Kamis, 30 Oktober 2014

Asyura, Milik Semua Golongan






Oleh: Reza, SH
Hubungan Agama /Tasawuf dengan Kebudayaan
Budaya adalah hasil karya akal Budi yang mempunyai nilai keindahan, atau tradisi yang mempunyai nilai-nilai luhur suatu bangsa . Sedang Tasawuf  ada karena untuk mengenal Allah melalui agama.  Studi Humaniora mempelajari manusia dalam hal “bagaimana manusia” dan “bagaimana manusia seharusnya berbuat”, dan juga karena budaya, seperti halnya keindahan, mengambil manfaat dari fitrah manusia. Posisi budaya dalam pengetahuan manusia sangatlah penting. Sebab, budaya merupakan fondasi dasar dalam berurusan dengan Sufisme . Tidak semua budaya yang disebut dalam masyarakat manusia memiliki nilai sufistik. Budaya dengan nilai sufistik hanyalah milik budaya yang dinamis dan berorientasi pada tujuan serta dapat menempatkan manusia dalam wilayah gravitasi kesempurnaan.

Hubungan Agama, Budaya, dan Sejarah
Agama mengajarkan kita untuk berperilaku mulia atau indah dengan tujuan untuk mengenal Allah, karena itu kitab-kitab agama Islam yang merupakan hasil karya yang Maha Agung, adalah suatu keindahan yang luar biasa, demikian juga beberapa kitab yang ditulis oleh beberapa orang yang memiliki maqam (kedudukan) tinggi disisi Allah SWT, yang telah mencapai derajat tinggi, misal  kitab Negara Kertagama (karya Mpu Prapanca), Pararaton (karya ), Serat Wulang Reh (Karya Paku Buwono II) Suluk Linglung (Sunan Kalijaga), Kisah Bima Suci (Sunan Bonang), Jangka/Ramalan Jaya Baya (karya Prabu Jayabaya Raja Kediri) dan lain –lain, Disamping itu kitab tersebut  bernilai sastra tinggi, juga mengajarkan tentang akhlak mulia, sariat untuk mengenal Allah (sufisme), serta merupakan kisah para khalifah dan Pahlawan di bumi Nusantara, demikian juga Kitab Al Quran kurang lebih 70 % berisikan sejarah masa lalu, mulai penciptaan dunia dan isinya, sampai dengan keadaan hari akhir, kiamat, surga dan neraka.

Budaya Asyura adalah Budaya Nusantara
Bulan Muharam di Jawa di sebut sebagai bulan Suro. Kata Suro berasal dari bahasa arab Asyura, yang  artinya sepuluh (10). Jadi Peringatan/ Perayaan  bulan Muharram pada hakikatnya adalah memperingati kesyahidan Sayyidina Al Husian Raja Syuhada (Cucunda Nabi Muhammad SAW) pada tanggal 10 Muharram 61 Hijriah di Karbala (Irak). Peringatan bulan Suro, selain merayakan pergantian tahun, sejatinya adalah momentum merayakan sebuah kreatifitas dan menambah kearifan budaya di negeri ini, yang dikembangkan sesuai kondisi daerah dengan berbagai kreasi dan kearifan lokal setempat.
Tradisi dan kepercayaan di Nusantara – secara umum – menjadikan Bulan Suro/ Muharam memiliki nilai Sakral (Karamat). Bagi yang memiliki talenta sensitifitas indera keenam (batin) sepanjang bulan Sura aura mistis dari alam gaib begitu kental melebihi bulan-bulan lainnya. Tradisi  selama bulan Sura, yang merupakan budaya Sufisme, yang tidak bisa lepas dari Ritual agama, misalnya:

 

      Ngayogyakarta Hadiningrat memperingati Malam 1 Suro dengan cara mengarak benda
      pusaka mengelilingi benteng kraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya. Selama melakukan ritual mubeng beteng tidak diperkenankan untuk berbicara seperti halnya orang khusyuk  dan pikiran terpusat ke  Allah  (perenungan diri), makna  ritual mubeng benteng tersebut melambangkan Tawaf Yang Agung adalah tawaf bulan Asyura, yaitu mengikuti ajakan Sayyidina Al Husain untuk bangkit melawan kezaliman, karena Allah itu ada di hati Yang suci, yaitu hati Sayyidina Al Husain. Sesuai Firman Allah di Al Quran dan di Injil antara lain:
  • Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi (Ibrahim) itu Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (meskipun hal tersebut diganti domba).(105) Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata(106).  Dan kami ganti dengan  sembelihan (Korban) yang Agung.(107). Yang akan digantikan untuk masa mendatang (108) – yaitu korbannya/Syahidnya  Imam Husian di tepi Sungai Eufrad- Karbala,   (37. As Saffat  105 – 108)  
  • Sebab Tuhan ALLAH semesta alam mengadakan korban Agung penyembelihan di tanah utara, dekat sungai Efrat. (Yeremia 46:10)

ASYURA DI ISTANA KADARIAH KESULTANAN PONTIANAK
Di Pontianak, khususnya di Istana Kadariah Kesultanan Pontianak, Peringatan Asyura secara rutin dilaksanakan setiap tahunnya pada bulan Muharram (kalender Hijriah) yang diisi dengan pembacaan syair duka dan penampilan rodad-hadrah yang memiliki nilai sastra tinggi sebagai bentuk sakralisasi terhadap pengorbanan agung Sayyidina Al Husain bersama keluarga dan para sahabat setianya di Karbala. Ini merupakan budaya Sufisme yang berkembang sejalan dengan Peringatan Asyura. Selain itu, Peringatan Asyura di Istana Kadariah juga diisi dengan khutbah dan pembacaan tahlil bagi Sayyidina Al Husain dan pengikut setianya yang terbantai secara keji di Karbala pada 61 H.
Budaya Hari Asyura mulai diperingati secara massal di Istana Kadariah Kesultanan Pontianak sejak era Sultan Syarif Muhammad bin Yusuf Alkadrie. Pada masa itu, Sultan Muhammad mengumpulkan para yatim dan janda, terutama yatim-yatim dan janda-janda keluarga Bani Alawiyyin (Habib/ Sayyid/ Syarif/ Syarifah; istilah yang diberikan kepada keturunan Rasulullah dari jalur Sayyidina Al Hasan dan Sayyidina Al Husain), menghidangkan bubur Syuro, memberikan wejangan/ ceramah serta hadiah kepada mereka. Notabene, Sultan Syarif Muhammad Alkadrie sendiri merupakan keturunan Rasulullah SAW dari jalur Sayyidina Al Husain, sehingga Peringatan Asyura yang dilakukan beliau merupakan Peringatan Kesyahidan leluhur beliau, sehingga wajar kiranya Peringatan Asyura menjadi budaya yang lekat dengan lingkungan Istana Kadariah Kesultanan Pontianak.
Rodad-Hadrah merupakan budaya tradisional yang telah lama berkembang di masyarakat Melayu Kalimantan Barat, khususnya di Istana Kadariyah Kesultanan Pontianak. Para sesepuh Istana Kadariah lazim menampilkan Rodad-Hadrah pada setiap kegiatan yang dilakukan di Istana Kadariah. Bentuk tradisi ini mirip dengan Tari Saman di Aceh, Tari Indang di Sumatera Barat, tetapi memiliki perbedaan, semisal pada bahasa yang digunakan untuk melantunkan sya’ir, dikarenakan perbedaan sosiologis masyarakat. Kesenian Rodad-Hadrah berisikan lantunan puji-pujian kepada Rasulullah SAW beserta keluarganya (Ali, Fathimah, Al Hasan dan Al Husain). Bisa saja sya’ir yang dibawakan dalam Rodad-Hadrah berisikan puji-pujian terhadap Rasulullah SAW serta keluarganya secara bersamaan, namun bisa pula sya’ir yang dibawakan hanya menceritakan salah satu tokoh dari lima (5) orang tersebut. Namun dalam kondisi yang lain, sya’ir Rodad-Hadrah dapat berisikan nasihat dan wejangan kepada khalayak ramai.
Dalam Peringatan Asyura, lantunan yang disampaikan dalam penampilan kesenian Rodad-Hadrah berisikan kisah kehidupan, keutamaan dan kemuliaan Sayyidina Al Husain. Kesenian Rodad-Hadrah dimainkan dengan posisi duduk sebagai bentuk penghormatan kepada figur-figur mulia seperti tersebut di atas.
Sementara sya’ir/maktam berisikan lantunan-lantunan kisah perjalanan kehidupan Sayyidina Al Husain hingga meraih syahadah di “tanah yang dijanjikan”. Sya’ir/maktam ini bisa dibawakan secara berkelompok, dapat pula seorang diri, dengan diiringi musik tradisional yang menyayat hati. Dalam titik tertentu, pembaca sya’ir/maktam secara tidak sadar akan meneteskan airmata pertanda kesedihan dan kepiluan hati karena syahadah Sayyidina Al Husain.
  1. a.   ALASAN PELAKSANAAN KEGIATAN
Budaya Asyura; Budaya Sufisme, Milik semua Agama dan Bangsa
Budaya Suro adalah  budaya dunia  yang merupakan budaya Sufisme yang membuahkan karomah, membangkitkan kepahlawanan, membentuk identitas dan karakter masyarakat, serta membangkitkan masyarakat untuk menggubah Syair yang indah untuknya seperti  pernah diucapkan oleh  banyak Tokoh dunia:
-           Ir. Soekarno, Pendiri dan pejuang kemerdekaan Indonesia, merupakan tokoh Politik paling berpengaruh di NKRI , :
“Husein adalah panji berkibar yang diusung oleh setiap orang yang menentang kesombongan di zamannya, dimana kekuasaan itu telah tenggelam dalam kelezatan dunia serta meninggalkan rakyatnya dalam penindasan dan kekejaman.”
-          Adolf Hitler, Ia pernah mengatakan kepada tentaranya saat sebagian dari mereka berlatih dalam persiapan ke suatu peperangan:
“Wahai pahlawan-pahlawan perang, contohlah Husein manusia dengan ketekunan mampu mengguncang pilar-pilar kekuatan dan setelah itu mengirim mereka ke dalam jurang kehancuran dan itu semua dilakukan oleh kelompok kecil yang memiliki keteguhan dan penuh nilai kepahlawanan.”
-          Sir Mercy Molesworth Sykes, Sejarawan Inggris terkenal, banyak karyanya di bidang sejarah dan telah diterjemahkan dalam banyak bahasa.
“Sungguh keberanian dan kepahlawanan yang dipertontonkan kelompok kecil ini telah sampai mendorong siapapun untuk memberikan pujian dan empatinya kepada semua yang mendengar tanpa disengaja dan menjadikan semua yang terlibat dalam tragedi itu sebagai selebriti dunia, kekal dan abadi selamanya.”
-          Antoine Bara, seorang Wartawan Kristen Syria,
“Sesunggunya pribadi Husein menggetarkan hati, merasuk jiwa dan bertengger disela-sela relung qalbu, ia muncul dari pancaran Sang Pencipta melalui anugerah-Nya dimana ia sebagai tauladan yang terbentuk melalui pancaran kenabian, dan tak ada hati kecuali tersentuh olehnya dan tidak ada pikiran kecuali terinspirasi olehnya.”
-          Berkat Kearifan Wali Sanga dalam berdakwa maka budya Asyuro bisa menyatu dengan masyarakat Jawa, sehingga  Asyuro menjadi milik Orang Jawa, Ritual Asyuro dilaksanan bermacam-macam, antara lain adanya bubur syuro, Siraman malam 1 Sura, Tapa Mbisu, Ziarah Kubur pada bulan Sura, dan Jamasan pusaka, Pantang melakukan hajatan/Pernikahan selama bulan Suro, Pagelaran Wayang Kulit. Menyatunya budaya Asyura dengan masyarakat jawa, maka umat Nasrani di Jawa pun ikut menghormati bulan Asyuro, seperti;
Gereja Katolik di DIY, misalnya, memaknai 1 Suro dengan misa khusus 1 Suro di Gereja Hati Kudus Ganjuran, Bantul. Gereja tersebut mengadopsi peringatan 1 Suro dan menjadikannya sebagai bagian dari acara keagamaan yang khusus di Jogja.
Dari pembahasan singkat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa menolak ritual agama berarti juga menolak budaya Sufisme, atau dapat dikatakan sebagai penolakan terhadap adanya Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, serta menolak Direktorat Pembinaan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisional, sebegai konsekwesi ini adalah, tidak menerima peradaban berarti mendistorsi budaya, mendistorsi budaya berarti  menolak prinsip hubungan tasawuf (Agama) dengan kebudayaan yang merupakan satu kesatuan, maka hal ini akan menjauhkan manusia dari dirinya sendiri, kemudian menjauhkan dari hubungannya dengan Tuhan.

Daftar Pustaka
10 HARI YANG MENGGERTAKAN DUNIA, Karya : Saed Zomaezam, Diterjemahkan dari buku asli berbahasa Arab berjudul Al-Imam al-Husain Shaghil ad-Dunya, Penerbit Papyrus Publishing dan unduh Internet, Tafsir Holistik kajian seputar Relasi Tuhan, Manusia dan Alam Semesta dialih bahasakan dari Man and Universe karya Murtadha Munthahari terbitan Ansariyan Publication, Qum Iran. 1997/1417. Penerjemah Ilyas Hasan. Penerbit Citra, cetakan pertama 2012.

Sumber  :  http://lembagapedulicagarbudayakalbar.wordpress.com/2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...