Selasa, 16 Februari 2010

Mengenal Nafs (Jiwa)

2010 February 12
by ahmadsamantho
by Quito Riantori
Sunday, February 7, 2010 at 7:59pm


Di dalam kitab Mizan al-Hikmah diriwayatkan sebuah hadits bahwa seseorang bernama Majasyi’ datang kepada Rasulullah saww dan bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana jalan menuju pengenalan kepada Allah (al-Haq)?”
Rasul saww menjawab, “Pengenalan diri (nafs)”
Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara menyesuaikan diri dengan Allah?”
Rasulullah saww menjawab, “Menyelisihi ego (nafs)”
Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana jalan menuju keridhaan Allah?”
Jawab Nabi, “Membenci ego (nafs)”
Dia bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara untuk sampai kepada Allah?”
Jawab Nabi, “Hijrah dari ego (nafs)”.


Orang itu masih bertanya lagi, “Wahai Rasulullah bagaimana jalan untuk taat kepada Allah”
Jawab Nabi, “Menentang ego (nafs)”.
Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara berdzikir kepada Allah?”,
Jawab Nabi, “Melupakan ego (nafs)”
Dia terus bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara mendekat kepada Allah?”
Jawab Nabi, “Menjauhi ego (nafs)”
Dia bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara berakraban dengan Allah?”,
Nabi menjawab, “Melepaskan diri dari ego (nafs)”.
Sampai pada akhirnya orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana jalan untuk mencapai-Nya”
Rasulullah saww menjawab, “Memohon pertolongan kepada Allah di dalam mengatasi ego (nafs)” [1]
Hadits di atas menjelaskan bahwa Rasulullah saww mengajarkan cara berdzikir kepada Allah. Ketika seseorang yang bernama Majasyi’ bertanya kepada beliau, bagaimana cara berdzikir kepada Allah, maka Rasulullah saww menjawab, “Melupakan nafs”. Lalu apakah nafs itu?

APA ITU NAFS?
SALAH satu jalan untuk mencapai Ma’rifatullah atau mengenal Allah adalah Ma’rifat al-Nafs atau mengenal diri. Di dalam hadits yang cukup masyhur di kalangan kaum Irfan atau pun Sufi, Nabi saww pernah bersabda : “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu : “Barangsiapa yang mengenal nafs-nya (dirinya) maka sungguh dia akan mengenal Tuhannya” [2].
Hadits ini secara gamblang menjelaskan keniscayaan pengenalan diri menuju kepada pengenalan kepada Tuhan. Mungkin karena itulah di dalam hadits lainnya Imam Ali as berkata: “Aku heran kepada orang yang tidak (berusaha untuk) mengenal dirinya, bagaimana (mungkin) ia bisa mengenal Tuhannya” [3]
DUALITAS NAFS
SYAHID Ayatullah Murtadha Muthahhari di dalam tulisannya Falsafe Akhlaq mencoba menjelaskan dualitas Nafs. Beliau mengatakan : “Kerap kali Al-Qur’an berbicara tentang Nafs manusia, yang mana manusia harus berperang melawannya, karena kecenderungannya yang buruk, seperti :
“Dan adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri (Nafs) dari hawa-nafs, maka surgalah tempat tinggalnya” (QS 79 : 40), dan ayat lainnya : “Sesungguhnya Nafs itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali Nafs yang mendapatkan ke-Rahim-an Tuhanku” (QS 12 : 53).
Namun di lain ayat, Al-Qur’an menghormati dan menyanjung Nafs : “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada Nafs (diri) mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq” (QS 59:19).
Al-Syahid Muthahhari mengatakan : Sekiranya Nafs ini adalah Nafs yang pertama (yang cenderung kepada yang buruk) maka alangkah baiknya jika mereka lupa. Dengan alasan inilah Ayatullah Murtadha Muthahhari membagi nafs menjadi dua macam: Nafs (Diri) Sejati dan Nafs (Diri) Fantasi. Agar lebih mudah dipahami, saya menyebut Diri Sejati dengan Nafs Insani dan Diri Fantasi dengan Nafs Basyari. Saya akan menjelaskan alasan saya nanti.
MAKNA NAFS DAN HUBUNGANNYA DENGAN RUH
Sachiko Murata di dalam bukunya The Tao of Islam juga mencoba menjelaskan makna Nafs secara lebih rinci dan jelas. [4]
Beliau mengatakan bahwa banyak pengarang tidak membedakan antara Nafs dan Ruh. Memang dengan tidak membedakan keduanya kita akan bingung. Karenanya Sachiko Murata berusaha membedakan keduanya dan menjelaskan potensinya masing-masing. Ruh tercipta dari cahaya (nur) dan sebagaimana para malaikat, sepenuhnya terpisah dengan dunia jasadi (materi).
Sebaliknya jasad atau tubuh manusia yang tercipta dari tanah liat bersifat gelap. Sementara Nafs memiliki sifat-sifat dari kedua pihak tersebut dan bertindak sebagai perantara keduanya (Ruh dan Jasad).
Nafs menjadi lembut dan bercahaya ketika menjalin hubungan dengan Ruh, sebaliknya menjadi keras, padat dan gelap ketika menjalin hubungan dengan jasad. Posisi nafs berada di antara Ruh dan Jasad, ia menjadi barzakh (tanah genting) antara keduanya.
Biasanya Nafs dianggap berada pada tingkat yang lebih rendah dari Ruh, karena Ruh berasal lang¬sung dari Tuhan: “Dan telah Kutiupkan ke dalam jasadnya Ruh-Ku” (QS 15:29) Al-Qur’an tidak menyarankan bahwa Nafs manusia dan Tuhan terkait erat, sebagaimana Ruh manusia dengan Tuhan, dalam pengertian bahwa Nafs muncul setelah Ruh, karenanya sering diacu sebagai anak Ruh.
Dari Ruh sifat-sifat Ilahi mengalir kedalam Nafs, seperti sifat-sifat kehidupan, pengetahuan, kehendak (iradah), kekuasaan (qudrah), pembicaraan, pendengaran dan penglihatan. Nafs bersikap reseptif dengan mewujudkan sifat-sifat ini melalui jasad.
Ruh menyuburkan Nafs dan Nafs melahirkan aktivitas-aktivitas jasadi di dunia terlihat. Begitu Ruh dan Nafs hidup dalam keselarasan, yaitu masing-masing menjalankan fungsinya sesuai dengan hubungan itu maka dimensi batin manusia akan merasakan kedamaian.
Sebaliknya jika terjadi kegagalan di dalam mewujudkan keselarasan dan keharmonisan antara Ruh dan Nafs maka manusia akan merasakan kegelisahan atau ketidaknyamanan. Sachiko Murata menggambarkan posisi Ruh, nafs dan jasad dengan mengatakan: “Tuhan adalah langit dan Ruh adalah bumi Ruh adalah langit dan Nafs adalah bumi Nafs adalah langit dan Jasad adalah bumi (The Tao of Islam)
NAFS BASYARI DAN NAFS INSANI
“Dan Nafs serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada Nafs itu kefasikan dan ketaqwaannya” (QS 91:7-8) Ruh Ilahi yang merupakan unsur Ketuhanan menarik Nafs kepada ketaqwaan, sebaliknya Jasad yang mewakili unsur materi menariknya kepada kefasikan.
Jadi seluruh gerak dan tindak tanduk manusia didorong oleh dua macam kekuatan yang berusaha mempengaruhi Nafs tadi. Nafs yang condong kepada Ruh Ilahi mengarahkan aktivitasnya kepada taqwa, inilah yang disebut Nafs Insani. Adapun Nafs yang ditarik oleh unsur jasadinya kepada kefasikan disebut Nafs Basyari.
Nafs Basyari mendorong manusia berbuat dan bertindak berdasarkan kecenderungan jasadinya (fisiknya), seperti makan minum, berhubungan seks dan segala aktivitas yang juga dilakukan oleh hewan.
Karena itu Murtadha Muthahhari juga menyebutnya dengan Nafs hewani (diri hewani). Tatkala Iblis membangkang untuk bersujud kepada Adam, ia berkata: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia (basyar) yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk!” (QS 15 : 33).
Iblis menggunakan kata basyar mengacu kepada penciptaan jasad manusia. Ia tertipu dan terhijabi oleh kecongkakannya sehingga ia melupakan bahwa manusia telah disempurnakan Allah dengan Ruh-Nya: “Dan telah Kutiupkan ke dalam (jasad)-nya Ruh-Ku”(QS 15:29)
Ada secercah cahaya Ilahi dalam diri manusia. Seluruh manusia termasuk Nabi saww juga sama memiliki kedua macam Nafs ini. Allah SwT memerintahkan kepada Nabi saww untuk mengatakan kepada manusia bahwa dari sisi basyari-nya beliau memang sama seperti manusia lainnya. “Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia (basyar) seperti kamu” (QS 18:110)
Dalam banyak kesempatan Nabi saww berkata kepada khalayak manusia : “Aku ini juga manusia seperti kalian, makan, minum, berkumpul dengan isteri dan berjalan di pasar-pasar”. Namun kita tidak bisa menilai Rasulullah saww hanya dari sisi basyari-nya saja, seperti yang dilakukan oleh kaum Wahabi-Salafi.
Jangan kau seperti Iblis,
Hanya melihat air dan lumpur ketika
memandang Adam. Lihatlah di balik lumpur,
beratus-ratus ribu taman yang indah!
(Mawlawi Rumi, Diwan i Syams 18226)
Menilai Nabi saww atau orang-orang suci hanya dari sisi basyariyahnya saja merupakan suatu kesalahan yang besar dan berbahaya. Anda bisa lihat bagaimana Iblis menilai Adam as, bukanlah dia hanya melihat Adam dari sisi tanah-nya dan melupakan sisi Ruh Allah-nya.
Karena bangga diri dan buta hati
Seperti Iblis, manusia-manusia ini tak lagi memuliakan orang suci
Katanya, “Bagi Tuhan saja, sujud kupersembahkan.”
Pada mereka Adam memberikan jawaban:
“Sujud kepadaku ini untuk-Nya
Kalian melihatnya berupa dua sujud
Karena ketersesatan dan keingkaran!”
(Mawlawi Rumi, Diwan i Syamsi 9605-9606)
Sesungguhnya kecenderungan Nafs Basyari ini tidak seluruhnya buruk. Maksudnya adalah bahwa selama kecenderungan-kecenderungan ini diletakkan pada proporsi yang semestinya, Allah justru memberi pahala untuknya, tetapi jika kecenderungan ini keluar dari batas-batas yang proporsional maka hal inilah yang dicela agama.
Diriwayatkan oleh Abu Dzar ra bahwa para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saww tentang hubungan sebadan antara suami isteri. “Bukankah kita merasakan nikmatnya, ya Rasulullah. Mengapa kita masih mendapat pahala juga?” Beliau menjawab: “Bukankah bila kamu menyalurkannya di jalan yang haram kamu berdosa?” sahabat menjawab, “Ya” Rasul berkata lagi, “Begitu juga kamu akan diberi pahala jika menyalurkannya pada jalan yang halal!” [5]
TARIK MENARIK UNSUR TANAH DAN RUH ALLAH
RUH Allah yang ditiupkan ke dalam jasad manusia merupakan sebuah potensialitas yang mampu menarik Nafs dan mengangkatnya ke puncak kesadaran Ilahiyah. Dengan Ruh Ilahi inilah Nafs sanggup mengadakan mi’raj melalui tafakkur, zikir, dan shalatnya.
Dengan Ruh Allah pulalah Nafs mampu mencapai kesadaran pada keberadaannya yang bergantung pada Khaliq-Nya. Dan dengan kesadaran seperti ini pula Nafs mampu membentuk manusia yang arif, kuat, kreatif, serta memiliki tujuan yang luhur.
Nafs yang mampu mencerap kekuatan ruh Ilahi dan sanggup mengontrol kecenderungan jasadnya, akan mampu menarik manusia ke kesempurnaan Ilahi yang tiada batas. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya” (QS 95:4-5) Kata taqwiim mempunyai asal dan akar kata yang sama dengan al-qawiim yang berarti bagus, benar atau lurus.
Nafs Insani mengarahkan manusia kepada Shirath al-Mustaqim, jalan yang lurus ke kesempurnaan Insaniyyah (al-Jannah). Sebaliknya Nafs Basyari menjatuhkan manusia ke derajat yang paling rendah, Asfala Safilin (serendah-rendahnya derajat).
Tarikan-tarikan yang berlawanan arah inilah yang senantiasa terjadi dalam diri (Nafs) manusia. Karena itu jika manusia yang tidak segera mengambil langkah pasti untuk bermujahadah (berjihad terhadap Nafs basyarinya) niscaya ia akan dihinggapi keraguan. Ia menjadi seperti tangkai pendulum yang berayun-ayun antara ke dua arah itu.
Nafs manusia diberikan kehendak bebas untuk memilih, Ruh Allah (kecenderungan Insani-nya) atau tanah (fisik:kecenderungan basyari-nya) “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (QS 90:10),
“Sesungguhnya beruntunglah manusia yang mensucikan Nafs (diri) nya dan sesungguhnya merugilah dia yang mengotori Nafs-nya” (QS 91:9-10)
Jika manusia sanggup memenuhi panggilan (ilham) Ruh-Nya niscaya ia akan menjadi makhluk Tuhan yang terbaik. Kita bisa melihat manusia-manusia yang telah mencapai kemuliaan ruhani, keagungan, keindahan, kesadaran, kesalihan, keberanian, keimanan, kedermawanan, toleransi yang tinggi serta integri¬tas watak yang menakjubkan.
Tidak ada zat, baik material maupun immaterial, malaikat ataupun jin yang mampu berkembang sedemikian rupa! Namun kita juga bisa melihat manusia-manusia keji, nista, lemah, pengecut, dan kriminal, merosot lebih rendah dan lebih jelek dari hewan, kuman bahkan setan! Lihatlah manusia-manusia semacam Fir’aun, Hitler, Saddam Hussein, George W. Bush, Ehud Olmert, atau bahkan Syimr al-Jausan. “Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi” (QS 7:179)
Nafs yang terseret kepada kecenderungan-kecenderungan basyarinya saja niscaya terselimuti oleh kegelapan. Nafs yang seperti inilah inilah yang wajib dilupakan di dalam hadits di atas yang dikatakan oleh Rasulullah saww.
Di dalam al-Qur’an, Nafs yang terseret kepada kecenderungan basyari yang melampaui batas adalah Nafs Ammarah, atau nafs yang memerintah kepada kejahatan atau pun kemunkaran.
Buanglah seluruh keakuanmu,
karena ia tidak lain adalah rumput liar dan belukar
Pergilah, bersihkan relung hatimu,
tatalah sebagai tempat semayam Sang Kekasih.
Ketika kau beranjak, Dia akan masuk,
dan kepadamu, dengan keakuan yang terbuang,
Dia kan menyingkap Keindahan-Nya.
(Mahmud Syabistari, Kebun Mawar Rahasia h. 112, Gulshan i Raz)
Catatan Kaki :
1. Mizan al-Hikmah 6:142-143
2. Bihar al-Anwar 2 : 32
3. Mizan al-Hikmah 6 : 142
4. Sachiko Murata, The Tao of Islam, Edisi terjemahan, Penerbit Mizan, Cet II
Sepetember 1996
5. Mustadrak al-Wasail 2 : 531

Kamis, 28 Januari 2010

SAMKHYA: FILSAFAT YANG MENGAJARKAN OPTIMISME

2010 January 19
by ahmadsamantho

Oleh: Prof.Dr. Abdul Hadi W. M.

Dalam filsafat India yang bersumber dari kitab suci Hindu — Veda, Brahmakanda dan Upanishad – terdapat enam aliran utama yang menjadi cikal bakal aliran-aliran lain dalam masa-masa berikutnya. Keenam aliran atau madzab itu ialah Nyaya, Vaishesika, Samkhya, Yoga, Mimamsaka dan Vedanta. Aliran yang akan kita bicarakan sekarang ialah Samkhya, lazim dipasangkan dengan aliran lain yang merupakan penjabarannya dalam bentuk disiplin kerohanian yaitu Yoga.

Arti kata Samkhya ialah jumlah, hitungan, sintesa atau perpaduan. Istilah samkhya dijumpai dalam Upanishad dan Mahabharata. Nama ini diberikan kepada sistem filsafat ini karena filsof-filosof Samkhya secara umum mengemukakan bahwa terjadinya alam semesta beserta perkembangan dan perubahan obyek-obyek yang ada di dalamnya didasarkan atas 25 asas atau kategori keberadaan. Corak filsafatnya bersifat dualis dan sering disebut sebagai sistem filsafat yang mengajarkan teori evolusi (Parinama Vada).
Ada anggapan bahwa Samkhya merupakan sistem filsafat Hindu yang paling tua. Pengasasnya ialah Rsi Kapila Muni, hidup sekitar tahun 700-600 SM. Nama Kapila dikaitkan dengan nama kota Kapilavastu, pusat pemerintahan Dinasti Maurya da kota tempat lahirnya Siddharta Gautama, yang lahir sekitar satu setengah abad setelah Kapila Muni. Pengaitan ini bukanlah tanpa alasan. Filsafat Buddha banyak mengambil dasar dari ajaran filsafat Samkhya yang non-theistik.

Kapila Muni dan Ajarannya
Menurut legenda, Rsi Kapla Muni merupakan orang pertama yang menyangkal faham monisme (advaita) yang terbaca dalam Upanishad dan meng Istilah Samkhya juga diartikan sebagai “vicara” atau “perenungan filsafat”. Selain berkecenderungan non-theistik dan berpandangan bahwa materi (prakrti) kekal sebagaimana ruh (purusha), Samkhya juga memiliki ciri yang membedakannya secara menyolok dari sistem filsafat Hindu yang lain. Yaitu penekanannya pada persoalan dualitas dan pluralitas. Pendukung sistem ini menyangkal bahwa dunia ini dicipta dari tiada atau ketiadaan.
Dalam mencari pengetahuan yang benar, filosof Samkhya menggariskan tiga metode. Yaitu: (1) Pratyaksa pramana atau pengamatan langsung; (2) Anumana pramana (penyimpulan); (3) Apta Vakya atau penegasan yang pantas, berlandaskan apa yang diajarkan kitab Veda atau ucapan para maharesi.
Penekanan pada dualitas dapat dilihat pada ajarannya yang menyatakan bahwa awal terjadinya dunia atau alam semesta ialah purusha dan prakrti. ‘Purusha’ ialah asas ruhani, dan ‘prakrti’ ialah asas kebendaan atau jasmani. Keduanya tanpa awal (anadi) dan tanpa akhir (ananta). Purusha adalah ruh yang jumlahnya banyak, sedangkan prakrti ialah materi yang kacau balau yang tidak berbentuk, jumlahnya tidak terkira banyaknya dan berpusing dalam kegelapan. Prakrti mendapat bentuk tertentu setelah bercampur dengan purusha. Dalam kehidupan keduanya tidak dapat dibedakan dan dipisahkan. Jika purusha dan prakrti terpisah maka kehidupan akan berakhir dan kelahiran baru akan mulai.
Tentang purusha dan prakrti dapat diuraikan seperti berikut. Purusha itu ‘nyata’ (sat) dan dapat dikatakan sebagai suatu kesadaran yang meresapi segala sesuatu dan abadi. Prakrti adalah pelaku kehidupan yang mengandung unsur ruhani dan benda. Arti prakrti ialah yang mula-mula dan yang mendahului semua kejadian. Pra= sebelum; kri= membuat sesuatu yang mirip, yaitu dengan alam maya yang digambarkan oleh Vedanta. Prakrti disebut pradhana, pokok asal segala sesuatu. Bergerak dan berkembangnya prakrti menjadi obyek-obyek hidup yang banyak di alam semesta, disebabkan adanya tiga guna atau sifat (triguna) yang melekat dalam dirinya dan ketiganya bersama-sama melakukan aktivitas tanpa henti. Tiga guna itu ialah Sattva, Rajas dan Tamas.
Sattva ialah kesesuaian, keseimbangan, kebaikan, kepantasan atau kepatutan. Rajas ialah kegiatan, kegairahan, gerak tanpa henti, tindakan maju ke depan. Tamas ialah kelesuan, kebekuan, kekebalan dan kekokohan. Apabila sattva yang berpengaruh, tumbuhlah gejolak, keresahan, gonjang-ganjing dan dinamika. Rajas dinyatakan sebagai raga dvesa yaitu suka dan tidak suka, cinta dan benci, senang dan tidak senang, menarik simpati dan memualkan. Tamas menimbulkan kelesuan, kemalasan, kemasabodohan, kegiatan yang dungu dan ketidakpedulian. Ketiga guna itu ada pada manusia dengan keseimbangan yang berbeda-beda, serta menentukan watak, perangai dan pribadi seseorang. Dengan kata lain Sattva ialah unsur terang atau cahaya. Rajas ialah unsur aktif dan penggerak. Tamas ialah unsur gelap dan berat’
Sebagai sistem filsafat, Samkhya Darsana memiliki banyak pendukung dan penafsie. Di antara tokoh-tokoh yang menonjol sebagai penafsir dan perumus-perumus baru ajaran Kapila Muni ialah Isvara Krisna (abad ke-3 M), Vacaspati Misra (abad ke-9 M), Ganganatha Jha (abad ke-10 M), Anirudha (abad ke-15), Vijnana Bhiksu (abad ke-16 M), Mahadeva Vedantin (abad ke-18 M) dan masih banyak lagi yang lain.

Teori Evolusi
Sebagai sistem filsafat yang menguraikan masalah evolusi, yaitu perkembangan dan perubahan segala sesuatu yang ada di alam semesta, barangkali dapat dijelaskan sebagai berikut. Samkhya bertolak dari kategori-kategori jamak yang dijumpai dalam kitab Veda dan dikemukakan secara rumit dan kompleks oleh filsafat Nyaya dan Vaisesika. Berdasarkan kategori tersebut kemudian filosof Samkhya menyederhanakannya menjadi dua asas, yaitu purusha dan prakrti. Purusha adalah subyek yang mengetahui segala sesuatu, sedangkan prakrti adalah obyek yang diketahui.
Prakrti yang sering diartikan sebagai alam merupakan material primordial yang merupakan asas dari semua keberadaan obyektif, baik keberadaan jasadi maupun keberadaan jiwani (psikologis). Pakrti adalah obyek yang senantiasa berubah dan merupakan sumber dari alam yang menjadi atau kejadian-kejadian di alam semesta. Di dalamnya semua keberadaan yang ditentukan tersimpan dan tersembunyi sebagai benih potensial bagi terjadinya sesuatu. Ia bukan wujud, tetapi suatu daya atau kekuatan yang selalu dalam keadaan tegang. Ketegangan yang dialaminya disebabkan adanya tiga guna (sifat asas) yang melekat dalam dirinya secara abadi. Ketiga guna itu ialah sattva, rajas dan tamas.
Dengan perkataan lain prakrti adalah tali senar yang menjadi sarana kegiatan atau permainan tiga guna itu. Perpaduan ketiga guna ini melahirkan kesenangan, duka, kebencian, kemalasan dan seterusnya tergantung guna yang mana yang paling kuat. Bila ketiganya seimbang maka tidak ada gerak dari prakrti, alias diam dan hening. Bila keseimbangan terganggu, ketegangan akan muncul dan bermulalah proses evolusi itu.
Seperti telah dijelaskan prakrti merupakan kekuatan buta yang tidak memiliki kesadaran. Ia bisa beevolusi atau menjadi sesuatu obyek actual disebabkan hadirnya purusha pada dirinya. Purusha adalah kebuatan sadar dan kehadirannya bagi prakrti akan membuat prkrti melakukan aktivtas dan gerakan. Keseimbangannya menjadi goyah. Purusha sering diumpamakan orang lumpuh yang mempunyai penglihatan terang. Prkrti adalah orang yang kuat berjalan tetapi buta. Apabila purusha mengendarai prakrti maka mulailah prakrti aktif dan mengenal arah dalam melakukan aktivitasnya.
Proses evolusi dapat dilukiskan tatanan menurun sebagai berikut: Dari perpaduan purusha dan prakrti lantas muncul mahat. Mahat arti harfiahnya ialah besar atau maha besar. Mahat ini adalah aktualitas yang muncul dari potensi prakrti setelah hadirnya purusha. Dengan munculnya mahat maka evolusi bermula. Mahat merupakan dasar dari buddhi (inteligensia). Dalam proses awal evolusi ini, mahat mengeluarkan aspek-aspek semesta dari prakrti, sedangkan buddhi merupakan padanan dari aspek semesta yang terdapat jiwa manusia. Buddhi bukan purusha, tetapi atman (jiwa individual) yang jumlahnya banyak dan merupakan substansi halus dari semua proses kehidupan mental. Dari buddhi, muncul ahamkara (rasa keakuan) dari segala sesuatu yang merupakan prinsip individuasi.
Ada tiga garis perkembangan yang muncul sebagai akibat dari gerak ahamkara, yaitu sebagai berikut:
Pertama, dari berkembang dan berubahnya sattva muncul manas (pikiran yang diekspresikan), disertai lima indera dan organ motoris yang merupakan sarana gerakan atau tindakan. Kedua, dari berkembang dan berubahnya tamas muncul ahamkara (hawa nafsu, rasa keakuan) dan lima unsur halus, selanjutnya lima unsure kasar. Ketiga, rajas mensuplai energi terhadap kedua perkembangan tersebut.
Demikianlah proses evolusi dari prakrti, setelah campur tangan purusha, menjelma 24 kategori yang keseluruhannya adalah sebagai berikut: (a) Prakrti ; (b) Mahat, artinya yang agung, dalam jiwa manusia disebut buddhi, yang perannya ialah mengatur informasi yang diterima dari indera. Buddhi (budi) disebut juga sebagai common sense, akal sehat; (c) Lima organ indera – 5 kategori; (d) Lima organ motoris atau penggerak tubuh: alat bicara, tangan, kaki, alat pelepasan dan alat perkembangan tubuh – semuanya 5 kategori; (e) Lima unsur halus sebagai padanan panca indera, yaitu obyek penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan pencecapan; (f) Lima unsur kasar yang berasal dari lima unsur halus, yaitu ‘ruang’ dari penglihatan, ‘api’ dari penglihatan, ‘udara’ dari perabaan, ‘air’ dari pencecapan dan ‘tanah’ dari penciuman – semuanya 5 kategori. Mahat muncul langsung dari alam; (g) Ahamkara, prinsip ego muncul dari mahat sebagai akibat kerja tamas.
Atman adalah pribadi yang dialami dan mengalami, diri yang dibatasi oleh jasmani dan pancaindera. Ia merupakan bagian dari alam dunia. Setiap atman dalam diri jasmaninya memiliki tubuh halus yang dibentuk dari sarana mental. Pancaindera termasuk ke dalam kategori tubuh halus. Ada pun unsure halus yang ada pada alam sebagai akibat dari prkrti memiliki tiga guna juga seperti prkrti. Karena kehadiran purusha maka atman atau diri individual yang empiris terdiri dari dua perkara, yaitu roh yang merupakan wakil dari purusha dan badan jasmani yang merupakan aktualisasi prkrti.
Karena lupa pada kodrat asalnya, purusha dalam diri manusia sering meluluhkan dirinya dalam pikiran, perasaan dan tindakan yang membuat dia (roh) tidak bebas. Pembebasan purusha atau atman dapat dilakukan apabila seseorang mampu menarik rintangan yang menghalangi purusha merealisasikan dirinya secara penuh. Realisasi diri secara penuh dapat dilakukan melalui disiplin diri seperti meditasi dan samadhi, serta melakukan kebajikan atau dharma.Tetapi sistem ini tidak menjelaskan bagaimana bentuk disiplin diri dan samadhi yang harus dilakukan. Keterangan tentang itu dikemukakan dalam filsafat Yoga, karenanya Samkhya selalu dipasangkan dengan Yoga.
Jika dirumuskan prinsip-prinsip dasar filsafat Samkhya menjadi sebagai berikut:
1. Apa saja yang ada selalu ada, apa saja yang tidak ada, ia tidak akan pernah ada;
2. Perubahan meliputi segala sesuatu yang berubah;
3. Secara hakiki, akibat dari terjadinyaa sesuatu itu sama saja dengan sebab- sebab jasmani dari
terjadinya sesuatu;
4. Segala sesuatu yang aneka ragam dapat dikembalikan kepada tiga guna atau sumbernya,
sedangkan sesuatu yang tidak dapat dikembalikan kepada sumber, bebas (memiliki kewujudan
tersendiri) sekalipun (keberadaan masing-masing saling tergantung;
5. Materi selalu dalam gerak yang menjadi secara terus-menerus;
6. Pikiran tidak berasal dari materi, materi tidak berasal dari pikiran. Keberadaan pikiran bebas dari materi, walaupun memerlukan materi.
Samkhya dalam Bhagavat Gita
Faham Samkhya mengenai dharma tidak saja dapat dijumpai dalam sutra-sutra dan karika yang disusun oleh para filosof yang secara nyata berpegang pada sistem filsafat ini. Butir-butir hikmah dan ajaran filsafat ini juga dapat dijumpai dalam kitab Mahabharata dan Bhagavad Gita. Dalam Bhagavad Gita malahan diletakkan pada bagian awal perbincangan, yaitu percakapan kedua antara Krishna dan Arjuna. Dalam percakapan ini Krishna mengatakan kepada Arjuna bahwa mereka yang mengerti tentang hakikat kehidupan dan dharma, tidak akan pernah bersedih menghadapi baik kematian maupun kehidupan. Kematian hanyalah pergantian badan jasmani, dan jiwa yang menghuni badan jasmani ini akan berpindah-pindah ke badan jasmani lain, bagaikan mengambil baju lama dengan baju baru (Nyoman S. Pendit 1978).
Lebih jauh Krishna mengatakan agar Arjuna memusatkan pikiran pada kesucian, bertindak tanpa mengharapkan pahala kerja, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Dia Yang Maha Tahu. Disarankan pula agar Arjuna meneguhkan iman untuk bisa samadhi, menghilangkan nafsu rendah, rasa takut dan angkara murka, serta mampu menjaga keseimbangan jiwa menghadapi senang dan duka. Penulis Bhagavad Gita pada bagian ini menggandengkan ajaran filsafat Samkhya dan amalan disiplin rorani dari Yoga Darsana.
Sribhagavan avacha:
Kutas tva kasmalam idam
Vishame samupasthitam
Anaryajustam asvagyam
Akirtikaram arjuna
Klaibyam masma gamah partha
Nai `tat tvayy upapadyate
Kashudra, hridayadaurnalyam
Tyaktvo `ttishtha paramtapa
Artinya:
Sri Bhagawan (krishna) berkata:
Dari mana duka dan kelemahan hati datang
Pada saat-saat gentiing seperti ini?
Ini bukan semangat seorang kestria
Tidak terpuji dan memalukan, o Arjuna!
Jangan biarkan kelemahan itu, o Parta
Sebab itu tidak sesuai bagimu
Enyahkan rasa lemah dan kecut itu
Bangkitlah, o pahlawan jaya
Selanjutnya Krishna mengatakan dengan meminjam kearifan dari filosof Shamkya:
Tidak pernah ada saat di mana
Aku, engkau dan para raja ini tidak ada
Dan tidak akan ada saat di mana
Kita berhenti ada, sekalipun sesudah ini
Setelah memakai badan ini dari masa kecil
Hingga masa muda dan tua
Demikian jiwa berpindah ke badan lain
Ia yang budiman tidak akan tergoyahkan
Hubungan dengan benda jasmani, o Arjuna
Menimbulkan panas dan dingin, senang dan duka
Dan semua itu datang dan pergi, tidak abadi
Karenanya pikullah, wahai Kuntiputra
Ajaran tentang ‘eternal recurrence’ (perulangan kekal) yang dikemukakan filosof Jerman Fridriech Nietzsche, yang lebih dua ribu tahun sebelumnya telah dikemukakan oleh Rsi Kapila Muni, bergaung kembali dalam Bhagavad Gita. Begitu pula keyakinan bahwa Dzat Maha Tahu yang dipandang meresapi segala sesuatu, bertolak dari pandangan filsafat Samkhya. Misalnya sebagaimana dikemukakan dalam percakapan kedua dalam kitab itu seperti berikut:
Apa yang tiada, tidak akan pernah ada
Apa yang ada, tidak akan berhenti ada
Keduanya hanya dapat dimengerti
Oleh orang-orang yang melihat kebenaran
Ketahuilah yang meliputi semua ini
Tidak dapat dihancurkan
Tidak seorang pun dapat memusnahkan
Dia yang tidak mengenal kemusnahan
Badan jasmani — yang membungkus Dia
Akan binasa – Dialah yang abadi
Tak terhancurkan dan tak terhingga
Sebab itu bertempurlah, wahai Bharata!
Keabadian Dia Yang Maha Tahu, yang identik dengan Purusha, dan sifat-sifat-Nya yang tidak bisa dihancurkan oleh apa pun dan siapa pun diuraikan sebagai berikut:
Nai `nam chhindantii sastrani
Nai `nam dahati pavakah
Nai chai `nam kledyanty apo
Na soshayati marutah
Senjata tidak dapat melukai-Nya
Api pun tidak bisa membakar-Nya
Angin tidak dapat mengeringkan Dia
Air tidak dapat membuat Dia basah
Dalam bait-bait dari Bhagavad Gita jelas bahwa selain pengetahuan yang benar tentang dunia dan hakikat kehidupan, manusia perlu menjalankan dharma atau tugas kewajibannya di dunia memerangi kejahatan dan menegakkan kebajikan. Dalam ajaran Islam istilahnya ialah amar ma’ruf nahiy munkar wa tu’minuna billah (Menegakkan kebaikan, memerangi kemungkaran, dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa).

Tasawuf di Indonesia

2010 January 20
by ahmadsamantho

Dr. Haidar Bagir, MA

Spiritualisme memang tidak pernah mati. Bukan hanya karena ia terus diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi lainnya dari kalangan masyarakat yang masih memegang tradisi ini. Tapi, ia ternyata justru muncul di pusat budaya yang sesungguhnya sedang kencang menuju ke arah yang sama sekali berbeda dengannya. Seraya tidak kehilangan appeal-nya di ekonomi subsistem pedesaan, ia justru secara tak terduga me¬nyembul di sana-sini di tengah-tengah materialisme modern perkotaan.

Kemakmuran, kemajuan teknologi, kemudahan dalam penyelenggaraan kehidupan sehari-hari, tapi juga kompetisi makin ketat yang melahirkan pressure yang terkadang tidak terta¬hankan, gaya hidup instan dan serba cepat—termasuk hal konsumsi makanan—yang tidak sehat dan menimbulkan stres, kekurangan waktu untuk memelihara kebersamaan dalam keluarga dan bersosialisasi, kerusakan ekologis, dan sebagainya.
Pada gilirannya, semua ekses itu menggoyahkan sendi-sendi kehidupan keluarga dan masyarakat. Se¬bagaimana dicatat oleh Tim American Psychological Association (APA), ketika mengajukan proposal mengenai perlunya dikembangkan psikologi perkotaan (urban psychology), kemajuan di perkotaan ternyata telah membawa juga bersamanya alienasi manusia modern dari dirinya sendiri. Pada puncaknya, hal ini meningkatkan anxiety, depresi, dan problem-problem mental-psikologis lainnya.
Lepas dari itu, kekosongan yang dirasakan justru ketika manusia telah mencapai kemakmuran material, seolah mengajarkan betapa kebahagiaan sesungguhnya tidak terletak di sana, melainkan di bagian yang lebih bersifat rohani (spiritual).
Memang, di samping maraknya berbagai respons yang bersifat deviatif—termasuk penyalahgunaan obat bius dan bunuh diri—manusia modern mengembangkan apa yang oleh Naisbitt disebut sebagai gejala high tech-high touch. Dalam konteks ini, arus balik itu mengambil bentuk menjamurnya paguyuban spiritual. Dan di antara berbagai orientasi spiritualisme, tak urung sufisme juga mendapatkan pengikutnya sendiri di kota-kota besar.
Pertumbuhan kota dan urbanisasi di negara berkembang kiranya hanya mengikuti apa yang terjadi di negara yang lebih dahulu maju. Indonesia tidak terkecuali. Barangkali menguatnya gejala kecenderungan kepada spiri¬¬tualisme perkotaan—dalam hal ini, sufisme perkotaan—di Indonesia hanya ketinggalan paling lama dua dekade dibanding gejala yang sama di negara-negara maju. Pertama tentu akibat perkembangan komunikasi dan globa¬lisasi di antara berbagai bagian dunia, yang menjadikan apa yang terjadi di suatu bagian dunia selalu memberikan pengaruh kepada bagian dunia lainnya.
Selain itu, di Indonesia sendiri muncul penyebab-penyebab yang sama, yang telah menghasilkan kecende¬rungan kepada spiritualisme seperti yang telah lebih dulu berkembang di negara maju. Itulah menguatnya kelas menengah kota sebagai hasil peningkatan secara pesat kemakmuran masyarakat berkat keberhasilan pemba¬ngunan ekonomi Orde Baru. Maka berkembangnya apa yang kemudian disebut urban sufism (sufisme perkotaan) adalah hampir-hampir bersifat alami. Kita ingat betapa sejak awal 1980-an buku tasawuf amat digandrungi oleh pembaca muslim perkotaan. Kegandrungan ini terbukti tidak hanya terbatas pada kelompok masyarakat kelas menengah yang memang berasal dari kalangan yang biasa disebut santri, melainkan—meminjam Geertz—juga dari sebagian kalangan priayi dan abangan yang me¬ngalami gejala born-again muslims.
Jauh sebelum itu, perlu kita ingat juga bahwa penyebaran Islam pertama kali di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari tasawuf. Para penyebar utama Islam awal adalah kaum sufi. Menurut versi ini, para pendakwah Islam awal adalah keturunan Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir – cucu Imam Ja’far al-Shadiq yang berhijrah ke Hadhramawt – yang membawa suatu aliran tasawuf yang belakangan disebut sebagai Tarekat Alawiyah. Bukan hanya Wali Songo dan para pendakwah awal lainnya di Pulau Jawa, bahkan beberapa tokoh tasawuf di luar Jawa secara langsung atau tidak juga berada di bawah pengaruh tarekat ini. Tarekat Alawiyah, dan berbagai tarekat mu’tabarah lainnya, dipercayai sebagai termasuk dalam apa yang disebut sebagai tasawuf Sunni, yakni aliran yang terutama berada di bawah pengaruh Imam Ghazali dan sufi-sufi moderat lainnya, dan pada puncaknya menekankan pada pembinaan akhlak mulia.Tasawuf dari Tarikat Alawiyah inilah yang kemudian membentuk kecenderungan tasawuf di kalangan NU di Indonesia.
Namun, perlu diingat pula bahwa tasawuf falsafi – yang berkembang pada zaman yang sama di negeri ini – sempat menjadi pesang yang tangguh bagi tasawuf Sunni seperti disinggung di atas. Kedua aliran tasawuf ini, meski dalam beberapa hal berbagi pemahaman dan keyakinan yang sama, tak jarang mengalami konflik. Di antara yang paling menonjol adalah perdebatan di Aceh antara Hamzah Fansuri – yang mewakili tasawuf falsafi — dan Nuruddin al-Raniri – yang mewakili taswwuf Sunni — hingga berlanjut ke para murid dan pengikut mereka. Tak bisa dipungkiri bahwa tasawuf falsafi yang berkembang di Indonesia amat dipengaruhi oleh ’irfan sebagaimana diajarkan oleh Ibn ‘Arabi.
Bahkan, ada kemungkinan tasawuf Sunni yang direpresentasikan oleh Tarekat Alawiyah pun tidak benar-benar telepas dari pengaruh ‘irfan Ibn “Arabi. Terdapat catatan bahwa salah seorang kakek buyut Al-Haddad dan keturunan ke-8 Imam Ahmad bin ‘Isa yang bernama Muhammad bin Ali, bergelar Al-Faqih al-Muqaddam, sesungguhnya pada awalnya juga berada dalam tradisi tasawuf Ibn ‘Arabi ini. Ada anekdot yang menceritakan bahwa al-Faqih al-Muqaddam pernah diangkat murid secara ’Uwaysi (tanpa pernah bertemu muka) oleh Syaikh Abu Madyan, guru Ibn ’Arabi, yakni kettika Syaikh Abu Madyan mngirimkan khirqah kepada Al-Muqaddam sebagai tanda pengangkatan al-Faqih al-Muqaddam sebagai muridnya. Hanya saja, tarekat ’Alawiyah percaya mengenai perlunya membagi pengetahuan kesufian ke dalam dua kelompok. Yang pertama adalah pengetahuan kesufian yang boleh diakses kaum awam. Yang kedua, yang hanya boleh diakses oleh kaum khawwash dan khawwash al khawash. Nah, pemikiran Ibn Arabi termasuk yang kedua.
Bahkan, lepas dari klaim kemenangan tasawuf Sunni, terbukti bahwa fenomena tasawuf falsafi melancarkan pengaruh amat penting dalam perkembangan aliran kebatinan, setidaknya di Pulau Jawa. Dalam hubungan itu, penulis buku ini percaya bahwa tidak semua aliran kebatinan berasal dari bekerjanya pengaruh Hinduisme. Bahkan, sesungguhnya sebagian-besarnya justru berakar pada tasawuf (khususnya, tasawuf falsafi) dan, karena itu, masih memiliki kesejalanan dengan ajaran Islam. Demikianlah, buku ini merupakan suatu sumbangan penting bagi penelitian sejarah Islam awal dan akar tasawuf di Indonsia.
Kembali kepada gejala kebangkitan-kembali tasawuf di Indonesia, kita pun bertanya-tanya : jjenis tasawuf apa yang sebaiknya dikembangkan di Indonesia?
Fazlur Rahman – diikuti antara lain oleh alm. Cak Nur dan Azyumardi Azra pernah menyebut-nyebut neo-sufisme, yakni jenis tasawuf yang telah diperbaharui kembali. Ciri utama jenis tasawuf ini adalah tekanannya yang begitu kuat pada cita moral sosial, dasar syariatnya yang amat kukuh, dan semangat kosmopolitanisme serta toleransinya yang mumpuni. Iklim demikian menandai puncak pendamaian antara tasawuf dan syariat yang sebelumnya telah dirintis Al-Qusyairi dan diperjuangkan Al-Ghazali.
Saya sendiri dan beberapa teman pernah menawarkan suatu nama baru bagi suatu pemahaman tasawuf yang disebut sebagai tasawuf positif. Tasawuf positif adalah sebuah pemahaman atas tasawuf dalam upaya mendapatkan manfaat dari segala kelebihan dalam hal pemikiran dan disiplin spitiual yang ditawarkannya untuk pendekatan diri kepada Allah yang ditawarkannya, seraya menghindar dari ekses-eksesnya, sebagaimana terungkap dalam sejarah Islam. Untuk memberikan gambaran yang lebih konkret, berikut akan dipaparkan ringkasan enam tema utama tasawuf positif.
Selain menyodorkan pemahaman tentang konsep tentang Allah yang seimbang antara sifat jalalliyah (kedahsyatan yang menggentarkan, tremendum) dan jamaliyah (keindahan yang memesona, fascinans) – yakni, yang melahirkan pemahaman Islam yang lebih spiritual/esoteris — tasawuf positif menawarkan beberapa perspektif lain. Termasuk di dalamnya penempatan syariat sebagai unsur integral tasawuf. Hal ini penting mengingat lahirnya ekses tasawuf negatif – yang sayangnya banyak juga mwarnai “tasawuf perkotaan” yang berkembang belakangan ini — berupa sikap kurang mementingkan syariah. Yakni, kesesatan-pikir yang meyakinkan para penganutnya bahwa segala bentuk ibadah mahdhah itu hanyalah bagi orang awam. Dengan kata lain, seorang yang sudah mencapai maqam tertinggi tidak lagi perlu syariat. Tasawuf positif justru hendak menunjukkan bahwa tak ada tasawuf tanpa syariat.Syariat, sebaliknya, adalah satu-satunya jalan menuju tasawuf.
Dalam tasawuf positif, ‘irfan atau hikmah juga disodorkan sebagai alternatif terhadap sufisme anti-intelektual. Dengan kata lain, tasawuf justru tekait erat dengan intelektualitas dan rasionalitas – bukan dengan berbagai jenis klenik dan takhayul. Sejalan dengan itu, tasawuf positif menekankan bahwa alam semesta sebagai tanda-tanda Allah. Tasawuf positif menekankan bahwa alam adalah bejana/wadah yang di dalamnya ayat-ayat Allah tersebar, sehingga ia justru mempromosikan observasi saintifik dan penggunaan akal secara benar.
Yang tak kalah penting, tasawuf positif percaya bahwa buah tasawuf adalah akhlak mulia Kadang-kadang orang menisbahkan cara hidup seorang sufi dengan pakaian atau penampilan-penampilan fisik lainnya. Padahal esensi tasawuf adalah akhlak, yakni terkait dengan kemampuan kita mengontrol hawa nafsu. Seorang sufi sepenuhnya mengontrol emosinya sehingga menjadikan dirinya sabar, bebas dari kesombongan, hasad, dengki, iri hati, marah dan lain sebagainya.Bukan hanya itu, seorang yang berusaha menjalani cara hidup tasawuf akan memiliki sikap antikemewahan, apalagi perolehan harta lewat cara-cara yang melanggar syari’at.
Seperti neo-sufisme yang disinggung di atas, tasawuf positif pun meyakini bahwa seorang sufi yang baik sekaligus adalah makhluk sosial. Belajar dari Nabi Muhammad Saw, seorang sufi yang baik sama sekali tidak menyangkal kehidupan dunia, melainkan justru menjadikannya sebagai jalan menuju Allah Swt. Dalam tasawuf positif, yang tidak kalah penting dari akhlak individual dan kegiatan spritual adalah amal saleh, yaitu amal-amal untuk memperbaiki kualitas lingkungan dan memberikan sumbangan sebesar-besarnya bagi orang banyak.
Akhirnya, ada satu hal penting yang—untuk keperluan akademis maupun praktis—perlu dijernihkan. Ba¬nyak orang, peneliti asing maupun peneliti lokal yang mengikutinya, cenderung menggunakan (baca: merancukan) istilah sufisme (tasawuf) untuk beberapa hal yang sebetulnya tak sama persis. Mereka kadang memahami dan menggunakan istilah sufisme untuk menyatakan aspek teoretis dan filosofis dari esoterisme Islam, yang sesungguhnya paling tepat disebut sebagai ’irfan (gnostisime). Terkadang mereka mengidentikkannya dengan aspek lebih praktis dari tasawuf, yakni suluk (disiplin spiritual)—yang bisa diselenggarakan baik secara individual maupun berkelompok. Yang belakangan lebih berhubungan dengan manifestasi sosiologis dalam bentuk orde tasawuf (tarekat). Bahkan terkadang hanya dengan akhlak ataupun kesalehan (pietisme) yang bisa dilakukan oleh setiap muslim yang baik, tak peduli apakah mereka memiliki kecenderungan kepada sufisme ataupun tidak (termasuk kelompok ini bahkan kaum Wahhabi yang amat antitasawuf, ataupun Jamaah Tabligh yang menekankan pada kesalehan semata).
Penjernihan ini kiranya perlu demi menghindarkan pemahaman yang tidak fair kepada sufisme, yang hanya dapat memperpanjang berabad-abad sikap permusuhan dan penyesatan sebagian kelompok muslim kepada ge¬rakan atau aliran tasawuf, yang sempat menghalangi tasawuf dari mendapatkan pengakuan kembali oleh mainstream muslim. Penjernihan seperti ini juga perlu agar kita dapat menawarkan perspektif yang lebih jernih tentang berbagai aliran tasawuf dan, pada saat yang sama, tentang penyimpangan-penyinpangan yang mungkin terjadi darinya.Perlu dibedakan dengan jernih antara taawuf falsafi – atau ’irfan — dengan tasawuf Sunni yang mungkin lebih bersifat suluki, tasawuf akhlaki, tarekat, dan penyimpangan-penyimpangan darinya
________________________________________

Minggu, 17 Januari 2010

HASTA BRATA

By alang alang Kumitir

Marsudi Mardawaning Laku Jantraning Jagad Sakisine
Wong dadi temanten kuwi prasasat kaya rikala winisudha dadi raja sedina ngalami lenggah jejer karo si garwa sigarane nyawa [wong nyawa kok disigar apa ya bisa, gek nyigare ya nganggo apa] nglenggahi dhampar dhenta pinalipit ing retna kinebutan lar badhak [wong badhak kok ana lare, gek lare pundi niku] kanan kering dening patah sakembaran [hemm ...bayi kembar siam ayake, bayine siji sing dadi bapake loro, oleh-oleh saka arisan RT, empluk wadhahe uyah, wetenge njembluk isine bocah].

Sakarone pinaringan sangsangan puspa rinonce kang acarup sangsangan naga karongrong [dilem nganggo nagasari kareben ora ceblok], tumekeng jaja nganti pamidhangan, yen cinandra kaya taksaka ganda laya disekseni para pinisepuh, para wandu-wandawa sarta para tamu kakung putri ing madyaning sasana pawiwahan.
Supaya pangantyan mau bisa lestari ngasta pusaraning bebrayan kudu nduweni gegebengan sarta paugeran kang gumathok, mangkono mungguh jejering bebrayan. Gegebengan mau kang aran HASTA BRATA, kaya katrangan ing ngisor iki:
1. Mulat Laku Jantraning Bantala:
Yen bantal kuwi tegese piranti kanggo turu. Nanging bantala kuwi tegese bumi. Kembang mawar ganda arum angambar-ngambar. Wong kang sabar penggalihe mesti jembar. Wewateke bumi iku sabar, sanadyan dipulasara, dipaculi, didhudhuki, dipestisida, lsp. nanging ora nduweni pangresula, ora sambatan, malah nudhuhake kabecikane kanthi nuwuhake thethukulan, palawija, palapendhem, tetaneman, sarta barang-barang pelikan kang pinangka dadi kas kayane kang padha mulasara.
2. Mulat Laku Jantraning Surya:
Dene wewatekane surya utawa srengenge iku tansah paring papadhang sarta aweh panguripan marang sadhengah tetuwuhan lan sato kewan lan sakabehing barang ing alam donya kang urip lan tansah mbutuhake cahya. Sing dak rembug iki bab mulat laku jantraning surya, iki beda lho karo crita ‘perselingkuhane’ Bathara Surya ing jagading pewayangan. Bathara Surya niku dewa cluthak. Tiyang sajagad empun dha dhamang kalih sekar banjare Adipati Karna. Nalika lair procot dening Kunthi linarung ing lepen, amargi lare niku undhuh-undhuhane gendhak slingkuh kalih Bathara Surya. Hladalah! Gelah-gelahing bumi panuksmaning jajalaknat, mbelegedhes wani nglanangi jagad dhewe si Surya Sasangka kuwi:-)
3. Mulat Laku Jantraning Kartika:
Kartika utawa lintang wewatekane tansah tanggon tangguh, sanadyan katempuh ing angin prahara sindhung riwut nanging ora obah lan ora gangsir, jare wong Jombang ‘menter njoh!’, tegese tangguh lan puguh, ora bakal mundur sajangkah prasasat kaya pasukan berani nekat. wani ning bandhane mung nekat, hopo hora sarap niku jenenge?.
4. Mulat Laku Jantraning Candra:
Candra Darusman kuwi jenenge penyanyi lan pangripta lagu. Lha candra sing iki tegese rembulan, wewatekane uga aweh pepadhang marang sapa bae kang lagi nandhang pepetenge budi, sarta aweh pangaribawa katentreman lan ora kemrungsung binti mbregudul. Witing klapa salugune wong Jawa, dhasar nyata laku kang prasaja.
5. Mulat Laku Jantraning Samodra:
Samodra utawa segara iku bisa madhahi apa bae kang kanjog. Sanadyan ana sampah industri lan rumah tangga, bangke asu apa bangke wong ketembak bubar melu demo [gek wujude ya ora beda banget jan jane mono], kabeh ditampa tanpa nganggo ngersola lan serik. Mila keparenga Mastoni nyuwun sih samodraning pangaksami manawi wonten klenta-klentunipun anggenipun wawan rembag ing riki.
6. Mulat Laku Jantraning Tirta:
Wewatekane tirta utawa banyu tansah andhap asor. Tansah ngupadi panggonan kang endhek, mungguh patrap diarani lembah manah lan andhap asor. Iwan Tirta kuwi perancang busana, yen aku perancang tanpa busana, asyik ‘kan bisa buat cuci mata? Kaya katrangan ing ndhuwur mau, Mas Iwan Tirta priyayine kok ya wewatekane padha karo tirta yakuwi andhap asor [sebabe dedeg piyadege wonge pancen ora dhuwur], apartemene cedhak karo apartemenku ing New York, kapan ya aku ana wektu dak golek lungsuran batike Mas Iwan.
7. Mulat Laku Jantraning Maruta:
Maruta uga diarani angin. Wewatekane tansah nalusup ing ngendi panggonan kaya mata-mata CIA, ing papan kang rumpil sarta angel klebu omah gedhe cet abang branang ing Beijing, nanging kabeh tetep ditlusuri ora ana kang kari. Mungguh tumrap lelabuhan, kepingin nyumurubi papan ngendi bae kang bisa diambah.
8. Mulat Laku Jantraning Agni :
Geni iku wewatekane bakal nglebur apa bae kang katon. Mungguhing tumrap laku bakal mbrastha apa bae kang dadi pepalang, ora nguubris babarpisan bakal anane SI suk awal Agustus. Hayo apa kang ora bakal lebur dening panase geni?
Bekti iku tegese panembah. Werdhine panembah tumanduking patrap kang jumurung marang santosaning jiwa, ati, rasa, lan budi pakerti, ora liya ya lajering rasa manteb lan jejeg netepi kwajibane. Pangerten Hasta Brata iki kang nuwuhake rasa nyawiji, jumbuhake rasa karsa lan cipta kang bakal hanjog marang wujuding karya.
Gumolonging patrap wolung prakara mau bakal nuwuhake sikep madhep manteb lan jejeg netebi dhawuhing Gusti Kang Akarya Jagad sarta ngedohi kabeh pepacuhe, tansah eling lan bisa nglarasake tumindhak karo kedale pangucap, angleluri watak sabar marang sakabehing pacoban kang tumiba, ora kepranan marang sakebehing gugon tuhon utawa anut grubyug, resik ing panyana, sepi ing pangira ala sarta lumuh ngupadi alaning liyan, lega lan narima dhumawahing pandum kanthi ora nglirwakake sengkuting pambudidaya.
Iya sikep mangkono mau kang bisa hambuka olah kridhaning rasa eling bisa lelumban ing tatanan pasrah tanpa sumendhe marang resiking nalar lan pamikir. Kanggo ngawekani laku supaya jumbuh karo gegayuhan sarta nuwuhake katentreman lan karahayon, padha bisoa nindhakake patrap liyane kang banget bisa hambiyantu nuwuhake larase bebrayan agung. Mangkono mau mungguh tuladha Hasta Brata kang pinangka piyandel sarta gegebengane Prabu Rama Wijaya kanggo ngasta pusaraning praja ing nagara Ayodya Pala.

Rabu, 13 Januari 2010

KEINDAHAN NAN MAHA INDAH 03

Ditulis dalam CANTIKNYA WUJUD pada 2:41 pm oleh Mas Kumitir

Sebagaimana padi adalah bukti biji-bijian, pula kekupu adalah bukti kepompong duhai Saki, sebagaimana arak adalah bukti ke-angguran, pula mabuk adalah bukti kepayang demikian pula Pengingat, sang dzaakir, adalah bukti akan yang diingat dan IndahNya, lukisan alam mayapada, adalah bukti akan KeindahanNya.

Cantiknya wujud adalah lautan keindahan tiada tara yang dilihat oleh hamba-hamba yang tenggelam dalam samudera IngatanNya akan diriNya sendiri. Maka, jelas dalam jiwa-jiwa mereka adalah nyanyian merdu alastu birobbikum. Apa yang mereka lihat? Samudera dalam sekendi air, bahkan segenap kehidupan dalam setetes air. Mentari dalam rembulan, bahkan Sang Maha Matahari Bersinar di dalam hati namun sejuk sekali. Kesucian Nya Yang Maha Suci dalam tasbih-tasbih, bahkan dalam desahan dan keluhan.
Kehidupan ini bagi Pengingat, adalah Nan Diingat Keberadaan ini bagi Pecinta, adalah Nan Dicinta Pengingat -lah nan Diingat, dan nan diingingat -lah pengingat Sebagaimana Layla tampak bagi Majnun, walau di mata domba, dan Majnun tampak bagi Layla walau dibalik domba.
Bahwasanya orang yang senantiasa tenggelam dalam ingatan kepadaNya adalah diriNya sendiri, sebagaimana menurut Ibn ‘Arabi (q.s.) tentang makna man ‘arafa nafsahu faqod ‘arafa robbahu, barangsiapa mengenal bahwa dirinya adalah ketiadaan, dan tiada selain Dia, maka Ia telah mengenal TuhanNya, yakni Yang Maha Ada.
Dituliskan oleh kekasih orang-orang beriman di akhir zaman, Imam Ruhullah Al-Musawi Khomeini dalam al-aadab al-ma’nawiyyah li ash-sholah, Allah Ta’aala berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam (dalam al-Kafiy); Wahai Musa, jangan tinggalkan dzikir (kepada)-Ku dalam setiap perkara. Beliau juga mengutipkan sebuah hadits mulia dari Ash-Shodiq (‘alaihis-salaamu); Allah Ta’alaa berfirman ; Wahai Bani Adam, ingatlah Aku dalam dirimu, (niscaya) aku akan ingat dirimu di dalam diri-Ku. Juga dalam Al-Kaafiy yang mulia, Beliau ( Ash-Shadiq ‘alaihis-salaamu) bersabda; Adz-dzaakiru (Orang yang berdzikir) kepada Allah ‘Azza wa Jalla di tengah-tengah orang yang lupa bagaikan orang yang mati dari orang-orang yang berperang ( al-muhaaribiina al-ghoziina).
Yakni, pedzikir kepadaNya di kalangan orang-orang yang lalai, adalah orang yang telah mati sebelum mati, telah terbuka hijab baginya bahwa dirinya tiada, dan Yang Ada hanyalah Dia Semata. Man ‘arafa nafsahu, yakni barang siapa mengenal dirinya, bahwa dirinya adalah ketiadaan, dan Yang Ada hanyalah Dia, faqod ‘arafa robbahu, maka Dia Mengenal Tuhannya, dan mengenangNya setiap saat.
Mengenang KaruniaNya, KeIndahanNya, Samudera AmpunanNya, Bahari KenikmatanNya, Mentari RahmatNya, Kelembutan WujudNya dan IndahNya yang mengaliri seluruh alam dini dengan merah delima dan merah mutiara mata-mata perindu padaNya yang memerah, pula desah-desah rintihan persatuan padaNya yang melarik ke langit, serta gelinjang-gelinjang hati-hati pecintaNya yang bak ikan mas berenang-renang di samudera luas keberadaanNya.
Sungguh Ia adalah bukti atas diriNya sendiri
sebagaimana tiada bukti atas Wujud kecuali Wujud
Sungguh Ia adalah bukti atas benarNya sendiri
maka tiada Kebenaran, kecuali Ia menjadi penglihatanmu sendiri.
orang buta menyangka ia melihat dengan matanya
orang ‘alim menyangka ia melihat dengan ilmunya
orang kasyaf menyangka ia melihat dengan bashirohnya
si faqir telah arif, Ia melihat dengan diriNya.
aku-lah bukti akan dia
dan dia-lah bukti aku
karena aku dan dia tak perlu menyatu, kerna tak pernah mendua
kerna dia dan aku tak perlu bersatu, aku -lah dia -lah aku.
oh, pemilik hati, kenali dengan cinta
oh, pemilik mantik, kenali dengan burhan
bahwa Dia Cantik, Cantik Sendiri
bahwa Dia Terang, Dengan Sendiri.
wa allohu a’lam bi ash-showwab

Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...