Kamis, 02 Februari 2017

Hirarki Kewalian

Syaikh Abu Hasan Ali Hujwiri dalam kitabnya yang berjudul Kasyf Al-Mahjub, mengatakan bahwa wali Akhyar sebanyak 300 orang, wali Abdal sebanyak 40 orang, wali Abrar sebanyak 7 orang, wali Autad sebanyak 4 orang, wali Nuqaba sebanyak 3 orang dan wali Quthub atau Ghauts sebanyak 1 orang. Sedangkan menurut Syaikhul Akbar Muhyiddin ibnu ‘Arabi dalam kitabnya al-Futuhat al-Makkiyyah membuat pembagian tingkatan wali dan kedudukannya. Jumlah mereka sangat banyak, ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Sedikitnya terdapat 9 tingkatan, secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut:
1. Wali Quthub al-Aqthab atau Wali Quthub al-Ghauts
Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.
2. Wali Aimmah
Pembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub jika wafat. Jumlahnya dua orang dalam setiap masa. Seorang bergelar Abdur Robbi, bertugas menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bergelar Abdul Malik, bertugas menyaksikan alam malaikat.
3. Wali Autad
Jumlahnya empat orang. Berada di empat wilayah penjuru mata angin, yang masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Kaabah. Kadang dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul Hayyi, Abdul Alim, Abdul Qadir dan Abdul Murid.
4. Wali Abdal
Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab al-Futuhatul Makkiyyah dan Fushus Hikam yang terkenal itu (Muhyiddin ibnu ‘Arabi) mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.
Pada tahun 586 di Spanyol, Muhyiddin ibnu ‘Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa al-Baidarani. Sahabat Muhyiddin ibnu ‘Arabi yang bernama Abdul Majid bin Salamah mengaku pernah juga bertemu Wali Abdal bernama Muâ’az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian.
5. Wali Nuqobaa
Jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqobaa melihat bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak.
6. Wali Nujabaa
Jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.
7. Wali Hawariyyun
Berasal dari kata hawari, yang berarti pembela. Ia adalah orang yang membela agama Allah, baik dengan argumen maupun senjata. Pada zaman nabi Muhammad sebagai Hawari adalah Zubair ibnu Awam. Allah menganugerahkan kepada Wali Hawariyyun ilmu pengetahuan, keberanian dan ketekunan dalam beribadah.
8. Wali Rajabiyyun
Dinamakan demikian, karena karomahnya muncul selalu dalam bulan Rajab. Jumlah mereka sebanyak 40 orang. Terdapat di berbagai negara dan antara mereka saling mengenal. Wali Rajabiyyun dapat mengetahui batin seseorang. Wali ini setiap awal bulan Rajab, badannya terasa berat bagaikan terhimpit langit. Mereka berbaring diatas ranjang dengan tubuh kaku tak bergerak. Bahkan, akan terlihat kedua pelupuk matanya tidak berkedip hingga sore hari. Keesokan harinya perasaan seperti itu baru berkurang. Pada hari ketiga, mereka menyaksikan peristiwa ghaib.
Berbagai rahasia kebesaran Allah tersingkap, padahal mereka masih tetap berbaring diatas ranjang. Keadaan Wali Rajabiyyun tetap demikian, sesudah 3 hari baru bisa berbicara.
Apabila bulan Rajab berakhir, bagaikan terlepas dari ikatan lalu bangun. Ia akan kembali ke posisinya semula. Jika mereka seorang pedagang, maka akan kembali ke pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang.
9. Wali Khatam
Khatam berarti penutup. Jumlahnya hanya seorang dalam setiap masa. Wali Khatam bertugas menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan ummat nabi Muhammd saw.
Jumlah para Auliya yang berada dalam manzilah-manzilah ada 356 sosok, yang mereka itu ada dalam kalbu Adam, Nuh, Ibrahim, Jibril, Mikail, dan Israfil. Dan ada 300, 40, 7, 5, 3 dan 1. Sehingga jumlah kerseluruhan 356 tokoh. Hal ini menurut kalangan Sufi karena adanya hadits yang menyebut demikian.
Sedangkan menurut Syaikh al-Akbar Muhyiddin ibnu ‘Arabi (menurut beliau muncul dari mukasyafah) maka jumlah keseluruhan Auliya yang telah disebut diatas, sampai berjumlah 589 orang. Diantara mereka ada satu orang yang tidak mesti muncul setiap zaman, yang disebut sebagai al-Khatamul Muhammadi, sedangkan yang lain senantiasa ada di setiap zaman tidak berkurang dan tidak bertambah. Al-Khatamul Muhammadi pada zaman ini (zaman Muhyiddin ibnu ‘Arabi), kami telah melihatnya dan mengenalnya (semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya), saya tahu ia ada di Fes (Marokko) tahun 595 H. Sementara yang disepakati kalangan Sufi, ada 6 lapisan para Auliya’, yaitu para Wali: Ummahat, Aqthab, A’immah, Autad, Abdal, Nuqaba dan Nujaba.
Pada pertanyaan lain : Siapa yang berhak menyandang Khatamul Auliya sebagaimana gelar Khatamun Nubuwwah yang disandang oleh Nabi Muhammad saw?.
Ibnu Araby menjawab :
Wali-Khatam itu ada dua: Allah menutup Kewalian (mutlak), dan Allah menutup Kewalian Muhammadiyah. Penutup Kewalian mutlak adalah Nabi Isa Alaihissalaam. Dia adalah Wali dengan Nubuwwah Mutlak, yang kelak turun di era ummat ini, dimana turunnya di akhir zaman, sebagai pewaris dan penutup, dimana tidak ada Wali dengan Nubuwwah Mutlak setelah itu. Ia disela oleh Nubuwwah Syari’at dan Nubuwwah Risalah. Sebagaimana Nabi Muhammad saw sebagai Penutup Kenabian, dimana tidak ada lagi Kenabian Syariat setelah itu, walau pun setelah itu masih turun seperti Nabi Isa, sebagai salah satu dari Ulul ‘Azmi dari para Rasul dan Nabi mulia. Maka turunnya Nabi Isa sebagai Wali dengan Nubuwwah mutlaknya, tetapi aturannya mengikuti aturan Nabi Muhammad saw, bergabung dengan para Wali dari ummat Nabi Muhammad lainnya. Ia termasuk golongan kita dan pemuka kita.
Pada mulanya, ada Nabi, yaitu Adam as. Dan akhirnya juga ada Nabi, yaitu Nabi Isa, sebagai Nabi Ikhtishah (kekhususan), sehingga Nabi Isa kekal di hari mahsyar ikut terhampar dalam dua hamparan mahsyar. Satu Mahsyar bersama kita, dan satu mahsyar bersama para Rasul dan para Nabi.
Adapun Penutup Kewalian Muhammadiyah, saat ini (zaman Muhyiddin ibnu ‘Arabi) ada pada seorang dari bangsa Arab yang memiliki kemuliaan sejati. Saya kenal di tahun 595 H. Saya melihat tanda rahasia yang diperlihatkan oleh Allah Ta’ala pada saya dari kenyataan ubudiyahnya, dan saya lihat itu di kota Fes, sehingga saya melihatnya sebagai Penutup Kewalian Muhammadiyah darinya. Dan Allah telah mengujinya dengan keingkaran berbagai kalangan padanya, mengenai hakikat Allah dalam sirr-nya.
Sebagaimana Allah menutup Nubuwwah Syariat dengan Nabi Muhammad SAW, begitu juga Allah menutup Kewalian Muhammadi, yang berhasil mewarisi Al-Muhammadiyah, bukan diwarisi dari para Nabi. Sebab para Wali itu ada yang mewarisi Ibrahim, Musa, dan Nabi Isa, maka mereka itu masih kita dapatkan setelah munculnya Khatamul Auliya’ Muhammadi, dan setelah itu tidak ada lagi Wali pada Kalbu Muhammad saw. Inilah arti dari Khatamul Wilayah al-Muhammadiyah. Sedangkan Khatamul Wilayah Umum, dimana tidak ada lagi Wali setelah itu, ada pada Nabi Isa Alaissalam. Dan kami menemukan sejumlah kalangan sebagai Wali pada Kalbu Nabi Isa As, dan sejumlah Wali yang berada dalam Kalbu para Rasul lainnya.
Dilain tempat, Ibnu ‘Arabi mengatakan bahwa dirinyalah yang menjadi Segel (Penutup) Kewalian Muhammad.
Beberapa wali yang pernah mencapai derajat
wali Quthub al-Aqthab (Quthub al-Ghaus) pada masanya
Sayyid Hasan ibnu Ali ibnu Abi Thalib
Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz
Syaikh Yusuf al-Hamadani
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani
Syaikh Ahmad al-Rifa’i
Syaikh Abdus Salam ibnu Masyisy
Syaikh Ahmad Badawi
Syaikh Abu Hasan asy-Syazili
Syaikh Muhyiddin ibnu Arabi
Syaikh Muhammad Bahauddin an-Naqsabandi
Syaikh Ibrahim Addusuqi
Syaikh Jalaluddin Rumi
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani
Beliau pernah berkata “Kakiku ada diatas kepala seluruh wali. Menurut Abdul Rahman Jami dalam kitabnya yang berjudul Nafahat Al-Uns, bahwa beberapa wali terkemuka diberbagai abad sungguh-sungguh meletakkan kepala mereka dibawah kaki Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.
Syaikh Ahmad al-Rifa’i
Sewaktu beliau pergi Haji, ketika berziarah ke Maqam Nabi Muhammad Saw, maka nampak tangan dari dalam kubur Nabi bersalaman dengan beliau dan beliau pun terus mencium tangan Nabi SAW yang mulia itu. Kejadian itu dapat disaksikan oleh orang ramai yang juga berziarah ke Maqam Nabi Saw tersebut. Salah seorang muridnya berkata :
“Ya Sayyidi! Tuan Guru adalah Quthub”. Jawabnya; “Sucikan olehmu syak mu daripada Quthubiyah”. Kata murid: “Tuan Guru adalah Ghaus!”. Jawabnya: “Sucikan syakmu daripada Ghausiyah”.
Al-Imam Sya’roni mengatakan bahwa yang demikian itu adalah dalil bahwa Syaikh Ahmad al-Rifa’i telah melampaui “Maqamat” dan “Athwar” karena Qutub dan Ghauts itu adalah Maqam yang maklum (diketahui umum).
Sebelum wafat beliau telah menceritakan kapan waktunya akan meninggal dan sifat-sifat hal ihwalnya beliau. Beliau akan menjalani sakit yang sangat parah untuk menangung bilahinya para makhluk. Sabdanya, “Aku telah di janji oleh Allah, agar nyawaku tidak melewati semua dagingku (daging harus musnah terlebih dahulu). Ketika Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i sakit yang mengakibatkan kewafatannya, beliau berkata, “Sisa umurku akan kugunakan untuk menanggung bilahi agungnya para makhluk. Kemudian beliau menggosok-ngosokkan wajah dan uban rambut beliau dengan debu sambil menangis dan beristighfar . Yang dideritai oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i ialah sakit “Muntah Berak”. Setiap hari tak terhitung banyaknya kotoran yang keluar dari dalam perutnya. Sakit itu dialaminya selama sebulan. Hingga ada yang tanya, “Kok, bisa sampai begitu banyaknya yang keluar, dari mana ya kanjeng syaikh. Padahal sudah dua puluh hari tuan tidak makan dan minum. Beliau menjawab, “Karena ini semua dagingku telah habis, tinggal otakku, dan pada hari ini nanti juga akan keluar dan besok aku akan menghadap Sang Maha Kuasa. Setelah itu ketika wafatnya, keluarlah benda yang putih kira-kira dua tiga kali terus berhenti dan tidak ada lagi yang keluar dari perutnya. Demikian mulia dan besarnya pengorbanan Aulia Allah ini sehingga sanggup menderita sakit menanggung bala yang sepatutnya tersebar ke atas manusia lain. Wafatlah Wali Allah yang berbudi pekerti yang halus lagi mulia ini pada hari Kamis waktu duhur 12 Jumadil Awal tahun 570 Hijrah. Riwayat yang lain mengatakan tahun 578 Hijrah.
Syaikh Ahmad Badawi
Setiap hari, dari pagi hingga sore, beliau menatap matahari, sehingga kornea matanya merah membara. Apa yang dilihatnya bisa terbakar, khawatir terjadinya hal itu, saat berjalan ia lebih sering menatap langit, bagaikan orang yang sombong. Sejak masa kanak kanak, ia suka berkhalwat dan riyadhoh, pernah empat puluh hari lebih perutnya tak terisi makanan dan minuman. Ia lebih memilih diam dan berbicara dengan bahasa isyarat, bila ingin berkomunikasi dengan seseorang. Ia tak sedetikpun lepas dari kalimat toyyibah, berdzikir dan bersholawat.
Pada usia dini beliau telah hafal Al-Quran, untuk memperdalam ilmu agama ia berguru kepada syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan syaikh Ahmad Rifai. Suatu hari, ketika beliau telah sampai ketingkatannya, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, menawarkan kepadanya: Manakah yang kau inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masyriq atau Maghrib, akan kuberikan untukmu, hal yang sama juga diucapkan oleh gurunya Syaikh Ahmad Rifai, dengan lembut, dan karna menjaga tatakrama murid kepada gurunya, ia menjawab; Aku tak mengambil kunci kecuali dari al-Fattah (Allah ).
Peninggalan syaikh Ahmad Badawi yang sangat utama, yaitu bacaan shalawat badawiyah sughro dan shalawat badawiyah kubro.
Syaikh Abu Hasan asy-Syazili
Keramat itu tidak diberikan kepada orang yang mencarinya dan menuruti keinginan nafsunya dan tidak pula diberikan kepada orang yang badannya digunakan untuk mencari keramat. Yang diberi keramat hanya orang yang tidak merasa diri dan amalnya, akan tetapi dia selalu tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang disenangi Allah dan merasa mendapat anugerah (fadhal) dari Allah semata, tidak menaruh harapan dari kebiasaan diri dan amalnya.
Di antara keramatnya para Shiddiqin ialah :
1. Selalu taat dan ingat pada Allah swt. secara istiqamah (kontineu).
2. Zuhud (meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi).
3. Bisa menjalankan perkara yang luar bisa, seperti melipat bumi, berjalan di atas air dan sebagainya.
Diantara keramatnya Wali Qutub ialah :
1. Mampu memberi bantuan berupa rahmat dan pemeliharaan yang khusus dari Allah swt.
2. Mampu menggantikan Wali Qutub yang lain.
3. Mampu membantu malaikat memikul Arsy.
4. Hatinya terbuka dari haqiqat dzatnya Allah swt. dengan disertai sifat-sifat-Nya.
Beliau pernah dimintai penjelasan tentang siapa saja yang menjadi gurunya. Kemudian beliau menjawab, Guruku adalah Syaikh Abdus Salam ibnu Masyisy, akan tetapi sekarang aku sudah menyelami dan minum sepuluh lautan ilmu. Lima dari bumi yaitu dari Rasululah saw, Abu Bakar r.a, Umar bin Khattab r.a, Usman bin Affan r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a, dan lima dari langit yaitu dari malaikat Jibril, Mika’il, Isrofil, Izro’il dan ruh yang agung. Beliau pernah berkata, Aku diberi tahu catatan muridku dan muridnya muridku, semua sampai hari kiamat, yang lebarnya sejauh mata memandang, semua itu mereka bebas dari neraka. Jikalau lisanku tak terkendalikan oleh syariat, aku pasti bisa memberi tahu tentang kejadian apa saja yang akan terjadi besok sampai hari kiamat. Syekh Abu Abdillah Asy-Syathibi berkata, Aku setiap malam banyak membaca Radiyallahu’an Asy-Syekh Abul Hasan dan dengan ini aku berwasilah meminta kepada Allah swt apa yang menjadi hajatku, maka terkabulkanlah apa saja permintaanku. Lalu aku bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. dan aku bertanya, Ya Rasulallah, kalau seusai shalat lalu berwasilah membaca Radiya Allahu ‘An Asy-Syaikh Abu Hasan dan aku meminta apa saja kepada Allah swt, apa yang menjadi kebutuhanku lalu dikabulkan, seperti hal tersebut apakah diperbolehkan atau tidak?”. Lalu Nabi saw menjawab, Abu Hasan itu anakku lahir batin, anak itu bagian yang tak terpisahkan dari orang tuanya, maka barang siapa bertawassul kepada Abu Hasan, maka berarti dia sama saja bertawassul kepadaku.
Peninggalan syaikh Abu Hasan asy-Syazili yang sangat utama, yaitu Hizib Nashr dan Hizib Bahar. Orang yang mengamalkan Hizib Bahar dengan istiqomah, akan mendapat perlindungan dari segala bala. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat luas. Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang yang akan menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumah menegurnya. Hizib Bahar ditulis syaikh Abu Hasan asy-Syazili di Laut Merah (Laut Qulzum). Di laut yang membelah Asia dan Afrika itu syaikh Abu Hasan asy-Syazili pernah berlayar menumpang perahu. Di tengah laut tidak angin bertiup, sehingga perahu tidak bisa berlayar selama beberapa hari. Dan, beberapa saat kemudian Syaikh al-Syadzili melihat Rasulullah. Beliau datang membawa kabar gembira. Lalu, menuntun syaikh Abu Hasan asy-Syazili melafazkan doa-doa. Usai syaikh Abu Hasan asy-Syazili membaca doa, angin bertiup dan kapal kembali berlayar.
Tags: hirarki kewalian

Avatar Agung

Wasiat Nabiullah Khidir a.s.
Wasiat Nabiullah Khidir a.s. Sebelum Nabi Khidir berpisah dengan Nabi Musa as yang tidak sabaran, beliau berpesan, “Wahai Musa, sesungguhnya orang yang selalu member nasihat itu tidak pernah merasa jemu seperti kejemuan orang-orang yang mendengarkannya. Maka janganlah kamu berlama-lama dalam menasihati kaummu. Dan ketahuilah bahwa hatimu itu ibarat sebuah bejana yang kamu rawat dan pelihara dari hal-hal yang memecahkannya. Kurangilah usaha-usaha duniawimu dan buanglah jauh-jauh di belakangmu, karena dunia ini bukanlah alam yang akan kamu tempati selamanya. Kamu diciptakan adalah untuk mencari tabungan pahala-pahala akhirat nanti. Bersikap ikhlaslah dan bersabar hati menghadapi kemaksiatan yang dilakukan kaummu. Hai Musa, tumpahkanlah seluruh pengetahuan(ilmu)-mu, karena tempat yang kosong akan terisi oleh ilmu yang lain. Janganlah kamu banyak mengomongkan lmumu karena kamu akan dipisahkan oleh kaum ulama. Maka bersikaplah sederhana saja, sebab sederhana itu akan menghalangi aibmu dan akan membukakan taufik hidayah Allah untukmu. Berantaslah kejahilan kamu dengan cara membuang sikap masa bodohmu(ketidakpedulian)-mu yang selama ini menyelimuti dirimu. Itulah sifat orang-orang arif lagi bijaksana, menjadi rahmat bagi semuanya. Apabila orang bodoh datang kepadamu dan mencariu, redamlah ia dengan penuh kedewasaan serta keteguhan hatimu. Hati putera Imran, tidaklah kamu sadari bahwa ilmu Allah yang kamu miliki hanya sedikit saja. Sesungguhnya menutup-nutupi kekurangan yang ada pada dirimu atau bersikap sewenang-wenang adalah menyiksa dirimu sendiri. Janganlah kamu buka pintu ini jika kamu tidak bisa menguncinya. Jangan pula kamu kunci pintu ilmu ini jika kamu tidak tahu bagaimana membukanya, hai putera Imran. Barang siapa suka menumpuk-numpuk harta benda, dia sendiri bakal mati tertimbun dengannya hingga dia merasakan akibat dari kekuasaannya. Namun, semua hamba yang mensyukuri semua karunia Allah serta memohon kesabaran atas ketentuan-ketentuan-Nya, dialah hamba yang zuhud dan patut diteladani. Bukankah orang seperti itu mampu mengalahkan nafsu syahwatnya dan dapat memerangi bujuk rayu setan? Dan dia pula orang yang mengetahui buah dari ilmu yang selama ini dicarinya. Segala amal kebajkikannya akan dibalas dengan pahala di akhirat. Sedangkan kehidupan dunianya akan tenteram di tengah-tengah masyarakat yang merasakan jasa-jasanya. Hai Musa, pelajarilah olehmu ilmu-ilmu pengetahuan agar kamu dapat mengetahui segala yang belum kamu ketahui, misalnya masalah-masalah yang tidak bisa diomongkan atau dijadikan bahan pembicaraan saja. Itulah pemimpin jalanmu dan orang-orang akan disejukkan hatinya. Hai Musa, putera Imran, jadikanlah pakaianmu bersumber dari dzikir dan fikir serta perbanyaklah amal kebajikan. Suatu hari kamu tidak akan mampu mengelak dari kesalahan, maka pintalah keridlaan Allah dengan berbuat kebajikan, karena saat-saat tertentu akalmu pasti akan melanggar aturan-Nya. Sekarang telah kupenuhi kehendakmu untuk memberi pesan-pesan kepadamu. Omonganku ini tidak akan sia-sia bila kamui menurutinya.” (Diambil dari Kitab Tahzibul Asma Jus 1 Halaman 176-177; Shahih Muslim fi Syarkin Nawawi Jus 15 Halaman 135-136; Ruhul Mu’ni Jus 25 Halaman 223; Fathul BariJus 6 Halaman 310) ulkhaq_redsfans@yahoo.co.id
SHALAT MALAM SHALATNYA PARA NABI DAN ARIFBILLAH
REPUBLIKA.CO.ID,Ketika Rasulullah berada ditahun pertama kenabian menghadapi berbagai pelecehan bahkan fitnah, Allah SWT menurunkan wahyu sebagai panduan menyikapi keadaan itu, di antaranya, Surat Al-Muzzamil. Beberapa ayat dari surat tersebut berisi semacam panduan spiritual agar beliau tetap tangguh, istikamah, dan mantap menjalankan tugas.
“Wahai orang-orang yang berselimut, bangunlah shalat malam, separuh malam, atau kurangi sedikit atau lebih dan bacalah Alquran dengan tartil, maka aku akan berikan kepadamu qaulan tsaqilan (ucapan berbobot) dan sesungguhnya bangun di pengujung malam itu paling dalam kesannya untuk menum buhkan iman dan memantapkan mental.” (Q.S. Al Muzzamil, 1-6).
Ada dua janji yang Allah berikan setelah beliau melakukan shalat malam dan mentartil (membaca Alquran dengan tertib). Pertama, qaulan tsaqilan (ucapan berbobot) yang sering diartikan sebagai kharisma bil kasyaf. Kedua, tangguh dan mantap dalam menghadapi tantangan dan ujian.
Sahabat Ibnu Abbas dalam tafsirnya menyatakan, setelah turunnya Surat Al-Muzzamil, Nabi Muhammad terus memelihara shalat malam sampai saat-saat menjelang beliau wafat. Kepada umatnya, beliau menyampaikan bahwa shalat malam itu merupakan shalat para nabi dan rasul Allah. Juga kebiasaan orang saleh dan amalan orang berprestasi.
Beliau juga pernah memberikan resep spiritual terhadap keluarga yang menghadapi problem.
“Bangunkan istrimu di pengujung malam dengan penuh kasih sayang, bangunkan suamimu di pengujung malam dengan penuh kasih sayang,” demikian ucapan Rasulullah. Jika suami istri melakukan shalat malam dan mereka berzikir memohon kepada Allah, maka Allah menyatakan, “Aku malu kalau aku tidak memenuhi doa mereka, Aku malu kalau aku tidak mengabulkan munajat mereka.”
Shalat malam juga dapat berfungsi sebagai tanda syukur kepada Allah SWT.
Sahabat Abu Hurairah pernah bertanya kepada Rasul setelah ia melihat kaki beliau memar, bengkak, lecet-lecet parah. “Mengapa Anda shalat malam sampai kaki Anda lecet, bengkak, dan memar?
Padahal, Anda adalah Rasulullah.
Anda tak pernah berbuat dosa dan Anda pun pasti masuk surga.” Beliau menjawab, “Apakah tidak pantas kalau saya mensyukuri segala anugerah Allah?” Pada awal pembangunan masyarakat Madinah, Nabi Muhammad menyampaikan empat pesan moral kepada umat Islam. Beliau mengatakan, tebarkanlah salam, bangun keakraban, wujudkan kepedulian sosial, dan bangun shalat malam pada saat orang-orang sedang tidur.
Nabi Daud membiasakan shalat malam dengan cara tidur separuh malam, bangun sepertiga malam.
Kebiasaan ini dilanjutkan oleh Nabi Sulaiman. Beberapa sahabat sempat melakukan shalat malam dengan cara seperti itu. Nabi sendiri membiasakan shalat malam di akhir malam, separuh, atau sepertiga malam.
Shalat malam merupakan sarana penghapus dosa, penenang hati, pembersih jiwa, dan takarub yang paling efektif. Shalat ini juga menjadi obat segala macam kegundahan, kegelisahan, kesedihan, kemarahan, keterasingan, keputusasaan, dan problem-problem rohaniah lainnya. Ia adalah tiket untuk meraih surga dan kemuliaan di sisi Allah SWT. Wallahu a’lam.
Red: Siwi Tri Puji B

Akmaliyah

Tarekat Syekh Siti Jenar/Sunan Kajenar Bagi syekh siti jenar, bentuk lafadz istighfar, shalawat,tasbih,tahlil dan semacamnya sebenarnya lafadz-lafadz yang menuntun manusia untuk menempuh jalan menuju kemanunggalan. sehingga kalimat-kalimat tersebut tidaklah cukup hanya dijadikan ucapan penghias bibir belaka. kalimat-kalimat tersebut hakikatnya adalah urat nadi perjalanan rohani manusia, yang dapat menyelami kedalam samudera ma’rifat untuk mengenal dan mendekatinya, kemudian menghampirinya untuk manunggal dalam keabadian. sehingga matra-matra dari kalimat itu akan tetap terbawa dalam kesadaran kematian. saat nyawa kehidupan lepas dari tubuh, kesadaranya tetap mengiringinya dengan senyum menuju haribaanya.
Jika anda berhasrat kuat untuk mengikuti jalan kami maka yang wajib anda sadari pertama-tama adalah kenyataan yang terkait dengan cara/thariq kami yang berbeda pada umumya yang dianut manusia. maksudnya, tarekat yang kami anut tidak mengenal adanya pir atau mursyid. karena yang disebut pir atau mursyid, menurut cara kami berada dalam diri manusia sendiri.sementara keberadaan guru hanya terbatas sebagai petunjuk untuk menuntun langkah awal seorang salik dalam guru sejati.
Dengan penjelasan ini hendaknya anda pahami bahwa pada cara kami tidak mengenal adanya wasilah maupun rabithah yang berwujud manusia. satu-satunya wasilah dan rabhitah adalah nur muhammad, yang ada didalam diri manusia. lewat nur muhammad itulah manusia akan tercapai sumber segala sumber. Anda boleh menamai cara ini sesuka hati anda, namun hendaknya anda ketahui bahwa Nabi Muhammad al-Musthafa SAW telah mewariskan dua cara kepada manusia.
Cara yang pertama adalah tarekat Al-akmaliyah yang diwariskan lewat hadrat Ali bin Abu Thalib. tarekat yang akan anda pelajari dari syekh siti jenar adalah tarekat al akmaliyah. “sebagaimana yang telah kujelaskan sebelumnya bahwa pertama-tama tarekat al akmaliyah tidak mengenal pir atau mursyid dalam wujud manusia karena pada hakikatnya sudah ada pada diri tiap manusia.
Kedua pir atau mursyid didalam diri manusia itulah yang disebut nur muhammad, yang akan menjadi penuntun sang salik di dalam menuju dia. karena itu, tarekat al-akmaliyah tidak mengenal wasilah dan rabithah dalam bentuk manusia. Wasilah dan rabithah dalam tarekat al-akmaliyah tidak dikenal adanya silsilah pir atau mursyid berdasar asas keturunan.
Ketiga, para salik yang berjalan melewati tarekat al-akmaliyah wajib berkeyakinan bahwa segala sesuatu termasuk tarekat ini adalah milik Allah. itu berarti, keberadaan tarekat beserta seluruh pengikutnya adalah semata-mata karena kehendak Allah. dengan demikian, para pengikut tarekat ini hendaknya tidak membanggakan diri sebagai pendiri atau penguasa tarekat.
Anda tentu pernah mendengar kisah syaikh hussein bin mansyur al hallaj yang dihukum cincang dan mayatnya di bakar oleh al-muqtadir? dia adalah pengamal ajaran tarekat al-akmaliyah. Namun, murid-muridnya kemudian mendirikan tarekat hallajiyah. itu boleh dan sah-sah saja, walaupun akhirnya Hallajiyah tenggelam karena pengikut-pengikutnya membentuk lembaga baru dengan susunan hirarki kepemimpinan rohani atas dasar seorang manusia. sementara tarekat al-akmaliyah tetap lestaari hingga sekarang.
Antara Tarekat Al-akmaliyah dan Tarekat Al-anfusiyah hakikatnya sama, hanya nama saja yang berbeda. karena, Akmaliyah berasal dari Al-kamal, yakni pengejawentahan dari al-kamal yang dibentuk oleh al-jalal dan al-jamal.
Al-kamal itulah adam ma’rifat yang kepadanya ditiupkan ruh al-haqq dimana tersembunyi al-haqq. Al-kamal atau adam ma’rifat itulah yang disebut al-insan al-kamil. Sementara itu, Anfusiyah berasal dari al-anfus, an-nafs al-wahidah, yakni pengejawentahan an-nafs al-illahiyyah. an-nafs al-wahidah itulah adam ma’rifat yang kepadanya ditiupkan roh-nya, yakni roh al-haqq di mana tersembunyi al-haqq. an-nafs al-wahidah atau adam ma’rifat itulah yang disebut al-insan al-kamil.
Semua tarekat itu benar, hanya nama dan cara-nya saja yang berbeda. justru cara itu menjadi salah dan sesat ketika sang salik menilai terlalu tinggi cara yang di ikutinya hingga menafikan cara yang lain. sebab, dengan itu sebenarnya sang salik memuliakan dan mengagungkan dan membenarkan keakuanya yang kerdil. berarti sang salik pada saat itu telah merampas hak Allah.
Karena kemuliaan, keagungan, dan kebenaran hanyalah miliknya. itulah sebabnya, dalil awal yang wajin dipatuhi oeleh seorang salik Akmaliyah adalah meyakini jalan lurus/sabil huda yang digelar oleh Allah kepada hamba-hamba yang mencarinya tidaklah tunggal/ wa al-ladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulan.
Hal yang paling penting anda pahami lagi adalah Tarekat al-akmaliyah ini hanyalah suatu cara untuk melewati jalan lurus. jadi jangan beranggapan bahwa cara ini adalah segala-galanya. artinya jangan menganggap bahwa siapa saja yang mengamalkan cara ini dan mengikuti jalan lurus yang ada di dalamnya pasti akan selamat sampai kepadanya. sebab keputusan terakhir ada di tangan-Nya juga. artinya sangat terbuka kemungkinan pengamal cara ini justru akan tersesat jalan, jika Dia menghendaki demikian.
Adapun sebagai pedoman untuk melintasi jalan lurus dengan cara Akmaliyah, dapat saya jelaskan sbb: pertama-tama yang harus anda pahami bahwa Allah tujuan akhir kita, adalah tidak bisa dibanding-bandingkan dengan sesuatu bentuk apapun/ laisa kamitslihi syaiun. karena itu merupakan suatu keharusan fundamental bahwa untuk menuju dia, seorang salik harus mengarahkan kiblatnya seperti daud dan sulaiman, namun kiblat hati dan pikiran tetap hanya mengarah kepadan-Nya.
Hendaklah anda sadari bahwa perjalanan menuju Dia, subhanahu wa ta’ala, bukanlah perjalanan ajaib yang langsung secara gampang dalam tempo satu hari atau satu pekan. perjalanan menuju Dia sangatlah sulit dan penuh jebakan. karena harus melampui tujuh rintangan besar, yaitu tujuh lembah kasal, tujuh gunung riya’, tujuh rimba sum;ah, tujuh samudera ‘jub, tujuh benteng hajbun. Semua rintangan itu berjumlah tujuh, karena kita adalah makhluk yang hidup di atas permukaan bumi, Allah membentangkan tujuh lapis langit yang kokoh di atas kita /Qs.an-Naba’78:12 sebagaimana bumipun berlapis tujuh /Qs.ath-Thalaq 86:12 dan samuderapun berlapis tujuh /Qs. Luqman 31:27. bahkan neraka bertingkat tujuh /Qs. al-Hijr 15:44. tidaklah anda ketahui bahwa surgapun berlapis tujuh. Tidaklah anda ketahui bahwa dalam beribadah kepada-Nya manusia telah diberi piranti tujuh ayat yang diulang-ulang dari Al-Qur’an/Qs. al-Hijr 44:87 untuk berhubungan dengan-Nya?(Qs. al-Hijr 15:87). Tidaklah anda sadari bahwa saat anda sujud maka tujuh anggota badan anda yang menjadi tumpuan??” Namun, diantara tujuh hal yang terkait dengan alam semesta ini, yang paling penting anda sadari adalah tujuh lapis hal yang berhubungan dengan keberadaan manusia yang di beri tujuh tahap usia, yakni radhi, fathim, shabiy, ghulam, syabb, kuhl, dan syaikh; yang berkait dengan tujuh nafsu manusia, yakni musawwilah, hayawaniyah, ammarah, iwwammah, mulhamah, muthma’inah, dan wahidah. sebab dengan menyadari adanya tujuh nafsu manusia maka anda akan memahami adanya TUJUH MARTABAT yang wajib anda lampui untk menuju kepadan-Nya. dan sekali lagi ingat-ingatlah bahwa perjalan rohani bukan perjalanan ajaib yang bisa tercapai dalam waktu singkat.
Rasulullah sendiri membutuhkan waktu lima belas tahun berkhalwat untuk mencapai tahap bertemu jibri AS di gua hira. dan perjalanan itu masih beliau laksanakan dengan tekun dan istiqomah hingga beliau mengalami isra’mi’raj: menghadap ke hadirat al-khaliq.””” Terdapat hubungan sekaligus perbedaan pelaksanaan antara tarekat akmaliyah dengan tarekat syatariyah. tarekat al-akmaliyah untuk dirimu pribadi, sedang tarekat syatariyah untuk engkau ajarkan khalayak ramai. wajib engkau ingat-ingat bahwa apa yang disebut tarekat itu pada dasarnya memiliki hakikat tujuan yang sama, meski nama dan caranya seolah-olah berbeda. itu sebabnya , jika engkau teliti benar keberadaan semua tarekat maka akan engkau dapati jalan lurus dan cara yang mirip satu dengan yang lain. di dalam beberpa tarekat misalnya, akan engkau dapati pemaknaan inti dari hakikat istighfar, salawat, tahlil dan nafs al-haqq yang sering di pilah-pilah sebagai dzikir jahr dan dzikir sirri. semua tarekat pasti mengajarkan istighfa, salawat, tahlil dan nafs al-haqq.
Semua tarekat pasti mengajarkan rahasia Muhammad sebagai pintu dan kunci untuk membuka hijabnya. Ada penjelasan mengapa tidak tarekat al-akmaliyah saja yang disebar luaskan kepada khalayak ramai? bukankah hal itu lebih afdol dibanding mengajarkan tarekat asy-syatariyah?ketahuilah,o salik, bahwa tarekat al-akmaliyah sejak semula memang tidak untuk diajarkan kepada khalayak ramai. tidakkah engkau ketahui kisah syaikh abu al-mughits al-husain bin mansyur bin muhammad al-baidhawi al-hallaj yang menimbulkan kekacauan ketika mengungkapkan pandangan dan pahamnya kepada khalayak ramai? Tidakkah semua orang saat itu tidak mampu memahami ucapan-ucapanya? Tidakkah hanya kesalah pahaman yang justru ditimbulkanya?”””” Ketahuilah salik, bahwa yang menjadi dasar tarekat al-akmaliyah adalah kembali kepada Allah subhanahu wata’ala, Tuhan, pencipta yang tak bisa di bayangkan dan tidak pula bisa dibandingkan dengan sesuatu.
Singkatnya dasar utama dari tarekat al-akmaliyah adalah perjalanan kembali ke asal. inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un! kembali kepada yang maha ghaib. maha kosong. maha tak terbandingkan.
Bagaimana engkau menjelaskan khalayak ramai tentang dia/ huwa yang tak bisa digambarkan dan dibayangkan serta takterbandingkan? bagaimana cara engkau meminta khalayajk ramai untuk mengikuti jalanmu jika engkau tak bisa menjelaskan kepada mereka tentang kenikmatan, kelezatan, keindahan, kemuliaan, dan keagungan yang bakal engkau capai? bagaimana bisa engkau menyadarkan khalayak ramai tidaklah kembali kesurga yang penuh kenikmatan dan kelezatan, melainkan kembali kepada dia yang tak bisa digambarkan??”
Dengan uraian ini bukan berarti aku menempatkan tarekat al-akmaliyahsebagai tarekat yang khusus, apalagi lebih tinggi nilainya dari pada tarekat syatariyah. sekali-kali tidak demikian. sepengetahuanku, tarekat al-akmaliyah memang tidak pernah diajarkan secara terbuka, kecuali pada masa husein bin mansyur bin Muhammad al-baidhawi al-hallaj. entah jika suatu saat nanti Allah menghendaki-Nya..”””
Menurut pemahaman tarekat al-akmaliyah, dalam perjalanan rohani menuju Dia pada hakikatnya terdapat empat tahapan 1.perjalanan al-insan menuju al-haqq/as-safar min al-haqq.2.perjalanan kembali dari al-haqq/ as-safar fi al-haqq.3.perjalanan kembali dari al-haqq menuju al-insan bersama al-haqq/as-safar min al-haqq ila al-insan bi al-haqq.4.perjalanan al-insani di tengah ciptaan bersama al-haqq/safar al-insan fi al-khalq bi al-haqq.
Dengan uraian ini, o salik, jangan sekali-kali engkau bertanya soal manfaat dan kegunaan. sebab, jelas pada paham ini bahwa barang siapa yang di dalam perjalanannya telah sampai kepada al-haqq maka dia akan kehilangan keakuannya yang kerdil dan sempit. itu berarti, dia tidak akan berbicara tentang manfaat, keuntungan, kenikmatan, kelezatan dan kemuliaan menurut akal pikiran dan hasrat hatinya. artinya, dia yang telah sampai akan berada pada tingkatan tertinggi dari kepasrahan kepada-Nya. wama tasya’uma illa an yasya-a Allahu rabbu al-‘alamin”” /QS al-taqwir 81:29 itulah penjelasan sang guru sunan kejenar mengenai tarekat dan perjalan yang beliau capai hingga puncaknya dan juga hasil diskusi para guru yang memang benar-benar telah merasakan benar akan arti kebenaran itu sendiri.
sumber: jalanpincang.com

Selasa, 31 Januari 2017

MEMAHAMI TENTANG SAKRATUL MAUT

SAKRATULMAUT






◙ KETAKJUBAN TERHADAP SAKRATULMAUT

Yang dibahas dalam pasal ini adalah bagaimana memperoleh keselamatan tatkala sakratulmaut. Syarat apa yang di perlukan untuk menghadapi sakratulmaut? Ada empat syarat. Yaitu ikhlas, rela pada hukum Allah, merasa tidak memiliki, dan berserah diri pada kehendak Allah.

  1. IKHLAS / RELA [RIDHO]
Ikhlas dalam menghadapi sekarat itu ya menerima sekarat atas kemauan sendiri. Tanpa merasa terpaksa. Sadar bahwa sekarat itu di tetapkan oleh Tuhan untuk hamba-Nya. Jadi, sekarat bukan sesuatu yang harus di hindari. Tapi, juga bukan untuk di tantang. Yaitu mereka yang minta di matikan.
Kita memang harus rela terhadap Tuhan yang menguasai hidup kita. Sebelum manusia mampu memberdayakan fungsi jasmani dan rohaninya, Tuhan telah menempatkan berbagai organ yang kerjanya tidak kita kendalikan. Jantung, paru-paru, hati, limpa, usus, dan ginjal bekerja secara otomatis. Sistem peredaran darah, pernapasan, dan pembuangan bekerja di luar kendali kita. Jika pada mulanya manusia rela di atur di luar kesadarannya, maka pada akhirnya manusia juga harus rela di atur berdasarkan kesadarannya. Kerelaan sejati adalah kerelaan yang tumbuh dari dalam. Dari kesadaran sendiri. Bukan karena bujuk rayu dari siapa pun. Atau, dari mana pun datangnya. Betul-betul kerelaan yang tumbuh dari keyakinan. Ikhlas atau rela sebenarnya merupakan pekerjaan hati yang paling pokok.
Mengenai kerelaan dalam mengahadapi kematian ini, telah di jelaskan dalam kitabul mukmin (Layang Mu’min), sebagai berikut :
“ SEKARAT TANANA NYAMUR, JA MELU YEN SIRA WEDI, LAN JA MẼLU- MẼLU ALLAH, IKU ARAN SAKARATIL RUH ILAPI MATI TANANA URIP MATI MATI URIP”.
Artinya :
Penderitaan sekarat itu tidak ada. Jangan takut menghadapinya. Dan, jangan ikut-ikutan takut bertemu Allah. Perasaan takut itulah yang disebut sekarat. Roh Ilafi tidak terkena kematian. Hidup mati, mati hidup.
Dipertegas dalam Q.S. Fushilat : 30 :
“SESUNGGUHNYA ORANG-ORANG YANG MENYATAKAN [RABB KAMI ADALAH ALLAH], DAN MEREKA MENEGUHKAN PENDIRIAN MEREKA; MAKA MALAIKAT MENDATANGI DAN BERKATA “JANGANLAH KAMU MERASA TAKUT DAN SEDIH, DAN KAMU DI GEMBIRAKAN DENGAN KABAR BAHWA KALIAN MENDAPAT TAMAN YANG DI JANJIKAN”.
Ada dasarnya bahwa dalam menghadapi sakratulmaut, seseorang tak boleh khawatir. Tak boleh takut. Tak boleh bersedih hati. Asal jiwa ini tetap teguh pendirian dalam menjungjung kebenaran, taman yang luas terbentang dihadapannya. Mengapa mesti takut? Malaikat-malaikat yang disebut dalam Al-qur’an akan memberikan perlindungan. Atau, saudara empat (sedulur papat) yang ghaib, akan turut serta menjaga Sang Diri dalam melanjutkan perjalanannya. Bahkan dalam ayat berikutnya, Yaitu ayat 31, disebutkan bahwa para malaikat itu menyatakan sebagai pelindung-pelindung orang yang mantap dalam keimanannya, di dunia dan di akhirat.


  1. RELA PADA HUKUM ALLAH
Banyak orang Islam yang menyempitkan makna “hukum Allah”. Hanya di mengerti sebagai syariat. Atau, sebatas hukum agama. Dalam menyambut sakratulmaut, hukum Allah itu ya kodrat. Ketetapan Allah yang digelar di alam raya ini. Manusia tumbuh dari bayi menjadi orang tua, itu salah satu hukum Allah. Karena itu, tidak usah membaca kitab untuk bisa mengetahui hukum Allah.
Kita akan mengetahui hukum Allah. Perhatikanlah hukum Allah pada manusia. Ada yang menjadi perempuan. Laki-laki. Yang perempuan mempunyai rahim untuk melahirkan. Kulitnya lebih halus daripada laki-laki. Yang laki-laki bisa berkumis, atau berjanggut. Secara normal, badannya lebih kekar. Dan, salah satu dari sekian banyaknya hukum Allah itu, antara lain “Kematian”. Tanpa sekolah pun orang mengetahui bahwa orang hidup akan mengalami kematian. Tanpa baca kitab suci pun, akan tahu bahwa setiap manusia merasakan kematian. Dan, kematian pun tidak selalu datang pada usia senja. Ada yang mati ketika masih janin. Mati setelah dilahirkan. Mati semasa bayi. Mati semasa kanak-kanak. Remaja. Pemuda. Dewasa. Tua renta. Sebabnya pun beraneka. Ada yang karena sakit. Karena kecelakaan. Terbunuh. Atau, karena usia tua. Kapan datangnya, atau apa sebabnya, tidak perlu mengetahui kita. Karena itu semua berjalan berdasarkan hukum Allah. Tuhan mengatur dan menentukan semuanya ini berdasarkan sifat kasihNya. Namun, sifat dunia ini fana. Tidak tetap. Lenyap. Apa yang ada ‘saat ini’, sesaat kemudian sudah tiada. Kefanaan inilah sebenarnya yang menghantui manusia. Yang membuat derita pada kehidupan ini.
  1. MERASA TIDAK MEMILIKI APA-APA (LAHAWLA)
Ya, ini yang seharusnya harus kita lenyapkan. Yaitu merasa diri punya segalanya, merasa kaya, merasa berkuasa, merasa memiliki rumah, tanah, mobil, gedung bertingkat dsb. Pengakuan terhadap sesuatu yang tidak dimiliki inilah yang menyebabkan aneka penderitaan dan kesedihan pada manusia. Kenyataannya, kita tidak memiliki apa-apa. Hakikatnya semua ini kepunyaan Allah. Karena itu, manusia tidak membawa dunia ini kea lam kematian. Apa yang telah diperoleh dalam hidup ini hendaknya tidak di akui sebagai milik. Semua pencapaian itu hanyalah anugerah Ilahi. Sesuatu yang di karuniakan oleh Pemilik sejatinya kepada manusia. Sesuatu yang dipercayakan kepada manusia, agar dijaga dan dipeliharanya. Negara pun bukan kepunyaan kita. Bukan kepunyaan para raja. Tetapi, itu semua hanyalah anugerah Tuhan. Dunia atau bagian dunia ini bukan kepunyaan kita. Karena itu, kita harus merasa tidak memiliki apa-apa. Dengan cara ini, tak ada kekecewaan dalam hati kita. Tak ada penderitaan yang menimpa kita. Tak ada kesedihan yang menerpa kita. Dan, hidup akan tenang hingga ajal menjemput kita, dan sesudahnya. Karena kita merasa tidak memiliki. Tetapi, milik-Nya.

  1. BERSERAH DIRI KEPADA KEHENDAK ALLAH
Kematian itu sendiri hukum Allah. Tapi, bentuk kematian merupakan Kehendak Allah. Dalam hidup ini ada kehendak manusia. Juga ada Kehendak Allah. Kehendak manusia ya kehendak yang bisa di lakukan oleh manusia. Sedangkan Kehendak Tuhan adalah kehendak yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Agar perjalanan hidup ini bisa mencapai titik kesempurnaan, maka “kehendak” harus diperjuangkan untuk bisa bertemu “Kehendak”. Sehingga manunggal! Menjadi satu. Bukan dua kehendak, tapi hanya ada satu kehendak.
Dengan memahami Kehendak Allah, kita tidak ragu-ragu dalam menjalani hidup ini. Kita mantap dalam hidup ini. Bila amanat Tuhan selalu kita jaga. Maka, tak perlu ada yang dikhawatirkan bila sewaktu-waktu di ambil-Nya kembali. Termasuk nyawa kita. Bukankah hidup dan mati kita ini kepunyaan-Nya? Hakikatnya, Tuhan lah yang berkehendak adanya hidup dan mati ini. Allah menjadikan mati dan hidup. Dengan cara itu, Allah mendidik dan melatih manusia untuk menyempurnakan dirinya. Dengan cara mematikan dan menghidupkan, Allah menguji manusia. Agar manusia dapat meraih tempat yang layak bagi dirinya. Yaitu kembali kepada-Nya. Ilayhi rẫji’un.Manunggal dengan-Nya.




☼ MELEWATI PINTU KEMATIAN

Tepat melewati pintu maut. Maka, seseorang harus yakin bahwa dirinya ada di Pangkuan Tuhan Yang Maha Pengasih. Pada saat itu, pujian dihadirkan, diungkapkan atau dinyatakan dalam batin. Adapun pujian itu dalam bahasa para Wali sebagai berikut :
ALHAMDU LILLAHI RABBIL ẪLAMIN.
SI ENING MANJING SARIRA ENING, TETEPA JUMENENG ANGEUN-ANGEUN, TANSAH MURBA WIŚESANING ALLAH TA’ALA”.
Artinya :
Segala puji kepunyaan Allah Tuhan Semesta Alam.
Yang hening masuk ke dalam badan yang hening, semoga tetap menjadi “angeun-angeun”, senantiasa berada dalam kekuasaan Allah Yang Maha Tinggi.

Hening atau wening sebenarnya sebuah pencapaian dalam zikir. Tahap khusyuk. Sehingga pikiran benar-benar menjadi bening, jernih. Tak ada suatu noda pun yang melekat dalam kondisi jernih. Bagi yang pernah mengalami kondisi ini, akan mengerti apa yang dinamakan pikiran yang terang sekali. Dalam kondisi hening tak ada beban sedikit pun.
Nah, pada saat sekarat itu tiba. Pada saat heningnya kematian itu datang. Maka, dipujilah Tuhan dengan pernyataan “Yang hening masuk kedalam badan yang hening”. Sebenarnya, keheningan itu sendiri merupakan Sifatullah (Sifat Tuhan).
Kalimat berikutnya, “semoga tetap menjadi angen-angen”. Kata “angen-angen” disitu bermakna keyakinan dan pengamalannya. Tentang kebenaran yang dipegangnya. Jadi, yang dimaksud dengan kalimat tersebut adalah agar kita tetap teguh pendirian dalam iman tauhid, tidak berubah oleh keadaan yang kita hadapi.
Penutup pujiannya adalah “semoga senantiasa berada dalam kekuasaan Allah Yang Maha Tinggi”. Inilah keyakinan iman tauhid di akhir hayat. Kita sadari bahwa Ada kenyataan yang paling tinggi, paling besar, paling agung, dan paling berkuasa di jagat raya ini. Dan, ketika seseorang melewati pintu kematian maka pada saat itu pula lahir pengakuan asli bahwa dirinya itu nihil. Nol! Keberadaan dirinya ada di dalam kekuasaan Tuhan Yang Mahatinggi.
Hakikat manusia adalah pendakian spiritual. Perjalanan “Diri Sejati”! bagaikan korpus (paket) cahaya yang terpancar dari sumber Asal. Yaa, sumber Asal itu adalah Tuhan Yang Maha Esa! Inna Li Allah. Kita kepunyaan Allah. Kita berasal dari Allah. Kita ini memang melakukan perjalanan. Mulainya dari Allah dan akihirnya pun kembali kepada-Nya.

Adapun Pintu atau Pase Alam yang akan di laluinya setelah sakratulmaut adalah sebagai berikut :

  1. ALAM RUHIYAH
Begitu sakratulmaut dilampaui, maka masuklah Sang Diri ke alam ruhiyah. Alam nyawa. Suatu alam yang terang. Tetapi bukan terangnya siang hari. Dengan kata lain, terangnya itu bukan karena sinar matahari. Suatu terang yang tanpa panas. Dan, tidak tahu sumber terangnya itu.
Di alam ruhiyah arah tidak diketahui lagi. Mengapa? Karena tidak ada patokan. Di alam syahadah [alam dunia] ini kita tahu timur, karena kita membuat patokan bahwa matahari terbit di timur. Sedangkan di alam ruhiyah itu yang namanya timur, barat, utara, dan selatan, tidak kita ketahui lagi. Jika kita melihat lautan, maka kita tidak bisa melihat tepinya atau pantai dari pulau lain. Ternyata, lautan tanpa tepi itu sebenarnya perwujudan dari “Hati” yang terkena pancaran otak. Unsure-unsur kimia otak memancarkan sinar yang tak tertangkap oleh mata. Tapi, pancarannya terlihat oleh mata hati.
Di tengah-tengah samudra tanpa tepi itu, memancarlah cahaya dari Pancamaya. Pancaran warna cahayanya terang. Yang merupakan perwujudan dari jantung yang mendapatkan pancaran cahaya dari Roh Ilafi. Cahayanya meliputi hakikat hati. Dan, menjadi sumber sifat-sifat mulia manusia. Yaitu, Mukasyafah. Disebut juga mukasifat, yang menuntun semua sifat mulia.
  1. ALAM SIRRIYAH
Setelah alam ruhiyah terlampaui, maka masuklah ke alam Sirriyahi. Suatu alam yang mempunyai 4 (empat) macam warna. Yaitu: hitam, merah, kuning, dan putih. Semua itu merupakan perwujudan budi, yang menimbulkan nafsu.
    • CAHAYA HITAM
Memancar dari perut dan keluar melalui mulut. Dalam cahaya hitam ini muncul berbagai macam binatang yang masing-masing mendesak untuk mengakui dirinya sebagai Tuhan. Cahaya hitam ini jangan sampai menghanyutkan perjalanan spiritual dari jiwa setelah melewati kematian. Ingat pujian pada saat sakratulmaut. Iman tauhid tak boleh goyah. Begitu goyah dan terhanyut kekuatan cahaya hitam itu, maka Sang Diri akan menitis [terlahir kembali] di alam binatang. Jangan heran bila kita menyaksikan binatang, ada yang begitu dekat dengan manusia, dan ada yang ketakutan terhadap manusia.


    • CAHAYA MERAH
Memancar dari empedu dan keluar melalui telinga. Yang muncul dalam cahaya merah itu adalah berbagai jenis setan alas, makhluk halus yang jahat. Tampak seperti api raksasa yang menyala-nyala. Sama seperti pada makhluk pada cahaya hitam, mereka juga mengaku-ngaku sebagai Tuhan. Angen-angen yang tidak goyah, tak akan mau menerima desakan mereka. Jika sampai takluk, atau terbujuk, maka Sang Diri akan terlahir kembali ke dalam alam setan alas.
    • CAHAYA KUNING
Memancar dari limpa dan keluar melalui mata. Dalam cahaya kuning ini akan kelihatan berbagai macam burung yang terbang menggoda. Dayanya seperti angina rebut. Masing-masing mendesak untuk mengakuinya sebagai Tuhan. Bilamana terjebak desakan mereka, maka akan terlahir kembali sebagai burung. Hidup lagi dalam bangsa burung.

    • CAHAYA PUTIH
Cahaya memancar dari tulang dan keluar melalui hidung. Yang menampakan diri dalam lautan cahaya putih adalah berbagai jenis ikan dan binatang yang hidup di air. Mereka juga menggoda Sang Diri untuk mengakui mereka sebagai Tuhan. Berbagai istana tampak di lautan cahaya putih. Tapi, itu semua hanyalah godaan. Tentu, itu bukan istana yang sesungguhnya. Kalau sampai terpesona dan masuk kedalamnya, maka akan terlahir kembali kedunia ikan atau binatang air.

  1. ALAM NURIYAH
Memasuki alam nuriyah. Kata “Nur” berate cahaya. Jadi, alam ini merupakan alam yang dipenuhi cahaya. Alam yang dipenuhi cahaya tak terbatas. Cahaya yang amat terang. Melebihi terangnya alam sirriyah.
Di alam nuriyah ini, selepas adanya cahaya yang terang benderang, muncullah cahaya terang berwarna hitam, merah, kuning, putih, dan hijau. Semua cahaya itu terbentang di hadapan Sang Diri. Disekeliling roh orang yang meninggal. Tampaklah istana-istana. Tapi, bukan istana yang sesungguhnya yang di atur oleh Tuhan Yang Mahamulia. Hanya pantulan istana. Pantulan yang berasal dari cahaya yang berwarna lima macam tersebut.
Di dalam lautan cahaya yang berwarna Hitam tampak istana-istana yang dihuni oleh bangsa binatang. Istana yang muncul dari cahaya berwarna Merah merupakan wilayah yang dihuni bangsa makhluk halus yang jahat [setan alas, bekakasan]. Dalam cahaya warna Kuning terdapat istana-istana yang merupakan hunian bangsa burung. Dalam cahaya Putih ada istana-istana pantulan dari bangsa ikan. Sedangkan dalam lautan cahaya yang berwarna Hijautampak istana yang berasal dari dunia tumbuhan.
Di saat kelihatan beragam istana ini, ada suara-suara. Anehnya suara-suara ini mau memandu Sang Diri. Masing-masing suara itu menunjukan kelembutannya. Seakan-akan menawarkan jasa peristirahatan bagi Sang Diri atau roh orang yang mati. Tentu saja itu semua jebakan. Tak ada istana yang perlu dipilih. Semua bisa menyebabkan kelahiran kembali ke alam yang dimasukinya.
  1. SUB ALAM NURIAH (ALAM PERMANA atau ALAM ISYQ [Kecintaan] ).
Pada sub alam nuriah ini cahayanya bening sekali. Di dalam cahaya itu tampaklah sebuah nyala yang tegak sebesar Lidi. Nyala itu mempunyai delapan warna cahaya, Yaitu Hitam, merah, kuning, putih, hijau, biru, ungu,dan merah dadu [merah muda].
Semua warna terhampar, dan masing-masing memperlihatkan surga serba indah. Itulah perwujudan Permana yang di tambah cahaya yang dipancarkan oleh sukma. Alam permana disebut alam kecintaan. Pada saat itu Sang Diri mengalami kerinduan akan surga. Surga tampak asri. Tetapi, ternyata juga belum surga yang sebenarnya. Bukan tempatnya kenikmatan yang membawa manfaat bagi kehidupan Sang Diri. Juga bukan tempatnya rahmat Allah sebagaimana yang dinyatakan dalam Alqur’an.
Surga di alam nuriyah ini bukan surga sejati, tetapi hanyalah kahyangan atau tempat bangsanya makhluk halus, makhluk tersembunyi. Kedelapan macam surga itu mengeluarkan bau harum semerbak. Harumnya bisa membuat Sang Diri tertarik. Sebenarnya surga yang tampak oleh Sang Diri ini hanyalah perwujudan dari angan-angan atau ciptaan dari manusia sendiri. Jika tertarik kesitu, ya akan menjadi raja dari makhluk halus di alamnya masing-masing.
  1. ALAM ULUHIYAH
Jika lolos dari berbagai rintangan di alam-alam sebelumnya, maka berikutnya Sang Diri memasuki alam uluhiyah. Inilah yang disebut alam ketuhanan. Terangnya alam ini melebihi alam nuriyah. Di alam ini tampak cahaya yang memancar. Di dalam cahaya itu tampak suatu perwujudan seperti lebah yang masih berada di dalam sarangnya. Keadaan ini ada di maqam Fana. Dengan demikian, cahaya yang terpancar itu sebenarnya berasal dari sukma. Pancaran cahayanya menambahi segala macam warna. Pancaran cahayanya meliputi seluruh alam, baik alam kecil, besar, dengan segala isinya.
Hidupnya warna-warni cahaya itu berasal dari permananya rahsa. Pada saat itu datanglah malaikat-malaikat yang menyerupai ayah, kakek, dan leluhur lelaki. Mereka mengaku sebagai utusan-utusan Tuhan yang akan mengantarkan ke alam karamattulloh. Yaitu, alam kemuliaan Tuhan Yang Mahasuci. Meskipun demikian, Sang Diri harus tetap kokoh dengan pendiriannya semula, dan tidak mudah percaya.

  1. SUB BAGIAN ALAM ULUHIYAH (LAPISAN KE 2)
Masih berada di sub-bagian alam ruhiyah. pada sub-alam ini cahayanya lebih terang lagi keadaannya. Di ala mini tampak cahaya yang bersinar cemerlang. Cahaya yang berkilauan. Di ala mini tampak perwujudan bagaikan boneka gading yang bertahtakan mutiara. Gebyar-gebyar cahayanya. Dilihat dari jenis kelaminnya, ternyata wujud itu bukan laki-laki. Bukan perempuan. Bukan pula banci.
Itulah maqom baqa, alam baka. Keadaan di ala mini berasal dari permanya rahsa yang menguasai semesta alam. Keberadaan ala mini berasal dari atma. Di alam ini Sang Diri didatangi para bidadari yang menyerupai ibu, nenek, dan para leluhur yang berasal dari pihak ibu. Mereka semua juga mengaku sebagai utusan-utusan Tuhan Yang Mahasuci. Mereka menyatakan diri sanggup mengantarkan Sang Diri kea lam karamattullah. Pada tahap ini pun diharapkan Sang Diri tidak mengimani mereka. Sang Diri harus terus melakukan pendakian. Meneruskan perjalanan.

  1. SUB BAGIAN ALAM ULUHIYAH (LAPISAN KE 3)
Masih berada di sub-bagian alam uluhiyah. Tentu alam yang lebih tinggi lagi. Jadi, ada 3 (tiga) lapis alam uluhiyah. Dan, ini adalah bagian tertinggi dari alam uluhiyah. Cahayanya, luar biasa terangnya! Sudah tidak lagi bisa melihat sesuatu karena terangnya. Bagaikan kita menatap langsung seribu matahari di siang hari. Meskipun terang benderang, tapi ketika kita menatap satu matahari saja, membuat kita tidak akan mampu melihat keadaan di sekitar kita. Yang ada hanyalah cahaya yang terang cemerlang tanpa bayangan.
Keadaan ini sebenarnya merupakan perwujudan dari Dzat Atma. Yang sebenarnya merupakan dzat yang bersifat esa. Alam tanpa arah dan tanpa ruang. Tanpa warna. Tanpa rupa. Suatu keadaan yang azali dan abadi. Dzat Atma inilah yang berkuasa dan yang menguasai seluruh alam. Meliputi seluruh alam. Dan, memancarkan segala maqomsempurna.
Dzat Atma hidup tanpa ada yang menghidupi. Sebagai hakikat dari Tuhan Yang Mahasuci. Mahaagung Dzat-Nya. Mahamulia sifat-Nya. Mahakuasa Asma-Nya. Mahasempurna tidakan Af’al-Nya. Ternyata Dzat itu berada pada Sang Diri Pribadi. Tak ada jarak lagi antara hamba dan Tuhan. Nah, disitulah wujud manunggaling kawula klawan Gusti.Menunggalnya hamba dan Tuhan. Wujud final dari “ilayhi raji’un”, kepada-Nya kita kembali! Nah, surga yang sejati itu sebenarnya manunggalnya Sang Diri dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...