Senin, 18 Agustus 2014

Jangan Berani Mengoyak Kebersamaan Kami!



Oleh Farid — Rubrik Dari Redaksi / Editorial — August 18, 2014

Pada setiap hari peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, kita tentu akan selalu mendengar narasi yang tak pernah lekang ditelan zaman, dan tentunya tak akan pernah pula bosan kita simak, yaitu narasi tentang sangat besarnya pengorbanan para pahlawan dalam memerjuangkan kemerdekaan bangsa. Ya, pengorbanan mereka memang sangat besar. Harta dan nyawa mereka korbankan demi sebuah kehidupan mulia yang kemudian mereka wariskan kepada anak cucu mereka.
Tiga setengah abad lamanya perjuangan itu dijalani dengan sabar. Berkali-kali mereka menemui kegagalan dalam upaya mengusir penjajah dari Bumi Pertiwi. Berkali-kali mereka gagal dalam memenangi pertempuran fisik. Berkali-kali bangsa ini harus merasakan pengkhianatan segelintir orang yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dan golongannya. Bangsa ini juga berkali-kali menjadi korban intrik politik “pecah-belah” pihak musuh.
Semuanya dijalani dengan penuh kesabaran. Perjuangan demi perjuangan dirajut hingga menjadi pintalan rasa kebangsaan yang masif dan kokoh. Jatuh bangun dalam kegagalan menjadi tonik yang menggelorakan semangat untuk merdeka bersama-sama dalam satu wadah: bangsa Indonesia.
Tiga setengah abad tentulah bukan waktu yang sebentar. Waktu yang sangat lama itu telah mengajarkan kepada bangsa ini bahwa salah satu penyebab kegagalan perjuangan adalah isu perpecahan yang memang dilancarkan oleh musuh bangsa. Strategi kaum imperialis di mana-mana sama: divide and rule (pecah belah, lalu kuasai).
Bangsa ini faham bahwa perpecahan adalah instrumen kekalahan di masa lalu, dan akan terus menjadi faktor kegagalan di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Karena itu, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi frasa yang sangat keramat. Kesatuan bangsa adalah harga mati bagi sebuah cita-cita kemerdekaan; dan juga harga mati bagi upaya untuk menjaga dan mempertahankan kemerdekaan tersebut. ‘NKRI harga mati’ adalah semboyan sakral yang akan terus menjadi sumber energi bangsa ini dalam mengarungi tantangan zaman.
Siapapun juga yang mencoba mengoyak kebersamaan ini akan berhadapan dengan para patriot bangsa. ISIS (IS), Al-Qaedah, isu khilafah, dan berbagai isu lainnya yang terindikasi sebagai gerakan yang mengotak-atik kesatuan bangsa ini, pastilah akan berhadapan dengan penolakan tegas seluruh elemen bangsa, termasuk kaum Muslimin.
Jangan pernah berani mengoyak kebersamaan kami, Bung! Kami telah berjanji sepenuh hati untuk menjaga kemerdekaan yang didapat melalui pengorbanan sangat besar para pahlawan kami. Kami tak akan pernah menyia-nyiakan perjuangan mereka. Meskipun untuk itu, kami juga harus mengorbankan jiwa dan raga kami.
(LiputanIslam.com)

Selasa, 12 Agustus 2014

Lambang Negara



Dalam UUD 45 dijelaskan bahwa Lambang Negara Indonesia adalah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Lagu Garuda Pancasila diciptakan oleh Sudharnoto sebagai lagu wajib perjuangan Indonesia.
Lirik lagu Garuda Pancasila:
Garuda pancasila
Akulah pendukungmu
Patriot proklamasi
Sedia berkorban untukmu
Pancasila dasar negara
Rakyat adil makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju maju
Ayo maju maju
Ayo maju maju


Ini adalah gambar Garuda Pancasila
Makna Lambang Garuda Pancasila
Burung Garuda melambangkan kekuatan.Warna emas pada burung Garuda melambangkan kejayaan.Perisai di tengah melambangkan pertahanan bangsa Indonesia. Masing-masing simbol di dalam perisai melambangkan sila-sila dalam Pancasila, yaitu:
  • Bintang melambangkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa [sila ke-1].
  • Rantai melambangkan sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab [sila ke-2].
  • Pohon Beringin melambangkan sila Persatuan Indonesia [sila ke-3].
  • Kepala banteng melambangkan sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan dan Perwakilan [sila ke-4].
  • Padi dan Kapas melambangkan sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia [sila ke-5].
Warna merah-putih melambangkan warna bendera nasional Indonesia. Merah berarti berani dan putih berarti suci. Garis hitam tebal yang melintang di dalam perisai melambangkan wilayah Indonesia yang dilintasi Garis Khatulistiwa.

Makna Jumlah Bulu pada Burung Garuda
Jumlah bulu melambangkan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945), antara lain:
  • Jumlah bulu pada masing-masing sayap berjumlah 17
  • Jumlah bulu pada ekor berjumlah 8
  • Jumlah bulu dibawah perisai/pangkal ekor berjumlah 19
  • Jumlah bulu pada leher berjumlah 45
Pita yg dicengkeram oleh burung garuda bertuliskan semboyan negara Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang berarti "walaupun berbeda beda, tetapi tetap satu".

 http://www.indonesia.go.id/in/sekilas-indonesia/lambang-dan-bentuk-negara/lambang-negara

Jumat, 08 Agustus 2014

KISAH SUKSES PUTRA BANGSA




Salatiga, LiputanIslam.com — Arfi’an Fuadi dan M. Arie Kurniawan, kakak beradik ini berhasil menjadi juara pertama dalam 3D Printing Challenge yang diadakan General Electric tahun ini, mengalahkan sekitar 700 peserta dari 56 negara. Bahkan mereka berhasil mengalahkan peserta dengan gelar Ph.D dari Swedia yang menyabet peringkat kedua dan insinyur lulusan University of Oxford yang meraih juara ketiga.
Jpnn yang mengunjungi kediaman mereka, melakukan wawancara terkait keberhasilan dua remaja ini memulai “karirnya” di bidang design engineering. Mereka bekerja dari rumahnya,  dengan tiga unit komputer. Rupanya, di ruangan kecil itulah Arfi –panggilan Arfi’an Fuadi– bersama sang adik M. Arie Kurniawan dan dua karyawannya mengeksekusi order design engineering dari berbagai negara.
Kiprah dua bersaudara itu di dunia rancang teknik internasional tak perlu diragukan lagi. Iapun bercerita tentang keberhasilannya memenangkan kompetisi tiga dimensi (3D) design engineering untuk jet engine bracket (penggantung mesin jet pesawat) yang diselenggarakan General Electric (GE) Amerika Serikat.
”Lomba ini membuat alat penggantung mesin jet seringan mungkin dengan tetap mempertahankan kekuatan angkut mesin jet seberat 9.500 pon. Saya berhasil mengurangi berat dari 2 kilogram lebih menjadi 327 gram saja. Berkurang 84 persen bobotnya,” ungkap Arie ketika ditemui di rumah kakaknya, Senin (4/8).
Yang membanggakan, Arie mengalahkan para pakar design engineering yang tingkat pendidikannya jauh di atas dirinya. Misalnya, juara kedua diraih seorang PhD dari Swedia yang bekerja di Swedish Air Force. Sedangkan yang nomor tiga lulusan Oxford University yang kini bekerja di Airbus. ”Padahal, saya hanya lulusan SMK Teknik Mekanik Otomotif,” jelas Arie.
Sekilas memang tak masuk akal. Bagaimana bisa seorang lulusan SMK yang belum pernah mendapatkan materi pendidikan CAD (computer aided design) mampu mengalahkan doktor dan mahasiswa S-3 yang bekerja di perusahaan pembuat pesawat? CAD adalah program komputer untuk menggambar suatu produk atau bagian dari suatu produk.
Rupanya, ilmu utak-atik desain teknik itu diperoleh dan didalami Arie dan kakaknya, Arfi, secara otodidak. Hampir setiap hari keduanya melakukan berbagai percobaan menggunakan program di komputernya. Mereka juga belajar dari referensi-referensi yang berserak di berbagai situs tentang design engineering.
”Terus terang dulu komputer saja kami tidak punya. Kami harus belajar komputer di rumah saudara. Lama-lama kami jadi menguasai. Bahkan, para tetangga yang mau beli komputer, sampai kami yang disuruh ke toko untuk memilihkan,” kenang Arfi.
Sebelum menjadi profesional di bidang desain teknik, dua putra keluarga A. Sya’roni itu ternyata harus banting tulang bekerja serabutan membantu ekonomi keluarga. Arfi yang lulusan SMK Negeri 7 Semarang pada 2005 pernah bekerja sebagai tukang cetak foto, di bengkel sepeda motor, sampai jualan susu keliling kampung.
Sang adik juga tak jauh berbeda, jadi tukang menurunkan pasir dari truk sampai tukang cuci motor. ”Kami menyadari, penghasilan orang tua kami pas-pasan. Mau tidak mau kami harus bekerja apa saja asal halal,” tutur Arfi.
Baru pada 2009 Arfi bisa menyalurkan bakat dan minatnya di bidang program komputer. Pada 9 Desember tahun itu dia memberanikan diri mendirikan perusahaan di bidang design engineering. Namanya D-Tech Engineering Salatiga. Saksi bisu pendirian perusahaan tersebut adalah komputer AMD 3000+. Komputer itu dibeli dari uang urunan keluarga dan gaji Arfi saat masih bekerja di PT Pos Indonesia.
”Gaji saya waktu itu sekitar Rp 700 ribu sebagai penjaga malam kantor pos. Lalu ada sisa uang beasiswa adik dan dibantu bapak, jadilah saya bisa membeli komputer ini,” kenangnya.
Setelah berdiskusi dengan sang adik, Arfi pun menetapkan bidang 3D design engineering sebagai fokus garapan mereka. Sebab, dia yakin bidang itu booming dalam beberapa tahun ke depan. ”Kami pun langsung belajar secara otodidak aplikasi CAD, perhitungan material dengan FEA (finite element analysis), dan lain-lain,” jelasnya.
Tak lama kemudian, D-Tech menerima order pertama. Setelah mencari di situs freelance, mereka mendapat pesanan desain jarum untuk alat ukur dari pengusaha Jerman. Si pengusaha bersedia membayar USD 10 per set. Sedangkan Arfi hanya mampu mengerjakan desain tiga set jarum selama dua minggu.
”Kalau sekarang mungkin bisa sepuluh menit jadi. Dulu memang lama karena kalau mau download atau kirim e-mail harus ke warnet dulu. Modem kami dulu hanya punya kecepatan 2 kbps. Hanya bisa untuk lihat e-mail.”
Di luar dugaan, garapan D-Tech menuai apresiasi dari si pemesan. Sampai-sampai si pemesan bersedia menambah USD 5 dari kesepakatan harga awal. ”Kami sangat senang mendapat apresiasi seperti itu. Dan itulah yang memotivasi kami untuk terus maju dan berkembang,” tegas Arfi.
Sejak itu order terus mengalir tak pernah sepi. Model desain yang dipesan pun makin beragam. Mulai kandang sapi yang dirakit tanpa paku yang dipesan orang Selandia Baru sampai desain pesawat penyebar pupuk yang dipesan perusahaan Amerika Serikat.
”Pernah ada yang minta desain mobil lama GT40 dengan handling yang sama. Untuk proyek itu, si pemilik sampai harus membongkar komponen mobilnya dan difoto satu-satu untuk kami teliti. Jadi, kami yang menentukan mesin yang harus dibeli, sasisnya model bagaimana dan seterusnya. Hasilnya, kata si pemesan, 95 persen mirip,” jelasnya.
Selama lima tahun ini, D-Tech telah mengerjakan sedikitnya 150 proyek desain. Tentu saja hasil finansial yang diperoleh pun signifikan. Mereka bisa membangun rumah orang tuanya serta membeli mobil. Tapi, di sisi lain, capaian yang cukup mencolok itu sempat mengundang cibiran dan tanda tanya para tetangga.
”Kami dicurigai memelihara tuyul. Soalnya, pekerjaannya tidak jelas, hanya di rumah, tapi kok bisa menghasilkan uang banyak. Mereka tidak tahu pekerjaan dan prestasi yang kami peroleh,” cerita Arfi seraya tertawa.
Sayangnya, dari 150 proyek itu, hanya satu yang dipesan klien dalam negeri. ”Satu-satunya klien Indonesia adalah dari sebuah perusahaan cat. Mereka beberapa kali memesan desain mesin pencampur cat,” lanjutnya.
Meski punya segudang pengalaman dan diakui berbagai perusahaan internasional, Arfi dan Arie masih belum bisa berkiprah di desain teknik Indonesia. Penyebabnya, mereka hanya berijazah SMK.
”Kalau ditanya apakah tidak ingin membantu perusahaan nasional, kami tentu mau. Tapi, apakah mereka mau? Di Indonesia kan yang ditanya pertama kali lulusan apa dan dari universitas mana,” ujarnya.
Stigma ”hanya berijazah SMK” ditambah sistem pendidikan Indonesia yang dinilai kurang adil itulah yang ikut mengandaskan keinginan Arie melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 di Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Arie tidak bisa masuk jurusan itu karena hanya lulusan SMK mekanik otomotif.
”Saya ingin kuliah di jurusan itu karena ingin memperdalam ilmu elektro. Kalau mesin saya bisa belajar sendiri. Tapi, saya ditolak karena kata pihak Undip jurusannya tidak sesuai dengan ijazah saya. Padahal, lulusan SMA yang sebenarnya juga tidak sesuai diterima. Ini kan tidak adil namanya,” cetus Arie.
Meski ditolak, Arie tidak kecewa. Bersama sang kakak, dia tetap ingin menunjukkan prestasi yang mengharumkan nama bangsa. Dan itu telah dibuktikan dengan menjuarai kompetisi design engineering di Amerika yang diikuti para ahli dari berbagai negara. Selain itu, mereka tak segan-segan menularkan ilmunya kepada anak-anak muda agar melek teknologi 3D design engineering.
”Ada beberapa anak SMK yang datang ke kami untuk belajar. Sekarang ada yang sudah kerja di bidang itu. Ada juga yang bakal ikut kompetisi Asian Skills Competition sebagai peserta termuda,” jelasnya.
Mereka juga punya keinginan mengembangkan teknologi energi terbarukan. Salah satunya dengan mengembangkan desain pembangkit listrik tenaga angin. ”Kami bekerja sama dengan anak-anak SMK untuk mengembangkan biodiesel dari minyak jelantah. Lalu, Mas Ricky Elson (pembuat mobil listrik yang dibawa Dahlan Iskan dari Jepang, Red) pernah menghubungi lewat Facebook, ingin menjalin kerja sama dengan kami. Tentu saja kami terima,” ungkapnya.
Dengan semua upaya itu, mereka punya satu impian, yakni mengembangkan sumber daya lokal Salatiga untuk menjadikan kota kecil itu pusat pengembangan manufaktur teknologi kelas dunia. Layaknya Silicon Valley di San Francisco, Amerika Serikat. ”Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi pusat industri manufaktur dunia. Terlebih lagi, teknologi 3D printing bakal menjadi tulang punggung industri masa depan. Itulah kenapa 3D design engineering sangat penting,” tandasnya.  (ba/jpnn)

Jumat, 18 Juli 2014

Surat Terbuka bukan untuk Prabowo maupun Jokowi



 KOMPAS.com
Catatan Kaki Jodhi Yudono

Kemarin saya bertemu karib saya. Don namanya. Kepada saya dia mengaku sedang dimabuk rindu. Kepada siapa rindu Don dialamatkan, saya sudah tahu jawabannya. Yani, itulah nama perempuan yang sudah memenjarakan cinta Don hingga kini. Itulah sebabnya, cuma kepada Yani seorang rindu Don ditumpahkan.

Semenjak perpisahan sekira sepuluh tahun lalu di kawasan Senayan, tak pernah sekalipun pasangan ini bersua.

Don pernah bercerita, kali terakhir mereka bertemu di sebuah kafe di Plaza senayan. Hari beranjak senja saat mereka bersua. Dua gelas lemon tea dan sejumlah penganan kecil, menemani mereka berbincang. Sebelum pada akhirnya mereka sepakat untuk berpisah. "Mungkin sebulan, setahun, lima tahun, sepuluh tahun, kita baru berjumpa lagi. Mungkin juga selamanya kita tak akan bertemu," ujar Yani ketika hari telah sempurna senja.

Semenjak itulah keduanya seperti memilih jalan yang bertolak belakang. Don ke Utara, sedang Yani ke selatan, begitu seterusnya. Hingga saya ketemu Don kemarin dan dia menyatakan rindu yang menggebu kepada Yani.

"Temui saja dia, toh kamu tahu alamat kantornya, alamat rumahnya," kata saya enteng.
Don cuma menggeleng.

"Kalian berkawan di media sosial?"

Kembali Don menggeleng, lantas pergi begitu saja, seperti biasanya. Saya pun tidak mencoba untuk memintanya kembali. Saya tahu betul tabiat lelaki jomblo itu., Sebentar lagi tentu dia akan bikin kejutan buat saya.

Malam harinya, dia pun kirim pesan di HP saya. "Cek tulisanku di inbox FBmu," begitu bunyi pesan Don.

Saya pun segera membuka laptop, dan segera menemukan tulisan Don yang lumayan panjang. Begini bunyinya:

Untuk Yani kekasihku.

Demi cuaca yang labil, aku tidak sedang meniru banyak tokoh yang belakangan banyak membuat surat terbuka untuk Prabowo, calon presiden nomor urut satu. Maafkan juga aku, sebab pasti jauh dari yang disebut heroik. Sebab, sementara banyak orang berkirim surat kepada calon presiden, aku malah berkirim surat kepadamu.

Sekali lagi aku minta maaf, sebab masih menyebutmu kekasih. Padahal sudah sepuluh tahun lewat kita tak bertemu dan saling bertegur sapa. Sampai kapan pun, engkau adalah kekasih jiwaku, kendati sampai mati kita tak akan dipertemukan kembali.

Apa kabarmu? Moga-moga kau baik-baik saja.

Jujur kuakui, aku rindu padamu. Lebih dari itu, aku juga ingin bercerita banyak mengenai apa saja yang kujumpai belakangan ini. Sekedar untuk mengurangi beban, sebelum aku gila oleh peristiwa demi persitiwa yang tak masuk akal yang bisa merusak pikiran dan nuraniku.

Tentu kau tahu, Pilpres kali ini nyaris seperti perang Baratayudha. Sebab yang maju cuma dua kandidat, seperti halnya keluarga Pandawa dan Kurawa. Cuma anehnya, para tim sukses masing-masing kandidat merasa keduanya adalah keluarga Pandawa alias keluarga baik-baik. Lebih aneh lagi, jika mereka mengaku dari golongan orang-orang baik, mengapa situasi sekarang sedemikian genting justru oleh ulah kedua kubu itu yang saling melempar isu.

Kubu yang satu menuduh kubu lainnya sebagai PKI, kurang taat beragama, capres boneka, antek asing. Sementara kubuh yang dituduh lantas membalas, bahwa kubu yang menuduh adalah seorang penculik, pelanggar berat HAM, perpanjangan rezim Orde Baru, dan temperamental.

Untunglah pada hari pemilihan berlangsung dengan aman. Kedua kandidat berterimakasih kepada masyarakat dan juga kepada Presiden SBY yang sudah dengan baik menyelenggarakan Pilpres.  

Tapi lihatlah, wahai kekasihku. Rupanya konflik belum usai meski proses pencoblosan sudah berakhir. Beberapa jam setelah coblosan berakhir, kubu Jokowi mendeklarasikan kemenangannya berdasarkan penghitungan cepat hasil survei 7 lembaga survei yang terdaftar di Komisi Pemilihan Umum.

Aku hanya menduga, barangkali kubu Jokowi hanya menjalankan tradisi yang telah berlangsung, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bahwa mereka yang memenangi quick count dari lembaga-lembaga yang kredibel sudah sewajarnya mengumumkan kemenangannya di hadapan publik.

Tapi apa yang terjadi? Kubu Prabowo juga mengumumkan kemenangannya, juga berdasarkan hasil penghitungan cepat empat lembaga survei versi mereka.

Prabowo menyebut semua quick count yang tidak mengunggulkan dirinya adalah bayaran dan komersil tanpa mempertimbangkan soal rekam jejak lembaga-lembaga itu. Sementara pendukung Jokowi meuduh "lantas bagaimana dengan Ines, IRC, JSN, Puskaptis, LSN, memangnya merewka bukan bayaran? Tidak komersil? Bagaimana dengan rekam jejak lima lembaga survei tersebut?

Kita pun kemudian merasai, betapa bangsa ini terbelah menjadi dua. Golongan pertama adalah mereka yang percaya Prabowo-Hatta pemenangnya. Sedang golongan kedua, meyakini Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai juaranya. Perpecahan bangsa rasanya sudah di depan mata. Sebab, media yang seharusnya berdiri di atas semua golongan, hari itu juga terpecah menjadi dua. Kandidat nomor urut satu didukung oleh TVOne, ANTV, RCTI, MNC, dan Global TV. Sementara kandidat nomor dua didukung oleh Metro TV. Sementara stasiun televisi lainnya di luar dua kelompok media itu, menayangkan quick count yang memenangkan Jokowi dan JK.

Malamnya, kedua kandidat sowan kepada Presiden SBY di Cikeas. Pesan Presiden sama untuk keduanya, agar keduanya mengendalikan massa pendukung masing-masing agar tidak terjadi benturan. Keduanya pun mematuhi hari itu dengan tidak mengerahkan massa turun ke jalan.

Tapi pada Jumat (11/7) atas nama Rakyat Palestina yang dianiaya Israel, pendukung Prabowo berhimpun di bunderan Hotel Indonesia. Di tempat itu, Prabowo sudah disebut "presiden" oleh pendukungnya. Sementara pada hari yang sama, para relawan Jokowi berkumpul di Tugu Proklamasi pada Jumat (11/7/2014) juga untuk mendoakan warga Palestina.


Hmmm... lucu ya? Kadang kita menyaksikan kebengisan mereka, tapi di saat yang lain, kita juga menyaksikan betapa manisnya mereka. Kadang kita sampai bergidik membaca dan mendengar fitnah keji mereka atas kelompok lainnya, tapi di lain waktu mereka bagai malaikat yang penuh welas asih dengan mendoakan sesama yang sedang teraniaya.

Yani kekasihku, aku gemetar oleh cuaca pancaroba. Angin dingin menusuk kulitku. Semoga ini bukan pertanda buruk bagi bangsa ini. Semoga ini hanya fenomena alam belaka yang disebabkan oleh angin yang datang dari Timur Tenggara yang cenderung teduh dan menghasilkan suhu dingin.

Aku khawatir, kekasihku. Apalagi belakangan santer beredar pesan-pesan gelap yang seolah-olah bakal terjadi "perang badar" seperti yang diisyaratkan oleh Amien Rais beberapa waktu silam.

Sungguh kekasihku, aku menulis surat ini semata karena aku rindu kepadamu, bukan karena urusan yang lain. Bukan juga ikut-ikutan Arswendo Atmowiloto, Romo Magnis, Mira Lesmana, Happy Salma, Nina Tamam, dan Riri Riza, serta yang lainnya, yang mengirim surat ke Prabowo untuk mempertanyakan kredibilitas hasil penghitungan cepat empat lembaga survei yang menempatkan Prabowo-Hatta sebagai pemenang Pilpres 2014.

Yani kekasihku, sambil menunggu pengumuman KPU pada 22 Juli nanti, marilah kita terus berdoa dan berharap, semoga Tuhan Semesta Alam menjauhkan bangsa kita dari marabahaya dan perpecahan. Semoga mereka yang sedang dibutakan oleh kekuasan, segera diterangi akal dan hatinya. Semoga mereka yang sedang "bermusuhan" segera diakurkan. Mereka yang sedang dikuasai oleh amarah, segera diterbitkan senyumnya.

Sekian surat dariku yang selalu rindu, kepadamu.

Don

@JodhiY

Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...