Rabu, 21 Juli 2010

MEMBANGUN PERCAYA DIRI PADA ANAK.

oleh : Dr. Martin Leman

Salah satu kunci utama kesuksesan seseorang adalah ada tidaknya rasa percaya diri. Berkembangnya rasa percaya diri atau citra diri yang positif dalam diri anak sangatlah penting untuk kebahagiaan dan kesuksean mereka.


Rasa percaya diri adalah bagaimana kita merasakan tentang diri kita sendiri, dan perilaku kita akan merefleksikannya tanpa kita sadari. Sebagai contoh, anak yang penuh percaya diri akan memiliki sifat-sifat antara lain :
Bersifat lebih independen, tidak terlalu tergantung orang lain
Mampu memikul tanggung jawab yang diberikan.
Bisa menghargai diri dan usahanya sendiri
Tidak mudah mengalami rasa frustasi
Mampu menerima tantangan atau tugas baru.
Memiliki emosi yang lebih hidup, tetapi tetap stabil
Mudah berkomunikasi dan membantu orang lain.
Pada sisi lain, anak yang memiliki percaya diri yang rendah / kurang, akan memiliki sifat dan perilaku antara lain :
Tidak mau mencoba suatu hal yang baru.
Merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan
Punya kecenderunganmelempar kesalahan pada orang lain
Memiliki emosi yang kaku dan disembunyikan
Mudah mengalami rasa frustrasi dan tertekan
Meremehkan bakat dan kemampuannya sendiri
Mudah terpengaruh orang lain.
Orang tua , adalah pemegang peran utama yang menentukan perkembangan rasa percaya diri anak. Sebenarnya hal ini sama sekali tidak sulit, bahkan banyak orang tua melakukannya tanpa mereka sadari sendiri. Orang tua kadang kurang menyadari betapa segala perkataan dan perbuatannya dapat memberi dampak yang besar bagi anak dalam perkembangannya. Berikut ini beberapa saran yang ada baiknya diingat dan dicoba :
Saat kita merasa senang atau bangga terhadap anak kita, katakanlah padanya. Orang tua kadang jauh lebih mudah untuk memarahi atau mengomel atas tingkah laku anak yang kurang baik. Sebaliknya bila anak melakukan sesuatu yang baik atau menyenangkan orang tuanya, sering kita tidak memberinya respons apa-apa. Seorang anak tidaklah tahu saat orang tuanya bangga atau senang pada dirinya, dan ia butuh untuk mendengar dari orang tuanya bahwa ia dikehendaki dan disayangi. Anak memiliki ingatan yang kuat terhadap perkataan orang tuanya, dan ingatan itu seakan-akan ada terus dalam kepala si anak. Demikian juga terhadap perkataan yang menyatakan kegembiraan dan kebanggan orang tuanya akan kehadirannya, akan tetap ia ingat dan menguatkan percaya dirinya.
Berilah pujian pada anak.
Gunakan pujian yang bersifat deskriptif, agar anak tahu tindakan apa yang membuahkan pujian itu. Perhatikanlah tingkah laku, perbuatan si anak, dan aktivitas anak. Saat ia selesai mengerjakan tugasnya, kita dapat ucapkan padanya, “ Ibu senang sekali karena kamu membereskan kamarmu dengan rapi…” Atau misalnya anak menunjukkan hasil gambarnya / hasil karyanya yang bagus , kita dapat ucapkan , “ Wah… gambarmu bagus … Nampaknya kamu cukup berbakat…”
Jangan sungkan-sungkan untuk memuji anak, bahkan jika di depan anggota keluarga lain dan kerabat. Pujilah tingkah lakunya yang positif, misalnya , “ wah… kamu memang anak yang ramah…” Kita juga dapat memberi pujian untuk hal yang tidak ia lakukan, misalnya ,” Ibu senang, kamu menurut untuk tidak bermain hujan-hujanan…”
Ajari anak untuk membuat pernyataan yang positif tentang dirinya sendiri. Berbicara pada diri sendiri adalah hal yang cukup penting. Bahkan para psikolog menemukan bahwa banyak kasus depresi dan kecemasan berasal dari kebiasaan untuk mengatakan hal negatif pada diri sendiri. Apa yang kita pikirkan, menentukan bagaimana perasaan kita, dan bagaimana perasaan kita menentukan perilaku kita. Oleh karena itu, adalah hal yang penting untuk mengajari anak untuk bersikap positif dalam berbicara dengan diri sendiri. Sebuah contoh berbicara pada diri sendiri yang positif misalnya, “ Tak apa-apa kita kalah dalam bermain bola kali ini,.. toh kita sudah berusaha semaksimal mungkin…. Dan tidak mungkin selalu menang dalam permainan…”
Hindari kritik yang bersifat mempermalukan si anak.Kadangkala orang tua memang harus mengkritik sikap atau perilaku anak agar ia memiliki karakter yang lebih baik. Kritik yang ditujukan pada diri anak sebagai personal dapat membuat anak merasa dipermalukan atau diserang. Oleh karena itu, lebih baik menggunakan kata “saya / ibu/ bapak” daripada kata “kamu” saat memberi kritik atau teguran pada anak. Sebagai contoh, akan lebih baik mengatakan , “ Ibu akan senang sekali kalau kamu mau membereskan kamarmu tiap pagi…” daripada mengatakan ,”Kamu ini kok jadi anak malas sekali…Tidak bisakan kamu membereskan kamarmu ?”
Ajari anak untuk membuat keputusan yang bijaksana. Tanpa disadari, setiap saat anak membuat suatu keputusan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk meningkatkan kemampuan anak dalam mengambil keputusan yang baik :
Bantu anak untuk mengenali suatu permasalahan. Tuntun anak untuk memahami suatu permasalahan dan bagaimana melihatnya.
Diskusikan dengan anak, apa saja yang mungkin menjadi solusinya. Diskusikan baik buruknya, konsekuensi, kelebihan dan kekurangan masing-masing solusi.
Biarkan anak mengambil pilihannya, bila ia telah benar-benar memahami permasalahan dan kemungkinan solusi berikut konsekuensinya.
Setelah keputusan diambil dan dijalankan, diskusikan hasilnya dengan si anak. Bantu ia mengevaluasi solusi pilihannya itu, dan tuntun ia untuk memperbaikinya di lain kesempatan.
Tips tambahan untuk membantu perkembangan citra diri yang positif dalam diri anak :
Ajari anak bahwa tidaklah mungkin setiap keinginan seseorang selalu terpenuhi. Doronglah ia untuk bisa mengatasi kekecewaan atau kemarahannya secara rasional dan proporsional , atas tidak terpenuhinya keinginannya .
Biasakan anak untuk mengutarakan kemauannya secara jelas, sehingga orang lain bisa mengerti apa yang dikehendaki. Akan tetapi tetap harus ditekankan bahwa tidak ada jaminan keinginannya itu bisa selalu terpenuhi.
Ajari anak agar ia sadar bahwa mereka sendiri yang membuat dan bertanggung jawab atas segala perasaan yang dialaminya. Tekankan padanya untuk tidak menyalahkan orang lain atas perasaan yang ia alami.
Doronglah anak untuk mengembangkan hobi dan minatnya, yang bisa memberinya kesenangan dan bisa mereka peroleh sendiri, tanpa tergantung orang lain.
Ajari anak untuk mengenali dirinya sendiri, baik kelebihan maupun kekurangannya. Tuntun ia untuk menerima keadaan dirinya, kemudian untuk memperbaiki kekurangan dirinya.
Ajari anak untuk memperlakukan orang lain dengan cara sebagaimana ia ingin diperlakukan oleh mereka.
Bantu anak untuk selalu memikirkan alternatif dan kemungkinan lain ketimbang hanya tergantung pada satu pilihan saja. Seorang anak yang hanya memiliki satu teman, jika ia kehilangan temannya itu ia akan kesepian dan merasa sendirian. Tetapi bila ia memiliki banyak teman, ia akan masih memiliki teman yang lain.
Tertawalah bersama anak, dan doronglah ia untuk mampu mentertawakan diri sendiri. Orang yang memandang dirinya dengan terlalu serius, akan menjadi kurang bisa menikmati hidup. Rasa humor dan kemampuan untuk menciptakan keceriaan, adalah hal penting yang bisa membuat hidup lebih menyenangkan. Lagipula, bukankah setiap orang pernah berbuat sesuatu yang konyol…..

Akhir kata, nikmati hidup bersama anak kita. Habiskanlah waktu sebanyak mungkin dengan mereka. Lakukanlah kegiatan bersama sebagai sebuah keluarga, tetapi tetap sediakan waktu khusus bagi masing-masing anak. Bagaimanapun keadaannya, anak belajar tentang segalanya dari contoh yang orang tuanya berikan. Dengan menghabiskan waktu bersama dengan anak, memungkinkan orang tua berkomunikasi akrab dengan anak. Anak dapat berbagi perasaan dan pikirannya dengan bebas, dan sebaliknya orang tua bisa memberi bantuan dan bimbingan baginya……
23/08/00
Majalah 'Anakku' ed.4, thn 2000

Remunerasi

sumber:
hrcentro.com dan apindo.or.id


Arti harafiah remunerasi adalah "payment" atau penggajian, bisa juga uang ataupun substitusi dari uang yang ditetapkan dengan peraturan tertentu sebagai imbal balik suatu pekerjaan dan bersifat rutin.
Sedangkan pengertian resmi menurut kamus Bahasa Indonesia adalah pembelian hadiah (penghargaan atas jasa dsb); imbalan. Remunerasi berasal dari bahasa Inggris yaitu Remuneration. Wikipedia memberi penjelasan, "Remuneration is pay or salary, typically a monetary payment for services rendered, as in an employment. Usage of the word is considered formal."


Besar kecilnya gaji seseorang dapat dikira-kira atau ditentukan oelh faktor-faktor antara lain :

1. Jenis profesi

Gaji seorang engineer (tehnis) akan berbeda dengan gaji seorang lawyer (hukum) . Dalam satu perusahaan minyak, sesama fresh graduate bisa jadi gaji engineer akan berbeda dengan gajinya orang finance. Namun di "lawfirm", atau lembaga bantuan hukum bisa saja gajinya lawyer (ahli hukum) akan jauh lebih bersar dibanding finance (keuangan). Hanya saja bisa terbalik ketika di perbank-an.

2. Posisi dalam perusahaan

Posisi ini bisa berbagai macam cara pandangnya. Misalnya manajerial vs bukan manager (tehnikal). Dalam banyak perusahaan posisi manajer biasanya mendapatkan porsi gaji dan fasilitas (benefit) yang lebih karena keputusannya dianggap lebih mempengaruhi jalannya (untung-rugi) perusahaan. Namun dalam perusahaan moderen sekarang sudah lain bisa saja berbeda. Perusahaan-perusahaan berbasis teknologi kebanyakan sudah menghargai para profesionalnya.
Gaji seorang manajer engineering bisa saja hampir sama dengan konsultan engineer-nya. Posisi ini bisa juga dalam artian departemen atau bagian. Ada bagian-bagian dalam sebuah perusahaan yang rata-rata pekerjanya bergaji lebih walaupun dalam skala yang sama. Hal ini sering terlihat pada perusahaan yang

3. Jenis industri/usaha

Setiap industri juga memiliki struktur penggajian yang berbeda. Disebelah kanan ini menggambarkan variasi besarnya gaji seorang lulusan dalam bidang ilmu science dan engineering. Setiap jenis usaha memiliki rentang gaji yang berbeda-beda. Hal ini akan sesuai dengan skala pekerjaannya, waktu yang diperlukan seseorang, tanggung jawabnya, dan besarnya pengaruh keputusan berdasarkan hasil kerjanya. Di industri migas keputusan seorang finance manajer mungkin berbeda dengan keputusan geologi manager nya. Namun seorang yang berpengalaman 10 tahun sebagai geologist tidak sama dengan ahli ekonom di bank tersebut, walaupun pengalamannya sama-sama 10 tahun, kan ?

4. Lama kerja (pengalaman)

Jelas semakin lama pengalaman kerjanya akan semakin tinggi nilai jual seseorang. Namun yang perlu diperhatikan bila anda seorang recruiter ketika membaca pengalaman kerja. Menggambar design mobil lengkap, mungkin memerlukan waktu 1 tahun. Ketika seseorang berpengalaman kerja selama 10 tahun dimana selama 5 tahun hanya menggambar kursinya saja. Apakah disebut berpengalaman 10 tahun mendesign mobil ?

5. Lokasi bekerja

Bekerja di luar kantor seringkali terkesan bekerja fisik yang keras, dan sedikit memerlukan otak. Dimana akhirnya sering terlihat pekerja di luar kantor posisinya lebih rendah dari yang duduk manis di kantor. Dengan demikian pekerja kantor akan memiliki gaji lebih besar ketimbang pekerja di luar kantor. Namun dalam industri tertentu salah satunya migas justru yang bekerja di luar kantor seringkali mendapatkan fasilitas khusus sebagai pengganti kenyamanan bekerja di kantor. Ada yang disebut "Field Allowance" ada yang menyebutkan "Out of town allowance". Allowance atau tunjangan tambahan ini tidak sama disetiap daerah. Ada yang memberikan dalam bentuk prosentase dari gaji, ada pula yang fixed.

6. Status pekerja

Status pekerjaan ini dapat sebagai pegawai tetap, pegawai kontrak waktu tertentu (PKWT), ada pula pegawai dari kontraktor (consultant). Pegwai kontrakan level dibawah (non-staff) ini biasanya gajinya lebih kecil dibanding pegawai tetapnya. Namun untuk level staff keatas seringkali justru yang pekerja kontrak bergaji lebih besar ketimbang pegawai tetapnya.

Senin, 19 April 2010

Pentingnya Kebersamaan Ibu dan Anak

Oleh: AsianBrain.com Content Team

"
Siapa yang tidak menyayangi, dia tidak disayangi. Jika Orang Tua gagal mengungkapkan rasa sayang kepada anaknya, mereka tidak akan mampu mencintai orang orang tua.." (Nabi Muhammad saw)
Kadang, kita sebagai orang tua tidak sadar bahwa kebersamaan antara ibu dan anak adalah hal prinsip dan tidak boleh diabaikan. Ketika seorang ibu sudah asyik meniti karir, kadang melalaikan tugas pokoknya untuk mendidik anaknya.



Kadang kita tidak menyadari, tiba-tiba saja anak kita sudah dewasa. Kemudian kita mulai berandai-andai jika saja dulu bisa meluangkan lebih banyak waktu bersama anak-anak. Mungkin kita akan menyesal, jika kesuksesan kita di karir harus dibayar mahal dengan menghilangkan banyak waktu kebersamaan ibu dan anak.
Hubungan emosional yang terjalin antara ibu dan anak bisa saja berkurang. Tidak hanya itu saja, kadang minimnya kebersamaan tersebut masih harus dibayar mahal dengan terjerumusnya anak ke hal-hal negatif, seperti narkoba atau tindakan kriminal lain. Betapa sakit perasaan kita sebagai seorang ibu. Atau, bahkan ketika anak sukses dan berprestasi, kita tidak sepenuhnya merasa bahagia karena tidak merasa memiliki andil dalam hal ini.
Berikut ini adalah beberapa hal untuk menyadarkan kita pentingnya kebersamaan antara ibu dan anak.
1. Menangis
Menangis adalah satu cara yang digunakan oleh bayi untuk berkomunikasi dengan orang lain. Bayi akan menangis ketika lapar, haus, BAK dan BAB ataupun merasa sakit.
Sering juga bayi menangis karena ingin dekat dengan ibunya, tatkala ibunya sudah mendekat, dia pun terdiam. Ini adalah cara bayi untuk merasa nyaman bersama ibunya. Betapa tangisan adalah obat ampuh untuk mendekatkan hubungan ibu dan anak.

2. Menyusui bayi secara langsung
Bagaimanapun kesibukan seorang ibu, hendaknya dia tidak melupakan dan melalaikan untuk menyusui anaknya secara langsung, bukan melalui botol. Dari sisi kesehatan, banyak keistimewaan menyusui secara langsung dibanding dengan botol.
Secara psikologis, menyusui secara langsung akan membuahkan keterkaitan antara ibu dan anak. Anak akan merasa nyaman dan bahagia ketika dia bisa memandang wajah ibunya dan menyusu dari tubuhnya terutama di bulan-bulan awal.
3. Menggendong anak
Cara ini akan membuat ikatan khusus antara ibu dan anak secara batiniah. Karena anak akan merasa lebih dekat dengan tubuh orang tuanya. Berbeda apabila anak diletakkan dalam kereta dorong, meskipun dia masih bisa memandang wajah orang tuanya.

4. Bermain bersama anak
Riset membuktikan bahwa anak-anak sudah bisa mendengar dan melihat sejak hari pertama. Bayi akan merasa senang melihat wajah orang, apalagi sedang menyuarakan sesuatu yang indah. Itulah sebabnya kita mengetahui, anak dapat mencium aroma ibunya tatkala berada di dekatnya. Maka bermainlah bersama anak anda. Posisikan diri Anda sebagai anak, untuk memahami indahnya kebersamaan ibu dan anak yang sedang berlangsung.
Hidup memang pilihan. Namun, apakah dengan melakukan pilihan, Anda harus mengorbankan sesuatu yang berharga, apalagi hal itu adalah waktu kebersamaan ibu dan anak? Anda tentu lebih tahu jawabannya...

Apa Gaya Belajar Anak Anda?

Senin, 8 Maret 2010 | 12:04 WIB

KOMPAS.com - Tidak semua orang memproses informasi dengan cara yang sama.
Itu sebabnya kita perlu mengetahui bagaimana gaya bekerja otak diterjemahkan ke
dalam gaya belajar yang berbeda-beda pula. Para orangtua dapat mengetahui potensi
dan gaya belajar anak secara detil dengan melakukan tes potensi dan bakat anak.



Dengan mengenal perbedaan gaya-gaya yang mendasar ini, orangtua dan guru akan
lebih mudah menemukan referensi gaya belajar yang paling efektif untuk anak atau
siswa didiknya. Menurut para pakar, ada beberapa model gaya belajar :
1. Tipe VISUAL
Ini merupakan kecenderungan gaya belajar dengan menggunakan indera penglihatan.
Pada model gaya belajar ini, informasi data visual terbagi menjadi data berupa teks
(tulisan, huruf, angka, simbol) dan berupa gambar (foto, diagram).

Ciri anak tipe Visual:
Lebih mudah ingat dengan melihat, lebih suka membaca, saat mendapat petunjuk untuk
melakukan sesuatu, biasanya akan melihat orang lain melakukan dulu baru kemudian
dia sendiri yang bertindak. Anak dalam kelompok ini juga dapat duduk tenang saat
belajar di tengah situasi yang ribut dan ramai tanpa merasa terganggu.

Kendala dari tipe visual antara lain tak suka berbicara di depan kelompok dan tak suka
mendengarkan orang lain, tahu apa yang harus dikatakan tapi tak bisa mengungkapkan
dengan kata-kata, serta tulisan tangannya berantakan sehingga tak terbaca. Anak dari
kelompok visual juga biasanya kurang mampu mengingat informasi yang disampaikan
secara lisan.

Cara menstimulasi:
Gunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi atau materi pelajaran.
Perangkat grafis bisa berupa film, slide, ilustrasi, coretan, atau kartu-kartu gambar berseri
yang bisa dipakai untuk menjelaskan informasi secara berurutan. Mintalah anak untuk
menghapal dengan membayangkan obyek atau materi yang sedang dipelajarinya.

2. Tipe AUDITORY
Tipe Auditory merupakan kecenderungan gaya belajar dengan menggunakan indera
pendengaran. Pada model gaya belajar ini informasi terbagi menjadi data berupa bahasa
dan nada.

Ciri anak tipe Auditory:
Mudah ingat dari apa yang didengarnya dan didiskusikannya. Senang dibacakan atau
mendengarkan, lebih suka menuliskan kembali sesuatu, senang membaca dengan suara
keras, bisa mengulangi apa yang didengarnya, senang diskusi, bicara atau menjelaskan
panjang lebar. Anak dengan tipe auditory pada umumnya menyenangi seni musik dan
mudah mempelajari bahasa asing.

Kendala anak dengan tipe auditory antara lain cenderung banyak omong, tak bisa belajar
dalam suasana berisik atau ribut, apalagi bila anak memiliki konsentrasi yang lemah.
Anak juga lebih memperhatikan informasi yang didengarnya, jadi kurang tertarik
memperhatikan hal-hal baru di lingkungannya.

Cara menstimulasi:
Bekali anak dengan tape recorder untuk merekam semua materi pelajaran yang diajarkan
di sekolah. Libatkan anak dalam kegiatan diskusi, coba bacakan informasi, kemudian
meringkasnya dengan bentuk lisan dan direkam untuk selanjutnya diperdengarkan dan dipahami.

3. Tipe KINESTETIK
Kecenderungan gaya belajar dengan menggunakan indera tubuh. Pada model gaya belajar
kinestetik, informasi terbagi menjadi data berupa gerakan dan sentuhan.

Ciri anak tipe Kinestetik:
Gemar menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya, suka mengerjakan segala sesuatu yang
memungkinkan tangannya sedemikian aktif, banyak gerak fisik dan memiliki koordinasi
tubuh yang baik, menyukai kegiatan/permainan yang menyibukkan secara fisik, lebih suka
mendemonstrasikan sesuatu daripada menjelaskan.

Kendalanya, anak sulit mempelajari hal-hal yang abstrak, tak bisa belajar di sekolah-sekolah
yang bergaya konvensional di mana guru menjelaskan dan anak duduk diam. Kapasitas
energi anak cukup tinggi, sehingga bila tidak disalurkan akan berpengaruh terhadap
konsentrasi belajarnya.

Cara menstimulasi:
Bersekolah pada sekolah yang menganut sistem active learning di mana siswa banyak terlibat
dalam proses belajar. Dengan begitu, kemampuannya dapat berkembang optimal. Untuk siswa
yang memiliki kapasitas energi berlebih, sebaiknya diberikan aktivitas fisik, seperti kegiatan
olahraga atau kesenian. Salurkan energi dengan memberikan kebebasan beraktivitas sebelum
belajar, sehingga anak bisa duduk tenang selama belajar.

Selasa, 06 April 2010

Perkembangan Anak

Oleh: AsianBrain.com Content Team

Perkembangan anak penting dijadikan perhatian khusus bagi orangtua. Sebab, proses tumbuh kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang.

Jika perkembangan anak luput dari perhatian orangtua (tanpa arahan dan pendampingan orangtua), maka anak akan tumbuh seadanya sesuai dengan yang hadir dan menghampiri mereka.

Kelak, orangtua akan mengalami penyesalan yang mendalam.



Apa saja tahapan perkembangan anak?
Perkembangan anak merupakan segala perubahan yang terjadi pada usia anak, yaitu pada masa:
• Infancy toddlerhood (usia 0-3 tahun)
• Early childhood (usia 3-6 tahun)
• Middle childhood (usia 6-11 tahun)
Perubahan yang terjadi pada diri anak tersebut meliputi perubahan pada aspek berikut:
• fisik (motorik)
• emosi
• kognitif
• psikososial
Aspek-aspek perkembangan anak
1. Perkembangan Fisik (Motorik)
Perkembangan fisik (motorik) merupakan proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Setiap gerakan yang dilakukan anak merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak.

Perkembangan fisik (motorik) meliputi perkembangan motorik kasar dan motorik halus.
o Perkembangan motorik kasar
Kemampuan anak untuk duduk, berlari, dan melompat termasuk contoh perkembangan motorik kasar. Otot-otot besar dan sebagian atau seluruh anggota tubuh digunakan oleh anak untuk melakukan gerakan tubuh.

Perkembangan motorik kasar dipengaruhi oleh proses kematangan anak. Karena proses kematangan setiap anak berbeda, maka laju perkembangan seorang anak bisa saja berbeda dengan anak lainnya.
o Perkembangan motorik halus
Adapun perkembangan motorik halus merupakan perkembangan gerakan anak yang menggunakan otot-otot kecil atau sebagian anggota tubuh tertentu.

Perkembangan pada aspek ini dipengaruhi oleh kesempatan anak untuk belajar dan berlatih. Kemampuan menulis, menggunting, dan menyusun balok termasuk contoh gerakan motorik halus.
2. Perkembangan Emosi
Perkembangan pada aspek ini meliputi kemampuan anak untuk mencintai; merasa nyaman, berani, gembira, takut, dan marah; serta bentuk-bentuk emosi lainnya. Pada aspek ini, anak sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan orangtua dan orang-orang di sekitarnya.

Emosi yang berkembang akan sesuai dengan impuls emosi yang diterimanya. Misalnya, jika anak mendapatkan curahan kasih sayang, mereka akan belajar untuk menyayangi.
3. Perkembangan Kognitif
Pada aspek koginitif, perkembangan anak nampak pada kemampuannya dalam menerima, mengolah, dan memahami informasi-informasi yang sampai kepadanya. Kemampuan kognitif berkaitan dengan perkembangan berbahasa (bahasa lisan maupun isyarat), memahami kata, dan berbicara.
4. Perkembangan Psikososial
Aspek psikososial berkaitan dengan kemampuan anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Misalnya, kemampuan anak untuk menyapa dan bermain bersama teman-teman sebayanya.

Dengan mengetahui aspek-aspek perkembangan anak, orangtua dan pendidik bisa merancang dan memberikan rangsangan serta latihan agar keempat aspek tersebut berkembang secara seimbang.

Rangsangan atau latihan tidak bisa terfokus hanya pada satu atau sebagian aspek. Tentunya, rangsangan dan latihan tersebut diberikan dengan tetap memerhatikan kesiapan anak, bukan dengan paksaan.

Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...