Sabtu, 08 Maret 2014

Salah Kaprah Soal Cinta




Oleh : Jacinta F. Rini

Immature people falling in love destroy each other's freedom, create a bondage, make a prison. Mature persons in love help each other to be free; they help each other to destroy all sorts of bondages. And when love flows with freedom there is beauty. When love flows with dependence there is ugliness
(OSHO)

Kalimat di atas sengaja di tampilkan untuk menimbulkan kontras dan keterkejutan terhadap mereka yang selama ini menganggap cinta sebagai benda statik yang akan terus begitu sepanjang masa, atau sesuatu yang akan di capai ketika menikah. Pengertian ini telah membawa banyak kekecewaan dalam kehidupan berpasangan maupun berkeluarga. Salah satu penelitian yang dimuat dalam berita online memperlihatkan tahun 2010 angka perceraian mencapai rekor tertinggi selama 5 tahun terakhir yakni 285.184 (sumber : Direktur Jenderal Badilag MA, Agung Wahyu Widiana). Berbagai alasan yang melatarbelakangi perceraian, mulai dari faktor cemburu, masalah ekonomi, ketidakharmonisan hingga masalah politik yang rupanya kian turut berkontribusi dalam menceraiberaikan perkawinan.
Selain itu, jumlah kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Indonesia dari tahun ke tahun juga semakin meningkat, terlihat dari laporan dari berbagai daerah di Indonesia, masing-masing menunjukkan peningkatan signifikan. Misalnya, Kepala Badan Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Anak dan Keluarga  Berencana (BP3AKB) Jateng Soelaimah mengatakan, kasus kekerasan di 35 kabupaten/kota di tahun 2010 mencapai 2.829 dan hingga semester I/2011 tercatat 1.234 kasus. Di wilayah lain seperti Tegal, Tuban, Makassar, Papua, bahkan Jakarta, tingkat KDRT juga terbilang tinggi. Beberapa alasan yang melatarbelakangi adalah faktor ekonomi, minuman keras, rendahnya tingkat pendidikan serta faktor usia dini. Menurut laporan PLAN, 44% kasus KDRT dengan frekuensi tinggi, dialami wanita yang menikah di usia dini, sementara 56% perempuan mengalami KDRT dalam frekuensi rendah; dan laporan tersebut mengindikasikan banyaknya perkawinan anak (13 - 18 tahun). Faktor tradisi, masalah social - ekonomi, perilaku seksual dan kehamilan yang tidak dikehendaki, rendahnya pengetahuan tentang reproduksi, rendahnya pendidikan orangtua serta lemahnya penegakkan hukum menjadi persoalan yang memicu terjadinya perkawinan usia dini.  Pertanyaannya, apa sebenarnya yang terjadi ketika mengawali sebuah hubungan ? apakah hubungan yang dilandasi oleh cinta sudah pasti akan abadi ? Apakah hubungan yang tidak abadi karena tidak ada cinta ? pertanyaan semacam ini kerap muncul dalam pemikiran maupun asumsi-asumsi. Marilah kita telaah bersama.

Ada beberapa jenis cinta di dalam berbagai versi dan definisi para pakarnya yang dapat di unduh maupun di pelajari lewat berbagai buku. Oleh karenanya, dalam artikel ini kita tidak akan membahas jenis cinta, maupun manifestasinya,  namun akan membatasi pembahasan pada persoalan problem perkawinan.   

It needs love to make to make two become one
Kalimat di atas bisa benar, tapi bisa pula keliru jika mengartikannya secara sempit dan dangkal. Sebab, makna cinta tidak berhenti pada rasa senang terhadap sesuatu, seseorang maupun lawan jenis (pacar, calon suami atau calon istri). CS. Lewis mengkategorikan perasaan "senang dan suka" di tingkat terbawah dari derajat intensitas cinta; rasa senang dan suka ini muncul karena di antara kedua pihak ada kesamaan, sama-sama senang nonton bioskop, menyukai group musik yang sama, mempunyai tempat makan favorit yang sama, sedang menyukai kegiatan yang sama, entah itu demonstrasi atau sama-sama ikut menjadi pendukung sebuah gerakan. Kekuatan dan durasi perasaan suka ini sangat lemah karena sifatnya yang situasional dan temporer; dan hubungan yang terbentuk atas dasar perasaan suka ini pun rentan persoalan karena tidak punya fondasi yang kuat. Sementara, banyak orang yang mengambil keputusan untuk menikah atas dasar kuantitas kesamaan, karena rasionalitas kedua pihak terhalang oleh emosi jiwa serta fantasi fairy tale "happily ever after".    
Selama ini banyak orang umumnya menganggap cinta adalah sebuah produk pabrikan dan bersifat one for all. Ketika diantara kedua manusia ada cinta, maka semua persoalan selesai atau akan selesai. Sayangnya banyak pula yang lupa bahwa definisi cinta yang digunakan sebagai acuan penilaian kualitas dan masa depan hubungan, adalah perasaan "suka dan senang". Bagi Scott Peck dalam bukunya The Roadless Travelled, cinta bukanlah perasaan, melainkan tindakan nyata "The will to extend one's self for the purpose of nurturing one's own or another's spiritual growth". Motivasi dan tindakan untuk membuat diri sendiri dan orang lain yang "dicintai" bertumbuh, menjadi pribadi yang punya identitas sejati, dan menggenapi panggilan hidupnya, itulah yang dinamakan cinta. Dan karena itulah, cinta tidak mungkin bersifat mengekang, menjajah, menindas, membatasi, memanipulasi, menghilangkan kemerdekaan apalagi menghilangkan kemanusiaan orang yang dicintai. "It is about giving the other person what they need to grow".

Kedewasaan Pribadi, Kedewasaan Cinta
Dari definsi cinta Scott Peck terlihat bahwa orang yang bisa mencintai, tentunya bukan orang yang masih terjebak dalam egosentrisme dan egoisme namun sudah mampu berkeinginan dan berbuat untuk orang lain. Apabila orang menyatakan cinta, namun dalam tindakan sehari-hari, banyak menuntut, mengekang, melarang, memenjarakan kemanusiaan pasangan, maka itu bukanlah cinta, namun conditioning/pengkondisian agar orang memenuhi kebutuhannya, entah itu kebutuhan fisik (makan, minum, sexual, dsb) maupun psikologis (ingin di perhatikan, diakui, dikagumi, di puja, dsb). Di sini lah banyak terjadi kesalahkaprahan, ketika pasangan bersikap nrimo, diam saja bahkan semakin takut dan taat serta semakin "menderita demi cinta". Kesalahkaprahan ini membuat banyak penderitaan panjang terutama di sisi wanita (ada pula pria), tidak hanya menghancurkan perkawinan itu sendiri, namun menghancurkan pula jiwa-jiwa dan setiap pribadi yang ada di dalamnya, seperti dirinya sendiri serta anak-anak (bagi yang telah punya anak).  Cinta tidak menjajah.
Oleh karena cinta bukanlah romantisme perasaan belaka, maka kedewasaan seseorang akhirnya berperan dalam menentukan seperti apa cinta yang ia berikan kepada orang lain, baik itu pasangan maupun komunitasnya. Semakin dewasa seseorang, maka semakin dewasalah cinta-nya; sehingga untuk menghasilkan cinta yang dewasa dan buah-buah cinta yang mendewasakan diri sendiri dan orang lain, maka seseorang harus melalui proses pendewasaan. Scott Peck mengatakan dalam The Roadless Travelled, seseorang menjadi dewasa dan matang, melalui proses yang bertahap dan semua itu menuntut latihan disiplin diri dalam beberapa elemen, yakni :
1. Delaying gratification, menunda  kepuasan sesaat / saat ini demi kebaikan di masa mendatang. Istilah Indonesia, sakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Secara kongkrit, setiap keputusan baik itu berpacaran (dengan segala tingkatannya dan tindakannya) dan berkeluarga, didasarkan pada pertanyaan apakah yang menjadi motivasinya. Apakah karena ingin segera memuaskan apapun desakan yang ingin di puaskan atau karena ada alasan rasional lain yang memang baik dan bermanfaat besar bagi kedua belah pihak (yang menjadi ukuran adalah menumbuhkan dan mendewasakan kedua pihak).
2.  Acceptance of responsibility, bertanggung jawab atas pilihan dan keputusan diri sendiri. Apa yang termasuk di dalamnya adalah menyadari bahwa setiap orang punya andil dalam menciptakan problem yang sedang dihadapi, sudah dialami atau akan terjadi. Semua berawal dari pilihan sikap diri. Padahal umumnya, ketika terjadi masalah cenderung menyalahkan orang lain, persoalan, situasi dan kondisi daripada introspeksi diri.  Konsekuensi logisnya, menganggap diri sebagai korban keadaan yang tidak berdaya untuk mengambil alih kendali hidup. Amat disayangkan karena sebagian orang melihat proses ini sebagai suratan takdir dan nasib bahwa ia terlahir untuk melayani dan menderita demi orang yang dikasihi. Padahal, takdir cinta tidaklah demikian. Cinta itu membebaskan dan memerdekaan, seperti ungkapan Oslo, seorang filsuf kontemporer,  di bagian paling atas artikel ini.
Menerima tanggung jawab di sini mempunyai konsekuensi logis, untuk membuat setiap pribadi berhati-hati, jangan sampai aplikasi dari memerdekakan diri menciptakan penjajahan bagi pribadi lainnya. Mengutip Erich Fromm yang mengatakan, no freedom without responsibility, tidak ada kemerdekaan tanpa tanggung jawab. Jika ingin berpacaran atau menikah, ingin bercerai atau bahkan ingin bertahan dalam problema yang ada, maka setiap pemikiran, keputusan dan tindakan harus dipikirkan sejauh mana kita mampu bertanggung jawab atas implikasinya, baik bagi diri sendiri, keluarga, orangtua, anak, pasangan, mertua, tempat kerja kita, dsb.  
3. Dedication to the truth, selalu mencari dan menemukan kebenaran. Mabuk kepayang maupun kepahitan, bisa menjadi penghalang kejernihan dalam melihat kenyataan dan kebenaran. Konsep diri yang negative (menganggap diri tidak baik, buruk rupa, banyak dosa, tidak berharga, tidak cantik, tidak beruntung, dsb) juga menjadi tembok penghalang realitas karena kenegatifan itu sudah mewarnai cara pandang kita terhadap dunia.
Kasus KDRT yang berkepanjangan membuat pihak korban percaya bahwa dirinya pantas dan layak di hina dan disia-siakan karena tidak berharga. Oleh sebab itu korban tidak berani melepaskan diri dari abuser  karena tidak yakin ada tempat yang bisa menerima kehadirannya,  atau tidak yakin dirinya  kuat hidup tanpa abuser.  Scott Peck mengatakan, jika jiwa manusia ingin bertumbuh, jauhkan diri dari prejudis, stereotype, prasangka negatif yang mendistorsi kebenaran. Sikap terbuka, berani menatap kenyataan, bahkan menerima bahwa ada kebenaran dan fakta lain yang bisa meruntuhkan keteguhan hati dan keyakinan  - mengapa kita takut jika hal itu justru memerdekakan kita. The truth will set you free.
4. Balancing & flexible, menjadi lebih seimbang dan fleksibel. Kedewasaan dan kematangan akan dialami ketika diri kita maju. Sebaliknya, segala sesuatu yang terlalu rigid, baik dalam soal berpikir, berkeyakinan maupun berelasi, menghambat kemajuan diri sendiri dan orang lain serta hubungan itu sendiri. Bayangkan saja hubungan yang penuh dengan ketakutan, peraturan, larangan, batasan, kecurigaan, pengekangan, penindasan, tidak akan menumbuhkan sesuatu yang baik; yang muncul adalah hal negatif, seperti ketakutan, kemarahan, kepahitan, kebosanan, ketidakpuasan, kesepian dan kekosongan yang melanda jiwa. Tidak akan ada kebahagiaan dalam relasi yang rigid, namun sama halnya dengan relasi yang tidak berakar dan berkomitmen, karena keduanya tidak berdasarkan cinta, namun ketakutan.  
Kembali pada persoalan cinta yang berakhir duka nestapa, apalagi tragedi, dapat disimpulkan kondisi itu disebabkan ketidakmatangan pribadi yang menganggap bahwa memiliki, mengupahi, meladeni, membayari, menafkahi, adalah cinta dan bukti cinta itu sendiri.  Padahal, silogisme-nya tidak demikian. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak ungkapan cinta dari Ibu Theresa
It is not how much we do,
but how much love we put in the doing.
It is not how much we give,
but how much love we put in the giving
Jadi mari bertanya pada diri sendiri, apakah saya melakukan ini semua karena cinta? Apakah yang kita lakukan selama ini sudah memerdekakan & menumbuhkan diri kita dan orang yang kita cintai ? 

 www.e-psikologi.com/‎

Kamis, 06 Maret 2014

Indahnya Kesepian





Oleh : Jacinta F. Rini
Setiap orang dalam hidupnya pasti pernah merasa kesepian. Yang membuat perbedaan adalah kadarnya, lamanya, penyebabnya dan tentu saja penanganannya. Kebanyakan orang menghindari kesepian karena kesepian berkonotasi negatif, atau paling tidak menimbulkan perasaan tidak menyenangkan.

Kini, banyak orang mempunyai account facebook dan twitter, untuk tetap terhubung satu sama lain, untuk bisa tahu apa yang tengah dilakukan temannya atau komunitasnya. BbM, YM, intant messenger menjadi sarana penghubung yang tak kenal cuaca, waktu (waktu kerja, waktu keluarga maupun waktu berdoa, bahkan - waktu tidur sekali pun). Memang tidak semua orang ber - account twitter dan facebook maupun melakukan online chat adalah orang-orang kesepian. Premisnya tidaklah demikian. Namun faktanya, hampir semua orang sepertinya ingin menyapa dan disapa, berkomentar dan dikomentari; ingin menjadi bagian dari komunitas. Mall, cafe dan resto makin ramai dikunjungi bukan sekedar untuk mengenyangkan perut, namun sebagai kesempatan untuk networking, reuni dan menyambung rasa. Keinginan untuk keep in touch  menjadi kebutuhan yang tidak ada hentinya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal ini, namun persoalannya, ternyata banyak orang yang tetap merasa kesepian di tengah kongkow-kongkow, di tengah keramaian maupun di tengah tingginya frekuensi lalu lintas komunikasi via chatting online. Kesepian tidak dialami orang yang tinggal di puncak gunung atau desa terpencil, karena mereka yang hidup di kota besar yang padat penduduk dan hingar bingar hiburan pun ternyata lebih banyak yang merasa kesepian.

Perasaan Kesepian
Menurut definisi wikipedia, "Loneliness is an unpleasant feeling in which a person experiences a strong sense of emptiness and solitude resulting from inadequate levels of social relationships. However, it is a subjective experience.[1] Loneliness has also been described as social pain - a psychological mechanism meant to alert an individual of undesired isolation and motivate her/him to seek social connections.[2]

Perasaan kesepian memang sering di korelasikan dengan tiadanya teman dan kurangnya kasih sayang. Menurut James Park, seorang  filsuf beraliran eksistensialis mengatakan bahwa perasaan kesepian tidak selalu disebabkan oleh kurangnya cinta dan teman, namun karena sering disalahartikan dan tidak dipahami, maka segala jenis kesepian lantas diatasi dengan cara bersosialisasi, pacaran, menikah, dsb yang semua berkaitan dengan interpersonal relationship. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini ada uraian singkat mengenai penyebab kesepian yang ternyata bukan melulu urusan cinta.   

Penyebab Kesepian
Anak-anak, remaja, orang muda hingga manula, pernah mengalami rasa kesepian. Anak-anak merasa kesepian ketika ditinggal pergi orangtua mereka. Istri/suami yang kesepian karena kehilangan pasangan, akibat kematian atau perpisahan. Seorang gadis atau pemuda kesepian setelah putus dari pacar. Ibu yang kesepian karena anak-anaknya tinggal di luar kota. Atau seseorang yang karena sakit harus tinggal di rumah atau di rumah sakit, terisolasi dari teman-teman dan keluarga. Pindah rumah atau pindah sekolah bisa juga menyebabkan kesepian karena tercabut dari komunitasnya dan harus menghadapi komunitas baru.

Kesepian yang disebabkan perubahan sosial atau pun perubahan kondisi eksternal dikatakan bersifat temporer dan relatif lebih mudah diatasi. Sementara itu ada jenis kesepian lain yang disebutkan di atas, yakni merasa kesepian di tengah keramaian, berada di pesta, sedang berkumpul dengan teman, berada di tengah keluarga. Jadi dalam situasi dan lingkupan apapun, perasaan kesepian itu tetap ada. Inilah yang dikatakan existential loneliness. Seseorang yang mengalami eksistensial loneliness, tidak peduli sebanyak dan setinggi apapun frekuensi outing, dating dan chatting-nya, akan tetap merasa kesepian. Menurut artikel dari Associate Press, "quantity of contact does not translate into quality of contact".[3]

Existential Loneliness/kesepian eksistensial
Kesepian eksistensial kerap menjadi sesuatu yang bersifat kronis karena sudah terjadi dalam jangka waktu lama tanpa disadari atau memang sengaja diabaikan. Artinya, perasaan kesepian itu disadari namun tidak ditindaklanjuti karena berpikir perasaan itu disebabkan karena faktor lingkungan.

Kesepian yang bersifat kronis ini menimbulkan perasaan hampa yang menyedihkan, sehingga banyak yang tidak tahan dan mengalami depresi. Kehampaan yang bersumber dari dalam jiwa ini terjadi karena sebab yang bermacam-macam, bisa karena hidup tanpa arah dan tujuan, sehingga dari hari ke hari seperti robot, hanya mengikuti irama rutinitas. Ada yang belum menemukan makna, karena hidupnya sangat terbatas, bukan miskin - tapi terlalu steril, flat, datar karena terlalu takut mengambil resiko sehingga tidak berani mengarungi kesempatan dan kemungkinan. Ada pula yang merasa kosong, karena tidak menemukan hal baik dan positif dari dirinya, sehingga tidak tahu apa gunanya dia dilahirkan, apa gunanya kehidupan ini dan apa gunanya ia bagi orang lain.

Ada yang berusaha menghilangkan rasa sepi, hampa dan kosong dengan bergaul sebanyak dan sesering mungkin. Ada pula yang mencari cinta, karena dipikirnya, cinta seseorang akan melengkapi kekosongan jiwa. Seperti kata Tom Cruise dalam film Jerry McGuire, yang berkata "you complete me". Secara filosofis dan psikologis, kehampaan jiwa tidak mungkin diatasi dengan menanam cinta/import cinta dari luar, dan hal ini menurut para filsuf adalah tindakan ilusi yang "tidak nyambung". Maka, ganti pasangan, mencari cinta baru yang dianggap dan diharapkan bisa mengatasi kekosongan - adalah tindakan mustahil.  Karena solusinya tidak bisa dengan menambal kehampaan dari luar. Pertumbuhan itu harus dari dalam.

Dampak dari kesepian
Perasaan kesepian jika berkepanjangan bisa menimbulkan berbagai persoalan lanjutan. Problem adaptasi sosial, sulit berteman, suka menyendiri bahkan hambatan akademik yang membuat prestasinya jauh dari optimal, merupakan dampak dari perasaan kesepian panjang yang dialami oleh anak-anak. Bahkan, menurut Marano, anak-anak kesepian karena social rejection, diabaikan dan disingkirkan dari lingkungan sosial (ataupun keluarga), merupakan salah satu penyebab putus sekolah; karena dalam kesehariannya, mereka cenderung menunjukkan perilaku agresif, dan apa yang diistilahkan sebagai kenakalan, serta bentuk perilaku antisosial lainnya. Di kalangan dewasa, kesepian dikatakan sebagai penyebab depresi serta adiksi, baik itu adiksi terhadap relationship (co-dependent), sex, belanja (shopaholic), kerja (workaholic), alkohol /minuman keras, maupun obat-obatan terlarang (substant abuse).

Secara medis juga memperlihatkan dampak kesepian terhadap kesehatan. John Cacioppo dari University of Chicago meneliti dampak kesepian ini dan secara mengejutkan menemukan bahwa:
  • Orang yang kesepian dilaporkan mempunyai tingkat stress yang lebih tinggi, bahkan di saat rileks dibandingkan dengan orang-orang yang tidak kesepian.
  • Kesepian meningkatkan sirkulasi hormon stress dan meningkatkan tekanan darah. Pengaruhnya kepada sistem sirkulasi jantung yang bekerja lebih keras dan menghadapi potensi kerusakan akibat tekanan yang tidak stabil.
  • Kesepian mengganggu kualitas dan efektivitas tidur sehingga menghambat proses restorasi fisik maupun psikologis yang diperlukan tubuh. Orang-orang yang mengalami kesepian lebih sering terbangun malam hari dan tidur lebih sedikit dibandingkan mereka yang tidak kesepian.
Indahnya kesepian
Kesepian tidak selalu berdampak buruk. Kesepian eksistensial, yakni kesepian yang tidak disebabkan persoalan interpersonal merupakan alarm dari situasi yang harus segera di hadapi atau diselesaikan. 

A person enters the state of loneliness when some compelling, essential aspect of life is suddenly challenged, realized, threatened, altered, or denied; the individual is confronted with the awareness of choice and the possibility of meaning or its lack. When positively embraced and confronted, loneliness has a salutary role: the integration and deepening of self. Through loneliness, the individual "discovers life, who he is, what he really wants, the meaning of his existence, [and] the true nature of his relation with others. (Moustakas,  1961)

Dengan demikian, perasaan kesepian yang dialami perlu di pertanyakan. Tidak semua bisa di obati dengan cara bersosialisasi atau pun mencari cinta yang baru. Perasaan kesepian bisa jadi pertanda bahwa ada kebutuhan mendesak yang harus kita tanggapi dalam diri sendiri, entah itu untuk menyelesaikan persoalan yang tertunda, menanggapi tantangan hidup, harus mengembangkan potensi diri, membuat keputusan akan masa depan dan menjalaninya dengan berani, atau untuk menginggalkan pola hidup selama ini yang tidak produktif, dsb. Intinya, perasaan kesepian adalah awal dari pertumbuhan.

Maka, adalah keliru jika orang berusaha menghindari kesepian karena dalam sepi lah kita bisa bertemu dengan diri sendiri dan berdialog secara jujur untuk menemukan apa yang terbaik dan harus kita lakukan saat ini dan di masa mendatang.

Persoalan berikutnya adalah, bagaimana menjalankan apa yang sudah seharusnya dan sudah saatnya untuk kita laksanakan. Semakin ditunda, semakin jauh kita dari perjalanan menemukan diri dan menumbuhkan kepribadian yang sesuai dengan tujuan & panggilan hidup kita. 

 
Bibiliography
1. Peplau, L.A. & Perlman, D. (1982). Perspectives on loneliness. In L. A. Peplau & D. Perlman (Eds.), Loneliness: A sourcebook of current theory, research and therapy. (pp. 1-18). New York: John Wiley and Sons.

2. Cacioppo, John; Patrick, William, Loneliness: Human Nature and the Need for Social Connection, New York : W.W. Norton & Co., 2008. ISBN 978-0-393-06170-3. Science of Loneliness.com

 www.e-psikologi.com/‎

Selasa, 04 Maret 2014

Perjuangan Meraih Mimpi




Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Apa yang akan Anda lakukan jika orang-orang terdekat Anda tidak mendukung saat Anda memperjuangkan sesuatu? Misalnya saat Anda ingin berbisnis, istri Anda tidak setuju. Sewaktu hendak melakukan sesuatu; orang tua Anda menganggapnya tabu. Ketika akan melakukan gagasan dalam pekerjaan, atasan Anda menganggapnya buang-buang waktu. Ada banyak hal yang Anda inginkan dalam hidup. Tapi orang-orang disekitar Anda tidak memiliki pandangan yang sama dengan Anda. Sehingga mereka, tidak mau mendukung apa yang hendak Anda perjuangkan. Apa yang akan Anda lakukan kemudian?

Hidup adalah perjuangan. Maka beruntunglah Anda, jika memiliki orang yang selalu mendukung selama menjalani seluruh perjuangan itu. Orang yang tidak pernah bergeming sedetikpun. Orang yang tetap bersama kita, dalam segala situasi yang kita hadapi. Sayangnya, kenyataan dalam hidup tidak selalu seindah itu. Misalnya saja; pasangan hidup kita. Istri atau suami kita. Kekasih kita. Apakah benar dia selalu mendukung kita dalam segala situasi?

Mungkin iyya. Mungkin juga tidak. Dalam keadaan senang, tentu saja sang kekasih hati akan selalu ada untuk mendukung kita kan. Tidak diragukan lagi deh soal itu mah. Dalam keadaan susah? Apakah si dia masih mau mendampingi? Faktanya, banyak pasangan yang bisa saling mendukung ketika situasinya serba indah. Tapi saat sedang susah, tidak sedikit yang memilih berpisah. “Ini perjuangan elo. Gue oggah kayak gitu…..” Kan banyak yang begitu ya. Apakah mereka salah? Tidak juga.    

Atasan. Tugasnya adalah untuk mendidik kita. Memberi kita kesempatan untuk terus berkembang. Hingga akhirnya kita bisa sukses minimal seperti dirinya. Tetapi, apakah atasan selalu ada untuk kita?. Nyatanya sih, tidak. Kalau pun ada, atasan yang benar-benar berkomitmen untuk pertumbuhan karir kita jumlahnya tidaklah banyak. Faktanya, kebanyakan atasan sudah pada disibukkan dengan urusan dan kepentingannya masing-masing. Sehingga untuk mendukung kita, tidak bisa diharapkan selamanya. Apakah mereka salah? Tidak.

Orang tua kita. Kan cinta orang tua itu tidak pernah ada habis-habisnya katanya. Cinta sejati, kita menyebutnya. Tetapi apakah orang tua kita akan selalu mendukung kita dalam situasi apapun yang kita hadapi? Kenyataannya tidak demikian. Banyak orang tua yang berseberangan gagasan dengan anaknya. Mereka mengira tahu apa yang terbaik buat anak-anaknya. Lalu memaksakannya. Makanya, banyak mimpi anak-anak yang kandas karena orang tuanya. Anaknya menginginkan yang ini, orang tuanya tidak setuju. Sehingga impian itu tenggelam seiring berjalannya waktu. Apakah mereka salah? Tidak.

Saya tidak sedang berbicara tentang hal-hal buruk. Kalau soal hal buruk sih, kita punya tata nilai yang sama, yaitu; tidak layak didukung. Konteks kita adalah tentang perjuangan dalam hidup yang tentunya berkaitan dengan hal-hal baik. Sesuatu yang pantas untuk didukung. Namun ketika kita memperjuangkan hal baik pun; tidak selalu mudah untuk mendapatkan dukungan. Dari istri. Dari suami. Dari ayah. Dari ibu. Dari atasan. Dari handai taulan. Makanya, sungguh beruntung jika kita memiliki pendukung. Yang selalu ada dalam situasi apapun, ketika kita sedang berjuang. Sayangnya, dalam kebanyakan situasi; kita mesti berjuang sendiri.

Ups! Apakah tadi saya mengatakan ‘Mesti Berjuang Sendiri’? Aha. Tampaknya kita sudah menemukan sebuah kata kunci. Kita mesti sanggup berjuang sendirian. Kenapa? Karena hal-hal yang kita perjuangkan itu belum tentu mendapatkan dukungan dari orang lain. Jangan terlampau berharap Ayah-Ibu mendukung, ketika cita-cita kita berseberangan dengan keinginan mereka. Jangan terlalu berharap atasan mendukung ketika mereka hanya sibuk dengan jabatannya sendiri.

Jangan berharap istri mendukung ketika kita memutuskan untuk mulai berbisnis apabila keputusan itu akan mengurangi kebebasannya dalam berbelanja; walau hanya sementara waktu. Jangan berharap suami mendukung jika dia mengharapkan kita terus diam saja dirumah.  Ikatan suami-istri sama sekali tidak menjamin akan selalu saling mendukung dalam segala situasi. Boleh jadi, didepan penghulu dulu yang diucapkan kekasih kita adalah; ‘In Good And Bed’ kan?. Kita saja yang ke-GR-an mendengarnya ‘In Good And Bad’. Cuman beda tipis sih emang. Tapi konsekuensinya besar banget.

Kita. Mesti berani berjuang sendiri. Jika kita ingin mewujudkan mimpi-mimpi. Mengapa? Karena, biasanya mimpi yang berbobot tinggi juga memiliki resiko tinggi. Sedangkan orang lain – termasuk orang tua atau pasangan hidup kita – belum tentu benar-benar bersedia menghadapi resiko itu.  Kadang-kadang, justru merekalah hambatan paling besar yang menghalangi kita. Merekalah yang sering menghentikan langkah kita. Merekalah yang menjatuhkah semangat dan daya juang kita. Dengan kata-katanya. Dengan ketakutan-ketakutannya. Bahkan mungkin dengan ancamannya. “Kalau kamu begitu, maka…..” demikian katanya.

Lantas, kita mesti berhenti mengejar mimpi? Jika kita benar-benar yakin dengan mimpi-mimpi itu. Sayang sekali kalau mesti berhenti. Mungkin memang impian kita berbeda dengan orang lain. Termasuk dengan orang-orang terdekat kita. Tapi, selama itu baik; bukanlah dosa untuk berbeda dengan mereka. Kalau sekarang mereka menghalangi kita; itu karena mereka belum seyakin kita. Jika mereka sudah melihat hasilnya, maka mereka pun akan bisa melihat betapa berharganya mimpi-mimpi kita. Yang kita butuhkan sekrang adalah; kebulatan tekad. Kesungguhan hati dalam menjalaninya. Dan ketabahan jiwa saat merasakan berat, sulit, serta sakit dan perih rintihnya.

Dengan begitu, meski tidak mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat itu; kita masih sanggup berjuang sendiri. Tidak benar-benar sendirian juga sih. Soalnya, setiap impian baik yang ada dalam pikiran dan hati kita; pasti tidak datang begitu saja. Ada yang sengaja ‘mengilhamkannya’ kedalam jiwa kita. Persis seperti yang tertera dalam kitab suci. Jika Tuhan yang mengilhamkan impian baik itu; apakah mungkin Dia membiarkan kita berjuang sendirian? Tidak. Dia. Akan selalu menyertai kita. Dalam senang. Dalam susah. Dalam segala keadaan.

Oleh karena itu sahabatku. Kita tidak boleh berhenti mengejar mimpi. Sekalipun orang-orang terdekat kita tidak mendukungnya. Kita mesti berani berjuang. Meski mesti menjalaninya sendirian. Bismillah saja. Sambil menguatkan hati dengan dzikir ini; “Hasbunallaaah Wani’mal wakiiil. Ni’mal maulaaa. Wani’mannashiiir”. Cukuplah Allah yang menolongku. Dan Allah, adalah sebaik-baiknya penolong. Sebaik-baiknya pelindung. Laaa haulaaa. Walaa quwwata Illa Billaah. In sya Allah. Perjuangan kita. Akan sampai pada apa yang kita cita-citakan. Aamiin.


Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 4 Maret 2014

Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...