Jumat, 28 Juli 2017

Beberapa Makna KUJANG

💚 Beberapa Makna KUJANG 💙
By. Ki Sundara



1. KUJANG = KUnci JANG diri.
,,, diri jasmani (ngajisim), diri ruhani (ngajirim), sampurna diri (ngajinis) ,,, sehingga ma'rifatlah kepada jati dirinya, yang berkelanjutan kepada mengenal jati diri bangsa INDONESIA - INSOEN DIA - INI SOENDA - DIN NOE SIA - ADIN NOE SI (SI; Sunda Islam) - ADIN NOE IS (Islam Sunda), dll. Dengan memahami dan Pancasila.

2. KUJANG = KUkuh kana JANGji. Jangji ka DIRi, ka RAsul sareng ka Allah. Jangji kaNAGAra (ProklamaSI).
,,, Sama dengan sifatnya para nABI & RAsul, sifat SIDIK (benar, jujur, jelas) yang bertolak belakang dengan MUNAFIK (ciri munafik; apabila berbicara dusta, bila dipercaya khianat dan apabila berjanji orang munafik ini ingkar. Orang yang memahami KuJang moal munapik tapi bakal ka ala buahna kapetik hasilna (mun apik).

3. KUJANG = KUkuh kana piweJANG.
,,, piweJANG sepuh (saur sepuh; UUD 1945 dengan PASal & BUtirnya), yang jadi puncak piweJANG nyatanya Al-quR'An NUR karIM, dengan petunjuk dari Al-quR'An inilah maka kehidupan NUR (jannah) bisa didiRIkan lagi sesuai perulangan sejaRAH. Yang di SUMPUT BUNIkeun DINu CAANG (INDONESIA).

4. KUJANG = KUdu ku JAwa hiyaNG.
,,, JAwa hyaNG adalah sebuah pusat perADABan (PERtiwi ADA di BANdung). Tempat pusat manusia pemikir ulung - luhung - agung. Sebagai puseur bUMI. (JAWA; Jauhar AWAl & JAWhar Akhir) ,,, di JAwa hiyaNG inilah awal peradaban dan disini pulalah akhir peradaban diakhiRI.

5. KUJANG = KUdu ku uJANG.
,,, uJANG adalah sibul dari MANusia yang memahami dan mempraktekan ILMU bapa & indung. ILMU bapak (ISLAM) dengan sastra 30 kaLAM, ILMU indung (SUNDA) dengan sastra 18 aLAM ,,, uJANG adalah yang mendasaRI (sastra jendra rahayu ningrat pangruwating diyu jaya diningratu) dengan 15 LAMpah, sehingga 'kaapah' lah toTALItas.

6. KUJANG = KUnu JANGjangan. (BuRung GARUDA)
,,, jangJANG adalah simbul dari sayap yang bisa membuat manuk/burung bisa terBANK menjulang tinggi ke atas juga bisa menukik ke bawah.  Dengan JANGjang inilah maka manusia bisa  menembus langit-langit dari mulai labgit ke 1 sampai ke 7 dengan izin Allah sampai juga di ARASY yang ke 8.
Ini sama dengan hadits "asholatu mi'rojul mu'minin" - "sholat adalah mi'rajnya orang yang ber_i_man. Mi'raj adalah alat canggih, maka namanyapun adalah shALAT (sahALAT), terBANK nya bukan di JIBTI tapi ilmiAH ,,, ka sari ka uji ka bukti ku diri dugi ku nagaRI.

7. KUJANG = KUdu bisa nganJANG ka 603 Dimensi.
,,, dengan kesempurnaan yang dititipkan Allah kepada MANusia maka manuSIA bisa melintasi 603 Dimensi yang bisa meLEBIHi kekuatan Dimensi MalaIKAT. Dimana sebagai KUNciNya disimpan di "Antal maut qoblal maut ,,, inna lillaHI wa inna illaiHI

8. KUJANG = KUnci JAgat nu NGaangliputi. (RahMATAn lil 'alamin).
,,, pada tingkat ini bukan hanya memahami DIRi + BANKsa + nagaRA namun sudah sampai pada tingkat keSEMESTAan - SEMEStiNYA.

,,,,, 5 lagi makna KuJang nanti akan di bahas pada waktu dan tempat yang tepat.

Warna KuJang dan Keris yang berwarna meRAH - putIH.
Sejatinya Merah itu melambangkan Api dengan simbol Kujang yang berbentuk lidah api. Putih itu melambangkan Air dengan simbol Keris yang berbentuk gelombang air.

Konsep NagaRa (Naga = air, Ra = matahari / api) yang diberi nama NusantaRa (Nusa = pulau, Ra = matahari / api) mengandung pengertian secara luasnya adalah kehidupan yang ditopang oleh Air sebagai landasan / sumber hidupnya dan dinaungi oleh Cahaya (matahari) sebagai payung kesejahteraannya sekaligus sebagai perwujudan RAsa
syukur atas berkah dan perlindungan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.
Dengan kata lain Nusantara = Negeri yang subur.
Dengan kata lain Nusantara = Negeri yang kaya ( Tanah Emas ).
Dengan kata lain Nusantara = Negeri yang diberkaHI.

SELaMAT menikMATI hIDup dan keHIdupan dalam keBAHAGIAan NuN ABADi.


Rabu, 19 Juli 2017

"Transformasi MANUsia SUNDA di NUSANTARA"

"Transformasi MANUsia SUNDA di NUSANTARA"
By : Kang SundaRa

Bismillahirrahmaanirrahiim,

* Aswrwb - SampuRAsun *

meNURut Sang BhaTaRA bRAhMA

"Apa diantara kita ada yang TaHu mengapa kita semua diberi nama  'MANUsia'? Ada banyak referensi yang memberikan definisi dan makna tentang makhluk yang bernama 'MANUSIA'.

Ada yang mengatakan bahwa kata "MANUSIA" berasal dari kata "MANUSA" yang tersusun dari akar kata "MANU" dan "SA".

MANU = wise (kebijaksanaan), thought (pikiran), prayer (doa).
SA = possession (kepemilikan/memiliki).
MANU-SA = (makhluk yang) memiliki Kebijaksanaan/Pikiran atau (makhluk yang) senantiasa Berdoa.

Ada pula yang mengatakan bahwa kata "MANUSIA" berasal dari aksara hanacaraka, yakni tersusun dari aksara "MA", "NU" dan "SA".

MA = Makhluk
NU = Cahaya
SA = Tunggal/Manunggal
MA-NU-SA = Makhluk yang memiliki cahaya yang manunggal dalam DIRinya.

ada pula yang mengatakan bahwa kata "MANUSIA" berasal dari kata "MA" dan "NASIYA".
MA = Makhluk
NASIYA = Lupa
MA-NASIYA = Makhluk yang Pelupa.

Di dalam Al-Qur'an sendiri ditemukan ada sebanyak "empat" kata yang maknanya kurang lebih merujuk kepada "MANUSIA" yakni: "BASYAR", "NAAS", "INSI" dan "INSAN" dimana masing-masing kata tersebut memiliki arti dan makna tersendiri tentang siapa sebenarnya makhluk yang bernama "MANUSIA".

Lantas bagaimana dengan kearifan lokal NUHSANTARA memaknai kata "MANUSIA"?

Berikut penjelasan dari Sang BHATARA; Dalam penjelasannya, beliau menjelaskan bahwa kata "MANUSIA" hanyalah merupakan akar kata dari sebuah induk kata "MANA/MANU" yang tersusun dari kata "MA" dan "ANA".

MA berarti "Makhluk".
ANA berarti "AKU" (Tuhan)
MA-ANA (dibaca: MANA/MANU) = Makhluk yang diciptakan "AKU" (Tuhan) untuk mengenal "AKU" (Tuhan).

Kata "ANA" yang berarti "AKU" yang merujuk kepada "TUHAN" ditemukan dalam Al-Qur'an sebagai berikut:

"Sesungguhnya ANA (AKU) adalah ANA (AKU), ALLAH, tidak ada Tuhan selain ANA (AKU), maka mengabdilah kepada-Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku." (QS. Thaha 20:14)

Kata "ANA/ANI" yang berarti "AKU" yang merujuk kepada "TUHAN" juga ditemukan dalam Al-Kitab sebagai berikut:

"ANI YHVH HASHEMI"
"AKU YAHWEH. Itulah Nama-Ku."
(Yesaya 42:8)

Dan dalam hadits Nabi Muhammad SAW juga disebutkan,
"AKU laksana perbendaharaan yang tersembunyi. AKU ingin agar dikenal maka AKU ciptakan makhluk. Lalu AKU memperkenalkan diri kepada mereka sehingga mereka mengenal AKU." (HR. Bukhari, At-Tirmidzi)

Kata "MA-ANA" (dibaca: MANA/MANU) ini memiliki nilai numerik sebagai berikut:
MA = memiliki nilai numerik 40;
A = memiliki nilai numerik 1;
NA = memiliki nilai numerik 50;
MA-ANA (dibaca: MANA/MANU) = 40+1+50 = 91.

Nah dalam kearifan lokal NUHSANTARA, kata "MA-ANA" (dibaca: MANA/MANU) ini diterjemahkan dengan kata "JALMA" (dibaca: JELMAH/JELMA) yang   tersusun dari aksara: JA, YA, LA, MA, HA.

JA = memiliki nilai numerik 3;
YA = memiliki nilai numerik 10;
LA = memiliki nilai numerik 30;
MA = memiliki nilai numerik 40;
HA = memiliki nilai numerik 8;
JA-YA-LA-MA-HA (dibaca: JELMAH/JELMA) = 3+10+30+40+8 = 91.

Jadi kata "JALMA" (dibaca: JELMAH/JELMA) itu maknanya analog dengan makna kata "MA-ANA" (dibaca: MANA/MANU) yaitu makhluk yang diciptakan oleh "AKU" (TUHAN) untuk mengenal "AKU" (TUHAN).

Nah selanjutnya makhluk yang dikenal sebagai "JALMA" (dibaca: JELMAH/JELMA) ini dalam implementasi kehidupan nyatanya harus melalui enam fase atau enam tahapan transformasi secara bertingkat dari tahap yang paling rendah hingga kepada tahap yang paling tinggi dalam rangka proses dirinya untuk mengenal "AKU" (TUHAN).

Keenam fase atau keenam tahapan transformasi yang harus dilalui oleh "JALMA" (dibaca: JELMAH/ JELMA) adalah sebagai berikut:
1. JALMA THUMUWUH;
2. JALMA SATHO;
3. JALMA WONG;
4. JALMA SIWONG;
5. JALMA WUSTHO SIWONG;
6. JALMA WASTU SIWONG;

Nah, sekarang mari kita bahas keenam fase/tingkatan transformasi ini satu-persatu.

FASE KESATU: JALMA THUMUWUH

Dalam aspek kajian numerik-linguistik, kata "THUMUWUH" tersusun dari aksara: THA, MA, WA, HA' dan YA.

THA = memiliki nilai numerik "9";
MA = memiliki nilai numerik "40";
WA = memiliki nilai numerik "6";
HA' = memiliki nilai numerik "5";
YA = memiliki nilai numerik "10";
THA-MA-WA-HA'-YA (dibaca: THUMUWUH) = 9+40+6+5+10 = 70.

Kata "THUMUWUH" inilah yang diterjemahkan dengan kata "SAYA" yang sama-sama memiliki nilai numerik "70".

SAYA = SA-YA
SA = memiliki nilai numerik "60";
YA = memiliki nilai numerik "10";
SA-YA (dibaca: SAYA) = 60+10 = 70.

Nah kata "SAYA" ini bermakna "personal" yang merujuk kepada diri sendiri.

Jika kata "AKU" itu merujuk kepada "TUHAN", maka kata "SAYA" lebih merujuk kepada "HAMBA".

Sehingga fase atau tahap pertama dari Proses Transformasi Manusia yakni "JALMA THUMUWUH" dimaknai sebagai:
"MA-ANA-SAYA" (dibaca: MANUSIA).

MA = Makhluk.
ANA = AKU (TUHAN).
SAYA = AKU (HAMBA).
MA-ANA-SAYA (dibaca: MANUSIA) = Makhluk yang diciptakan oleh AKU (yakni 'ANA' sebagai TUHAN) untuk mengenal AKU (yakni 'SAYA' sebagai HAMBA).

Inilah makna yang sebenarnya dari kata "MANUSIA" yang sampai saat ini pun masih seringkali salah penerjemahan, karena masih kerap diterjemahkan sebagai "MA-NASIYA" bukan sebagai "MA-ANA-SAYA".

Karena kata "MA-NASIYA" maknanya adalah:
MA = Makhluk.
NASIYA = Lupa.
MA-NASIYA (dibaca: MANUSIA) berarti "Makhluk yang Lupa" yakni lupa akan asal penciptaan dirinya.

Dalam Al-Quran disebutkan,
"Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia (INSAN) LUPA KEPADA (ASAL) PENCIPTAAN DIRINYA; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?"
(QS. Yasin 36:78) [Ya_asin].

Sehingga kata "MANUSIA" yang seharusnya tersusun dari akar kata "MA-ANA-SAYA" yang memiliki makna "makhluk yang diciptakan oleh AKU (yakni 'ANA' sebagai TUHAN) untuk mengenal AKU (yakni 'SAYA' sebagai HAMBA)" menjadi mengalami pergeseran makna ketika kata "MANUSIA" dianggap sebagai kata yang tersusun dari akar kata "MA-NASIYA" yang memiliki makna "makhluk yang lupa akan asal penciptaan dirinya".

Kesimpulan fase/tahap pertama:
Pada fase atau tahap transformasi yang pertama ini, MANUSIA dikenal sebagai "JALMA THUMUWUH" yang memiliki nilai numerik 161 (JALMA = 91; THUMUWUH = 70, dan 91+70 = 161) yang memiliki makna ganda yakni makna pertama sebagai "MA-NASIYA" (dibaca: MANUSIA) yang bermakna sebagai "makhluk yang lupa akan penciptaan dirinya" dan makna kedua sebagai "MA-ANA-SAYA" (juga dibaca: MANUSIA) yang bermakna sebagai "makhluk yang diciptakan oleh 'AKU' (yakni 'ANA' sebagai TUHAN) untuk mengenal 'AKU' (yakni 'SAYA' sebagai HAMBA".

Resume fase/tahap pertama:
Gelar: JALMA THUMUWUH atau MA-NASIYA.
Dibaca: MANUSIA.
Makna: Makhluk yang lupa akan asal muasal penciptaan dirinya.
Nilai Numerik:
91+70 = 161.

FASE KEDUA: JALMA SATHO

Dalam aspek kajian numerik-linguistik, kata "SATHO" tersusun dari aksara: SA dan THA.

SA = memiliki nilai numerik "60"
THA = memiliki nilai numerik "9"
SA-THA (dibaca: SATHO/SATO) = 60+9 = 69.

Nah kata "SA-THA" (dibaca: SATHO/SATO) ini memiliki nilai numerik yang sama dengan kata "THIIN" yang tersusun dari aksara THA, YA dan NA yang berarti "TANAH".

THA = memiliki nilai numerik "9"
YA = memiliki nilai numerik "10"
NA = memiliki nilai numerik "50"
THA-YA-NA (dibaca: THIIN) = 9+10+50 = 69.

Jika pada fase kesatu transformasi, manusia masih menyandang gelar sebagai "JALMA THUMUWUH" yang diterjemahkan sebagai "MA-NASIYA" (dibaca: MANUSIA) yang memiliki makna sebagai makhluk yang lupa akan asal penciptaan dirinya, maka pada fase kedua transformasi ini manusia sudah mulai menyandang gelar sebagai "JALMA SATHO", yakni manusia yang sudah mulai mengenali asal penciptaan dirinya yang diciptakan Tuhan dari unsur Tanah dan Air, bahkan ia juga sudah memahami bahwa ia bukanlah makhluk yang diciptakan Tuhan dengan bahan penciptaan yang asal jadi, melainkan dengan bahan penciptaan yang merupakan saripati berbagai unsur-unsur alam semesta, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an sebagai berikut:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan INSAN dari SARIPATI THIIN (Tanah)." (QS. Al-Mu'minun 23:12)

"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan INSAN dari THIIN (Tanah). Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari SARIPATI AIR yang hina."
(QS. As-Sajadah 32:7-8)

Nah berbicara mengenai INTI SARIPATI bahan penciptaan unsur-unsur alam semesta, dalam AJAR PIKUKUH NUHSANTARA dijelaskan sebagai berikut,

Manusia merupakan penjelmaan dari EMPAT INTI SARIPATI Unsur-Unsur Pembentuk alam semesta yaitu:
1. ANGIN/BAYU (Inti Saripati Unsur ANGIN disebut sebagai Anasir "MA" dan dalam agama Hindu disebut sebagai Anasir "MANG").
2. API/GENI (Inti Saripati Unsur API disebut sebagai Anasir "RA" dan dalam agama Hindu disebut sebagai Anasir "ANG").
3. TANAH/LEMAH (Inti Saripati Unsur TANAH disebut sebagai Anasir "DA" dan dalam agama Hindu disebut sebagai Anasir "AH").
4. AIR/APAH (Inti Saripati Unsur AIR disebut sebagai Anasir "HU" dan dalam agama Hindu disebut sebagai Anasir "UNG").

Jika inti saripati unsur AIR/APAH (HU), TANAH/LEMAH (DA) dan API/GENI (RA) bersatu, maka akan menjadi HU-DA-RA (dibaca: UDARA/HAWA). Sedangkan jika inti saripati unsur AIR/APAH (HU), TANAH/LEMAH (DA) dan ANGIN/BAYU (MA) bersatu, maka akan menjadi HU-DA-MA (dibaca: HADAMA/ADAMA/LUMPUR).

Makanya dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa manusia yang disebut dalam kedua ayat tersebut sebagai "INSAN" dikatakan diciptakan Tuhan dari Inti Saripati TANAH (disebut dalam QS. Al-Mu'min 23:12)  dan juga Inti Saripati AIR (disebut dalam QS. As-Sajadah 32:7-8).

Pertanyaannya adalah mengapa Manusia (INSAN) disebutkan hanya tercipta dari kedua inti saripati tersebut (yakni TANAH dan AIR)?

Ya karena memang Manusia yang bernama INSAN baik laki-laki (HUDAMA/HADAMA/ADAM) ataupun perempuan (HUDARA/HAWA) memang tercipta dari kedua inti saripati tersebut (TANAH atau DA dan AIR atau HU). Yang membedakan bahan penciptaan keduanya adalah bahwa dalam penciptaan laki-laki (HUDAMA/ADAM), Tuhan menambahkan inti saripati ANGIN atau MA. Sedangkan dalam penciptaan perempuan (HUDARA/HAWA), Tuhan menambahkan inti saripati API atau RA.

Inilah alasannya mengapa dalam fitrah penciptaannya, laki-laki (HUDAMA/ADAM) tercipta untuk menjadi pemimpin bagi perempuan (HUDARA/HAWA), karena hanya inti saripati unsur ANGIN atau MA yang ada dalam diri laki-laki (HUDAMA/ADAM) lah yang bisa mengendalikan inti satipati unsur API atau RA yang ada dalam diri perempuan (HUDARA/HAWA). Dalam implementasi dunia nyata, ANGIN bisa membuat API menjadi kecil atau padam dan sekaligus juga bisa membuat API menjadi besar. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa ANGIN yang mengendalikan API, bukan API yang mengendalikan ANGIN.

Kesimpulan fase/tahap kedua:
Pada fase atau tahap transformasi yang kedua ini, MANUSIA dikenal sebagai "JALMA SATHO" yang memiliki nilai numerik 160 (JALMA = 91; SATHO = 69, dan 91+69 = 160) yang memiliki makna sebagai "MA-NUSAH" (dibaca: MANUSAH) yang bermakna sebagai manusia yang sudah mulai mengenali asal penciptaan dirinya yang diciptakan Tuhan dari saripati tanah (DA) dan saripati air (HU/HA).

Resume fase/tahap kedua:
Gelar: JALMA SATHO atau MA-NUSAH.
Dibaca: MANUSAH.
Makna: Makhluk yang sudah mengingat perihal asal muasal penciptaan dirinya.
Nilai Numerik:
91+69 = 160.

FASE KETIGA: JALMA WONG

Dalam aspek kajian numerik-linguistik, kata "WONG" tersusun dari aksara: WA dan NGA.

WA = memiliki nilai numerik "6"
NGA = memiliki nilai numerik "70"
WA-NGA (dibaca: WONG) = 6+70 = 76.

Nah kata "WA-NGA" (dibaca: WONG) ini memiliki nilai nuMERIK yang sama dengan kata "NGABDI/'ABDI" yang tersusun dari aksara NGA/AIN, BA dan DA yang berarti "HAMBA".

NGA/AIN = memiliki nilai numerik "70"
BA = memiliki nilai numerik "2"
DA = memiliki nilai numerik "4"
NGA-BA-DA (dibaca: NGABDI/'ABDI) = 70+2+4 = 76.

Jika pada fase kedua transformasi, manusia menyandang gelar sebagai "JALMA SATHO" yang diterjemahkan sebagai "MA-NUSAH" (dibaca: MANUSAH) yang memiliki makna sebagai makhluk yang sudah mengingat akan asal penciptaan dirinya, maka pada fase ketiga transformasi ini manusia sudah menyandang gelar sebagai "JALMA WONG", yakni manusia yang sudah mulai menyadari tujuan penciptaan dirinya dan perlahan mulai menata dirinya guna mencapai tujuan penciptaan dirinya sebagaimana yang diinginkan oleh Sang AKU (TUHAN).

Pada fase ketiga ini, Manusia "JALMA WONG" telah memahami dengan benar apa tujuan penciptaan dirinya yang tidak lain hanyalah sebagai "WONG" atau "NGABDI / 'ABDI" yakni sebagai "HAMBA" dari "AKU" (yakni "ANA" sebagai "TUHAN") sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an sebagai berikut:

"Dan tidak KUciptakan JIN dan MANUSIA melainkan supaya menjadi 'ABDI-Ku". (QS. Adz-Dzariyat 51:56)

Dan para leluhur NUHSANTARA yang hidup berdampingan dalam keberagaman etnis rupa-rupanya telah mengenal istilah "WONG" yang bermakna sebagai "HAMBA" ini dalam berbagai bahasa etnis.

Berikut turunan induk kata "WONG" dalam berbagai bahasa etnis,

Induk kata:
WA-NGA (dibaca: WONG) = 6+70 = 76.
Bahasa Arab: NGA-BA-DA (dibaca: NGABDI / 'ABDI) = 70+2+4 = 76.
Bahasa Sunda: 'A-BA-DA (dibaca: ABDI) = 70+2+4 = 76.
Bahasa Jawa: KA-WU-LA-KA (dibaca: KAWULA / KAWULO) = 20+6+30+20 = 76.
Bahasa Melayu:
SA-HA-A-YA (dibaca: SAHAYA) = 60+5+1+10 = 76.
Bahasa Minang:
HA-MA-BA-WA-KA (dibaca: HAMBOK / AMBO) = 8+40+2+6+20 = 76.

Kesimpulan fase/tahap ketiga:
Pada fase atau tahap transformasi yang ketiga ini, MANUSIA dikenal sebagai "JALMA WONG" yang memiliki nilai numerik 167 (JALMA = 91; WONG = 76, dan 91+76 = 167) yang memiliki makna sebagai "MANU-WONG" (dibaca: MANU WONG) yakni sebagai manusia yang sudah menyadari tujuan penciptaan dirinya yang diciptakan untuk menjadi 'ABDI/NGABDI dari Sang AKU (TUHAN).

Resume fase/tahap ketiga:
Gelar: JALMA WONG atau MANU-WONG.
Dibaca: MANU WONG.
(Dalam sejarah kita mengenal adanya istilah perkumpulan WONG Jawa, WONG Sunda, WONG Bugis, WONG Aceh, WONG Ambon, WONG Palembang, WONG Batak, dll)
Makna: Makhluk yang sudah menyadari perihal tujuan penciptaan dirinya.
Nilai Numerik:
91+76 = 167.

FASE KEEMPAT: JALMA SIWONG

Dalam aspek kajian numerik-linguistik, kata "SIWONG" tersusun dari aksara: SIWA (SI-WA) dan WONG (WA-NGA).

SI = memiliki nilai numerik "60"
WA = memiliki nilai numerik "6"
SI-WA (dibaca: SiWa) = 60+6 = 66.
WA = memiliki nilai numerik "6"
NGA = memiliki nilai numerik "70"
WA-NGA (dibaca: WONG) = 6+70 = 76.
SIWA-WONG (dibaca: SIWONG) = 66+76 = 142.

Nah kata "SIWA-WONG" (dibaca: SIWONG) ini memiliki nilai numerik 76 dan 66, sama dengan kata "INSAN" (dibaca: INSUN) yang memiliki kode nomor surat ke-76 yakni surat AL-INSAN dan kata "SABDA" (nilai numerik 66) yang jika digabungkan akan terbaca menjadi "INSUN SABDA" yang diakronimkan oleh para leluhur NUHSANTARA dengan kata "SUNDA" sehingga dari sinilah akhirnya kita paham bahwa kata "SUNDA" justru tidak berkaitan sama sekali dengan nama tempat, nama suku ataupun nama ras tertentu, tetapi tepatnya merupakan sebuah akronim dari kata "INSUN SABDA" yang merupakan gelar yang diberikan kepada manusia yang kehendaknya telah menyatu dan manunggal dengan Kehendak Tuhan, sehingga apa yang di-SABDA-kan atau diucapkannya senantiasa terwujud menjadi kenyataan.

Pada fase keempat ini, Manusia "JALMA SIWONG" telah memahami bahwa sebagai "NGABDI / 'ABDI" dirinya harus senantiasa ber-DOA kepada "Sang AKU" (TUHAN) dan dirinya pun mengenal dengan baik siapa itu "Sang AKU" (TUHAN) yang menjadi tempat tujuannya ber-DOA bahkan dirinya pun memahami bagaimana etika ber-DOA yang baik dan benar.

Kepada siapa tujuan dirinya ber-DOA dipahaminya dengan baik dan benar sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an berikut ini:

"Katakanlah: "Ber-DOA-lah (kepada) ALLAH atau ber-DOA-lah (kepada) AR-RAHMAN. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa'ul husna dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu". (QS. Al-Isra 17:110)

Manusia "SIWA-WONG" (dibaca: SIWONG) memahami betul bahwa nama dari "Sang AKU" (TUHAN) yang dikenal sebagai "ALLAH" disebut sebanyak 2698 kali di dalam Al-Qur'an.

Dan angka "2698" ini ternyata merupakan bilangan "Kripto 19" yakni sebuah bilangan yang habis dibagi dengan angka 19, dimana: 2698 = 142 x 19.

Sehingga dengan demikian nama dari "Sang AKU" (TUHAN) yang dikenal dengan nama "ALLAH" ternyata memberikan kode angka "142" dimana kode angka tersebut juga merupakan nilai NUmerik dari kata "SIWA-WONG" (dibaca: SIWONG) yang diterjemahkan sebagai Manusia "INSUN SABDA".

Selain itu, Manusia "SIWA-WONG" (dibaca: SIWONG) juga memahami bagaimana caranya ber-DOA dengan baik dan benar, yakni dengan cara membuka kedua telapak tangan, menyatukannya dan kemudian menengadahkannya ke atas sambil mulutnya melafalkan DOA.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW disebutkan,
"Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia Malu terhadap 'ABDI-Nya jika 'ABDI-Nya tersebut menengadahkan kedua telapak tangannya kepada-Nya, lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan HAMPA." (HR. Abu Daud No.1488, dan At-Tirmidzi No.3556).

Pertanyaannya adalah mengapa dalam ber-DOA, kita harus menengadahkan kedua telapak tangan kita kepada-Nya?

Karena ketika kita membuka kedua telapak tangan kita, menyatukannya, dan kemudian menengadahkannya maka pada kedua telapak tangan kita akan terbentuk simbol Bulan Sabit yang dalam Al-Qur'an berkode sandi nomor "54" dan simbol angka "88" yang ditulis dengan aksara Arab, dimana: 54+88 = 142

Kesimpulan fase/tahap keempat:
Pada fase atau tahap transformasi yang ketiga ini, MANUSIA dikenal sebagai "JALMA SIWONG" yang memiliki nilai numerik 167 (JALMA = 91; SIWA = 66, dan WANGA = 91+66+76 = 233 ) yang memiliki makna sebagai "MANU-SIWA-WONG" (dibaca: MANU SIWA WONG) yang bermakna sebagai manusia yang kehendak "Sang AKU" dalam dirinya sudah menyatu atau manunggal dengan Kehendak "Sang AKU" (TUHAN) sehingga ia pun dijuluki sebagai "MANU INSUN SABDA" yakni manusia yang memiliki Kehendak "Sang AKU" (TUHAN) di dalam dirinya.

Resume fase/tahap keempat:
Gelar: JALMA SIWONG atau MANU-INSUN-SABDA.
Dibaca: MANU INSUN SABDA.
Makna: Makhluk yang kehendak dirinya sudah manunggal dengan Kehendak Sang AKU (TUHAN).
Nilai Numerik:
91+142 = 233.

FASE KELIMA: JALMA WUSTHO SIWONG

Dalam aspek kajian numerik-linguistik, kata "WUSTHO SIWONG" tersusun dari aksara: WUSTHO (WA-SA-THA-A), SIWA (SI-WA) dan WONG (WA-NGA).

WA = memiliki nilai numerik "6"
SA = memiliki nilai numerik "60"
THA = memiliki nilai numerik "9"
A = memiliki nilai numerik "1"
WA-SA-THA-A (dibaca: WUSTHO) = 6+60+9+1 = 76.
SI = memiliki nilai numerik "60"
WA = memiliki nilai numerik "6"
SI-WA (dibaca: SIWA) = 60+6 = 66.
WA = memiliki nilai numerik "6"
NGA = memiliki nilai numerik "70"
WA-NGA (dibaca: WONG) = 6+70 = 76.
WUSTHO-SIWA-WONG (dibaca: WUSTHO SIWONG) = 76+66+76 = 218.

Nah kata "WUSTHO-SIWA-WONG" (dibaca: WUSTO SIWONG) ini memiliki nilai numerik 218 sama dengan kata "RA-HAYU" (dibaca: RAHAYU) yang bermakna:

RA = Sumber Cahaya (Tuhan);
HAYU = Daya Hidup;
RA-HAYU (dibaca: RAHAYU) bermakna Tuhan Sang Pemberi Daya Hidup.

Nah, manusia yang sudah mencapai fase/tahap transformasi kelima ini, dengan gelar "JALMA WUSTHO SIWONG" ia sudah menyadari dengan kesadaran yang tinggi tentang adanya Daya Hidup dalam setiap makhluk yang diciptakan oleh "Sang AKU" (TUHAN) sehingga dengan kesadarannya itu ia senantiasa mengucapkan kata "SALAM" sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan Sang Pemberi Daya Hidup yang bermanifestasi dalam bentuk makhluk ciptaan apapun di alam semesta ini.

Ucapan "SALAM" yang senantiasa dilakukan oleh Manusia "JALMA WUSTHO SIWONG" ini diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai berikut:

"Dan salam penghormatan mereka adalah 'SALAM'." (QS. Yunus 10:10)

Nah kata "SALAM" yang senantiasa diucapkannya ini jika dikaji dari aspek numerik-linguistik maka ia memiliki nilai numerik sebagai berikut:

SA = memiliki nilai numerik "60"
LA = memiliki nilai numerik "30"
MA = memiliki nilai numerik "40"
SA-LA-MA (dibaca: SALAM) = 60+30+40 = 130.

Sementara mulutnya mengucapkan kata "SALAM", ia pun tidak lupa menyatukan dan menutup kedua telapak tangannya sehingga akan terbentuk kode angka "88" yang tertulis dalam aksara Arab dari kedua telapak tangannya. Sehingga kombinasi antara ucapan "SALAM" dan gerakan dari kedua telapak tangannya ketika mengucapkan kata "SALAM" tersebut memberikan makna sebagai berikut:

Ucapan "SALAM" --> nilai numerik "130" Kode yang terbentuk dari gerakan kedua telapak tangan ketika mengucapkan "SALAM" --> kode numerik "88".
Kombinasi ucapan dan gerakan tangan = 130+88 = 218.

Sehingga Manusia yang sudah mencapai fase/tahapan kelima ini akan senantiasa menyebarkan SALAM sebagai penghormatan kepada Tuhan Sang Pemberi Daya Hidup yang menyatu dalam manunggal dalam setiap makhluk ciptaan Tuhan yang ada di alam semesta ini.

Resume fase/tahap kelima:
Gelar: JALMA WUSTHO SIWONG atau MANU-RA-HAYU.
Dibaca: MANU RAHAYU.
Makna: Makhluk yang senantiasa menyebarkan SALAM sebagai bentuk penghormatan kepada Sang AKU (TUHAN) Sang Pemberi Daya Hidup yang manunggal di dalam setiap makhluk ciptaan yang ada di alam semesta.
Nilai Numerik:
91+76+142 = 309.

FASE KEENAM: JALMA WASTU SIWONG

Dalam aspek kajian numerik-linguistik, kata "WASTU SIWONG" tersusun dari aksara: WASTU (WA-SA-TU), SIWA (SI-WA) dan WONG (WA-NGA).

WA = memiliki nilai numerik "6"
SA = memiliki nilai numerik "60"
TU = memiliki nilai numerik "400
WA-SA-TU (dibaca: WASTU) = 6+60+400 = 466.
SI = memiliki nilai numerik "60"
WA = memiliki nilai numerik "6"
SI-WA (dibaca: SIWA) = 60+6 = 66.
WA = memiliki nilai numerik "6"
NGA = memiliki nilai numerik "70"
WA-NGA (dibaca: WONG) = 6+70 = 76.
WASATU-SIWA-WONG (dibaca: WASTU SIWONG) = 466+66+76 = 608.

Nah kata "WASTU-SIWA-WONG" (dibaca: WASTU SIWONG) ini memiliki nilai numerik "608" sama dengan kata "BA-HA'-TA-RA-A" (dibaca: BHATARA/BATARA) yang bermakna "Manusia Dewa" atau "Manusia Agung yang dihormati".

Nah pada fase atau tahap tertinggi dalam transformasi ini, manusia yang diberi gelar "WASTU SIWONG" merupakan wujud nyata dari manusia yang sudah sangat mengenal JATi DIRi "Sang AKU" (TUHAN) dengan cukup baik. Ia tidak hanya mengenal-Nya sebagai "ALLAH" tapi ia juga mengenal-Nya sebagai "AR-RAHMAN" bahkan ia pun mengenal-Nya dengan 99 nama-nama milik-Nya yang terbaik.

Manusia "WASTU SIWONG" adalah manusia yang doanya pun menjadi senjata yang ampuh bagi dirinya, apa yang diucapkannya dalam DOA senantiasa menjadi terwujud nyata dalam kehidupan nyata, karena dirinya benar-benar sudah mengenal "Sang AKU" (TUHAN) dalam doa-doanya sehingga segala sesuatu yang mustahil sekalipun menjadi mungkin baginya meskipun hanya lewat DOA, dan apa yang dilakukannya sejalan dengan ayat berikut:

"Katakanlah: "Ber-DOA-lah (kepada) ALLAH atau ber-DOA-lah (kepada) AR-RAHMAN. Dengan NAMA yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al ASMAA'UL HUSNA dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu". (QS. Al-Isra 17:110)

Manusia "WASTU SIWONG" sangat mengenal "Sang AKU" (TUHAN) dalam banyak nama dan ia merangkum keseluruh nama tersebut dalam tiga nama agung berikut,

BISMI = Nama yang mana saja (dikenal sebagai "ASMAUL HUSNA")
BISMI = BA-SA-MA = 2+60+40 = 102.

ALLAH = Nama Sang AKU (yakni "ANA")
ALLAH = A-LA-LA-HA' = 1+30+30+5 = 66.

RAHMAN = Nama Sang Pencipta/Pengatur
RAHMAN = RA-HA-MA-NU = 200+8+40+50 = 298.

BISMI-ALLAH-RAHMAN = 102+66+298 = 466.

Cukup Dengan membuka kedua telapak tangannya, menyatukannya dan menengadahkannya kepada "Sang AKU" untuk menyatukan kode angka "54" dan "88" yang ada pada kedua telapak tangannya dan kemudian ber-DOA dengan menyebut kata "BISMI-ALLAH-RAHMAN" ia mampu mendatangkan berbagai keajaiban, karomah dan mukjizat yang tidak dapat dilakukan oleh manusia yang berada pada fase/tahapan transformasi di bawahnya sehingga wajarlah jika manusia awam menyebutnya sebagai "DEWA" yang bergelar "BA-HA'-TA-RA" (dibaca: BHATARA/BATARA).

Resume fase/tahap keenam:
Gelar: JALMA WASTU SIWONG atau MANU-BA-HA'-TA-RA.
Dibaca: MANU BHATARA.
Makna: Makhluk yang sudah sangat mengenal Sang AKU (TUHAN) dengan sangat baik dalam berbagai nama sehingga ia dapat melakukan keajaiban dan mukjizat-mukjizat yang tidak biasa dan tidak bisa dilakukan oleh siapapun.
Nilai Numerik:
91+466+142 = 699.

Demikianlah Transformasi Manusia Sunda Dalam Kearifan Lokal Nuhsantara.

Semoga menjadi pancerRUH - panceRIH - penceRAHan yang membangkitkan keSADARan buat generasi muda dan generasi tua pewaris Bhumi Pertiwi kita tercinta.

🙏🏻 Salam - Rahayu 🙏🏻

"RahAsia NagaRI shin"

"RahAsia NagaRI shin"
By : Kang SundaRa

* Aswrwb - Sampurasun *

Awal kisah terungkapnya "RAHASIA" ini berawal dari SABDA "Malaikat Jibril" (GabRI-El) Sang Batara Guru kepada "Nabi Muhammad" SAW Aslama Sang Manusia SOENda tentang Rahasia sebuah negeri yang telah memiliki teknologi peradaban maju dan juga telah memiliki ajaran yang luhur jauh beribu-ribu tahun yang lalu yang bernama "NEGERI SHIN".

Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Tuntutlah ilmu meskipun harus sampai di NEGERI SHIN" (HR. Al-Baihaqi) - Bae HAQ Insoen.

Dalam hadits tersebut, NEGERI SHIN ditulis dengan tiga aksara Arab, yakni: SHAD, YA dan NUN, dibaca "SHIIN" yang jika dilihat dari aspek etno-numerik-linguistik maka:

SHAD = memiliki nilai numerik 90.
YA = memiliki nilai numerik 10.
NUN = memiliki nilai numerik 50.
SHAD+YA+NUN (SHIN) = 90+10+50 = 150.

Ejaan aksara SHAD, YA dan NUN ini kemudian dilafalkan dengan aksara vokal menjadi "a-sha-ya-na" (dibaca: ashayana) yang artinya "dikelilingi sinar dengan sempurna" namun kemudian kata "ashayana" ini dilafalkan menjadi "ocean" yang disalah-artikan menjadi "SAMUDera".

Kata "SHIN" sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas sebagai "NEGERI SHIN" kemudian diadopsi ke dalam Bahasa Inggris menjadi kata "SHINE" yang artinya adalah:
Shining, Sheen (adjective)

Namun dalam terminologi kehidupan penduduk Nusantara, kata "SHIN" ini lebih banyak diucapkan dengan kata "SUNDA"

Sehingga kata "SUNDA" jika diartikan dengan pendekatan Bahasa Sansekerta, maka artinya dalam Bahasa Indonesia adalah "Bersinar", "Terang", "Putih", "NuR" atau "JanNAH".

Namun jika ia diartikan menggunakan kaidah hukum "sandi" dalam tata bahasa Sunda, maka kata "SUNDA" terdiri dari akar kata SU, NA dan DA yang artinya adalah:
** SU = Sejati, Abadi;
** NA = Seuneu, Api;
** DA = Besar, Agung;
** SU-NA-DA (SUNDA) = (NuR) sumber Api Besar yang Abadi.

Dan jika dilihat dari aspek etno-numerik-linguistik maka:

SU = memiliki nilai numerik 60.
NA = memiliki nilai numerik 50.
DA = memiliki nilai numerik 4.
SU-NA-DA (SUNDA) = 60+50+4 = 114.

Nah kode angka "114" ini jika dianalogkan menjadi jumlah komplitnya surat dalam Al-Qur'an, dan Surat yang ke-114 yakni Surat "An-Naas" yang artinya adalah "Manusia".

Jadi dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa kata "SUNDA" maknanya merujuk kepada "Manusianya" secara menyeluruh (SELuRUH dalam cahAYA) tanpa masuk ke dalam ranah et-nusa (etnis), suku ataupun ras tertentu yang terkait dengan kata "SUNDA".

Lalu, dalam sudut pandang etno-numerik-linguistik, apakah bisa kata "SUNDA" yang memiliki nilai numerik "114" dianalogkan dengan kata "SHIN" (Negeri SHIN) yang memiliki nilai numerik "150", sementara diantara kedua kata tersebut masih berselisih angka sebesar "36".

Mari kita kaji kembali bagaimana dengan makna selisih angka "36" ini? Nah angka "36" ini jika diterjemahkan menjadi aksara sunda dengan kaidah hukum sasandi, maka akan menjadi kata BA-LA-DA, dimana:

BA = memiliki nilai numerik 2.
LA = memiliki nilai numerik 30.
DA = memiliki nilai numerik 4.
BA-LA-DA = 2+30+4 = 36.

Dan kata "BALADA" ini artinya adalah "NEGERI" (analog dengan kata "AL-BALAD).

Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa NEGERI "SHIN" itu disebut sebagai "BALADA SUNDA" yang artinya adalah "NEGERI SUNDA" yang keduanya (baik Negeri SHIN ataupun Negeri SUNDA) memiliki nilai numerik yang sama yakni "150".

Kesimpulannya:
SHIN adalah NEGERI-nya.
SUNDA adalah MANUSIA-nya.

Dan jika dikaitkan dengan arti kata "SUNDA" dalam Bahasa Sang Saka Kreta - kereteg (Sansekerta/Sanskrit) ataupun dengan arti dari akar katanya yakni SU-NA-DA, maka
arti "SUNDA" menjadi "Manusia yang membawa Sinar/nir/nur terANG" atau "Manusia yang menjadi Penerang bagi Alam". Inilah RAH_ASIA (roh Aing, Suami, Istri dan Anak) yang sebenarnya dari makna kata "SUNDA".

Lalu, apakah ada rahasia tersembunyi lainnya dari kata "SUNDA" ini? Sangat banyak sekali.

Dalam penjelasan sebelumnya disebutkan bahwa kata "SUNDA" memiliki nilai numerik "114" yang dianalogkan dengan Surat ke-114 dalam Al-Qur'an yakni Surat "An-Naas". Sehingga untuk mengungkap rahasia yang tersembunyi dari kata "SUNDA" maka kita harus mengungkapnya melalui kajian Surat "An-Naas" ini.

Namun sebelum melakukan kajian lebih lanjut terhadap Surat An-Naas ini, ada satu kaidah norma yang harus kita patuhi yang dijelaskan dalam ayat berikut,

"Maha Suci Tuhan (Allah) yang telah menCIPTAkan pasangan-pasangan seluruhnya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh Bumi, dan dari diri mereka, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (QS. Ya_asiin, 36: 36) [Ya_asin].

Lewat ayat di atas, akhirnya kita paham bahwa untuk dapat mengungkap rahasia apapun, maka kita dapat melakukan kajian terhadap pasangannya secara terpisah, atau bahkan melakukan kajian terhadap keterpasangan keduanya sekaligus. Karena faktanya adalah bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini meliliki sifat dualismenya masing-masing. Begitu pun halnya dengan Surat "An-Naas" yang ternyata memikiki sifat dualisme dengan Surat "Al-Fatihah".

Dan lewat dualisme atau keterpasangan Surat "An-Naas" dan Surat "Al-Fatihah" ini akhirnya Rahasia tersembunyi tentang ajar pikukuh "SUNDA" dapat terungkap dengan sempurna.

Ada tiga ayat pada Surat "An-Naas" ataupun Surat "Al-Fatihah" yang memiliki redaksi ayat yang serupa namun konteksnya berbeda dan keduanya memiliki sifat dualisme satu sama lain.

Dalam Surat "An-Naas", ketiga ayat tersebut adalah:
Ayat 1 : "Rabb (bagi) Manusia."
Ayat 2 : "Maalik (bagi) Manusia."
Ayat 3 : "Ilaah (bagi) Manusia."

Sedangkan dalam Surat "Al-Fatihah", ketiga ayat tersebut adalah:
Ayat 2 : "Rabb (bagi) Alam Semesta."
Ayat 4 : "Maalik (bagi) Hari Akhir."
Ayat 5 : "Hanya kepada-Mu kami meng-Abdi."

Nah ada frase kata yang serupa dari ketiga ayat dari masing-masing surat di atas, yakni kata: RABB, MAALIK dan ILAAH.

Dan lewat ketiga kata ini, akhirnya kita paham bahwa "Manusia" (Sunda) sebagai "Jagad Mikrokosmos" pada hakekatnya berpasangan dengan "Alam Semesta" sebagai "Jagat Makrokosmos" sehingga antara keduanya ada ikatan kebutTUHAN satu sama lain, maka dengan demikian seyogyanya antara "Manusia" dan "Alam Semesta" memiliki hubungan yang serasi, selaras dan dinamis.

Kembali kepada tiga kata yang serupa yang ditemukan lewat keterpasangan Surat "An-Naas" dan Surat "Al-Fatihah" yakni kata: RABB, MAALIK dan ILAAH, maka berikut makna dari ketiga kata tersebut,

"RABB" merupakan bentuk subyek yang artinya adalah "Pengatur", sedangkan bentuk kata bendanya adalah "RUBUBIYAH" yang artinya adalah "Aturan".

"MAALIK" merupakan bentuk subyek yang artinya adalah "Raja", sedangkan bentuk kata bendanya adalah "MULKIYAH" yang artinya adalah "Kerajaan".

"ILAAH" merupakan bentuk subyek yang artinya adalah "Sesembahan", sedangkan bentuk kata bendanya adalah "ULUHIYAH" yang artinya adalah "Rakyat" atau "Umat".

Dan ketiga kata inilah yang ternyata dijadikan sebagai dasar pemikiran dan dasar pijakan dalam merumuskan ajar pikukuh Sunda yang dikenal sebagai "TRI-TANGTU SUNDA" yang di-siloka-kan sebagai bentuk senjata "TRISULA" yang merupakan senjata pusaka milik "DEWA POSEIDON" dimana kata "POSEIDON" berasal dari kata "PASUNDAN" (Pa-Sunda-an) yang diadopsi ke dalam Bahasa Yunani menjadi "POSEIDON".

Berikut urut ajar pikukuh Sunda yang dikenal sebagai "TRI-TANGTU SUNDA":

RABB - MAALIK - ILAAH
RUBUBIYAH - MULKIYAH - ULUHIYAH
ATURAN - KERAJAAN - RAKYAT
TATA SALIRA - TATA NAGARA - TATA BUANA
AGAMA - NIGAMA - SUNDARIGAMA
RAMA - RATU - RASI
YUDIKATIF - EKSEKUTIF - LEGISLATIF
MANUSIA SUNDA (Rama ~ Nabi) - BATARA GURU (Ratu ~ Jibril Sang Penyampai Wahyu) - ORANG SUNDA (Rasi ~ Umat)

Ya itulah rahasia tersembunyi dari ajar pikukuh Sunda yg disebut sebagai "TRI-TANGTU SUNDA" yang ternyata dirumuskan oleh Leluhur kita lewat keterpasangan tiga buah ayat dari Surat "An-Naas" dan Surat "Al-Fatihah" yang rahasianya diperoleh dari Sang Batara Guru yakni Malaikat Jibril yang diberi tugas sebagai "Penyampai Wahyu" dari Sang Hyang Wenang (Tuhan) kepada para "Manusia Sunda" (Nabi) untuk diajar-luaskan secara umum kepada "Orang Sunda" (Umat).

Selain itu, keterpasangan ketiga ayat dari Surat "An-Naas" dan Surat "Al-Fatihah" juga memberikan kita informasi RAHasia lainnya, yakni lewat kode sandi dari nomor-nomor ayatnya.

Dari ketiga ayat dari Surat "An-Naas" kita mendapatkan kode sandi "1-2-3" sedangkan dari ketiga ayat dari Surat "Al-Fatihah" kita mendapatkan kode sandi "2-4-5".

Ada apa dengan kode sandi "1-2-3" dan "2-4-5" ini? Kode "1-2-3" jika dijumlahkan maka hasilnya adalah "6". Sedangkan kode "2-4-5" jika dijumlahkan maka hasilnya adalah "11".

Jika kita lakukan restrukturisasi terhadap kode "6" dan kode "11" ini maka akan menjadi:

6 = 1+5.
11 = 1+10.

Mari kita kaji makna angka-angka tersebut melalui kajian nuMERIK-linguistik aksara Arab sebagai berikut:

6 = 1+5.
Angka 1 = nilai numerik dari huruf "Alif".
Angka 5 = nilai numerik dari huruf "Ha Besar".
Sehingga kode "6" = 1+5 diterjemahkan menjadi huruf "Alif" dan huruf "Ha Besar" yang jika digabung maka akan dibaca "AH".

Sedangkan dalam aksara suara, huruf "Ha Besar" ini akan terbaca seolah-olah seperti dua huruf yg dibaca secara bersamaan sekaligus, yakni huruf "Ha" dan huruf "Ain" (dibaca NGA dalam bahasa Sunda/Jawa), sehingga huruf "Alif" dan huruf "Ha Besar" ini jika digabungkan dan dibaca dengan aksara suara maka akan dibaca sebagai "HANG" atau "HONG".

Kemudian untuk 11 = 1+10.
Angka 1 = nilai numerik dari huruf "Alif".
Angka 10 = nilai numerik dari huruf "Ya".
Sehingga kode "11" = 1+10 diterjemahkan menjadi huruf "Alif" dan huruf "Ya" yang jika digabung maka akan dibaca "AYA". Dan kata "AYA" dalam bahasa Sunda artinya adalah "ADA".

Selain itu huruf "Alif" dan huruf "Ya" ini jika dibaca dengan aksara huruf Yunani maka ia akan menjadi "Alfa" dan "Omega".
Alif = Alfa
Ya = Omega

Sehingga "Alif" dan "Ya" juga akan dibaca sebagai "Alfa" dan "Omega" yang diakronimkan menjadi kata "AOM" yang merupakan ucapan sakral dalam setiap ibadah Umat Hindu (analog kata "OM" atau "AUM").

Kemudian jika kita pasangkan kata "AH" atau "HONG" dan kata "AYA" atau "AOM/AUM" dan kemudian kedua kata tersebut digabungkan maka akan dibaca menjadi:

AH + AYA = AH-YA ~ AHYA.
HONG + AOM/AUM = AUM-HONG.

Gabungan kata "AUM-HONG" kemudian dikenal dalam konteks Agama Hindu sebagai "AUM-KARA" dan "HONG-KARA".

Sesangkan gabungan kata "AH-YA" kemudian dikenal dalam konteks Agama Islam ataupun Agama Yahudi/Nasrani sebagai "Ismul Azham" atau "Asma Agung" atau "Nama Tuhan yg Paling Agung" yang tidak dapat diucapkan secara sembarangan.

Kata "AHYA" yang berarti "AKU ADA" adalah nama Tuhan Bani Israil yang diperkenalkan ALLAH langsung kepada NABI MUSA (MOSES) dalam Bahasa Ibrani dengan kata "EHYE" dalam kalimat "EHYE ASHER EHYEH" yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi "I AM WHO I AM" dan dalam bahasa Arab menjadi "INNANI ANA" dan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi "AKU ADA ADALAH AKU ADA".

Sedangkan Dalam Tafsir Al-Qurthubi, juz 4 halaman 267 disebutkan bahwa kata "AHYA" adalah salah satu ISMUL AZHOM (Nama Tuhan yg paling agung) yang biasa digunakan oleh para Nabi dan orang-orang sholeh BANI ISRAIL ketika melakukan hal-hal berkaromah. Beliau menyebutkan bahwa kata "AHYA" dalam bahasa Ibrani dirangkai menjadi kalimat "AYA HAYYA SYARAAHIYA" yang dalam bahasa Arab artinya sama dengan "AL HAYYU AL QAYYUM".

Senada dengan penjelasan Al-Qurthubi, Ibnu Katsir juga menjelaskan dengan dasar sebuah hadits Nabi, bahwa ketika NABI MUSA bertanya "apa yang harus saya katakan?" maka Allah menjawab "HAYYA SYARAHIYA" dimana arti dari kalimat "HAYYA SYARAHIYA" adalah "AKU YANG HIDUP SEBELUM SEGALA SESUATU DAN SETELAH SEGALA SESUATU TIADA".

Sedangkan dalam Kitab Tafsir Al-Munir disebutkan bahwa ketika Ashif bin Barkhiya (perdana menteri Nabi Sulaiman) memindahkan Singgasana Ratu Balqis, ia berdoa dalam bahasa Ibrani: "AHYA SYARAHIYA Adwana Ashba Utin Ala Syaday" yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi "YAA HAYYU YAA QAYYUM YAA DZUL JALALI WAL IKRAM" dan dalam sekejap mata kemudian singgasana tersebut pindah sebelum Nabi Sulaiman mengedipkan matanya.

,,, kesimpulannya adalah ,,,

Bahwa Kata "AHYA" ataupun kata "AUM-HONG" sesungguhnya berasal dari ajar pikukuh "Manusia Sunda" (Para Nabi) yang diajarkan secara rahasia dan turun temurun kepada "Orang Sunda" (umatnya) yang awal mulanya hanyalah berasal dari kata "AH" dan kata "AYA" (dalam bahasa Sunda artinya adalah "ADA") namun ketika kedua kata tersebut digabungkan maka ia akan menjadi "Ucapan Sakti Mandraguna" yang diucapkan ketika akan melakukan hal-hal berkaromah diluar nalar logika manusia.

Demikianlah RahAsia tersembunyi dari kode sandi-sindu-sunda "1-2-3" Surat An-Naas dan kode sandi "2-4-5" Surat Al-Fatihah yang dirumuskan oleh leluhur "Manusia Sunda" menjadi kode "6" dan kode "11" kemudian menjadi sandi "1+5" dan sandi "1+10".

Nah tidak hanya itu, masih ada satu lagi rahasia tersembunyi lainnya dari kedua kode sandi tersebut yakni kode "6" dan kode "11" yan jika dijumlahkan menjadi kode "17" yang kemudian diterjemahkan oleh leluhur "Manusia Sunda" sebagai kode sandi "8" dan "9" (17 = 8+9) dimana kode sandi ini terekam di dalam Kitab Veda milik Umat Hindu:

"Tempat kediaman malaiKAT ini mempunyai DELAPAN putaran dan SEMBILAN pintu." (Kitab Atharva Veda 10:2:31)

Dan kode sandi "8" (bermakna "DELAPAN putaran) dan kode sandi "9" (bermakna "SEMBILAN pintu") ini dibuat silokanya oleh leluhur "Manusia Sunda" dalam bentuk "ARUPADHATU" CANDI BOROBUDUR (can diboro bu duRI-duRA-duRU - badar).

"DELAPAN Putaran" adalah siloka dari MANDALA yang membagi Lingkaran menjadi 8 arah penjuru angin, sedangkan "SEMBILAN Pintu" adalah siloka dari "stupa-stupa kecil" yang ada di tiga undakan bertingkat "ARUPADHATU (A Rupa Dat Hu)" CANDI BOROBUDUR yang tersusun rapi dalam setiap arah penjuru angin dalam sistem "Delapan Putaran Mandala" dengan susunan berundak dari atas ke bawah:

Lingkaran Paling Atas = 2 stupa kecil
Lingkaran Kedua dari Atas = 3 stupa kecil
Lingkaran Paling Bawah = 4 stupa kecil

Sehingga kode sandi "SEMBILAN Pintu" dimaknai sebagai "9 stupa kecil" yang terdapat dalam setiap arah penjuru angin yang ada di "DELAPAN Putaran Mandala" yang tersusun dengan pola susunan stupa "2-3-4". Nah kemudian apa makna dari kode sandi "2-3-4" ini?

Makna dari Kode sandi "2-3-4" ini dibuat oleh leluhur kita sebagai Simbol "Hasaka Djawa" yang merupakan siloka (SILOu mun can kabuKA) manunggalnya "CAHAYA BESAR" (SUNDA BESAR" dan "CAHAYA KECIL" (SUNDA KECIL) dalam diri setiap manusia yang sudah mencapai tahapan sebagai "MANUSIA SUNDA" (Manusia Adi Luhung).

Demikianlah analisis "etno-numerik-linguistik" mengenai Rahasia Nama "SUNDA", Rahasia ajar piKUKUHnya dan juga Rahasia Ucap Saktinya.
Untuk makna kode sandi "2-3-4".

Semoga menjadi pencerahan - pancerRAH buat semua yang merasa dirinya sebagai "Orang Sunda", "Manusia Sunda" dan "Penduduk Negeri SHIN". PajAJARAN ANYAR.

SELaMAT berTAFAqur'an

"JAWA = jeWISh (YAHudi) & BeuNang meRAHnya"

"JAWA = jeWISh (YAHudi) & BeuNang meRAHnya"
By : Kang SundaRa

Sengaja saya melengkapi olah pikir dari KH. MH. Ainun Najib, Utusan Kaisar Tiongkok, KH. Fahmi Basya, kelompok peneliti muda Turangga Seta.

“Anda tidak akan paham bila menemukan peta Indonesia Raya dijadikan center display di sebuah web Israel dan Amerika Serikat (www.us-israel.org). Juga agak miris melihat tanda warna merah pada daerah tertentu dari Nusantara” ujar Kyai (“mbelis”) MH. Ainun Najib. Di Belanda November 2008 saya ngobrol panjang dengan pemimpin Yahudi internasional Rabi Awraham Suttendorp yang sangat mengenal Indonesia lebih detail dari kebanyakan orang Indonesia sendiri, sebagaimana di kantor Perdana Menteri Israel Anda bisa jalan-jalan (“main”) ke sana dan melirik ruangan khusus yang berisi segala macam data tentang Indonesia segala bidang yang di-update setiap minggu. Israel juga punya situs berbahasa Indonesia.
Kepada Rabi saya tanyakan kenapa disain tengah atas atau puncak mahkota keagamaan yang beliau pakai memimpin peribadatan di Synagogue (rumah ibadah Yahudi) sama dengan disain bagian atas rumah-rumah di Pulau Jawa bagian Utara. Kenapa ibu kota Israel tidak Tel Avivsaja tapi Java Tel Aviv. Kenapa kantor-kantor Yahudi di berbagai Negara pakai kata Java. Apa pula hubungan dua konsonan yang sama itu: J dan W. Jewish dan Jawa. Mana yang lebih tua: JeWish atau Jawa? Kalau Sampeyan keturunan Nabi Ibrahim, apakah nenek moyang kami manusia Nusantara yang seluruhnya berpuluh abad yang lalu disebut JaWa atau JaWi adalah ‘keponakan’nya Ibrahim ataukah lebih tua dari Ibrahim.

Dari Jawa dimunculkan sedikit informasi bahwa beberapa waktu yang akan datang akan terjadi hasil “taruhan” antara Yahudi (Jewish) dengan Jawa (bukan Jawa non-Sunda non-Batak dalam pengertian 100 tahun terakhir): Kalau Yahudi yang memenangkan persaingan memimpin dunia, maka mereka akan ajak Jawa menjadi rekanan kerja. Kalau Jawa yang ‘juara’ mereka akan berguru kepada Jawa. (Dan hari ini kompetisi JaWa vs JeWish ini sedang terjadi dimana skor terunggul masih dipegang Jewish alias Yahudi alias Israel).

Hari ini mayoritas asset moneter global dan segala jenis modal perekonomian, bank dunia, dan institusi-institusi keuangan primer dunia dipegang oleh turunan Yahudi Israel, dan strategi pengelolaannya sampai ke Kongres Amerika Serikat berada di genggaman turunan yang lain dari beliau juga. Sejumlah futurolog ekonomi menganjurkan anak-anak kecil sekarang mulailah diajari berbahasa Arab karena akan menjadi bahasa utama dunia: pergilah cari kerja ke Negeri koalisi 16 Pangeran di Jazirah Arab. Bahasa Ibrani tidak perlu dipelajari, karena para fungsionaris dari Israel mungkin lebih pandai berbahasa Arab dibanding Raja Saudi dan lebih mlipis berbahasa Indonesia dibanding orang Indonesia” kata MH. Ainun Najib.

“Perlu diketahui, harta kekayaan yang ada (yang tersimpan di Federal Reserve USA, Herritage Foundation, UBS, Swiss, Inggris, Rusia dan 400 Bank besar di dunia) ini berkaitan dengan (sejarah penyatuan kekayaan hasil pernikahan) Nabi Sulaiman dan Ratu Syeba (Bilqis) dan setelah Sulaiman wafat, maka kekayaan ini dikelola oleh mereka yang berdarah Sulaiman di tanah Nusantara ini, termasuk PB X, Jadi kalau mau dikata, mereka ini adalah keturunan Yahudi juga, dan (asal) para turunan raja-raja yang ada di dunia (saat) ini, adalah keturunan yang berhubungan darah dengan Raja Sulaiman ini, yang notabene Yahudi juga.

Namun sejarah mencatat adanya cloning (penggandaan) berupa dokumen keuangan ini yang kemudian diputar dan dikelola oleh organisasi dibawah Freemason, yang dilakukan secara arus keras untuk kepentingan mereka, sedang para pemegang fisik asli bergerak secara tersembunyi.

Saat ini sudah mencapai tahap krusial, tatatan dunia baru pasti terjadi, mereka yang memegang perputaran uang menggunakan dokumen telah diputihkan. Namun rencana mereka membuat negara-negara kecil setelah perang dunia ke-2 telah berjalan, termasuk Indonesia yang boleh dikatakan sebenarnya "kudeta" kepada Kerajaan saat berdirinya. Ini yang menyebabkan absurd, dan negara kita adalah negara dagelan saat ini, Sorry Indonesia dimata para sesepuh (Nusantara) tidak pernah benar disebut negara, karena bukan negara, namun pemerintahan administratif, sama seperti Belanda dan Jepang saat menduduki Nusantara kita ini” tegas Sang Utusan Tiongkok ini.

Hasil riset Lembaga Studi Islam dan Kepurbakalaan yang dipimpin oleh KH. Fahmi Basya, dosen Matematika Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bahwa sebenarnya “Candi Borobudur” adalah bangunan yang dibangun oleh “Tentara Nabi Sulaiman” termasuk di dalamnya dari kalangan bangsa Jin dan Setan yang disebut dalam Al-qur’an sebagai “Arsy Ratu Saba”, sejatinya PRINCE OF SABA atau “RATU BALQIS” adalah “RATU BOKO” yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Jawa, sementara patung-patung di Candi Borobudur yang selama ini dikenal sebagai patung Budha, sejatinya adalah patung model bidadara dalam sorga yang menjadikan Nabi Sulaiman sebagai model dan berambut keriting. Dalam literatur Bani Israel dan Barat, bangsa Yahudi dikenal sebagai bangsa tukang dan berambut keriting, tetapi faktanya justru Suku JaWa yang menjadi bangsa tukang dan berambut keriting (perhatikan patung Nabi Sulaiman di Candi Borobudur ).

Kesimpulannya bahwa “SUKU JAWA” disebut juga sebagai “BANI LUKMAN” karena menurut karakternya suku tersebut sesuai dengan ajaran LUKMANUL HAKIM sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an. Dan satu-satunya nabi yang termaktub dalam Al-qur’an, yang menggunakan nama depan SU hanya Nabi Sulaiman dan negeri yang beliau wariskan negerinya diperintah oleh keturunannya yang juga bernama depan “SU” yaitu Sukarno, Suharto, dan Susilo serta meninggalkan negeri bernama SLEMAN di Jawa Tengah. Nabi Sulaiman mewarisi kerajaan dari Nabi Daud yang dikatakan didalam Al-qur’an dijadikan Khalifah di Bumi (menjadi Penguasa Dunia dengan Benua Atlantis sebagaiPusat Peradabannya), Nabi Daud juga dikatakan raja yang mampu menaklukkan besi (membuat senjata dan gamelan dengan tangan, beliau juga bersuara merdu) dan juga menaklukkan gunung hingga dikenal sebagai Raja Gunung. Di Nusantara ini yang dikenal sebagai Raja Gunung adalah “SYAILENDRA” , menurut Dr. Daoed Yoesoef nama Syailendra berasal dari kata Saila dan Indra, Saila = Gunung dan Indra = Raja. (negeri yang dikelilingi oleh gunung berapi aktif satu-satunya di dunia hanya INDONESIA, dan penguasanya disebut RAJA GUNUNG dan sebutan sebelumnya ialah RAJA API untuk Ravhana.

Jadi sebenarnya Bani Israel yang sekarang menjajah Palestina bukan keturunan Israel asli yang hanya terdiri 12 suku, tapi mereka menamakan diri suku ke 13 yaitu Suku Khazar (asalnya dari Asia Tengah) hasil perkawinan campur Bani Israel yang mengalami diaspora dengan penduduk lokal, suku Khazar ini mayoritas di seluruh dunia. Sedang Yahudi asli menghilang yang dikenal sebagai suku-suku yang hilang “The Lost Tribes” dimana mereka pergi ke timur dan banyak yang menuju ke “THE PROMISED LAND” yaitu negara INDONESIA ini.

Kembali sebagai penguasa asset dunia Yahudi Israel yang kini dikuasai kaum Yahudi Khazar Israel menguasai 100% perekonomian dunia menjadikan mereka tuan dari perbudakan baru (yang tidak terlihat) yaitu menghisap produktivitas manusia yang ditukarkan dengan uang yang mereka atur nilai tukarnya sekehendak hati mereka. Dengan demikian semakin giat anda kerja nilai tukarnya senantisa melorot hingga tidak terpenuhi impian anda sedangkan keuntungan mereka (pembuat uang) semakin meroket bertambah kaya dan arogan berkuasa. Hanya dengan mengenali kejahatan mereka maka kejahatan mereka dapat dihentikan dan menggantikan peran mereka. Hanya Bangsa Indonesia yang punya perjanjian sakti Green Hilton Agreement (GHA) 1963 antara JF Kennedy dengan Soekarno yang dapat membuka mata manusia dunia atas kejahatan yang ada dibalik sandiwara ekonomi-politik-sosial-budaya-keamanan di panggung mimpi dunia saat ini (yang kekal nanti di akherat).

Kekuatan terpendam dari tuntutan bangsa Indonesia tentang EMAS yang dikangkangin Yahudi Khazar Israel (yang diaku-aku sebagai modal bisnis mereka) melalui gugatan GHA 1963 inilah yang dapat menghentikan ketidak-adilan, peperangan, keserakahan dan perilaku a susila/ a moral/ anti-sosial manusia di hari ini, dengan membuka kebobrokan Yahudi Israel dan sekutunya maka kepercayaan masyarakat ekonomi dunia akan runtuh dan meninggalkan mereka menuju ke pemilik yang baru. Dan pemilik itu tidak lain adalah Bangsa Melayu Nusantara (Indonesia). Efek domino dari gugatan ini adalah berhenti beroperasinya FED dari gugatan modal mereka 57.147 ton emas 24 karat, lalu diikuti gugatan kepada Herritage Foundation yang memiliki saham di lebih dari 400 bank sentral dan bank besar didunia, mereka akan bangkrut dalam satu malam, Armagedon pun terjadi esok paginya bagi orang-orang serakah yang masih berharap bisa menindas orang dalam perbudakan 500 tahun terakhir dan armagedon berakhir dengan kelelahan dan kepasrahan untuk mengikuti system ekonomi Pajajaran Anyar : TOLONG MENOLONG TANPA BUNGA DAN RIBA (SiTuMaNg) ,,, dalam bahasA pajajARAN ANYAR : Sistem Zakat. Sehingga tejadilah Sawarga/Surga awal di INDONESIA ; NagaRI - NagaRA nanjung panjang punjung, Pasir wukir puseur bumi, Gemah ripah louh jinnawi (Louh jannah bi), Aman tentrem kerta RAharja, Tata tintrim mukti wibawa, Murah sandang murah pangan BAHAGIA SalAlaWasnA. Yang selanjutnya diikuti oleh negara-negara yang lainnya. Sehingga MERDEKAlah selUruh bangsa dan NegaRA dan terHAPUSlah SELuRUH PENJAJAHan diseluruh dunia.

Yang pertama menyebabkan Yahudi Khazar Israel senantiasa cemas akan gerakan di Indonesia yang mulai menyatu-nyatukan puzzle-puzzle sejarah yang kian nyata dibuktikan dari temuan arkeologi, temuan catatan-catatan sejarah hingga gugatan atas siapa arsitek kekacauan dunia saat ini. Inilah yang menyebabkan Israel dan sekutunya menempatkan Indonesia sebagai target intelejen dan perang psikologis-nya agar Bangsa Melayu Nusantara ini tidak terbangun atas kesadaran siapa jati dirinya yang bisa merusak status quo zona kenyaman mereka memperbudak manusia bangsa Melayu Nusantara dan dunia atas nama ekonomi kapitalis liberal dan elemen doktrin pendukungnya (seperti republik, demokrasi, emansipasi, tatanan dunia baru dsb.).

Sedangkan disatu-sisi mereka ingin mempertahankan posisinya sebagai Yahudi jadi-jadian yang diterima keturunan Suku Yahudi asli yang tersisa serta intregritas masyarakat dan hukum dunia, dengan membawa budaya dari asal-usul nenek moyang asli Yahudi dari Asia Timur, Melayu Nusantara, inilah kenapa symbol-simbol budaya Jawa dibawa kepada instrument keagaamaan mereka. Sikap ini diambil untuk menutupi kebohongan mereka tentang asal-usul suku Yahudi Khazar Israel sesungguhnya hingga kebinasaan mereka kelak.

Yahudi asli mengetahui dengan pasti dan jelas bahwa cepat atau lambat mereka akan pulang ke negerinya yaitu JAVA the Promised Land karena disana mereka akan bertemu saudara tuanya bangsa Lemuria, suatu benua tersembunyi di muka bumi ini yang hanya terbuka bila mereka berhasil menguasai cara berpikir Jawa yang akan membuka pintu gerbang “Star Gate” menuju teknologi ultra-canggih yang dimiliki oleh negeri fatamorgana di Selatan laut Jawa ini. Negeri Lemuria masih ada hingga kini dan berhubungan dengan penguasa JaWa trah Sulaiman terakhir dan keyakinan Yahudi kuno inilah yang ditunggangngi Yahudi Khazar Israel untuk menguasai tanah Indonesia tanpa diketahui maksudnya sama si Empunya Negeri.

Semua yang ada di dunia telah dikuasai Yahudi Khazar Israel kecuali SATU yaitu KEABADIAN di dunia dan mereka ingin menguasai TEKNOLOGI bangsa Lemuria yang diyakini dapat menghindari Kiamat dari Tuhan sebagaimana yang mereka idam-idamkan untuk menghindari siksa api neraka. Teknologi Lemuria sebanding dengan teknologi Atlantis yang telah terkubur ratusan meter dibawah tanah Indonesia akibat prahara bencana letusan gunung berapi disekelilingnya. Keunggulan teknologi Lemurian tidak terbayangkan oleh manusia yang hidup disisi benua lainnya, padahal mereka eksis tapi tidak mau diketahui manusia disisinya. Salah satu kemampuan mereka adalah pengendalian pikiran (yang kata orang kita disebut santet), berbicara dengan telepati, berbicara dengan binatang, menembus batas dimensi jin sehingga mereka mampu berinteraksi dan hal ini yang dikatakan orang kita terhadap aksi agen Lemurian disekitar “Star Gate” sebagai hal ghaib, sakral, mistis semua ini buah dari ilmu yang mereka warisi dari Nabi Sulaiman (Attala) yang mempermaisuri ratu Lemuria. Teknologi Lemuria lainnya adalah tele-transportasi (memindahkan materi tanpa pesawat), teknologi anti-materi dan re-struktur materi yang menyebabkan tubuh mereka mampu mengikuti perjalanan berjelajah kecepatan cahaya dalam perjalanan antar galaksi (hal ini hanya diberikan Allah kepada para Nabi-Nya dan terakhir adalah peristiwa Isra-Miraj Nabi Muhammad SAW), teknologi reaksi nuklir air sebagai bahan bakar, teknologi heksagram yang memberikan manfaat keseimbangan fungsi organ tubuh dan usia yang panjang dengan perawatan yang tepat. Dll.

Yahudi Khazar bukan bangsa yang bodoh mereka sedikit mewarisi kecerdasan Nabi-Nabi Allah dari hasil pernikahan paksa dengan wanita dari 12 suku asli Yahudi yang kini telah menjelma menjadi warga Afrika, Ambon, Papua hingga Austronesia, sedikit yang diinformasikan asal-usul keturunan Yahudi asli karena para leluhur mereka takut akan adanya pengejaran oleh para kstaria templar yang hendak membunuh mereka hingga mereka diselamatkan oleh kapal-kapal saudagar Nusantara yang berlabuh di Andalusia dan pelabuhan lain di Spanyol. Kelak pengejaran ini berubah menjadi perampokan dengan dalih 3G; Gold, Gospel, Glory didukung politik Yahudi Khazar yang telah berubah wujud baru organisasi berstruktur modern yang dipelopori keturunan ambisius mereka bernama Rotschild, pendiri gerakan persaudaraan persekutuan manusia dan setan: Illuminati dan melengkapinya dengan mendirikan front humas mereka: Freemason, agar sepak terjang berdarah dalam sejarah +2100 tahun peradaban manusia sebelumnya tertutup oleh aksi pura-pura membela kemanusiaan dan sejarah tertulis yang mereka karang sendiri.

Apakah segala perbuatan Yahudi Khazar ini diketahui leluhur Nusantara? Ya pasti, karenanya para leluhur Nusantara yang merupakan pemimpin asli dari garis keturunan Nabi SUlaimaN dan DAud (SUNDA) dibantu saudaranya Lemurian melakukan hijrah (HIJIrah) sementara kealam trans-media disebut moksa bersama pengikut setianya. Kemampuan Lemurian dalam menghilangkan pandangan daratan seluas 2 juta kilometer persegi dari pantauan diteksi canggih NASA (walaupun sebetulnya NASA tidak canggih, cuma pintar mempropaganda) dan alat super canggih yang mereka miliki adalah kemampuan olah hologram raksasa dan kemampuan menghilangkan 2/3 Pulau Jawa dari pandangan manusia awam adalah kemampuan olah elektro-magnetik (kini sebagian orang awam menyebutnya daerah angker karena banyak orang yang tersesat tanpa disadarinya dalam pandangan 1 meter mereka telah berpindah sisi dimensi yang tidak terlihat orang awam). Benua Lemurian juga menyerap benda asing yang melintasinya pada interval terbuka maka orang Barat menyebutnya misterRI di segitiga Bermuda. Teknologi Lemuria ini yang dicari Illuminati dan Negara sekutu atas petunjuk informasi dari setan dan jin murtad didukung sedikit mahluk sebelum Lemurian yang telah berada di galaksi (teuacan bageursi - sibageur) lain yang berkomunikasi dengan bahasa sandi (sindu sinar sunnah sunda) “Crop Circle” yang menginformasikan berita dari sinyal-sinyal korespondensi Lemurian yang disadap UFO dan diteruskan kepada rezim Illuminati di dimensi bumi yang lain.

Trah Atlantis terakhir adalah Prabu Siliwangi yang “dihilangkan” dan kelak mengawal keluarnya Sang Imam Mahdi pemimpin spiritual penunjuk arah bagi manusia yang beriman kepada Allah dari kepanikan Armagedon. Intelejen Lemuria kini ini banyak berbaur ditengah masyarakat Jawa dan Indonesia, oleh karenanya banyak cerita misteri hari ini terdengar suara-suara derap kaki tentara, ringkik kuda dan tetabuhan pengiring namun masyarakat awam tidak dapat melihat. Kemampuan komunikasi dengan hewan mempermudah mereka melacak keberadaan musuh Nusantara, hal ini yang mendorong Barat mempropagandakan dorongan pertumbuhan ekonomi dengan industri perusak hutan-hutan di Jawa dan Nusantara agar agen intelejen Lemuria semakin terjepit dan minim informasi. Agen Illuminati sengaja menyebarkan cerita yang menakut-nakuti manusia awam agar mereka menjauhkan diri dari kunjungan Lemurian yang kerap mendadak.

Ketakutan Illuminati dan Negara-negara Sekutu untuk tidak menyerang langsung Indonesia (yang mayoritas muslim terbanyak di dunia) bukan terletak pada segan kepada Bangsa ini tetapi karena mereka yakin 1000% akan kalah di medan perang Nusantara. Kenapa? Bangsa Indonesia hari ini dipandang seperempat mata oleh Illuminati dan Sekutu karena mereka telah dilemahkan dari dalam yaitu buta identitas, mengejar harta dunia, merusak akidah agama Islam-Indonesia, merusak moral dan persatuan dan krisis harga diri, tapi yang sangat ditakuti adalah campur tangan trah Attala (dikenal berhasrat militansi tinggi dan berpengetahuan spiritual tinggi) yang hingga kini belum “turun arena” dan didukung sekutunya bani Lemurian dengan persenjataan teknologi sangat tinggi (belum terbayangkan) berjumlah 3 milyar pasukan siap tempur dan didukung angkatan perang antar galaksi dimana bermukim makhluk khalifah ciptaan Allah Yang Maha Besar yang ingin jihad fisabillilah bersama saudara mudanya di bumi. Mereka (muslim - ET: Extra Terrestrial) berpegang pula pada Al-Qur’an dan hadist akan tibanya Kiamat dan diawali dari armagedon = goro-goro = kekisruhan terbesar dijagat raya, yang menentukan puncak keimanan mahluk hidup berakal kepada Sang Maha Penciptanya: Allah SWT. Perang ini adalah perang makhluk berakal dari semua dimensi ciptaan Allah.

Agen Illuminati melacak keberadaan “Star Gate” di Pulau Jawa khususnya guna menguasai system pertahanan Lemuria. Illuminati mengimbangi teknologi pertahanan kubah elektro-magnet Lemuria-Attala yang akan melindungi Jawa khususnya dan Malaya Nusantara umumnya dari serangan udara/laut dari Sekutu yang diyakini 100% pasti gagal. Karena tahu kelemahannya maka Illumianti menyebarkan teknologi pangan transgenik yang akan mereka gunakan sebagai ultimatum terakhir bila Bangsa Indonesia kelak memaksakan melakukan gugatan terhadap system perekonomian Illuminati dengan menggugat Green Hilton Agreement pada tahap awalnya. Bila pada saatnya mereka belum mampu menemukan “Star Gate” dan takdir mendekati mereka, maka Illuminati akan menggunakan teknologi HAARP (gelombang microwave) untuk membinasakan manusia trah “Attala Nusantara” ini dengan mengaktifkan zat radioaktif yang ada ditubuh orang Indonesia hari ini dari bahan pangan transgenik yang mereka makan sehari-hari, maka serangan pembantaian bukan seperti strategi perang di Afganistan, Irak, Suriah dan lainnya yang menggunakan perang ekternal namun perang armagedon kelak akan menggunakan senjata biologis yang mereka tanam bertahun-tahun di dalam tubuh musuhnya (tanpa disadari) memakan, meminum dan menghirup udara beracun, dimana hancurnya tubuh itu tak akan mampu dilindungi oleh kubah pelindung elekto-magnet Lemuria-Attala sekalipun. Hanya bagi orang yang mampu berpuasa tidak makan dan tidak minum di bawah kubah pelindung yang kelak akan bertahan hidup hingga jaman kemashyuran dengan datangnya Nabi Isa AS. menyudahi perdebatan manusia terpanjang tentang agama mana yang paling benar dan diterimaTuhan.

Penempatan pangkalan militer dan pasukan AS beserta sekutunya. Mengelilingi Nusantara.

Inilah olah pikir kenapa ke-absurd dunia terjadi di hari ini tanpa ada pihak yang berani menentangnya dari sekutu setan ini karena kita lebih takut kepada setan dan realita kebenaran tersembunyi tentang AGAMA kita masing-masing dibanding takutnya kita kepada TUHAN. Akankah kita rela mempertahankan kebusukan kanker kehidupan yang melelahkan, menyakitkan dan mengkhawatirkan ini dibanding kehidupan sehat dunia-akherat karena EGO (Emosi GOreng) KITA tidak mau memakan obat PIL PAHIT KEBENARAN yang dapat memperbaiki kehidupan kita lebih TERHORMAT.

"CHANGING TIME"

"CHANGING TIME"
(Revolusi Industri ke 4 --> "Selamat Datang di EXPONENTIAL ERA")
Written by :
SHAILESH MODI
Managing Director

Dalam 1998, Kodak memiliki 170rb karyawan & menjual 85% dr keseluruhan kertas foto di dunia. Hanya dlm bbrp thn, bisnis model mrk menghilang & mrk bangkrut.

Apa yg terjadi pd Kodak, juga akan terjadi pd berbagai industri dlm 10 thn mendatang & sebagian besar org tdk memprediksinya sama sekali.

Apakah anda pernah mengira di thn 1998 bhw 3 thn kemudian anda tdk perlu mengambil foto dgn film lagi? Kendati kamera digital diciptakan di thn 1975, yg pd saat itu hanya memiliki 10rb pixel, tetapi mengikuti Hukum Moore. Perkembangan teknologi bergerak secara eksponensial, awalnya merupakan produk gagal, namun akhirnya dpt melampaui kamera analog & menjadi barang umum hanya dlm bbrp tahun.

Hal yg sama akan terjadi jg dgn Artificial Intelegence/AI (Kecerdasan Buatan), Kesehatan, Mobil Elektrik dan Otonom/Mandiri (Autonomous), Pendidikan, 3D Printing, Agrikultur & Pekerjaan lainnya.

Selamat datang di Revolusi Industri yg ke-4. Selamat datang di Era Eksponensial.

Perangkat lunak akan menggeser industri tradisional dlm 5-10 thn ke dpn.

# Uber hanyalah sebuah perangkat lunak, mrk tdk memiliki armada sendiri, kini menjadi perusahaan taksi terbesar di dunia.
# Airbnb skrg menjadi perusahaan perhotelan terbesar di dunia, walaupun mrk tdk memiliki properti apapun.

ARTIFICIAL INTELLEGENCE - Kecerdasan Buatan
Komputer secara eksponensial menjadi lbh baik dlm mengerti dunia ini. Tahun ini, sebuah komputer mengalahkan Go Player terbaik di dunia, 10 thn lbh cepat dr perkiraan. Di AS, pengacara2 muda sdh kesulitan mencari pekerjaan krn IBM Watson, di mana anda bisa mendapatkan saran mengenai hukum dlm hitungan detik (sejauh ini hanya utk hal2 dasar), dgn keakuratannya 90%, dibandingkan jika dikerjakan manusia yg hanya 70%.

Jadi, jika anda skrg menekuni hukum, berhentilah. Di masa depan, jumlah pengacara di dunia akan berkurang hingga 90% nya, hanya spesialis yg akan bertahan.

IBM Watson telah menolong perawat mendiagnosa kanker, 4x lbh akurat drpd manusia. Facebook kini memiliki perangkat lunak pengenal pola yg dpt mengenali wajah jauh lbh akurat dr manusia. Di thn 2030, komputer akan lbh cerdas dr manusia.

AUTONOMOUS CAR - Mobil Otonom
Thn 2018 nanti, mobil otonom pertama di dunia akan diluncurkan utk umum. Sekitar thn 2020, keseluruhan industri otomotif akan bergeser. Anda akan tdk ingin memiliki mobil lagi. Anda akan ‘menelpon’ sebuah mobil utk anda, yg kemudian akan menjemput & mengantar anda ke tujuan. Anda tdk akan perlu memarkirkan mobil anda, anda hanya akan membayar jarak yg anda tempuh, dan dpt lbh produktif selama perjalanan.
Anak2 kita tdk perlu lagi mendapatkan SIM atau memiliki mobil sendiri. Hal ini akan mengubah banyak kota krn akan terjadi pengurangan 90-95% mobil karenanya. Kita dpt mengalih fungsikan tempat parkir menjadi taman.

1,2 juta org di dunia meninggal setiap tahunnya akibat kecelakaan mobil. Sekarang ini kita mengalami 1 kecelakaan per 100.000 km, dgn adanya mobil otonom, angka ini akan turun drastis menjadi 1 kecelakaan per 10 juta km. Ini akan menyelamatkan sejuta jiwa per tahunnya.

Banyak perusahaan mobil akan bangkrut. Perusahaan mobil tradisional dgn pendekatan evolusinya akan menciptakan mobil yg lbh baik, sedangkan perusahaan teknologi (Tesla, Apple, Google) dgn pendekatan revolusinya akan membangun ‘komputer beroda’.

Saya telah berbicara dgn banyak engineer Volkswagen & Audi, mrk semua sangat ketakutan dgn Tesla. Perusahaan asuransi akan mendapatkan banyak masalah, krn tanpa kecelakaan, asuransi akan menjadi 100x lbh murah. Bisnis model asuransi kendaraan akan punah. Real estate akan berubah, krn jika anda bisa bekerja dlm perjalanan, org akan pindah jauh2 utk tinggal di tempat yg lbh indah.

Mobil elektrik akan menjadi barang umum di th 2020 nanti. Perkotaan akan menjadi tidak sebising skrg krn mobil sdh menggunakan listrik. Listrik akan menjadi makin ramah lingkungan & murah; produksi tenaga surya bertumbuh secara eksponensial selama 30 thn ini, tetapi baru skrg2 ini akan terlihat dampaknya. Tahun lalu, lbh banyak tenaga surya yg dipasang dibandingkan tenaga fosil (migas, batubara). Harga tenaga surya akan turun jauh hingga semua perusahaan batu bara akan gulung tikar di th 2025.

Dengan adanya listrik murah, air akan ikut menjadi murah. Proses desalinasi kini hanya membutuhkan 2kWh/m3. Kita tdk akan mengalami lagi kelangkaan air di sebagian besar tempat, hanya mungkin air minum saja yg akan langka. Bayangkan apa yg mungkin terjadi jika air bersih dpt diakses oleh siapa saja secara gratis.

HEALTH - Kesehatan
Harga Tricoder X akan diumumkan thn ini. Akan ada banyak perusahaan yg membangun peralatan medis (nama “Tricoder” diambil dr Star Trek) yg akan bekerja melalui smartphone anda, memindai retina anda, mengambil sampel darah anda, dan mendeteksi nafas anda. Alat ini kemudian akan menganalisa 54 tanda2 biologis yg dpt mengidentifikasi hampir segala jenis penyakit. Harganya murah, shg dlm bbrp tahun saja, setiap org di dunia akan mendapatkan akses kedokteran kelas dunia secara hampir gratis.

3D PRINTING - Printer 3 Dimensi
Harga Printer 3 Dimensi semakin murah turun dr $18.000 menjadi $ 400 dlm 10 thn. Dalam rentang wkt yg sama pula, kecepatannya menjadi 100x lbh cepat. Semua perusahaan sepatu besar telah mulai mencetak 3 dimensi sepatu2 mrk. Suku cadang pesawat terbang jg sdh dicetak 3 dimensi di bandara2 terpencil. Bandar udara antariksa pun skrg memiliki sebuah printer yg mengeliminasi keperluan stok suku cadang yg besar.

Di akhir tahun ini smartphone generasi baru akan memiliki kemampuan memindai 3 Dimensi. Anda akan dapat memindai 3 Dimensi kaki anda & mencetak sepatu yg sempurna utk anda dr rumah. Bahkan, di China, org telah membangun gedung 6 lantai dgn 3D Printing. Pada 2027, 10% brg akan diproduksi dgn 3D Printing.

BUSINESS OPPORTUNITY - Peluang Bisnis
Jika anda sdg berpikir spesialisasi apa yg akan anda geluti, tanyakan ini kpd diri anda sendiri: “Di masa depan, apkh mungkin kita akan memiliki hal tsb?” Jika jawabannya adlh YA, bgm anda dpt membuatnya hadir lbh cepat? Jika tdk dpt dilakukan dgn smartphone anda, lupakan saja ide tsb. Dan setiap ide yg dirancang utk berhasil di abad 20, pasti akan gagal di abad 21.

WORKS - Para Pekerja
70-80% pekerjaan akan hilang dlm kurun wkt 20 thn ke dpn. Akan ada banyak pekerjaan baru, namun blm jelas apkh akan ada cukup lapangan pekerjaan dlm wkt yg singkat.

AGRICULTURE - Pertanian
Akan hadir robot agrikultur seharga $100 di masa depan. Petani di negara2 berkembang akan menjadi manajer dr ladangnya msg2 & tdk akan bekerja lagi di ladangnya. Aeroponics akan membutuhkan jauh lbh sedikit air. Produksi daging premium telah ada skrg ini & akan menjadi lbh murah drpd daging sapi di thn 2018.

Sekarang ini, 30% dr semua lahan agrikultur digunakan utk memelihara sapi. Bayangkan jika kita tdk membutuhkan lahan seluas itu lagi. Beberapa pebisnis baru mulai memperkenalkan protein serangga di pasaran, di mana kandungan proteinnya jauh melebihi daging. Protein serangga ini akan diberi label “sumber protein alternatif” (krn sebagian besar org masih akan menolak utk mengkonsumsi serangga).

Ada aplikasi bernama “Moodies” yg dpt mendeteksi mood anda saat ini. Di thn 2020 akan ada aplikasi yg dpt mendeteksi ekspresi wajah anda jika anda berbohong. Bayangkan jika dlm debat politik, dpt terlihat siapa yg berbohong/jujur. Bitcoin akan menjadi barang umum & bahkan mungkin akan menjadi standar nilai tukar cadangan.

LONGEVITY - Harapan Hidup
Saat ini rata2 umur harapan hidup manusia bertambah 3 bln setiap tahunnya. 4 thn lalu harapan hidup manusia adlh 79 thn, sekarang 80 thn. Angka ini akan terus bergerak naik, dan pd thn 2036, umur harapan hidup manusia akan mencapai 100 thn.

EDUCATION - Pendidikan
Smartphone termurah sdh beredar di Afrika & Asia dgn harga $10 saja. Hingga 2020, 70% umat manusia akan memiliki smartphone. Itu berarti semua org akan memiliki akses yg sama thd pendidikan kelas dunia. Setiap anak akan dpt menggunakan Khan Academy utk segala hal yg diajarkan di sekolah2 negara maju.

Soo Life Is @ Choice  👌
Let's Move On 👍

Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...