Senin, 14 Maret 2016
Nasihat Para Imam Ahlulbait as. Untuk Syi’ah Mereka (1)
Para Imam Ahlulbait as. adalah pewaris kepemimpinan kenabian… mereka adalah hujjah-hujjah Allah di atas bumi…. Mereka adalah adillâ’u Ilal Khair/kenunjuk jalan menuju kebaikan dunia dan akhirat….. mengkiuti bimbingan para Imam Ahlulbait as. akan menjamin kebahagian umat manusia … dalam berbagai kesempatan, para Imam as. mencurahkan perhatian mereka terhadap umat Rasulullah saw. secara umum dan kepada pera pecinta dan pengkiut secara khusus….
Adalah sebuah realita yang tak terbantahkan bahwa ternyata di tengah-tengah umat Islam, ada sekelompok yang berkiblat, meyakini imamah para imam Ahlulbait as. dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam segala urusan agama mereka… mereka itu adalah Syi’ah Ahlulbait/para pengikut Ahlulbait as. eksistenti mereka selalu digandengakan dengan nama Ahlulbait as.
Untuk mereka, para imam suci Ahlulbait as. memberikan perhatian khusus mereka dalam membimbing mereka untuk merealisasikan Islam dengan segenap ajarannya yang paripurna dan kâffah, baik dalam ibadah maupun akhlak dan etika pergaulan…
Dalam artikel ini saya mencoba menyajikan untuk Anda irsyâd dan didikan para imam suci Ahlulbait as. untuk Syi’ah mereka, agar dapat diketahui batapa agung dan mulianya bimbingan mereka as.
Jadilah Kalian Sebagai Penghias Kami
Dalam sabda-sabda mereka, para Imam suci Ahlulbait as. meminta dengan sangat dari Syi’ah agar menjadi penghias bagi para imam dan tidak mencoreng nama harus mereka. Apabila mereka menyandang akhlak islami, beradab dengan didikan para imam pasti manusia akan memunji para imam Ahlulbait sebagai pembimbing yang telah mampu mencetak para pengikut yang berkualitas, mareka pasti akan mengatakan alangkah mulianya didikan para imam Ahlulbait itu terhadap Syi’ah mereka! Begitu juga sebailnya, apabila manusia menyaksikan keburukan sifat dan sikap serta perlakuan, maka mereka akan menyalahkan Ahlulbait as. dan mungkin akan menuduh para imam telah gagal dalam membina para Syi’ah mereka.
Sulaiman ibn Mahrân berkata, “Aku masuik menjumpai Imam Ja’far ibn Muhammad ash Shadiq as., ketika itu di sisi beliau ada beberapa orang Syi’ah, beliau as. bersabda:
معاشِرَ الشيعَةِ! كونُوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا، و احفَظُوا أَلْسِنَتَكُمْ و كُفُّها عن الفُضُولِ و قُبْحِ القولِ.
“Wahai sekalian Syi’ah! Jadilah kalian penghias bagi kami dan jangan jadi pencoreng kami. Katakan yang baik-baik keada manusia, jagalah lisan-lisan kalian, tahanlah dia dari kelebihan berbicara dan omongan yang jelak.” [1]
Dalam sabda beliau di atas, Imam Ja’far menekankan pentingnya menjadi penghias bagi Ahlulbait as., hal demikian tidak berarti bahwa Ahlulbait as. akan menyandang kemulian disebabkan kebaikan Syi’ah mereka, akan tetapi lebih terkait dengan penilaian manusia tentang mereka yang biasa menilai seorang pemimpin melalui penilaian terhadap para pengikutnya. Imam Ja’far as. menekankan pentinghnya bertutur kata yang baik dan manjaga lisan dari berbicara jelak.
Dalam hadis lain, Imam Ja’far as. bersabda:
يا معشرَ الشيعَةِ! إِنَّكُمْ نُسِبْتُمْ إلينَا، كونوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا
“Hai sekalian Syi’ah! Sesungguhnya kalian telah dinisbatkan kepada kami, jadilah penghias bagi kami dan jangan menjadi pencorang!” [2]
Dalam sabda lain beliau berkata:
رَحِمَ اللهُ عَبْدًا حَبَبَنَا إلى الناسِ لا يُبَغِّضُنا إليهِمْ. وايمُ اللهِ لَوْ يرْوونَ مَحاسِنَ كلامِنا لَكانوا أَعَزَّ، و ما استَطاعَ أَحدٌ أَنْ يَتَعَلَّقَ عليهِمْ بشيْئٍ.
“Semoga Allah merahmati seorang yang mencintakan kami kepada manusia dan tidak membencikan kami kepada mereka. Demi Allah andai mereka menyampaikn keindahan ucapan-ucapan kami pastilah mereka lebih berjaya dan tiada seorangpun yang dapt bergantung atas (menyalahkan) mereka dengan sesuatu apapun.”[3]
Dalam salah satu pesannya melalui sahabat beliau bernama Abdul A’lâ, Imam Ja’far bersabda:
يَا عبدَ الأعلى … فَأَقْرَأْهُمْ السلام و رحمة الله و قل: قال لكم: رَحِمَ اللهُ عبْدًا اسْتَجَرَّ مَوَدَّةَ الناسِ إلى نفسِهِ و إلينا بِأَنْ يُظْهِرَ ما يَعْرِفُونَ و يَكُفَّ عنهُم ما يُنْكِرُونَ.
“Hai Abdul A’lâ… sampaikan salam kepada mereka (syi’ahku) dan katakana kepada mereka bahwa Ja’far berkata keada kalian, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menarik kecintaan manusia kepada dirnya dan keada kami dengan menampakkan apa-apa yang mereka kenal dan menahan dari menyampaikan apa-apa yang tidak mereka kenal.”[4]
Wara’ dan Ketaqwaan
Tidak kita temukan wasiat yang paling ditekankan para imam suci Ahlulbait as. untuk Syi’ah mereka seperti ketaqwaan dan wara’. Syi’ah adalah mereka yang mengikuti dan bermusyâya’ah kepada Ahlulbait as.. Dan mereka yang paling berpegang teguh dengan ketaqwaan dan wara’lah yang paling dekat dan paling istimewa kedudukannya di sisi Ahlulbait as., sebab inti kesyi’ahan adalah mengikuti, beruswah dan meneladani. Maka barang siapa hendak mengikuti dan meneladani Ahlulibat as. tidak ada jalan untuk itu selain ketaatan kepada Allah SWT. bersikap wara’ dan bertaqwa.
Abu Shabâh al Kinani berkata, “Aku berkata kepada Abu Abdillah (Imam Ja’far) as. ‘Di kota Kufah kami diperolok-olokkan karena (mengikuti tuan), kami diolok-olok ‘Ja’fariyah’. Maka Imam murka dan bersabda:
إنَّ أصحابَ جعفر مِنكُم لَقليلٌ، إنما أصحابُ جَعْفَر مَنْ اشْتَدَّ وَرَعُهُ و عَمِلَ لِخالِقِهِ.
“Sesungguhnya pengikut Ja’far di antara kalian itu sedikit. Sesungguhnya pengikut ja’fa itu adalah oran yang besar kehait-hatiannya dan berbuat untuk akhiratnya.’”[5]
Syi’ah adalah mereka yang telah menjadikan manusia-manusia suci pilihan Allah SWT sebagai panutan mereka. Para imam itu adalah hamba-hamba Allah yang telah mencapai derajat yang sangat tinggi di sisi Allah disebabkan ketaqwaan mereka, maka dari mereka yang mengikuti para imam Ahlulbait as. itu adalah yang paling berhak menghias diri mereka dengan ketaqwaan dan wara’.
Bassâm berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah as. bersabda:
إنَّ أَحَقَّ الناسِ بالورعِ آلُ محمدٍ و شِيْعَتُهُمْ
“Yang paling berhak bersikap wara’ adalah keluarga Muhammad dan Syi’ah mereka.”[6]
Dan berkat didikan para imamsuci Ahlulbait as., maka sudah seharusnyaSyi’ah Ahlulbait adalah seperti yang disabdakan Imam Ja’far as.:
شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ، و أهلُ الوقارِ و الأمانَةِ، أهلُ الزهدِ و العبادَةِ. أصحابُ إحدَى و خمسونَ رَكْعَةً في اليومِ و الليلَةِ، القائمونَ بالليلِ، الصائمونَ بالنهار، يَحِجُّونَ البيتَ… و يَجْتَنِبونَ كُلَّ مُحَرَّمٍ.
“Syi’ah kami adalah ahli/penyandang wara’ dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, pemilik ketenangan/keanggunan dan amanat, penyandang zuhud dan getol beribadah. Pelaksana shalat lima puluh satu rakaat dalam sehari sealam. Berdiri (mengisi malam dengan shalat) puasa di siang hari dan berangkat haji ke tanah suci… dan mereka menjauhkan dri dari setiap yang haram.”[7]
Imam Ja’far as. bersabda:
و اللهِ ما شيعَةُ علي (عليه السلام) إلاَّ مَنْ عَفَّ بطنُهُ و فرْجُهُ، و عمل لِخالقِهِ، و رجَا ثوابَهُ، و خافَ عقابَهُ.
“Demi Allah, tiada Syi’ah Ali as. kecuali orang yang menjaga perutnya dan kemaluannya, berbuat demi Tuhannya, mengharap pahala-Nya dan takut dari siksa-Nya.”[8]
Dalam sabda lain Imam Ja’far as. bersabda mengarahkan Syi’ah beliau:
يا شِيْعَةَ آلِ محمَّدٍ، إنَهُ ليسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَملكْ نفسَهُ عندَ الغضَبِ، و لَمْ يُحسِنْ صُحْبَةَ مَن صحِبَهُ، و مرافَقَةَ مَن رافقَهُ، و مصالَحَةَ مَن صالَحَهُ.
“Wahai Syi’ah Âlu (keluarga) Muahmmad, sesungguhnya bukan dari kami orang yang tidak menguasai nafsunya disaat merah, tidak berbaik persahabatan dengan orang yang ia temani, dan tidak berbaik kebersamaan dengan orang yang bermasa dengannya serta tidak berbaik shulh dengan oranf yang berdamai dengannya.” [9]
Para Imam Ahlubait as. tidak puas dari Syi’ah mereka apabila di sebuah kota masih ada orang selain mereka yang lebih berkualitas. Syi’ah Ahlulbait as. harus menjadi anggota masyarakat paling unggul dalam berbagai kebaikan. Imam Ja’far as. bersabda:
ليسَ مِنْ شيعَتِنا مَنْ يكونُ فِيْ مِصْرَ، يكونُ فيْهِ آلآف و يكون في المصرِ أورَعُ منهُ.
“Tidak termasuk dari Syi’ah kami seorang yant betinggal di sebuah kota yang terdiri dari beribu-ribu masyarakat, sementara di kota itu ada seorang yang lebih wara’ darinya.” [10]
Dengan berwilayah, mengakui imamah Ahlulbait as. dan mengikuti ajaran mereka, Syi’ah benar-benar berada di atas jalan yang mustaqîm dan di atas agama Allah SWT. Jadi dari sisi keyakinan dan I’tiqâd mereka sudah berasa di atas kebenaran, sehingga yang petning sekarang bagi mereka adalah memperbaikit kualitas amal dan akhak mereka. Kulaib ibn Mu’awiyah al Asadi berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ja’far) as. bersabda:
و اللهِ إنَّكُمْ لَعلَى دينِ اللهِ و دينِ ملآئكَتِهِ فَأَعِيْنُونِيْ بورَعٍ و اجتهادٍ. عليكُمْ بصلاةِ الليلِ و اعبادَةِ، عليكم بالورعِ.
“Demi Allah kalian benar-benar berada di atas agama Allah dan agama para malaikat-Nya, maka bantulah aku dengan wara’ dan kesungguh-sungguhan dalam ibadah. Hendaknya kalian kinsisten shalat malam, beribadah. Hendaknya kalian kinsisten berpegang dengan wara’.” [11]
Memelihara hati agar selalu ingat kepada Allah SWT.; perintah dan larangan-Nya juga menjadi sorotan perhatian parta imam suci Ahlulbait as.
Penulis kitab Bashâir ad Darâjât meriwayatkan dari Murâzim bahwa Imam Zainal Abidin as. bersabda kepadanya:
يا مرازِم! ليسَ مِن شيعَتِنا مَنْ خَلاَ ثُمَّ لَمْ يَرْعَ قَلْبَهُ.
“Hai Murâzim, bukan dari Syi’ah kami seorang yang menyendiri kemudian ia tidak menjaga hatinya.”[12]
Diriwayatkan ada seseorang berkata kepada Imam Hsain as., “Wahai putra Rasulullah, aku dari Syi’ah kamu.” Maka Imam bersabda:
إنَّ شِيْعَتَنا مَنْ سَلِمَتْ قلوبُهُم من كُلِّ غِشٍّ و غِلِّ و دَغْلٍ.
“Syi’ah kami, adalah orang-oarng yang hati-hati mereka selamat/bersih dari segala bentuk pengkhianatan, kedengkian dan makar.”[13]
Imam Ja’far as. juga bersabda:
ليسَ مِنْ شيعَتِنا مَن قال بلسانِهِ و خالفَنا في أعمالِنا و آثارِنا، لَكِنْ شيعتُنا مَنْ وافقَنا بلسانِهِ و قلبِهِ و تَب~عَ أثارَنا وَ عمِلَ بِأَعمالِنا. أولئكَ شيعتُنا.
“Bukan termasuk Syi’ah kami orang yang berkata dengan lisannya namun ia menyalahgi kami dalam amal-amal dan tindakan kami. Tetapi Syi’ah kami adalah orang yang menyesuai kami dengan lisan dan hatinya dan mengikuti tindakan-tindakan kami serta beamal dengan amal kami. Mereka itulah Syi’ah kami.”
Hadis di atas adalah pendefenisian yang sempurna siapa sejatinya Syi’ah Ahlulbiat itu, dan sekaligus membubarkan angan-angan dan klaim-klaim sebagian yang mengaku-ngaku sebagai Syiah sementara dari sisi ajaran tidak mengambil dari Ahlulbait as. dan dalam beramal tidak menteladani Ahlulbait as. Semoga kita digolongkan dari Syi’ah Ahlulbait yang sejati. Amin.
Semangat Beribadah
Ciri lain yang seharusnya terpenuhi dapa Syi’ah Ahlulbait as. adalah bergeloranya semangat beribadah kepada Allah SWT. mengisi hari-hari mereka dengan mendekatkan diri kepada Allah, drengan bersujud, menangisi kesahalan dan dosa-dosa yang dikerjakannya dan kekurangan serta keteledorannya, membaca Alqu’an al Karim.
Dalam sebuah sabdanya, Imam al baqir as. bersabda kepada Abu al Miqdâm:
… إِذا جَنَّهُمُ الليلُ اتَّخَذُوا الأرْضَ فِراشًا، و استقلُُّوا الأرضَ بِجِباهِهِمْ ، كثيرٌ سجودُهُم ، كثيرَةٌ دموعُهُمْ، كثيرٌدعاؤُهُم ، كثيرٌ بكاؤُهُمْ ، يَفْرَحُ الناسُ و هُمْ يَحْزَنونَ.
“…jika malam menyelimuti mereka, mereka menjadikan tanah sebagai hamparannya, dan meletakkan dahi-dahi mereka ke bumi. Banyak sujudnya, deras air matanya, banyak doanya dan banyak tangisnya. Orang-orang bergenbira sementara mereka bersedih.”[14]
Imam Ja’far as. bersabda:
شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ ، و اهلُ الوفاء و الأمانةِ، و أهل الزهدِ و العبادةِ، أصحابُ إحدِىَ و خمسينَ ركعَةً في اليومِ و الليلَةِ، و القَائِمُونَ باللَّيلِ، الصائِمونَ بالنهارِ ،يُزَكُّوْنَ أَموالَهُمْ ، و يَحِجُّوْنَ البيتَ و يَجْتَنِبُوْنَ كُلَّ مُحَرَّمٍ.
“Syi’ah kami adalah ahli (penyandang) wara’, dan kesungguh-sungguhna dalam ibadah, ahli menepati janji dan amanat, ahli zuhud dan ibadah, ahli (pelaknasa) salat lima puluh sau raka’at dalam sehari, bangun di malam hari, puasa di siang hari, menzakati hartanya, melaksanakan haji, dan menjauhkan diri dari setiap yang diharamkan.”[15]
Rahib Di Malam Hari Dan Singa Di Siang Hari
Nauf, -seorang sahabat Imam Ali as.- mensifati kenangan indahnya bersama Imam Ali as. ketika menghidupkan malamnya di atas atap rumah dengan shalat… Imam Ali as. menatap bintang- gemintang di langit seakan sedih, kemudian beliau bertanya kepada Nauf, “Hai Nauf, apakah engkap tidur atau bangun?” Aku terjaga. Jawab Nauf. Lalu beliau bersabda:
أَ تَدْرِيْ مَنْ شيعتِيْ؟ شيعتِيْ الذُبْلُ الشِفاهِ، الخُمْصٌ البُطُونِ، الذي تُعْرَفُ الرَّهْبانِيَّةُ و الربانية في وُجُوهِهِمْ، رهبانٌ بالليلِ ، أسَدٌ بالنهارِ، إذا جّنَّهُم الليلُ اتَّزَرُوا على أوساطِهِمْ و ارْتَدَوْا على أطرافِهِمْ، و صَفُّوا أقدامَهُمْ و افترشُوا جناهَهُمْ، تَجْرِي الدموعُ على خدودِهِم، يَجْأَرونَ إلى اللهِ فكتكِ رقَبَتِهِمْ مِنَ ، أمَّا الليلُ فَحُلماءُ علماؤ أبرارٌ أتقِياءُ.
“Hai Nauf, tahukan engkau siapa Syi’ahku? Syi’ahku adalah yang layu bibir-bibr mereka, cekung perut-perut mereka, penghambaan dan rabbaniyah dikenal dari wajah-wajah mereka. Mereka adalah para rahib di malam hari, dan singa di siang hari. Jika malam telah menyelimuti mereka, mereka mengencangkan kain ikatan (baju) mereka, mereka berkain di atas pundak mereka, mereka merapatkan kaki-kaki mereka, mereka meletakkan dahi-dahi mereka. Air mata mereka mengalir di atas pipi-pipi mereka, mereka meraung-raung memohon kepada Allah agar dibebaskan dari siksa neraka. Adapun di siang hari mereka adalah orang-orang yang dingin hatinya, pandai, baik-baik dan bertaqwa.”[16]
Sungguh indah gambaran yang dilukiskan Imam Ali as. bagi Syi’ah beliau as. para rahib di malam hari, dan singa di siang hari. Ia adalah ungkapan yang sangat tepat yang menggambarkan kondisi serasi dalam mengombinasikan aktifitas kehidupan mereka. Mereka menguasa mala-malam taktaka kegelapan telah menyelimuti angkasa. Kamu saksikan mereka meletakkan dahi-dahi kerendahan di hadapan Sang Khaliq dalam keadaan khusyu’ dan penuh penghambaan. Mereka meraung-raung menangis mengharap ampunan Allah dan kebebasan dari belenggu ap neraka.
Dan ketika siang datang menyinari bumi, berubalah mereka menjadi para pendekar di ddalam arena perjuangan kehidupan… mereka adalah ulama yang meresap ilmu dan ma’rifahnya tentang Allah SWT…. mereka adalah berhati dingin, pemaaf, bertaqwa dan penyabar serta berjuang tak kenal lelah.
Dzikir dim ala hari, ketaqwaan dan perjuangan dim ala hari… kebuah komposisi seimbang bagi kepribadian seorang Muslim Mukmin yang ideal. Itulah Syi’ah Ali as.!
[1] Amâli ath Thûsi,2/55 dan Bihar al Anwâr,68/151.
[2] Misykât al Anwâr:67.
[3] Ibid.180.
[4] Bihal al Anwâr,2/77.
[5] Al Bihar,68/166.
[6] Bisyâratul Mushthafa:17.
[7] Al Bihâr,68/167.
[8] Ibid.168.
[9] Ibid.266.
[10] Ibid.164.
[11] Bisyâratul Mushthafa:55 dan 174, dan Al Bihâr,68/87.
[12] Bashâir ad Darajât:247 darinya al Bihâr,68/153.
[13] Al Bihâr,68/164.
[14] Al Khishâl,2/58 darinya al Bihâr,68/1490-150.
[15] Shifâtusy Syi’ah:2 dari al Bihâr,68/167 hadis 33.
[16] Al Bihâr,68/191.
sumber : jakfari.wordpress.com
Apa hakikat nur Muhammadiyah itu yang galibnya mengemuka dalam bidang Irfan Teoritis?
Hakikat nur
Muhammadiyah atau “Hakikat Muhammadiyah” dalam terminologi Irfan adalah entitas
permanen Muhammadi yang berada di puncak entitas-entitas permanen (a’yan
tsâbitah) dan terealisasi dengan tajalli (manifestasi) unggul Ilahi kemudian
menjadi media penampakan seluruh kebaikan dan keberkahan di alam semesta dan
keberadaan.
Terminologi
ini diadopsi dari sebagian riwayat yang memperkenalkan hakikat nur Muhammadiyah
sebagai entitas terunggul dan berada pada puncak kedekatan kepada Allah Swt.
Kebanyakan
para arif Muslim membahas masalah ini dan termasuk salah satu rukun Irfan
Islam. Tema Nur Muhammadiyah menempati kedudukan istimewa dalam Irfan Teoritis
Ibnu Arabi.
Hakikat
Muhammadiyah merupakan sebuah terminologi dalam dunia Irfan Islami. Hakikat
Muhammadiyah bermakna entifikasi awal dari Zat Ilahi yang menduduki puncak
seluruh “entifikasi permanen” (a’yan tsâbitah) dan puncak seluruh entifikasi permanen
ini adalah ismu ‘azham (nama-nama teragung) dan himpunan seluruh nama terindah
Tuhan. Beranjak dari hakikat ini, seluruh semesta bermunculan dan tampilan
seluruh semesta ini disebut juga sebagai haqiqat al-haqâiq. Sesuai dengan
keyakinan para arif, hakikat Muhammadiyah secara sempurna memanifestasi dalam
diri seorang insan paripurna (kamil); nabi, rasul, wali, yang merupakan cermin
dan manifestasi-manifestasi hakikat ini di alam sifla (rendah) dan manifestasi
sempurnanya di alam ini adalah Rasulullah Muhammad Saw.[1]
Terdapat
banyak riwayat terkait dengan hakikat nur Muhammadi yang sangat berpengaruh
dalam membentuk redaksi hakikat Muhammadiyah; karena riwayat tersebut membagi
wujud Rasulullah Saw menjadi dua bagian, wujud khalqi (lahir) dan wujud haqqi
(batin) dan menempatkannya sangat dekat kepada Haq (Tuhan) dan mahkluk tidak
mampu mencerap kesempurnaannya.
Misalnya:
1. “Lii
ma’allâhi waqtun la yasa’uni fihi malakun muqarrab wala nabiyyun mursal.”[2]
Atau riwayat lain, “Laa yasa’uni fihi ghairu Rabbi.” Aku bersama Tuhan pada
waktu-waktu yang (pada waktu itu) tiada malaikat terdekat dan tiada nabi
utusan. Atau riwayat lainnya, “Tiada yang memiliki akses (pada waktu itu)
selain Tuhanku.”
2. “Ana
sayyidun wuldi Adam wala fakhra.”[3] Aku adalah penghulu anak-anak Adam dan hal
ini bukan kebanggaan bagiku.
3. “Adamu wa
man dunahu tahta liwâi.”[4] Adam dan siapapun yang datang setelahnya semuanya
berada di bawah panjiku.
4. “Awwalu
maa khalaqallâh nûri.”[5] Yang paling perdana yang diciptakan Allah Swt adalah
cahayaku.
Terdapat
beberapa riwayat yang mengandung pengertian serupa khususnya riwayat-riwayat
yang menunjukkan atas keterdahuluan cahaya Muhammad Saw atas seluruh makhluk.
Pada sebagian riwayat lainnya menyinggung kesatuan cahaya Baginda Ali As dan cahaya
Rasulullah Saw.[6]
Sesuai
dengan pandangan ini, dalil paling utama dan paling benderang atas wujud Allah
Swt adalah hakikat Muhammadiyah, lantaran hakikat ini memiliki keunggulan
paling tinggi dalam kesatuan dengan Tuhan, dengan keberadaannya maka ia
menetapkan wujud Tuhan dan pada batasan yang paling maksimal hakikat
Muhammadiyah ini menampilkan apa yang ditunjukkan-Nya (baca: Tuhan).
Hakikat
Muhammadiyah sesuai dengan redaksi lain adalah wujud ghaibi Rasulullah Saw yang
disebut juga sebagai batin nubuwwah (kenabian) dan disebutkan bahwa hakikat
Muhammadiyah ini adalah wilayah batin kenabian. Sejatinya, “wali” merupakan
nama Allah dan maqam wilayah adalah lantaran di satu sisi hakikat ini menuju
pada Hak, fana dalam Zat-Nya, baqa (abadi) kepada-Nya. Sedangkan kenabian
adalah dari sisi lain lantaran hakikat ini menuju ciptaan (khalq) yang bersifat
temporal dan suatu waktu kelak akan terputus.
Sesuai
dengan keyakinan para arif, seluruh nabi, semenjak Adam hingga Isa
(Alaihimussalam) merupakan cermin-cermin hakikat ini. Akan tetapi dengan
datangnya Rasulullah Saw, maka seluruh tampilan dan manifestasi sempurna
hakikat ini mengejawantah pada diri Muhammad (hakikat Muhammadiyah).
Terjalinnya
rajutan batin dan sampainya kepada hakikat ini, merupakan cita dan asa para
arif Islam yang merupakan kedekatan paripurna dengan keyakinan Syiah pada
masalah wilâyah para Imam Maksum As. Sesuai dengan tuturan para arif, hakikat
Muhammadiyah ini, pasca Rasulullah Saw memanifestasi secara paripurna pada diri
Baginda Ali As dan para Imam Maksum lainnya. Pada tingkatan selanjutnya
mengejewantah pada para arif pewaris para maksum As.
Mayoritas
urafa (plural: arif) mengemukakan hal-hal subtil dan sublim terkait dengan
masalah ini. Di sini kami akan menyebutkannya secara selayang pandang. Misalnya
Syaikh Muhammad Syabistari dalam hal ini bersenandung,
Buwad nur Nabi Khursyid-e A’zham
Gha az Musa
padid gha ze A^dam
Ze nurasy
syud wilâyat saye Gustar
Masyâriq ba
Maghârib syud Barâbar
Wujud-e
Auliya cu Udhwand
Ke U kull
ast isyan hamcun Juzwand[7]
Cahaya Nabi
adalah mentari teragung
Terkadang
memendar dari Musa terkadang dari Adam
Dari
cahayanya menebar pancaran wilayah
Timur dan
Barat menjadi berimbang
Wujud para
wali seluruhnya bak anggotanya
Dia adalah
keseluruhan dan lainnya adalah bagian darinya
Demikian juga Maulana Rumi secara lebih lugas dalam syair – dalam pandangannya ihwal wahdat al-wujud – menjelaskan perjalanan “hakikat Muhammadiyah” pada batin pada wali dan nabi:
Secara keseluruhan,
ia yang datang dan pergi, setiap kurun
Meski bentuk
lahirnya sebagai seorang Arab yang memiliki semesta
Bukan
reinkarnasi bukan juga titisan, pada hakikat keindahannya
Menjadi
pedang dan menjelma menjadi Karrar,[8] pembunuh zaman
Lamat-lamat
ucapannya bersenandung Ana al-Haqq dengan gema Ilahi
Ia bukan
Manshur yang digantung oleh orang-orang dungu
Rumi tidak
berkata-kata kufur dan janganlah mungkir
Orang yang
kafir adalah orang yang ingkar dan menjadi penghuni neraka[9]
Terkait
dengan latar sejarah konsep ini dalam dunia Irfan teoretis (nazhari) boleh jadi
dapat dikatakan Ibnu Faridh, salah seorang arif, yang berbicara tentang hakikat
Muhammadiyah ini. Ia dalam kasidah masyhurnya (Taiyyah Kubrâ) membahas masalah
ini dan menggubah hakikat Muhammadiyah dalam bentuk syair sebagaimana berikut:
“Kendati aku
adalah anak Adam pada alam lahir akan tetapi (sejatinya) aku adalah ayah bagi
Adam. Aku masih berada dalam buaian sementara para nabi telah menjadi pengikut
dan pendukungku. Lempengan hakikatku sempurna pada semuanya. Sebelum aku
menyusui dan sebelum aku menerima taklif secara lahir menjadi seorang mukallaf,
(menjalani) syariatku yang menjelaskan karakter dan akhlakku, aku (telah)
menjadi penutup seluruh syariat.[10]
Setelah Ibnu Faridh kemudian muncul Ibnu Arabi yang secara luas menguraikan masalah ini. Dan, salah satu rukun Irfan Ibnu Arabi adalah “hakikat Muhammadiyah” sedemikian sehingga terminologi ini secara asasi dikenal sebagai salah satu terminologi sentral Irfan Ibnu Arabi. Kendati terdapat para arif lainnya yang mengemukakan dan membahas masalah ini dengan redaksi dan bahasa yang berbeda.
Irfan Islami
yang tidak mengangkat pembahasan “hakikat Muhammadiyah” dan “insan kamil” yang
merupakan wadah hakikat ini, maka Irfan Islami tersebut hampa kandungannya.
Sebagaimana tidak mungkin menjelaskan hakikat-hakikat intrinsik kenabian dan
imamah tanpa membahas kedua masalah ini.
Kiranya
cukup sampai di sini kami membahas masalah ini dan bagi Anda yang tertarik
untuk menelaah dan mengkajinya lebih jeluk, kami persilahkan Anda untuk merujuk
pada buku-buku Irfan Nazhari utamanya Irfan Teoritis Ibnu Arabi.
Catatan Kaki:
[1].
Dâneshnâme Jahân-e Islâm, Nasyr Bunyad-e Daira al-Ma’arif Islami, huruf ha.
[2].
Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 18, hal. 360, Muasssah al-Wafa,
Beirut.
[3]. Ibid,
jil. 4, hal. 198.
[4]. Ibid,
jil. 16, hal. 403.
[5]. Ibid,
jil. 1, hal. 97.
[6]. Di
antararnya “Khuliqtu Ana wa ‘Ali min Nur Wâhid.” Al-Amali Shaduq, hal. 236,
Intisyarat Kitabkhane Islamiyah.
[7].
Muqaddamah Masyâriq al-Dirâri, Jalaluddin Asytiyani, hal. 33, Intisyarat-e
Daftar Tablighat-e Islami.
[8]. Salah
satu gelar Imam Ali yang bermakna, menerjang dan menyerang serta pantang mundur
sebelum mendapatkan mangsanya.
[9].
Muqadddemeh Guzideh Ghazaliyât Syams, Syafi’i Kadkani.
[10]. Ibnu Faridh, Diwân Ibn Fâridh, hal. 73, Dar al-Kitab al-‘Ilmiyah,
Beirut
Apa yang dimaksud dengan dzikir? Mana saja yang termasuk jenis dzikir?
Apa yang dimaksud dengan dzikir? Ada berapa jenis
dzikir? Apakah mengamalkan dzikir harus sesuai dengan makam dan kedudukan
spiritual seseorang? Apakah dzikir nama-nama Tuhan berpengaruh pada manusia
untuk memasuki alam ghaib?
Dzikir atau
mengingat Tuhan memiliki banyak pengaruh positif dan konstruktif pada kejiwaan
dan moral manusia dimana mengingat Tuhan (dzikrullâh) bagi hamba adalah
pencerah hati, penenang kalbu, takut dari (maksiat kepada) Tuhan, pengampun
dosa, membuahkan ilmu dan kebijaksanaan adalah beberapa pengaruh yang dituai
dari zikir. Biasanya, dzikir dibagi menjadi dzikir kalbu dan dzikir lisan
dimana dzikir lisan disebut sebagai "wirid." Dzikir dalam artian
sebenarnya bermakna mengingat dan dari sudut pandang ini, setiap eksisten,
tergantung pada tingkatan wujudnya, berada pada tingkatan khusus zikir dan
mengingat Tuhan.
Setiap
manusia, sesuai dengan teraju pengetahuan dan makrifatnya, terhadap sumbernya
merupakan tingkatan dari zikir kepada Tuhan atau melupakan identitas aslinya
yang juga merupakan tingkatan lain dari zikir.Dengan demikian manusia paripurna
(insan kamil) merupakan jelmaan dan manifestasi puncak dalam mengingat Tuhan
(zikruLlah) dimana salah satu nama Rasulullah Saw adalah dzikir.
Wirid atau
mengingat Tuhan baik dalam syariat juga dalam Irfan sangat mendapatkan
perhatian khusus. Tujuan dari wirid ini adalah untuk mengingatkan manusia
kepada Tuhan dan menghidupkan kalbu dengan mengingat-Nya. Sepanjang dzikir dan
mengingat ini berlangsung maka pelbagai tirai dan hijab antara dzâkir (yang
mengingat) dan madzkûr (yang diingat) akan tersingkap. Karena itu, jalan
dzikir-dzikir dalam Irfan juga merupakan sebuah pendahuluan untuk sampai pada
tujuan besar yaitu tersedianya kapasitas yang diperlukan untuk menyingkirkan
pelbagai hijab alam dunia (katsrat) dan kegelapan dalam diri seorang salik
(pejalan yang meniti lintasan menuju Tuhan).
Dzikir
bermakna mengingat yang dialirkan melalui lisan, melalui kidung, pujian, doa
dan wirid dan sebagainya.[1] Dalam tuturan-tuturan para arif, zikir bermakna
mendisiplikan amalan, menjaga, taat, shalat, Qur'an, dan seterusnya.[2]
Salah satu
jelmaan teriindah hubungan kasih dengan Tuhan dan merupakan jalan fundamental
sair dan suluk adalah dzikir. Dzikirullah (mengingat Tuhan) adalah mengingat
entitas wujud manusia yang terbatas dan berada dalam lintasan mengingat
nama-nama Tuhan dan kontinuitasnya. Mengingat Tuhan akan mengeliminir segala
dosa dari hati manusia; lantaran lalai dan lupa dari mengingat Tuhan akan
menodai dan melegamkan hati manusia. Berangkat dari sini, salah satu risalah
para wali Allah dan kitab-kitab samawi adalah melenyapkan kelegaman dan noda
ini. Atas dasar itu, "dzikir" disebut sebagai salah satu sifat
Rasulullah Saw dan sebuah nama dari nama-nama al-Qur'an. Sebagaimana al-Qur'an
menyinggung sifat dzikr ini bagi Rasulullah Saw, "Qad anzalaLlâh ilaikum
dzikrâ Rasulân yatlu 'alaikum Ayatillâh…" (Sesungguhnya Allah telah
menurunkan peringatan kepadamu, dan (mengutus) seorang rasul yang membacakan kepadamu
ayat-ayat Allah, Qs. Thalaq [65]:10-11)
Demikian
juga salah satu nama al-Qur'an adalah dzikir sebagaimana hal itu dinyatakan
dalam, "Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun."
(Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya. Qs. Al-Hijr [15]:9)
Alasan
penamaan Rasulullah Saw dan al-Qur'an sebagai dzikir lantaran keduanya
mengingatkan manusia kepada Allah Swt; lantaran mengingatkan bergantung pada
pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dan para nabi dan kitab-kitab samawi
inilah yang telah berhasil menyingkirkan tirai kelalaian dan kelupaan dari hati
mereka dan memendarkan cahaya Ilahi atasnya. Karena itu, mengingat Tuhan akan
melesakkan manusia kepada puncak spiritual meninggalkan penjara dunia dan menghidupkan
harapan pada manusia dan melenyapkan segala putus asa dan putus harapan mansia
atas kesempitan kehidupan dunia materi dan kalkulasi-kalkulasi manusiawi.
Bagian dan
Tingkatan Zikir
Mengingat bahwa zikir merupakan salah satu ibadah
kepada Tuhan; seperti ibadah lainnya maka ia terbagi menjadi beberapa bagian:
seperti zikir umum dan zikir khusus; zikir umum tidak terkhusus pada satu
makhluk tertentu, melainkan dapat dijumpai pada segala sesuatu; artinya seluruh
entitas dan makhluk berzikir kepada Allah Swt. Zikir khusus, dilakukan utamanya
oleh jenis tertentu dari makhluk-makhluk; seperti zikir khusus malaikat atau
khusus manusia. Zikir terkadang bermuara dari hati dan terkadang bersumber dari
lisan. Akan tetapi pembagian ini tidak eksklusif terbatas pada manusia;
lantaran entitas-entitas lainnya yang memiliki inteleksi berbeda terkadang
berzikir dengan hati mereka dan terkadang berzikir mengingat Allah dengan lisan
yang terkhusus buat mereka yaitu zikir lisannya.
Imam
Muhammad Ghazali dalam Kimiyâ Sa'âdat berkata bahwa zikir memiliki empat
derajat:
Pertama: Dengan lisan dan hati lalai dari apa yang diungkapkan
oleh lisan; pengaruh dari jenis zikir semacam ini lemah. Namun tetap memberikan
pengaruh. Karena lisan yang sibuk melayani (berzikir) masih lebih baik
ketimbang lisan yang menganggur atau berkata-kata tanpa ada makna. Sekaitan
dengan itu, Imam Khomeini Ra terkait dengan zikir lisan berkata, "Kendati
mengingat Tuhan (dzikrullah) merupakan salah satu sifat hati dan apabila kalbu
berzikir maka seluru faidah dan manfaat bagi orang yang berzikir akan ia
peroleh. Akan tetapi lebih baik zikir kalbu yang mengekor pada zikir lisan.
Sesempurna dan seutama tingkatan zikir adalah zikir yang dilakukan pada
sumber-sumber tingkatan kemanusiaan dan efeknya merajalela terhadap lahir dan
batin, terang-terangan atau diam-diam… Zikir lisan juga merupakan suatu ha yang
terpuji dan ideal dan pada akhirnya akan mengantarkan manusia kepada hakikat.
Karena itu, dalam riwayat dan hadis juga banyak memuji zikir lisan ini.[3]
Kedua, zikir yang ada dalam hati namun
tidak bersemayam di dalamnya.
Ketiga, zikir hati yang bersemayam dalam
hati yang diraup dengan usahanya memanifestasikan zikir itu dalam setiap
kegiatannya.
Keempat, yang berkuasa dalam hati dan
penguasa itu adalah Allah Swt, bukan lagi zikir.[4]
Pengaruh
Zikir
Mengingat Tuhan (dzikrullah) adalah hubungan spiritual
seorang hamba pesalik dengan Rabb Malik. Hubungan ini memiliki efek dan
pengaruh yang sangat menakjubkan dimana masing-masing dari efek tersebut sangat
berperan dalam mengerangka dan mengonstruksi mental dan moral manusia. Sebagian
efek dan pengaruh penting tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mengingat
Tuhan bagi hamba
Efek pertama mengingat Tuhan dan dzikrullâh adalah
Tuhan juga mengingat manusia, “Fadzkuruni adzkurkum..” (Ingatlah aku, Aku akan
mengingatmu, Qs. Al-Baqarah [2]:152) Karena itu, pada ayat ini zikir Tuhan
kepada hamba bersyarat pada zikir hamba kepada Tuhan. Dari ayat ini satu poin
penting yang dapat dipahami yaitu dua gambaran zikir dari sisi Tuhan: Pertama,
zikir umum. Kedua, zikir khusus.
Zikir umum
adalah petunjuk umum Ilahi yang mencakup seluruh makhluk dan entitas serta
tidak terkhusus pada kelompok tertentu dan buktinya zikir umum terdapat di
seantero alam. Zikir tersebut merupakan anugerah dan pemberian beragam Tuhan
kepada seluruh makhluk. Dan zikir ini yang merupakan emanasi intens Ilahi yang
sekali-kali tidak akan terputus. Akan tetapi zikir khusus terkait dengan para
hamba khusus Tuhan dan dzâkir (pengingat) dan satu model perhatian dan
kepedulian (inâyah) dari sisi Tuhan.
2. Penerang
hati
Allah Swt menjadikan zikir kepadanya sebagai penerang
dan hidupnya hati. Imam Ali As dalam nasihatnya kepada Imam Hasan Mujtaba dalam
suratnya kepada putranya menulis, Bahwa sebelum segala sesuatunya hendaknya
memikirkan bagaimana menghidupkan hati: “Fainni ushika bitaqwallâhi Ya Bunayya!
Wa Luzumu amrih wa imâratun qalbik bidzikrih.” Aku menasihatkan kepadamu nanda
untuk bertakwa dan menjalankan perintah-perintah Tuhan, menghidupkan hati dan
ruh dengan berzikir kepada-Nya…”[5]
Satu faktor
yang paling berpengaruh mengobati matinya hati dan untuk menghidupkannya
kembali adalah berlindung dengan berzikir kepada Allah Swt. Dzikrullaâ
(mengingat Allah) adalah cahaya dan intens melakukan zikir akan menyelamatkan
hati dari kegelapan, keputus asaan dan kekerasan hati. Serta memberikan
kehangatan dan keceriaan padanya. Hasil zikir dapat kita jumpai pada tuturan
Imam Ali As: InnaLlaha ta’ala ja’ala al-dzikr jilâ’an lilqulûb tusma’u bihi
ba’da waqra dan tubshir bih ba’d ‘usywat wa tanqâdu bihi ba’d al-mu’ânid.”
Allah Swt menjadikan zikir (kepada-Nya) sebagai penerang hati dan hasil (dari
zikir) adalah telinga akan mendengar setelah ketulian, mata akan melihat setelah
kebutaan, dan melalui zikir hati akan tenang dan taat setelah pembangkangan dan
permusuhan.”[6]
3.
Ketentraman Hati
Pengaruh positif ketiga mengingat Allah adalah
ketentraman hati manusia. Sesuai dengan ungkapan al-Qur’an, tuma’ninah dan
sukun al-qalb adalah salah satu pengaruh lansung dzikrullah, “Alladzina A^manû
tathmainnu qulubûhum bidzikriLlâh ala bidzikriLlâh tathmainnu al-qulûb.”
(Mereka adalah orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi
tenteram, Qs. Al-Ra’ad [13]:28)
Mengingat
Tuhan merupakan obat maknawi segala jenis stress dan depresi dimana dalam
pandangan para psikolog sebab-sebab stress dan depresi adalah: takut, masa
depan yang suram, ketakutan untuk kalah, ketakutan terhadap penyakit dan
kerisauan-kerisauan terhadap faktor-faktor natural. Terlepas dari depresi,
tuntutan untuk hidup tentram dan tenang berakar pada fitrah manusia dan pada
nurani manusia terpendam tuntutan untuk hidup tentram dan kebanyakan aktifitas
manusia sejatinya untuk menjawab seruan Ilahiah fitrah ini.
Tatkala
manusia menengok kehidupan pribadi dan kehidupan orang lain di sekeliling kita,
kita saksikan bahwa kebanyakan tujuan perbuatan kita adalah untuk sampai pada
mutiara berharga berupa ketentraman ini . Artinya manusia sepanjang hidupnya,
selama hayat di kandung badan, berupaya untuk sampai pada ketenangan dan
ketentraman (serenitas). Pada poin ini tidak terdapat perbedaan di antara
manusia, akan tetapi perbedaan mencuat ke permukaan tatkala ktia ingin
menentukan dan mengidentifikasi apa saja yang mendatangkan ketenangan dalam
kehidupan manusia. Terdapat banyak orang memandang bahwa mutiara berharga ini
terpendam pada mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta dan hidup sejahterah.
Sebagian lainnnya meyakini terkandung pada status sosial dan ketenaran dan
seterusnya. Akan tetapi al-Qur’an menandaskan bahwa satu-satunya jalan untuk
meraup ketenangan adalah dengan mengingat Allah Swt. “ala bidzikriLlâh
tathmainnu al-qulûb.” Dan terkait dengan shalat, Allah Swt berfirman,
“Aqimisshalat lidzkri.” (Tunaikanlah shalat untuk mengingat-Ku, Qs. Thaha
[20]:14)
4. Takut
kepada Allah
Di antara pengaruh positif dan konstruktif lainnya
mengingat Allah Swt adalah berseminya ketakwaan dan sifat takut kepada Allah
Swt. Al-Qur’an menandaskan, “Innama al-Mu’minuna alladzina idzâ dzakaraLlâhu
wajilat qulûbûhum…” (Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka
yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, Qs. Al-Anfal [8]:2)
5. Pengampunan
dosa-dosa
Di antara pengaruh dan buah ukhrawi mengingat Allah
Swt adalah ampunan Ilahi yang akan diperoleh orang-orang yang mengingat Tuhan
(dzâkirun billah) dan di samping itu, Allah Swt menjanjian ganjaran dan pahala
besar kepada mereka. Al-Qur’an dalam hal ini menyatakan, “Wa al-DzakirinaLlâh
katsiran wa al-Dzakirâtu a’addaLlâh lahum maghfiratan wa ajran ‘azhima.” (Dan
Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah
menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar, Qs. Al-Ahzab [33]:35)
Allah Swt
menjadikan pelbagai amalan dan jalan sebagai media pengampunan para hamba. Dan
siapa saja dengan media tersebut memohon ampunan. Salah satu media tersebut
adalah mengingat Allah Swt.
6. Menuai
Hikmah dan Ilmu
Salah satu pengaruh positif lain dari zikir adalah
kematangan akal, kesempurnaan dan kebijaksanaan (wisdom). Zikir menyebabkan
semakin bertambahnya fakultas pemahaman manusia dan kematangan pemikiran. Jiwa
manusia memiliki kelayakan untuk merefleksikan hakikat-hakikat ghaib pada
dirinya dan Allah Swt akan memberikan pertolongan pada pikiran dan akal
orang-orang ini. Realitas ini dituturkan oleh Imam Ali As dalam sabdanya,
“Allah Swt – dengan segala nikmatnya yang agung – pada setiap masa dan waktu
ketika tidak ada nabi, memiliki orang-orang yang berbisik-bisik dengan-Nya
dalam pikiran-pikiran mereka, dan berbicara melalui pikiran mereka. Mereka
adalah pelita hidayah yang menghidupkan dengan cahaya kesadaran pada telinga,
mata dan hati.” [7]
Zikir dan
Kedudukan Spiritual Orang-orang Berzikir
Mengingat bahwa zikir terdiri dari dua makna ingat
(mengingat) dan wirid yaitu mengulang-ngulang nama-nama Allah – baik secara
lisan atau non-lisan –karena itu dalam pembahasan tingkatan zikir dan
hubungannya dengan kedudukan spiritual orang-orang berzikir (dzâkirun) juga
harus dibahas pada dua makam ini.
Terkait
dengan zikir yang bermakna mengingat harus dikatakan bahwa setiap manusia dan
setiap pesalik dalam proses zikirnya, sejatinya sibuk mengingat lintasan
perjalanan yang bermula dari Tuhan sampai pada “asfal al-safilin” (kedudukan
sedimenter). Artinya salik mengingat lintasan perjalanan ini sebagai jalan
kembali kepada Tuhan dan proses mengingat ini disertai dengan gelombang kondisi
maknawi dan irfani yang terkadang disebut sebagai mengingat sahabat, tanah
tumpah darah dan mengingat masa perjumpaan; lantaran ruh manusia adalah unggas
arasy yang terpisah dan terasing di dunia dan secara perlahan mengingat kembali
kediaman aslinya dan bergerak mudik ke arahnya. Jalur mudik ini adalah melalui
jalur dzikruLlah. Seseorang mengingat sesuatu yang sebelumnya ia lihat dan kini
telah dilupakannya. Demikian juga dalam al-Qur’an kandungan seperti ini
disebutkan, orang-orang yang melupakan Tuhan sesungguhnya telah melupakan
diriya sendiri. “Wala takunu kalladzîna nasuLlâh faansahum anfûsahum.” (Dan
janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah
menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Qs. Al-Hasyr [59]:19)
Karena itu,
shalat, al-Qur;’an, nabi dan urusan lainnya yang semuanya berada dalam daur dan
siklus zikir. Dan tatkala beberapa hal ini diartikan sebagai zikir maka
semuanya merupakan hikayat dari mengingat ini dan karena itu mereka juga
disebut sebagai zikir.
Dari sudut
pandang ini jelas bahwa setiap orang berdiri di tingkatan khusus zikir. Dan
boleh jadi orang-orang yang sama sekali tidak memiliki pengaruh dari hakikat
Ilahianya dan tidak mengingat hubungan fitrawinya dengan Tuhan kemudian
mencukupkan diri semata-mata dengan zikir lisan.
Sebagian
lainnya menyadari identitas Ilahiahnya ini dan menuntut untuk mudik kepada
Tuhan kemudian bergerak di jalur zikir, sedemikian ia bergerak sehingga antara
dzâkir (yang mengingat) dan madzkûr (yang diingat) menjadi satu. Karena itu,
dari sudut pandang ini setiap orang dapat mengkhususkan dirinya pada makam
khusus zikir tertentu.
Akan tetapi
terkait dengan zikir yang bermakna wirid dan mengulang-ngulang nama-nama Allah
harus dikatakan bahwa masalah ini mendapatkan sorotan dan perhatian dari dua
dimensi berbeda dalam Islam:
1. Dimensi syariat
2. Dimensi
irfan dan tarekat
1.Pada
dimensi syariat kita dapat menyinggung banyak hadis yang di dalamnya
menganjurkan zikir-zikir dan wirid-wirid suci dimana dengan melakukan hal
tersebut akan menyebabkan kemajuan maknawi dan taqarrub kepada Allah Swt dan
akan menuai hasil yang diharapkan oleh Sang Pemilik Syariat (Syâre’). Dari sisi
ini, seluruh zikir dan wirid memiliki nilai ideal tersendiri. Barang siapa pada
setiap makam dan tingkatan maknawi, ia dapat menyebutkan zikir-zikir ini. Misalnya
zikir shalawat yang banyak dianjurkan atau zikir istighfar dan zikir la haula
wa la quwwata illa biLlah dan seterusnya yang disebutkan pada kitab-kitab doa
dan riwayat.
Zikir ini
pada umumnya mengikut pada kondisi-kondisi tertentu dan tipikal yang dilakukan
oleh para ahli irfan (urafa). Zikir juga ini tidak terkhusus pada individu atau
kelompok atau makam-makam spiritual tertentu dan seluruh zikir ini sejatinya
mempersiapkan hati untuk melakukan mikraj maknawi dan perjalanan batin mudik
kepada Tuhan yang dimulai pada seseorang.
2. Akan
tetapi dari dimensi irfani umumnya pada sebagian aturan-aturan praktis (dastur
al-‘amal) irfani kita saksikan seorang salik dianjurkan untuk melakukan sebuah
zikir tertentu pada bilangan tertentu, hari tertentu (pada satu putaran empat
puluh hari) dan menuai hasil-hasil mental dan kejiwaan tertentu. Hal yang patut
mendapat perhatian dalam masalah ini adalah bahwa aturan-aturan praktis irfani
ini memerlukan guru dan izin serta tidak dapat dianjurkan kepada setiap orang. Akan
tetapi, pada tingkatan ini, setiap zikir dan wirid sesuai dengan tingkatan
spiritual dan makam salik serta sekaligus akan menjadi penghalang-penghalang
pada tingkatan tertentu baginya. Karena itu, seyogyanya ada seorang guru
sempurna, sesuai dengan ilmunya, yang memotivasi murid dan salik dengan program
tertentu dari zikir-zikir dan wirid-wirid. Sejatinya zikir dan wirid ini akan
menjadi satu media spiritual yang diperoleh dari pengaruh-pengaruh zikir-zikir
ini.
Dari sudut
pandang tarekat, wirid-wirid dan zikir-zikir digunakan sebagai satu faktor
pembantu, hingga tingkatan-tingkatan mikraj spiritual atau masuknya pada
makam-makam ghaibi dan maknawi bagi seorang salik yang telah sampai pada
tingkatan tertentu dari zikir dalam artian mengingat alam-alam maknawi.
Di sebutkan
bahwa terkadang pada sebagian kitab-kitab dinukil hal-hal dan aturan-aturan
praktis yang mencakup wirid-wirid tertentu untuk mengakses urusan-urusan
metafisis dan ghaib. Melakukan wirid-wirid seperti ini tanpa perantara seorang
guru dan arif akan menyebabkan kebingungan salik; karena itu memiliki guru
sempurna dan penyambung dalam perjalanan ini merupakan sebuah hal yang harus
dan niscaya dipenuhi untuk meniti jalan mudik kepada Tuhan.
Catatan
Kaki:
[1]. Gul Babai Sa’idi, Farhangg-e Isthilâhât-e Ibnu
Arabi, hal. 228, Intisyarat-e Syafi’i, Cetakan Kedua, Teheran, 1384.
[2]. Sayid
Ja’far Sajjadi, Farhangg-e Isthilâhât-e ‘Irfâni, hal. 402, Intsiyarat-e
Thahuri, Cetakan Keempat, Teheran, 1478.
[3]. Imam
Khomeini, Syarh Cihil Hadits, hal. 292-293, Muassasah Nasyr Atsar Imam
Khomeini, Teheran, Cetakan 28, 1378.
[4].
Ghazali, Kimiyâ Sa’âdat, jil. 1, hal. 254, Intisyarat-e Ilmi wa Farhanggi,
Teheran, Cetakan Ketuju, 1375.
[5]. Nahj
al-Balâgha, Surat 31
[6]. Nahj
al-Balâgha, Khutbah 222.
[7]. Nahj al-Balâgha,
Khutbah 222
Langganan:
Postingan (Atom)
Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam
Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...
-
Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (PINANDITO) dan akan senantiasa bert...
-
💚 Beberapa Makna KUJANG 💙 By. Ki Sundara 1. KUJANG = KUnci JANG diri. ,,, diri jasmani (ngajisim), diri ruhani (ngajirim), sampurn...
-
MANDALAJATI NISKALA Seorang Filsuf Sunda Abad 21 Menjelaskan Dalam Buku SANG PEMBAHARU DUNIA DI ABAD 21, Mengenai Filsafat SASTRA J...


