Jumat, 08 Februari 2013

Peristiwa akhir zaman Kalabendu



Zaman Kalabendu
Berlangsung dari tahun 1901 hingga 2009
Kini saatnya Zaman Kalabendu akan menemui masa akhir.
Nusantara yang kini kita tempati untuk hidup telah melalui banyak zaman, dari zaman yang penuh penderitaan hingga zaman penuh kesengsaraan. Kita mengenal zaman Belanda yang artinya zaman dimana Indonesia sedang dijajah Belanda, kita juga mengenal zaman Jepang yang artinya zaman dimana Indonesia sedang dijajah Jepang. Ada juga zaman leluhur, zaman walisongo, zaman kerajaan dan lain sebagainya pernah terjadi di negri ini.
1. Zaman di Indonesia.
Prabu Joyoboyo membagi zaman menjadi 3 bagian yiatu :
a. Zaman Permulaan (Kali-swara) berlangsung selama 700 tahun.
b. Zaman Pertengahan (Kali-yoga) berlangsung selama 700 tahun.
c. Zaman Akhir (Kali-sangara) berlangsung selama 700 tahun.
Untuk zaman yang ketiga, zaman Akhir (Kali sengara) terbagi dalam 7 zaman yaitu :
a. Kala-jangga (Jaman Kembang Gadung) antara tahun 1401-1500 M atau 1610 – 1709.
b. Kala-sakti Kalasekti (Jaman Kuasa) 1501-1600 M atau 1710 – 1809.
c. Kala-jaya Kalajaya (Jaman Hunggul) 1601-1700 M atau 1810 – 1909.
d. Kala-bendu (Jaman sengsara lan Angkaramurka) 1701-1800 M atau 1910 – 2009.
e. Kala-suba (Jaman Kamulyan) 1801-1900 M atau 2010 – 2109.
f. Kala-sumbaga (Jaman Kasohor) 1901-2000 M atau 2110 – 2109.
g. Kala-surasa (Jaman Alus) 2001-2100 Matau 2210 – 2109.
Bila diperhatikan pergantian zaman di Indonesia, sepertinya negri ini belum pernah menemui zaman yang menyenangkan. Zaman yang dilalui selalu saja isinya membuat rakyat menderita meskipun tidak semua rakyat Indonesia mengalaminya. Akan tetapi berdasarkan Jongko Joyoboyo sebentar lagi Indonesia akan memasuki zaman Kalasuba atau zaman suka ria. Namun sebelum memasuki zaman tersebut harus meninggalkan dulu zaman Kalabendu. Kira-kira apa yang terjadi di akhir zaman Kalabendu?
2. Kata akhir dan kata Kalabendu.
Kata akhir cenderung diartikan sebagai suatu hal yang terjadinya paling belakang setelah hal-hal yang lainnya terlebih dahulu terjadi. Sementara Kalabendu diartikan sebagai zaman sengsara atau zaman goro-goro yang terjadi di Indonesia, berlangsung sejak tahun 1901 hingga tahun 2009. Peristiwa akhir zaman Kalabendu selanjutnya dapat diartikan sebagai peristiwa paling belakang (terakhir) yang terjadi selama zaman Kalabendu berlangsung di Indonesia.
Sedangkan sebutan zaman kalabendu dapat diartikan sebagai zaman sengsara yang dialami rakyat Indonesia sejak tahun 1901 hingga 2009. Namanya juga zaman penuh kesengsaraan maka banyak peristiwa-peristiwa yang membuat rakyat sengsara seperti perang, bencana alam, pembunuhan, ketidakjelasan hukum, kejahatan dimana-mana ditambah lagi dampak dari internasional seperti krisis keuangan, krisis global dan sebagainya. Apakah kesengsaraan ini akan terus berlangsung? … rupanya tidak, tidak lama lagi semua kesengsaraan di zaman Kalabendu akan mencapai akhir peristiwa.
Kapan peristiwa akhir zaman kalabendu akan terjadi?  belum bisa dipastikan hari bulan dan tahunnya. Namun bila merujuk penentuan tahun zaman Kalabendu oleh Prabu Joyoboyo yaitu zaman Kalabendu berlangsung dari tahun 1901 hingga tahun 2009, maka peristiwa akhir Kalabendu akan terjadi di tahun 2009 ini. Padahal sekarang sudah tanggal 30 Nopember 2009, hanya tersisa satu bulan saja untuk tahun 2009 yaitu bulan Desember. Apa mungkin peristiwa akhir Kalabendu akan terjadi pada bulan Desember 2009?  Sebaiknya kita tunggu saja hari demi hari di bulan Desember 2009.
3. Hadits Nabi Muhammad SAW.
Ali Ibnu Abu Thalib ra, ia berkata: Adalah Nabi Muhammad SAW bersabda: “Seandainya usia dunia ini tidak tinggal melainkan satu hari saja lagi, tetap juga Allah SWT akan mengutus seorang lelaki dari kalangan ahli baitku yang akan memenuhi dunia dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya penuh kezaliman dan kemaksiatan”. ( Riwayat Ahmad ) Ada 3 point penting dalam hadits tersebut. Pertama dunia, kedua tinggal satu hari dan ketiga Tuhan mengutus seorang laki-laki. Untuk pertama kata dunia tersebut bukan untuk planet bumi karena bila planet bumi usianya tinggal satu hari, itu artinya sedang terjadi matahari terbit dari barat. Padahal bila sudah terjadi peristiwa itu maka Tuhan tidak akan mengutus siapapun lagi.
Kedua kata tinggal satu hari usia dunia. Untuk kalimat ini diartikan bila usia Indonesia hanya tersisa satu hari yang apabila sisa usia satu hari tersebut dibiarkan dan tidak diselamatkan, maka Indonesia akan benar-benar kiamat. Sementara penyebab terjadinya hingga usia Indonesia tinggal satu hari tiada lain perang agung seperti yang disebutkan dalam Sabda Gaib Prabu Joyoboyo.Karena adanya perang agung yang kematiannya banyak juga terjadi kehancuran baik di kota-kota maupun di desa-desa maka usia Indonesia akan tinggal satu hari.
Tapi jangan kawatir karena setelah itu ada point ketiga yaitu Tuhan mengutus seorang lelaki muda untuk menyelamatkan Indonesia dari kehancuran. Lelaki muda inilah dia Satrio Piningit yang keberadaannya masih misterius hingga saat ini. Kehadiran si satrio itu di Indonesia tentunya akan beraksi sedemikian rupa menyelamatkan Indonesa yang sedang terjadi perang agung. Setelah perang agung tersebut dapat diatasi maka bertambahlah usia Indonesia dan saat itu zaman akan berganti dari zaman penuh penderitaan ke zaman kemuliaan.
Dari Hadits Nabi Muhammad SAW di atas dapat dimengerti bila Nabi telah mengetahui kelak di Indonesia akan terjadi kehancuran yang membawa negri ini menuju kiamat. Hadirnya lelaki muda yaitu Satrio Piningit menjadi pertanda bila zaman telah berganti dari zaman Kalabendu ke zaman Kalasuba. Untuk itu kalimat usia dunia tinggal satu hari oleh karena perang agung merupakan peristiwa akhir Kalabendu. Sudah tentu sebagai peristiwa kahir di zaman Kalabendu maka tidak ada peristiwa lain lagi di zaman itu tetapi muncul peristiwa baru di zaman baru pula.
4. Ugo Wangsit Siliwangi.
Prabu Siliwangi dalam Ugo Wangsitnya menyebutkan “Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara”. Penyebutan Pemuda Gembala dalam kalimat tersebut tiada lain dialah Satrio Piningit yang dalam Hadits Nabi SAW di atas merupakan lelaki muda yang diutus Tuhan Sang Pencipta. Kalimat tersebut bila dimengerti merupakan pesan bagi rakyat Indonesia dari Prabu Siliwangi agar mempersiapkan diri sebelum terjadinya huru-hara.
Penyebutan kalimat huru hara yang bermula dari satu daerah lalu meluas di seluruh negara, hal ini senada dengan perang agung menurut Prabu Joyoboyo. Karena huru hara atau perang agung inilah kelak usia dunia (Indonesia) hanya tersisa satu hari saja menurut Nabi SAW. Terjadinya peristiwa huru hara atau perang agung inilah yang disebut peristiwa akhir zaman Kalabendu. Tapi ini bukan goro-goro karena goro-goro penderitaannya lama dan bertahun-tahun, namun untuk peristiwa akhir Kalabendu hanya sebentar yang kemudian muncul Pemuda Penggembala mengakhiri zaman Kalabendu.
5. Sabda Gaib Prabu Joyoboyo.
Prabu Joyoboyo dalam Sabda Gaibnya menyebutkan “ing madura nagari meh ghatuk lan Surabaya,sabibaripun tumuli,wiwit dahuru lonlona saya lami saya ndadi Temah peperangan agung ,rurusuh mratah sabumi mungsuhe datan karuwan .polahe jalma keha sami,kadi gabah ingeteran ,montang manting rebut urip Papati atumpuk undung ,desa desa morat marit , kutha kutha karusakan” ……. Selanjutnya …….“wus mantun Denya piningit ,kinen anyapih sami.kang samya gung perang pupuh lan nyirnaken durmala,mamalaning nungsa jawi”.
Artinya Setelah itu terjadi konflik besar, kerusuhan merata di seluruh bumi, penyebabnya tidak jelas, tingkah manusia sama saja, bagaikan gabah ditampi, kocar-kacir berebut hidup. Kematian massal terjadi di mana-mana, desa carut-marut, kota-kota banyak terjadi kerusakan……. Selanjutnya …….sudah keluar dari tempat persembunyian, sudah diurus sama hasilnya, yang mendapatkan titah untuk menggelar perang pupuh, untuk menghapuskan kejahatan, yang menjadi bencana manusia Jawa.
Perang agung yang diungkapkan dalam Sabda Gaib di atas yang menjadi rujukan utama peristiwa akhir zaman Kalabendu. Huru hara atau perang agung yang merata ke seluruh wilayah Nusantara bila memang benar-benar terjadi, maka Indonesia nyata-nyata akan menuju kiamat hingga usianya tersisa cuma satu hari saja. Tanda dari terjadinya peristiwa ini yaitu apabila Jawa dan Madura hampir tersambung. Padahal sudah jelas adanya jembatan Suramadu yang menghubungkan Jawa dan Madura . Jadi tinggal menunggu waktu kapan dimulai perang atau huru haranya di Indonesia.
Ada 2 fenomena menarik dalam Sabda Gaib Prabu Joyoboyo yaitu pertama tiba-tiba terjadi huru hara atau perang agung dan yang kedua muncul Satrio Piningit mengadakan perang pupuh. Untuk fenomena pertama terjadinya perang agung, peristiwanya tidak terduga yang secara tiba-tiba rakyat menjadi beringas seperti “gabah di tampi” artinya seperti tumpukan daun kering di sulut api, maka api akan cepat menjalar dan membakar daun-daun kering tersebut berapapun banyaknya dedaunan kering.
Begitulah kiranya kelak perang agung dimulai, tiba-tiba rakyat mengamuk menjadi beringas emosi amarah lalu melakukan kerusuhan dan pengerusakan di mana-mana. Hal ini memancing rakyat lainnya untuk berbuat yang sama sehingga sebagian besar rakyat Indonesia akan melakukan kerusuhan dan pengerusakan dimana-mana. Hasilnya akan banyak kematian, rakyat dengan rakyat saling berperang tidak jelas apa sebenarnya yang akan mereka dapatkan dari perang tersebut. Maka beruntunglah bagi mereka rakyat Indonesia yang masih hidup dan tetap selamat.
Selanjutnya fenomena kedua muncul Satrio Piningit mengadakan perang pupuh. Secara tiba-tiba Satrio Piningit muncul dari pingitan atau persembunyiannya (ntah dimana dia bersembunyi). Kemunculannya itu rupanya untuk mengadakan perang pupuh. Tidak jelas apa maksud Prabu Joyoboyo memberi nama perang pupuh tersebut, apa Satrio Piningit akan ikutan perang agung atau yang lainnya. Akan tetapi dugaan sementara perang pupuh dapat dimengerti sebagai perangnya Satrio Piningit di awal kemunculannya untk mengakhiri perang agung yang sedang terjadi di seluruh wilayah Indonesia.
Hadirnya Satrio Piningit mengadakan perang pupuh sepertinya bukan untuk mengalahkan rakyat, akan tetapi untuk mengakhiri perang agung saja. Selanjutnya rakyat dan Indonesia perlahan-lahan memulai hidup baru di zaman baru yaitu zaman Kalasuba atau zaman suka ria kata Prabu Joyoboyo. Tetapi untuk mencapai keadaan itu tentunya harus melewati perang agung dan perang pupuh terlebih dahulu. Dalam hal ini perang agung merupakan peristiwa akhir di zaman Kalabendu Indonesia. Sementara perang pupuh merupakan peristiwa awal di zaman Kalasuba Indonesia.
6. Peristiwa akhir Zaman Kalabendu bukan Goro-goro.
Muncul sebuah pertanyaan, apakah peristiwa akhir zaman Kalabendu juga merupakan goro-goro. Beberapa pihak menyebut segala peristiwa di zaman Kalabendu merupakan goro-goro baik itu di awal, di tengah maupun di akhir zaman kalabendu. Permadi SH salah satunya, bila ditanya sesuatu selalu jawabnya goro-goro, pemilu legislatif ada goro-goro, pilkada ada goro-goro, pilpres ada goro-goro. Ditanya lagi ke depan bagaimana? jawabnya ke depan Indonesia ada goro-goro. Memang diakui Zaman Kalabendu identik sekali dengan goro-goro.
Apabila mau mencermati lebih dalam lagi, sebenarnya peristiwa akhir Kalabendu berbeda dengan yang biasa disebut goro-goro. Lantas apa sebutan yang cocok bagi peristiwa akhir zaman Kalabendu. Sampe saat ini belum ditemukan sebutan yang pas buat peristiwa akhir zaman Kalabendu, akan tetapi bila mau meminjam istilah dari Prabu Joyoboyo dan Prabu Siliwangi, maka peristiwa akhir zaman Kalabendu menurut Prabu Siliwangi disebut dengan huru hara. Sementara menurut Prabu Joyoboyo disebut dengan perang agung. Artinya akan terjadi huru hara atau perang agung di akhir zaman Kalabendu tapi itu bukan goro-goro.
Kita ketahui Prabu Joyoboyo sempat memberikan sinyal bila negara Indonesia akan dipimpin oleh NoToNaGoRo. Penyebutan notonagoro cenderung diartikan sebagai menata negara sebelum terjadinya peristiwa goro-goro di zaman Kalabendu. Rupanya sinyal yang diberikan Prabu Joyoboyo benar terjadi, setelah Indonesia dipimpin oleh 5 presiden yaitu Sukarno, Suharto, Habibi, Gusdur dan Megawati maka pada saat SBY menjadi presiden, goro-goropun dimulai. Ada tsunami, gempa bumi, gunung meletus, penggusuran, rusuh dimana-mana dan lain sebagainya.
Itulah goro-goro sebagai suatu peristiwa yang hingga saat ini berlarut-larut masih terjadi dan menyengsarakan rakyat Indonesia. Tapi goro-goro itupun ada puncaknya yaitu yang dikenal dengan sebutan Lawon Sapta Ngesthi Aji merujuk ramalan Sabdo Palon. Peristiwa puncak goro-goro itu terjadi pada Desember 2007 yang saat itu banjir terjadi dimana-mana bahkan di daerah yang tidak pernah banjirpun akhirnya kebanjiran juga. Ini adalah goro-goro yang peristiwanya menyengsarakan rakyat Indonesia dalam waktu lama berlarut-larut, sementara pemimpin dan pemerintah malah sibuk sendiri dan lupa nasib rakyat.
Untuk peristiwa akhir Kalabendu berlangsungnya tidak lama juga tidak berlarut-larut. Merujuk Sabda Gaib Prabu Joyoboyo yang menyebutkan bila menjelang kemunculan Satrio Piningit sebagai tanda berakhirnya zaman Kalabendu akan terjadi perang agung di Indonesia dengan tingkat kematian sangat tinggi. Kita lihat kembali pada kerusuhan Mei 1998 yang hanya dipicu oleh 2 hari demonstrasi reformasi sudah berakibat porak poranda sebagian besar wilayah Indonesia. Apalagi sekarang yang rakyat terbiasa rusuh, untuk terpicu ke arah perang yang kematiannya tinggi mungkin akan terjadi tidak membutuhkan waktu lama.
Memperkirakan potensi rusuh rakyat Indonesia saat ini lalu dihubungkan dengan sabda gaib Prabu Joyoboyo maka perang agung sebagai peristiwa akhir zaman Kalabendu diperkirakan terjadi hanya beberapa minggu saja dan tidak akan berlarut-larut, karena bila kematiannya banyak dan daerah hancur-hancuran dibiarkan maka bisa kiamat beneran. Untuk itu muncullah Satrio Piningit mengakhiri perang agung tersebut. Dengan demikian perang agung sebagai peristiwa akhir zaman kalabendu bukan goro-goro.
7. Menjelang Zaman Kalasuba.
Setelah Indonesia mengalami zaman kalabendu sebagai zaman yang penuh penderitaan bagi rakyat Indonesia, maka selanjutnya zaman inipun akan ditinggalkan berganti dengan zaman baru yaitu zaman Kalasuba sebagai zaman yang penuh suka ria. Untuk memasuki zaman baru tersebut rupanya harus ada perang sebagai peristiwa terakhir di zaman Kalabendu. Meskipun peristiwanya tidak lama dan berlarut-larut, namun kelak akan ditemui banyak rakyat Indonesia yang kehilangan nyawa, kehilangan sanak saudara, harta benda, sandang papan dan sebagainya.
Di tengah-tengah berlangsungnya huru hara atau perang agung tepatnya menjelang datangnya zaman baru yaitu zaman Kalasuba, ada fenomena alam yang cukup menarik yaitu melintasnya komet di langit dengan ekornya yang sangat panjang dan dapat dilihat dengan mata langsung tanpa harus menggunakan alat bantu penglihatan. Fenomena alam ini bukanlah hal yang biasa tetapi merupakan hal yang sangat jarang terjadi adanya komet dengan ekornya yang panjang melintas bahkan bisa dilihat oleh siapa saja di mana saja tempatnya di seluruh muka bumi ini.
Prabu Joyoboyo dalam bait 160 Jongkonya menyebutkan “sebelumnya ada pertanda bintang pari panjang sekali tepat di arah Selatan menuju Timur lamanya tujuh malam hilangnya menjelang pagi sekali bersama munculnya Batara Surya”. Dari kalimat tersebut sudah jelas kelak akan ada komet yang sangat panjang ekornya bahkan karena begitu panjangnya komet tersebut dapat terlihat hingga 7 hari lamanya. Terlihat satu malam saja yaitu selama 12 jam nampak sekali panjang ekornya, apalagi hingga 7 malam, betapa panjang ekor komet tersebut.
Senada dengan Prabu Joyoboyo, Harun Yahya dalam bukunya juga menyebutkan “Sebuah bintang dengan ekor bercahaya akan muncul dari Timur sebelum munculnya Al Mahdi. (Ka’b al-Ahbar)”. Karena fenomena melintasnya komet 7 hari tepat sebelum munculnya Satrio Piningit, otomatis peristiwa itu terjadi pada saat huru hara atau perang agung masih berlangsung. Sehingga rakyat Indonesia dapat memperkirakan sendiri apabila ada komet 7 hari di saat huru hara / perang terjadi nanti, itu tandanya Satrio Piningit akan segera muncul. Fenomena komet 7 hari ini terjadi tepat menjelang zaman Kalasuba.
Sumber : http://eddycorret.wordpress.com/2009/11/30/peristiwa-akhir-zaman-kalabendu/

Kamis, 07 Februari 2013

SERAT KALATIDHA (Ronggo Warsito)



Salah satu karya besar dari RADEN Mas Ngabehi Ronggowarsito, Serat Kalatidha yang berisi gambaran zaman penjajahan yang disebut "zaman edan".Lahir pada 15 Maret 1802 dengan nama asli Bagus Burham. Ayahnya seorang carik Kadipaten Anom yang bernama Raden Mas Pajangswara. Ibunya Raden Ayu Pajangswara merupakan keturunan ke-9 Sultan Trenggono dari Demak.Pada 24 Desember 1873, meninggal dunia dengan tenteram. Tempat peristirahatan terakhirnya terletak di Palar, sebuah desa kecil di wilayah Klaten.

Mangkya darajating praja
Kawuryan wus sunyaturi
Rurah pangrehing ukara
Karana tanpa palupi
Atilar silastuti
Sujana sarjana kelu
Kalulun kala tida
Tidhem tandhaning dumadi
Ardayengrat dene karoban rubeda


Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot.
Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena sudah tak ada yang dapat diikuti lagi.
Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama.
Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh keragu-raguan).
Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan.


Ratune ratu utama
Patihe patih linuwih
Pra nayaka tyas raharja
Panekare becik-becik
Paranedene tan dadi
Paliyasing Kala Bendu
Mandar mangkin andadra
Rubeda angrebedi
Beda-beda ardaning wong saknegara


Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik,
Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik,
namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan.
Oleh karena daya jaman Kala Bendu.
Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi.
Lain orang lain pikiran dan maksudnya.


Katetangi tangisira
Sira sang paramengkawi
Kawileting tyas duhkita
Katamen ing ren wirangi
Dening upaya sandi
Sumaruna angrawung
Mangimur manuhara
Met pamrih melik pakolih
Temah suka ing karsa tanpa wiweka


Waktu itulah perasaan sang Pujangga menangis, penuh kesedihan,
mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan seseorang.
Tampaknya orang tersebut memberi harapan menghibur
sehingga sang Pujangga karena gembira hatinya dan tidak waspada.


Dasar karoban pawarta
Bebaratun ujar lamis
Pinudya dadya pangarsa
Wekasan malah kawuri
Yan pinikir sayekti
Mundhak apa aneng ngayun
Andhedher kaluputan
Siniraman banyu lali
Lamun tuwuh dadi kekembanging beka


Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu.
Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar,
bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali.
Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih gunanya menjadi pemuka/pemimpin ?
Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja.
Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah kerepotan.


Ujaring panitisastra
Awewarah asung peling
Ing jaman keneng musibat
Wong ambeg jatmika kontit
Mengkono yen niteni
Pedah apa amituhu
Pawarta lolawara
Mundhuk angreranta ati
Angurbaya angiket cariteng kuna


Menurut buku Panitisastra (ahli sastra), sebenarnya sudah ada peringatan.
Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, orang yang berbudi tidak terpakai.
Demikianlah jika kita meneliti. Apakah gunanya meyakini kabar angin akibatnya hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik membuat karya-karya kisah jaman dahulu kala.


Keni kinarta darsana
Panglimbang ala lan becik
Sayekti akeh kewala
Lelakon kang dadi tamsil
Masalahing ngaurip
Wahaninira tinemu
Temahan anarima
Mupus pepesthening takdir
Puluh-Puluh anglakoni kaelokan


Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala,
guna membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul.
Sebenarnya banyak sekali contoh -contoh dalam kisah-kisah lama,
mengenai kehidupan yang dapat mendinginkan hati, akhirnya “nrima”
dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan.
Yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian yang aneh-aneh.


Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Milu edan nora tahan
Yen tan milu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada


Hidup didalam jaman edan, memang repot.
Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman
tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan.
Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada.


Semono iku bebasan
Padu-padune kepengin
Enggih mekoten man Doblang
Bener ingkang angarani
Nanging sajroning batin
Sejatine nyamut-nyamut
Wis tuwa arep apa
Muhung mahas ing asepi

Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma


Segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan hati. Betul bukan ?
Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian.
Namun sebenarnya didalam hati repot juga. Sekarang sudah tua,
apa pula yang dicari. Lebih baik menyepi diri agar mendapat ampunan dari Tuhan.


Beda lan kang wus santosa
Kinarilah ing Hyang Widhi
Satiba malanganeya
Tan susah ngupaya kasil
Saking mangunah prapti
Pangeran paring pitulung
Marga samaning titah
Rupa sabarang pakolih
Parandene maksih taberi ikhtiyar


Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rakhmat Tuhan.
Bagaimanapun nasibnya selalu baik.
Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah.
Namun demikian masih juga berikhtiar.


Sakadare linakonan
Mung tumindak mara ati
Angger tan dadi prakara
Karana riwayat muni
Ikhtiyar iku yekti
Pamilihing reh rahayu
Sinambi budidaya
Kanthi awas lawan eling
Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma


Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya tidak menimbulkan persoalan.
Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa manusia itu wajib ikhtiar,
hanya harus memilih jalan yang baik.
Bersamaan dengan usaha tersebut juga harus awas dan
waspada agar mendapat rakhmat Tuhan.


Ya Allah ya Rasulullah
Kang sipat murah lan asih
Mugi-mugi aparinga
Pitulung ingkang martani
Ing alam awal akhir
Dumununging gesang ulun
Mangkya sampun awredha
Ing wekasan kadi pundi
Mula mugi wontena pitulung Tuwan


Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih,
mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu disaat-saat menjelang akhir ini.
Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana.
Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami.


Sageda sabar santosa
Mati sajroning ngaurip
Kalis ing reh aruraha
Murka angkara sumingkir
Tarlen meleng malat sih
Sanityaseng tyas mematuh
Badharing sapudhendha
Antuk mayar sawetawis
BoRONG angGA saWARga meSI marTAya


Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa,
seolah-olah dapat mati didalam hidup.
Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara murkaan.
Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan sekedarnya.
Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami.

(indra.blogspot.com)

MENELISIK ERA SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU.




Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (PINANDITO) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum  / petunjuk Allah SWT  (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah SWT, insya Allah bangsa ini akan mencapai  zaman keemasan sejati.
      Selain masing masing satrio itu menjadi ciri ciri dari masing masing pemimpin NKRI pada setiap masanya, ternyata  tujuh sifat satrio piningit itu melambangkan tujuh sifat yang menyatu dalam diri seorang Pandita yang telah kita tahu adalah putra Betara Indra yang juga Budak Angon seperti telah diungkap diatas. Berikut adalah sifat sifat "Satrio Piningit" itu.

* Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro.

Melambangkan orang yang sepanjang hidupnya terpenjara namun namanya harum mewangi . Sifat ini hanya dimiliki oleh orang yang telah menguasai Artadaya (ma'rifat sebenar benar ma'rifat). Diberikan anugerah kesaktian oleh Allah SWT, namun tidak pernah menampakan kesaktiannya itu. Jadi sifat ini melambangkan orang berilmu yang amat sangat tawadhu'.

* Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar.

Melambangkan orang yang kaya akan ilmu dan berwibawa, namaun hidupnya kesandung kesampar, artinya penderitaan dan pengorbanan telah menjadi teman hidupnya yang setia. Tidak terkecuali fitnah dan caci maki selalu menyertainya. Semua itu dihadapinya dengan kesabaran,ikhlas dan tawakal.

* Satrio Hamong Tuwuh.

Melambangkan orang yang memiliki dan membawa kharisma leluhur suci serta memiliki tuah karena itu selalu mendapatkan pengayoman dan petunjuk dari Allah SWT. Dalam budaya jawa orang tersebut biasanya ditandai dengan wasilah memegang pusaka tertentu sebagai perlambangnya.

* Satrio Boyong Pambukaning Gapuro

Melambangkan orang yang melakukan hijrah dari suatu tempat ke tempat lain yang diberkahi Allah SWT atas petunjuk-Nya. Hakekat hijrah ini adalah sebagai perlambang diri menuju pada kesempurnaan hidup (kasampurnaning ngaurip). Dalam kaitan ini maka tempat yang dituju itu adalah lebak cewene = gunung perahu = semarang tembayat.

* Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu.

Melambangkan orang yang memiliki enam sifat diatas. Sehingga orang tersebut digambarkan sebagai seorang pinandhita atau alim yang selalu mendapat petunjuk dari Allah SWT. Maka hakekat Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu adalah utusan Allah SWT atau bisa dikatakan seorang Aulia.

* Serat Kalatidha Ronggowarsito.

Guna melengkapi wacana kita tentang sifat dan karakter "satrio piningit" yang telah diuraikan diatas, ada baiknya kita cermati pula Serat Kaladhita karya Ronggowarsito yang tertuang dalam serat centhini jilid IV (karya susuhunan Pakubuwono V) pada pupuh 257 dan 258. Kutipan ini menggambarkan situasi yang terjadi dan akhirnya muncul Satrio Piningit yang dinanti :

Wong agunge padha jail kurang tutur,marma jeng pamasa,tanpa paramarteg dasih, dene datan ana wahyu kang sanyata.
Artinya:
Para pemimpinnya berhati jahil, bicaranya ngawur, tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang sejati.

Keh wahyuning eblislanat kang tamurun,apangling kang jalma, dumrunuhsalin sumalin,wong wadon kang sirna wiwirangira
Artinya:
Wahyu yang turun adalah wahyu dari iblis dan sulit bagi kita membedakannya,para wanitanya banyak yang kehilangan rasa malu.

Tanpa kangen mring mitra sadulur, tannawarta nyata, akeh mlaratmawarni, daya deye kalamun tyase nalangsa.
Artinya:
Rasa persaudaraan meluntur, tidak saling memberi berita dan banyak orang miskin beraneka macam yang sangat menyedihkan kehidupannya.

Krep paprangan,sujana kapontit nurut,durjana susila dadra andadi,akeh malingmalandang marang ing marga.
Artinya:
Banyak peperangan yang melibatkan para penjahat,kejahatan / perampokan dan pemerkosaan makin menjadi jadi dan banyak pencuri malang melintang di jalan jalan.

Bandhol tulus, mendhosol rinamu puguh, krep grahana surya, kalawan grahana sasi,jawah lindhu gelap cleret warsa.
Artinya:
Alam pun ikut terpengaruh dengan banyak terjadi gerhana matahari dan bulan, hujan debu dan gempa bumi.

Prahara gung, salah mangsa dresing surur, agung prang rusuhan,mungsuheboya katawis,tangeh lamun tentreming wardaya.
Artinya:
Angin ribut dan salah musim,banyak terjadi kerusuhan seperti perang yang tidak ketahuan mana musuhnya yang menyebabkan tidak mungkin ada rasa tentram di hati.

Dalajading praja kawuryan wus suwung, lebur pangreh tata,karana tanpa palupi,pan wus tilar silastuti tata.
Artinya:
Kewibawaan negara tidak ada lagi,semua tata tertib,keamanan,dan aturan telah ditinggalkan.

Prasujana,sarjana satemah kelu, klulun kalathida,tidhem tandhaning dumadi,hardayengrat dening karoban rubeda.
Artinya:
Para penjahat maupun para pemimpin tidak sadar apa yang diperbuat dan selalu menimbulkan masalah / kesulitan.

Sitipati nareprabu utamestu,papatih nindhita,pra nayaka tyas basuki,panekare becik becik cakrak cakrak.
Artinya:
Para pemimpin mengatakan seolah olah bahwa semua berjalan dengan baik padahal hanya sekedarmenutupi yang jelek.

Nging tan dadya,paliasing kalabendu,mandar sangking dadra,rubeda amhrubedi,beda beda hardaning wong sanagara.
Artinya:
Yang menjadi pertanda zaman kalabendu,makin lama makin menjadi kesulitan yang sangat, dam berbeda beda tingkah laku/pendapat orang senegara.

Katatangi tangising mardawa-lagu,kwilet tyas duhkita,kataman ring reh wirangi,dening angupaya sandi samurana.
Artinya:
Disertai dengan tangis dan kedukaan yang mendalam,walaupun kemungkinan dicemooh,mencoba untuk melihat tanda tanda yang tersembunyi dalam peristiwa ini.

Ing paniti sastra wawarah,sung pemut, ing zaman musibat,wong ambeg jatmika kontit,kang mangkono yen niteni lamampahan.

Artinya :
Memberikan peringatan pada zaman yang kalut dengan bijaksana, begitu agar kejadiannya / yang akan terjadi bisa jadi peringatan.

Nawung krida, kang menangi jaman gemblung, iya jaman edan, ewuh aya kang pambudi, yen meluwa edan yekti nora tahan.

Artinya :
Untuk dibuktikan, akan mengalami jaman gila, yaitu zaman edan, sulit untuk mengambil sikap, apabila ikut gila/edan tidak tahan.

Yen tan melu, anglakoni wus tartamtu, boya keduman, melik kalling donya iki, satemahe kaliren wekasane.
Artinya :
Apabila tidak ikut menjalani, tidak kebagian untuk memiliki harta benda, yang akhirnya bisa kelaparan.

Wus dilalah, karsane kang Among tuwuh, kang lali kabegjan, ananging sayektineki, luwih begja kang eling lawan waspada.
Artinya :
Sudah kepastian, atas kehendak Allah SWT, yang lupa untuk mengejar keberuntungan, tapi yang sebetulnya, lebih beruntung yang tetap ingat dan waspada (dalam perbuatan berbudi baik dan luhur).

Saka marmaning Hayang Sukma, jaman Kalabendu sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenengan nata, ing kono raharjanira, karaton ing tanah Jawa, mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka.
Artinya :Atas izin Allah SWT, zaman Kalabendu hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Indonesia menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara murkapun mereda.

Marga sinapih rawuhnya, nata ginaib sanyata, wiji wijiling utama, ingaranan naranata, kang kapisan karanya, adenge tanpa sarana, nagdam makduming srinata, sonya rutikedatonnya.
Artinya :
Kedatangan pemimpin baru tidak terduga, seperti muncul secara gaib, yang mempunyai sifat-sifat utama.

Lire sepi tanpa srana, ora ana kara-kara, duk masih keneker Sukma, kasampar kasandhung rata, keh wong katambehan ika, karsaning Sukma kinarya, salin alamnya, jumeneng sri pandhita.
Artinya :
Datangnya tanpa sarana apa-apa, tidak pernah menonjol sebelumnya, pada saat masih muda, banyak mengalami halangan dalam hidupnya, yang oleh izin Allah SWT, akan menjadi pemimpin yang berbudi luhur.

Luwih adil paraarta, lumuh maring branaarta, nama Sultan Erucakra, tanpa sangakan rawuhira, tan ngadu bala manungsa, mung sirollah prajuritnya, tungguling dhikir kewala, mungsuh rerep sirep sirna.
Artinya :
Mempunyai sifat adil, tidak tertarik dengan harta benda, bernama Sultan Erucakra (pemimpin yang memiliki wahyu), tidak ketahuan asal kedatangannya, tidak mengandalkan bala bantuan manusia, hanya sirullah prajuritnya (pasukan Allah) dan senjatanya adalah se-mata2 dzikir, musuh semua bisa dikalahkan.

Tumpes tapis tan na mangga, krana panjenengan nata, amrih kartaning nagara, harjaning jagat sadaya, dhahare jroning sawarsa, denwangeni katahhira, pitung reyal ika, tan karsa lamun luwiha.
Artinya :emua musuhnya dimusnahkan oleh sang pemimpin demi kesejahteraan negara, dan kemakmuran semuanya, hidupnya sederhana, tidak mau melebihi, penghasilan yang diterima.

Bumi sakjung pajegira, amung sadinar sawarsa, sawah sewu pametunya, suwang ing dalem sadina, wus resik nir apa-apa, marmaning wong cilik samya, ayem enake tysira, dene murah sandhang teda.
Artinya :
Pajak orang kecil sangat rendah nilainya, orang kecil hidup tentram, murah sandang dan pangan.

Tan na dursila durjana, padha martobat nalangas, wedi willating nata, adil asing paramarta, bumi pethik akukutha, parek lan kali Katangga, ing sajroning bubak wana, penjenenganin sang nata.
Artinya :
Tidak ada penjahat, semuanya sudah bertobat, takut dengan kewibawaan sang pemimpin yang sangat adil dan bijaksana.

Dari gambaran yang tertulis di dalam Serat Kalatidha di atas, maka kita akan mendapatkan gambaran yang sama dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Percaya atau tidak, kenyataannya semua yang telah digambarkan para leluhur nusantara ini telah terjadi dan sedang berlangsung serta insya allah akan terjadi, baik lambat ataupun cepat. Karena apa yang telah dituangkan para leluhur kita dalam bentuk karya sastra adalah hasil “olah batin” ataupun “perjalanan spiritual” beliau-beliau di dalam menangkap lambang-lambang-Nya di alam nyata maupun gaib. Inilah yang diistilahkan dalam kawruh jawa sebagai Sastrajendra Hayuningrat.
(sastra tanpa wujud – papan tanpa tulis, tulis tanpa papan). Sehingga dalam mengungkapkannya penuh dengan perlambang (pasemon ataupun sanepan). Semuanya hanya ingin mengingatkan kita anak cucu leluhur nusantara ini untuk senantiasa Eling dan Waspada.


Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...