Jumat, 20 November 2015

Rahbar Tegaskan, Terlarang Mengarak Fotonya pada Momentum Arbain di Karbala

Brief
“Rahbar mengingatkan, agar dalam momentum Arbain benar-benar hanya dibatasi untuk hal-hal yang hanya berkaitan dengan Arbain saja. Pesan-pesan yang disampaikan adalah mengingatkan mengenai perjuangan Imam Husain As dan meningkatkan kecintaan kepada Allah Swt, Nabi-Nya dan para Aimmah As. Bukan ajakan untuk memberikan dukungan kepada Republik Islam Iran dan Wilayatul Faqih. Peziarah harus mengindari segala hal-hal yang dapat menyebabkan perpecahan. Karena itu, Rahbar menetapkan larangan foto dan gambarnya diarak dalam perjalanan ke Karbala.”

Menurut Kantor Berita ABNA, Hujjatul Islam wa Muslimin Sayid Ali Qadhi Askari, wakil Wali Faqih untuk urusan haji dan ziarah dalam pertemuan dengan para Muballigh Arbain Husaini kamis pagi [12/11] di Kantor Pusat Tablighat Islami berkata, “Arbain adalah tradisi keagamaan terbesar umat manusia yang tidak ditemukan ditempat lain, yang serupa sebagaimana yang terjadi di kota Karbala pada hari Arbain.”
Dalam pernyataan selanjutnya, ia berkata, “Dengan merujuk pada periwayatan yang ada, kita menemukan sejumlah riwayat yang beraneka ragam terkait dengan Arbain. Yang paling masyhur, adalah riwayat yang menyebutkan, melakukan ziarah Arbain adalah tanda-tanda dan bukti kesyiahan seseorang, dan termasuk diantara tanda-tanda orang yang beriman.”
Ia menambahkan, “Berkaitan dengan ziarah ke Karbala dalam kitab Kāmal al-Ziyārāt disebutkan, jika dikhawatirkan keselamatan jiwa dan harta terganggu dalam perjalanan ziarah, maka terlarang baginya untuk melakukan ziarah namun satu-satunya ziarah yang tetap diperbolehkan bagi Syiah untuk melakukannya meskipun dalam keadaan berbahaya, adalah ziarah ke makam Imam Husain As.”
Wakil Wali Faqih tersebut lebih lanjut menyinggung niat Mutawakkil, salah satu khalifah Dinasti Abbasiyah untuk menghancurkan makam Imam Husain As, ia berkata, “Makam Imam Husain As adalah tempat khusus untuk berkumpulnya para pecinta Ahlul Bait As dari seluruh dunia. Para musuh Islam tahu, bahwa berkumpulnya para pecinta tersebut bukan perkumpulan biasa. Ada sinyal-sinyal bahaya dan mengkhawatirkan dari pertemuan tersebut, yang dapat mengusik eksistensi dan kepentingan musuh. Karena itu mereka senantiasa berusaha untuk menghalangi para pecinta Ahlul Bait As untuk mendekati dan berziarah ke makam Imam Husain As, termasuk dengan cara berencana menghancurkan makam Imam Husain As.”
“Saddam mengetahui dengan pasti, budaya Asyura dan Arbain akan memberi pengaruh besar pada hati-hati umat Syiah, karena itu rezim Saddam Husain melarang pecintah Ahlul Bait untuk berziarah ke makam Imam Husain As karena itu dapat mengancam kekuasaannya.” tambahnya.
“Bagi kita sendiri, perkumpulan ini memiliki peran dan tujuan yang sangat penting. Pertemuan akbar ini akan memberi efek positif pada setiap masalah yang menimpa umat Islam, termasuk mencegah isu-isu perpecahan yang dihembuskan musuh untuk menghancurkan umat Islam.” tambahnya lagi.
Pada bagian lain penyampaiannya, Hujjatul Islam wa Muslimin Sayid Ali Qadhi Askari mengingatkan kepada para peziarah Arbain atas pesan dan penegasan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al Uzhma Sayid Ali Khamanei agar foto dan gambarnya tidak diarak dalam perjalanan dari Najaf ke Karbala pada momentum ziarah Arbain. Ia berkata, “Rahbar mengingatkan, agar dalam momentum Arbain benar-benar hanya dibatasi untuk hal-hal yang hanya berkaitan dengan Arbain saja. Pesan-pesan yang disampaikan adalah mengingatkan mengenai perjuangan Imam Husain As dan meningkatkan kecintaan kepada Allah Swt, Nabi-Nya dan para Aimmah As. Bukan ajakan untuk memberikan dukungan kepada Republik Islam Iran dan Wilayatul Faqih. Peziarah harus mengindari segala hal-hal yang dapat menyebabkan perpecahan. Karena itu, Rahbar menetapkan larangan foto dan gambarnya diarak dalam perjalanan ke Karbala.”
“Kewajiban kita adalah waspada dan berhati-hati, setiap hari harapan kita jumlah peziarah semakin membesar, karena itu harus bisa dicegah dan dihindari hal-hal buruk yang tidak diinginkan.” tambahnya.
“Tradisi jalan kaki ke Karbala pada momentum Arbain akan menjadi perhatian para turis dan dunia internasional. Mereka pasti akan bertanya-tanya, peristiwa apa yang telah terjadi dibalik dari Asyura dan Arbain ini. Hal inilah yang kemudian memancing mereka akan mencari tahu sendiri dan berupaya mengenal siapa itu Imam Husain As dan tragedi apa yang telah menimpanya.” lanjut Hujjatul Islam wa Muslimin Sayid Ali Qadhi Askari.
“Banyak kejadian menakjubkan yang terjadi pada momentum Arbain. Diantaranya adalah, kemiskinan dan kesulitan hidup rakyat Irak tidak menghalangi mereka untuk berkhidmat dan melayani peziarah dan segala keterbatasan yang mereka miliki. Misalnya karena tidak bisa menyajikan apa-apa, mereka siap memijat kaki para peziarah, dan tidak meminta imbalan apa-apa kecuali doa yang mereka harapkan dari peziarah.” tambahnya lagi.
Lanjutan pernyataannya Sayid Ali Qadhi Askari kembali menekankan agar dalam momentum Arbain, peziarah harus menghindari isu-isu politik yang dapat menimbulkan perpecahan dan kekacauan.
Ia juga mengingatkan bahwa Irak tidak memiliki banyak sumber daya untuk memberi pelayanan maksimal kepada para peziarah. Ia berkata, “Para peziarah harus paham dengan kondisi Irak. Keselamatan dan kenyamanan pribadi harus menjadi tanggunjawab sendiri. Jangan membayangkan segala sesuatunya telah disediakan oleh pemerintah Irak dan mereka yang berkhidmat, sehingga menganggap segala sesuatunya nyaman. Namun peziarah harus telah mempersiapkan diri untuk menemui masalah-masalah berat ditengah perjalanan. Persiapkanlah diri untuk bisa menghadapi masalah dan resiko seberat apapun yang akan ditemui di perjalanan.”
Hujjatul Islam Qadhi Askari melanjutkan pesannya, “Dalam peringatan Arbain ini, saudara kita dari Ahlus Sunnah juga melibatkan diri. Sebagaimana fatwa Rahbar, tidak diperkenankan sama sekali bagi peziarah untuk melakukan hal-hal yang bermuatan penghinaan dan pelecehan terhadap simbol-simbol dan keyakinan Ahlus Sunnah. Berdasarkan fatwa Rahbar dan mayoritas ulama marja taklid lainnya, itu haram hukumnya. Ingat, apapun yang kalian lakukan, itu bisa dengan mudah direkam oleh siapapun yang hadir mengingat hampir semua orang memiliki fasilitas gadget yang dapat mendokumentasikan itu. Karena itu, hindarilah melakukan hal-hal yang dapat memancing aksi-aksi teror dan kebencian.”
Pada bagian akhir penyampaiannya, Hujjatul Islam Qadhi Askari menegaskan kembali pesan Rahbar, “Bagi Rahbar, ziarah ke Karbala ini adalah sebuah keajaiban, seperti sebuah mukjizat, karena itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin dan pada tempatnya. Tentu kita berharap dan menghendaki, ketika insya Allah balik dari perjalanan ini, kita bisa membuat bibir Imam Husain As tersenyum, karena ridha dengan apa yang telah kita lakukan.”

http://id.abna24.com/

Kamis, 19 November 2015

Isteri Tetangga


Oleh :Emha Ainun Nadjib.
Dalam suatu forum saya bertanya:
"Apakah anda punya
tetangga?”.
Dijawab serentak
"Tentu punya”
"Punya istri enggak tetangga Anda?”
"Ya, punya dooong”
"Pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu?”
"Secara khusus, tak pernah melihat” kata hadirin di forum
“Jari-jari kakinya lima atau tujuh? ”
“Tidak pernah memperhatikan”
"Body-nya sexy enggak?”
Hadirin tertawa lepas... dan saya lanjutkan tanpa menunggu jawaban mereka:
“Sexy atau tidak bukan urusan kita, kan?
Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan, Biarkan saja”.
Keyakinan keagamaan orang lain itu ya ibarat istri orang lain.
Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apapun.
Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan di dalam hati.
Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah.
Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non Islam. Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar, ngapain dia jadi non Islam?
Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah. Justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam.
Tapi, sebagaimana istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan
diungkapkan, diperbandingkan, atau
dijadikan bahan seminar atau pertengkaran.
Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak pakai dokter, umpamanya.
Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya.
Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silahkan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit.
Atau, Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, ia boleh pinjam baju koko tetangganya yang NU maupun yang Muhamadiyah.
Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya.
Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga Berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing.
Bisa memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihi kampung, bisa pergi mancing bareng, bisa main gaple dan remi bersama.
Bisa ngumpul nge "WA", BB an & Facebook-an & media sosial lainnya, bersama.
Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco, atau apapun.
Jangankan kerja sama dengan sesama manusia, sedangkan dengan kerbau dan sapi pun kita bekerja sama nyangkul dan olah sawah.
Itulah lingkaran tulus "hati dengan hati".
Semoga..., kita makin sadar akan pentingnya Toleransi, Solidaritas & Kerukunan, Bahwa semuanya itu Indah nan Fithri...

UNTUK SEORANG KAWAN

Oleh : Deny Siregar
Ketika kita berkata bahwa kita mencintai Tuhan, sanggupkah kita ketika cinta kita dibalas Tuhan ?
Cara Tuhan mencintai hamba-Nya tidak bisa kita sandingkan dengan cara ibu mencintai kita. Jika seorang ibu mencintai anaknya, terbatas pada memberikan perlindungan penuh sehingga kita merasa aman dan tentram. Seorang ibu sulit untuk menyakiti anaknya, karena secara naluri ia mempunyai tali kasih yang sangat erat.
Tapi Tuhan jauh berbeda. Ia mencintai kita melalui sudut pandang tak terbatas. Kasih sayang hanya satu sudut saja.
Tuhan Maha Tahu bahwa dalam setiap langkah hamba-Nya, selalu ada dosa yang mengiringinya. Bisa dibayangkan, jika dosa itu berwujud seperti karat, maka kita tidak akan mampu bergerak bahkan bernapas. Miliaran dosa kita sepanjang hidup, dan miliaran pula Tuhan mengampuni-Nya.
Tuhan ingin kita masuk ke surga-Nya. Karena surga yang suci hanya untuk mereka yang sudah disucikan. Maka dibersihkan-Nya lah kita dari setiap kotoran2 yg menumpuk di tubuh kita. Proses pembersihannya tentu sakit, ibarat tubuh ini dibersihkan dari karat tebal dengan sikat besi.
Tidak ada manusia yang tidak berteriak pada situasi pembersihan jiwa ini. Yang beriman, tentu berteriak pada setiap ibadahnya dengan airmata yang bercucuran deras. Yang tidak, cenderung mengumpat, mengeluh, putus asa, dada sesak dan semua hal yang malah menembah bebannya sendiri.
Rasa nyaman dalam hidup seharusnya menjadikan kita waspada. Jika seperti itu cara membersihkan dosa2, apakah semua kenyamanan yang kita terima sekarang ini bisa berarti Tuhan tidak sayang kepada kita ? Atau malah diitangguhkan, sehingga di alam kematian dosa kita yg tidak dibersihkan di dunia akan dibersihkan dgn lebih perih ?
Tuhan berfirman dalam sebuah hadis Qudsi: “Wahai hamba-Ku sayang! Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, sesungguhnya Aku menginginkan kebaikan bagi setiap yang Aku sayangi. Tidak akan Aku matikan ia sebelum Aku mengampuni dosa-dosanya dengan penyakit, kesusahan, kerugian, atau kehilangan anggota keluarga. Dan jika masih ada dosanya yang tersisa, Aku akan beratkan sakratul mautnya. Hal ini Aku lakukan agar ia menjumpai-Ku dalam keadaan suci seperti bayi”. (Jami’us Sa’adat)
Ibarat secangkir kopi, kasih sayang dan keadilan Tuhan adalah air, yang mencampurkan pahit dan manis dan menjadikannya seimbang.
Kawanku sayang, kesulitan itu sejatinya kenikmatan, bagi mereka yang memahami-nya.
by : dennysiregar.fb

Selasa, 17 November 2015

Doa indian sioux


Doa Indian Sioux
Wahai Yang Maha Agung,
yang suara-Mu terdengar dalam angin berhembus
Engkau, yang nafas-Mu menjadikan bumi hidup
Dengarlah permohonanku
Hamba, satu dari ciptaan-Mu, menghadap Engkau
Hamba, yang kecil dan lemah
butuh kekuatan dan kebijaksanaan-Mu
Perjalankan hamba senantiasa dalam keindahan
Jadikan mataku tak pernah lupa indahnya lembayung surut mentari
Jadikan tanganku selalu menghargai apa yang telah Kau ciptakan
Jadikan telinga hamba tajam mendengar-Mu
Jadikan hamba bijak, agar hamba mengerti
ilmu yang kau ajarkan pada semua ciptaan-Mu:
Ilmu yang Engkau sematkan pada setiap helai dedaunan dan batu
Jadikan hamba kuat!
Bukan untuk bangga berjaya atas semua saudaraku,
tapi untuk bertarung
dengan lawan terbesarku:
Diriku sendiri
Jadikan hamba selalu siap untuk datang pada-Mu, dengan mata yang tegak memandang ke depan
Agar saat nafasku surut seperti terbenamnya matahari
Jiwaku bisa melangkah ke arah-Mu
tanpa merasa malu
Amin
: :
Do’a Suku Indian Sioux, terjemahan bahasa Inggris oleh Kepala Suku Yellow Lark (Lakota)
Diterjemahkan oleh Herry Mardian

Mengenang Jejak KH Ahmad Siradj Solo


Oleh : AJIE NAJMUDDIN
Selama ini, tokoh yang akrab dengan panggilan Mbah Siradj (baca : Siroj) dari Kota Solo, dikenal sebagai seorangwaliyullah yang memiliki berbagai kisah penuh karomah. Semisal, ia memiliki ilmu “melipat bumi”, sehingga perjalanan yang ia tempuh menjadi lebih singkat atau cerita tentang berbagai kekeramatan lainnya.
Namun, pada tulisan kali ini, sengaja penulis tidak paparkan berbagai kisah kekeramatan yang dimiliki Kiai Siradj, akan tetapi lebih pada kepribadian serta kisah perjuangannya, agar selalu dikenang dan dapat diteladani oleh para generasi sesudahnya.
Dari buku Mengenang Jejak Kyai Ahmad Siroj Sala (1989), diperoleh keterangan ayah Kiai Siradj bernama Kiai Umar atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Pura, salah seorang Waliyullah. Makam Kiai Imam Pura berada di Susukan, Kabupaten Semarang. Kiai Imam Pura ini bila ditarik lebih adalah memiliki garis keturunan dengan Sunan Hasan Munadi, salah seorang paman R. Fatah yang ditugaskan mengislamkan daerah lereng Gunung Merbabu sebelah utara, atau sekarang dikenal sebagai Desa Nyatnyono.
Selain Kiai Siraj, Kiai Imam Pura ini memiliki beberapa keturunan, di antaranya adalah Kyai Kholil yang bermukim di Kauman, Solo, dan Kyai Djuwaidi yang bertempat tinggal di Tengaran, Kabupaten Semarang.
Sosok yang Inklusif
Kiai Siradj dilahirkan pada tahun 1878 M. Secara fisik, penampilan Mbah Siradj cukup mudah untuk dikenali, sebab dalam sehari-hari maupun saat bepergian jauh, ia sering berpakaian khas dengan memakai iket (semacam kain batik yang digunakan untuk menutupi kepala), berbaju putih, bersarung ‘wulung’ dan memakai ‘gamparan’ tinggi.
Model pakaian ini agak mirip dengan pakaian yang dikenakan para ulama lain di lingkup Keraton Surakarta, semisal guru Mamba’ul Ulum yang memakai kain batik panjang, baju jas dengan leher tinggi (jas tutup) warna putih, dan memakai blangkon.
Namun, tidak hanya kekhasan dalam berpakaian semata, Mbah Siradj juga dikenal sebagai seorang ulama yang alim, bijaksana dan kharismatik. Setiap ucapannya, konon memiliki sejumlahsasmita (isyarat). Bahkan di wilayah Solo dan sekitarnya, banyak yang menyebutnya sebagai seorang Waliyullah, dengan ilmu dan beberapa karomah yang dimilikinya.
Salah satu cicit Mbah Siradj, Agus Taufik, menjelaskan kakek buyutnya dikenal banyak orang karena sosoknya yang inklusif, dan pendekatannya dalam menyebarkan agama Islam dengan cara humanis.
“Mbah Siradj tidak pernah membedakan agama atau suku saat bergaul. Ajaran beliau untuk mempersatukan umat dan pluralisme, mungkin mirip dengan ajaran Gus Dur,” jelasnya.
Bahkan, karena sifatnya yang sangat terbuka terhadap segala macam lapisan masyarakat ini, hingga sekarang setiap diperingati haulnya, seorang penjual bakso di Notosuman yang beragama Khatolik dan seorang Tionghoa, berkenan mengirim tiga kambing serta beberapa kuintal beras untuk menyukseskan acara haul tersebut.
Berawal dari Gedhek
Semasa muda, Kiai Siradj pernah berguru kepada sejumlah ulama besar. Di antaranya di Pesantren Mangunsari yang berada di Nganjuk, Jawa Timur, Siradj muda menimba ilmu kepada Kyai Bahri (ayah Kiai Ibnu Mundhir). Kemudian di Pesantren Tremas, ia berguru kepada K.H. Dimyati At-Tirmizi, dan di Semarang, ia menjadi santri Kiai Sholeh Darat.
Setelah menimba ilmu dari berbagai pesantren, ia kemudian mendirikan pesantren (kelak dikenal dengan nama Pesantren As-Siroj) di Jalan Honggowongso 57 Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah di atas tanah seluas 200 m².
Di pesantren tersebut, Kiai Siradj mengajarkan berbagai pelajaran, antara lain Sullamut Taufiq, Safinatun-Najah, Duratul-bahiyyah dan Fathul Qorib.
Menurut penuturan dari keturunannya, salah satunya Mujab Shoimuri (74), mengungkapkan bangunan pondok dulunya hanya sebuah gedhek (rumah sederhana). “Bangunan ini, dibangun Mbah Siradj, pada awalnya hanya sebuah gedhek. Kemudian setelah Mbah Siraj wafat tahun 1961, pesantren diasuh oleh ayah saya Kiai Shoimuri,” kenang Mujab, kala penulis menyambanginya tahun 2014 lalu.
Pada zaman dulu, Pesantren As-Siraj sangatlah ramai, begitu pula dengan lingkungan di sekitar pesantren. Sebab, selain karena ketokohan Kiai Siraj, di sekitarnya juga terdapat berbagai lembaga pendidikan terkenal seperti Pesantren Jamsaren, Al-Islam, Mamba’ul Ulum dan lain sebagainya.
Mujab juga mengisahkan, ketika ia masih kecil ia bersama santri lainnya, mengikuti pelajaran yang diajarkan Mbah Siradj, yakni belajar membaca surah al-fatihah dan tasyahud.
“Sesudah KH Shoimuri wafat, pondok diasuh oleh adik saya, KH Mubin Shoimuri. Saat dipegang Mubin kemudian tempat ini dibangun rumah dan pondok yang bagus. Santri lambat laun juga bertambah banyak, kalau bulan puasa bahkan ada sekitar 200 santri yang ikut mengaji di sini. Semuanya dicukupi mulai dari makan, pakaian dan lain-lain,” terang dia.
Kiai Mubin, yang juga pernah mengemban amanah sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Surakarta 2003-2008, mengasuh pondok sampai akhirnya dia wafat pada tahun 2007.
Mbah Siradj juga dikenal khalayak sebagai seorang guru Thariqah Qadariyah Naqsabandiyah. Setiap hari, ia senantiasa istiqamah melaksanakan shalat berjamaah lima waktu dan shalat sunnah rawatib, yang selalu dijalankannya secara lengkap.
Doa yang banyak dipanjatkan olehnya adalah “Ya Allah, Tuhan kami, Engkaulah yang kami tuju dan ridha-Mu yang kami cari. Berilah kepada kami ridha-Mu dan kecintaan-Mu serta ma’rifat-Mu.”
Ikut Barisan Kiai
Saat masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Negara Indonesia dari cengkraman penjajah, Mbah Siradj juga ikut berjuang dalam kelompok “Barisan Kiai”. Barisan Kiai yang dibentuk pada akhir tahun 1945 ini berisi para kiai sepuh, yang diharapkan nasihat-nasihatnya dalam peperangan juga untuk membakar semangat para pejuang. Beberapa dari mereka juga ada yang memanggul senjata, ikut berperang di front terdepan.
Ulama lain yang tergabung dalam Barisan Kiai ini antara lain KH R M Adnan, Kiai Abdurrahman, Kiai Ma’ruf Mangunwiyoto, Kiai Abdul Karim Tasyrif, Kiai Martoikoro, dan Kiai Amir Thohar.
Sebagai salah satu anggota Barisan Kiai, Mbah Siradj sering didatangkan di hadapan para pejuang Laskar Hizbullah untuk memberikan pengarahan dan penggembelengan, baik jasmani maupun rohani.
H. Abdullah Adnan, veteran pejuang RI eks Laskar Hizbullah dan pasukan “Lawa-Lawa”, mengenang pernah suatu ketika ia dan pasukan lainnya yang tergabung dalam Hizbullah berkumpul di Begalon Solo. Ketika itu, tentara Belanda sudah mulai memasuki Kota Solo untuk mengadakan Agresi Militer II tahun 1948.
Saat itulah, Mbah Siradj bersama anggota Barisan Kiai mengadakan inspeksi kepada pasukan Hizbullah yang berjumlah sekitar 50 orang. Tiba-tiba seorang anggota Hizbullah bernama Hayyun, 25 tahun, didekati lalu dipeluknya seraya berucap : “ahlul jannah … ahlul jannah!”.
Tak lama kemudian, datang tentara Belanda dengan sejumlah pasukan tank, lewat Pasar Kembang ke arah selatan. Hayyun maju dengan beraninya sendirian sambil membawa granat nanas, lalu dicabutnya dan melompat sambil melempar granat ke arah tank. Ketika tank meledak, terbakarlah tentara Belanda yang berada di dalam tank juga termasuk Hayyun, si pelempar granat tersebut.
Wariskan Perjuangan NU
Tidak banyak yang dapat diceritakan dari kisah perjuangan Mbah Siradj bersama NU, mengingat keterbatasan data dan narasumber. Namun, dari satu fakta penting yang penulis temukan pada catatan dari Kongres ke Kongres (Muktamar) Nahdlatul Ulama (NU), nama KH Siradj tercatat pernah mengikuti Kongres I NU yang diadakan pada bulan Rabi’ul Awwal 1345 H/ 21-23 September 1926 di Hotel Muslimin Peneleh Kota Surabaya. Ketika itu ia datang bersama KH Mawardi (ayah KH Chalid Mawardi) sebagai utusan golongan ulama muda dari Kota Solo.
Melalui fakta tersebut, dapat penulis asumsikan, pertama, sosok bernama lengkap KH Ahmad Siradj ini merupakan salah satu tokoh generasi pertama yang ikut mendirikan NU di lingkup daerah Karesidenan Surakarta, khususnya di Kota Solo.
Kedua, ini berarti NU di Kota Solo juga sudah ada sejak tahun 1926, tahun awal berdirinya NU, meski baru dalam lingkup kecil. Sampai sekarang, Kota Solo sebagai sebuah kota pergerakan yang terdapat berbagai macam aliran ideologi, keberadaan NU di daerah itu, tentu menjadi pilihan warna dan wadah tersendiri bagi para kaum santri.
Perjuangan Mbah Siradj bersama NU kemudian diteruskan oleh anak keturunannya hingga sekarang. Semisal puteranya yang bernama KH Shoimuri (wafat tahun 1983) pernah menjadi Rais Syuriyah PCNU Boyolali. Kemudian dilanjutkan oleh para cucunya antara lain KH Tamam Shoimuri (Rais Syuriyah PCNU Boyolali/ wafat tahun 2014), KH Mubin Shoimuri (Ketua PCNU Surakarta/ wafat tahun 2007), KH Makin Shoimuri (Pengasuh Pesantren Putri Raudhatut Thalibin Leteh Rembang), Nyai Hj. Basyiroh Shoimuri (Ketua PP IPPNU periode kedua) dan lain sebagainya.
Kabar Kematian
Menjelang kematiannya, Mbah Siradj hadir dalam mimpi beberapa sahabatnya, antara lain KH Zaenal Makarim (Karang Gede).
“Mengapa saya sakit tak kau jenguk?” Tanya Mbah Siradj kepada KH Zaenal Makarim dalam mimpi.
Terperanjatlah Kiai Zaenal Makarim, lalu seketika beliau berangkat ke Solo untuk menjenguk Kyai Ahmad Siroj. Sesampai di Solo, ternyata jenazah telah diberangkatkan sampai di Jalan Rajiman, Kadipolo.
Kejadian serupa juga dialami oleh Habib Abdullah di Kepatihan, Solo. Pada pagi hari itu, ia bermimpi didatangi Mbah Siradj, dan membangunkannya seraya berucap : “Sampun nggih Bib, kula rumiyin, sampeyan kantun.” (Sudah ya, Bib! saya duluan, anda menyusul).
Alangkah terkejutnya Sang Habib. Seketika itu pula, Sayyid Abdullah pergi ke Panularan di mana rumah Kyai Ahmad Siroj. Ternyata dapat berita, bahwa Kyai Ahmad Siroj telah meninggal dunia pada pukul 04.00 pagi hari itu.
Kyai Ahmad Siroj wafat pada hari Senin Pahing, 27 Muharram 1381 H atau 10 Juni 1961 M. Jenazahnya dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Makam Haji, Kartasura, Sukoharjo.
(Ajie Najmuddin)
Daftar Pustaka :
    Hakim, Adnan. 1989. Mengenang Jejak Kyai Ahmad Siroj Sala. Solo: Pesantren As-Siroj.
    Aboebakar, Atjeh. Sejarah Hidup KH A Wahid Hasjim. Jombang: Pesantren Tebuireng.
    Abdul Basit, Adnan. 2003. Prof. KHR Mohammad Adnan, Untuk Islam dan Indonesia. Solo: Yayasan Mardikontoko Surakarta.

    Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

      Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...