Rabu, 19 September 2018

Ngaji 12 Prinsip Hidup Islami Ala Kiai Semar Badranaya


IslamIndonesia.id—Ngaji 12 Prinsip Hidup Islami Ala Kiai Semar Badranaya 
Dalam sebuah kesempatan, Kiai Mbeling Emha Ainun Nadjib pernah menegaskan bahwa tokoh sentral dalam panakawan yakni Semar, bukanlah badut sebagaimana yang selama ini terlanjur dikenal banyak orang. Dan karena Semar bukan badut melainkan justru gagasan tentang Nabi Muhammad, maka dia bukanlah sosok yang layak dijadikan bahan tertawaan, melainkan sebaliknya mesti dijadikan panutan, terutama oleh manusia Muslim Jawa.
Jika kita telusuri, baik dari cerita tutur turun-temurun maupun transkrip kuno, manusia Jawa percaya bahwa Semar adalah kakek moyang pertama atau perwujudan dari manusis Jawa yang pertama. Dialah sosok yang mengemban “tugas khusus” dari Gusti Kang Murbeng Dumadi  atau Tuhan Yang Maha Esa, untuk terus hadir dengan keberadaannya pada setiap saat, kepada siapa saja dan kapan saja menurut apa yang dia kehendaki.
Konon salah satu di antara sekian makna nama Semar adalah haseming samar-samar. Disebut demikian karena Semar dianggap samar wujudnya; dia berwajah laki-laki, tapi perawakannya seperti perempuan dengan perut dan dada besar. Rambutnya putih dengan kerutan di wajah,  menandakan dia sudah lanjut usia, namun sebaliknya, rambutnya juga berbentuk kuncung seperti umumnya ciri khas anak-anak. Bibir Semar tampak tersenyum, tapi matanya menandakan tangis. Pakaiannya sarung kawung khas para abdi, tapi di setiap saat krusial para Ksatria Pandawa, justru dari lisannya ditunggu pitutur tingkat tinggi berupa solusi.
Selain samar wujudnya, kadang samar pula pitutur dan piwulang Kiai Semar. Konon hanya manusia berakal atau mereka yang mau berpikir menggunakan akalnya lah yang akan mampu memahami, baik secara tersirat maupun tersurat setiap tuntunan yang disampaikan, baik melalui ucapan maupun tindakannya.
Di satu sisi, para mistikus Jawa menyebut Semar sebagai lambang gelap gulita, lambang misteri, lambang ketidaktahuan mutlak, yakni ketidaktahuan kita mengenai Tuhan. Namun di sisi lain, tokoh yang di kalangan para dalang juga dikenal dengan nama Kiai Lurah Semar Badranaya atau Nur Naya ini, dipercaya sebagai pemilik cahaya tuntunan khas seorang penuntun dan pemimpin, yang berkelayakan menjalankan tugas menuntun manusia dengan cahaya ilmunya, ke jalan yang benar, sesuai kehendak Tuhan.
Di antara sekian banyak tuntunan yang diajarkan Kiai Semar, berikut ini 12 prinsip hidup yang setidaknya dapat kita kaji dan ambil manfaatnya bagi kehidupan kita sebagai manusia Jawa, sekaligus umat Islam di Indonesia.
Pertama: Eling lan bekti marang Gusti Kang Murbeng Dumadi.
Prinsip ini mengandung maksud bahwa manusia yang sadar akan dirinya hendaknya selalu mengingat dan memuja Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kesempatan bagi dirinya untuk hidup dan berkarya di alam yang indah ini.
Kedua: Percoyo lan bekti marang Utusane Gusti Kang Murbeng Dumadi.
Prinsip ini mengandung makna bahwa manusia sudah seharusnya menghormati dan mengikuti ajaran para Utusan Allah sesuai dengan ajarannya masing-masing, karena sudah pasti bahwa semua konsep para Utusan Allah tersebut adalah anjuran pada kebaikan.
Ketiga: Setyo marang Khalifatullah lan Penggede Negoro. 
Prinsip ini berarti bahwa setiap manusia yang tinggal di suatu wilayah, maka sudah selayaknya bahkan berkewajiban untuk menghormati dan mengikuti semua peraturan yang dikeluarkan oleh para pemimpinnya yang baik, benar dan bijaksana.
Keempat: Bekti marang Bhumi Nusantoro.
Prinsip ini menekankan agar setiap manusia yang tinggal dan hidup di bumi Nusantara ini wajib dan wajar unuk merawat dan memperlakukan bumi Nusantara ini dengan baik, sebab bumi inilah yang telah memberikan kemakmuran bagi penduduk yang mendiaminya.
Kelima: Bekti marang Wong Tuwo.
Prinsip ini mengingatkan setiap manusia bahwa dirinya tidak serta-merta ada di dunia ini, tetapi melalui perantaraan Ibu dan Bapaknya. Maka hendaknya hormatilah, muliakanlah keduanya yang telah memelihara dan membesarkan kita dengan kasih sayang dan pengorbanan tulusnya.
Keenam: Bekti marang Sedulur Tuwo.
Prinsip ini mengajak kita agar senantiasa sadar diri untuk menghormati saudara yang lebih tua dari sisi umur dan lebih mengerti daripada kita dari sisi ilmu, pengetahuan dan kemampuannya.
Ketujuh: Tresno marang kabeh Kawulo Mudo.
Prinsip ini mengajari kita agar selalu menyayangi mereka yang lebih muda, memberikan bimbingan dan menularkan pengalaman dan pengetahuan kita kepada mereka, dengan harapan yang muda ini akan dapat menjadi generasi pengganti yang tangguh dan bertanggung jawab.
Kedelapan: Tresno marang Sepepadaning Manungso.
Prinsip ini mengajarkan satu pemahaman substansial bahwa sejatinya semua manusia itu sama, meski berbeda warna kulit, bahasa, budaya dan agamanya. Maka sudah selayaknya kita hormati sesama manusia dengan kesadaran bahwa mereka semua memiliki harkat dan martabat yang sama sebagaimana halnya kita juga.
Kesembilan: Tresno marang Sepepadaning Urip.
Prinsip ini menuntun kita agar tak hanya menghormati sesama manusia, melainkan juga semua makhluk ciptaan-Nya. Sebab semua makhluk yang diciptakan Allah adalah makhluk yang keberadaannya maujud karena kehendak Allah yang Kuasa. Maka dengan menghormati semua ciptaan Allah, sama artinya kita telah menghargai dan menghormati Allah sebagai penciptanya.
Kesepuluh: Hormat marang Kabeh Agomo.
Prinsip ini menekankan sikap toleransi, dalam artian hendaknya kita hormati semua agama atau aliran kepercayaan yang ada, dan otomatis termasuk juga para penganutnya.
Kesebelas: Percoyo marang Hukum Alam.
Prinsip ini menggugah kesadaran kita bahwa selain menurunkan kehidupan, Allah juga telah menurunkan Hukum Alam sebagai hukum sebab-akibat. Maka disini berlaku kaidah alamiah bahwa barang siapa yang menanam maka dia pula yang akan menuai hasilnya. Siapa yang berbuat kebaikan, pasti akan berbuah kebaikan, sebaliknya bagi mereka yang berbuat jahat, sudah pasti akan tertimpa laknat. Inilah yang dalam kepercayaan manusia Jawa kadang disebut sebagai Hukum Karma.
Keduabelas: Percoyo marang Kepribaden Dhewe tan Owah Gingsir.
Prinsip ini menanamkan keinsyafan bahwa setiap manusia ini pada dasarnya rapuh dan hatinya berubah-ubah, maka hendaklah setiap diri kita menyadarinya agar dapat menempatkan diri di hadapan Allah dan selalu mendapat perlindungan dan rahmat-Nya dalam menjalani hidup dan kehidupan ini.
***
Itulah 12 prinsip hidup yang diajarkan oleh Kiai Semar Badra Naya kepada manusia Jawa yang hidup di bumi Nusantara. Keduabelas prinsip hidup dan ajaran adiluhung yang kesemuanya dapat dirangkum ke dalam tiga konsep hubungan universal, yakni hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan antara manusia dengan sesama manusia, dan hubungan antara manusia dengan seluruh alam semesta ciptaan-Nya.
Dengan lebih memahami 12 prinsip hidup sebagaimana telah diuraikan di atas, semoga kita semua, baik sebagai manusia Jawa, manusia Indonesia, maupun manusia beragama yang hidup di bumi Nusantara, pada akhirnya dapat saling menghormati satu sama lain, karena kita sadar bahwa begitulah hendaknya kita bersikap dalam hidup. Hidup secara baik dan benar, yang didasari penghormatan, kepatuhan dan ketaatan kita kepada Sang Pemberi Hidup.

EH/IslamIndonesia

Mengintip Tradisi Jawa di Malam Kesembilan Bulan Suro


MetroIslam.com – Ritual di bulan Suro bagi masyarakat Jawa terbilang cukup padat. Dari malam pertama bulan Suro hingga hari ke sepuluh termasuk setelahnya, merupakan hari-hari yang memiliki nilai kesakralan. Di hari yang diyakini sakral itulah, masyarakat Islam Jawa, termasuk di Yogyakarta menyikapinya dengan berbagai ritual, yang sudah menjadi tradisi turun temurun.
“Dari keseluruhan peribadatan pada bulan Muharram, yang paling populer adalah ritual pada hari Asyuro, atau hari kesepuluh bulan Muharram. Terkadang juga ditambah dengan satu atau dua hari sebelumnya (tarwiyah= 8, hari kedelapan dan tasu’a = 9 ), dan juga ditambah pula satu hari sesudahnya (tanggal 11),” kata penulis “Ajaran Ma’rifat Syekh Siti Jenar” KH. Muhammad Solikhin.
Tasu’a sendiri makna asalnya ‘sembilan’ yang dalam lidah Jawa biasanya disebut ‘tasungan’. Malam Tasungan berarti ritual malam kesembilan di bulan Suro. Biasanya orang-orang berkumpul di suatu tempat atau rumah untuk mendengarkan manaqib Baginda Hasan dan Husain, cucu Kanjeng Nabi SAW. Manaqib atau kisah perjalanan cucu Nabi yang dibacakan berasal dari teks melayu kuno Ali Hanafiah.
Namun sebelumnya, lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an dan doa dari kitab Al Barazanji terdengar mengawali ritual ini. Setelah manaqib dibacakan, hadirin mendengarkan ceramah dan diakhiri oleh pembagian potongan tumpeng dan bubur Suran (Suro) kepada semua yang hadir. 
Selama pembagian potongan tumpeng, tembang khas Jawa “Lir-ilir” dilantunkan bersama-sama tanpa diiringi alat musik apapun.


Bubur merah dan putih ini juga populer disebut “bubur Hasan dan Husain” merupakan bubur yang disedekahkan sebagai tanda kehormatan dan pemuliaan terhadap dua cucu Nabi Muhammad SAW, putra Ali bin Abi Tholib dan Fatimah,” kata Kiai Solikhin. 
Setiap orang juga diberikan bubur Suran yang berwarna putih dan merah dalam satu tempat (mangkuk). Setelah menjelaskan proses akulturasi bahasa, budayawan Ki Herman Sinung Janutama mengatakan bahwa bubur sebenarnya berasal dari kata “gugur” dan Suran atau Suro berasal dari kata “Asyuro”. Keduanya, jika digabung berarti gugur di hari Asyuro. 
Adapun warna putih dan merah melambangkan Hasan dan Husain sebagai simbol untuk mengenang cucu Kanjeng Nabi SAW.
Bubur Suro sangat dikenal di kalangan masyarakat muslim di Jawa. Cerita mengenai bubur suro ini, lanjut Kiai Solikhin, terdapat dua riwayat yang sesuai dengan dua macam bentuk bubur yang dihidangkan sebagai sedekah. Cerita pertama terkait dengan syahidnya Sayyidnia Husain di padang Karbala. Keluarga ahlulbait Nabi dibantai oleh keluarga Khalifah Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan, atas perintah Yazid bin Muawiyah.
“Untuk mengenang kesyahidan itu, maka dibuatlah sedekah dalam bentuk bubur merah dan putih sebagai simbol keberanian Husain membela kebenaran. Ada juga yang menafsirkan bubur merah dan putih sebagai simbol dari Hasan-Husain sebagai cucu kesayangan Rasulullah sehingga dalam kenduri yang berhubungan dengan kelahiran anak, umumnya kedua macam bubur ini disajikan,” katanya. 
Sayangnya, tambah Ki Herman, ritual malam tasungan ini sulit lagi ditemukan pada masa kini. Sebabnya beragam. Menurut pengkaji literatur dan hikayat Melayu, Mohammad Faisal, selain kependudukan kolonial, kedatangan Wahabi abad ke-19 juga memberikan dampak signifikan. Karena itu, menarik untuk diteliti lebih dalam lagi soal fakta-fakta budaya historis sebelum dan setelah adanya kolonialisme dan wahabisme di Yogyakarta.
Menurut sastrawan Prof. Dr. Abdul Hadi, tradisi Islam Jawa yang bercorak mistis tidak lepas dari sumbangsih Tasawuf dalam Islam itu sendiri. Peranan para ahli tasawuf atau sufi tidak disangkal lagi, karena sebagian besar penyebar-penyebar agama Islam pada abad ke-13 – ke-17 M adalah ahli-ahli tasawuf dan jejaknya dapat disaksikan dalam berbagai bukti seperti kitab-kitab keagamaan dan sastra, juga dalam adat istiadat.
“Para sufi itu berpengaruh besar dalam penentuan kalender Islam, penentuan bentuk-bentuk upacara keagamaan seperti maulid dan lain-lain,” katanya.
Penyair yang juga sufi besar dalam dunia Islam, Jalaluddin Rumi misalnya, menganggap kecintaan kepada Sayyidina Husain sebagai kelanjutan dari kecintaan kepada Nabi Muhammad saw, dengan cara yang sama sebuah telinga mencintai mutiara.
Dalam kitab keenamnya, Rumi menggambarkan Nabi Muhammad Saw sebagai wujud telinga dan Sayyidina Husain adalah mutiara, “Tidakkah engkau tahu bahwa hari Asyura adalah hari duka cita bagi satu jiwa yang lebih utama ketimbang seluruh abad?”
Masih dalam kitab yang sama, Rumi melanjutkan bait-baitnya, “Bagaimana bisa tragedi ini dianggap ringan oleh seorang Mukmin hakiki? Kecintaan kepada anting (Husain) sama dengan kecintaan kepada telinga (Nabi Muhammad saw). Dalam pandangan Mukmin sejati, duka cita kepada ruh murni lebih agung ketimbang ratusan banjir pada (zaman) Nuh.”

Kamis, 09 November 2017

Cinta Ahlul Bayt

Keharusan mencintai Ahlul Bait :

1. Syarat masuk surga Rasulullah Saw bersabda, "Pada Hari Kiamat manusia tidak akan melangkahkan kakinya hingga ditanya tentang empat hal; ..., tentang kecintaannya kepada kami Ahlul Bait." (Amali Syeikh Mufid, hal 353)

2. Upah Nabi menjalankan risalah Allah Swt berfirman, "... Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan..." (QS. 42: 23)

3. Cinta Ahlul Bait adalah cinta Rasulullah Rasulullah Saw bersabda, "Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang dianugerahkan kepada kalian. Cintailah aku karena cinta kalian kepada Allah dan cintailah Ahlul Baitku karena cinta kalian kepadaku." (Sunan Turmudzi, jilid 5, hal 664, hadis 3789)

4. Cinta Ahlul Bait dasar keimanan Rasulullah Saw bersabda, "Segala sesuatu ada dasarnya dan dasar keislaman adalah kecintaan kepadaku dan Ahlul Baitku." (Kanz al-Ummal, jilid 12, hal 105, hadis 34206)

Tanda cinta kepada Ahlul Bait :

1. Cinta dibarengi amal Imam Ali as berkata, "Barangsiapa yang mencintai kami Ahlul Bait, maka hendaknya ia beramal dengan perbuatan kami dan bertakwa kepada Allah." (Bihar al-Anwar, jilid 1, hal 92)

2. Cinta kepada pecinta Ahlul Bait Imam Ali as berkata, "Barangsiapa mencintai Allah, ia pasti mencintai Nabi dan barangsiapa yang mencintai Nabi, ia pasti mencintai kami Ahlul Bait dan barangsiapa yang mencintai kami Ahlul Bait, maka ia pasti mencintai Syiah kami." (Tafsir Furat Kufi, hal 128)

3. Menyembunyikan cinta di hadapan musuh Imam Ali as berkata, "Kalian jangan memuji kami di hadapan musuh. Jangan juga menyatakan cinta kepada kami di hadapan orang yang tidak layak. Karena mereka tidak dapat menahan diri di hadapan cinta kalian yang berujung pada penghinaan dan gangguan terhadap kalian." (al-Khishal, jilid 2, hal 628)

4. Siap menerima ujian Imam Ali as berkata, "Barangsiapa mencintai kami Ahlul Bait, maka hendaknya ia mempersiapkan kemiskinan sebagai pakaiannya." (Nahjul Balaghah, Shubhi Shaleh, hikmah 112)

5. Berlepas tangan dari musuh Ahlul Bait Di banyak hadis disebutkan, "Bohong, orang yang mengaku mencintai kami Ahlul Bait, tapi tidak berlepas tangan dari musuh-musuh kami." (Mustathrafat as-Sarair, hal 640)

Dampak dan berkah cinta Ahlul Bait
1. Dikumpulkan bersama Ahlul Bait di Hari Kiamat Imam Ali as berkata, "Barangsiapa yang mencintai kami, maka ia akan bersama kami di Hari Kiamat. Bila ada seseorang yang mencintai batu, maka Allah akan mengumpulkannya bersama batu itu." (Amali as-Shaduq, hal 209, majelis 37)

Menanamkan cinta kepada Ahlul Bait :

1. Kebaikan tertinggi Imam Ali as berkata, "Kebaikan tertinggi adalah mencintai kami Ahlul Bait dan keburukan tertinggi adalah membenci kami Ahlul Bait." (Ghurar al-Hikam, jilid 1, hal 211, hadis 3363)

2. Pendidikan anak Rasulullah Saw bersabda, "Didiklah anak kalian dengan tiga hal; cinta kepada Nabi, cinta kepada Ahlul Bait dan membaca al-Quran." (Kanz al-Ummal, jilid 16, hal 456, hadis 45409)

3. Ibadah Rasulullah Saw bersabda, "Mencintai Ahlul Bait Nabi dalam sehari lebih baik dari beribadah selama setahun dan barangsiapa yang meninggal karenanya, niscaya dimasukkan ke dalam surga." (Nur al-Abshar, hal 127).

Senin, 06 November 2017

Wisata Alam "Geopark Ciletuh"





Kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu juga meliputi Kawasan Cagar Alam Cibanteng, Tangkubanparahu, Sukawayana; Kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh; dan Taman Wisata Alam Sukawayana, dikelola Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Jawa Barat; kawasan latihan terpadu militer dikelola KOSTRAD; Kawasan konservasi Penyu di Pangumbahan; dan kawasan latihan angkatan udara di Tanjung Ujunggenteng; kawasan budidaya tambak udang di Mandrajaya dan Ujunggenteng serta kampung batik di Purwasedar (Rosana, dkk., 2015).
Geoarea Ciletuh memiliki bentang alam berupa dataran tinggi yang berbentuk tapal kuda (amphiteater) yang terbuka ke arah Teluk Ciletuh (Martodjojo, 1984). Bentuk amfiteater ini memiliki diameter lebih dari15 km, sehingga di yakini sebagai bentuk amfiteater alam terbesar di Indonesia. Di bagian tengah amfiteater terdapat sebaran batuan tertua di Jawa barat yang berupa batuan bancuh dan ofiolit hasil pengendapan dari aktivitas tumbukan antara kerak samudera dan kerak benua pada Zaman Kapur, lebih dari 65 juta tahun lalu.
Batuan melange dan ofiolit terdiri atas peridotit, gabro dan lava basal; batuan metamorfik berupa sekis hijau, serpentinit dan amfibolit; serta batuan sedimen berupa batupasir kuarsa-konglomeratik (Formasi Ciletuh). Batuan tersebut merupakan batuan tertua yang tersingkap kepermukaan di Jawa Barat yang terbentuk (terendapkan) di palung laut dalam. (sumber : http://ciletuhpalabuhanratugeopark.org)


Obyek wisata baru yang sedang naik daun, karena pemandangan alamnya yang memukau, kombinasi antara laut dan darat. Sehingga disebut Geopark (Taman Bumi). Jarak tempuh dari Kota Bandung sampai lokasi utamanya pantai Plampangan sekitar 200 km. Rute tersebut melalui jalur Kota, Cimahi - Cianjur - Sukabumi. Waktu tempuh dengan berkendaraan roda 2 (motor) sekitar 6 jam. Infrastruktur jalan sudah lumayan bagus, terutama masuk daerah Ciemas, jalan Hotmix dengan kondisi kelak kelok, hanya agak sempit. Untuk kendaraan roda 4 harus extra hati-hati.
Begitu masuk pantai Plampangan langsung disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Hamparan pantai yang landai karena berbentuk 2/3 bulatan. dengan ombak yang relatif kecil. Di kanan kiri pantai dan depan pantai pemandangan alam berupa perbukitan yang kelihatan hijau dan menyembul bebatuan kokoh dari rerimbunan tanaman khas tebing. Di bebrapa titik terlihat jelas air terjun membelah dinding tebing, kelihatan putih mempesona.

Suasana alam pedesaan sangat kental sekali, dengan bangunan rumah penduduk yang tidak terlalu mencolok, disekelilingnya ada hamparan sawah dan ladang. Dilihat dari atas tebing sungguh suasana yang tiada duanya di daerah lain.


Kamis, 02 November 2017

10 Prediksi Kehidupan Manusia pada 2025



Liputan6.com, New York - Perubahan adalah keniscayaan. Dan berlangsung cepat. Termasuk dalam bidang sains dan teknologi. Baru-baru ini Intellectual Property & Science business of Thomson Reuters merilis  'The World in 2025: 10 Predictions of Innovation' -- prediksi inovasi di tahun 2025. Berdasarkan telaah data paten global dan literatur ilmiah. 

Jadi seperti apa hidup manusia 11 tahun dari sekarang? 

Lisensi pilot akan menjadi simbol kedewasaan, tak hanya surat izin mengemudi (SIM) motor atau mobil. Juga teleportasi kuantum akan dimungkinkan, dan segala sesuatu dalam kehidupan sehari-hari -- dari rumah ke  surat kabar -- menjadi digital. 

Untuk melakukan studi tersebut, pada peneliti mengidentifikasi 10 bidang ilmiah yang berkembang berdasarkan analisis topik populer menggunakan Thomson Reuters Web of Science.

Mereka juga menelaah data paten global di Derwent World Patents Index untuk mengidentifikasi 10 bidang paten dengan jumlah penemuan tertinggi sejak tahun 2012. Juga 'hot spot' inovasi yang akan mengarah pada terobosan terbesar di masa depan. 

"Alih-alih menggunakan bola kristal (untuk meramal) kami memiliki sumber terbaik: kutipan literatur ilmiah dan konten paten," kata  Basil Moftah, pimpinan Thomson Reuters IP and Science dalam rilisnya, seperti Liputan6.com kutip dari Daily Mail, Selasa (1/7/2014). 

Analisis penelitian terkini dan aktivitas komersial menjadi dasar bagi prediksi perkembangan yang paling menarik yang akan muncul pada dekade berikutnya.

Moftah menambahkan, hal tersulit adalah memilih 10 prediksi final dari sekian banyak kutipan dan jurnal. "Menentukan sepuluh besar menjadi perdebatan utama," kata dia. 

"Ada banyak investasi yang terjadi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di seluruh dunia, dan seperti biasa, ada rentang yang luas dan bidang penelitian yang dilakukan di universitas-universitas dan lembaga.'

Salah satu prediksi yang dimuat dalam laporan menyebut, tenaga surya akan menjadi sumber energi terbesar di Bumi pada tahun 2025. 

Berdasarkan makalah-makalah ilmiah yang paling banyak dikutip dalam waktu 2 tahun, proses memanen dan mengubah energi matahari akan semakin maju. Pada akhirnya, menurut para ilmuwan, yang terjadi lebih dari sekedar sadar lingkungan: energi matahari akan digunakan oleh mayoritas penduduk dunia.

Tak hanya itu, pemetaan DNA juga akan menjadi yang paling menjanjikan. "Dalam waktu 10 tahun ke depan, pemetaan DNA melalui kelahiran akan menjadi hal biasa, kata Moftah. 

Para peneliti juga memprediksi uji teleportasi akan makin sering. "Berkat riset yang kemudian menjadi proyek Higgs Boson." 

Literatur ilmiah makin meriah terkait Higgs Boson, atau yang dikenal dengan 'partikel Tuhan'. Lebih dari 400 pada 2012. Hal itu, kata mereka, dianggap sebagai indikator kunci bahwa para ilmuwan akan mencoba teknik teleportasi kuantum yang lebih ambisius. Apa lagi yang lain? 
1. Tingkat demensia 

Angka demensia akan menurun. Demensia adalah penurunan fungsional yang disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak. Menurut laporan, pada 2015, 'Baby Boomers' -- bayi-bayi yang lahir selama ledakan jumlah kelahiran pasca-Perang Dunia II antara 1946 dan 1964 -- akan mencapai usia 80-an tahun ke atas. Akan ada lebih banyak dana penelitian ilmiah yang dikucurkan terkait penderitaan yang mungkin mereka hadapi.
2. Energi matahari

Metode memanen, menyimpan, dan mengubah energi matahari akan makin maju dan efisien. Tenaga surya akan menjadi sumber energi utama di planet kita.
3. Diabetes Tipe 1

Impian memodifikasi genom manusia akan menjadi kenyataan, menjadikan pencegahan penyakit diabetes, seperti diabetes tipe 1, menjadi mungkin. Diabetes melitus tipe 1 adalah diabetes yang terjadi karena berkurangnya rasio insulin dalam sirkulasi darah akibat hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. Dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa.
4. Kekurangan pangan berakhir

Berkat kemajuan dalam teknologi pencahayaan dan teknik pencitraan, ditambah dengan modifikasi genetik tanaman, kekurangan pangan dan fluktuasi harga pangan akan menjadi bagian dari masa lalu.
5. Pesawat Listrik

Teknik penerbangan berbobot ringan dan teknologi baterai baru akan memungkinkan alat transportasi bertenaga listrik makin banyak melaju di darat, juga udara. 

Pesawat mikro-komersial akan terbang di langit, melayani rute jarak pendek. Kapal terbang jenis baru tersebut bisa lepas landas dan mendarat di area yang lebih kecil, mendapatkan lisensi pilot bisa menjadi identitas kedewasaan seseorang di Abad ke-21.
6. Digitalisasi

Segala sesuatu akan dijitalisasi. Dari mobil hingga rumah, bisa merespon apa yang diinginkan pengguna. Sistem yang sama digunakan untuk mengubungkan wilayah geografis, juga setiap orang. 

"Bayangkan hari ketika seluruh benua Afrika benar-benar, terkoneksi secara digital," tulis para peneliti. "Hari itu akan terjadi pada 2025." 
7. Ramah lingkungan

Kemasan ramah lingkungan yang 100 persen biodegradable akan menjadi normal. Sementara kemasan berbasis minyak bumi tak akan ada lagi. 
8. Perawatan Kanker

Perawatan kanker akan lebih sedikit memiliki efek samping racun. Pengembangan obat akan jauh lebih tepat, mengikat protein tertentu dan menggunakan antibodi untuk memberikan mekanisme tindakan yang tepat.

Efek bahan kimia beracun yang melemahkan pada pasien akan berkurang secara signifikan.
9. Pemetaan DNA

Evolusi nanoteknologi, ditambah dengan teknologi 'Big Data' yang lebih luas -- yang menggabungkan data dari banyak orang yang berbeda, membuat pemetaan DNA (DNA mapping) saat kelahiran akan menjadi hal yang biasa, juga uji kesehatan setahun sekali. Hal-hal tersebut memungkinkan penyakit bisa teridentifikasi.

10. Teleportasi kuantum

Meskipun pada 2025 manusia belum akan bisa melakukan teleportasi antar-ruang, investasi yang signifikan dalam dan pengujian teleportasi kuantum akan berlangsung dengan menggunakan bentuk-bentuk materi 'eksotis', yang akan membuktikan konsep tersebut tak hanya mungkin tapi akan sangat berguna. (Yus).

Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...