batas. Pikiran manusia adalah suatu penampilan jiwa yang sangat terbatas kepada empirik, tentang apa yang dilihat dan dirasakan, itu dihubung-hubungkan kemudian membuat satu hipotesa atau kesimpulan. Sangat perlu disadari bahwa apa yang ada di dalam pikiran itu merupakan pengandaian¬pengandaian. Ingatlah akan satu kesimpulan para filosof, bahwa ilmu filsafat tidak pernah terjadi titik temu antara satu dengan yang lainnya. Itulah sebabnya Imam Al Ghazali menuduh filsafat itu kacau balau. Demikian pula para ahli ilmu jiwa mulai dari Freud yang berbangsa Yahudi, mereka mengatakan menguasai tentang jiwa, padahal ilmu jiwa yang mereka kuasai adalah ilmu jiwa tanpa jiwa. Mereka hanya meraba-raba terhadap gejala-gejala jiwa dari empirik lewat perbuatan obyek yang diamati. Dalam kaitan dengan memahami Al Qur'an dan hadits hendaknya pola pikir atau gaya situasi para filosof dan psikiater itu ditanggalkan jauh jauh. Sebab Al-Qur'an itu adalah wahyu yang dimasukkan oleh Jibril ke dalam qalbu. la datang dari alam metafisik lalu hinggap di alam fisik. AI-Qur'an yang batin tidak bisa ditemukan Iewat pendidikan formal. la hanya bisa ditemukan Iewat wasilah-Nya dan lewat pengosongan diri dan dilanjutkan dengan melakukan metode liqo' Allah. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa Al Qur'an itu Nur yang dipancarkan oleh Jibril (Kekuatan Allah = Jabr Il) ke dalam hati Muhammad, lalu ia menjadi kekuatan yang tidak sebanding dengan bumi dan langit. Memperolehnya harus membersihkan diri. Adapun perenungan, olah pikir, atau olah rasa, semata-mata jalan untuk memperoleh karunia Allah, yang pada akhirnya kita akan mendapatkan Cahaya Al Qur'an atau Nurul Qur'an.

Curug Malela


Cipageran, 14 Oktober 2017 Jam 07:30 perjalanan itu di mulai. Jarak Cipageran - Curug Malela menurut google maps sekitar 50 an kilo meter. Rute yang saya gunakan, Cimareme - Batujajar - Cililin - Sindang Kerta - Gunung Halu - Rongga.. Dari infrastruktur jalan sudah sangat bagus, jalan hotmix dan sebagian ruas di beton, walaupun agak sempit, maklum karena jalan Kabupaten, bukan jalan Propinsi. Secara de jure & de facto Curug Malela terletak di wilayah Kec. Rongga Kab. Bandung Barat. Dengan mengendarai kendaraan roda 2, sempit nya jalan bukan masalah. Kelak kelok jalan sepanjang perjalanan terasa semakin asyik, dengan mengendarai Nmax 155cc, body bongsor & panjang terasa lebih nyaman dan santai. 


Yang perlu di waspadai ada beberapa titik kemacetan, karena aktifitas pasar. Juga minimnya rumah makan.. Pemandangan sepanjang jalan sangat beragam, mulai dari air bendungan saguling, perbukitan, sungai, persawahan dan kebun teh. Sekitar jam 10:30 sampailah di lokasi gerbang Curug. Berupa tempat parkir baik motor maupun mobil. Juga ada beberapa warung. Lokasi curug sendiri, masih berjarak sekitar 2 km biasa di tempuh dengan jalan kaki. Walaupun ada jasa Ojek motor, tapi harus extra hati-hati karena medan yang curam dan jalan setapak. Dengan kondisi medan yang curam tersebut diperlukan kondisi fisik yang prima. Baik ketika turun maupun naik ketika kembali ke tempat parkir. Capek nya fisik karena medan yang berat, akan terbayar dengan indahnya pemandangan Curug yang airnya sangat deras. Sungai yang ber hulu di kaki gunung Patuha Ciwidey. Curug Malela ini, kelihatanya ke depan semakin prospek, beriring dengan pembenahan yang sedang dilakukan terutama terkait dengan sarana & prasarana. BRAVO BANDUNG BARAT. Ceu Lela

Situs Megalitik Gunung Padang



Situs Megalitik Gunung Padang Konon berjuta tahun yang lalu sudah ada manusia sebagai moyang bangsa Nusantara. Benar satu bukti yang ada yakni situs Megalitik Gunung Padang. Peninggalan budaya manusia kala itu. Penelitian carbon yang ada di situs ini, berumur jutaan tahun. Peradaban, yang terbentuk dari budaya maayarakat setempat tidak akan jauh dari umur peninggalan sejarah tersebut. Secara wilayah kini situs Gunung Padang terletak di Desa Karya Mukti, Kec. Cempaka Kab. Cianjur. 90 km dari kota Bandung, sebagai kota Propinsi Jawa Barat.
Rute jalan tercepat dari bandung ke situs Gunung Padang adalah, Cimahi - Padalarang - Ciranjang - Cianjur (tidak usah masuk Kota) lewat jalan Jebrod - Warung Kondang - Gunung Padang.

Topografi Cianjur barat laut memang berbukit-bukit, selain berupa pertanian masyarakat juga ada kawasan perkebunan teh. Situs Gunung Padang sendiri berada di Puncak Bukit. Tidak kebayang dahulu mebuat potongan-potongan batu menjadi persegi panjang & menyusunya menggunakan teknologi apa? untuk jalan kaki dari lembah bukit ke puncak bukit kemiringannya hampir 80 derajat.

Ala kulli hal, bahwa peninggalan sejarah tersebut menjadi bukti bahwa peradaban nenek moyang bangsa Indonesia dahulu sudah maju.
INDONESIA-INSOENDIA-INISOENDA

Jumat, 20 Oktober 2017

Menyoal Entitas Tersembunyi Sang Guru Sejati


Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Tulisan ini sebenarnya adalah sebentuk permenungan pribadi, namun demikian ada korelasinya dengan tulisan sebelumnya, Mengenal Imu Sejati [1] dan Mengenal Ilmu Sejati [2]. Tulisan ini sekaligus merupakan jawaban atas beberapa email yang masuk yang kurang lebihnya menanyakan, Siapa toh sebenarnya Guru Sejati itu?

Bicara tentang Guru Sejati, selain yang ada didalam diri kita sendiri, sebenarnya siapapun bisa menjadi Guru Sejati kita, tentu dengan catatan apabila ada kerendahan hati kita untuk belajar dan mendapatkan pengajaran. Jujur, mendapatkan pertanyaan dari email yang masuk tersebut membuat saya tersadarkan, siapakah guru sejati saya selama ini?

Di antara banyak guru _ siapa saja didalamnya _selama ini, yang sungguh-sungguh sejati adalah diri saya sendiri. Di antara sekian tulisan yang ada semuanya mengalir untuk menasehati dan mengajari diri sendiri. Tidak lebih dari itu, apalagi mengguri sampeyan yang membaca tulisan di akarasa ini. Adapun saya berbagi di akarasa ini, semua tak lebih dari sekedar pengingat semata.

Kadang didalam sunyi diriku dan 'diriku' saling berdialog. Karena sesungguhnya diri kita yang satu ini terdapat dua makhluk. Yakni makhluk yang berupa jasmani dan terlihat mata dan makhluk spiritual yang tak terlihat. Jadi didalam tubuh kita yang palsu ada didiami makhluk spiritual yang abadi, yang merupakan diri kita yang sejati, yang hakiki.

Dialah sumber ilmu kita yang tertinggi, dan itulah yang seharusnya kita cari dan gali untuk menuntun kehidupan kita. Agama adalah sarana atau jalan bagi kita untuk menemukan dan untuk mengenali diri kita. Karena setelah dengan sungguh-sungguh mengetahui dan mengenal diri kita sendiri, maka pada akhirnya adalah kita dapat mengenal Tuhan kita sebagai Sang Pencipta.

Mengapa selama ini, kita seakan melupakan atau menelantarkan diri kita yang sejati yang setiap hari tak berhenti mengajari? Mungkin karena tidak mengetahui atau tidak mau menyediakan waktu saat guru kita ini mau mengajari. Karena dalam hidup ini, kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan lebih terpesona dengan hal-hal yang berbentuk , yang sesungguhnya palsu.

Lebih tertarik kepada guru-guru spiritual yang punya kesaktian tinggi atau minimal sudah terkenal. Keinginan duniawi/jasmani lebih besar daripada keinginan spiritual /rohani. Kita lebih tertarik mendandani tubuh kita dengan rapi dan warna - warni daripada mendandani hati kita.

Kita lebih mendahulukan memberi wewangian kepada tubuh kita daripada memberikan wewangian pada hati kita. Karena apabila kita lebih membuat wangi hati kita, maka yang terpancar adalah perbuatan baik yang dapat memberikan manfaat, dan aromanya bisa menyebar kemana-mana.

Itulah sebabnya kita tertipu dan tidak maju-maju dalam dalam mengenal diri sendiri. Selanjutnya kita lebih mementingkan hidup dengan diri kita yang palsu. Susah payah mencari nafkah demi memberikan makan pada tubuh ini. Akan tetapi makanan bagi rohani terlupakan. Akhirnya kekurangan gizi dan kelaparan. Tapi kita sepertinya santai dan tenang-tenang saja. Seakan tak ada beban.

Saya merasakan sedikit keberuntungan, saat mulai mau mendengarkan dan merenungkan pengajaran dari Guru Sejati didalam diri ini. Yang selama ini, karena begitu lembut dan halus bisikannya seakan tak terdengar. Ditambah lagi akibat kebisingan kehidupan dunia yang penuh ketegangan. Terkadang suara itu datang dan hilang tanpa bisa didengarkan. Syukurlah alunan suara ini tak berhenti untuk hadir memberikan pengajaran dan selalu mau mengingatkan langkah-langkah hidup kita.

Apakah sudah selesai? Seandainya ketika kita mau untuk sedikit merendahkan hati, banyak sekali guru-guru sejati disekitar yang telah, sedang dan siap memberikan pengajaran kepada kita. Sekali lagi kalau kita ada memiliki kerendahan hati untuk menjadikan siapa saja sebagai guru. Orang gila sekalipun!

Bahkan kepada musuh kita sekalipun bisa menjadi Guru Sejati! ini tak boleh kita lupakan tentunya. Dua hal yang membuat kita gagal untuk menjadikan siapa saja sebagai guru dalam hidup kita adalah karena kepintaran sekaligus juga karena kebodohan kita sendiri. Kenapa? Kepintaran menyebabkan kita sudah merasa penuh, dan tak mau belajar lagi pada yang kita anggap bodoh. Kebodohan juga sama, menyebabkan kita enggan untuk belajar karena kita merasa tidak ada gunanya.

Itulah sebabnya kita suka menertawakan orang lain yang sesngguhnya bijak. Padahal ia sedang mengajari kita. Sungguh sayang memang, apabila kita selalu menutupi diri dari pengajaran orang lain, siapapun itu! Nuwun.



Bumi Para Nata, Kaliurang, Ngayogyokarto Hadiningrat, Poso Kaping Rolas
http://www.akarasa.com

Kamis, 19 Oktober 2017

Ringkasan Kitab Misykatul Anwar

RINGKASAN KITAB MISYKATUL ANWAR Oleh : Imam Ghazali

Allah itu cahaya yang sebenarnya, dan yang lain dari Dia, bukanlah cahaya. Setiap cahaya adalah Dia, dan cahaya keseluruhan adalah Dia juga. Cahaya itu adalah sesuatu yang men-dzahirkan atau yang menampakkan yang lain atau lebih tinggi lagi yaitu sesuatu yang dengannya dan untuknya yang lain di-dzahirkan bahkan lebih tinggi dari itu lagi yaitu sesuatu yang dengannya untuk dirinya dan dirinya yang lain ter-dzahirkan. Cahaya yang sebenarnya ialah sesuatu yang dengannya, untuknya, dan diri yang lain itu ter-dzahirkan atau ternampakan. Cahaya ialah yang bercahaya dengan sendirinya. Cahaya itu timbul dalam dirinya, dari dirinya dan untuk dirinya. Cahaya tidak datang dari sumber yang lain. Cahaya yang demikian itu tidak lain tidak bukan hanya Allah saja. Bahwa langit dan bumi ini dipenuhi oleh cahaya, ada dua peringkat cahaya, yaitu pandangan mata dan pandangan akal. Cahaya yang pertama itu ialah apa yang kita lihat di langit seperti matahari, bulan dan bintang, dan apa yang kita lihat di bumi, seperti cahaya yang menerangi seluruh muka bumi, yang menampakkan semua warna dan bentuk, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya, dan jika tiada cahaya ini maka tidaklah kita melihat warna, atau tidak ada warna. Tiap-tiap bentuk dan ukuran besar atau kecil yang terlihat oleh kita adalah diketahui oleh warna, dan tidak mungkin melihatnya tanpa warna. Berkenaan cahaya Akal, maka ‘Alam tinggi’ itu dipenuhi oleh cahaya itu, yaitu seperti kejadian Malaikat, dan ‘Alam rendah’ ini pun dipenuhi oleh cahaya itu yaitu seperti hidup (Nyawa) binatang dan hidup manusia. Susunan atau keadaan Alam rendah ini didzahirkan dengan cahaya Malaikat. Inilah susunan atau keadaan yang disebut oleh Allah; “Dialah yang membentuk kamu dari tanah, dan menampakkan kamu di permukaan bumi, dan Dia menjadikan kamu sebagai Khalifah” Bahwa seluruh alam ini dipenuhi oleh cahaya pandangan dzahir dan cahaya Akal Batin, dan juga cahaya-cahaya tingkat rendah ini dipancarkan atau dikeluarkan dari satu kepada yang lain. seperti cahaya yang keluar dan muncul dari sebuah lampu, sementara lampu itu sendiri ialah cahaya Cahaya Kenabian yang tinggi. Ruh-ruh Kenabian itu dinyalakan dari Ruh-ruh yang tinggi, seperti lampu dinyalakan api tadi, dan ruh-ruh yang tinggi ini dinyalakan dari satu kepada yang lain. Susunan ini adalah bertingkat-tingkat keatas. Semua ini naik, dan naik ke atas sampai ke cahaya diatas segala cahaya. Sumber dan puncak segala cahaya yaitu Allah. Semua cahaya-cahaya lain adalah pinjaman dari Allah dan Dialah cahaya sebenarnya. segalanya datang dari cahayaNya, bahkan Dialah segala-galanya. Dialah yang sebenarnya ada. Tiada cahaya kecuali Dia. Cahaya yang lain hanya cahaya wajah yang menyertaiNya, bukan timbul dari diri mereka sendiri. dengan demikian, wajah dan segala sesuatunya menghadap kepada Dia Firman Allah; “Kemana saja mereka memalingkan muka, di situ ada Wajah Allah”. Tiada Tuhan selain Dia, karena perkataan “TUHAN” itu menunjukkan sesuatu yang kepada Nya semua muka menghadap dalam ibadah dan dalam penyaksian Dialah Tuhan. Saya (Imam Ghazali) mengartikan muka atau wajah manusia adalah hati manusia, karena hati itulah cahaya dan Ruh. Bahkan sebagaimana; “TIADA YANG DISEMBAH MELAINKAN DIA”, maka begitulah juga ; “TIADA YANG MENYEMBAH SELAIN DIA”, karena perkataan “DIA” itu membawa maksud sesuatu yang boleh ditunjuk Tetapi dalam tiap-tiap peristiwa dan keadaan kita boleh menunjuk saja. Setiap kali menunjuk sesuatu, tunjukkan itu pada hakekatnya adalah kepada Dia, meskipun tidak sadar oleh karena ketidak tahuan tentang hakekat dari segala hakekat, Seseorang itu tidak mungkin menunjuk cahaya matahari, tetapi boleh menunjuk matahari. Maka begitu juga halnya dengan hubungan semua makhluk dengan Allah. Perumpamaan hubungan makhluk dengan Allah adalah seperti hubungan cahaya matahari dengan matahari. Oleh karena itu, ucapan “TIADA TUHAN SELAIN ALLAH” adalah ucapan Tauhid kebanyakan orang. Tetapi ucapan tauhid sedikit orang (yang mempunyai Makrifat) ialah “TIDAK ADA DIA MELAINKAN DIA”. Yang pertama untuk orang awam, dan yang kedua itu untuk “orang khusus”. Yang kedua itu lebih benar, lebih tepat dan lebih sesuai. sudah sewajarnya orang yang mengucap demikian itu memasuki Alam Keesaan (Uluhiyah) dan Ketunggalan yang Maha suci dan Mutlak, Kerajaan Yang Maha Esa dan Maha Tunggal, dan inilah peringkat atau kedudukan terkahir kenaikkan manusia. Tidak ada tingkatan yang lebih tinggi dari itu lagi. karena “NAIK” itu melibatkan banyak tingkatan seperti melibatkan dua tingkatan naik “DARI” dan naik “KE”. Apabila jumlahnya tingkatannya telah lenyap, maka berdirilah Keesaan. Perbandingan tidak ada lagi, semua isyarat atau pengucapan dari “SINI” ke “SANA” pun tidak ada lagi. Tidak ada lagi “TINGGI” atau “RENDAH”. Tidak ada “ATAS” atau “BAWAH”. Dalam tingkatan tersebut, naik ke atas lagi bagi Ruh, tidak mungkin, karena tidak ada lebih tinggi daripada yang Paling tinggi. Tidak ada tingkat-tingkat di samping Esa dan Tunggal. Di sini tingkatan telah habis. Tidak ada kenaikkan ‘Mikraj’ lagi untuk jiwa dan ruh. Jika ada pun, itu adalah “Pertukaran disini”. Maka pertukaran itu ialah “Turun ke langit yang paling rendah” cahayanya dari atas turun kebawah, karena yang paling tinggi itu, meskipun tidak ada lebih tinggi lagi dari tingkat itu, tetapi ada yang rendah. Inilah matlumat (tempat paling tinggi) dari segala matlumat. Tempat paling tinggi ialah matlumat terakhir yang dicari oleh ruh, yang diketahui oleh mereka yang tahu dan kenal saja, tetapi dinafikan oleh mereka yang tidak tahu. Ini termasuk dalam bidang Ilmu Tersembunyi yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali orang yang mempunyai Makrifat. Sekiranya mereka menceritakan ilmu ini, maka ia akan dinafikan oleh orang-orang yang ‘jahil’ tentang Allah. Tidak ada salahnya orang-orang yang mempunyai Makrifat ini menyebut; “Turun ke langit yang paling rendah” yaitu turunnya seorang malaikat, meskipun seorang daripada mereka itu telah tuduh membuat keterangan yag kurang wajar. Dia tenggelam dalam Keesaan Allah, dan berkata, bahwa Allah telah “Turun ke langit paling rendah” bahwa penurunan ini adalah penurunannya, diibaratkan kepada cara-cara keadaan Alam dzohir, maka digunakan perumpamaan tersebut. Dia (orang yang tenggelam dalam Keesaan Allah itu) itulah yang dimaksudkan oleh sabda Nabi Muhammad saw.; “Aku menjadi telinganya yang dengannya dia mendengar, matanya yang dengannya dia melihat, lidahnya yang dengannya dia bercakap”. Jika Nabi itu menjadi telinga, mata dan lidah Allah, maka Allah sajalah yang mendengar, melihat, bercakap. Dialah juga yang dimaksudkan dengan dengan firmanNya kepada Nabi Musa; “Aku sakit, tetapi engkau tidak mengunjungi Aku”. Menurut ini, pergerakan badan orang-orang yang betul-betul beriman dengan Kesaan Allah itu adalah dari langit yang paling rendah itu, dan Akalnya dari langit yang lebih tinggi dari langit yang kedua itu. Dari langit Akal itu dia naik ke atas ke tempat di mana makhluk tidak boleh naik lagi, yaitu Kerajaan Ketuhanan Yang Maha Esa, Tujuh lapis dan setelah itu “Dia duduk di atas singgahsana” tauhid dan disitu “Memerintah” seluruh lapisan-lapisan langit itu. Orang telah tamat pengembaraan sedemikian rupa, maka ayat ini boleh dipakai kepada dia; “Allah menjadikan Adam menurut bayanganNya” Apabila ayat ini direnungi dan difikirkan secara mendalam, maka diketahulah bahwa maksudnya adalah serupa dengan kata-kata; “Akulah Yang Haq (Tuhan)”. “Maha suci Aku” atau sabda Nabi saw. bahwa Allah berfirman; “Aku sakit, tetapi engkau tidak mengunjungi Aku” dan “Akulah telinganya, matanya dan lidahnya”. Baiknya sekarang kita hentikan pembahasan ini karena saya (Imam Ghazali) pikir saudara belum pernah mendengar lebih dari apa yang telah saya sampaikan ini.

Rabu, 23 Agustus 2017

Bandung - Semarang

18 Agustus 2017, wanci 14:30 perjalanan itu Saya lakukan. Bandung - Semarang dengan mengendarai motor Bajaj Pulsar 135. Jalur tengah Bandung - Sumedang - Majalengka - Palimanan.., diteruskan jalur pantura.., Palimanan - Cirebon - Pekalongan - Semarang.
Pemberhentian pertama di Cirebon, istirahat sekalian sholat maghrib & Isya. Jam 19:00 perjalanan Saya teruskan lagi menyusuri jalur pantura yang terkenal ramai kendaraan besar, terutama bus & container. Sekitar jam 22 Saya berhenti lagi di  Pemalang, untuk istirahat karena mulai kerasa panas di pantat. Ditemani secangkir kopi & indomi gelas yang Saya beli di toko swalayan pinggir jalan. Saya bisa relax sebentar, sebelum melanjutkan perjalanan. Lebih kurang 30 menit Saya rasa cukup untuk istirahat, & kembali Saya lanjutkan perjalanan. Dengan kecepatan yang standard Saya pacu motor terus menyusuri jalur pantura.
Lagi-lagi masalah panasnya pantat karena kerasnya jok sepeda motor, Saya memutuskan berhenti untuk  yang ke-3 kalinya. Pemberhentian ini di kota Kendal yang secara jarak sudah dekat dengan Kota Semarang.
Istirahat Kali ini selain ditemani secangkir kopi & sebatang rokok juga di isi sepiring mie goreng.
Setelah dirasa vit & fresh kembali perjalanan Saya teruskan, sampai Semarang dan pemberhentian Saya di masjid Pangeran Diponegoro, depan kampus UNDIP. Sambil menunggu waktu subuh, Saya manfaat kan until istirahat.
Usai shubuh, baru Saya teruskan ke tempat kontrak anak Saya di Desa Kramas Tembalang.
Rasa penat & capai segera hilang manakala telah sampai pada tempat yang di tuju.




Selama 2 Hari di Kota Semarang, Saya manfaat kan untuk keliling menikmati denyut Nadi kehidupan masyarakat nya.
Beberapa moment kegiatan yang kebetulan Ada yaitu : Balap motor atau road race, yang lokasi nya di Simpang Lima. Honda Dream Cup 2017 putaran 2. Lumayan seru, rider-rider muda menggeber motor yang berkapasitas 130 s/d 150cc. Ada sedikit ketidaknyamanan karena suara bising mesin yang keluar dari knalpot, sampai memekakkan telinga penonton.
Agenda ke-2, sore & malam harinya ada pertunjukan reog ponorogo & wayang kulit. Karena tidak mau melewatkan moment tersebut, Saya sudah standby ditempat acara dari jam 16:00. Kebetulan dekat dengan tempat kontrakan anak. Durasi reog sekitar Satu jam setengah. Jam 16 istirahat shalat maghrib. Jam 20 di mulai pertunjukan wayang kulit. Dengan Dalang ki Suryanto sabdocarito dari Solo. Tidak terasa karena saking rindunya dengan hiburan wayang kulit, jam 4 subuh masih duduk manis di belakang nayogo. Sampai akhirya pertunjukan selesai.
Sungguh moment yang akan menjadi kenangan untuk di ceritakan ke anak cucu.
Pulang ke Bandung Senin sore, dengan Naik kereta Ceremai, berangkat jam 17:35 dan sampe Stasiun Cimahi pukul 00:59. Beberapa Kota yang di singgahi kereta, Pekalongan, Tegal, Cirebon, Cikampek & Purwakarta.
Nice trips..., See you tomorrow...(gadis TIONGHOA di dekat Jendela)...

Jumat, 28 Juli 2017

Beberapa Makna KUJANG

💚 Beberapa Makna KUJANG 💙
By. Ki Sundara



1. KUJANG = KUnci JANG diri.
,,, diri jasmani (ngajisim), diri ruhani (ngajirim), sampurna diri (ngajinis) ,,, sehingga ma'rifatlah kepada jati dirinya, yang berkelanjutan kepada mengenal jati diri bangsa INDONESIA - INSOEN DIA - INI SOENDA - DIN NOE SIA - ADIN NOE SI (SI; Sunda Islam) - ADIN NOE IS (Islam Sunda), dll. Dengan memahami dan Pancasila.

2. KUJANG = KUkuh kana JANGji. Jangji ka DIRi, ka RAsul sareng ka Allah. Jangji kaNAGAra (ProklamaSI).
,,, Sama dengan sifatnya para nABI & RAsul, sifat SIDIK (benar, jujur, jelas) yang bertolak belakang dengan MUNAFIK (ciri munafik; apabila berbicara dusta, bila dipercaya khianat dan apabila berjanji orang munafik ini ingkar. Orang yang memahami KuJang moal munapik tapi bakal ka ala buahna kapetik hasilna (mun apik).

3. KUJANG = KUkuh kana piweJANG.
,,, piweJANG sepuh (saur sepuh; UUD 1945 dengan PASal & BUtirnya), yang jadi puncak piweJANG nyatanya Al-quR'An NUR karIM, dengan petunjuk dari Al-quR'An inilah maka kehidupan NUR (jannah) bisa didiRIkan lagi sesuai perulangan sejaRAH. Yang di SUMPUT BUNIkeun DINu CAANG (INDONESIA).

4. KUJANG = KUdu ku JAwa hiyaNG.
,,, JAwa hyaNG adalah sebuah pusat perADABan (PERtiwi ADA di BANdung). Tempat pusat manusia pemikir ulung - luhung - agung. Sebagai puseur bUMI. (JAWA; Jauhar AWAl & JAWhar Akhir) ,,, di JAwa hiyaNG inilah awal peradaban dan disini pulalah akhir peradaban diakhiRI.

5. KUJANG = KUdu ku uJANG.
,,, uJANG adalah sibul dari MANusia yang memahami dan mempraktekan ILMU bapa & indung. ILMU bapak (ISLAM) dengan sastra 30 kaLAM, ILMU indung (SUNDA) dengan sastra 18 aLAM ,,, uJANG adalah yang mendasaRI (sastra jendra rahayu ningrat pangruwating diyu jaya diningratu) dengan 15 LAMpah, sehingga 'kaapah' lah toTALItas.

6. KUJANG = KUnu JANGjangan. (BuRung GARUDA)
,,, jangJANG adalah simbul dari sayap yang bisa membuat manuk/burung bisa terBANK menjulang tinggi ke atas juga bisa menukik ke bawah.  Dengan JANGjang inilah maka manusia bisa  menembus langit-langit dari mulai labgit ke 1 sampai ke 7 dengan izin Allah sampai juga di ARASY yang ke 8.
Ini sama dengan hadits "asholatu mi'rojul mu'minin" - "sholat adalah mi'rajnya orang yang ber_i_man. Mi'raj adalah alat canggih, maka namanyapun adalah shALAT (sahALAT), terBANK nya bukan di JIBTI tapi ilmiAH ,,, ka sari ka uji ka bukti ku diri dugi ku nagaRI.

7. KUJANG = KUdu bisa nganJANG ka 603 Dimensi.
,,, dengan kesempurnaan yang dititipkan Allah kepada MANusia maka manuSIA bisa melintasi 603 Dimensi yang bisa meLEBIHi kekuatan Dimensi MalaIKAT. Dimana sebagai KUNciNya disimpan di "Antal maut qoblal maut ,,, inna lillaHI wa inna illaiHI

8. KUJANG = KUnci JAgat nu NGaangliputi. (RahMATAn lil 'alamin).
,,, pada tingkat ini bukan hanya memahami DIRi + BANKsa + nagaRA namun sudah sampai pada tingkat keSEMESTAan - SEMEStiNYA.

,,,,, 5 lagi makna KuJang nanti akan di bahas pada waktu dan tempat yang tepat.

Warna KuJang dan Keris yang berwarna meRAH - putIH.
Sejatinya Merah itu melambangkan Api dengan simbol Kujang yang berbentuk lidah api. Putih itu melambangkan Air dengan simbol Keris yang berbentuk gelombang air.

Konsep NagaRa (Naga = air, Ra = matahari / api) yang diberi nama NusantaRa (Nusa = pulau, Ra = matahari / api) mengandung pengertian secara luasnya adalah kehidupan yang ditopang oleh Air sebagai landasan / sumber hidupnya dan dinaungi oleh Cahaya (matahari) sebagai payung kesejahteraannya sekaligus sebagai perwujudan RAsa
syukur atas berkah dan perlindungan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.
Dengan kata lain Nusantara = Negeri yang subur.
Dengan kata lain Nusantara = Negeri yang kaya ( Tanah Emas ).
Dengan kata lain Nusantara = Negeri yang diberkaHI.

SELaMAT menikMATI hIDup dan keHIdupan dalam keBAHAGIAan NuN ABADi.


Rabu, 19 Juli 2017

"Transformasi MANUsia SUNDA di NUSANTARA"

"Transformasi MANUsia SUNDA di NUSANTARA"
By : Kang SundaRa

Bismillahirrahmaanirrahiim,

* Aswrwb - SampuRAsun *

meNURut Sang BhaTaRA bRAhMA

"Apa diantara kita ada yang TaHu mengapa kita semua diberi nama  'MANUsia'? Ada banyak referensi yang memberikan definisi dan makna tentang makhluk yang bernama 'MANUSIA'.

Ada yang mengatakan bahwa kata "MANUSIA" berasal dari kata "MANUSA" yang tersusun dari akar kata "MANU" dan "SA".

MANU = wise (kebijaksanaan), thought (pikiran), prayer (doa).
SA = possession (kepemilikan/memiliki).
MANU-SA = (makhluk yang) memiliki Kebijaksanaan/Pikiran atau (makhluk yang) senantiasa Berdoa.

Ada pula yang mengatakan bahwa kata "MANUSIA" berasal dari aksara hanacaraka, yakni tersusun dari aksara "MA", "NU" dan "SA".

MA = Makhluk
NU = Cahaya
SA = Tunggal/Manunggal
MA-NU-SA = Makhluk yang memiliki cahaya yang manunggal dalam DIRinya.

ada pula yang mengatakan bahwa kata "MANUSIA" berasal dari kata "MA" dan "NASIYA".
MA = Makhluk
NASIYA = Lupa
MA-NASIYA = Makhluk yang Pelupa.

Di dalam Al-Qur'an sendiri ditemukan ada sebanyak "empat" kata yang maknanya kurang lebih merujuk kepada "MANUSIA" yakni: "BASYAR", "NAAS", "INSI" dan "INSAN" dimana masing-masing kata tersebut memiliki arti dan makna tersendiri tentang siapa sebenarnya makhluk yang bernama "MANUSIA".

Lantas bagaimana dengan kearifan lokal NUHSANTARA memaknai kata "MANUSIA"?

Berikut penjelasan dari Sang BHATARA; Dalam penjelasannya, beliau menjelaskan bahwa kata "MANUSIA" hanyalah merupakan akar kata dari sebuah induk kata "MANA/MANU" yang tersusun dari kata "MA" dan "ANA".

MA berarti "Makhluk".
ANA berarti "AKU" (Tuhan)
MA-ANA (dibaca: MANA/MANU) = Makhluk yang diciptakan "AKU" (Tuhan) untuk mengenal "AKU" (Tuhan).

Kata "ANA" yang berarti "AKU" yang merujuk kepada "TUHAN" ditemukan dalam Al-Qur'an sebagai berikut:

"Sesungguhnya ANA (AKU) adalah ANA (AKU), ALLAH, tidak ada Tuhan selain ANA (AKU), maka mengabdilah kepada-Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku." (QS. Thaha 20:14)

Kata "ANA/ANI" yang berarti "AKU" yang merujuk kepada "TUHAN" juga ditemukan dalam Al-Kitab sebagai berikut:

"ANI YHVH HASHEMI"
"AKU YAHWEH. Itulah Nama-Ku."
(Yesaya 42:8)

Dan dalam hadits Nabi Muhammad SAW juga disebutkan,
"AKU laksana perbendaharaan yang tersembunyi. AKU ingin agar dikenal maka AKU ciptakan makhluk. Lalu AKU memperkenalkan diri kepada mereka sehingga mereka mengenal AKU." (HR. Bukhari, At-Tirmidzi)

Kata "MA-ANA" (dibaca: MANA/MANU) ini memiliki nilai numerik sebagai berikut:
MA = memiliki nilai numerik 40;
A = memiliki nilai numerik 1;
NA = memiliki nilai numerik 50;
MA-ANA (dibaca: MANA/MANU) = 40+1+50 = 91.

Nah dalam kearifan lokal NUHSANTARA, kata "MA-ANA" (dibaca: MANA/MANU) ini diterjemahkan dengan kata "JALMA" (dibaca: JELMAH/JELMA) yang   tersusun dari aksara: JA, YA, LA, MA, HA.

JA = memiliki nilai numerik 3;
YA = memiliki nilai numerik 10;
LA = memiliki nilai numerik 30;
MA = memiliki nilai numerik 40;
HA = memiliki nilai numerik 8;
JA-YA-LA-MA-HA (dibaca: JELMAH/JELMA) = 3+10+30+40+8 = 91.

Jadi kata "JALMA" (dibaca: JELMAH/JELMA) itu maknanya analog dengan makna kata "MA-ANA" (dibaca: MANA/MANU) yaitu makhluk yang diciptakan oleh "AKU" (TUHAN) untuk mengenal "AKU" (TUHAN).

Nah selanjutnya makhluk yang dikenal sebagai "JALMA" (dibaca: JELMAH/JELMA) ini dalam implementasi kehidupan nyatanya harus melalui enam fase atau enam tahapan transformasi secara bertingkat dari tahap yang paling rendah hingga kepada tahap yang paling tinggi dalam rangka proses dirinya untuk mengenal "AKU" (TUHAN).

Keenam fase atau keenam tahapan transformasi yang harus dilalui oleh "JALMA" (dibaca: JELMAH/ JELMA) adalah sebagai berikut:
1. JALMA THUMUWUH;
2. JALMA SATHO;
3. JALMA WONG;
4. JALMA SIWONG;
5. JALMA WUSTHO SIWONG;
6. JALMA WASTU SIWONG;

Nah, sekarang mari kita bahas keenam fase/tingkatan transformasi ini satu-persatu.

FASE KESATU: JALMA THUMUWUH

Dalam aspek kajian numerik-linguistik, kata "THUMUWUH" tersusun dari aksara: THA, MA, WA, HA' dan YA.

THA = memiliki nilai numerik "9";
MA = memiliki nilai numerik "40";
WA = memiliki nilai numerik "6";
HA' = memiliki nilai numerik "5";
YA = memiliki nilai numerik "10";
THA-MA-WA-HA'-YA (dibaca: THUMUWUH) = 9+40+6+5+10 = 70.

Kata "THUMUWUH" inilah yang diterjemahkan dengan kata "SAYA" yang sama-sama memiliki nilai numerik "70".

SAYA = SA-YA
SA = memiliki nilai numerik "60";
YA = memiliki nilai numerik "10";
SA-YA (dibaca: SAYA) = 60+10 = 70.

Nah kata "SAYA" ini bermakna "personal" yang merujuk kepada diri sendiri.

Jika kata "AKU" itu merujuk kepada "TUHAN", maka kata "SAYA" lebih merujuk kepada "HAMBA".

Sehingga fase atau tahap pertama dari Proses Transformasi Manusia yakni "JALMA THUMUWUH" dimaknai sebagai:
"MA-ANA-SAYA" (dibaca: MANUSIA).

MA = Makhluk.
ANA = AKU (TUHAN).
SAYA = AKU (HAMBA).
MA-ANA-SAYA (dibaca: MANUSIA) = Makhluk yang diciptakan oleh AKU (yakni 'ANA' sebagai TUHAN) untuk mengenal AKU (yakni 'SAYA' sebagai HAMBA).

Inilah makna yang sebenarnya dari kata "MANUSIA" yang sampai saat ini pun masih seringkali salah penerjemahan, karena masih kerap diterjemahkan sebagai "MA-NASIYA" bukan sebagai "MA-ANA-SAYA".

Karena kata "MA-NASIYA" maknanya adalah:
MA = Makhluk.
NASIYA = Lupa.
MA-NASIYA (dibaca: MANUSIA) berarti "Makhluk yang Lupa" yakni lupa akan asal penciptaan dirinya.

Dalam Al-Quran disebutkan,
"Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia (INSAN) LUPA KEPADA (ASAL) PENCIPTAAN DIRINYA; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?"
(QS. Yasin 36:78) [Ya_asin].

Sehingga kata "MANUSIA" yang seharusnya tersusun dari akar kata "MA-ANA-SAYA" yang memiliki makna "makhluk yang diciptakan oleh AKU (yakni 'ANA' sebagai TUHAN) untuk mengenal AKU (yakni 'SAYA' sebagai HAMBA)" menjadi mengalami pergeseran makna ketika kata "MANUSIA" dianggap sebagai kata yang tersusun dari akar kata "MA-NASIYA" yang memiliki makna "makhluk yang lupa akan asal penciptaan dirinya".

Kesimpulan fase/tahap pertama:
Pada fase atau tahap transformasi yang pertama ini, MANUSIA dikenal sebagai "JALMA THUMUWUH" yang memiliki nilai numerik 161 (JALMA = 91; THUMUWUH = 70, dan 91+70 = 161) yang memiliki makna ganda yakni makna pertama sebagai "MA-NASIYA" (dibaca: MANUSIA) yang bermakna sebagai "makhluk yang lupa akan penciptaan dirinya" dan makna kedua sebagai "MA-ANA-SAYA" (juga dibaca: MANUSIA) yang bermakna sebagai "makhluk yang diciptakan oleh 'AKU' (yakni 'ANA' sebagai TUHAN) untuk mengenal 'AKU' (yakni 'SAYA' sebagai HAMBA".

Resume fase/tahap pertama:
Gelar: JALMA THUMUWUH atau MA-NASIYA.
Dibaca: MANUSIA.
Makna: Makhluk yang lupa akan asal muasal penciptaan dirinya.
Nilai Numerik:
91+70 = 161.

FASE KEDUA: JALMA SATHO

Dalam aspek kajian numerik-linguistik, kata "SATHO" tersusun dari aksara: SA dan THA.

SA = memiliki nilai numerik "60"
THA = memiliki nilai numerik "9"
SA-THA (dibaca: SATHO/SATO) = 60+9 = 69.

Nah kata "SA-THA" (dibaca: SATHO/SATO) ini memiliki nilai numerik yang sama dengan kata "THIIN" yang tersusun dari aksara THA, YA dan NA yang berarti "TANAH".

THA = memiliki nilai numerik "9"
YA = memiliki nilai numerik "10"
NA = memiliki nilai numerik "50"
THA-YA-NA (dibaca: THIIN) = 9+10+50 = 69.

Jika pada fase kesatu transformasi, manusia masih menyandang gelar sebagai "JALMA THUMUWUH" yang diterjemahkan sebagai "MA-NASIYA" (dibaca: MANUSIA) yang memiliki makna sebagai makhluk yang lupa akan asal penciptaan dirinya, maka pada fase kedua transformasi ini manusia sudah mulai menyandang gelar sebagai "JALMA SATHO", yakni manusia yang sudah mulai mengenali asal penciptaan dirinya yang diciptakan Tuhan dari unsur Tanah dan Air, bahkan ia juga sudah memahami bahwa ia bukanlah makhluk yang diciptakan Tuhan dengan bahan penciptaan yang asal jadi, melainkan dengan bahan penciptaan yang merupakan saripati berbagai unsur-unsur alam semesta, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an sebagai berikut:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan INSAN dari SARIPATI THIIN (Tanah)." (QS. Al-Mu'minun 23:12)

"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan INSAN dari THIIN (Tanah). Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari SARIPATI AIR yang hina."
(QS. As-Sajadah 32:7-8)

Nah berbicara mengenai INTI SARIPATI bahan penciptaan unsur-unsur alam semesta, dalam AJAR PIKUKUH NUHSANTARA dijelaskan sebagai berikut,

Manusia merupakan penjelmaan dari EMPAT INTI SARIPATI Unsur-Unsur Pembentuk alam semesta yaitu:
1. ANGIN/BAYU (Inti Saripati Unsur ANGIN disebut sebagai Anasir "MA" dan dalam agama Hindu disebut sebagai Anasir "MANG").
2. API/GENI (Inti Saripati Unsur API disebut sebagai Anasir "RA" dan dalam agama Hindu disebut sebagai Anasir "ANG").
3. TANAH/LEMAH (Inti Saripati Unsur TANAH disebut sebagai Anasir "DA" dan dalam agama Hindu disebut sebagai Anasir "AH").
4. AIR/APAH (Inti Saripati Unsur AIR disebut sebagai Anasir "HU" dan dalam agama Hindu disebut sebagai Anasir "UNG").

Jika inti saripati unsur AIR/APAH (HU), TANAH/LEMAH (DA) dan API/GENI (RA) bersatu, maka akan menjadi HU-DA-RA (dibaca: UDARA/HAWA). Sedangkan jika inti saripati unsur AIR/APAH (HU), TANAH/LEMAH (DA) dan ANGIN/BAYU (MA) bersatu, maka akan menjadi HU-DA-MA (dibaca: HADAMA/ADAMA/LUMPUR).

Makanya dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa manusia yang disebut dalam kedua ayat tersebut sebagai "INSAN" dikatakan diciptakan Tuhan dari Inti Saripati TANAH (disebut dalam QS. Al-Mu'min 23:12)  dan juga Inti Saripati AIR (disebut dalam QS. As-Sajadah 32:7-8).

Pertanyaannya adalah mengapa Manusia (INSAN) disebutkan hanya tercipta dari kedua inti saripati tersebut (yakni TANAH dan AIR)?

Ya karena memang Manusia yang bernama INSAN baik laki-laki (HUDAMA/HADAMA/ADAM) ataupun perempuan (HUDARA/HAWA) memang tercipta dari kedua inti saripati tersebut (TANAH atau DA dan AIR atau HU). Yang membedakan bahan penciptaan keduanya adalah bahwa dalam penciptaan laki-laki (HUDAMA/ADAM), Tuhan menambahkan inti saripati ANGIN atau MA. Sedangkan dalam penciptaan perempuan (HUDARA/HAWA), Tuhan menambahkan inti saripati API atau RA.

Inilah alasannya mengapa dalam fitrah penciptaannya, laki-laki (HUDAMA/ADAM) tercipta untuk menjadi pemimpin bagi perempuan (HUDARA/HAWA), karena hanya inti saripati unsur ANGIN atau MA yang ada dalam diri laki-laki (HUDAMA/ADAM) lah yang bisa mengendalikan inti satipati unsur API atau RA yang ada dalam diri perempuan (HUDARA/HAWA). Dalam implementasi dunia nyata, ANGIN bisa membuat API menjadi kecil atau padam dan sekaligus juga bisa membuat API menjadi besar. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa ANGIN yang mengendalikan API, bukan API yang mengendalikan ANGIN.

Kesimpulan fase/tahap kedua:
Pada fase atau tahap transformasi yang kedua ini, MANUSIA dikenal sebagai "JALMA SATHO" yang memiliki nilai numerik 160 (JALMA = 91; SATHO = 69, dan 91+69 = 160) yang memiliki makna sebagai "MA-NUSAH" (dibaca: MANUSAH) yang bermakna sebagai manusia yang sudah mulai mengenali asal penciptaan dirinya yang diciptakan Tuhan dari saripati tanah (DA) dan saripati air (HU/HA).

Resume fase/tahap kedua:
Gelar: JALMA SATHO atau MA-NUSAH.
Dibaca: MANUSAH.
Makna: Makhluk yang sudah mengingat perihal asal muasal penciptaan dirinya.
Nilai Numerik:
91+69 = 160.

FASE KETIGA: JALMA WONG

Dalam aspek kajian numerik-linguistik, kata "WONG" tersusun dari aksara: WA dan NGA.

WA = memiliki nilai numerik "6"
NGA = memiliki nilai numerik "70"
WA-NGA (dibaca: WONG) = 6+70 = 76.

Nah kata "WA-NGA" (dibaca: WONG) ini memiliki nilai nuMERIK yang sama dengan kata "NGABDI/'ABDI" yang tersusun dari aksara NGA/AIN, BA dan DA yang berarti "HAMBA".

NGA/AIN = memiliki nilai numerik "70"
BA = memiliki nilai numerik "2"
DA = memiliki nilai numerik "4"
NGA-BA-DA (dibaca: NGABDI/'ABDI) = 70+2+4 = 76.

Jika pada fase kedua transformasi, manusia menyandang gelar sebagai "JALMA SATHO" yang diterjemahkan sebagai "MA-NUSAH" (dibaca: MANUSAH) yang memiliki makna sebagai makhluk yang sudah mengingat akan asal penciptaan dirinya, maka pada fase ketiga transformasi ini manusia sudah menyandang gelar sebagai "JALMA WONG", yakni manusia yang sudah mulai menyadari tujuan penciptaan dirinya dan perlahan mulai menata dirinya guna mencapai tujuan penciptaan dirinya sebagaimana yang diinginkan oleh Sang AKU (TUHAN).

Pada fase ketiga ini, Manusia "JALMA WONG" telah memahami dengan benar apa tujuan penciptaan dirinya yang tidak lain hanyalah sebagai "WONG" atau "NGABDI / 'ABDI" yakni sebagai "HAMBA" dari "AKU" (yakni "ANA" sebagai "TUHAN") sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an sebagai berikut:

"Dan tidak KUciptakan JIN dan MANUSIA melainkan supaya menjadi 'ABDI-Ku". (QS. Adz-Dzariyat 51:56)

Dan para leluhur NUHSANTARA yang hidup berdampingan dalam keberagaman etnis rupa-rupanya telah mengenal istilah "WONG" yang bermakna sebagai "HAMBA" ini dalam berbagai bahasa etnis.

Berikut turunan induk kata "WONG" dalam berbagai bahasa etnis,

Induk kata:
WA-NGA (dibaca: WONG) = 6+70 = 76.
Bahasa Arab: NGA-BA-DA (dibaca: NGABDI / 'ABDI) = 70+2+4 = 76.
Bahasa Sunda: 'A-BA-DA (dibaca: ABDI) = 70+2+4 = 76.
Bahasa Jawa: KA-WU-LA-KA (dibaca: KAWULA / KAWULO) = 20+6+30+20 = 76.
Bahasa Melayu:
SA-HA-A-YA (dibaca: SAHAYA) = 60+5+1+10 = 76.
Bahasa Minang:
HA-MA-BA-WA-KA (dibaca: HAMBOK / AMBO) = 8+40+2+6+20 = 76.

Kesimpulan fase/tahap ketiga:
Pada fase atau tahap transformasi yang ketiga ini, MANUSIA dikenal sebagai "JALMA WONG" yang memiliki nilai numerik 167 (JALMA = 91; WONG = 76, dan 91+76 = 167) yang memiliki makna sebagai "MANU-WONG" (dibaca: MANU WONG) yakni sebagai manusia yang sudah menyadari tujuan penciptaan dirinya yang diciptakan untuk menjadi 'ABDI/NGABDI dari Sang AKU (TUHAN).

Resume fase/tahap ketiga:
Gelar: JALMA WONG atau MANU-WONG.
Dibaca: MANU WONG.
(Dalam sejarah kita mengenal adanya istilah perkumpulan WONG Jawa, WONG Sunda, WONG Bugis, WONG Aceh, WONG Ambon, WONG Palembang, WONG Batak, dll)
Makna: Makhluk yang sudah menyadari perihal tujuan penciptaan dirinya.
Nilai Numerik:
91+76 = 167.

FASE KEEMPAT: JALMA SIWONG

Dalam aspek kajian numerik-linguistik, kata "SIWONG" tersusun dari aksara: SIWA (SI-WA) dan WONG (WA-NGA).

SI = memiliki nilai numerik "60"
WA = memiliki nilai numerik "6"
SI-WA (dibaca: SiWa) = 60+6 = 66.
WA = memiliki nilai numerik "6"
NGA = memiliki nilai numerik "70"
WA-NGA (dibaca: WONG) = 6+70 = 76.
SIWA-WONG (dibaca: SIWONG) = 66+76 = 142.

Nah kata "SIWA-WONG" (dibaca: SIWONG) ini memiliki nilai numerik 76 dan 66, sama dengan kata "INSAN" (dibaca: INSUN) yang memiliki kode nomor surat ke-76 yakni surat AL-INSAN dan kata "SABDA" (nilai numerik 66) yang jika digabungkan akan terbaca menjadi "INSUN SABDA" yang diakronimkan oleh para leluhur NUHSANTARA dengan kata "SUNDA" sehingga dari sinilah akhirnya kita paham bahwa kata "SUNDA" justru tidak berkaitan sama sekali dengan nama tempat, nama suku ataupun nama ras tertentu, tetapi tepatnya merupakan sebuah akronim dari kata "INSUN SABDA" yang merupakan gelar yang diberikan kepada manusia yang kehendaknya telah menyatu dan manunggal dengan Kehendak Tuhan, sehingga apa yang di-SABDA-kan atau diucapkannya senantiasa terwujud menjadi kenyataan.

Pada fase keempat ini, Manusia "JALMA SIWONG" telah memahami bahwa sebagai "NGABDI / 'ABDI" dirinya harus senantiasa ber-DOA kepada "Sang AKU" (TUHAN) dan dirinya pun mengenal dengan baik siapa itu "Sang AKU" (TUHAN) yang menjadi tempat tujuannya ber-DOA bahkan dirinya pun memahami bagaimana etika ber-DOA yang baik dan benar.

Kepada siapa tujuan dirinya ber-DOA dipahaminya dengan baik dan benar sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an berikut ini:

"Katakanlah: "Ber-DOA-lah (kepada) ALLAH atau ber-DOA-lah (kepada) AR-RAHMAN. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa'ul husna dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu". (QS. Al-Isra 17:110)

Manusia "SIWA-WONG" (dibaca: SIWONG) memahami betul bahwa nama dari "Sang AKU" (TUHAN) yang dikenal sebagai "ALLAH" disebut sebanyak 2698 kali di dalam Al-Qur'an.

Dan angka "2698" ini ternyata merupakan bilangan "Kripto 19" yakni sebuah bilangan yang habis dibagi dengan angka 19, dimana: 2698 = 142 x 19.

Sehingga dengan demikian nama dari "Sang AKU" (TUHAN) yang dikenal dengan nama "ALLAH" ternyata memberikan kode angka "142" dimana kode angka tersebut juga merupakan nilai NUmerik dari kata "SIWA-WONG" (dibaca: SIWONG) yang diterjemahkan sebagai Manusia "INSUN SABDA".

Selain itu, Manusia "SIWA-WONG" (dibaca: SIWONG) juga memahami bagaimana caranya ber-DOA dengan baik dan benar, yakni dengan cara membuka kedua telapak tangan, menyatukannya dan kemudian menengadahkannya ke atas sambil mulutnya melafalkan DOA.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW disebutkan,
"Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia Malu terhadap 'ABDI-Nya jika 'ABDI-Nya tersebut menengadahkan kedua telapak tangannya kepada-Nya, lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan HAMPA." (HR. Abu Daud No.1488, dan At-Tirmidzi No.3556).

Pertanyaannya adalah mengapa dalam ber-DOA, kita harus menengadahkan kedua telapak tangan kita kepada-Nya?

Karena ketika kita membuka kedua telapak tangan kita, menyatukannya, dan kemudian menengadahkannya maka pada kedua telapak tangan kita akan terbentuk simbol Bulan Sabit yang dalam Al-Qur'an berkode sandi nomor "54" dan simbol angka "88" yang ditulis dengan aksara Arab, dimana: 54+88 = 142

Kesimpulan fase/tahap keempat:
Pada fase atau tahap transformasi yang ketiga ini, MANUSIA dikenal sebagai "JALMA SIWONG" yang memiliki nilai numerik 167 (JALMA = 91; SIWA = 66, dan WANGA = 91+66+76 = 233 ) yang memiliki makna sebagai "MANU-SIWA-WONG" (dibaca: MANU SIWA WONG) yang bermakna sebagai manusia yang kehendak "Sang AKU" dalam dirinya sudah menyatu atau manunggal dengan Kehendak "Sang AKU" (TUHAN) sehingga ia pun dijuluki sebagai "MANU INSUN SABDA" yakni manusia yang memiliki Kehendak "Sang AKU" (TUHAN) di dalam dirinya.

Resume fase/tahap keempat:
Gelar: JALMA SIWONG atau MANU-INSUN-SABDA.
Dibaca: MANU INSUN SABDA.
Makna: Makhluk yang kehendak dirinya sudah manunggal dengan Kehendak Sang AKU (TUHAN).
Nilai Numerik:
91+142 = 233.

FASE KELIMA: JALMA WUSTHO SIWONG

Dalam aspek kajian numerik-linguistik, kata "WUSTHO SIWONG" tersusun dari aksara: WUSTHO (WA-SA-THA-A), SIWA (SI-WA) dan WONG (WA-NGA).

WA = memiliki nilai numerik "6"
SA = memiliki nilai numerik "60"
THA = memiliki nilai numerik "9"
A = memiliki nilai numerik "1"
WA-SA-THA-A (dibaca: WUSTHO) = 6+60+9+1 = 76.
SI = memiliki nilai numerik "60"
WA = memiliki nilai numerik "6"
SI-WA (dibaca: SIWA) = 60+6 = 66.
WA = memiliki nilai numerik "6"
NGA = memiliki nilai numerik "70"
WA-NGA (dibaca: WONG) = 6+70 = 76.
WUSTHO-SIWA-WONG (dibaca: WUSTHO SIWONG) = 76+66+76 = 218.

Nah kata "WUSTHO-SIWA-WONG" (dibaca: WUSTO SIWONG) ini memiliki nilai numerik 218 sama dengan kata "RA-HAYU" (dibaca: RAHAYU) yang bermakna:

RA = Sumber Cahaya (Tuhan);
HAYU = Daya Hidup;
RA-HAYU (dibaca: RAHAYU) bermakna Tuhan Sang Pemberi Daya Hidup.

Nah, manusia yang sudah mencapai fase/tahap transformasi kelima ini, dengan gelar "JALMA WUSTHO SIWONG" ia sudah menyadari dengan kesadaran yang tinggi tentang adanya Daya Hidup dalam setiap makhluk yang diciptakan oleh "Sang AKU" (TUHAN) sehingga dengan kesadarannya itu ia senantiasa mengucapkan kata "SALAM" sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan Sang Pemberi Daya Hidup yang bermanifestasi dalam bentuk makhluk ciptaan apapun di alam semesta ini.

Ucapan "SALAM" yang senantiasa dilakukan oleh Manusia "JALMA WUSTHO SIWONG" ini diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai berikut:

"Dan salam penghormatan mereka adalah 'SALAM'." (QS. Yunus 10:10)

Nah kata "SALAM" yang senantiasa diucapkannya ini jika dikaji dari aspek numerik-linguistik maka ia memiliki nilai numerik sebagai berikut:

SA = memiliki nilai numerik "60"
LA = memiliki nilai numerik "30"
MA = memiliki nilai numerik "40"
SA-LA-MA (dibaca: SALAM) = 60+30+40 = 130.

Sementara mulutnya mengucapkan kata "SALAM", ia pun tidak lupa menyatukan dan menutup kedua telapak tangannya sehingga akan terbentuk kode angka "88" yang tertulis dalam aksara Arab dari kedua telapak tangannya. Sehingga kombinasi antara ucapan "SALAM" dan gerakan dari kedua telapak tangannya ketika mengucapkan kata "SALAM" tersebut memberikan makna sebagai berikut:

Ucapan "SALAM" --> nilai numerik "130" Kode yang terbentuk dari gerakan kedua telapak tangan ketika mengucapkan "SALAM" --> kode numerik "88".
Kombinasi ucapan dan gerakan tangan = 130+88 = 218.

Sehingga Manusia yang sudah mencapai fase/tahapan kelima ini akan senantiasa menyebarkan SALAM sebagai penghormatan kepada Tuhan Sang Pemberi Daya Hidup yang menyatu dalam manunggal dalam setiap makhluk ciptaan Tuhan yang ada di alam semesta ini.

Resume fase/tahap kelima:
Gelar: JALMA WUSTHO SIWONG atau MANU-RA-HAYU.
Dibaca: MANU RAHAYU.
Makna: Makhluk yang senantiasa menyebarkan SALAM sebagai bentuk penghormatan kepada Sang AKU (TUHAN) Sang Pemberi Daya Hidup yang manunggal di dalam setiap makhluk ciptaan yang ada di alam semesta.
Nilai Numerik:
91+76+142 = 309.

FASE KEENAM: JALMA WASTU SIWONG

Dalam aspek kajian numerik-linguistik, kata "WASTU SIWONG" tersusun dari aksara: WASTU (WA-SA-TU), SIWA (SI-WA) dan WONG (WA-NGA).

WA = memiliki nilai numerik "6"
SA = memiliki nilai numerik "60"
TU = memiliki nilai numerik "400
WA-SA-TU (dibaca: WASTU) = 6+60+400 = 466.
SI = memiliki nilai numerik "60"
WA = memiliki nilai numerik "6"
SI-WA (dibaca: SIWA) = 60+6 = 66.
WA = memiliki nilai numerik "6"
NGA = memiliki nilai numerik "70"
WA-NGA (dibaca: WONG) = 6+70 = 76.
WASATU-SIWA-WONG (dibaca: WASTU SIWONG) = 466+66+76 = 608.

Nah kata "WASTU-SIWA-WONG" (dibaca: WASTU SIWONG) ini memiliki nilai numerik "608" sama dengan kata "BA-HA'-TA-RA-A" (dibaca: BHATARA/BATARA) yang bermakna "Manusia Dewa" atau "Manusia Agung yang dihormati".

Nah pada fase atau tahap tertinggi dalam transformasi ini, manusia yang diberi gelar "WASTU SIWONG" merupakan wujud nyata dari manusia yang sudah sangat mengenal JATi DIRi "Sang AKU" (TUHAN) dengan cukup baik. Ia tidak hanya mengenal-Nya sebagai "ALLAH" tapi ia juga mengenal-Nya sebagai "AR-RAHMAN" bahkan ia pun mengenal-Nya dengan 99 nama-nama milik-Nya yang terbaik.

Manusia "WASTU SIWONG" adalah manusia yang doanya pun menjadi senjata yang ampuh bagi dirinya, apa yang diucapkannya dalam DOA senantiasa menjadi terwujud nyata dalam kehidupan nyata, karena dirinya benar-benar sudah mengenal "Sang AKU" (TUHAN) dalam doa-doanya sehingga segala sesuatu yang mustahil sekalipun menjadi mungkin baginya meskipun hanya lewat DOA, dan apa yang dilakukannya sejalan dengan ayat berikut:

"Katakanlah: "Ber-DOA-lah (kepada) ALLAH atau ber-DOA-lah (kepada) AR-RAHMAN. Dengan NAMA yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al ASMAA'UL HUSNA dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu". (QS. Al-Isra 17:110)

Manusia "WASTU SIWONG" sangat mengenal "Sang AKU" (TUHAN) dalam banyak nama dan ia merangkum keseluruh nama tersebut dalam tiga nama agung berikut,

BISMI = Nama yang mana saja (dikenal sebagai "ASMAUL HUSNA")
BISMI = BA-SA-MA = 2+60+40 = 102.

ALLAH = Nama Sang AKU (yakni "ANA")
ALLAH = A-LA-LA-HA' = 1+30+30+5 = 66.

RAHMAN = Nama Sang Pencipta/Pengatur
RAHMAN = RA-HA-MA-NU = 200+8+40+50 = 298.

BISMI-ALLAH-RAHMAN = 102+66+298 = 466.

Cukup Dengan membuka kedua telapak tangannya, menyatukannya dan menengadahkannya kepada "Sang AKU" untuk menyatukan kode angka "54" dan "88" yang ada pada kedua telapak tangannya dan kemudian ber-DOA dengan menyebut kata "BISMI-ALLAH-RAHMAN" ia mampu mendatangkan berbagai keajaiban, karomah dan mukjizat yang tidak dapat dilakukan oleh manusia yang berada pada fase/tahapan transformasi di bawahnya sehingga wajarlah jika manusia awam menyebutnya sebagai "DEWA" yang bergelar "BA-HA'-TA-RA" (dibaca: BHATARA/BATARA).

Resume fase/tahap keenam:
Gelar: JALMA WASTU SIWONG atau MANU-BA-HA'-TA-RA.
Dibaca: MANU BHATARA.
Makna: Makhluk yang sudah sangat mengenal Sang AKU (TUHAN) dengan sangat baik dalam berbagai nama sehingga ia dapat melakukan keajaiban dan mukjizat-mukjizat yang tidak biasa dan tidak bisa dilakukan oleh siapapun.
Nilai Numerik:
91+466+142 = 699.

Demikianlah Transformasi Manusia Sunda Dalam Kearifan Lokal Nuhsantara.

Semoga menjadi pancerRUH - panceRIH - penceRAHan yang membangkitkan keSADARan buat generasi muda dan generasi tua pewaris Bhumi Pertiwi kita tercinta.

🙏🏻 Salam - Rahayu 🙏🏻

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...