Rabu, 13 Januari 2010

KEINDAHAN NAN MAHA INDAH 02

Ditulis dalam CANTIKNYA WUJUD pada 1:52 pm oleh Mas Kumitir

Ku pinta diKau dengan KesempurnaanMu, dan Yang Tersempurna dari SempurnaMu, dan sungguh seluruh SempurnaMu benar Sempurna ku gapai diKau dengan KejelitaanMu, dan Yang Terjelita dari JelitaMu, dan sungguh seluruh JelitaMu benar Jelita ku seru diKau dalam KeTinggianMu, dan Yang Tertinggi dari TinggiMu, dan sungguh seluruh TinggiMu benar Tinggi ku seru diKau dalam KeSucianMu, dan Yang Tersuci dari SuciMu, dan sungguh seluruh SuciMu benar Suci.

Mata berbinar mesra dan mulut dipenuhi dengan kulum senyum lembut. Redup cahaya mata menatapi Wajah Jelita Nan Molek Rupawan dan Pipi-Pipi Nan Senantiasa Memerah berpendaran. Belum lagi celak-celak keunguan, Oh, demikian IndahNya memukau Indah-IndahNya di hati peCintaNya yang mabuk dalam keIndahanNya.
Bila kekupu terbang dengan sayap sepasang,
dan laron berkitar dengan sayap sepasang,
pula Arkhoun menatap dengan mata sepasang,
tapi Majnun menatap Layla dengan Layla seorang !
Demikanlah rintih pecinta, laa yunaalu dzaalika illa bi fadhlik, tak kan tercapai tatapan pada JelitaNya kecuali dengan KaruniaNya sendiri. Tak kan melihat KeindahanNya kecuali dengan KeindahanNya sendiri, JelitaNya kecuali dengan MolekNya sendiri, Lentik AlisNya kecuali dengan Hijau CelakNya Sendiri.
Duhai yang mengaruniai hambaNya dengan tatapan KepadaNya,
dan tiada tatapan KepadaNya kecuali dengan PenglihatanNya Sendiri.
Duhai yang mengaruniai hambaNya dengan pendengaran atas MerduNya,
dan tiada pendengaran atasNya kecuali dengan PendengaranNya sendiri.
Duhai yang mengaruniai hambaNya dengan jalan lurus KepadaNya,
dan tiada jalan lurus KepadaNya kecuali adalah Dia Sendiri.
Duhai yang mengaruniai segenap Kenikmatan pada hambaNya,
dan tiada Kenikmatan kecuali Dia Sendiri.
Maka sebagian orang katakan ku telah lihat Keindahan Tuhan di mana-mana. Betapa mungkin Tuhan dilihat oleh selain diriNya? Laa tudrikuhu al-abshooru wa huwa yudriku al-abshooro. Tak menyentuhnya (semua) penglihatan dan Ia menyentuh (semua) penglihatan. Mungkin inilah pandangan majazi atau khayali yang diibaratkan oleh Maulana Rumi dalam sya`irnya;
kefasihan burung-burung istana hanyalah pantulan suara;
di manakah perkataan burung Nabi Sulaiman.
bagaimana kau akan mengenal kicau mereka,
jika kau tak pernah melihat Nabi Sulaiman sejenak pun.
Jauh di seberang Timur dan Barat bertebaran sayap burung,
yang lagunya menggetarkan hati yang mendengar.
Ia terbang bolak-balik antara bumi dan ‘arasy Tuhan,
bersama keagungan dan kemuliaannya.
Maka Penatap Tuhan terdiam seribu bahasa, bagi mereka “aku” sama saja dengan “bukan aku”, karena tak ada apapun yang dapat disifatkan kepada ketiadaan. Bagi mereka “kutatap Tuhan” tak ada bedanya dengan “Tuhan menatap Tuhan”, yakni, “mereka” adalah ketiadaan sedang satu-satunya fa’il (pelaku) adalah Zat Yang Maha Kudus. Yaa man dalla ‘ala dzaatihi bidzaatihi. Wahai Yang Menunjukkan ZatNya dengan ZatNya.
Bak ufuk Tmur yang bertanya pada selatan, pula utara,
di manakah Mentari Terbit.
Bak Samudera Raya yang bertanya pada sumur, pula kali,
di manakah Air Berada.
demikian pula pecinta berkata Cinta, juga asmara,
padahal berkata Cinta pastilah sirna.
juga para pemantik berkata Wujud, juga Sebab,
padahal berkata Wujud pastilah wujud.
Ikal kekang “aku”, “kita”, “kamu” telah lenyap. Laso itu telah lenyap, dan demikianlah Jiwa Pecinta terlepas dari kepompong dan penjara alam material melesat menuju Jiwa nan Satu, Sang Pecinta, Sang Pendamba, Sang Perindu, yang turun dari Hadhrat Zat Suci ke Hadhrat Asma ke Hadhrat Sifat ke Hadhrat Af’al. Bagi para pecinta yang tak kenal timur dan barat, lenyaplah timur dan barat. Bagi para pecinta yang tak kenal kini dan esok, lenyaplah waktu baginya. Maka, man ‘arafa nafsahu, yakni bagi yang mengenal bahwa dirinya ketiadaan dan Tiada Selain Dia Semata, lenyaplah semua hal termasuk nama dan identitasnya sendiri, dan, faqod ‘arafa robbahu, Dia Mengenal Tuhannya dengan Tuhannya itu sendiri, yakni Allah adalah Cahaya Langit dan Bumi, tak lain Dia Yang Zhohir dan Bathin, dan Yang Awal dan Yang Akhir, tak lain Dia Yang Maha Meliputi segala sesuatu Yaa Allah Karuniakan padaku tatapan KepadaMu dan Kemulaan Keterputusan kepada SelainMu, hingga dengan Pancaran wajahMu, tersingkaplah hijab-hijab CahayaMu.
Amin.
wallohu a’lam bi ash-showwab

KEINDAHAN NAN MAHA INDAH 01

Ditulis dalam CANTIKNYA WUJUD pada 10:22 am oleh Mas Kumitir

Cahaya falak bak malak, dialah surya walau tampaknya reremangan, compang fakir camping sangat, dialah Raja di Raja walau bergelandangan.
Sungguh Ia, Maha Kudus, telah menyembunyikan kekasih-kekasih-Nya di bawah kubah Keamanan dan LindunganNya, sehingga tak satupun bisa mengusik. Dan Sungguh Ia, Maha Kudus, telah menutupi para pecinta Nya yang Ia cintai dalam hakikat huwiyyah (keDiaan) -Nya yang azali, sehingga dikatakan laa ya’rifu al-waliyya illa al-waliyyu, tak mengenal Wali (Kekasih-Nya) kecuali Wali (Kekasih-Nya). Dan siapakah Wali-Wali -Nya? Siapakah Pecinta-PecintaNya yang Dia Cintai?

Alaa inna auliyaa`alloohi laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun. Ketahuilah, sesungguhnya Wali-Wali Alloh, bagi mereka tak ada takut tak pula khawatir. Bagaimana mungkin mereka khawatir, sedangkan ke mana saja mereka menghadap di situlah Wajah Allah? Betapa mungkin mereka takut, sedang tiada selembar daun pun jatuh di suatu tempat tak pula tumbuh melainkan semua itu atas Kehendak dan Izin Kekasih Yang Maha Cantik dan Maha kasih. Dan betapa mungkin gelombang peristiwa dan kejadian, walaupun gunung-gunung semua beterbangan dan langit tergulung, membuatnya sedih sedangkan tiada satu ruang dan waktu selembut apa pun melainkan Kekasih Nan Maha Lembut Meliputinya dengan aliran memerah Kasih Sayangnya yang tak terperi.
Ia nan selalu merasakan buaian dan dekapan mesra,
ia pula nan selalu berbulan madu,
di awan-awan lagit membiru dengan asmara,
ia pula nan selalu dibuai-buai oleh Tuhannya, Wali bobo oh Wali bobo,
ia pula nan selalu dicumbu-guraui oleh Tuhannya,
duhai Majnunku duhai Romeoku.
Bagi para pecintaNya, Sungguh Kekasih itu Dekat, Dekat Sekali, bahkan lebih dekat dari urat lehernya. Hingga, udara dan dedaunan senantiasa merupakan alunan Salam baginya dari Kekasih. Hawa dan kelembutannya adalah sentuhan lembut lentik Jemari Sang Maha Layla. Kicau-kicau burung adalah merdu panggilannya, oh Qays-ku, pinta sang Maha Layla. Dan desahan jengkerik dan serangga-serangga dari jauh seolah adalah hehijaban cadar berlapis seribu bahkan tujuh puluh ribu dari Layla, Di Sinilah WajahKu, Di Sinilah WajahKu, bisiknya mesra.
tiada mungkin bayi cari pelukan selain ibunya,
apa pula Qays ada dalam pelukan selain Lyala
segala mayapada, dan nanti bakapada ini,
tak lain dan bukan selain pelukanNya kasihNya
Maka bila orang ta’at agar memperoleh tsawab (ganjaran surgawi / pahala), sang pecinta ta’at karena malu. Bila orang menangis mengingat neraka, sang pecinta menangis karena rindu. Bila orang tangisi nasibnya dan kerendahan ruhaninya, sang pecinta menangis karena WajahMu yaa Laylaku, di manakah ia? Bila orang bertaubat, dan terimalah taubatku Wahai Yang Maha Pengampun, maka pecinta rintihkan Lakukan Apa Yang Layak Bagi diriMu, dan jangan lakukan apa yang kuinginkan, waf’al bi maa anta ahluh, wa laa taf’al bimaa ana ahluh . Bila orang meratap-ratap dengan berbagai bala` dan bencana , maka pecinta menangis syahdu atas segala Perhatian Kekasihnya yang Abadi kepadanya.
Langit ini adalah langitMu, dan bumi ini adalah bumiMu
maka walau di tangan ku ada piala, kutahu ini adalah pialaMu
Timur ini adalah baratMu, dan barat ini adalah timurMu
maka walau di mata ku ada Kamu, ku tahu ini adalah tatapanMu
lagit dan bumi, dan dua dunia
melangit dan membumi, dosa-dosa hamba
namun lagit dan bumi, MilikMu Layla
WajahLayla, buat Majnun lupa diri, apalagi dosa
AnggurMu, namun dari PialaMu
Dalam PialaMu, namun dengan TuanganMu
TuanganMu, namun dengan IsyaratMu, minumlah
Kuminum, namun dengan tenggakanMu, mabuklah
Kumabuk, namun bukan karena Anggur
Kusempoyong, namun bukan karena Piala,
BibirMu Nan Mendayu Merah duhai Penuang
Buat Hatiku Membara Merah, Duhai Sayang
apa pun yang dikatakan, orang
apapun yang kukatakan, “aku”
apa pun yang dikatakan, angin
Engkau adalah Engkau, MuliaMu adalah JelitaMu
orang-orang nan cari Kemuliaan, adalah bak,
rusa-rusa nan cari Kerusaan, adalah bak,
para pedagang nan cari Perdagangan, adalah bak,
pecinta nan mencari Wajah, nafilah sirnalah tanpa bak !
Wa Allohu a’lam bi ash-showwab.

Jumat, 08 Januari 2010

Ternyata Benar Benua Atlantis itu Indonesia?

By. Ahmadsamantho.wordpress

Sebelumnya saya pernah menceritakan perdaban atlantis disini, dan sekarang saya mau melengkapinya kembali dengan posting sekarang, silahkan disimak deh... Prof. Arysio Nunes Dos Santos menerbitkan buku yang menggemparkan : “Atlantis The Lost Continents Finally Found”. Dimana ditemukannya ? Secara tegas dinyatakannya bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia (?!). Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis yang memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi sebagai hukuman dari yang Kuasa. Kisah Atlantis ini dibahas dari masa ke masa, dan upaya penelusuran terus pula dilakukan guna menemukan sisa-sisa peradaban tinggi yang telah dicapai oleh bangsa Atlantis itu.

Pencarian dilakukan di Samudera Atlantik, Laut Tengah, Karibia, sampai ke kutub Utara. Pencarian ini sama sekali tidak ada hasilnya, sehingga sebagian orang beranggapan bahwa yang diceritakan Plato itu hanyalah negeri dongeng semata. Profesor Santos yang ahli Fisika Nuklir ini menyatakan bahwa Atlantis tidak pernah ditemukan karena dicari di tempat yang salah. Lokasi yang benar secara menyakinkan adalah Indonesia, katanya..

Prof. Santos mengatakan bahwa dia sudah meneliti kemungkinan lokasi Atlantis selama 29 tahun terakhir ini. Ilmu yang digunakan Santos dalam menelusur lokasi Atlantis ini adalah ilmu Geologi, Astronomi, Paleontologi, Archeologi, Linguistik, Ethnologi, dan Comparative Mythology. Buku Santos sewaktu ditanyakan ke ‘Amazon.com’ seminggu yang lalu ternyata habis tidak bersisa. Bukunya ini terlink ke 400 buah sites di Internet, dan websitenya sendiri menurut Santos selama ini telah dikunjungi sebanyak 2.500.000 visitors. Ini adalah iklan gratis untuk mengenalkan Indonesia secara efektif ke dunia luar, yang tidak memerlukan dana 1 sen pun dari Pemerintah RI.

Plato pernah menulis tentang Atlantis pada masa dimana Yunani masih menjadi pusat kebudayaan Dunia Barat (Western World). Sampai saat ini belum dapat dideteksi apakah sang ahli falsafah ini hanya menceritakan sebuah mitos, moral fable, science fiction, ataukah sebenarnya dia menceritakan sebuah kisah sejarah. Ataukah pula dia menjelaskan sebuah fakta secara jujur bahwa Atlantis adalah sebuah realitas absolut ?
Plato bercerita bahwa Atlantis adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, dan ‘mother of all civilazation’ dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga.

Warga Atlantis yang semula merupakan orang-orang terhormat dan kaya, kemudian berubah menjadi ambisius. Yang kuasa kemudian menghukum mereka dengan mendatangkan banjir, letusan gunung berapi, dan gempa bumi yang sedemikian dahsyatnya sehingga menenggelamkan seluruh benua itu.

Kisah-kisah sejenis atau mirip kisah Atlantis ini yang berakhir dengan bencana banjir dan gempa bumi, ternyata juga ditemui dalam kisah-kisah sakral tradisional di berbagai bagian dunia, yang diceritakan dalam bahasa setempat. Menurut Santos, ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun BP (Before Present), secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa yang sangat hebat.
Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari species mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia : Neandertal dan Cro-Magnon.
Sebelum terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia.

Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’.

Gunung utama yang disebutkan oleh Santos, yang memegang peranan penting dalam bencana ini adalah Gunung Krakatau dan ‘sebuah gunung lain’ (kemungkinan Gunung Toba). Gunung lain yang disebut-sebut (dalam kaitannya dengan kisah-kisah mytologi adalah Gunung Semeru, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani.

Bencana alam beruntun ini menurut Santos dimulai dengan ledakan dahsyat gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar yaitu selat Sunda yang jadinya memisahkan pulau Sumatera dan Jawa.
Letusan ini menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran-dataran rendah diantara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, diantara Jawa dan Kalimantan, dan antara Sumatera dan Kalimantan. Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa ‘fly-ash’ naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (Zaman Es Pleistocene) .
Abu ini kemudian turun dan menutupi lapisan es. Akibat adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut.
Gletser di kutub Utara dan Eropah kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia. Banjir akibat tsunami dan lelehan es inilah yang menyebabkan air laut naik sekitar 130 meter diatas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam dibawah muka laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi.

Tekanan air yang besar ini menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi selanjutnya dan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah berakhirnya Zaman Es Pleitocene secara dramatis.
Dalam bukunya Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah negara makmur yang bermandi matahari sepanjang waktu. Padahal zaman pada waktu itu adalah Zaman Es, dimana temperatur bumi secara menyeluruh adalah kira-kira 15 derajat Celcius lebih dingin dari sekarang.

Lokasi yang bermandi sinar matahari pada waktu itu hanyalah Indonesia yang memang terletak di katulistiwa.


Plato juga menyebutkan bahwa luas benua Atlantis yang hilang itu “….lebih besar dari Lybia (Afrika Utara) dan Asia Kecil digabung jadi satu…”. Luas ini persis sama dengan luas kawasan Indonesia ditambah dengan luas Laut China Selatan.

Menurut Profesor Santos, para ahli yang umumnya berasal dari Barat, berkeyakinan teguh bahwa peradaban manusia berasal dari dunia mereka. Tapi realitas menunjukkan bahwa Atlantis berada di bawah perairan Indonesia dan bukan di tempat lain.
Walau dikisahkan dalam bahasa mereka masing-masing, ternyata istilah-istilah yang digunakan banyak yang merujuk ke hal atau kejadian yang sama.
Santos menyimpulkan bahwa penduduk Atlantis terdiri dari beberapa suku/etnis, dimana 2 buah suku terbesar adalah Aryan dan Dravidas.

Semua suku bangsa ini sebelumya berasal dari Afrika 3 juta tahun yang lalu, yang kemudian menyebar ke seluruh Eurasia dan ke Timur sampai Auatralia lebih kurang 1 juta tahun yang lalu. Di Indonesia mereka menemukan kondisi alam yang ideal untuk berkembang, yang menumbuhkan pengetahuan tentang pertanian serta peradaban secara menyeluruh. Ini terjadi pada zaman Pleistocene.

Pada Zaman Es itu, Atlantis adalah surga tropis dengan padang-padang yang indah, gunung, batu-batu mulia, metal berbagai jenis, parfum, sungai, danau, saluran irigasi, pertanian yang sangat produktif, istana emas dengan dinding-dinding perak, gajah, dan bermacam hewan liar lainnya. Menurut Santos, hanya Indonesialah yang sekaya ini (!). Ketika bencana yang diceritakan diatas terjadi, dimana air laut naik setinggi kira-kira 130 meter, penduduk Atlantis yang selamat terpaksa keluar dan pindah ke India, Asia Tenggara, China, Polynesia, dan Amerika.

Suku Aryan yang bermigrasi ke India mula-mula pindah dan menetap di lembah Indus. . Karena glacier Himalaya juga mencair dan menimbulkan banjir di lembah Indus, mereka bermigrasi lebih lanjut ke Mesir, Mesopotamia, Palestin, Afrika Utara, dan Asia Utara.
Di tempat-tempat baru ini mereka kemudian berupaya mengembangkan kembali budaya Atlantis yang merupakan akar budaya mereka.

Catatan terbaik dari tenggelamnya benua Atlantis ini dicatat di India melalui tradisi-tradisi cuci di daerah seperti Lanka, Kumari Kandan, Tripura, dan lain-lain. Mereka adalah pewaris dari budaya yang tenggelam tersebut.

Suku Dravidas yang berkulit lebih gelap tetap tinggal di Indonesia. Migrasi besar-besaran ini dapat menjelaskan timbulnya secara tiba-tiba atau seketika teknologi maju seperti pertanian, pengolahan batu mulia, metalurgi, agama, dan diatas semuanya adalah bahasa dan abjad di seluruh dunia selama masa yang disebut Neolithic Revolution.
Bahasa-bahasa dapat ditelusur berasal dari Sansekerta dan Dravida. Karenanya bahasa-bahasa di dunia sangat maju dipandang dari gramatika dan semantik. Contohnya adalah abjad. Semua abjad menunjukkan adanya “sidik jari” dari India yang pada masa itu merupakan bagian yang integral dari Indonesia.

Dari Indonesialah lahir bibit-bibit peradaban yang kemudian berkembang menjadi budaya lembah Indus, Mesir, Mesopotamia, Hatti, Junani, Minoan, Crete, Roma, Inka, Maya, Aztek, dan lain-lain. Budaya-budaya ini mengenal mitos yang sangat mirip. Nama Atlantis diberbagai suku bangsa disebut sebagai Tala, Attala, Patala, Talatala, Thule, Tollan, Aztlan, Tluloc, dan lain-lain.

Itulah ringkasan teori Profesor Santos yang ingin membuktikan bahwa benua atlantis yang hilang itu sebenarnya berada di Indonesia. Bukti-bukti yang menguatkan Indonesia sebagai Atlantis, dibandingkan dengan lokasi alternative lainnya disimpulkan Profesor Santos dalam suatu matrix yang disebutnya sebagai ‘Checklist’.

Terlepas dari benar atau tidaknya teori ini, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Profesor Santos ini sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang-orang luar ke Indonesia. Teori ini juga disusun dengan argumentasi atau hujjah yang cukup jelas.

Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali “tidak meyakinkan” untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya itu, maka ini adalah suatu proses maju atau mundurnya peradaban yang memakan waktu lebih dari sepuluh ribu tahun. Contoh kecilnya, ya perbandingan yang sangat populer tentang orang Malaysia dan Indonesia; dimana 30 tahunan yang lalu mereka masih belajar dari kita, dan sekarang mereka relatif berada di depan kita.

Allah SWT juga berfirman bahwa nasib manusia ini memang dipergilirkan. Yang mulia suatu saat akan menjadi hina, dan sebaliknya. Profesor Santos akan terus melakukan penelitian lapangan lebih lanjut guna membuktikan teorinya. Kemajuan teknologi masa kini seperti satelit yang mampu memetakan dasar lautan, kapal selam mini untuk penelitian (sebagaimana yang digunakan untuk menemukan kapal ‘Titanic’), dan beragam peralatan canggih lainnya diharapkannya akan mampu membantu mencari bukti-bukti pendukung yang kini diduga masih tersembunyi di dasar laut di Indonesia.

Apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan bangsa Indonesia ? Bagaimana pula pakar Indonesia dari berbagai disiplin keilmuan menanggapi teori yang sebenarnya “mengangkat” Indonesia ke posisi sangat terhormat : sebagai asal usul peradaban bangsa-bangsa seluruh dunia ini ?

Coba kita renungkan penyebab Atlantis dulu dihancurkan : penduduk cerdas terhormat yang berubah menjadi ambisius serta berbagai kelakuan buruk lainnya (mungkin ‘korupsi’ salah satunya). Nah, salah-salah Indonesia sang “mantan Atlantis” ini bakal kena hukuman lagi nanti kalau tidak mau berubah seperti yang ditampakkan bangsa ini secara terang-terangan sekarang ini.

Demikian kutipan dari Catatan Bang Ferdy Dailami Firdaus tentang Teori Santos secara ringkas. Bagi yang berminat untuk membaca lebih jelas, dapat langsung ke website Profesor Arysio Nunes Dos Santos – Atlantis The Lost Continent Finally Found http://www.atlan.org/ (badruttamamgaffas.blogspot.com)

PEREMPUAN DALAM TEOSOFI IBNU ARABI

Oleh: Iman Fauzan

Berbicara mengenai perempuan memang manarik namun juga menyedihkan. Menarik, karena perbincangan ini berkenaan langsung dengan diri kita sebagai manusia yang secara biologis tercipta sebagai laki-laki dan perempuan. Menyedihkan, karena secara empiris-sosiologis tidak bisa dinafikan akan banyaknya ketidakadilan sosial yang terjadi terhadap gender perempuan. Dan ketidakadilan ini barang kali merupakan ketidak adilan tertua dalam sejarah manusia.

Fenomena ketidak adilan sosial terhadap perempuan itu menurut analisa kontemporer Mansour Fakih bisa dilihat dalam lima gejala yang ada: marjinalisasi perempuan baik di rumah tangga maupun tempat kerja, subordinasi terhadap perempuan karena anggapan gender yang salah, streotif yang merugikan kaum perempuan, berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan baik fisik maupun psikologis, dan pembagian kerja seksual yang merugikan kaum perempuan.
Dalam dunia Islam sendiri perempuan cenderung diletakan sebagai makhluk sekunder, terutama oleh kaum konservatif Islam yang hanya memperhatikan aspek-aspek luar dan formalnya saja dalam memperlakukan perempuan dan keperempuanannya. Dengan tidak memperhatikan aspek spiritual yang biasa digali oleh kaum teosofi, dan ini lebih bersifat humanis, perenial, dan universal. Maka tidak heran kalau Islam diklaim sebagai agama yang melegitimasi kekerasan terhadap perempuan. Dan patut kita cari juga jawaban atas maraknya pernyataan para western yang menyatakan, “I am sufism but not moeslim”. Terutama yang terkait dengan persoalan-persoalan perempuan dalam perbincangan dunia Islam kontemporer.
Para teosofi Islam memandang perempuan sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki keistimewaan lebih dibanding laki-laki. Itulah mengapa asy-Syaykh al-Akhbar Ibn ‘Arabi tidak henti-hentinya takjub setiap kali bertemu dengan perempuan-perempuan istimewanya seperti; Maryam (istri pertamanya), Sayyidah Nizam (rekan termuda dan cantik), dan Fathimah bint Ibn al-Mutsana (seorang guru spiritual Ibn ‘Arabi), yang ketiga-tiganya menjadi elan vital dalam perjalanan spiritualnya menuju illahi, karena mereka juga pada kenyataanya adalah seorang feminin sofianik.
Dengan demikian tulisan ini bertujuan untuk menjernihkan pemahaman yang menyatakan bahwa Islam sebagai agama yang melegitimasi kekerasan terhadap perempuan. Padahal dalam Islam sendiri terdapat berbagai macam corak pemikiran dan penafsiran. Maka di sini akan menyuguhkan satu sudut pandang yang berbeda, yaitu mengenai status perempuan dalam teosofi Ibn ‘Arabi yang lebih humanis.
Menurut Ibn ‘Arabi, perempuan memang mulia dan tak sekedar dimuliakan, kemuliaan itu terkait langsung dengan kodrat perempuan sebagai pantulan kasih sayang Tuhan yang bersifat perenial dan universal. Perempuan mendapat status yang tinggi di mata Tuhan, karena pada dirinya melekat citra Tuhan sebagai Yang Mahakasih. Ke-rahim-an perempuan menandakan ke-rahim-an Tuhan yang menyejukan dunia dengan kasihnya. Dan “penampakan” Tuhan terjadi paling sempurna pada diri seorang perempuan. Laki-laki boleh mendapatkan sederet keistimewaan dalam hukum agama, tetapi pada diri seorang perempuan lah kualitas-kualitas spiritual sejati itu ditampakan.
Para teosof memiliki pandangan yang berbeda mengenai relasi gender dari pandangan kaum feminis kontemporer saat ini. Ini satu hal yang menarik umtuk digarisbawahi. Tidak seperti kaum feminis yang melihat relasi gender sebagai sesuatu yang socially constructed, para teosof memandang relasi gender sebagai suatu hal yang “kodrati”. Kalaupun relasi itu dapat berubah, bagi teosof seperti Ibn ‘Arabi, setidaknya ia merupakan manifestasi illahi yang intrinsik dan bersifat perenial. Kualitas-kualitas feminin dan maskulin adalah dua kembar dari perwujudan kasih sayang Tuhan dalam kehidupan. Karena Tuhan mengandung di dalam dirinya sifat-sifat feminin dan maskulin sekaligus.
Selain itu Ibn ‘Arabi sendiri menyadari jebakan maskulinitas dalam doktrin Islam. Dalam Futuhat al-Makiyah (kitab termashur pertama yang konon dalam penulisannya ia didikte langsung oleh Tuhan), Ibn ‘Arabi memperingatkan agar umat Islam tidak terpukau dengan pernyataan nabi yang terkenal, yang menyatakan bahwa kerusakan akan melanda sekelompok orang yang menjadikan perempuan sebagai pemimpinnya. Karena kedudukan perempuan bagi Ibn ‘Arabi tidak berbeda dengan laki-laki, tidak ada yang direndahkan atau diunggulkan. Meskipun kadang dalam derajat spiritual tertentu, mengungguli laki-laki tertentu pula, seperti yang pernah dialami oleh Rabiah Al-Adawiyah dalam perjalanan cintanya bagi kami sebagai lelaki awam yang belum pernah merasakan cinta seperti cintanya.
Kami kembali pada Ibn ‘Arabi yang memiliki analisa menarik dalam mengekplorasi argumen-argumennya. Ia mengawali analisanya dengan menafsirkan secara spiritual kata mar’ dan mar’ah dalam yang terdapat dalam al-Qur’an. Menurutnya, jika laki-laki disebut dalam al-Qur’an sebagai mar’ dan perempuan sebagai mar’ah (dengan tambahan huruf ha’), itu dilakukan Tuhan bukan tanpa hikmah. Imbuhan ha’ pada kata mar’ah melambangkan satu tingkat kesempurnaan yang ditambahkan Tuhan pada perempuan. Uniknya, ha’ itu bersifat aktif dan sekaligus pasif, karena ketika dibaca dengan kata lain, ia menjadi “penyambung” bagi kalimat sesudahnya. Tetapi ha’ juga bersifat pasif, karena menandai saat-saat ketika pembaca berhenti dan mengakhiri bacaanya pada titik itu. Dengan kata lain ha’ adalah kehidupan dan kematian selakigus, yang menyambung harapan kepada apa yang akan datang, tetapi juga berakhir dan mengakhiri dirinya dalam ketiadaan dan kekosongan.
Citra Tuhan yang maskulin dalam agama monotoisme memang mengakar dalam kesadaran. Citra in menurut Ibn ‘Arabi, mengaburkan kenyataan bahwa sesungguhnya Tuhan “mengandung” unsur-unsur feminin. Secara lahir nama tertinggi bagi Tuhan memang asma Allah yang bersifat maskulin. Tetapi dalam level yang lain, Allah juga disebut juga dengan nama adz-Dzat. Penyebutan Allah dengan adz-Dzat menandakan esensi Tuhan yang tak terjangkau dan tak kergambarakan. Tapi uniknya ketakterjangkauan Tuhan dan kemustahilannya untuk dinamai justru dirujuk dengan istilah feminin yang sangat akrab bagi pikiran manusia.
Meskipun kita akan mengakui tanpa ragu bahwa bahasa tidak akan pernah memadai untuk mendeskripsikan wujud Tuhan yang sesungguhnya. Karena dengan menggunakan bahasa yang terbatas kita tidak akan bisa mendeskripsikan seluruh apa yang kita rasa, apa lagi untuk mendeskripsikan wujud Tuhan yang menampung seluruh rasa. Dan bahkan bisa jadi kita akan “terperangkap” dalam penjara bahasa. Maskulinitas atau feminisitas masing-masing saling mengisi dan melengkapi. Ibarat “dua tangan” Tuhan yang bekerja secara bersamaan. Keduanya saling membutuhkkan dan saling berhasrat kepada yang lain. Dan hubungan dari kedua unsur ini bukan lah oposisi biner yang mensyaratkan adanya superioritas dan inferioritas, yang satu lebih unggul dari yang lain. Hubungan perempuan dan laki-laki adalah hubungan yang membutuhkan satu sama lain, hubungan belahan jiwa yang ingin melebur menjadi satu kembali. Meskipun dalam bentuknya yang empiris (yang terlihat dengan mata) laki-laki dan perempuan memiliki keunikan dan kelainannya masing-masing.
Pada bagian akhir, bab tiga dan empat, dalam kitab termashur keduanya (Fusus al-Hikam) yang konon dalam penulisannya ia didikte langsung oleh Nabi Muhammad, Ibn ”Arabi juga menjelaskan secara panjang lebar tentang kelebihan aspek spiritual pada diri perempuan sebagai antitesa terhadap penafsiran-pebafsiran yang lebih memihak pada maskulinitas. Diantaranya ia berbicara tentang hubungan timbal-balik Tuhan—laki -laki—perempuan yang dengan demikian mengilustrasikan ‘Rangkaian Cinta’ diantara ketiganya, dengan menginterpretasikan kata ‘tiga’ dalam salah satu Hadis Nabi dengan menyebut satu-persatu dari tiga hal yang disukai Nabi secara beurutan: perempuan, parfum/wangi-wangian, dan salat—adalah dalam bentuknya yang mu’annas. Meskipun salah satu diantara tiga hal itu berbentuk muzakkar, yang menurut interpretasi Ibn ‘Arabi adalah sebagai penegasan implisit Nabi terhadap kelebihan feminin. Untuk mendukung deduksinya ini Ibn ‘Arabi melanjutkan dengan menunjukan bahwa mayoritas kata yang berhubungan dengan asal-usul dan penciptaan berbentuk feminin, seperti esensi (‘zat), sebab (‘illah), kekuatan (qudrah). Oleh karena itu, ia melanjutkan juga bahwa kata benda muzakkar (wangi-wangian) ditempatkan diantara dua kata kerja mu’annas, perempuan dan salat, sebagaimana laki-laki dirinya berada diantara Zat Illahi (kata kerja mu’annas) dan perempuan, yang bermakna dia (laki-laki) berasal dari Yang Pertama (Tuhan) dan berasal dari asal yang kedua (perempuan). Dengan demikian perempuan adalah “rahmat semesta”. Karena ia memiliki kedudukan tersendiri yang tak tegantikan dalam menjaga keseimbangan kosmos. Dan Ibn ‘Arabi pernah berjanji, jika pada hari kiamat nanti Tuhan memberinya ampunan, ampunan itu akan ia hadiahkan pertama kali buat perempuan-perempuan yang ia cintai.
Dan untuk mengetahui, dengan tidak mencoba menyederhanakan, konsep perempuan dalam gerakan feminis Islam kontemporer yang mirip dengan pemahaman Ibn ‘Arabi. kami akan mengetengahkan dua model gerakan feminis Islam: Pertama, gerakan feminis Islam yang memperjuangkan keadilan gender dengan berusaha menyamakan (mensetarakan) antara laki-laki dan perempuan, fifty-fifty. Dengan dalih bahwa gender hasil konstruksi sosial budaya masyarakat, di sini ada pengaruh paradigmatis, untuk mengatakan tidak mengkopy, feminis barat tahun 1960 dan 1970-an, terutama oleh pemikiran orientasi kultur (cultur-all oriented contestants), laki-laki putih perempuan jug harus putih, laki-laki hitam perempuan juga harus hitam. Kedua, gerakan feminis Islam yang memperjuangkan keadilan gender dengan berusaha menjelaskan bahwa perempuan dan laki-laki di bidang gender seperti seks bagaimana pun tetap berbeda. Perbedaaan ini bersifat “given” alamiyah (nature). Perbedaan ini tidak untuk saling mendominasi (mengeksploitasi) dalam sebuah relasi yang hierarkis, tetapi untuk saling mengisi dan melengkapi. Ide dasar yang diperjuangkan adalah kesatuan dan keseimbangan antara nilai maskulinitas dan nilai feminitas dengan polaritas warna yang tetap berbeda.
Rujukan,
1. R.W.J.Austin, Feminin Sofianik (Wanita Bijak) Dalam Karya Ibn ‘Arabi Dan Rumi, dalam buku Warisan Sufi Persia Abad Pertengahan (1150-1500) karya Seyyed Hossein Nasr. Hal. 405
2. Sachiko Murata, The Tao of Islam: Kitab Rujukan Tentang Relasi Gender Dalam Kosmologi Dan Teologi Islam (Bandung: Mizan, 1998)
3. Saiful Amin, S.Ag., Teologi Perempuan:Mensejajarkan Atau Menyatukan?, dalam majalah el-Harakah, No.56, Tahun XXII, Januari-Maret 2001
4. Muhammad al-Fayyadl, Wajah Perempuan Wajah Tuhan, dalam majalah Basis, No.03-04, Tahun Ke-55, Maret-April 2006
5. Ratna Megawangi, Membiarkan Berbeda? (Bandung: Mizan, 1999)
6. Mansour Fakih, Analisa Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997).

Kasan dan Kusen

2009 December 19
by ahmadsamantho
Muhammad Ainun Nadjib*


SESUDAH dibantai dengan jenis kekejaman yang sukar dicari tandingannya dalam peradaban umat manusia, penggalan Sayidina Husein putra Fatimah putri Muhammad Rasulullah SAW diarak, diseret dengan kuda sampai sejauh 1.300 kilometer. Wallahua’lam, ada yang bilang dibawa sampai ke Mesir, yang lain bilang ke Syria –sebagaimana ada beberapa makam Sunan Kalijogo di Pulau Jawa– tapi pasti pembantaian sesama muslim itu terjadi di Karbala. Orang yang mencintai beliau bisakah menangis hanya dengan mengucurkan air mata, dan bukan darah? Jutaan pencintanya memukul-mukul dada mereka agar terasa derita itu hingga ke jantung dan menggelegak ke lubuk jiwa. Ribuan lainnya membawa cambuk besi atau apa saja yang bisa melukai badan mereka agar kucuran darah itu membuat mereka tidak siapa pun kecuali Imam Husein sendiri. Orang yang mencintai melarutkan eksistensinya, melebur, hilang dirinya, dirinya sirna, menjadi orang yang dicintainya.


Keperihan maut Husein itulah yang menjadi sumber kebesaran jamaah Syii di dunia. Duka yang mendalam atas apa yang dialami cucu Nabi itulah yang membuat kaum Syiah menyerahkan hatinya dengan sangat penuh perasaan kepada komitmen ahlulbait, keluarga Nabi. Sementara di pusat Islam sendiri, Arab Saudi –kerajaan yang didirikan oleh koalisi keraton Abdul Aziz dengan ulama Wahabi– konsentrasi emosional terhadap ahlulbait sangat dicurigai sebagai gejala syirik yang melahirkan berbagai jenis bid’ah, yakni perilaku-perilaku budaya keagamaan yang diciptakan tidak atas dasar ajaran Nabi sendiri, sehingga dianggap mengotori kemurnian peribadatan Islam.
Semacam ”dendam sejarah” yang berasal dari tragedi Karbala itulah yang melahirkan soliditas sistem imamah dalam budaya keagamaan kaum Syii. Kepemimpinan dan keumatan dalam Syiah merupakan kohesi horizontal-vertikal yang sangat berbeda vitalitasnya dibandingkan dengan tradisi kaum Sunni. Seandainya di Indonesia orang mengatakan ”Gus Dur dengan 30 juta umat NU-nya” atau ”Amien Rais dengan 25 juta umat Muhammadiyahnya” –yang dimaksud adalah kaum Syii, maka tidak ada kekuatan apa pun yang bisa mengalahkan koalisi NU-Muhammadiyah dalam perpolitikan Indonesia.
Kaum Sunni menyebut Abu Bakar, Umar, dan Utsman dulu sebelum Ali. Bahkan tidak secara spesifik menyebut Hasan dan Husein. Orang Syii jengkel kepada ketiga khalifah itu karena menurut versi sejarah mereka, tatkala Nabi Muhammad SAW wafat, yang menguburkan hanya Ali, Aisyah, Fatimah, Abbas, dan seorang lagi pekerja penguburan. Sementara Abu Bakar, Umar, dan Utsman sibuk di Tsaqifah, ”KPU” yang memproses siapa pemimpin pengganti Nabi –tanpa memedulikan jenazah Nabi.
Bahkan, ketika tengah malam usai penguburan, sejumlah rombongan dipimpin Umar menggedor rumah Ali untuk memaksa menantu Nabi ini menandatangani pengesahan pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah pertama.
Sayidina Hasan, kakak Husein, juga tak kalah sialnya. Pagi-pagi, ia disuguhi racun oleh istrinya yang lantas mengaku bahwa itu atas suruhan Muawiyah. Hasan memaafkan istrinya, dan besok pagi sesudah kejahatannya dimaafkan, sang istri kembali menyuguhkan racun, Hasan meminumnya dan menemui ajal.
Dalam kandungan hati orang Syiah, memang tidak banyak orang menderita seperti Rasulullah Muhammad SAW: jenazah beliau belum diurus, orang-orang yang sangat dicintainya sudah ribut memperebutkan jabatan.
Nabi unggul dan sangat populer sepanjang sejarah, tapi rumah yang ia tempati bersama Aisyah istrinya hanya seluas 4,80 x 4,62 meter. Makhluk diciptakan oleh Allah berupa cahaya, namanya Nur Muhammad –meskipun secara biologis ia dihadirkan 600 tahun sesudah Isa/Yesus– namun semasa hidupnya ia menjahit sendiri baju robeknya, mengganjal perut laparnya dengan batu di balik ikat pinggangnya, dan waktu wafat masih punya utang beberapa liter gandum.
Manusia yang paling mencintai Allah dan paling dicintai Allah, namun Allah merelakan keningnya berdarah dilempar batu oleh pembencinya, mengizinkannya mengalami tenung sebelum menerima tiga surah firman-Nya. Tak ada kemewahan dunia apa pun melekat padanya. Bahkan, ia tak sanggup menolong Fatimah putrinya yang beberapa hari bersembunyi telanjang dalam selimut di kamar karena pakaiannya dijual Ali suaminya untuk bisa makan.
Muhammad dan keluarganya sangat disayang, bahkan dicintai dengan gelegak rasa perih, karena derita. Ia pun memilih karakter abdan nabiyya, nabi yang rakyat jelata, dan menolak ditawari Allah menjadi mulkan nabiyya, nabi yang raja diraja.
Allah menawarinya jabatan raja agung dengan kekayaan berupa gunung emas –yang ternyata memang sudah disediakan oleh-Nya, di wilayah antara Madinah dan Mekkah, yang hari ini menjadi cadangan kekayaan Arab Saudi, di samping tambang minyak temuan baru di perbatasan Saudi-Yaman yang hari ini bisa menjadi sumber konflik antara kedua negara. Sebab, jika Yaman menguasai sumber minyak itu, karena daerah geografisnya lebih rendah, maka minyak Saudi di perut bumi akan terserap olehnya.
Rasulullah pernah bersabda bahwa kelak kaumnya akan mengalami kekalahan dan hidup dalam kehinaan, karena ”hubbud dunya wa karohiyatul maut” –kemaruk pada harta dunia dan takut mati.
Wallahua’lam. Dalam hal maut, mestinya kaum Syii lebih memiliki etos dan kesadaran spesifik, karena riwayat Ali, Hasan, dan Husein yang mereka tokohkan. Maut dan derita Husein adalah sumber tenaga sejarah. Kematian Husein bukan balak atau tragedi, melainkan kebanggaan yang melahirkan kesadaran baru mengenai ideologi ”jihad” dan ‘’syahid”.
Jihad adalah persembahan total diri seseorang kepada kepentingan Allah melalui perjuangan kebenaran yang diyakini. Jihad membuat dunia menjadi kecil, remeh, dan tidak penting. Jika seseorang sudah terpojok, bedil musuh di depan dan kiri-kanannya, sementara kebuntuan di belakangnya, maka jiwa jihad menjadi menggelegak. Keterpojokan membuatnya bersyukur karena dunia, hedonisme, kemewahan, dan segala hiasannya sudah tidak punya makna lagi. Tinggal satu: Allah.
Jika Ia sendirilah yang merupakan tuan rumah dalam kehidupannya, maka kematian adalah sesuatu yang dirindukan. Maka, ia terus bersemangat untuk berperang. Bukan karena perang itu sakit atau nikmat, melainkan karena Allah memberinya jalan syahid tanpa hambatan dunia. Maka peluru musuh tidak dihindarinya, melainkan disongsongnya.
Karena itu, bisa dipahami tatkala pasukan koalisi kecele bahwa ternyata kelompok Syiah tidak begitu saja bisa diprovokasi untuk serta-merta mensyukuri kedatangan pasukan koalisi, hanya karena sepanjang hidup di Irak mereka ditekan oleh Saddam Hussein.
Akan tetapi, pada level kualitas perjuangan yang lebih tinggi, juga sangat disayangkan bahwa kaum Syiah tidak mampu secara kolektif meneruskan konsistensi etos jihad dan syahidnya sampai ke tingkat substansi yang lebih berkemuliaan. Ketika mereka melakukan pawai ke Karbala untuk mengekspresikan rasa cinta Husein, yang terjadi baru semacam pelampiasan bahwa kini Saddam penghalang mereka sudah tidak memiliki kekuatan.
Pawai itu tidak membawa mereka kepada nilai kepemimpinan dan perjuangan yang lebih tinggi yang menyangkut: (1) Nasionalisme Irak tanah persemayaman mereka, (2) Martabat bangsa-bangsa Timur Tengah, juga (3) Harga diri kaum muslimin di hadapan fundamentalisme Bush.
Pawai Karbala hanya menyampaikan kaum Syiah pada keperluan lokal kaum Syiah sendiri. Peta yang tergambar hanya kekuasaan Saddam dan eksistensi kaum Syiah di Irak. Padahal, sesungguhnya mereka kini berada dalam posisi yang relatif sama dengan Saddam dan negara-negara Arab lainnya, dalam konteks adikuasa Amerika Serikat.
Bush barusan menyatakan bahwa minyak Irak bukanlah milik Saddam dan keluarganya. Sesungguhnya Bush utamanya sedang berkata kepada monarki Arab Saudi: minyak di Saudi bukanlah milik Raja Saudi beserta para amir dan keluarga serta keluarga kerajaan. Bersiaplah pada suatu hari wacana itu akan diaplikasikan. Kerajaan Arab kini berada dalam ketakutan yang mendalam: Raja Fahd sudah hampir terkikis kesehatannya, Fahd yang menggenggam de facto kekuasaan sudah berumur 84 tahun, beberapa pangerannya sakit kaki.
Sejak 1980, Arab mengizinkan tanahnya menjadi salah satu pijakan kekuatan militer Amerika Serikat. Kerajaan mendapat jaminan bahwa keluarganya tak akan diutik-utik. Silakan ambil Irak, Suriah, atau mana pun, asal keluarga Saudi tidak diganggu. Kalau perlu, apa boleh buat, Mekkah dan Madinah dikuasai, asalkan kerajaan tetap selamat. Tapi, siapakah yang menjamin keselamatan eksistensi keraton Saudi tanpa ia sendiri membangun kekuatan di dalam dirinya? Apakah Amerika Serikat menjamin keamanan mereka, meskipun rudal-rudal Patriot milik Kerajaan Saudi di-”infak”-kan kepada pasukan koalisi untuk dipakai menghancurkan Irak, saudaranya sendiri, pada peperangan Maret-April kemarin?
Kekuasaan Saudi tak usah dibayangkan akan sanggup melindungi Mekkah dan Madinah. Tidak mustahil, dua sampai lima tahun lagi, keluarga Kerajaan Saudi tak akan sanggup mempertahankan eksistensinya dari gejolak dan pemberontakan rakyat Saudi yang sudah benar-benar sangat bosan hidup dalam situasi kenegaraan yang tanpa rasionalitas, tanpa demokrasi, tanpa kebudayaan, tanpa tradisi ilmu, tanpa etos-etos modern, dan sepertiganya kini menjadi penganggur, tidak terbiasa bekerja keras, jualan sayur saja gagal.
Kemarin saya mendatangi tumpukan batu tinggi kokoh bekas benteng pertahanan keluarga Yahudi Kaab bin Asraf di kota Madinah. Rasulullah sebelumnya telah mengumpulkan semua segmen masyarakat Madinah untuk bersama-sama menandatangani Piagam Madinah –etika masyarakat plural. Namun, Kaab melanggar perjanjian itu. Terjadi peperangan, Kaab kalah. Dan di milenium III abad ke-21 ini, Kaab akan hadir kembali mengambil Madinah.
Jadi, masalahnya bagi kaum Syiah bukan sekadar bagaimana mereka mendapatkan kemerdekaan hidup di Irak, karena sesungguhnya sekadar di Irak pun, pasca-Saddam, kemerdekaan kaum Syiah itu juga semu. Peta Timur Tengah dan dunia sudah berubah total. Konflik Sunni-Syiah seharusnya sudah menjadi sekunder. Kalau orang Syiah memukul-mukul dada mereka, merintih-rintih, menangis, dan memekik-mekik –konsentrasi keperihan itu kini tidak lagi an sich derita Sayyid Husein belasan abad yang lalu.
Kasan Kusen –demikian masyarakat santri tradisional Jawa menyebut nama kedua cucu Nabi itu– abad ke-21 tak kalah menderitanya. Mereka tak hanya dicacah-cacah tubuhnya dan dipenggal kepalanya. Mereka bahkan dirudal, dibom, dimusnahkan, disirnakan, diinjak-injak harga diri kemanusiaan dan martabat kebangsaannya, bahkan dirampok hartanya secara terang-terangan.
*Budayawan
[Kolom, GATRA, Nomor 24 Beredar Senin 28 April 2003]
Updated 15 hours ago • Comment • Like • Report Note

Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...