Minggu, 22 Oktober 2017

Curug Malela


Cipageran, 14 Oktober 2017 Jam 07:30 perjalanan itu di mulai. Jarak Cipageran - Curug Malela menurut google maps sekitar 50 an kilo meter. Rute yang saya gunakan, Cimareme - Batujajar - Cililin - Sindang Kerta - Gunung Halu - Rongga.. Dari infrastruktur jalan sudah sangat bagus, jalan hotmix dan sebagian ruas di beton, walaupun agak sempit, maklum karena jalan Kabupaten, bukan jalan Propinsi. Secara de jure & de facto Curug Malela terletak di wilayah Kec. Rongga Kab. Bandung Barat. Dengan mengendarai kendaraan roda 2, sempit nya jalan bukan masalah. Kelak kelok jalan sepanjang perjalanan terasa semakin asyik, dengan mengendarai Nmax 155cc, body bongsor & panjang terasa lebih nyaman dan santai. 


Yang perlu di waspadai ada beberapa titik kemacetan, karena aktifitas pasar. Juga minimnya rumah makan.. Pemandangan sepanjang jalan sangat beragam, mulai dari air bendungan saguling, perbukitan, sungai, persawahan dan kebun teh. Sekitar jam 10:30 sampailah di lokasi gerbang Curug. Berupa tempat parkir baik motor maupun mobil. Juga ada beberapa warung. Lokasi curug sendiri, masih berjarak sekitar 2 km biasa di tempuh dengan jalan kaki. Walaupun ada jasa Ojek motor, tapi harus extra hati-hati karena medan yang curam dan jalan setapak. Dengan kondisi medan yang curam tersebut diperlukan kondisi fisik yang prima. Baik ketika turun maupun naik ketika kembali ke tempat parkir. Capek nya fisik karena medan yang berat, akan terbayar dengan indahnya pemandangan Curug yang airnya sangat deras. Sungai yang ber hulu di kaki gunung Patuha Ciwidey. Curug Malela ini, kelihatanya ke depan semakin prospek, beriring dengan pembenahan yang sedang dilakukan terutama terkait dengan sarana & prasarana. BRAVO BANDUNG BARAT. Ceu Lela

Situs Megalitik Gunung Padang



Situs Megalitik Gunung Padang Konon berjuta tahun yang lalu sudah ada manusia sebagai moyang bangsa Nusantara. Benar satu bukti yang ada yakni situs Megalitik Gunung Padang. Peninggalan budaya manusia kala itu. Penelitian carbon yang ada di situs ini, berumur jutaan tahun. Peradaban, yang terbentuk dari budaya maayarakat setempat tidak akan jauh dari umur peninggalan sejarah tersebut. Secara wilayah kini situs Gunung Padang terletak di Desa Karya Mukti, Kec. Cempaka Kab. Cianjur. 90 km dari kota Bandung, sebagai kota Propinsi Jawa Barat.
Rute jalan tercepat dari bandung ke situs Gunung Padang adalah, Cimahi - Padalarang - Ciranjang - Cianjur (tidak usah masuk Kota) lewat jalan Jebrod - Warung Kondang - Gunung Padang.

Topografi Cianjur barat laut memang berbukit-bukit, selain berupa pertanian masyarakat juga ada kawasan perkebunan teh. Situs Gunung Padang sendiri berada di Puncak Bukit. Tidak kebayang dahulu mebuat potongan-potongan batu menjadi persegi panjang & menyusunya menggunakan teknologi apa? untuk jalan kaki dari lembah bukit ke puncak bukit kemiringannya hampir 80 derajat.

Ala kulli hal, bahwa peninggalan sejarah tersebut menjadi bukti bahwa peradaban nenek moyang bangsa Indonesia dahulu sudah maju.
INDONESIA-INSOENDIA-INISOENDA

Jumat, 20 Oktober 2017

Menyoal Entitas Tersembunyi Sang Guru Sejati


Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Tulisan ini sebenarnya adalah sebentuk permenungan pribadi, namun demikian ada korelasinya dengan tulisan sebelumnya, Mengenal Imu Sejati [1] dan Mengenal Ilmu Sejati [2]. Tulisan ini sekaligus merupakan jawaban atas beberapa email yang masuk yang kurang lebihnya menanyakan, Siapa toh sebenarnya Guru Sejati itu?

Bicara tentang Guru Sejati, selain yang ada didalam diri kita sendiri, sebenarnya siapapun bisa menjadi Guru Sejati kita, tentu dengan catatan apabila ada kerendahan hati kita untuk belajar dan mendapatkan pengajaran. Jujur, mendapatkan pertanyaan dari email yang masuk tersebut membuat saya tersadarkan, siapakah guru sejati saya selama ini?

Di antara banyak guru _ siapa saja didalamnya _selama ini, yang sungguh-sungguh sejati adalah diri saya sendiri. Di antara sekian tulisan yang ada semuanya mengalir untuk menasehati dan mengajari diri sendiri. Tidak lebih dari itu, apalagi mengguri sampeyan yang membaca tulisan di akarasa ini. Adapun saya berbagi di akarasa ini, semua tak lebih dari sekedar pengingat semata.

Kadang didalam sunyi diriku dan 'diriku' saling berdialog. Karena sesungguhnya diri kita yang satu ini terdapat dua makhluk. Yakni makhluk yang berupa jasmani dan terlihat mata dan makhluk spiritual yang tak terlihat. Jadi didalam tubuh kita yang palsu ada didiami makhluk spiritual yang abadi, yang merupakan diri kita yang sejati, yang hakiki.

Dialah sumber ilmu kita yang tertinggi, dan itulah yang seharusnya kita cari dan gali untuk menuntun kehidupan kita. Agama adalah sarana atau jalan bagi kita untuk menemukan dan untuk mengenali diri kita. Karena setelah dengan sungguh-sungguh mengetahui dan mengenal diri kita sendiri, maka pada akhirnya adalah kita dapat mengenal Tuhan kita sebagai Sang Pencipta.

Mengapa selama ini, kita seakan melupakan atau menelantarkan diri kita yang sejati yang setiap hari tak berhenti mengajari? Mungkin karena tidak mengetahui atau tidak mau menyediakan waktu saat guru kita ini mau mengajari. Karena dalam hidup ini, kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan lebih terpesona dengan hal-hal yang berbentuk , yang sesungguhnya palsu.

Lebih tertarik kepada guru-guru spiritual yang punya kesaktian tinggi atau minimal sudah terkenal. Keinginan duniawi/jasmani lebih besar daripada keinginan spiritual /rohani. Kita lebih tertarik mendandani tubuh kita dengan rapi dan warna - warni daripada mendandani hati kita.

Kita lebih mendahulukan memberi wewangian kepada tubuh kita daripada memberikan wewangian pada hati kita. Karena apabila kita lebih membuat wangi hati kita, maka yang terpancar adalah perbuatan baik yang dapat memberikan manfaat, dan aromanya bisa menyebar kemana-mana.

Itulah sebabnya kita tertipu dan tidak maju-maju dalam dalam mengenal diri sendiri. Selanjutnya kita lebih mementingkan hidup dengan diri kita yang palsu. Susah payah mencari nafkah demi memberikan makan pada tubuh ini. Akan tetapi makanan bagi rohani terlupakan. Akhirnya kekurangan gizi dan kelaparan. Tapi kita sepertinya santai dan tenang-tenang saja. Seakan tak ada beban.

Saya merasakan sedikit keberuntungan, saat mulai mau mendengarkan dan merenungkan pengajaran dari Guru Sejati didalam diri ini. Yang selama ini, karena begitu lembut dan halus bisikannya seakan tak terdengar. Ditambah lagi akibat kebisingan kehidupan dunia yang penuh ketegangan. Terkadang suara itu datang dan hilang tanpa bisa didengarkan. Syukurlah alunan suara ini tak berhenti untuk hadir memberikan pengajaran dan selalu mau mengingatkan langkah-langkah hidup kita.

Apakah sudah selesai? Seandainya ketika kita mau untuk sedikit merendahkan hati, banyak sekali guru-guru sejati disekitar yang telah, sedang dan siap memberikan pengajaran kepada kita. Sekali lagi kalau kita ada memiliki kerendahan hati untuk menjadikan siapa saja sebagai guru. Orang gila sekalipun!

Bahkan kepada musuh kita sekalipun bisa menjadi Guru Sejati! ini tak boleh kita lupakan tentunya. Dua hal yang membuat kita gagal untuk menjadikan siapa saja sebagai guru dalam hidup kita adalah karena kepintaran sekaligus juga karena kebodohan kita sendiri. Kenapa? Kepintaran menyebabkan kita sudah merasa penuh, dan tak mau belajar lagi pada yang kita anggap bodoh. Kebodohan juga sama, menyebabkan kita enggan untuk belajar karena kita merasa tidak ada gunanya.

Itulah sebabnya kita suka menertawakan orang lain yang sesngguhnya bijak. Padahal ia sedang mengajari kita. Sungguh sayang memang, apabila kita selalu menutupi diri dari pengajaran orang lain, siapapun itu! Nuwun.



Bumi Para Nata, Kaliurang, Ngayogyokarto Hadiningrat, Poso Kaping Rolas
http://www.akarasa.com

Kamis, 19 Oktober 2017

Ringkasan Kitab Misykatul Anwar

RINGKASAN KITAB MISYKATUL ANWAR Oleh : Imam Ghazali

Allah itu cahaya yang sebenarnya, dan yang lain dari Dia, bukanlah cahaya. Setiap cahaya adalah Dia, dan cahaya keseluruhan adalah Dia juga. Cahaya itu adalah sesuatu yang men-dzahirkan atau yang menampakkan yang lain atau lebih tinggi lagi yaitu sesuatu yang dengannya dan untuknya yang lain di-dzahirkan bahkan lebih tinggi dari itu lagi yaitu sesuatu yang dengannya untuk dirinya dan dirinya yang lain ter-dzahirkan. Cahaya yang sebenarnya ialah sesuatu yang dengannya, untuknya, dan diri yang lain itu ter-dzahirkan atau ternampakan. Cahaya ialah yang bercahaya dengan sendirinya. Cahaya itu timbul dalam dirinya, dari dirinya dan untuk dirinya. Cahaya tidak datang dari sumber yang lain. Cahaya yang demikian itu tidak lain tidak bukan hanya Allah saja. Bahwa langit dan bumi ini dipenuhi oleh cahaya, ada dua peringkat cahaya, yaitu pandangan mata dan pandangan akal. Cahaya yang pertama itu ialah apa yang kita lihat di langit seperti matahari, bulan dan bintang, dan apa yang kita lihat di bumi, seperti cahaya yang menerangi seluruh muka bumi, yang menampakkan semua warna dan bentuk, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya, dan jika tiada cahaya ini maka tidaklah kita melihat warna, atau tidak ada warna. Tiap-tiap bentuk dan ukuran besar atau kecil yang terlihat oleh kita adalah diketahui oleh warna, dan tidak mungkin melihatnya tanpa warna. Berkenaan cahaya Akal, maka ‘Alam tinggi’ itu dipenuhi oleh cahaya itu, yaitu seperti kejadian Malaikat, dan ‘Alam rendah’ ini pun dipenuhi oleh cahaya itu yaitu seperti hidup (Nyawa) binatang dan hidup manusia. Susunan atau keadaan Alam rendah ini didzahirkan dengan cahaya Malaikat. Inilah susunan atau keadaan yang disebut oleh Allah; “Dialah yang membentuk kamu dari tanah, dan menampakkan kamu di permukaan bumi, dan Dia menjadikan kamu sebagai Khalifah” Bahwa seluruh alam ini dipenuhi oleh cahaya pandangan dzahir dan cahaya Akal Batin, dan juga cahaya-cahaya tingkat rendah ini dipancarkan atau dikeluarkan dari satu kepada yang lain. seperti cahaya yang keluar dan muncul dari sebuah lampu, sementara lampu itu sendiri ialah cahaya Cahaya Kenabian yang tinggi. Ruh-ruh Kenabian itu dinyalakan dari Ruh-ruh yang tinggi, seperti lampu dinyalakan api tadi, dan ruh-ruh yang tinggi ini dinyalakan dari satu kepada yang lain. Susunan ini adalah bertingkat-tingkat keatas. Semua ini naik, dan naik ke atas sampai ke cahaya diatas segala cahaya. Sumber dan puncak segala cahaya yaitu Allah. Semua cahaya-cahaya lain adalah pinjaman dari Allah dan Dialah cahaya sebenarnya. segalanya datang dari cahayaNya, bahkan Dialah segala-galanya. Dialah yang sebenarnya ada. Tiada cahaya kecuali Dia. Cahaya yang lain hanya cahaya wajah yang menyertaiNya, bukan timbul dari diri mereka sendiri. dengan demikian, wajah dan segala sesuatunya menghadap kepada Dia Firman Allah; “Kemana saja mereka memalingkan muka, di situ ada Wajah Allah”. Tiada Tuhan selain Dia, karena perkataan “TUHAN” itu menunjukkan sesuatu yang kepada Nya semua muka menghadap dalam ibadah dan dalam penyaksian Dialah Tuhan. Saya (Imam Ghazali) mengartikan muka atau wajah manusia adalah hati manusia, karena hati itulah cahaya dan Ruh. Bahkan sebagaimana; “TIADA YANG DISEMBAH MELAINKAN DIA”, maka begitulah juga ; “TIADA YANG MENYEMBAH SELAIN DIA”, karena perkataan “DIA” itu membawa maksud sesuatu yang boleh ditunjuk Tetapi dalam tiap-tiap peristiwa dan keadaan kita boleh menunjuk saja. Setiap kali menunjuk sesuatu, tunjukkan itu pada hakekatnya adalah kepada Dia, meskipun tidak sadar oleh karena ketidak tahuan tentang hakekat dari segala hakekat, Seseorang itu tidak mungkin menunjuk cahaya matahari, tetapi boleh menunjuk matahari. Maka begitu juga halnya dengan hubungan semua makhluk dengan Allah. Perumpamaan hubungan makhluk dengan Allah adalah seperti hubungan cahaya matahari dengan matahari. Oleh karena itu, ucapan “TIADA TUHAN SELAIN ALLAH” adalah ucapan Tauhid kebanyakan orang. Tetapi ucapan tauhid sedikit orang (yang mempunyai Makrifat) ialah “TIDAK ADA DIA MELAINKAN DIA”. Yang pertama untuk orang awam, dan yang kedua itu untuk “orang khusus”. Yang kedua itu lebih benar, lebih tepat dan lebih sesuai. sudah sewajarnya orang yang mengucap demikian itu memasuki Alam Keesaan (Uluhiyah) dan Ketunggalan yang Maha suci dan Mutlak, Kerajaan Yang Maha Esa dan Maha Tunggal, dan inilah peringkat atau kedudukan terkahir kenaikkan manusia. Tidak ada tingkatan yang lebih tinggi dari itu lagi. karena “NAIK” itu melibatkan banyak tingkatan seperti melibatkan dua tingkatan naik “DARI” dan naik “KE”. Apabila jumlahnya tingkatannya telah lenyap, maka berdirilah Keesaan. Perbandingan tidak ada lagi, semua isyarat atau pengucapan dari “SINI” ke “SANA” pun tidak ada lagi. Tidak ada lagi “TINGGI” atau “RENDAH”. Tidak ada “ATAS” atau “BAWAH”. Dalam tingkatan tersebut, naik ke atas lagi bagi Ruh, tidak mungkin, karena tidak ada lebih tinggi daripada yang Paling tinggi. Tidak ada tingkat-tingkat di samping Esa dan Tunggal. Di sini tingkatan telah habis. Tidak ada kenaikkan ‘Mikraj’ lagi untuk jiwa dan ruh. Jika ada pun, itu adalah “Pertukaran disini”. Maka pertukaran itu ialah “Turun ke langit yang paling rendah” cahayanya dari atas turun kebawah, karena yang paling tinggi itu, meskipun tidak ada lebih tinggi lagi dari tingkat itu, tetapi ada yang rendah. Inilah matlumat (tempat paling tinggi) dari segala matlumat. Tempat paling tinggi ialah matlumat terakhir yang dicari oleh ruh, yang diketahui oleh mereka yang tahu dan kenal saja, tetapi dinafikan oleh mereka yang tidak tahu. Ini termasuk dalam bidang Ilmu Tersembunyi yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali orang yang mempunyai Makrifat. Sekiranya mereka menceritakan ilmu ini, maka ia akan dinafikan oleh orang-orang yang ‘jahil’ tentang Allah. Tidak ada salahnya orang-orang yang mempunyai Makrifat ini menyebut; “Turun ke langit yang paling rendah” yaitu turunnya seorang malaikat, meskipun seorang daripada mereka itu telah tuduh membuat keterangan yag kurang wajar. Dia tenggelam dalam Keesaan Allah, dan berkata, bahwa Allah telah “Turun ke langit paling rendah” bahwa penurunan ini adalah penurunannya, diibaratkan kepada cara-cara keadaan Alam dzohir, maka digunakan perumpamaan tersebut. Dia (orang yang tenggelam dalam Keesaan Allah itu) itulah yang dimaksudkan oleh sabda Nabi Muhammad saw.; “Aku menjadi telinganya yang dengannya dia mendengar, matanya yang dengannya dia melihat, lidahnya yang dengannya dia bercakap”. Jika Nabi itu menjadi telinga, mata dan lidah Allah, maka Allah sajalah yang mendengar, melihat, bercakap. Dialah juga yang dimaksudkan dengan dengan firmanNya kepada Nabi Musa; “Aku sakit, tetapi engkau tidak mengunjungi Aku”. Menurut ini, pergerakan badan orang-orang yang betul-betul beriman dengan Kesaan Allah itu adalah dari langit yang paling rendah itu, dan Akalnya dari langit yang lebih tinggi dari langit yang kedua itu. Dari langit Akal itu dia naik ke atas ke tempat di mana makhluk tidak boleh naik lagi, yaitu Kerajaan Ketuhanan Yang Maha Esa, Tujuh lapis dan setelah itu “Dia duduk di atas singgahsana” tauhid dan disitu “Memerintah” seluruh lapisan-lapisan langit itu. Orang telah tamat pengembaraan sedemikian rupa, maka ayat ini boleh dipakai kepada dia; “Allah menjadikan Adam menurut bayanganNya” Apabila ayat ini direnungi dan difikirkan secara mendalam, maka diketahulah bahwa maksudnya adalah serupa dengan kata-kata; “Akulah Yang Haq (Tuhan)”. “Maha suci Aku” atau sabda Nabi saw. bahwa Allah berfirman; “Aku sakit, tetapi engkau tidak mengunjungi Aku” dan “Akulah telinganya, matanya dan lidahnya”. Baiknya sekarang kita hentikan pembahasan ini karena saya (Imam Ghazali) pikir saudara belum pernah mendengar lebih dari apa yang telah saya sampaikan ini.

Rabu, 23 Agustus 2017

Bandung - Semarang

18 Agustus 2017, wanci 14:30 perjalanan itu Saya lakukan. Bandung - Semarang dengan mengendarai motor Bajaj Pulsar 135. Jalur tengah Bandung - Sumedang - Majalengka - Palimanan.., diteruskan jalur pantura.., Palimanan - Cirebon - Pekalongan - Semarang.
Pemberhentian pertama di Cirebon, istirahat sekalian sholat maghrib & Isya. Jam 19:00 perjalanan Saya teruskan lagi menyusuri jalur pantura yang terkenal ramai kendaraan besar, terutama bus & container. Sekitar jam 22 Saya berhenti lagi di  Pemalang, untuk istirahat karena mulai kerasa panas di pantat. Ditemani secangkir kopi & indomi gelas yang Saya beli di toko swalayan pinggir jalan. Saya bisa relax sebentar, sebelum melanjutkan perjalanan. Lebih kurang 30 menit Saya rasa cukup untuk istirahat, & kembali Saya lanjutkan perjalanan. Dengan kecepatan yang standard Saya pacu motor terus menyusuri jalur pantura.
Lagi-lagi masalah panasnya pantat karena kerasnya jok sepeda motor, Saya memutuskan berhenti untuk  yang ke-3 kalinya. Pemberhentian ini di kota Kendal yang secara jarak sudah dekat dengan Kota Semarang.
Istirahat Kali ini selain ditemani secangkir kopi & sebatang rokok juga di isi sepiring mie goreng.
Setelah dirasa vit & fresh kembali perjalanan Saya teruskan, sampai Semarang dan pemberhentian Saya di masjid Pangeran Diponegoro, depan kampus UNDIP. Sambil menunggu waktu subuh, Saya manfaat kan until istirahat.
Usai shubuh, baru Saya teruskan ke tempat kontrak anak Saya di Desa Kramas Tembalang.
Rasa penat & capai segera hilang manakala telah sampai pada tempat yang di tuju.




Selama 2 Hari di Kota Semarang, Saya manfaat kan untuk keliling menikmati denyut Nadi kehidupan masyarakat nya.
Beberapa moment kegiatan yang kebetulan Ada yaitu : Balap motor atau road race, yang lokasi nya di Simpang Lima. Honda Dream Cup 2017 putaran 2. Lumayan seru, rider-rider muda menggeber motor yang berkapasitas 130 s/d 150cc. Ada sedikit ketidaknyamanan karena suara bising mesin yang keluar dari knalpot, sampai memekakkan telinga penonton.
Agenda ke-2, sore & malam harinya ada pertunjukan reog ponorogo & wayang kulit. Karena tidak mau melewatkan moment tersebut, Saya sudah standby ditempat acara dari jam 16:00. Kebetulan dekat dengan tempat kontrakan anak. Durasi reog sekitar Satu jam setengah. Jam 16 istirahat shalat maghrib. Jam 20 di mulai pertunjukan wayang kulit. Dengan Dalang ki Suryanto sabdocarito dari Solo. Tidak terasa karena saking rindunya dengan hiburan wayang kulit, jam 4 subuh masih duduk manis di belakang nayogo. Sampai akhirya pertunjukan selesai.
Sungguh moment yang akan menjadi kenangan untuk di ceritakan ke anak cucu.
Pulang ke Bandung Senin sore, dengan Naik kereta Ceremai, berangkat jam 17:35 dan sampe Stasiun Cimahi pukul 00:59. Beberapa Kota yang di singgahi kereta, Pekalongan, Tegal, Cirebon, Cikampek & Purwakarta.
Nice trips..., See you tomorrow...(gadis TIONGHOA di dekat Jendela)...

Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...