Kamis, 15 November 2018

Sekilas tentang Sastrajendra, Ilmu Kesempurnaan Jiwa


islamindonesia.id – Sekilas tentang Sastrajendra, Ilmu Kesempurnaan Jiwa
“Ia yang terhubung dengan Sukma Sejati pasti hidup dilandasi kasih. Serta-merta ia bertindak selaras dengan rancangan agung, didorong daya yang mengalir dari relung jiwanya. Ia pun mencipta apa yang mesti dicipta, memelihara apa yang mesti dipelihara, dan melebur apa yang mesti dilebur. Tak ada hitung-hitungan untung-rugi bagi dirinya. Tindakannya serta-merta, mengalir begitu saja.”
Itulah sepenggal pitutur yang disampaikan Resi Wisrawa, dalam buku Sastrajendra: Ilmu Kesempurnaan Jiwa.
Ya. Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu sering dianggap sebagai ilmu kuno rahasia yang tak boleh diajarkan secara sembarangan dan terbuka. Namun, penulis buku ini mengajak sebanyak mungkin orang untuk mempelajarinya atas dasar kesadaran bahwa leluhur Nusantara mampu mencapai puncak kejayaan justru ketika menguasai Sastrajendra.
Diwedarkan Resi Wisrawa kepada Dewi Sukesi ribuan tahun silam, Sastrajendra adalah puncak ajaran spiritual yang mengungkap rahasia jiwa dan jagat raya sekaligus cara menyempurnakan jiwa hingga mampu kembali kepada Sangkan Paraning Dumadi (Tuhan). Maka tak heran bila hanya penguasa Sastrajendra yang sanggup hamemayu hayuning bawana ambrasta dur angkara (memperindah jagat raya dan memberantas angkara murka) sebagaimana wejangan Eyang Semar, pamomong tanah Jawa.
Sekadar tambahan informasi: bukan sekadar ilmu, Sastrajendra merupakan ngelmu yang diperoleh melalui perpaduan antara metode olah batin, pendekatan empirisisme dan rasionalisme. Inilah bedanya antara ngelmu dan ilmu atau kawruh. lmu (kawruh) adalah pengetahuan nalar. Sedangkan ngelmu atau yang dalam saloka Jawa biasa dikenal dengan makna angel anggone ketemu, adalah pengetahuan spiritual.
Nah, dalam Sastrajendra, ketiga pendekatan tersebut harus matching, sinambung dan sepadan. Untuk itu Sastrajendra bukanlah ngelmu yang hanya sekadar jarene atau katanya.
Dapat dikatakan Ngelmu Sastrajendra diperoleh sebagai hasil dari olah batin yang sinambung dilakukan dalam waktu yang lama sehingga membuahkan hasil berupa pengalaman batin dan pengalaman lahir. Bahkan Ngelmu Sastrajendra dapat dikatakan sebagai ilmu rahasia “langit” yang berhasil diproses agar “membumi”.
Dengan demikian dalam kawruh Sastrajendra, tidak ada lagi kegaiban yang tidak masuk akal. Segala yang gaib justru sangat masuk akal, bisa diterima oleh logika penalaran. Artinya, otak kiri sudah berhubungan erat dengan otak kananOtak kanan sudah pernah menerima noumena (“fenomena gaib”) yang diterima oleh mata batin maupun wadag. Bagi yang belum bisa memahami gaib secara akal, atau masih menganggap gaib sebagai sesuatu yang irasional, hal itu menandakan ia belum berhasil melewati proses demi proses ngelmu Sastrajendra secara tuntas.
Namun satu hal yang perlu diingat, Sastrajendra hanya bisa dikuasai oleh pribadi yang bertekad kuat untuk meruwat jiwa-raganya dari diyu (watak angkara murka) dan terhubung dengan Guru Sejati di pusat hati. Ketika seseorang telah terhubung dengan Guru Sejati, ia akan mampu mendayagunakan rasa sejatinya hingga memiliki kuasa untuk memulihkan Ibu Pertiwi yang tengah “terluka” akibat ulah anak-anaknya sendiri.

EH / Islam Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...