Rabu, 23 November 2016
Ibn Arabi: Hidup Ini Hanyalah Mimpi (Bagian Kedua)
Toshihiko Izutsu memiliki kepakaran dalam bidang “permainan bahasa” ala Ibn Arabi. Bisa dikatakan, Toshihiko memiliki kepekaan semantik dan cita rasa bahasa yang baik. Karenanya, dia mulai mempresentasikan pemikiran Ibn Arabi dengan mengatakan bahwa, bagi Ibn Arabi, apapun yang kita lihat, rasakan, dengarkan, dan semua kita yang saling bertatapan saat ini adalah “mimpi”. Tentu, sebagai seorang literalis, Ibn Arabi berpijak pada hadis ini: “Annasu niyamun idza maatuu intabahuu” yang berarti semua manusia tidur, barulah terbangun setelah mereka mati.
Pintu masuk yang dipilih oleh Toshihiko ini memang ‘canggih’ dan dahsyat. Dari sekian banyak pengalaman, ternyata ia memilih pintu masuk ini. Dan ini termasuk salah satu sisi kreatifnya. Kemudian kata Ibn Arabi, karena kita ini mimpi, ia perlu ditakwil. Apa arti ditakwil? Artinya dicari makna sesungguhnya. Seperti kita yang saling bertatapan dan saling berdialog (dalam sebuah forum pertemuan atau kelas), menurut Ibn Arabi, semua ini perlu ditakwil agar kita menemukan makna sebenarnya di alam yang sesungguhnya.
Selanjutnya Ibn Arabi mulai mendedah alam mimpi itu dengan berbagai contoh. Misalnya, Ibn Arabi mengatakan bahwa Nabi Yusuf tidak bisa dibandingkan dengan Nabi Muhammad. Hal ini disebabkan Nabi Muhammad sejak awal telah mengatakan bahwa manusia ini tertidur dan sedang bermimpi. Mimpinya pun bermacam-macam. Ada yang bermimpi (sedang) jadi presiden, meski kelihatannya jadi presiden. Namun, kata Ibn Arabi, mimpi kita ini bukanlah mimpi palsu, ilusi atau tanpa makna. Ini adalah, menurut Ibn Arabi, mimpi di dalam mimpi. Siapakah yang mimpinya di dalam mimpi? Orang yang mimpinya benar seperti para nabi yang melihat ‘ru’yah shodiqah’ maupun yang mimpinya semu dan tidak bermakna seperti kaum materialis.
Kembali ke soal Nabi Yusuf. Ibn Arabi berkata bahwa Nabi Yusuf sejak muda bermimpi melihat “ahada asyara kaukaban wa syamsa wal qamara raitu hum li saajidiin,” (sebelas bintang, bulan, dan matahari bersujud kepadanya. – Q.S. Yusuf; 5) . Lalu Ayahnya meminta beliau merahasiakan mimpi tersebut, agar saudara-saudaranya tidak berbuat makar kepadanya.
Menurut Ibn Arabi, maqam (kedudukan spiritual) Nabi Yusuf di bawah Nabi Muhammad. Mengapa? Karena Nabi Yusuf masih ingin mengetahui mimpi di dalam mimpi. Sementara Nabi Muhammad telah mengatakan bahwa semua ini adalah mimpi. Dan takwil mimpi kita akan terungkap setelah kita mati, yakni ketika kita semua terbangun ke alam yang lain.
Nah, karena kita saat ini sedang mimpi, menurut Ibn Arabi, ada dua cara agar kita terbangun dari mimpi kita. Kedua cara itu, meminjam istilah filsafat, adalah cara ‘epistemologis’ dan ‘ontologis’.
Cara ontologis bangun dari mimpi adalah dengan ‘ifna ad-zat’ (penghilangan ego). Yaitu merontokkan diri di hadapan Sang Maha Hadir. Dan dengan mem-fana-kan atau menghilangkan ego, sesungguhnya kita telah mengoyak hijab tidur di alam biologis ini. Kita telah membangunkan diri hakiki kita. Salah satu yang bisa kita pahami dari fana ialah sirna atau binasa. Lalu bagaimana metode ‘pembinasaan’ ego itu?
Ibn Arabi banyak sekali berbicara tentang fana. Mungkin di antara yang cukup mempengaruhi Ibn Arabi dalam soal terminologi fana ini adalah gurunya sendiri, Syekh Abu Madyan. Orang-orang bisa melihat Ibn Arabi dalam melakukan metode ontologis dari memandang Ibn Arabi sebagai orang yang sangat syar’i. Maksudnya, dia menjalankan syariat sangat teguh. Sedemikian sehingga orang ini dikenal dalam literatur hagiografisnya sebagai seorang yang sangat kecil tubuhnya, kurus, dan pucat wajahnya. Jika kita melihat langsung di masa hidupnya, mungkin kita tidak mengenali bahwa inilah orang yang memiliki pemikiran hebat karena penampilannya yang kusam, kurus, kering, pucat disebabkan seringnya puasa dan melancong.
Bagi Ibn Arabi, ketika orang melepaskan unsur-unsur biologisnya, ketika itu pula orang bangun dari tidur biologisnya. Ia terjaga ke suatu kesadaran spiritual. Ini salah satu cara dan cara lainnya, menurut Ibn Arabi, meninggalkan nalar. Meninggalkan nalar di sini bukan berarti menjadi orang yang irasional. Tetapi membatasi rasionalitas dan menerima apa yang datang dari Allah sebagai pengetahuan sepenuh hati.
Perlu diingat, (yang dimaksud ialah) meninggalkan interpretasi atau analisis atas pengetahuan yang datang – biasa ia menyebutnya sebagai ‘waridat’ atau isyarat yang datang padanya. Karena menurutnya, (proses) nalar seperti inilah yang membuat manusia tertidur di alam nalarnya. Nalar ini membawa kita ke interpretasi sehari-hari di alam mimpi dan sudah terbiasakan seperti itu. Sedemikian terbiasanya nalar ini mengikuti panca indra alam mimpi itu, maka nalar ini perlu ditinggalkan dulu untuk dapat bangun dari tidur biologis.
Ibn Arabi juga mengatakan bahwa akal manusia berderajat sebagaimana wujud manusia. Akal manusia biologis akan mengikuti panca indranya dan karena panca indra merupakan alat yang terbatas maka akal ikut terbatasi. Oleh sebab itu, menurut Ibn Arabi, di alam mimpi ini, orang harus sering menggunakan imajinasinya (quwwah khayaliyyah). []
Selasa, 22 November 2016
Sembah Cipta, Bersuci dengan Memerangi Hawa Nafsu
Oleh Parni Hadi
Setelah mampu menjalankan sembah raga atau sholat lima waktu sehari semalam sesuai Syariat, orang dapat meningkat ke tahap berikutnya, yakni sembah cipta atau sembah kalbu. Di sini hubungan antara manusia dengan Tuhan dilakukan melalui kalbu.
Bersucinya tidak lagi dengan air (wudhu) seperti dalam sembah raga, melainkan dengan memerangi hawa nafsu atau menjauhkan diri dari angkara murka dan segala sesuatu yang dapat memecah konsentrasi lakunya, demikian menurut Wedhatama.
Lakunya adalah bertindak tertib, teliti, berhati-hati dan tekun, betapapun sulit dan berat. Ini akan menumbuhkan watak dan kebiasaan ingat dan waspada atau “eling lan waspodo”. Jika diterima oleh Allah, hasil sembah cipta ini pelakunya akan mampu melihat jalan yang sebenarnya, tarekat, menuju “kasunyatan” atau kenyataan yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Sembah cipta juga disebut salat tarekat.
Apabila dilaksanakan dengan tertib, sembah cipta akan berakibat lenyapnya penghalang yang memisahkan pemandangan alam lahir dan alam bathin, demikian menurut Dr. Hj. Koosinah Soerjono Sastrohadikoesoemo dalam bukunya “Serat Wedhatama, suatu Kajian Pemikiran Filsafat“.
Lenyapnya penghalang atau hijab ini disebut “tinarbuko” dalam bahasa Jawa. Ini mulai dirasakan pada sembah ketiga, yakni sembah jiwa/sukma. Tanda sudah sampai pada tataran ini adalah keadaan seolah-olah pingsan atau setengah tidur, antara sadar dan tidak. Wedhatama menyebutnya masuk ke alam “ngaluyut”.
Wedhatama mengungkapkan ini dalam bait ke 13, yang biasa dilantunkan sebagai Suluk oleh dalang, sbb:
Tan samar pamoring suksma,
Sinuksmaya ing ngasepi,
Sinimpen telenging kalbu,
Pambukaning warana
Tarlen saking layap liyeping ngaluyup,
Pindha pesating supeno sumusuping rasa jati.
Terjemahan bebasnya: Tidak ada keraguan akan cahaya jiwa yang tersimpan dalam dasar kalbu, yang memancar di kala sepi, terbukanya tabir/penghalang yang menutupi (pemandangan bathin), sewaktu mata sedang terbuka dan terkejab dengan ingatan setengah sadar, saat itu Rasa Jati menyusup dengan cepat ke dalam kalbu seperti mimpi.
Untuk sampai pada pengalaman ini, orang harus sabar dalam segala tindak, dan terlaksananya dengan “eneng, ening, eling”, yaitu dengan tenang, syahdu dan sadar. Sembah cipta akan gagal kalau orang bersikap tidak setia akan hasrat dan tujuan semula dan menjadi sombong, ingin puji-pujian dari para pengikutnya. Karena itu, harus selalu ingat dan waspada terhadap yang membatalkan sembah ini.
“Kasunyatan” berasal dari bahasa Sanskrit “sunyata”, yang berarti sunyi atau “suwung” atau tidak ada apa-apa, menurut “Kunci Swarga” (Miftahul Jannati), buku dalam bahasa Jawa karya Bratakesawa yang terbit tahun 1952.
Menurut Bratakesawa, hasil sembah cipta adalah “makrifating tarekat”. Artinya, pengertian yang ditangkap oleh tiga indra (tri indriya) dari delapan indra (astendriya). Ke delapan indra itu terdiri dari pancaindra (mata, kuping, lidah, hidung dan kulit) dan tiga indra, yakni jantung, otak dan “pringsilan” ( buah pelir).
Ketiga indra dalam “Wirid Hidayat Jati”, karya Ronggowarsito, disebut Betalmukaram (Baital Muharram), Betalmakmur (Baital Makmur) dan Betalmukadas (Baitul Maqdis). Betalmukaram disebut rumah larangan, karena dianggap arasy, tempat Tuhan bersemayam.
Betalmukaram, tempat rahasia “Ingsun” bertahta di dada manusia. Di dalam dada ada hati dan jantung, di dalamnya ada budi. Di dalam budi ada angan-angan, di dalamnya ada sukma (rahsa), di dalam rahsa ada Ingsun”. Yang dimaksud “Ingsun” adalah Tuhan. Wallahu alam bissawab.[]
Syarah Haidar Bagir atas 7 Nasihat Rumi
Berikut ini adalah 7 nasihat #Jalaluddin Rumi yang disyarah oleh #Haidar Bagir dalam akun twitter-nya;
1. Dalam hal kedermawanan dan menolong orang, jadilah seperti sungai.
Penjelasan: Biarkan mengalir tak henti-henti dan tanpa mengharap kembali.
2. Dalam kasih sayang dan berkah, jadilah seperti matahari.
Penjelasan: Berilah kehangatan kepada siapa saja tanpa diskriminasi.
3. Dalam menutupi aib orang lain, jadilah seperti malam.
Penjelasan: Tutupi semua aib rapat-rapat, tanpa pernah membocorkannya.
4. Dalam keadaan marah dan murka, jadilah seperti orang mati.
Penjelasan: Diamlah, jangan lakukan apa pun, agar tidak menimbulkan kesalahan dan menyesal kemudian.
5. Dalam hal kesederhanaan dan kerendahhatian, jadilah seperti bumi.
Penjelasan: Selalu menempatkan diri di bawah dan meninggikan yang lain.
6. Dalam hal toleransi, jadilah seperti laut.
Penjelasan: Berlapang dada seluas-luasnya dan siap menampung pandangan-pandangan yang berbeda.
7. Tampillah seperti diri sejatimu, atau jadilah seperti tampilanmu.
Penjelasan: Hiduplah dengan penuh integritas. Sama antara lahir dan batin.
Berbagai Makna Tasawuf menurut kalangan Sufi dan Ulama
Oleh Haidar Bagir
Ada begitu banyak defenisi tasawuf yang bisa digali dari karya para sufi dan ulama di dunia Islam. Di antaranya pandangan Abul Hasan Syadzili yang medefinisikan tasawuf sebagai praktik dan latihan diri melalui cinta dan penghambaan yang mendalam untuk mengembalikan diri ke jalan Tuhan. Adapun menurut Syekh Akbar Ibn Arabi, tasawuf berarti berakhlak dengan akhlak Allah (at-takhalluq bi akhlaqil-laah).
Akhlak yang dimaksud ialah menanamkan sifat Allah yang intinya adalah rahmat atau kasih-sayang. Definisi lain menyebutkan tasawuf sebagai hidup yang mendekatkan (taqarrub) kepada Tuhan (Sang Inti) kehidupan agar tak relevan lagi kesenjangan antara “aspirasi”-ku dan “realitas”-ku.
Dalam bahasa yang sederhana lagi, Muhammad bin Ali Kattany mengatakan bahwa tasawuf adalah akhlak yang baik. Maka, bagi Kattany, siapa yang melebihimu dalam akhlak yang baik, berarti dia melebihimu dalam tasawuf. Sedemikian mendasarnya akhlak dalam tasawuf sehingga orang yang terus-menerus berupaya memelihara ketulusan kepada Allah dan berakhlak baik kepada makhluk, menurut Al-Suyuthi, adalah sufi.
Sufi merupakan terminologi yang umumnya dilekatkan pada orang yang mengamalkan ajaran tasawuf. Secara khusus, terminologi ‘sufi’ juga memiliki beragam defenisi. Imam Nawawi misalnya mendefinisikan mereka sebagai pemelihara kehadiran Allah di dalam hati, taat pada sunnah Nabi, menghindari ketergantungan pada orang dan mensyukuri karunia-Nya meskipun sedikit. Ahmad an-Nury menambahkan, tanda bahwa orang itu termasuk sufi ialah dia rela ketika tidak punya dan peduli pada orang lain ketika punya.
Dengan indah Junayd al-Baghdadi memberi analogi bahwa para sufi itu seperti bumi yang rela diinjak-injak oleh orang saleh maupun pendosa. Mereka, lanjut Junayd, seperti mendung yang memayungi segalanya dan seperti hujan yang mengairi semuanya. Di sisi lain, Abu Nashr Sarraj pernah bertanya pada Ali Al Hushry, “Siapakah sufi itu?” Al Hushry menjawab, “Dia yang tak dibawa bumi dan tak dinaungi langit.” Maksudnya bahwa sufi ialah mereka yang mengalami fana.
Sebagaimana defenisi Imam Nawawi, tasawuf tidak terlepas dari ketaatan pada syariat (fikih). Sedemikian sehingga orang yang sebatas memiliki ilmu yang luas belum cukup dikatakan sufi. Ilmu bagi Ibn Ajiba, adalah awal perjalanan tasawuf, tengahnya amal dan ujungnya karunia Ilahi yang berupa penyingkapan hakikat. Begitu pentingnya syariat ini, meskipun ada orang yang mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan manusia pada umumnya tidak meniscayakan dia adalah sufi.
Dalam hal ini, Bayazid Busthami mengingatkan: “Jangan terkelabui oleh pelaku mukjizat yang mampu terbang di udara. Tapi nilailah berdasar ketaatannya pada syariat.”
Tidak jarang ada orang yang mengkalaim dirinya sufi namun menafikan salat, puasa dan syariat lainnya. Merekalah yang oleh Malik bin Anas disebut sebagai zindik. Siapa bertasawuf tanpa berfikih, kata Imam Malik, zindiklah dia. Sebaliknya, lanjut ulama kelahiran Madinah ini, siapa yang berfikih tanpa bertasawuf, maka fasiklah dia. Zindik di sini berarti menyeleweng dan fasiq berarti merusak.
Dalam berbagai literatur tasawuf, syariat (fikih) menempati posisi yang penting dalam perjalanan sufi mencapai hakikat. Al Hallaj mengatakan, “Batin Al-Haqq punya zhahir, yakni syariat. Siapa yang mencari hakikat lewat syariat, akan tersingkap baginya batin syariat, yakni ma‘rifat.”
Selain Imam Malik, Imam Syafi’i juga mengingatkan bahwa tasawuf dan syariat haruslah sejalan. Ulama kelahiran Gaza, Pelestina, ini mengatakan, “Jadilah pelaku fikih dan pejalan sufi. Jangan hanya jadi salah satunya demi Allah, inilah nasehatku.”
Jika dianologikan secara sederhana, syariat (fikih) adalah jalan raya, sedangkan thariqah (tasawuf) adalah jalan kecil. Untuk menuju Allah, kita harus melalui jalan raya, lalu masuk ke jalan yang lebih kecil. Atau, seperti pada roda yang berangkat dari lingkaran (syariah), menempuh jari-jari (thariqah) untuk menuju pusat lingkaran (haqiqah).
Dari uraian di atas bisa dikatakan bahwa syariat (fikih) adalah ajaran lahir yang memiliki makna batin, sedangkan tasawuf adalah pengalaman batin yang terwujud dalam laku lahir. Dengan syariat, para sufi terus bergerak mendekati titik keseimbangan sehingga meraih ketenteraman hidup (surga), bahkan sejak masih di dunia.
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” (QS. al-Fajr [89]: 27-30)
“Siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia berbuat ihsan (menghamba kepada Allah sesempurna mungkin dalam keadaan memiliki hubungan intim penuh cinta dengan-Nya), maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Baqarah [2]: 112)
Jiwa atau hati yang tenang dapat diraih oleh orang-orang yang mendekati pusat roda hakikat. Mereka tak lagi diterpa goncangan-goncangan pasang-surut roda kehidupan sebagaimana orang yang terus tinggal di pinggirannya.
Selasa, 15 November 2016
SEDULUR PAPAT LIMA PANCER DAN SISTEM KEMALAIKATAN.
Setelah Islam masuk P.JAWA kepercayaan tentang saudara empat ini
dipadukan dengan 4 malaikat di dunia Islam yaitu Jibril, Mikail ,
Isrofil, Ijro'il. Dan oleh ajaran sufi tertentu di sejajarkan denga
ke'empat sifat nafsu yaitu: Nafsu Amarah, Lawwamah, Sufiah dan
Mutmainah.
Pertama Jibril atau dalam bahasa ibrani Gabriel artinya pahlawan
tuhan fungsinya adalah penyampai informasi, didalam islam dikenal
sebagai penyampai wahyu pada para nabi. Dalam konsep islam Jawa Jibril
diposisikan pada kekuatan spiritual pada KETUBAN. Ada pandangan yang
menyatakan setelah N.Muhammad wafat maka otomatis Jibril menganggur
karena beliaulah orang yang menerima wahyu terakhir.
Tapi tidak demikian dalam pandangan Jawa, setiap orang di sertai
Jibrilnya. Hakikatnya hanya ada satu Jibril di alam raya ini tapi
pancaran cahayanya ada dalam setiap diri. seperti Ruh tidah pernah
dinyatakan dalam bentuk jamak didalam Al-Quran. Tetapi setiap diri
mendapat tiupan ruh dari tuhan dan ruh tersebut menjadi si A, si B, si C
Dst.. satu tetapi terpantul pada setiap cermin sehingga seolah2 setiapm
cermin mengandung Ruh, dan manusia sebenarnya adalah cermin bagi sang
diri. setiap diri menerima limpahan cahayanya.
Diantara limpahan cahayanya adalah Jibril yang menuntun setiap orang.
Jibril akan menuntun manusia kejalan yang benar, yang telah
membersihkan dirinya, membersihkan cerminnya, membersihkan hatinya.
Jibril lah yang menambah daya agar teguh dan tebal keimanan seseorang.
dalam khasanah jawa Jibril berdampingan dengan Guru sejati, bersanding
dengan diri Pribadi.
Jibril tidak mampu mengantarka diri Nabi ke Sidratul Muntaha dalam
Mij'raj beliau juga diceritakan ketika Jibril menampakan diri kehadapan
rasul selalu ditemani malaikat mulia lainnya yaitu Mikail isrofil
Ijroil.
Jelas kiranya bahwa kahadiran ketuban ketika membungkus janin
ternyata disertai saudara2nya yang lain. Ditinjau dari keddudukannya
yang keluar paling awal maka disebut sebagai kakak atau kakang (saudara
tua ) si bayi. begitu bayi lahir maka selesailah sudah tugas ketuban
secara fisik. tetapi exsistensi ketuban secara ruhaniah ia tetap menjaga
dan membimbing bayi tersebut sampai akhir hayat.
secara extensi Jibril diciptakan setelah malaikat Mikail. dan Tali
Pusar ada lebih dulu dari pada selaput yang membungkus janin di pintu
rahim (cervix)
Ke Dua Malaikat Israfil. Menurut hadis malaikat Israfil diciptakan
setelah penciptaan Arsy ( Singgasana Tuhan ) disebut sebagai malaikat
penggenggam alam semesta, ia meniup Terompet Pemusnahan Dan
Pembangkitan. Ia digambarkan menengadah ke atas untuk melihat jadwal
kiamat yang ada di Lawh Al Mahfuzh.
Israfil di sepadankan dengan ari-ari, tembuni atau Placenta, Ari-Ari
adalah yang memayungi sang janin sampai ketempat tujuan dialah yang
memberikan keamanan menyalurkan makanan dan kenyamanan pada janin dengan
ari-ari ini kehidupan berlangsung dalam janin.
Exsistensi Ari-ari ini disejajarkan dengan malaikat Israfil Dalam kelahiran janin, Ari-ari diterima sebagai saudara muda (adik).
Meskipun jasadnya telah tak ada lagi ari-ari tetap memberikan
perlindungan bagi manusia setelah dilahirkan. Dari sisi keberadaanya
malaikat Israfil dicipta terlebih dahulu dari pada malaikat Mikail dan
Jibril As. Israfil diyakini sebagai Pelita Hati Bagi manusia agar
hatinya tetap terang, Itulah sebabnya sejahat-jahatnya manusia masih ada
secercah cahaya dalam hatinya tetap ada kebaikan yang dimilikinya meski
hanya sebesar debu...
Yang ketiga adalah Malaikat Mikail, Salah satu malaikat yang menjadi
pembesar para malaikat.. Tugas malaikat Mikail adalah Memelihara
Kehidupan. Dalam hadis diceritakan bahwa malaikat Mikail mengemban tugas
memelihara pertumbuhan pepohonan, kehidupan Hewan juga Manusia.. Dialah
yang mengatur angin dan hujan dan membagi rejeki pada seluruh mahluk.
Pada konsep sedulur papat yang sudah di sesuaikan dengan ajaran
Islam, Tali Pusar merupakan Lokus, tempat dudukan bagi malaikat Mikail
dia merupakan tali penghubung bagi kehidupan manusia.Zat zat makanan,
Oksigen dan Zat yang perlu dibuang dari tubuh janin agar tidak meracuni
tubuh janin. Subhanallah.. Dia telah mengatur kehidupan manusia dalam
rahim melalui malaikat malaikatnya.
Mikail dipandang orang jawa sebagai saudara yang memberikan sandang,
pangan dan papan, Jika seseorang memohon perlindungan tuhan maka Mikail
yang akan menjalankan perintah Tuhan untuk melindunginya.
Ke Empat adalah Malaikat Ijroil. Malaikat Maut yang dipercaya sebagai
yang bertanggung jawab akan Kematian. Kehadirannya amat ditakuti
Manusia.. Jika ajal telah tiba maka ia akan Me wafatkan manusia sesuai
waktunya.
Dalam konsep sedulur papat Malaikat maut ini ternyata saudara Manusia
sendiri bukan orang lain dan ia tidak akan menyalahi tugasnya bila
seseorang belum sampai ajalnya dia tak akan mewafatkannya.. Dia hadir
untuk meringankan penderitaan manusia, saudara sejati pasti melindungi
bila yang bersangkutan selalu dijalan yang benar. Bayangkan bila manusia
tidak bisa mati tetapi hidupnya menderita..? apa tidak tersiksa..?
bayangkan bila ada orang yang mau mati aja sulitnya bukan main..
Nauzubillah..
Ijroil disebut sebagai kekuatan Tuhan yang berada didalam Darah,
Dalam kehidupan sehari hari Ijroil bertugas untuk menjaga hati yang
suci, Jika hati terjaga kesuciannya maka ketakutan akan hidup menderita
dan kematian akan tak ada lagi.
Jika ajal telah sampai maka Ijroil mengorganisasi malaikat lainnya,
mengorganisasi saudara saudara lainnya untuk mengakhiri hidupnya.
Permana yang memberikan kekuatan pada sang Jiwa diangkat keluar tubuh,
sehingga tubuh tak dapat lagi dikendalikan oleh jiwa. Ruh penyambung
hidup kita lepas.. tubuh menjadi lunglai lak berdaya dan ini bentuk umum
kematian bagi manusia.. loh kok gitu yaa..? Nah yang tidak umum yaaa..
bila Sang Diri Sejati manusia mampu memimpin saudara-saudaranya untuk
melepaskan Jiwa manusia kealam Gaib. Orang demikian sudah mempu
menyongsong kematiannya dengan benar, dia memberitahukan pada sanak dan
saudaranya kapan kematiannya akan datang.
Semua saudara gaib ini sudah menjadi satu dengan tubuh kita, ketika
dalam rahim sendiri-sendiri wujudnya. tapi ketika sang Bayi sudah lahir
hanya ada satu wujud. Empat saudara kita tetap menyertai kita dalam
wujud Ruh dan Tidak Kasat Mata.
Ada kutipan Ayat dalam Al-Quran yang perlu di simak..
" In Kullu nafsin lamma alayha hafizh" > 'Setiap diri niscaya ada
penjaganya' Atau "Wa huwa al-qahir fawq iba'dih wa yusril alaykum
hafazhah hatta idza ja'a ahadakum al-mawt tawaffathu rusuluna wahum la
yufarrithun" >' Dialah yang berkuasa atas semua hambanya. Dan dia
mengutus kepada kalian Penjaga-Penjaga untuk melindungimu. Jika
seseorang sudah waktunya mati, maka utusan-utusan kami itu mewafatkannya
tanpa keliru
Langganan:
Postingan (Atom)
Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam
Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...
-
Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (PINANDITO) dan akan senantiasa bert...
-
💚 Beberapa Makna KUJANG 💙 By. Ki Sundara 1. KUJANG = KUnci JANG diri. ,,, diri jasmani (ngajisim), diri ruhani (ngajirim), sampurn...
-
MANDALAJATI NISKALA Seorang Filsuf Sunda Abad 21 Menjelaskan Dalam Buku SANG PEMBAHARU DUNIA DI ABAD 21, Mengenai Filsafat SASTRA J...





