Senin, 30 Juni 2014

Hikmah Ramadhan (2) : Merajut Rahmat, Ampunan dan, Doa di Bulan Mulia



Oleh Hadi — Rubrik Tafsir — June 30, 2014

Salah satu riwayat yang populer tentang ramadhan adalah sabda Rasulullah saw, “Bulan ramadhan adalah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan akhirnya adalah pengabulan doa dan pembebasan dari api neraka.
Inilah kemuliaan bulan ramadhan, yakni bulan yang di dalamnya dipenuhi dengan curahan rahmat Allah, limpahan pengampunan dosa, janji terkabulnya doa, dan jaminan kebebasan dari api neraka.
Bulan ini adalah bulan penuh rahmat, di mana Allah menaburkan kasih sayang-Nya yang meliputi segala sesuatu. Disebutkan dalam salah satu hadis bahwa Allah menciptakan seratus rahmat kemudian menurunkan satu rahmat ke bumi yang dengannya tercipta kasih sayang di antara semua makhluk, ibu mencintai anaknya, burung dan binatang buas meminum air, dan menghidupkan semua makhluk. Jadi, ikatan rahmat itulah yang menjadikan bumi ini tegak dengan keselarasannya. Untuk itulah, di bulan ramadhan ini kita dituntut menyambungkan silaturrahmi dan tidak memutuskannya. Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang menyambungkan tali silaturrahmi di bulan ini, maka Allah akan menghubungkannya dengan rahmat-Nya pada hari dia berjumpa dengan-Nya. Dan bagi siapa yang memutuskan tali silaturrahmi di bulan ini, maka Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari dia berjumpa dengan-Nya”.
Oleh karena itu, jika ada di antara kita memutuskan silaturahmi dan saling bermusuhan, baik karena urusan dunia maupun agama, maka hendaklah menyambut bulan ini dengan saling memaafkan. Mungkin, kita sudah lama tidak saling tegur sapa dengan sesama keluarga, sesama tetangga, sesama teman kerja,  atau sesama bangsa Indonesia hanya karena perbedaan pikiran atau pilihan,  pendapat atau pendapatan, maka jadikanlah momen ramadhan untuk memperbaiki dan menyambungkan tali persaudaraan kembali, karena curahan kasih sayang (rahmat) Allah di bulan ini, tergantung dengan kasih sayang kita kepada sesama manusia. Semakin kita mengasihi manusia, maka semakin kita menerima curahan rahmat-Nya.
Bulan ini juga menyediakan ampunan atas dosa-dosa kita. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya disebut bulan ini dengan nama ramadhan, karena membakar dosa-dosa.” Karena itu dibulan ramadhan ini, ingatlah dosa-dosa kita, khawatir dan menangislah, serta perbanyaklah istighfar, insya Allah, kita akan meraih ampunan Allah dan menjadi suci kembali, “ “Barangsiapa yang berpuasa ramadhan dengan keimanan dan perhitungan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu” begitu sabda Rasul saaw. Inilah bulan “pemutihan”, karenanya celakalah, kata Rasul saw, orang yang tidak memperoleh ampunan di bulan maghfirah ini.
Menariknya, pengampunan dosa oleh Allah berhubungan erat dengan akhlak mulia, seperti disebutkan oleh Nabi saw, “Sesungguhnya bulan ramadhan adalah bulan yang agung. Di bulan ini Allah melipat-gandakan kebaikan, menghapus keburukan dan mengangkat derajat. Siapa yang bersedekah di bulan ini maka Allah mengampuni dosanya. Siapa yang berbuat baik kepada pembantunya, maka Allah mengampuni dosanya. Siapa yang memperbaiki akhlaknya maka Allah akan mengampuni dosanya. Siapa yang menahan amarahnya, maka Allah mengampuni dosanya. Siapa yang menyambung tali silaturrahmi di bulan ini, maka Allah akan mengampuni dosanya“.
Kelima aktivitas yang disebut Rasul dapat memberikan efek pengampunan dosa jika kita cermati semuanya menyangkut akhlak yang berhubungan dengan kemanusiaan : bersedekah, berbuat baik kepada pembantu, memperbaiki akhlak, menahan amarah, dan menyambung silaturrahmi.  Jadi, pengampunan dosa dihubungkan Allah swt, dengan sikap kita terhadap manusia. Semakin kita bersikap baik terhadap manusia, maka semakin Allah melimpahkan ampunannya atas dosa-dosa kita yang lalu.
Bulan ini juga bulan pengabulan doa dan pembebasan dari neraka. Berdoalah sebanyak-banyaknya, mintalah apa pun, karena kita meminta kepada Yang Maha Kaya, Maha Dermawan, Maha Kuasa. Salah satu kondisi makbulnya doa adalah ketika berpuasa, bahkan dalam rangkaian ayat-ayat puasa, Allah swt menyelipkan tentang doa ini dengan firmannya : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Oleh karena itu, hendaknya mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada di atas jalan petunjuk” (Q.S. al-Baqarah : 186)
Saat menjelaskan tentang makna ayat “hendaknya mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku”, Imam Ja’far Shadiq berkata, “maksudnya hendaklah mereka meyakini dan mengetahui bahwasanya Aku mampu memberikan kepada mereka apapun yang mereka minta”.Beliau juga menjelaskan bahwa kalimat “agar mereka selalu berada di atas jalan petunjuk” bermakna agar mereka berada pada kebenaran.
Rasul bersabda, “Di bulan ramadhan ini nafas kalian adalah tasbih, tidur dianggap ibadah, amal-amal diterima, dan doa dikabulkan. Mintalah kepada Allah Tuhanmu dengan niat yang tulus dan hati yang bersih, agar Allah membimbing kamu untuk berpuasa dan membaca kitab-Nya.”Dan tentu permintaan terpenting adalah tetap mentaati Allah, diampuni dosa, dan masuk surga-Nya serta terhindar dari neraka. Dalam khutbah menyambut ramadhan Rasul bersabda, “Dua perkara yang kalian butuhkan adalah kalian memohon kebutuhan dan surga kepada Allah swt, dan memohon kesehatan kepada Allah serta berlindung kepadanya dari neraka.” Karena itu, seringlah mengulang-ulang doa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagian di akhirat, dan bebaskanlah kami dari siksa api neraka.” (hd/liputanislam.com)

Hikmah Ramadhan (1) : Merajut Kemuliaan Bulan Ramadhan



Oleh Hadi — Rubrik Tafsir — June 29, 2014

Wahai manusia! Sungguh telah datang kepada kalian bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu bulan ramadhan. Allah telah mewajibkan kamu berpuasa pada siang harinya dan menetapkan pahala mengerjakan salat sunnah pada malam harinya sama seperti mengerjakan tujuh puluh salat sunnah pada bulan lainnya…Orang yang mengerjakan salat wajib, seperti mengerjakan tujuh puluh salat wajib pada bulan lainnya.
“Dia adalah bulan kesabaran, dan balasannya adalah surga. Dia adalah bulan pertolongan. Bulan di mana Allah menambah rezeki bagi orang mukmin. Siapa yang memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka dia memperoleh pahala memerdekakan budak dan diampuni Allah dosanya. Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah! Tidak semua kami memiliki kemampuan untuk memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa.” Rasulullah saw menjawab, “Sesungguhnya Allah Maha Dermawan, Dia tetap memberi pahala ini kepada orang yang tidak mampu, kecuali dengan memberi seteguk susu, seteguk air atau sepotong kecil kurma. Siapa yang meringankan beban budaknya di bulan ini niscaya Allah swt akan meringankan beban hisabnya…”
Demikanlah sepotong khutbah Rasulullah saw ketika menyambut bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya terdapat lailatul qadar, malam kemuliaan, yang nilai satu malamnya sama dengan nilai seribu bulan. Keutamaan  dan keistimewaan itu disebabkan turunnya Alquran pada malam tersebut. Dan sebagai ekspresi kesyukuran atas turunnya Alquran, kita pun melaksanakan puasa, “Bulan ramadhan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara hak dan batil). Barangsiapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya) pada bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa..” (Q.S. al-Baqarah: 185). Jadi, Allah menurunkan Alquran untuk kita, maka kita pun berpuasa untuk Allah, seperti disebutkan hadis qudsi, “Puasa itu untuk-Ku, maka Aku yang akan membalasnya”.
Sebagai kemuliaan, Allah juga melipatgandakan nilai ibadah setiap hamba-Nya sebanyak 70 kali lipat, baik ibadah sunnah maupun wajib. Di bulan ini, kita diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengais pahala sebanyak-banyaknya melalui hubungan Tuhan dan hamba.
Disamping berisi hubungan Tuhan dan hamba, khutbah di atas juga berisi keistimewaan hubungan sesama hamba. Hal ini dilukiskan Rasulullah dengan menyebut keutamaan bulan ini sebagai bulan kesabaran, pertolongan, kemudahan rezeki, anjuran bersedekah dan meringankan beban pekerja.
Sebagai bulan kesabaran, kita dituntut bersabar dari makan dan minum sampai waktu tertentu. Karena ketaatan, kita bersabar dari yang dihalalkan Allah, maka sewajarnya pula kita bersabar dari yang diharamkan-Nya. Imam Ali berkata, “Sabar itu ada tiga: sabar dalam musibah, sabar dalam melaksanakan ketaatan, dan sabar  dalam menahan diri dari kemaksiatan.” Beliau juga berkata, “Sabar itu ada dua jenis: sabar dari yang tidak engkau senangi, dan sabar dari yang engkau senangi.” Kita menyenangi makanan dan minuman, maka bersabarlah ketika puasa. Kita tidak menyukai hinaan, ejekan, karenanya bersabarlah juga. Jadi, kita bersabar dari kesenangan biologis dan bersabar dari kondisi psikologis, seperti disebutkan jika kamu dipancing untuk marah, dihina atau bahkan ditantang berdebat, katakanlah, “aku sedang berpuasa”.
Begitu pula, kita semua, baik kaya atau papa, dituntut untuk bersedekah dengan makanan dan minuman berbuka puasa. Rasul memerintahkan bersedekah meskipun dengan seteguk air atau secuil makanan. Sebab, bagi orang yang haus dan lapar, seteguk air dan secuil makanan sangatlah berharga. Seperti berharganya uang recehan yang kita lontarkan untuk pengemis jalanan.  Sedekah adalah saling tolong dan menambah rezeki. Terlebih di bulan ramadhan, biasanya aktivitas perekonomian bergerak seiring pesatnya konsumsi masyarakat. Pusat-pusat perbelanjaan ramai bahkan banyak para pedagang musiman, mengais rezeki ketika ramadhan. Di sini kita diajarkan untuk saling berbagi tanpa memperhatikan pendapatan. Nilai bersedekah di bulan ini sama dengan pahala puasa itu sendiri, membebaskan budak, dan diampuni dosa-dosanya. Nilai seteguk air sebanding samudera luas yang tak bertepi.
Selain itu, di bulan ini, ringankanlah beban para pekerja, agar Allah meringankan hisab kita di yaumil qiyamah. Rasulullah bersabda, “Siapa yang memperbaiki akhlaknya di bulan ini, maka ia akan melewati titian shirat pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan para pembantunya di bulan ini, maka Allah akan ringankan pemeriksaan-Nya pada hari kiamat.” Karenanya bagi para pemilik perusahaan, para majikan, dan pemangku jabatan, ringankan beban para pekerja dan bawahan anda yang sedang berpuasa. Mereka telah berkerja berat sebelas bulan, maka satu bulan kelonggaran. Dengan meringankan beban pekerja di dunia, Allah meringankan beban anda di akhirat. Tapi ingat, kurangi kerjanya, jangan lupa tambah bonusnya. (hd/liputanislam.com)

Jumat, 27 Juni 2014

Ini Pilpres, Bukan Perang Suriah, Kawan



Oleh: Khadija, Blogger
Melihat perkembangan Pilpres akhir-akhir ini, saya merasa dibawa kembali kepada Perang Suriah, yang hingga kini masih berlangsung sengit. Bagaimana tidak, foto-foto palsu, manipulasi informasi dan perdebatan sengit yang mewarnai Perang Suriah, kini saya temukan kembali dalam euphoria Pilpres.
Lihatlah bagaimana pihak pemberontak Suriah dengan gencar menyebarkan foto-foto yang terjadi di Palestina, Lebanon, bahkan Brazil, dan menggunakannya untuk propaganda kekejaman Presiden Suriah Bashar al-Assad. Dalam hitungan menit, informasi tersebut telah menyebar ke seluruh dunia.
Tidak terbatas pada foto palsu, video palsu pun marak beredar. Informasi-informasi yang tidak valid juga memenuhi ruang pemberitaan. Demi menarik simpati, seorang yang disebut “ustadz” menuturkan bahwa jumlah pengungsi Suriah telah mencapai 45 juta jiwa, dan karenanya ia mengajak masyarakat untuk menyalurkan bantuan. Karena yang bicara adalah seseorang yang disebut ulama, tentu saja banyak yang percaya tanpa menyelidiki lebih jauh. Hanya saja, tak lama kemudian terbongkar bahwa klaim si ustadz tersebut palsu. Tidak mungkin pengungsi Suriah menembus angka 45 juta jiwa sedangkan jumlah penduduk Suriah saja hanya sekitar 23 juta jiwa.
Akibat dari berbagai manipulasi ini, muncullah perdebatan sengit di media sosial antara pendukung pemberontak dan pendukung pemerintah Suriah. Indonesia yang jaraknya beribu-ribu kilometer dari Suriah turut terkana dampak. Masing-masing memiliki argumen atas keyakinannya. Hingga Dina Y. Sulaeman, seorang pengamat Timur Tengah menyatakan bahwa Perang Suriah ini telah membagi dunia menjadi dua.
Bahkan Perang Suriah yang juga mengobarkan semangat jihad melawan tiran, menjadikan puluhan pemuda Indonesia yang telah terdoktrin dengan sukarela mengangkat senjata untuk turut menggulingkan pemerintah sah Suriah. Dari laporan Al-Manar, terdapat sebanyak 55 orang yang tewas dalam pertempuran di Suriah teridentifikasi dari Indonesia.
Lalu, bagaimana  dengan Pilpres di Indonesia hari ini?
Saya juga menemukan hal serupa. Setiap hari ada saja manipulasi informasi, foto palsu, keterangan palsu, dan kampanye hitam yang dilancarkan oleh kedua belah pihak. Padahal, masing-masing kandidat presiden telah mewanti-wanti untuk berkampanye dengan cara yang patut, tidak menyebar fitnah, dan menjadikan Pilpres ini sebagai suatu kegembiraan politik.
Namun melihat geliat yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, seperti memutuskan silahturahiim dengan temannya hanya karena beda pilihan capres, saya khawatir jika Pilpres ini malah memicu perpecahan.
Din Syamsudin, Ketua Umum Muhammadiyah juga  meminta kepada pasangan capres dan cawapres, serta khusus tim sukses maupun pendukungnya untuk menghentikan berbagai kampanye hitam, apalagi yang berbau SARA. Karena, hal ini sangat potensial untuk menciptakan perpecahan di tubuh bangsa ini.
Dan kekhawatiran itu mulai menjadi kenyataan. Misalnya, seperti kabar dari Liputan6.com, pada tanggal 24 Juni 2014 massa simpatisan PDI Perjuangan dan PPP terlibat bentrok di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bentrokan massa pendukung Jokowi dengan Prabowo itu mengakibatkan kerusakan mobil, belasan sepeda motor, dan mebel.
Dan sebelumnya, pada tanggal 15 Juni 2014, seperti dilansir Kompas, dua kelompok simpatisan pendukung Jokowi dan Prabowo nyaris bentrok di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.
Jika sudah bentrok begini, siapa yang akhirnya dirugikan? Kawan, ingatlah, yang kita hadapi adalah Pilpres, bukan perang hidup mati seperti Suriah. Meski begitu, tak layak jika cara-cara curang yang digunakan dalam Perang Suriah, kini kembali diulang dalam Pilpres Indonesia.

 http://liputanislam.com/opini/ini-pilpres-bukan-perang-suriah-kawan/

Kamis, 26 Juni 2014

Siapa Ahli Waris "Roh" Soekarno, Prabowo atau Jokowi?




"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

-Soekarno-


KOMPAS.com — Soekarno betul. Perjuangannya lebih mudah karena mengusir penjajah. Kala itu, semua orang bersatu atas nama Indonesia. Perjuangan kita hari ini jauh lebih berat: melawan bangsa sendiri.

Hari-hari belakangan ini, menjelang Pemilihan Umum Presiden 9 Juli 2014, kita bahkan lupa tentang keindonesiaan kita. Kita tidak sedang terpecah antara pendukung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Lebih dari itu, kita terpecah sebagai Indonesia.
Kita membenci mereka yang bukan Islam. Kita membenci anak-anak bangsa keturunan Tionghoa. Kita saling melempar fitnah dan menghujat setiap sisi kemanusiaan kita. Tak sedikit yang saling unfriend dan delcon.
Entitas suku, agama, ras, dan antar-golongan bukannya menguatkan jati diri kita sebagai "Bhinneka Tunggal Ika", tetapi menjadi peluru untuk saling menghancurkan.
Marilah berhenti sejenak dari hiruk pikuk kampanye hitam dan kampanye negatif yang riuh "membombardir" ruang-ruang kehidupan kita, baik di dunia nyata maupun dunia maya.
Marilah diam sejenak memikirkan satu hal yang paling substansial tentang masa depan bangsa ini, berpikir tentang Indonesia kita, tempat kita hidup merajut cita-cita tentang kehidupan kebangsaan yang adil dan berperikemanusiaan.
Indonesia seperti apakah yang kita perjuangkan? Indonesia seperti apakah yang diwariskan Soekarno? Apakah kedua pasangan capres dan cawapres saat ini sungguh memperjuangkan Indonesia yang dicita-citakan Soekarno, atau sebaliknya malah mengkhianati cita-cita itu?

 http://indonesiasatu.kompas.com

Rabu, 11 Juni 2014

Kontroversi Metodologi Rukyat dan Hisab


Ditulis oleh Muhammad Nurul Ahsan  



Fenomena menarik di Indonesia, menjelang bulan puasa maupun lebaran, yang hampir terjadi setiap tahunnya adalah kontroversi penentuan awal bulan Ramdlan dan Syawal. Kontroversi ini terjadi di beberapa organisasi keagamaan dan lembaga pemerintahan yang ada di Indonesia. Untuk mengetahui masuknya awal bulan, ada beberapa organisasi di antara sekian banyak organisasi keagamaan bersikeras mengaplikasikan secara independen metodologi hisab maupun rukyat. Namun ada juga yang lebih memilih untuk melakukan kalaborasi antara keduanya.

Ternyata, dinamika keagamaan seperti ini sulit dikendalikan. Apalagi masing-masing dari mereka sama-sama merasa telah mengantongi legalitas agama dan merasa sebagai kelompok yang mampu mengimplementasikan firman Allah dan sabda rasul-Nya. Sebuah realita yang patut disayangkan; bagaimana mungkin dalam sebuah negara mempunyai begitu banyak otoritas dalam memberikan rekomendasi masuknya awal bulan Ramadlan maupun Syawal, sebagai tanda umat Islam mempunyai kewajiban berpuasa dan berhari raya.
Memang, sejauh ini, realita sosial masing-masing organisasi keagamaan masih mampu menunjukkan sikap toleransi, meskipun dalam tataran praktis di kalangan tertentu masih tetap terkontaminasi, sehingga perbedaan itu berpotensi menciptakan terjadinya sentimen keagamaan di luar paham kelompoknya. Inilah sebuah problem yang tentunya membutuhkan gagasan solutif agar semua pihak tidak terjebak pada pola berfikir particular dan parsial sehingga mampu menciptakan pola berfikir multidimensional dan komprehensif.

II. Legalisasi Metodologi Rukyah dan Hisab

Membicarakan metodologi rukyah --dalam konteks Indonesia-- tentunya tidak lepas dari organisasi besar Nahdlatul Ulama (NU). Setiap menjelang bulan puasa dan hari raya, organisasi ini secara konsisten menggunakan metode rukyah sebagai skala prioritasnya, daripada metode hisab. Legalitas metodologi rukyah yang digunakan bertendensi adalah al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 185 dan banyak Hadits yang secara eksplisit menggunakan redaksi “rukyah” dalam menentukan awal bulan awal puasa dan hari raya. Oleh karena itu –menurut mereka, dengan mengacu pada pendapat mayoritas ulama—hadits mengenai rukyah tersebut mempunyai kapasitas sebagai interpretasi al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 185 tersebut di atas. Jika bentuk perintah pada redaksi Hadits sekaligus praktek yang dilakukan pada pereode nabi telah jelas menggunakan rukyah, mengapa harus menggunakan metode hisab?

Pada kesempatan lain, organisasi keagamaan semisal Muhammadiyah bersikeras menggunakan metodologi hisab dan meyakini bahwa metode ini sebagai metode paling relevan yang harus digunakan umat Islam dewasa ini. Argumen ini mengemuka salah satunya mengacu pada aspek akurasi metodologis-nya. Menurut mereka, polusi, pemanasan global dan keterbatasan kemampuan penglihatan manusia juga menyebabkan metode rukyah semakin jauh relevansinya untuk dijadikan acuan penentuan awal bulan.

Semangat al-Qur’an adalah menggunakan hisab, sebagaimana terdapat pada surat al-Rahman ayat 5. Di sana menegaskan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti dan peredarannya itu dapat dihitung dan diteliti. Kapasitas ayat ini bukan hanya bersifat informative, namun lebih dari itu, ia sebagai motifasi umat Islam untuk melakukan perhitungan gerak matahari dan bulan.

Mengenai redaksi “syahida” dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 185 itu bukanlah “melihat” sebagai interpretasinya, namun ia bermakna “bersaksi”, meskipun dalam tataran praktis pesaksi samasekali tidak melihat visibilitas hilal (penampakan bulan).

Memang, banyak hadits secara eksplisit memerintahkan untuk melakukan rukyah, ketika hendak memasuki bulan Ramadlan maupun Syawal. Namun redaksi itu muncul disebabkan kondisi disiplin ilmu astronomi pereode nabi berbeda dengan pereode sekarang, dimana kajian astronomi sekarang jauh lebih sistematis sekaligus akurasinya lebih dapat dipertanggungjawabkan. Nabi sendiri dalam sebuah hadisnya menyatakan bahwa: ”innâ ummatun ummiyyatun, lâ naktubu wa lâ nahsubu. Al-Syahru hâkadzâ wa hâkadzâ wa asyâra biyadihi”, Artinya: “Kita adalah umat yang ummi, tidak dapat menulis dan berhitung. Bulan itu seperti ini dan seperti ini, (nabi berisyarat dengan menggunakan tangannya)”. Jadi, mempriotiaskan metode hisab merupakan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan pada pereode nabi.

III. Analisa, Solusi dan Penutup

Menurut hemat Penulis, metodologi hisab dan rukyah merupakan dua komponen yang mempunyai korelasi sangat erat dan hampir tidak dapat dipisahkan. Rasanya tidak tepat jika dalam penentuan awal bulan hanya murni menggunakan metode rukyah. Sebab, meskipun telah dilengkapi dengan teknologi teleskop, ada banyak problematika yang harus dihadapi, semisal adanya polusi, pemanasan global dan kemampuan mata yang terbatas, sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Begitu juga sebaliknya, tidak tepat jika dalam penentuan awal bulan hanya menggunakan metode hisab. Alasan paling mendasar adalah fakta empiris metodologi ini bermula dari sebuah riset para astronom, sedangkan obyeknya adalah "melihat" peredaran matahari dan bulan. Memang, dipandang dari akurasi metodologisnya, hisab lebih unggul dibanding rukyah. Tingkat kesalahan metodologi hisab jauh lebih kecil dibanding metodologi rukyah. Namun, bagaimanapun juga hasil ilmiah apapun tidak akan pernah dapat dipertanggungjawabkan jika pada akhirnya tidak sesuai dengan fakta.

Telah jelas kontroversi metodologi hisab maupun rukyah --secara aplikatif-- merupakan persoalan furu’iyyat (hukum cabang). Tentunya perbedaan-perbedaan yang ada tidak perlu dibesar-besarkan. Namun, fenomena kontroversial itu tidak dapat dibiarkan bagitu saja, mengingat dampak arus bawah yang timbul begitu signifikan. Pada dasarnya itsbat (keputusan) penetapan bulan Ramadlan maupun Syawal adalah hak preogratif pemerintah (Departemen Agama) secara otoritatif. Apalagi telah jelas, pemerintah selama ini mampu mengakomodir semua aspirasi organisasi keagamaan di Indonesia, dengan mengundang masing-masing delegasi untuk melakukan rukyat sekaligus hisab. Jadi, sama sekali tidak salah, jika mulai dari sekarang masing-masing organisasi mencoba untuk menghormati otoritas pemerintahan ini. Wallahu a’lam.

Muhammad Nurul Ahsan (Al-Azhar University)
http://www.pesantrenvirtual.com/index.php

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...