Rabu, 19 September 2018

Mengintip Tradisi Jawa di Malam Kesembilan Bulan Suro


MetroIslam.com – Ritual di bulan Suro bagi masyarakat Jawa terbilang cukup padat. Dari malam pertama bulan Suro hingga hari ke sepuluh termasuk setelahnya, merupakan hari-hari yang memiliki nilai kesakralan. Di hari yang diyakini sakral itulah, masyarakat Islam Jawa, termasuk di Yogyakarta menyikapinya dengan berbagai ritual, yang sudah menjadi tradisi turun temurun.
“Dari keseluruhan peribadatan pada bulan Muharram, yang paling populer adalah ritual pada hari Asyuro, atau hari kesepuluh bulan Muharram. Terkadang juga ditambah dengan satu atau dua hari sebelumnya (tarwiyah= 8, hari kedelapan dan tasu’a = 9 ), dan juga ditambah pula satu hari sesudahnya (tanggal 11),” kata penulis “Ajaran Ma’rifat Syekh Siti Jenar” KH. Muhammad Solikhin.
Tasu’a sendiri makna asalnya ‘sembilan’ yang dalam lidah Jawa biasanya disebut ‘tasungan’. Malam Tasungan berarti ritual malam kesembilan di bulan Suro. Biasanya orang-orang berkumpul di suatu tempat atau rumah untuk mendengarkan manaqib Baginda Hasan dan Husain, cucu Kanjeng Nabi SAW. Manaqib atau kisah perjalanan cucu Nabi yang dibacakan berasal dari teks melayu kuno Ali Hanafiah.
Namun sebelumnya, lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an dan doa dari kitab Al Barazanji terdengar mengawali ritual ini. Setelah manaqib dibacakan, hadirin mendengarkan ceramah dan diakhiri oleh pembagian potongan tumpeng dan bubur Suran (Suro) kepada semua yang hadir. 
Selama pembagian potongan tumpeng, tembang khas Jawa “Lir-ilir” dilantunkan bersama-sama tanpa diiringi alat musik apapun.


Bubur merah dan putih ini juga populer disebut “bubur Hasan dan Husain” merupakan bubur yang disedekahkan sebagai tanda kehormatan dan pemuliaan terhadap dua cucu Nabi Muhammad SAW, putra Ali bin Abi Tholib dan Fatimah,” kata Kiai Solikhin. 
Setiap orang juga diberikan bubur Suran yang berwarna putih dan merah dalam satu tempat (mangkuk). Setelah menjelaskan proses akulturasi bahasa, budayawan Ki Herman Sinung Janutama mengatakan bahwa bubur sebenarnya berasal dari kata “gugur” dan Suran atau Suro berasal dari kata “Asyuro”. Keduanya, jika digabung berarti gugur di hari Asyuro. 
Adapun warna putih dan merah melambangkan Hasan dan Husain sebagai simbol untuk mengenang cucu Kanjeng Nabi SAW.
Bubur Suro sangat dikenal di kalangan masyarakat muslim di Jawa. Cerita mengenai bubur suro ini, lanjut Kiai Solikhin, terdapat dua riwayat yang sesuai dengan dua macam bentuk bubur yang dihidangkan sebagai sedekah. Cerita pertama terkait dengan syahidnya Sayyidnia Husain di padang Karbala. Keluarga ahlulbait Nabi dibantai oleh keluarga Khalifah Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan, atas perintah Yazid bin Muawiyah.
“Untuk mengenang kesyahidan itu, maka dibuatlah sedekah dalam bentuk bubur merah dan putih sebagai simbol keberanian Husain membela kebenaran. Ada juga yang menafsirkan bubur merah dan putih sebagai simbol dari Hasan-Husain sebagai cucu kesayangan Rasulullah sehingga dalam kenduri yang berhubungan dengan kelahiran anak, umumnya kedua macam bubur ini disajikan,” katanya. 
Sayangnya, tambah Ki Herman, ritual malam tasungan ini sulit lagi ditemukan pada masa kini. Sebabnya beragam. Menurut pengkaji literatur dan hikayat Melayu, Mohammad Faisal, selain kependudukan kolonial, kedatangan Wahabi abad ke-19 juga memberikan dampak signifikan. Karena itu, menarik untuk diteliti lebih dalam lagi soal fakta-fakta budaya historis sebelum dan setelah adanya kolonialisme dan wahabisme di Yogyakarta.
Menurut sastrawan Prof. Dr. Abdul Hadi, tradisi Islam Jawa yang bercorak mistis tidak lepas dari sumbangsih Tasawuf dalam Islam itu sendiri. Peranan para ahli tasawuf atau sufi tidak disangkal lagi, karena sebagian besar penyebar-penyebar agama Islam pada abad ke-13 – ke-17 M adalah ahli-ahli tasawuf dan jejaknya dapat disaksikan dalam berbagai bukti seperti kitab-kitab keagamaan dan sastra, juga dalam adat istiadat.
“Para sufi itu berpengaruh besar dalam penentuan kalender Islam, penentuan bentuk-bentuk upacara keagamaan seperti maulid dan lain-lain,” katanya.
Penyair yang juga sufi besar dalam dunia Islam, Jalaluddin Rumi misalnya, menganggap kecintaan kepada Sayyidina Husain sebagai kelanjutan dari kecintaan kepada Nabi Muhammad saw, dengan cara yang sama sebuah telinga mencintai mutiara.
Dalam kitab keenamnya, Rumi menggambarkan Nabi Muhammad Saw sebagai wujud telinga dan Sayyidina Husain adalah mutiara, “Tidakkah engkau tahu bahwa hari Asyura adalah hari duka cita bagi satu jiwa yang lebih utama ketimbang seluruh abad?”
Masih dalam kitab yang sama, Rumi melanjutkan bait-baitnya, “Bagaimana bisa tragedi ini dianggap ringan oleh seorang Mukmin hakiki? Kecintaan kepada anting (Husain) sama dengan kecintaan kepada telinga (Nabi Muhammad saw). Dalam pandangan Mukmin sejati, duka cita kepada ruh murni lebih agung ketimbang ratusan banjir pada (zaman) Nuh.”

Kamis, 09 November 2017

Cinta Ahlul Bayt

Keharusan mencintai Ahlul Bait :

1. Syarat masuk surga Rasulullah Saw bersabda, "Pada Hari Kiamat manusia tidak akan melangkahkan kakinya hingga ditanya tentang empat hal; ..., tentang kecintaannya kepada kami Ahlul Bait." (Amali Syeikh Mufid, hal 353)

2. Upah Nabi menjalankan risalah Allah Swt berfirman, "... Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan..." (QS. 42: 23)

3. Cinta Ahlul Bait adalah cinta Rasulullah Rasulullah Saw bersabda, "Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang dianugerahkan kepada kalian. Cintailah aku karena cinta kalian kepada Allah dan cintailah Ahlul Baitku karena cinta kalian kepadaku." (Sunan Turmudzi, jilid 5, hal 664, hadis 3789)

4. Cinta Ahlul Bait dasar keimanan Rasulullah Saw bersabda, "Segala sesuatu ada dasarnya dan dasar keislaman adalah kecintaan kepadaku dan Ahlul Baitku." (Kanz al-Ummal, jilid 12, hal 105, hadis 34206)

Tanda cinta kepada Ahlul Bait :

1. Cinta dibarengi amal Imam Ali as berkata, "Barangsiapa yang mencintai kami Ahlul Bait, maka hendaknya ia beramal dengan perbuatan kami dan bertakwa kepada Allah." (Bihar al-Anwar, jilid 1, hal 92)

2. Cinta kepada pecinta Ahlul Bait Imam Ali as berkata, "Barangsiapa mencintai Allah, ia pasti mencintai Nabi dan barangsiapa yang mencintai Nabi, ia pasti mencintai kami Ahlul Bait dan barangsiapa yang mencintai kami Ahlul Bait, maka ia pasti mencintai Syiah kami." (Tafsir Furat Kufi, hal 128)

3. Menyembunyikan cinta di hadapan musuh Imam Ali as berkata, "Kalian jangan memuji kami di hadapan musuh. Jangan juga menyatakan cinta kepada kami di hadapan orang yang tidak layak. Karena mereka tidak dapat menahan diri di hadapan cinta kalian yang berujung pada penghinaan dan gangguan terhadap kalian." (al-Khishal, jilid 2, hal 628)

4. Siap menerima ujian Imam Ali as berkata, "Barangsiapa mencintai kami Ahlul Bait, maka hendaknya ia mempersiapkan kemiskinan sebagai pakaiannya." (Nahjul Balaghah, Shubhi Shaleh, hikmah 112)

5. Berlepas tangan dari musuh Ahlul Bait Di banyak hadis disebutkan, "Bohong, orang yang mengaku mencintai kami Ahlul Bait, tapi tidak berlepas tangan dari musuh-musuh kami." (Mustathrafat as-Sarair, hal 640)

Dampak dan berkah cinta Ahlul Bait
1. Dikumpulkan bersama Ahlul Bait di Hari Kiamat Imam Ali as berkata, "Barangsiapa yang mencintai kami, maka ia akan bersama kami di Hari Kiamat. Bila ada seseorang yang mencintai batu, maka Allah akan mengumpulkannya bersama batu itu." (Amali as-Shaduq, hal 209, majelis 37)

Menanamkan cinta kepada Ahlul Bait :

1. Kebaikan tertinggi Imam Ali as berkata, "Kebaikan tertinggi adalah mencintai kami Ahlul Bait dan keburukan tertinggi adalah membenci kami Ahlul Bait." (Ghurar al-Hikam, jilid 1, hal 211, hadis 3363)

2. Pendidikan anak Rasulullah Saw bersabda, "Didiklah anak kalian dengan tiga hal; cinta kepada Nabi, cinta kepada Ahlul Bait dan membaca al-Quran." (Kanz al-Ummal, jilid 16, hal 456, hadis 45409)

3. Ibadah Rasulullah Saw bersabda, "Mencintai Ahlul Bait Nabi dalam sehari lebih baik dari beribadah selama setahun dan barangsiapa yang meninggal karenanya, niscaya dimasukkan ke dalam surga." (Nur al-Abshar, hal 127).

Senin, 06 November 2017

Wisata Alam "Geopark Ciletuh"





Kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu juga meliputi Kawasan Cagar Alam Cibanteng, Tangkubanparahu, Sukawayana; Kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh; dan Taman Wisata Alam Sukawayana, dikelola Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Jawa Barat; kawasan latihan terpadu militer dikelola KOSTRAD; Kawasan konservasi Penyu di Pangumbahan; dan kawasan latihan angkatan udara di Tanjung Ujunggenteng; kawasan budidaya tambak udang di Mandrajaya dan Ujunggenteng serta kampung batik di Purwasedar (Rosana, dkk., 2015).
Geoarea Ciletuh memiliki bentang alam berupa dataran tinggi yang berbentuk tapal kuda (amphiteater) yang terbuka ke arah Teluk Ciletuh (Martodjojo, 1984). Bentuk amfiteater ini memiliki diameter lebih dari15 km, sehingga di yakini sebagai bentuk amfiteater alam terbesar di Indonesia. Di bagian tengah amfiteater terdapat sebaran batuan tertua di Jawa barat yang berupa batuan bancuh dan ofiolit hasil pengendapan dari aktivitas tumbukan antara kerak samudera dan kerak benua pada Zaman Kapur, lebih dari 65 juta tahun lalu.
Batuan melange dan ofiolit terdiri atas peridotit, gabro dan lava basal; batuan metamorfik berupa sekis hijau, serpentinit dan amfibolit; serta batuan sedimen berupa batupasir kuarsa-konglomeratik (Formasi Ciletuh). Batuan tersebut merupakan batuan tertua yang tersingkap kepermukaan di Jawa Barat yang terbentuk (terendapkan) di palung laut dalam. (sumber : http://ciletuhpalabuhanratugeopark.org)


Obyek wisata baru yang sedang naik daun, karena pemandangan alamnya yang memukau, kombinasi antara laut dan darat. Sehingga disebut Geopark (Taman Bumi). Jarak tempuh dari Kota Bandung sampai lokasi utamanya pantai Plampangan sekitar 200 km. Rute tersebut melalui jalur Kota, Cimahi - Cianjur - Sukabumi. Waktu tempuh dengan berkendaraan roda 2 (motor) sekitar 6 jam. Infrastruktur jalan sudah lumayan bagus, terutama masuk daerah Ciemas, jalan Hotmix dengan kondisi kelak kelok, hanya agak sempit. Untuk kendaraan roda 4 harus extra hati-hati.
Begitu masuk pantai Plampangan langsung disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Hamparan pantai yang landai karena berbentuk 2/3 bulatan. dengan ombak yang relatif kecil. Di kanan kiri pantai dan depan pantai pemandangan alam berupa perbukitan yang kelihatan hijau dan menyembul bebatuan kokoh dari rerimbunan tanaman khas tebing. Di bebrapa titik terlihat jelas air terjun membelah dinding tebing, kelihatan putih mempesona.

Suasana alam pedesaan sangat kental sekali, dengan bangunan rumah penduduk yang tidak terlalu mencolok, disekelilingnya ada hamparan sawah dan ladang. Dilihat dari atas tebing sungguh suasana yang tiada duanya di daerah lain.


Kamis, 02 November 2017

10 Prediksi Kehidupan Manusia pada 2025



Liputan6.com, New York - Perubahan adalah keniscayaan. Dan berlangsung cepat. Termasuk dalam bidang sains dan teknologi. Baru-baru ini Intellectual Property & Science business of Thomson Reuters merilis  'The World in 2025: 10 Predictions of Innovation' -- prediksi inovasi di tahun 2025. Berdasarkan telaah data paten global dan literatur ilmiah. 

Jadi seperti apa hidup manusia 11 tahun dari sekarang? 

Lisensi pilot akan menjadi simbol kedewasaan, tak hanya surat izin mengemudi (SIM) motor atau mobil. Juga teleportasi kuantum akan dimungkinkan, dan segala sesuatu dalam kehidupan sehari-hari -- dari rumah ke  surat kabar -- menjadi digital. 

Untuk melakukan studi tersebut, pada peneliti mengidentifikasi 10 bidang ilmiah yang berkembang berdasarkan analisis topik populer menggunakan Thomson Reuters Web of Science.

Mereka juga menelaah data paten global di Derwent World Patents Index untuk mengidentifikasi 10 bidang paten dengan jumlah penemuan tertinggi sejak tahun 2012. Juga 'hot spot' inovasi yang akan mengarah pada terobosan terbesar di masa depan. 

"Alih-alih menggunakan bola kristal (untuk meramal) kami memiliki sumber terbaik: kutipan literatur ilmiah dan konten paten," kata  Basil Moftah, pimpinan Thomson Reuters IP and Science dalam rilisnya, seperti Liputan6.com kutip dari Daily Mail, Selasa (1/7/2014). 

Analisis penelitian terkini dan aktivitas komersial menjadi dasar bagi prediksi perkembangan yang paling menarik yang akan muncul pada dekade berikutnya.

Moftah menambahkan, hal tersulit adalah memilih 10 prediksi final dari sekian banyak kutipan dan jurnal. "Menentukan sepuluh besar menjadi perdebatan utama," kata dia. 

"Ada banyak investasi yang terjadi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di seluruh dunia, dan seperti biasa, ada rentang yang luas dan bidang penelitian yang dilakukan di universitas-universitas dan lembaga.'

Salah satu prediksi yang dimuat dalam laporan menyebut, tenaga surya akan menjadi sumber energi terbesar di Bumi pada tahun 2025. 

Berdasarkan makalah-makalah ilmiah yang paling banyak dikutip dalam waktu 2 tahun, proses memanen dan mengubah energi matahari akan semakin maju. Pada akhirnya, menurut para ilmuwan, yang terjadi lebih dari sekedar sadar lingkungan: energi matahari akan digunakan oleh mayoritas penduduk dunia.

Tak hanya itu, pemetaan DNA juga akan menjadi yang paling menjanjikan. "Dalam waktu 10 tahun ke depan, pemetaan DNA melalui kelahiran akan menjadi hal biasa, kata Moftah. 

Para peneliti juga memprediksi uji teleportasi akan makin sering. "Berkat riset yang kemudian menjadi proyek Higgs Boson." 

Literatur ilmiah makin meriah terkait Higgs Boson, atau yang dikenal dengan 'partikel Tuhan'. Lebih dari 400 pada 2012. Hal itu, kata mereka, dianggap sebagai indikator kunci bahwa para ilmuwan akan mencoba teknik teleportasi kuantum yang lebih ambisius. Apa lagi yang lain? 
1. Tingkat demensia 

Angka demensia akan menurun. Demensia adalah penurunan fungsional yang disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak. Menurut laporan, pada 2015, 'Baby Boomers' -- bayi-bayi yang lahir selama ledakan jumlah kelahiran pasca-Perang Dunia II antara 1946 dan 1964 -- akan mencapai usia 80-an tahun ke atas. Akan ada lebih banyak dana penelitian ilmiah yang dikucurkan terkait penderitaan yang mungkin mereka hadapi.
2. Energi matahari

Metode memanen, menyimpan, dan mengubah energi matahari akan makin maju dan efisien. Tenaga surya akan menjadi sumber energi utama di planet kita.
3. Diabetes Tipe 1

Impian memodifikasi genom manusia akan menjadi kenyataan, menjadikan pencegahan penyakit diabetes, seperti diabetes tipe 1, menjadi mungkin. Diabetes melitus tipe 1 adalah diabetes yang terjadi karena berkurangnya rasio insulin dalam sirkulasi darah akibat hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. Dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa.
4. Kekurangan pangan berakhir

Berkat kemajuan dalam teknologi pencahayaan dan teknik pencitraan, ditambah dengan modifikasi genetik tanaman, kekurangan pangan dan fluktuasi harga pangan akan menjadi bagian dari masa lalu.
5. Pesawat Listrik

Teknik penerbangan berbobot ringan dan teknologi baterai baru akan memungkinkan alat transportasi bertenaga listrik makin banyak melaju di darat, juga udara. 

Pesawat mikro-komersial akan terbang di langit, melayani rute jarak pendek. Kapal terbang jenis baru tersebut bisa lepas landas dan mendarat di area yang lebih kecil, mendapatkan lisensi pilot bisa menjadi identitas kedewasaan seseorang di Abad ke-21.
6. Digitalisasi

Segala sesuatu akan dijitalisasi. Dari mobil hingga rumah, bisa merespon apa yang diinginkan pengguna. Sistem yang sama digunakan untuk mengubungkan wilayah geografis, juga setiap orang. 

"Bayangkan hari ketika seluruh benua Afrika benar-benar, terkoneksi secara digital," tulis para peneliti. "Hari itu akan terjadi pada 2025." 
7. Ramah lingkungan

Kemasan ramah lingkungan yang 100 persen biodegradable akan menjadi normal. Sementara kemasan berbasis minyak bumi tak akan ada lagi. 
8. Perawatan Kanker

Perawatan kanker akan lebih sedikit memiliki efek samping racun. Pengembangan obat akan jauh lebih tepat, mengikat protein tertentu dan menggunakan antibodi untuk memberikan mekanisme tindakan yang tepat.

Efek bahan kimia beracun yang melemahkan pada pasien akan berkurang secara signifikan.
9. Pemetaan DNA

Evolusi nanoteknologi, ditambah dengan teknologi 'Big Data' yang lebih luas -- yang menggabungkan data dari banyak orang yang berbeda, membuat pemetaan DNA (DNA mapping) saat kelahiran akan menjadi hal yang biasa, juga uji kesehatan setahun sekali. Hal-hal tersebut memungkinkan penyakit bisa teridentifikasi.

10. Teleportasi kuantum

Meskipun pada 2025 manusia belum akan bisa melakukan teleportasi antar-ruang, investasi yang signifikan dalam dan pengujian teleportasi kuantum akan berlangsung dengan menggunakan bentuk-bentuk materi 'eksotis', yang akan membuktikan konsep tersebut tak hanya mungkin tapi akan sangat berguna. (Yus).

Minggu, 22 Oktober 2017

Hakekat Cahaya

Hakekat Cahaya Al Qur'an HAKEKAT CAHAYA AL QUR'AN Allah telah menciptakan segala sesuatu selalu berpasang-pasangan. Karena segala ciptaan sudah ditetapkan selalu berpasang-pasangan, berarti Al Qur'an pun demikian, yakni ada Al Qur'an yang berwujud lahir : "Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur'an berbahasa Arab supaya kamu berfikir ". (Az zukhruf 43 : 3 ) "Sesungguhnya Kami telah memudahkan AI Qur'an itu dengan bahasamu agar dapat engkau memberi kabar gembira dengannya kepada orang-orang bertaqwa dan agar engkau memberi peringatan denganya kepada kaum yang membangkang ". (QS Maryam 19 : 97) Dan ada Al Qur'an yang berwujud batin (AI Qur'an yang hakiki). Al Qur'an yang hakiki jangan direlevansikan dengan lembaran kertas yang diatasnya di tulis dengan tinta hitam dalam bahasa Arab, yang berisi tentang berita dari Yang Maha Kuasa. Al Qur'an yang berupa lembaran kertas itu ditulis pada zaman khalifah Usman ratusan tahun setelah turunnya Al Qur'an yang hakiki. Al Qur'an hakiki yang dibawa Jibril (Jabr Ilahi) adalah berupa geteran-getaran yang Maha hebat. Jibril tidak mengantarkan kepada Nabi Muhammad lembaran Al Qur'an yang berupa kertas yang kita kenal sekarang, yang ditulis di batu-batu atau di pelepah-pelepah korma agar mudah diingat. "Qul nazzalahuu ruuhul kudusi mir rabbika bil haqqi" "Katakanlah : "Ruhul Kudus menurunkan Al-Qur'an dari Tuhan dengan benar". ( An-NahI 16 :102). Jibril (Jabr Ilahi) membawa Al-Qur'an itu dari sisi Rab-Nya. Tuhan berada pada dimensi yang maha halus berarti sangat mustahil Jibril (Jabar Ilahi) membawa Qur'an berupa kertas yang kasar. "Iqra" itulah ayat yang pertama kali sekali turun, dan bukan kertas dan juga bukan suara tetapi wahyu. Kata "Iqra" adalah kata-kata yang telah ditransfer ke dalam bahasa Arab agar orang Arab atau Bani Adam saat itu dapat mengerti. Tetapi "Iqra" yang sejati ditransfer dari wahyu tanpa huruf dan tanpa suara. Yang paling jelas apa itu AI-Qur'an yang hakiki adalah sesuai dengan firman Allah dalam AI Qur'an : "Wa innahu flu ummil kitaabi ladainaa la'alayyun hakiim" "Dan sesunggunya AI-Qur'an itu dalam induk Al-Kitab (lauh Mahfuz) di sisi Kami adalah benar-benar tinggi dan amat banyak mengandung hikmah" (QS Az Zukhruf 43 : 4) Jadi Al-Qur'an yang hakiki berada di sisi Tuhan yaitu di Lauhul Mahfuz, di alam yang sangat halus. Yang demikian itulah yang dibawa oleh Jibril (Jabr Ilahi), sehingga sewaktu Nabi menerimanya terasa amat berat sekali, seperti yang disabdakannya dalam hadits berikut : Dari Aisyah ibu kaum muslimin r.a, bahwasannya Harits bin Hisyam r.a bertanya kepada Rasulullah s.a.w, : "Wahai Rasulullah bagaimana datangnya wahyu kepada engkau ? "Rasulullah s.a.w, bersabda : "Kadang-kadang datangnya wahyu kepadaku seperti gemerincingnya lonceng, itulah yang paling berat atasku, kemudian wahyu itu terputus (selesai) dan saya telah hafal tentang apa yang dikatakannya; kadang-kadang malaikat itu menampakkan dirinya kepadaku maka saya hafal tentang apa yang dikatakannya ". Aisyah r.a berkata : "Saya melihat beliau ketika wahyu sedang turun pada suatu hari yang sangat dingin, kemudian wahyu itu terputus (selesai) sedang kening beliau mengalirkan keringat (HR. Bukhari). "Kadang-kadang wahyu itu seperti gemerincing lonceng, itulah yang paling berat atasku...." Inilah isyarat bahwa Al Qur'an itu bukan bahasa dan realita yang sebenarnya hanya Allah dan Rasulnya yang tahu. Kalau kita ambil sebuah perumpamaan bahwa apa yang dibawa oleh Jibril (Jabr Ilahi) saat itu berupa gelombang-gelombang elektronik dan setelah berada di bibir dan lidah Rasulullah Saw, berubah menjadi gelombang-gelombang suara. Bila kita bandingkan dengan suara petir bagaimanapun kerasnya tidak pernah mencucurkan keringat manusia yang mendengarnya, namun ketika Nabi Saw menerima wahyu, beliau sampai mencucurkan keringat padahal dalam cuaca yang cukup dingin. Beliau pada saat itu merasa betapa beratnya menerima wahyu yang berupa Nur atau getaran tinggi itu, sebab Al-Qur'an adalah Nur yang Maha hebat getarannya, melebihi getaran Nuklir, melebihi getaran sang iblis, lebih dari malaikat, dan lebih dari bencana apapun namanya di dunia ini. Al Qur'an adalah sesuatu yang hidup, sesuatu yang gaib di balik yang gaib. "Lau anzanaa haadzal qur-aana'alla jabalil la raaitahuu khaasyi'ammutashaddi'ammin khasyyatillaahi wa tikal amtsaalu nadhribuhaa lin naasi la'allahum yatafakkaruun" "Seandainya kami menurunkan AI-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk pecah belah disebabkan takut kepada Allah, dan perumpamaan¬perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS Al Hasyr 99 : 21) Inilah Al Qur'an yang mencucurkan keringat Nabi ketika menerimanya dari Ruhul Kudus. Inilah Al Qur'an dari Lauhul Mahfuz yang Maha dahsyat dari sisi Tuhan, Raja di langit dan di bumi. Al Qur'an itulah yang dapat menghancurkan gunung itu. Lalu bagaimana dengan Al-Qur'an yang ditulis dalam bahasa Arab yang kita baca sehari-hari ? Apakah ia bisa menghancurkan gunung ? Mari kita uji, bawa Al Qur'an yang berupa kertas itu, lalu letakkan di atas gunung mana yang hancur, gunung atau Al Qur'an yang berupa kertas itu ? Al Qur'an yang tertulis itu hanya menjadi petunjuk untuk mengenal Al Qur'an yang hakiki. Yang perlu kita gali sekarang ini adalah Al Qur'an dengan segala kehebatannya. Bagaimana cara untuk mendapatkannya ? Bertanyalah kepada ahli dzikir jika engkau tidak mengetahui karena merekalah teknokratnya. Itulah maksud Tuhan dengan firman-Nya : "Tsumma auratsnal kitaabal ladziinash thafainaa'ibaadinaa" "Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba¬hamba Kami (QS Faathir 35 : 32) Orang yang berhak menerima warisan Al Qur'an itu adalah mereka yang rohaninya sederajat dengan Nabi Saw, kalau tidak akan hancurlah orang itu, sebab Al-Qur'an itu maha hebat getarannya, melebihi dari getaran tenaga listrik, atom dan nuklir. Inilah Al Qur'an yang hakiki dari Rabbul Alamin. Mari kita perhatikan kalimat di atas, "....kepada orang yang kami pilih", sesuatu pengkhususan bukan umum. Jadi, yang bisa mewarisinya adalah orang-orang pilihan. Siapakah orang pilihan itu ? "Laa yamassuhuu illal muthahharuun" "AI-Qur'an (ini) tidak disentuh kecuali bagi orang-orang yang disucikan" (QS Al Waaqi'ah 56 79). Dalam riwayat yang sangat terkenal, Nabi Saw, sebelum mengadakan perjalanan Isra' dan Mi'raj beliau dioperasi terlebih dahulu oleh Jibril dalam rangka mengemban tugas menerima sholat untuk mendapatkan Al Qur'an. Dalam tempo bertahun-tahun beliau menyepi di Gua Hira untuk mencapai kesucian sebab beliau nantinya akan menerima Al Qur'an yang maha hebat. Kemudian mari kita renungi Nabi Saw adalah kekasih-Nya, baru bisa dan berhak menerima Al Qur'an yang hakiki tersebut terlebih dahulu harus disucikan. Lantas bagaimana dengan diri kita masing-masing apakah berhak menerima Qur'an itu sebelum disucikan ? Ingat di sini bukan kata "menyucikan" tetapi "disucikan" jelas berbeda maknanya. Al Qur'an yang harus kita warisi itu adalah yang dibawa Jibril (Jabr Ilahi) ke dalam hati Nabi Saw. "Nazala bihir ruuhul amiin" "Dia (AI-Qur'an) di bawa turun oleh ar ruh Al Amin". (QS. Asy syu'araa 26 : 193). Bagaimana Jibril (Jabr Ilahi) memberikan AI Qur'an itu ? Apakah dengan kata-kata yang di dengar ditelinga lalu dihafal oleh Nabi atau berupa lembaran-lembaran kertas dari surga atau berupa batu atau kayu yang ditulis, lalu Nabi membaca dan menghafalnya ? 'Alas qalbika "Ke dalam Qalbu-mu (hai Muhammad) ". (QS Asy Syu'araa' 26 : 194 ). Al Qur'an diturunkan ke dalam hati karena qalbu itu memiliki sifat-sifat khusus, karena alasan itulah Al Qur'an diturunkan ke dalam qalbu. Al-Qur'an merupakan misteri, sesuatu misteri dalam misteri, suatu misteri yang terdiri dari dan diliputi oleh misteri. Oleh karena itu perlu bagi Al-Qur'an untuk menjalani proses penurunan guna mencapai tingkat yang terendah dari manusia. Disinilah kunci kelemahan sebagian umat Muslim dewasa ini, mereka telah salah persepsi terhadap Al Qur'an, akhirnya mereka terpendam jauh ke lumpur kelupaan. Al Qur'an hanya dijadikan sebagai sebuah nyanyian (mengaji). Sebagaimana hadis qudsi berikut : "Saya tii'alaa ummatii zamaanun laa yabqaa diinuhum illaa ismuhuu walaa mina) qur aani illaa rasmuhuu "Akan datang pada waktuku, suatu masa di mana agama Islam tinggal namanya dan Al-Qur'an tinggal tulisannya". (HR. Ibnu Majah dan Ath Thirmidzi). Yang bisa berbahasa Arab, Al Qur'an itu dibaca maknanya, sejarahnya, kemudian dipermainkan diotaknya, lalu dikajinya sebagaimana proses pengkajian ilmu-ilmu filsafat. Tetapi Al Qur'an yang hakiki itu tetap tidak bisa dijangkau oleh akal. "Bawasannya AI-Qur'an ini satu ujungnya di tangan Allah dan satu lagi di tangan kamu hai Muhammad" (HR. Abu Syurairah Al Khuja'i). Yang satu ujungnya di tangan Nabi Saw, maksud hadits tersebut bukan lahirnya tetapi masih merupakan hakikat dan sangat tersembunyi di dalam diri Rasulullah Saw. "Al-Qur'an itu memiliki lahir dan batin, akhir dan awal" (Al Hadits). Al-Qur'an dan hadits itu suatu wujud ilmu Allah yang satu, yang tiada berkesudahan atau tanpa batas. Pikiran manusia adalah suatu penampilan jiwa yang sangat terbatas kepada empirik, tentang apa yang dilihat dan dirasakan, itu dihubung-hubungkan kemudian membuat satu hipotesa atau kesimpulan. Sangat perlu disadari bahwa apa yang ada di dalam pikiran itu merupakan pengandaian¬pengandaian. Ingatlah akan satu kesimpulan para filosof, bahwa ilmu filsafat tidak pernah terjadi titik temu antara satu dengan yang lainnya. Itulah sebabnya Imam Al Ghazali menuduh filsafat itu kacau balau. Demikian pula para ahli ilmu jiwa mulai dari Freud yang berbangsa Yahudi, mereka mengatakan menguasai tentang jiwa, padahal ilmu jiwa yang mereka kuasai adalah ilmu jiwa tanpa jiwa. Mereka hanya meraba-raba terhadap gejala-gejala jiwa dari empirik lewat perbuatan obyek yang diamati. Dalam kaitan dengan memahami Al Qur'an dan hadits hendaknya pola pikir atau gaya situasi para filosof dan psikiater itu ditanggalkan jauh jauh. Sebab Al-Qur'an itu adalah wahyu yang dimasukkan oleh Jibril ke dalam qalbu. la datang dari alam metafisik lalu hinggap di alam fisik. AI-Qur'an yang batin tidak bisa ditemukan Iewat pendidikan formal. la hanya bisa ditemukan Iewat wasilah-Nya dan lewat pengosongan diri dan dilanjutkan dengan melakukan metode liqo' Allah. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa Al Qur'an itu Nur yang dipancarkan oleh Jibril (Kekuatan Allah = Jabr Il) ke dalam hati Muhammad, lalu ia menjadi kekuatan yang tidak sebanding dengan bumi dan langit. Memperolehnya harus membersihkan diri. Adapun perenungan, olah pikir, atau olah rasa, semata-mata jalan untuk memperoleh karunia Allah, yang pada akhirnya kita akan mendapatkan Cahaya Al Qur'an atau Nurul Qur'an.

Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...