Kamis, 12 November 2009

Makna Belajar Bagi Orang Dewasa

Kategori Individual
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 4/2/2003

"ntuk apa sekolah tinggi, toh akhirnya sama saja, bingung ke mana mencari pekerjaan yang cocok. Ijazah akademik tidak memberi jaminan identitas yang segagah gelarnya. Bahkan sudah tidak lagi bisa dihitung dengan jari jumlah kawan sesama sopir taksi yang bergelar sarjana. Bukankah hidup itu yang paling pokok adalah memiliki sumber penghasilan yang cukup untuk menutup pengeluaran dan sisanya ditabung buat warisan, benarkan Pak?" Begitulah perkataan yang pernah diucapkan oleh seorang sopir taksi dalam suatu pembicaraan santai. Logika dan pertanyaan pembenar sopir taksi itu bisa dijawab benar dan tidak benar.


Kenyataan membuktikan semakin banyak jumlah kaum akademik yang tidak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan disiplin ilmu atau gelarnya. Artinya ia menjalani pekerjaan yang semestinya tidak harus dilakukan setelah ia menyandang gelar akademik kebanggaannya. Ambillah contoh jika seorang sarjana pendidikan harus menjadi pedagang es keliling atau seorang sarjana hukum 'mencari' makan dengan menjadi pedagang beras kaki lima. Atau sarjana ekonomi menjadi seorang sopir taksi.

Tidak terdapat bentuk pelanggaran undang-undang apapun jika SPd menjadi penjual es keliling, jika SH menjadi penjual beras kaki lima, atau SE menjadi sopir taksi. Mengapa? Banyak alasan yang mendukungnya, antara lain:
1. mencari pekerjaan sama sulitnya dengan menahan godaan untuk mendapatkan tiket surga.
2. hukumnya halal secara juridis
3. kebutuhan harian sesaat (short term survival) yang tidak bisa ditunda
4. pandangan lingkungan yang miring jika sarjana nongkrong di rumah
5. dan masih banyak lagi alasan lainnya.
Menjalani pekerjaan yang tidak sesuai dengan disiplin akademik memang sudah menjadi bentuk pemakluman bersama. Persoalan akan muncul ketika pekerjaan tersebut hanya bisa memenuhi sebagian kecil dari motivasi bekerja, misalnya uang saja atau hanya bebas dari asumsi lingkungan yang tidak-tidak. Di sisi lain, menjadi pengalaman kesyukuran hidup ketika ketidakcocokan tersebut membawa anda ke dalam keadaan yang sesungguhnya menjadi kemujuran tak disengaja. Sudah menerima gaji tinggi, simbol status sosial membanggakan, kemudian seluruh potensi mendapat tempat pemberdayaan secara optimal, meskipun pekerjaan itu tidak sesuai dengan latar belakang akademik anda.

Permasalahan timbul ketika individu yang melakoni pekerjaan yang tidak sesuai latar belakang akademiknya dengan motif keterpaksaan semata dalam upaya menghindar tekanan eksternal. Keterpaksaan inilah letak kesalahan yang sebenarnya, bukan bidang atau job title tertentu. Mengapa? Ketika motivasinya hanya terpaksa maka hidup tidak lagi berupa pilihan-pilihan untuk belajar berkembang melainkan kepastian dan kepasrahan. Padahal kepastian dan kepasrahan itu tidak memberinya banyak arti baik material dan non-material. Akan sangat berbeda jika pilihan diarahkan untuk belajar, berubah, dan berkembang.

Definisi Belajar

Salah satu iklan produk terkenal yang anda lihat kira-kira berbunyi, "Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan". Anda pasti sudah memahami maksud tersiratnya. Tanpa harus anda ciptakan, masa tua akan tiba, tetapi untuk menjadi dewasa anda harus menciptakannya. Bagimana anda menciptakannya? Tidak lain hanyalah belajar dengan basis kehidupan menjadi dewasa. Artinya kehidupan ini harus dijadikan materi untuk belajar dari titik keterbatasan tertentu menuju titik kemampuan berikutnya.

Belajar bagi orang dewasa adalah mencari untuk menemukan sesuatu tentang hidup tidak sebagaimana anak-anak yang hanya menerima dan terkadang masih jauh dari isu-isu kehidupan riilnya. Sejumlah definisi atau konsep yang dikemukakan para ahli tentang definisi belajar bagi orang dewasa bisa anda jadikan rujukan, antara lain:

1. Reg Revans (Penggagas Action Learning)

Belajar bagi orang dewasa, menurut Reg Revans (1998) adalah proses menanyakan sesuatu bermula dari pengalaman ketidaktahuan tentang apa yang akan dilakukan karena jawaban yang ditemukan saat itu tidak lagi valid untuk mengatasi situasi yang sedang terjadi. Dengan kata lain, "Learning is experiencing by exploration and discovery".

2. Bob Sadino

Dalam banyak wawancara yang dikutip oleh sejumlah media cetak, Bob Sadino, seorang pakar di bidang agrobisnis, seringkali melontarkan kata-kata pendek tetapi membutuhkan penjelasan yang tidak cukup dibeberkan dalam satu sessi seminar. Kata-kata itu tidak lain adalah: Cukup lakukan saja! Pernyataan tersebut mengandung makna yang dalam dimana belajar merupakan bentuk transformasi visi ke suatu tindakan lalu berakhir dengan achievement.

3. Charles Handy

Dalam bukunya Inside Organization (1999), Charles Handy mengemukakan bahwa siklus belajar orang dewasa diawali dengan mempertanyakan sesuatu dengan kuriositas tinggi; menemukan jawaban-jawaban teoritis; melakukan testing di lapangan; dan terakhir refleksi - sebuah pemahaman mengenai sesuatu yang bekerja dan yang mandul di dalam diri. Thomas Edison, seorang penemu, adalah contoh paling reliable sepanjang zaman. Dikisahkan bahwa secara pendidikan formal akademik, Edison tergolong siswa yang tidak hebat tetapi ia lebih banyak menggunakan waktunya untuk mengunjungi perpustakaan publik karena Edison menemukan sesuatu yang lebih bekerja terhadap hidupnya yang ia tidak dapatkan di bangku sekolah.

Dengan proses belajar di perpustakaan tersebut Edison menemukan pelajaran tentang relaksasi mental. Meski tidak seorang guru pun yang memahamkannya, tetapi naluri Edison tahu bahwa relaksasi mental lah yang membantunya menciptakan temuan-temuan yang tercatat lebih dari 1000 hak paten hingga ia wafat tahun 1931.

4. Alvin Toffler

Penulis buku terkenal ini mendifinisikan belajar sebagai proses mempersiapkan cara atau strategi menghadapi situasi baru. Perangkatnya meliputi pemahaman, aplikasi dari metodologi baru, keahlian, sikap dan nilai.

Dari definis-definisi diatas dapatlah diambil kesimpulan bahwa belajar bagi orang dewasa ternyata memiliki berbagai dimensi. Oleh karena itu menjadikan pendidikan (education) sebagai representasi tunggal dari proses belajar tidak jarang meninggalkan warisan mindset yang kurang menguntungkan terutama bagi pihak atau individu yang berkemampuan rata-rata atau minus. Lembaga sekolah, selain menciptakan birokrasi formal yang memberikan stigma bahwa sekolah adalah escalator tunggal yang mahal harganya, juga menunjukkan ketertinggalannya dengan kemajuan yang dicapai oleh dunia luar. Akibatnya timbul gap antara pendidikan dengan tuntutan atau kebutuhan yang ada di masyarakat. Hal inilah yang akhirnya menjadi dasar mengapa pengangguran tidak bisa dihindari lagi. Pendidikan belum sepenuhnya menjadi media yang mampu menterjemahkan makna belajar. Hal ini karena makna belajar yang sesungguhnya adalah melakukan sesuatu, kemudian membebaskan diri dari situasi atau tekanan yang diakibatkan ketidaktahuan. Cara terbaik untuk mempelajari sesuatu adalah dengan melakukannya, seperti yang ditulis oleh Rex dan Carolyin Sikes: "We learn about a city from being there, not from a map or guide book. We learned to walk and talk without reading instructions or following recipes. Learning is doing something, then getting rid of the unwanted parasitic movements".

Aplikasi Belajar

Merujuk pada sekian pandangan tentang belajar bagi orang dewasa, maka yang perlu anda lakukan adalah menjadikannya sebagai konsep hidup personal yang implementatif berdasarkan situasi dan kondisi yang anda hadapi. Konsep tersebut harus diformulasikan ke dalam pemahaman khusus yang anda rasakan bekerja mengubah hidup dan situasi, seperti yang dialami Edison. Guru anda adalah situasi konkrit yang anda alami dengan materinya berupa tantangan. Inilah makna esensial dari petuah yang sering anda dengar bahwa mencari ilmu itu hukumnya wajib. Ilmu yang tidak memiliki relevansi dengan situasi hidup anda oleh karena itu menjadi tidak wajib. Bagaimana anda mendapatkannya? Ikutilah formulasi berikut:

1. Sadari keadaan anda saat ini

Terimalah keadaan atau situasi hidup apapun saat ini dengan penuh kesadaran karena kesadaran itu akan menjadi syarat mutlak untuk menaklukkan segala tantangan yang menghadang. Jika anda menerimanya dengan kepasrahan atau penolakan maka selamanya keadaan atau situasi yang tidak menyenangkan tidak bakal meninggalkan anda. Bahkan lambat laun menciptakan lilitan yang lebih tinggi dari kapasitas anda. Tanpa kesadaran untuk berubah, maka perubahan situasi atau kondisi eksternal hanya memberi anda perubahan dalam waktu singkat dan sisanya anda kembali lagi ke format lama. Bahkan ketika anda naik jabatan mendadak, jabatan tersebut hanya anda rasakan kenikmatannya sebentar lalu anda lupa rasanya.

2. Pahami proses

Salah satu pertanda inti dari orang dewasa adalah pemahamannya terhadap bagaimana dunia konkritnya bekerja. Dengan memahami bagaimana sesuatu bekerja menurut hukum alamnya, maka akan membuat anda menjadi bijak menjalani hidup. Tidak lagi berpikir dengan mood atau menerjang kaidah-kaidah hidup yang benar. Di samping itu, pemahaman tersebut akan menyalurkan energi positif ketika proses sedang anda jalani. Di sinilah yang membedakan apakah anda merasakan tantangan sebagai proses untuk dinikmati atau proses yang anda rasakan dengan kepedihan.

3. Kemana anda akan melangkah

Setiap pekerjaan yang anda lakukan, setiap bidang yang anda geluti, setiap profesi yang anda sandang sebenarnya sudah diciptakan tangga kastanya di dalam. Termasuk seperti yang di alami kawan sopir taksi di atas. Ia boleh menjadi sopir , pedagang beras kaki lima, penjual es keliling selamanya meskipun tetap terbuka lebar peluang untuk menjadi manajer atau direktur bahkan pemegang saham di suatu perusahaan. Tangga kasta itulah yang menjadi simbol status anda. Dengan aplikasi prinsip belajar, maka hidup adalah realisasi gagasan, bukan lagi intimidasi orang atau keadaan. Tetaplah berjuang untuk hidup dengan imajinasi anda bukan hidup di dalam sejarah masa lalu atau jebakan realitas sementara.

Dengan memahami makna belajar diharapkan anda dapat menjalani hidup anda dengan penuh sukacita dan tidak didasarkan atas unsur keterpaksaan dan kepasrahan. Terlepas apapun profesi yang anda geluti, baik yang sesuai dengan latar belakang akademik maupun tidak, kesuksesan anda akan sangat tergantung pada bagaimana anda memahami hal tersebut sebagai suatu proses belajar. Semoga berguna.


Bekerja, Apa Yang Kita Cari ?

Kategori Organisasi Industri
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 7/13/2004
________________________________________

Studi ilmiah pernah melaporkan sebuah temuan bahwa karyawan yang punya motivasi kerja hanya untuk mendapatkan gaji, ternyata memiliki perbedaan tingkat motivasi kerja dan kreativitas dibanding dengan karyawan yang punya motivasi kerja untuk meraih prestasi. Karyawan kelompok kedua ini lebih kreatif dan lebih besar kemauannya untuk maju dibanding karyawan kelompok pertama (Unlocking The Creativity Within: Executive Update: May 2000).
Mungkin ada pertanyaan, bisakah kita ngantor tanpa niat untuk mendapatkan gaji? Kalau ini kita jawab BISA, tentu saja ini diprotes banyak orang: mengada-ngada, tidak rasional, tidak alamiah dan sudah pasti bertentangan dengan kenyataan hidup. Lalu apakah yang membedakan kedua kelompok karyawan itu? Sekali lagi, ini bukan mempersoalkan apakah gaji itu penting atau tidak penting, karena jawabannya sudah pasti penting buat semua orang. Hal yang membedakan adalah apakah yang menjadi sasaran kita di kantor? Apakah sasaran kita hanya uang atau selain uang?


Hanya Uang ATAU Selain Uang

Sedikitnya ada dua sikap yang biasa kita gunakan dalam menyikapi pekerjaan kita. Pertama, sikap menjadikan uang sebagai sasaran tunggal (Hanya Uang) dan kedua, sikap menempatkan uang sebagai salah satu dari sasaran aktivitas (Selain Uang).
Hal yang harus kita sadari bersama bahwa perbedaan pilihan, akan membawa dampak mental yang berbeda. Dan, menurut cara kerja Hukum Kreasi (the law of creation) yang bekerja di alam raya ini, karena punya dampak mental yang berbeda maka berbeda pula dampaknya di tingkat nyata di kemudian hari seperti yang ditemukan hasil studi ilmiah di atas.
Ketika yang kita pilih hanya uang maka secara alamiah akan hanya uang pula yang akan kita dapatkan, tetapi ketika kita memilih "selain" uang, maka tidak hanya uang pula yang akan kita dapatkan. Sampai di tingkat kalkulasi ini mungkin masih terlalu jauh hubungannya dengan persoalan motivasi dan kreativitas. Mengapa demikian? Secara umum lebih enak mendapatkan uang ketimbang mendapatkan imbalan kerja lain selain uang. Gampangnya, kalau uang yang kita miliki, orang se-kreatif apapun bisa kita ‘beli’. Lalu di mana letak persoalan yang bisa menjelaskan hubungan yang relevan?
Alam Pikiran & Uang
Jika uang dikatakan sebagai sasaran, berarti posisi uang adalah Akibat dari sebuah Sebab. Uang dengan kata lain adalah hasil pencapaian usaha tertentu yang kita niatkan untuk mendapatkan uang. Kalau posisinya menduduki kursi Akibat, berarti uang tidak punya kekuasan sebagai faktor penentu. Usahalah yang menjadi penentunya.
Jika usaha yang menjadi penentu maka semua usaha itu punya konsekuensi yang tidak bisa kita pilih, yaitu antara meleset dan tepat sasaran. Berdasarkan tabiat hukum alam, meskipun semua usaha itu sudah dijamin pasti mendapatkan balasan tetapi balasan itu variatif: ada yang langsung, diundur, diberikan sebagian, dan diberikan keseluruhan. Balasan yang variatif inilah yang memiliki hubungan korelatif dengan pola penyikapan yang kita pilih.
Ketika kita memilih Hanya Uang sementara balasan dari usaha kita oleh hukum alam atas rahasia tertentu diundur atau diberikan sebagiannya, maka kenyataan inilah yang membuat kita merasa tidak mendapatkan apa-apa. Hal ini akan berbeda di tingkat beban mental dengan ketika kita memilih pola penyikapan Selain Uang yang kita maknai secara optimal. Berbeda di tingkat beban mental akan berbeda pula jenis langkah yang akan kita ambil sebagai jawaban dari kenyataan demikian.
Hal lain yang perlu kita perhatikan juga adalah cara kerja pikiran. Teori ilmiah mengatakan bahwa pikiran manusia itu punya kemampuan yang lebih dahsyat dari yang paling optimal sanggup kita bayangkan. Kalau kita belum sanggup membuktikan itu setidaknya kita sudah bisa melihat bukti-bukti dari orang-orang yang sudah sanggup. Belajar dari kebiasaan mereka itu, pola penyikapan yang dipilih adalah Selain Uang.
Dari sejumlah bukti faktual yang berkembang ternyata ada yang sepertinya paradoks antara apa yang sebenarnya dan apa yang kita benarkan tentang cara kerja pikiran. Menurut yang sebenarnya pikiran ini malah lebih senang kalau diberi tugas mencapai sasaran yang banyak. Pikiran ini - menurut penjelasan pakar pendidikan - kalau dinyalakan tidak berarti bahan bakarnya akan habis tetapi malah makin bertambah.
Tetapi umumnya kita malah membenarkan yang sebaliknya, yaitu memberi sasaran pendek dan sedikit, termasuk salah satunya adalah Hanya Uang. Pikiran yang tidak kita beri tugas untuk memikirkan sasaran hidup atau kita beri "makanan" berupa tantangan dan pelajaran hidup yang sedikit sekali, terbatas, terpusat pada uang.
Andaikan pengakuan sejumlah ahli dan bukti faktual itu ternyata tidak benar, dengan menugaskan pikiran untuk mencapai sasaran yang banyak, namun hal itu bukanlah tindakan yang melanggar hukum dan tidak membuat kita rugi. Tetapi alangkah ruginya kita kalau ternyata benar. Mestinya kita punya kemampuan untuk mencapai sasaran dan tantangan kerja yang banyak tetapi gara-gara kita memilih Hanya Uang akhirnya yang lain-lain tidak kita dapatkan.
Hal lain yang bisa digunakan untuk menjelaskan kepada diri kita tentang hubungan antara sasaran dan kreativitas adalah bagian misteri dari pintu rahasia uang. Ditinjau dari konsep bisnis modern, dan kenyataan yang kita saksikan, salah satu pintu rahasia uang itu ternyata bukan pekerjaan tetapi sentuhan kreativitas yang kita gunakan untuk menjalankan pekerjaan.
Pada tingkat yang paling spesifik semua benda dan semua pekerjaan di dunia ini akan menjadi uang atau akan tidak menjadi uang bukan karena bendanya (komoditas) tetapi lebih karena, ditangani oleh siapa benda itu? Besi tua bagi kebanyakan kita hanyalah besi tua tetapi akan berbeda lagi kalau besi tua itu disentuh oleh tangan kreatif pengusaha besi. "Find need and Fill it", kata konsep bisnis.
Saya yakin bahwa semua orang punya definisi sama tentang jumlah uang yang sedikit dan jumlah uang yang banyak. Tetapi di tingkat paling riil dan pribadi, banyak dan sedikitnya jumlah uang menjadi relatif. Sedikit bagi Capres dan Cawapres bisa jadi terlalu banyak bagi orang lain. Nah, jika kita bicara jumlah pendapatan (uang) dalam wilayah riil-pribadi maka yang perlu kita audit lagi adalah, boleh jadi bukan karena pekerjaaan itu, kantor itu, atau bidang itu yang tidak sanggup membukakan sumber keuangan bagi kita tetapi jangan-jangan gara-gara pikiran kita yang kurang kreatif dengan hanya menangani sedikit tantangan dan mengarahkan pikiran pada sasaran yang terbatas.
Inipun sepertinya muncul semacam paradok lagi kalau kita rujukkan pada pengalaman para pebisnis yang sudah banyak menghasilkan uang. Henry Ford tidak meletakkan uang sebagai dewa penentu keamanan tetapi justru menjadikan pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai sumber keamanan usahanya. Peter Drucker merumuskan bahwa tujuan bisnis bukan uang tetapi menciptakan pelanggan. Tentu sebuah kesimpulan yang terburu-buru dan bertentangan kalau kita tafsirkan Ford sudah tidak butuh uang lagi atau Drucker mengeluarkan nasehat konyol untuk para pebisnis
Tafsiran yang kira-kira tidak bertentangan adalah, ilmu pengetahuan, pengalaman (praktek) dan keahlian adalah kunci kreativitas mengolah peluang-peluang bisnis. Sebanyak apapun peluang tetapi kalau tiga kunci itu tidak kita miliki, peluang itu adalah peluang yang hampa. Demikian juga dengan pelanggan. Bisnis apapun ketika sudah bicara keuntungan maka sumber keuntungan itu adalah pelanggan. Sebesar apapun modal sebuah bisnis tetapi kalau tidak memiliki pelanggan ya mau tidak mau akan habis.
Proses Belajar
Keikhlasan ini sudah masuk dalam ajaran leluhur jauh sebelum kita dilahirkan. Sebagai ajaran sikap mental, memang terkadang terlalu sempit dan seringkali berlawanan ketika kita memaknai keikhlasan ini hanya sebatas pada persoalan meneriama imbalan dan tidak menerima imbalan.
Dalam ajaran sikap mental terhadap kenyataan hidup, keihklasan, adalah melakukan sesuatu dengan sasaran tak terbatas pada satu objek sasaran saja. Pakar pengetahuan seperti Abraham Maslow dan lain-lain, menamakan sasaran tak terbatas itu dengan prestasi, aktualisasi-diri, atau optimalisasi potensi yang tak mengenal batas.
Adapun persoalan imbalan dalam konteks hubungan kita dengan manusia, tentu tergantung kesepakatan yang telah kita buat. Namun, kita tetap bisa mengajarkan diri kita untuk ikhlas baik dengan imbalan atau tanpa imbalan. Sebab, pokok utamanya adalah sikap mental dalam menjalankan tanggung jawab hidup. Karena keikhlasan ini merupakan elemen hidup, maka semua orang sebetulnya punya kapasitas untuk belajar mempraktekkan ajaran keikhlasan ke tingkat yang lebih tinggi untuk membangun sikap positif terhadap kerja, selain uang semata.
Makna tak terbatas ini akan sangat berguna dalam hubungannya dengan motivasi dan kreativitas kerja, terutama ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Siapa pun bisa mengatakan, bahwa kantor yang fair, gaji yang tinggi, lingkungan kerja yang enak, atau bisnis yang berjalan lancar itu akan membuat orang bersemangat atau hidup pikirannya. Tetapi yang perlu kita sadari, semua itu adalah temuan yang benar di atas teks, dan selama itu yang terjadi, tentu namanya bukan persoalan hidup.
Pertanyaannya, bagaimana supaya motivasi kerja kita tetap tinggi dan kreativitas kita tetap hidup, pada saat gaji di rasa kurang memadai, jarak ke kantor jauh dan macet, fasilitas kurang memadai, dsb. Di sinilah kita perlu mencari kebahagiaan yang dapat ditemukan, melalui keikhlasan diri dalam berkarya dan berkreasi. Dengan cara itu, setiap pekerjaan dan kreasi akan menjadi sebuah oase yang memberikan kesegaran, dan pertumbuhan bagi setiap orang dalam karya dan usahanya. Jadi, jika kita memusatkan pikiran pada "bagaimana mengembangkan diri dari dalam", maka kita akan terpacu dan termotivasi untuk menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dan bernilai pada diri kita, karena hasil (uang) bukan lagi menjadi sebuah tujuan, namun "the process" – penciptaan, penguasaan, penaklukkan dari setiap tantangan - itulah yang jauh lebih bermakna dan memberikan kepuasan dalam bekerja. Semoga berguna!


WAWANCARA EKSKLUSIF HERNOWO DENGAN MUNIF CHATIB TENTANG BUKU SEKOLAHNYA MANUSIA

1. Mas Munif, Anda baru saja meluncurkan buku pertama Anda yang berjudul Sekolahnya Manusia. Bagaimana perasaan Anda melihat produk Anda ini? Secara ringkas, apa yang ingin Anda sampaikan (bagikan) lewat Sekolahnya Manusia?
Jawab:
Perasaan saya tentunya senang dan lega, seperti bendungan air yang dibuka pintunya, terus air mengucur deras mengguyur tanah-tanah kering di bawahnya. Seperti itu perasaan saya. Dalam buku tersebut sebenarnya saya ingin menyampaikan sebuah kenyataan bahwa jutaan institusi yang bernama sekolah sudah tidak manusiawi lagi. Anak dipaksa oleh target-target tertentu yang tidak sesuai dengan kecerdasan dan bakatnya. Sehingga lahirlah jutaan siswa bodoh dan sedikit siswa yang pandai. Dalam ‘sekolahnya manusia’ tiba-tiba sekolah menjadi tempat yang nyaman buat para siswanya. Mereka menuangkan apa yang mereka ingin lakukan dan ingin capai. Ternyata dengan cara yang khas dan multiple semua siswa adalah cerdas. Banyak orang bilang, itu mustahil, namun dengan ‘sekolahnya manusia’ ternyata bukan hanya sekedar mimpi.


2. Apakah setelah berhasil melahirkan buku pertama ini, Anda kemudian memiliki keinginan untuk melahirkan buku kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya? Jika berkenan, apa saja topik-topik yang akan Anda tulis dan dijadikan buku?
Jawab;
Ya … sekolahnya manusia seperti gambaran seekor gajah. Pembaca yang membaca akan mengetahui ternyata gajah itu kakinya empat, telinganya lebar, belalainya panjang dan lain-lain. Tidak mungkin pembaca menyebutkan gajah itu punya sayap. Gambaran global (global analysis) itulah target dari buku sekolahnya manusia. Saya sudah mempersiapkan buku-beku berikutnya, yaitu lebih ‘task analysis’, artinya bagaiman sih detail kaki gajah, telinga gajah, mulut gajah. Atau bagaimana kalau gajah makan, lari, dan lain-lain. Buku kedua, saya ingin memaparkan bagaimana sebuah ‘special moment’ terjadi antara guru dan siswanya. Buku ke3 saya ingin mengulas apa yang terjadi pada siswa yang nakal dan bodoh di sebuah sekolah. Buku ke 4 saya ingin mengulas habis tentang kreatifitas guru sebagai tantangan buat teman-teman guru dalam profesionalitas. Dan seterusnya saya ingin menulis hal-hal yang fokus terkait dengan pembelajaran di sekolah. Saya pernah me-list rencana buku-buku selanjutnya, sampai hari ini sudah tersusun sekitar 125 judul buku, ‘subhanallah’ semoga diberikan kesehatan dan umur panjang.
3. Saya membaca di buku pertama Anda ini bahwa Anda dahulu adalah lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang. Namun, kemudian Anda merasakan bahwa Anda lebih mantan mengajar atau menerjuni dunia pendidikan. Anda kemudian pun iku kuliah jarak jauh di Supercamp Oceanside California USA yang dipimpin Bobbi DePorter dan lulus dengan menduduki peringkat ke-5. Tolong ceritakan mengapa Anda lebih tertarik di dunia pendidikan?
Jawab:
Jujur, saya sebelumnya tidak tahu menahu dunia ‘hukum’. Saya masuk fakultas hukum hanya coba-coba saja, sebab waktu itu tidak ada informasi yang tepat tentang program jurusan apa yang sesuai dengan kecenderungan kecerdasan dan bakat saya. Saya sempat menangani beberapa kasus ketika lulus, namun tidak ada yang menang dan tuntas. Saya akhirnya introspeksi diri dan menemukan bahwa dunia saya buk an menjadi ‘pengacara’. Ketika mencoba jadi asisten dosen dan akhirnya menjadi dosen, saya merasa ‘AHA’ inilah dunia saya. Saya paling suka menyampaikan sesuatu yang rumit namun akhirnya menjadi mudah ditangkap oleh para mahasiswa saya. Apalagi setelah belajar tentang multiple intelligence, saya mencoba mengajar mulai dari tingkatan TK sampai perguruan tinggi. Dan akhirnya saya merasa ‘inilah dunia saya – I am a teacher’. Itu ketertarikan saya di dunia pendidikan yang mikro. Kalau yang makro, saya melihat kondisi pendidikan di Indonesia yang kecepatan untuk majunya rendah. Beda dengan negara-negara lain yang punya speed cepat. Saya melihat problemnya ada dua hal yang mendasar yaitu ‘sistem pendidikan’dan kualitas sdm guru. Pada saat banyak guru yang mau maju dan kreatif, mereka berhenti bahkan mundur karena ‘sistem’ yang memaksa itu. Setiap guru yang kreatif mempunyai tembok penghalang yang demikian kokoh untuk ditembus yaitu ‘sistem’.
4. Salah satu hal yang sangat menarik dalam buku Anda, Sekolahnya Manusia, adalah rekaman tentang keberhasilan Anda mengubah beberapa sekolah di Jawa Timur yang hampir sekarat menjadi sekolah yang berprestasi. Dalam mengubah sekolah-sekolah yang hampir sekarat itu, Anda menggunakan MIR dan MIS. Apa itu MIR dan MIS mas Munif?
Jawab:
MIS adalah Multiple Intelligence System, yaitu semua sistem yang holistik dari proses pendidikan dari mulai input, proses dan outputnya.
Pada wilayah input, difokuskan pada konsep bahwa ‘setiap anak cerdas dengan multiple intelligencenya. Jadi dalam sekolah binaan saya, penerimaan siswa baru tidak memakai tes-tes kognitif apapun sebagai saringannya. Kita berpedoman pada kapasitas tempat. Kalau untuk siswa baru memuat 100 siswa. Maka pendaftar ke 100 adalah pendaftar terakhir. Dan setelah itu tutup. Semua siswa dalam berbagai kondisi diterima, terutama tidak menganut ‘the best input’, yaitu sekolah yang menerima siswa-siswa yang pandai-pandai secara kognitif. Walhasil sekolah kami banyak diserbu oleh siswa yang bodoh dan nakal, namun kami bertekad mengubahnya menjadi pinter dan baik. Nah apa rahasianya? Setelah mereka masuk, dilakukanlah Multiple Intelligence Research (MIR). MIR adalah alat riset psikologi yang mendiskripsikan banyak hal terutama adalah kecenderungan kecerdasan dan gaya belajar siswa. Dengan MIR maka wilayah proses dalam MIS menjadi cantik dan manusiawi. Rumus ajaibnya adalah setelah diketahui gaya belajar siswa dengan MIR maka gaya mengajar guru menyesuaikan dengan gaya belajar tersebut, lahirlah kondisi tidak ada anak bodoh dan tidak ada pelajaran sulit. Konsep ini kita sebut ‘the best process’.
5. Mengapa Anda tertarik menekuni Multiple Intelligences (MI)? Apakah di Supercamp Oceanside, Anda mendapatkan pendidikan khusus tentang temuan Howard Gardner ini? Saya dengar, Anda membuat tesis “Islamic Quantum Learning” yang membuat kagum para pengajar di Supercamp. Apakah tesis Anda itu terkait dengan MI?
Jawab:
Faktor utama yang menyebabkan saya tertarik menekuni MI adalah sifat ‘manusiawi’nya. Tiba-tiba setiap orang mempunyai potensi untuk menunjukkan ‘benefiditas’nya, dalam kondisi apapun. Sebenarnya Howard Gardner menaungi lembaga psikologi yang bernama ‘project zero’ di Harvard University yang merupakan salah satu stake holder dari ‘Learning Forum – Supercamp’ yang dikomdani oleh Bobbi de Porter. Selain ‘project zero’ masih banyak lagi stake holder yang terkait. ‘Islamic Quantum Learning’ sangat terkait dengan MI. IQL merupakan strategi pembelajaran dengan menghadirkan tokoh. Materi-materi belajar terutama yang terkait dengan character building di ajarkan dengan menghadirkan tokoh yang terkait. Kata-kata ‘Islamic’ saya buat sebab hampir 90% tokoh yang saya tampilkan dan yang terkait dengan materi-materi pembelajaran seperti keberanian, patuh kepada orangtua, kesederhanaan, kepedulian, tanggung jawab dan lain-lain adalah tokoh-tokoh real Islam. Mulai dari Muhammad Rasulullah SAAW, keluarganya dan sahabat-sahabatnya. Dalam dunia barat, strategi penokohan ini 90% adalah tokoh fiktif dan 10% tokoh real. Padahal mereka meneliti bahwa tokoh fiktif mempunyai durasi yang pendek untuk masuk memori jangka panjang. Sedangkan tokoh real sebaliknya, sangat disukai oleh ‘memori jangka panjang’. Contoh tokoh “Theletabis’ dulu sangat disukai oleh anak-anak, hampir di setiap alun-alun dan toko-toko menjual bonekanya. Namun sekarang, boneka Theletabis sudah tidak digemari lagi, mungkin ganti dengan tokoh yang lain. Namun apabila tokoh tersebut real, seperti di Amerika terkenal dengan Abraham Lincon, Thomas Jeferson, mulai dari anak kecil sampai orang tua sangat menyukai tokoh-tokoh tersebut. Nah dalam IQL, tokoh yang ada adalah hampir semuanya real, bukan fiktif. Mestinya tokoh-tokoh Islam tersebut akan disukai, dikenang dan jadi bahan pembicaraan anak-anak sampai orang tua setiap hari. Hanya saja kita jarang menggunakannya. Kita terbiasa untuk materi keberanian disandingkan dengan tokoh super hero, seperti batman, spiderman, atau superman. Jarang kita belajar makna keberanian dengan tokoh Sayidah Ali bin Abi Thalib, yang dengan keperkasaannya mampu merobohkan pintu Khaibar yang kokoh dan kuat.
6. Apakah keberhasila Anda mengubah sekolah-sekolah di Jawa Timur dengan MIR dan MIS juga dapat diterapkan di sekolah-sekolah lain di seluruh Indonesia? Apa syarat-syarat yang perlu dipenuhi agar MIR dan MIS dapat mendekati sempurna penerapannya? Atau, sebenarnya, apa pun keadaan sekolah, MIR dan MIS akan membantu memperbaiki kinerja sekolah tersebut? Mohon Anda jelaskan ya?
Jawab:
Ya.. setiap sekolah dimana saja dapat menerpakan MIR dan MIS. Syarat-syarat penerapan MIR dan MIS utamanya biasa saya namakan segitiga emas, yaitu Paradigm, Know How dan Commitment.
Pertama, paradigma yang sama. Setiap komponen dari sekolah tersebut, manajemen, kepala sekolah, guru dan wali siswa mempunyai paradigma yang sama tentang hakekat ‘sekolahnya manusia’. Kedua, Know How. Setiap komponen sekolah mengikuti pelatihan-pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia yang sudah dikemas dalam suatu sistem yang holistik. Dengan sistem ini target yang ingin dicapai adalah ‘profesionalitas’. Ketiga, adanya komitmen. Semua elemen sekolah harus mempunyai komitmen yang tidak boleh luntur untuk menerapkan sistem ini. Adanya team work atau kerja sama dari setiap komponen sekolah menjadi hal yang penting, sebab akan banyak masalah yang akan dihadapi. Namun masalah tersebut adalah masalah yang wajar dalam dunia pendidikan. Nah.. itu saja syaratnya menurut saya.
7. Tak sedikit orang yang masih salah paham terkait dengan teori MI ini. Misalnya, penerapan MI harus benar-benar memerhatikan secara satu per satu anak didik karena setiap anak didik unik, tidak ada yang sama. Bukankah ini melawan kegiatan belajar-mengajar klasikal yang di dalamnya ada sekian puluh murid? Bagaimana pandangan Anda tentang soal ini?
Jawab:
Memang masih banyak yang salah paham dalam menerapkan MI di sekolah atau kelas. Sebenarnya setiap anak mempunyai kecenderungan kecerdasan yang beragam, mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah dari 9 kecerdasan yang ditemukan Gardner. Dalam proses belajar mengajar kecenderungan kecerdasan tersebut harusnya diartikan sebagai pintu masuk informasi yang disampaikan guru kepada para siswanya. Pintu masuk yang terbesar inilah yang sebenarnya dinamakan ‘gaya belajar’ atau ‘learning style’. Apabila informasi tersebut sudah berhasil memasuki pintu terbesar dari kecenderungan kecerdasannya, maka dapat diartikan bahwa siswa tersebut mendapatkan informasi itu sesuai dengan gaya belajarnya. Biasanya siswa akan memahami informasi tersebut. Setelah informasi masuk, maka akan terjadi ‘flow’ yaitu dimungkinkan terbukanya pintu-pintu kecerdasan yang lainnya. Jadi sangat dinamis dan kompleks. Dengan Multiple Intelligences Researh (MIR) akan diketahui diskripsi tentang kecenderungan kecerdasan dan gaya belajar siswa. Atas dasar data inilah dapat digunakan pembagian kelas, tentunya bagi sekolah yang mempunyai lebih dari satu kelas. Pembagian kelas berdasarkan hasil MIR berkaitan dengan persamaan gaya belajar. Sehingga akan tercipta efektifitas dalam proses pembelajaran sebab dalam kelas tersebut rata-rata semua siswanya mempunya gaya belajar yang cenderung sama. Namun setelah itu konsep ‘flow’ harus tetap dilakukan. Jadi tidak kaku dan terkotak-kotak menjadi kelas-kelas permanen berdasarkan 9 kecerdasannya. Inilah yang banyak terjadi di sekolah-sekolah. Akhirnya gaya mengajar para gurunya ‘selamanya’ disesuaikan dengan kecerdasan yang dimiliki siswanya dalam satu kelas tersebut. Akhirnya sangat membosankan. Sampai-sampai ada siswa yang menjuluki gurunya dengan sebutan ‘ustadzah lingkaran’ sebab setiap kali mengajar para siswanya terus diminta berdiri dan membentuk lingkaran. Pendekatan individul MI sebenarnya sangat efektif digunakan untuk siswa-siswa yang mengalami kesulitan pemahaman. Jadi menurut saya, jumlah ideal siswa dalam satu kelasnya di bawah 30 siswa. Dari hasil MIR gaya mengajar guru disesuaikan dengan gaya belajar rata-rata semua siswa untuk masuk dalam ‘pintu kecerdasan yang terbesar’. Setelah itu guru harus menerapkan flow, mengajar dengan strategi yang beragam. Sistem ‘grouping’ akan sangat membantu. Apabila ada siswa yang kurang paham, maka digunakan pendekatan individual. Insyaallah akan terwujud kelas yang indah dan bermakna.
8. Oh ya menurut Anda, problem-pokok pendidikan di Indonesia ini apa? Lantas, agar pendidikan di Indonesia dapat terus maju dan berkembang sebagaimana negara-negara lain—misalnya sejajar dengan Jepang atau Finlandia—apa yang kira-kira harus ditangani pertama kali?
Jawab:
Problem pendidikan di Indonesia sangat kompleks. Namun saya yakin ada ujung benang kusutnya. Dan akhirnya dapat diselesaikan. Menurut saya ujung benang kusut ada dua yaitu sistem dan kualitas sumber daya manusianya. Banyak masalah yang terkait dengan sistem, antara lain yang menonjol adalah sistem pendidikan yang masih sentralistik, terutama dalam wilayah ‘output’, yaitu standar kelulusan siswa ditentukan oleh alat tes yang dibuat pusat, bukan oleh guru. Pada wilayah akhir yang ‘salah’ inilah yang akhirnya menjadi orientasi pendidikan mulai dari wilayah yang pertama yaitu input, san diikuti oleh prosesnya. Jika sistem di output ini diperbaiki, maka input dan prosesnya akan mengikuti. Betapa banyak kreatifitas guru yang lumpuh akibat kondisi output yang ‘academic minded’. Yang kedua adalah kualitas SDM, terutama tenaga pengajar. Guru juga manusia yang perlu belajar. Maka peningkatan kualitas dengan pelatihan dan pengembangan adalah hal yang terpenting dalam posting dana pendidikan. Negara yang maju pendidikannya mempunyai ciri-ciri yang hampir sama, yaitu posting dana pendidikan yang cukup besar dan diprioritaskan untuk pengembangan sdm-nya. Jadi kesimpulannya, agar bisa seperi Jepang dan Finlandia adalah pertama perbaiki sistem mulai dari input, proses dan output. Kedua sistem tersebut harus diisi oleh sdm yang berkualitas. Sebenarnya sederhana dan klasik. Hanya saja menurut saya pemerintah kita ‘sangat politis’ dalam mengurusi masalah pendidikan.
9. Ada sebagian pengamat pendidikan mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia selama ini academic oriented. Misalnya, ujian itu selalu hafalan dari TK sampai SMA. Setiap sekolah mengajarkan teaching to the test. Anak didik pun tidak kreatif. Bagaimana menurut Anda?
Jawab:
Betul sekali. Academic oriented inilah yang menjadikan anak didik kita seperti robot. Segalanya dirancang agar lulus dari test akhir. Padahal pengalamn saya sebagai peneliti kualitas soal-soal ujian nasional, yang menjadi standar kelulusan siswa dalam jenjang SD, SMP dan SMA adalah kualitas soalnya masuk dalam kualitas yang paling ‘rendah’. Dengan ‘multiple choice’ murni peserta didik pemikirannya dibatasi dengan kemampuan ‘TAHU APA’ dan BIM SALABIM’. Artinya kalau siswa tidak tahu jawaban mana yang benar, maka mereka menggunakan cara ‘bim salabim, pokoknya semua soal terlingkari. Menurut Taksonomi Bloom, jenis soal semacam ini mestinya tidak dapat untuk menilai standar kelulusan dari sebuah materi atau bidang studi. Hilang sudah wilayah kemampuan pemahaman, aplikasi, analisa, sintesa dan evaluasi. Padahal ketika mereka terjun ke masyarakat untuk mengaplikasikan ilmunya, ternyata dunia sekarang ini membutuhkan sdm yang BISA APA selain TAHU APA. Segala macam cara yang dipakai sekolah agar sekolahnya tidak menjadi sekolah robot akan gagal pada masa akhir tahun ajarannya. Sebab didepan mata ada ‘robotic test’ yang harus dilewati semua siswa. Terkadang saya juga tidak habis pikir tentang ‘teaching to test’ ini sangat kuat mengakar dan sulit diubah di Indonesia. Padahal kenyataan sudah banyak terjadi, IP tinggi bukan segala-galanya. Saya banyak menjumpai dalam tes seleksi guru, calon guru dengan IP yang tinggi, berantakan pada saat menjalani micro teaching test. Almarhum Munir adalah sahabat saya waktu di fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang. Saya ingat betul, skripsi yang beliau tulis tentang perburuhan, dan IP Kumulatifnya hanya 2,6. Namun setiap orang mengakui kecerdasan Almarhum Munir yang terkait dalam profesinya. Semoga arwah beliau tenang dalam perjalanan menemui Tuhannya.
10. Bagaimana pula tentang pendidikan akhlak atau karakter? Mengapa pendidikan agama seperti gagal dalam menangani pendidikan akhlak ini? Apakah MI dapat membantu mengefektifkan pendidikan akhlak? Atau Anda memiliki strategi lain terkait dengan pendidikan akhlak?
Jawab:
Menurut saya, ada ketimpangan dalam pendidikan agama disekolah. Seperti yang kita ketahui pendidikan agama dibagi menjadi 3 wilayah besar, yaitu akidah, fiqih dan akhlak. Mestinya yang mempunyai bobot pemahaman kognitif terbesar adalah wilayah akidah. Sedangkan fiqih dan akhlak adalah materi praktis. Pada sekolah-sekolah binaan kami, pendidikan akhlak kami namakan ‘Character Building’ (CB). CB disajikan dalam bentuk praktis dan menarik. Materi disusun dalam lessonplan yang penuh dengan aktivitas, games, riset sampai siswa merasakan mengapa mereka harus berbuat baik, sebaliknya harus sekuat tenaga meninggalkan perbuatan buruk. CB tidak disajikan dalam bentuk defenitif. Tapi sangat cair dalam kehidupan nyata sehari-hari. Tiba-tiba dengan bidang studi CB, karakter siswa yang nakal dalam interaksi di lingkungan sekolah secara efektif dapat berubah. Konsep-konsep karakter diterapkan dengan proses belajar yang sangat cantik dan menyenangkan siswa. Mulai dari jenjang TK sampai SMA. Bahkan saya menilai bidang studi CB ini wajib ada pada sekolah yang menerapkan multiple intelligence, sebab bulan-bulan pertama kebanyakan siswa akan mengalami ‘eforia’ kebebasan belajar. CB mampu mereduksi eforia ini secara efektif dan mengembalikan tanggung jawab keberhasilan belajar ada di pundak masing-masing siswa, bukan di pundak guru.


Agar Kita Mudah Belajar

Oleh Munif Chatib

Tahukah kita kalau kecepatan otak kita menyerap informasi 1.287 km/jam. Artinya kapasitas dan kemampuan otak kita ini luar biasa. Bill Gates sampai mengatakan otak kita ini adalah raksasa yang tidur. Kenyataanya kita sangat amat teramat belum mampu memaksimalkan otak kita . Sebab jika arus informasi ini lancar, maka kita akan lebih mudah memahami dan belajar apapun. Jadi dengan kata lain, kesulitan kita menyerap informasi disebabkan arus informasi ada yang macet atau jalannya tidak mulus. Sangat penting, kita sebagai manusia pembelajar untuk mengetahui arus informasi sampai dikelolah oleh otak kita. Perjalanan informasi ini sangat menarik untuk divisualiasikan. Informasi tersebut akan melewati 3 stasiun yang mempunyai karakteristik berbeda.


Stasiun pertama, informasi yang di dapat dari indera kita akan melewati batang otak yang disebut OTAK REPTIL. Otak reptil ini menguasai dunia fisik. Artinya kalau informasi yang masuk dalam otak kita dan lingkungan kita memuaskan otak reptil kita maka informasi tersebut akan diterima dengan baik. Coba bayangkan anda sedang lapar lalu makan di warung yang panas, bau dan banyak lalat. Seenak apapun makanan kita, pasti otak reptil kita memerintahkan kita untuk “get out from here”. Bandingan dengan kita makan di restoran yang sejuk, asri dan nyaman pasti kita nikmat menikmati hidangan.
Dalam dunia pembelajaran, terkadang pemuasan terhadap otak reptile sebagai stasiun pertama arus informasi jarang diperhatikan. Masih banyak lingkungan kelas yang tidak segar, suram dengan warna cat tembok yang tidak enak dipandang. Tidak ada hiasan kelas. Toh kalau ada, berupa gambar pajangan pahlawan yang sudah menguning, maklum hamper 5 tahun tidak pernah diganti.
Saya pernah memberi usul untuk ruang kelas minimal 6 bulan sekali harus diperbaharui. Jadikan merapikan ruang kelas ini menjadi tanggung jawab siswa-siswa di kelas tersebut. Apalagi dengan dilombakan dengan berbagai criteria, pasti akan bagus hasilnya. Kreativitas siswa ditantang untuk mendisain kelasnya.
Selain itu, model belajar dengan “out door” sangat membantu memuaskan otak reptile kita dan anak-anak kita. Bayangkan anak-anak kita dapat menghirup udara segar, melihat pepohonan, merasakan semilir angin, tentu otak reptilnya akan tersenyum dan meloloskan semua informasi menuju ke stasiun kedua.
Pantas saja, ada seorang ahli pendidikan yang mengatakan bahwa penjara paling kejam di bumi ini bukanlah Alcatraz atau Guentenamo, melainkan sebuah ruangan berukuran 6 x 6 meter persegi yang di dalamnya ada 40 lebih anak, yang mulai pagi sampai siang harus duduk untuk menerima informasi-informasi kognitif. Penjara itu namanya KELAS.
Kalau anda kenal si jenius Leonardo Davinci, ternyata hampir semua ilmu yang dia pelajari berasal dari alam. Davinci tidak pernah belajar di sekolah formal atau di kelas. Dia mampu merancang disain helicopter kala melihat dan mempelajari bagaimana seekor capung terbang dan menggerak-gerakkan sayapnya. Sungguh suatu strategi pembelajaran naturalis yang luar biasa.
Setelah informasi tersebut memuaskan otak reptil, maka diteruskan ke otak limbic atau mamalia. Otak limbic ini menguasai dunia emosi. Artinya kita sebagai penerima informasi harus mempunyai kondisi emosi yang stabil. Kita tidak dalam kondisi stress, tertekan, dan tegang. Kondisi emosi kita harus positif, maka otak mamalia akan terpuaskan. Contoh mudahnya, sebagai pelajar berangkat pagi ke sekolah dengan ceria, dapat dukungan dari orangtua, pr sudah dikerjakan. Pasti begitu mengikuti pelajaran di kelas, biasanya lancar. Beda dengan sebelum berangkat sudah dimarahi oranguta, pr belum dikerjakan dan ada masalah dengan teman. Saat menerima informasi dari guru, biasanya tidak lancar.
Setelah lolos dari otak limbic, maka informasi akan masuk ke otak yang disebut neo cortex. Neo cortex ini adalah sang pemikir. Artinya sesulit apapun informasi yang diterima, apabila memuaskan otak reptil, memuaskan otak, maka neo cortex akan mempunyai potensi yang besar untuk menganalisa informasi yang sulit itu.
Jadi bisa disimpulkan, bila kita sebagai pelajar menerima informasi tentang rumus-rumus yang memusingkan akan menjadi mudah kita memahami matematika, bila otak reptil dan otak limbic terpuaskan.
Jadi ada tiga kata kunci yang penting untuk memudahkan kita belajar, yaitu LINGKUNGAN NYAMAN, EMOSI POSITIF, dan KEMAMPUAN BERPIKIR.


Kebijaksanaan Cendol

Oleh: Muhammad Ainun Nadjib

Karena akan menerima tamu dari Thailand, maka Kiai itu merasa harus menyuguhkan Jawa. Segala yang nampak pada Pondok Pesantren yang dipimpinnya, sebenarnya relatif sudah mengekspresikan tradisional Jawa. Potret desa, model-model bangunan dan irama kehidupannya. Sang tamu besok mungkin akan mendengarkan para santri berbincang dalam bahasa Arab atau Inggris. Tapi itu bukan masalahnya. Yang penting Kiai kita ini tidak akan mungkin menyediakan Coca Cola ke depan hidung tamunya dari tanah Thai itu.

Demikianlah akhirnya sekalian santriyah yang tergabung dalam Qismul Mathbah (Departemen Dapur) bertugas memasak berbagai variasi menu Jawa. Dari sarapan grontol, makan siang nasi brongkos, malam gudeg, besoknya pecel, lalu sayur asem dengan snack lemet dan limpung.


Sang Kiai sendiri “cancut tali wondo” mempersiapkan suguhan siang hari yang diperkirakan bakal terik. Ia dengan vespa kunonya melaju, membawa semacam tempat sayur yang besar. Empat kilometer ditempuh, dan sampailah ia ke warung kecil di tepi jalan. Seorang Bapak tua penjual cendol. Sang Kiai sudah memperhitungkan waktunya untuk sampai pada bapak cendol ini pada dinihari saat jualannya. Yakni ketika stock masih melimpah.

Terjadilah dialog dalam bahasa Jawa krama-madya.

"Masih banyak, pak?"

"Masih Den, wong baru saja bukak beberan"

"Alhamdulillah, ini akan saya beli semua. Berapa?"

Pak Cendol kaget, "Lho, Jangan Den!" jawabnya spontan

Sang Kiai pun tak kalah kagetnya: "Kok jangan?"

"Lho, kalau dibeli semua, bagaimana saya bisa berjualan?"

Sang Kiai terbelalak. Hatinya mulai knocked-down, tapi belum disadarinya.

"Lho, kan saya beli semuanya, jadi bapak nggak perlu repot-repot berjualan lagi disini hari ini."

Pak Cendol tertawa dan sang Kiai makin terperangah.

"Orang jualan kan untuk dibeli. Kalau sudah laku semua kan malah beres?"

Pak Cendol makin terkekeh.

"Panjenengan ini bagaimana tho Den! Kalau dagangan saya ini dibeli semua, nanti kalau orang lainnya mau beli bagaimana! Mereka kan tidak kebagian!"

Knock-Outlah Sang Kiai.

Ia terpana. Pikirannya terguncang. Kemudian sambil tergeregap ia berkata: "Maafkan, maafkan saya pak. Baiklah sekarang bapak kasih berapa saja yang bapak mau jual kepada saya."

Seperti seorang aktor di panggung yang disoraki penonton, ia kemudian mendapatkan vespanya dan ngeloyor pulang.

Sesampainya di Pondok ia langsung memberikan cendol ke dapur dan memberi beberapa penugasan kepada santriyah, kemudian ia menuju kamar, bersujud syukur dan mengucapkan istighfar, lantas melemparkan tubuhnya di ranjang.

Alangkah dini pengalaman batinku gumannya dalam hati. Sembahyang dan latihan hidupku masih amat kurang. Aku sungguh belum apa-apa di depan orang luar biasa itu. Ia tidak silau oleh rejeki nomplok. Ia tidak ditaklukan oleh sifat kemudahan-kemudahan memperoleh uang. Ia terhindar dari sifat rakus. Ia tetap punya dharma kepada sesama manusia sebagai penjual kepada pembeli-pembelinya.

Ia bukan hanya seorang pedagang. Ia seorang manusia!

_______________
arsip, dari buku: “Indonesia Bagian Dari Desa Saya”.


Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...