Selasa, 25 Februari 2014

Pelangi Di Matamu


song : Jamrud

30 menit kita disini
tanpa suara
dan aku resah
harus menunggu lama ..
kata darimu
mungkin butuh kursus
merangkai kata,
untuk bicara
dan aku benci
harus jujur padamu,
tentang semua ini
jam dinding pun tertawa,
karna kuhanya diam dan
membisu
ingin kumaki
diriku sendiri, yang tak
berkutik di depanmu
ada yang lain
disenyummu
yang membuat lidahku
gugup tak bergerak
ada pelangi
di bola matamu
dan memaksa diri
tuk bilang
“aku sayang padamu” (2x)
(seakan memaksa dan
terus memaksa)
mungkin sabtu nanti
kuungkap semua,
isi di hati
dan aku benci
harus jujur padamu
tentang semua ini ……

Senin, 24 Februari 2014

Konspirasi Kemakmuran Untuk Mengkudeta Dominasi Kapitalisme Global






Salju tengah turun dengan deras ketika seorang pria paruh baya tampak berdiri di sudut sebuah perpustakaan di kotanya. Pria paruh baya itu berambut ikal, dengan janggut dan brewok yang memenuhi sekujur dagunya.
Diantara rak-rak buku dgn koleksi ribuan buku, ia tampak menatap tajam cover bukunya yang baru saja ia rilis. Sambil mengelus-elus brewoknya yang tebal, ia menatap cover buku itu dengan bahagia.
Ia layak bangga, sebab karyanya itu kelak dikenang sejarah sebagai salah satu “konspirasi kemakmuran yang paling gemilang dalam melakukan kudeta terhadap dominasi kapitalisme global”. Ia berharap, karyanya itu mampu menghindarkan dunia dari statusiasi ekonomi yang labil.


Cover buku itu bersahaja. Hanya tertulis judulnya : Das Kapital. Dibawahnya tertulis : disusun oleh Karl Marx. Berlin tahun 1869.
Karl Marx, pria brewokan itu mungkin memang layak bersuka cita dengan bukunya itu. Sebab sejarah kelak mencatat : buku itulah yang paling gigih melawan eksploitasi kelas buruh oleh kelas pengusaha kapitalistik.
Maka simaklah kalimat-kalimat berikut yang tertuang dalam karyanya itu. Kaum pekerja selamanya hanya akan jadi sekrup dalam mesin kapitalisme yang terus menggilas, demikian ia pernah menulis.
Kelas pekerja/buruh akan terus jadi alat produksi (tidak beda dengan mesin) yang akan dieksploitasi oleh kaum pebisnis borjouis. Kaum pekerja hanya akan bermakna dalam nomer (nomer induk pegawai acap lebih penting dari nama orang).
Dalam deretan angka nomer induk pegawai itu, kaum buruh manusia lalu terpelanting dalam proses “dehumanisasi” dan “depersonalisasi”. Kaum buruh/pekerja itu diam-diam berubah menjadi “benda mati”, dan disedot “nilai produktivitasnya” demi kemakmuran para juragan bisnis.
Dengan kata lain, setiap tetes keringat kaum buruh/karyawan akan diperas demi akumulasi profit kaum bisnis kapitalis.
Dalam kelas-kelas seminar tentang entrepreneurship, sering diajarkan taktik leverage/daya ungkit. Leverage artinya : kita menggunakan tenaga ratusan orang lain untk menciptakan profit bagi kita sebagai pemilik bisnis.
Karl Marx menulis cara seperti itu tak beda dengan perbudakan. Modern slavery. Dan kaum pekerja yg akan terus jadi budak-budaknya.
Kini, ketika kaum pebisnis kian kapitalistik (ingat praktek outsourcing yang kian marak), kalimat-kalimat Marx itu mungkin tetap bergema.
Lewat buku Das Kapital itu, ia lalu menyodorkan alternatif : socialist economy. Ia menulis sebuah bisnis akan lebih mulia jika 100% sahamnya dimiliki oleh pekerja secara bersama-sama.
Itulah saat ketika tidak ada lagi kelas juragan dan kelas buruh. Sebab semua pekerja bersama-sama memiliki bisnis.
Koperasi mungkn model bisnis yang paling mirip dengan gagasan sosialisme Marx. Dan keadilan bisnis mungkn bisa dipeluk dengan jalan itu.
Sebab, betapa indahnya kalau 100% saham Telkomsel dimiliki oleh koperasi karyawannya.
Betapa elegannya, jika 100% saham Astra International dimiliki oleh koperasi karyawannya.
Dan sungguh, keadilan bisnis akan berkibar-kibar jika 100% saham Indofood, Aqua, dan Bank BCA dimiliki oleh koperasi karyawan mereka.
Karl Marx sudah memimpikan model bisnis seperti itu sejak 140 thn silam. Diantara butiran salju di kota Berlin.
Sungguh, gagasan itulah sejatinya yang layak disebut sebagai “konspirasi kemakmuran”. Sejenis konspirasi yang bisa mengkudeta labilnya ekonomi dunia yang kapitalistik.
Sayang, model bisnis impian seperti itu acap jatuh menjadi utopia (ilusi). Gagal di-ejawantah-kan menjadi realitas. Namun model bisnis seperti itu mungkin layak terus digaungkan. Sebab keadilan bisnis yang hakiki hanya bisa terwujud via jalan tersebut.
Inilah saat munculnya “class-less society” yang pernah diimpikan oleh Karl Max. Saat tiada lagi pertentangan kelas juragan vs kelas buruh. Saat tak ada lagi pembedaan antara kaum entrepreneur yang sok heroik dengan kaum pekerja yang terus ditindas.
Salju terus turun di kota Berlin. Ditemani secangkir kopi hangat, Marx terus merenungi isi bukunya, Das Kapital. Gagasan Marx tentang keadilan bisnis mungkin masih akan terus jadi fatamorgana, terjepit dalam hegemoni kapitalisme global.
Pagi itu, dingin yg membeku kian menyergap kota Berlin. Marx tampak menikmati tegukan terakhir kopi hangatnya.
Semangat pagi, teman. Silakan diminum kopi atau teh hangatnya.
Written by Yodhia Antariksa

Photo credit by : JD Hancock @ flickr.com

Sabtu, 22 Februari 2014

Menangis



Mbah Marijan (Sebelum Merapi Meletus)

Sehabis sesiangan bekerja di sawah-sawah serta disegala macam yang diperlukan oleh desa rintisan yang mereka dirikan jauh di pedalaman, Abah Latif mengajak para santri untuk sesering mungkin bershalat malam.
Senantiasa lama waktu yang diperlukan, karena setiap kali memasuki kalimat “iyyaka na’budu….”. Abah Latif biasanya lantas menangis tersedu-sedu bagai tak berpenghabisan.
Sesudah melalui perjuangan batin yang amat berat untuk melampaui kata itu, Abah Latif akan berlama-lama lagi macet lidahnya mengucapkan “wa iyyaka nasta’in….”
Banyak di antara jamaah yang bahkan terkadang ada satu dua yang lantas ambruk ke lantai atau meraung-raung.
“Hidup manusia harus berpijak, sebagaimana setiap pohon harus berakar”, berkata Abah Latif seusai wirid bersama, “Mengucapkan kata-kata itu dalam Al-Fatihah pun harus ada akar dan pijakannya yang nyata dalam kehidupan. Harus di situ titik beratnya bukan sebagai aturan, melainkan memang demikianlah hakekat alam, di mana manusia tak bisa berada dan berlaku selain di dalam hakekat itu”.
“Astaghfimllah, astaghfirullah”, geremang turut menangis mulut parasantri.
“Jadi, anak-anakku”, beliau melanjutkan, “apa akar dan pijakan kita dalam rnengucapkan kepada Allah iyyaka na’budu?”
“Bukankah tak ada salahnya mengucapkan sesuatu yang toh baik dan merupakan bimbingan Allah itu sendiri, Abah?” bertanya seorang santri.
“Kita tidak boleh mengucapkan kata, Nak, kita hanya boleh mengucapkan kehidupan”.
“Belum jelas benar bagiku, Abah”.
“Kita dilarang mengucapkan kekosongan, kita hanya diperkenankan mengucapkan kenyataan”. “Astaghfirullah, astaghfirullah”, geremang mulut para santri terhenti ucapannya. Dan Abah Latif meneruskan, “Sekarang ini kita mungkin sudah pantas mengucapkan iyyaka na’budu. Kepada-Mu aku menyembah. Tetapi Kaum Muslimin masih belum memiliki suatu kondisi keumatan untuk layak berkata kepada-Mu kami menyembah, na’budu”.
“Al-Fatihah haruslah mencerminkan proses dan tahapan pencapaian sejarah kita sebagai diri pribadi serta kita sebagai umatan wahidah. Ketika sampai di kalimat na’budu, tingkat yang harus kita capai telah lebih dari ‘abdullah, yakni khalifatullah. Suatu maqam yang dipersyarati oleh kebersamaan Kaum Muslimin dalam menyembah Allah di mana penyembahan itu diterjemahkan ke dalam setiap bidang kehidupan. Mengucapkan iyyaka na’budu dalam shalat mustilah memiliki akar dan pijakan di mana kita Kaum Muslimin telah membawa urusan rumah tangga, urusan perniagaan, urusan sosial dan politik serta segala urusan lain untuk menyembah hanya kepada Allah. Maka, anak-anakku, betapa mungkin dalam keadaan kita dewasa ini lidah kita tidak kelu dan airmata tak bercucuran tatkala harus mengucapkan kata-kata itu?”
“Astaghfirullah, astaghfirullah”, geremang mulut para santri.
“Al-Fatihah hanya pantas diucapkan apabila kita telah saling menjadi khalifatullah di dalam berbagai hubungan kehidupan. Tangis kita akan sungguh-sungguh tak berpenghabisan karena dengan mengucapkan wa iyyaka nasta’in, kita telah secara terang-terangan menipu Tuhan. Kita berbohong kepada-Nya berpuluh-puluh kali dalam sehari. Kita nyatakan bahwa kita meminta pertolongan hanya kepada Allah, padahal dalam sangat banyak hal kita lebih banyak bergantung kepada kekuatan, kekuasaan dan mekanisme yang pada hakekatnya melawan Allah”.
“Astaghfirullah, astaghfirullah”, gemeremang para santri.
“Anak-anakku, pergilah masuk ke dalam dirimu sendiri, telusurilah perbuatan-perbuatanmu sendiri, masuklah ke urusan-urusan manusia di sekitarmu, pergilah ke pasar, ke kantor-kantor, ke panggung-panggung dunia yang luas: tekunilah, temukanlah salah benarnya ucapan-ucapanku kepadamu. Kemudian peliharalah kepekaan dan kesanggupan untuk tetap bisa menangis. Karena alhamdulillah seandainya sampai akhir hidup kita hanya diperkenankan untuk menangis karena keadaan-keadaan itu: airmata saja pun sanggup mengantarkan kita kepada-Nya!”

Hancurkan Kebinatanganku




Pada setiap raka’at sembahyang yang tanpa duduk tahiyat, Anda memerlukan tahap transisi ruku’ dari qiyam menuju posisi sujud. Tapi kemudian dari posisi sujud ke qiyam, Anda melakukannya langsung tanpa ruku’.
Ini acuan pertama.
Acuan kedua adalah pertemuan Anda dalam shalat dengan beberapa karakter atau sifat Allah Swt. Ini berdasarkan kalimat-kalimat yang Anda ucapkan selama melakukan shalat.
Pertama, tentu saja Allah yang Akbar. Lantas ia sebagai Rabbun. Selanjutnya, Rahman dan Rahim.  Kemudian hakekat kedudukannya sebagai Malik. Dan akhirnya Allah yang ‘Adhim dan A’la.
Kedudukan Allah sebagai Akbar atau Yang Maha Lebih Besar (Ia senantiasa terasa lebih besar, dinamis, tak terhingga, seiring dengan pemuaian kesadaran dan penemuan kita) — kita ucapkan untuk mengawali shalat serta untuk menandai pergantian tahap ke tahap berikutnya dalam shalat.
Artinya, setiap langkah kesadaran dan laku kita letakkan di dalam penghayatan tentang ketidakterhinggaan kebesaran-Nya.
Si Maha Lebih Besar yang dahsyat itu bukannya mengancam dengan kebesaran-Nya, melainkan mengasuh kita melalui fungsi-Nya sebagai Robbun.
Sebagai Yang Maha Mengasuh, Ia bersifat penuh kasih dan penuh sayang. Rahman dan Rahim. Penuh cinta dalam konteks hubungan individual Ia dengan Anda, maupun dalam konteks hubungan yang lebih ‘heterogen’ antara Ia dengan komprehensi kebersamaan kemanusiaan  dan alam semesta.
Tapi jangan lupa Ia adalah Raja Diraja. Ia Malik, hakim agung di hari perhitungan. Ia sekaligus Maha Legislatif, Maha Eksekutif dan Maha Yudikatif.
Dan memang hanya Ia yang berhak penuh merangkum seluruh kedudukan itu hanya dengan diri-Nya yang Sendiri, tanpa kita khawatirkan terjadi ketidakadilan dan ketidakjujuran — yang pada budaya kekuasaan antarmanusia dua faktor itu membuat mereka menciptakan perimbangan sistem trias politica.
Kemudian karakter dan kedudukan-Nya sebagai ‘Adhim dan A’la. Yang Mahabesar (horizontal) dan Mahatinggi (vertikal).
Yang ingin saya kemukakan kepada Anda adalah bahwa kita menyadari-Nya sebagai A’la, Yang Mahatinggi itu, tatkala dalam shalat kita berposisi dan bersikap sebagai binatang. Artinya, kalau kita menyadari kebinatangan kita, yakni dalam keadaan bersujud: badan kita menelungkup bak binatang berkaki empat.
Ketika kita beroperasi setengah binatang, waktu ruku’ bagaikan monyet yang seolah berdiri penuh seperti manusia namun tangannya berposisi sekaligus sebagai kaki — yang kita sadari adalah Allah sebagai ‘Adhim.
Dan ketika kita berdiri (qiyam), Allah yang kita hadapi adalah Allah Rahman, Rahim, dan Malik. Binatang yang ‘ruku’ dan ‘sujud’ tidak memiliki tradisi intelek dan kesadaran ontologis, sehingga tidak terlibat dalam urusan dengan Maliki Yaumiddin. Raja Hakim hari perhitungan. Kadal dan monyet, termasuk juga virus HIV, tidak diadili, tidak masuk sorga atau neraka.
Ketika kita ‘menjadi’ binatang atau menyadari potensi kebinatangan diri saat sujud dan ruku’, kedudukan subyek kita waktu itu adalah aku. Maka kita ucapkan subhana robiiya…. bukan subhana robbina.
Subyek ‘aku’, dengan aksentuasi egoisme, individualisme, egosentrisme, dst lebih dekat ke kebinatangan, dan itu yang harus kita sujudkan ke hadapan Allah Swt.
Adapun ketika kita berdiri, ‘qiyam’, kita menjadi manusia kembali. Dan subyek kita ketika itu bukan lagi ‘aku’ melainkan ‘kami’. Artinya, tanda-tanda eksistensi kemanusiaan adalah pada kadar sosialitasnya, kebersamaannya, integritas kanan-kirinya. Kalau binatang, secara naluriah ia bermasyarakat, tapi oleh Allah mereka tidak dituntut atau ditagih tanggung jawab kemasyarakatannya. Tuntutan dan tagihan itulah yang membedakan antara binatang dan manusia. Itu pulalah yang menghinakan manusia, atau justru memuliakannya.
Mungkin itulah sebabnya maka sesudah kita ber-takbiratul ihram dan berdiri ‘sebagai manusia’, Allah menyuruh kita untuk berlebih dahulu menyadari kebinatangan kita dalam sujud, melalui transisi ruku’. Nanti sesudah sujudnya penuh, silakan langsung berdiri kembali sebagai manusia.
Nanti menjelang Pemilu, pesta demokrasi yang urusannya bergelimang kekuatan dan kekuasaan di antara sesama manusia — ada baiknya semua pihak memperbanyak sujud. Agar supaya kebinatangan diminimalisir.
Dan semoga jangan banyak-banyak yang bersikap sebagaimana iblis, yang menolak sujud, karena merasa lebih tinggi, lebih benar, dan takabbur.
Ah, nanti panjang sekali kalau saya teruskan…. []
Dimuat di Harian Republika, 31 Maret 1996, dan terhimpun dalam buku “Keranjang Sampah” (Emha Ainun Nadjib, Zaituna, 1998).

Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...