Senin, 10 Februari 2014

Bekerja Demi Uang, Atau Status Dan Penampilan?





Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Nggak ada salahnya dong kalau kita bekerja demi uang. Kan memang kita butuh uang ya. Kalau bekerja tapi tidak menghasilkan uang mah apa artinya kan? Mending ngerjain hal lain yang kita sukai saja. Jadi, ayo teman-teman; kita bekerja demi mengejar uang.

Yeee, ajakan yang klise ya. Emangnya siapa yang bekerja bukan demi uang? Semua orang juga demikian ya? Sebentar dulu. Apakah Anda yakin jika Anda ini bekerja demi uang? Yakinkah Anda bahwa kebanyakan orang bekerja demi uang? Saya  kok nggak begitu percaya ya kalau orang-orang itu pada bekerja demi uang. Setidaknya, begitulah hasil pengamatan saya.

Banyak orang bekerja dengan alasan mencari uang. Tapi kalau saya perhatikan; sebenarnya mereka tidak benar-benar bekerja demi mencari uang. Mereka sekedar  mencari status dan penampilan keren doang. Mereka hanya merasa dirinya sedang ‘mengejar’ uang. Padahal, tidak.

Kenapa saya yakin soal itu? Karena begitu banyak orang yang punya kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak uang dari pekerjaannya, namun mereka tidak mengambil kesempatan itu. Mereka memilih bekerja standar saja. Makanya, uang yang mereka dapat pun ya standar juga.

Mereka tidak mau bekerja 'extra miles' meskipun tahu bahwa itu bisa memberi mereka peluang untuk mendapat lebih banyak uang. Mending kerja apa adanya saja meski pendapatannya pas-pasan. Ogah kalau mesti kerja lebih banyak, dan lebih berat.

Terbukti kan, sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh bekerja untuk mendapat uang. Sekedar status dan penampilan doang. Karena, kalau benar mengejar uang, pasti mau bekerja keras untuk meraihnya kan?

Bukti lain bahwa kita sering bekerja demi status dan penampilan adalah; kita nggak akan mau jadi tukang gado-gado yang jualan dipinggir jalan. Iiiiih malu-maluin banget deh.  Tukang gado-gado? Amit-amit. Please dweeeh! Padahal, uang yang kita dapatkan setiap bulan; belum tentu lebih banyak dari penjual gado-gado itu loh.

Think. Jangan-jangan kita ini bekerja cuman pengen keren doang. Keluar masuk gedung mentereng yang menjulang. Punya kartu nama yang bisa dibangga-banggakan. Tapi penghasilan, sungguh sangat pas-pasan.

Mungkin Anda meragukan uraian saya. Baiklah jika demikian. Berapa sekarang gaji Anda sebulan?. Bagi angka itu dengan 22 hari kerja. Itulah 'bayaran' yang Anda dapatkan kalau dihitung harian.

Sekarang perhatikan hasil kalkulasi saya atas pendapatan seorang tukang gado-gado. Ini beneran. Bukan hayalan. Saya mengenalnya. Dan saya, suka menikmati gado-gado buatannya. Setiap hari, dia bisa menjual sekitar 100 porsi. Harga per porsinya 10 ribu. Jadi dalam sehari; penghasilannya 100 dikali 10,000. Satu juta rupiah bukan. Angka 1 diikuti oleh 000,000.- per hari.

Pendapatan harian Anda dari pekerjaan itu sudah sama dengan itu atau nggak? Oh, mau dihitung bulanan? Ya tinggal dikalikan saja 26. Soalnya dalam sebulan dia hanya libur seminggu sekali. Dua puluh enam juta rupiah, bukan? Nah loh...

“Tapi kan itu omset kotor, Dadaaaaang!. Bersihnya nggak segitu kale….”
Well Anda benar. Tapi bukankah gaji bulanan yang Anda bilang 'gaji bersih' itu juga masih harus dipotong dengan ongkos, dan uang makan yang setiap hari Anda perlukan saat bekerja? Nggak benar-benar ‘bersih’ kan yang ditransfer ke rekening tiap bulan itu?.

Anggap saja untungnya tukang gado-gado itu 35%. Maka penghasilan bersihnya sebulan tidak kurang dari 10 juta. Penghasilan bersih Anda setelah dipotong ongkos dan makan siang, berapa? Teng ting teng…….

Gak apa-apa lah. Kita masih bisa kerja di ruang ber-AC, dan berdasi pula. Kalau ditanya 'kerja dimana' bisa dijawab dengan bangga. Well, jika demikian, benar dugaan saya dong. Kita, bekerja demi status dan penampilan. Bukan demi uang.

O-ow. Tunggu dulu. Tolong jangan salah sangka. Saya tidak sedang memprovokasi Anda untuk berhenti bekerja lalu ganti profesi menjadi tukang gado-gado. Bukan itu maksud saya. Bagini.

Di kantor itu, Anda punya kesempatan untuk mendapatkan uang yang lebih banyak. Minimal samalah dengan pendapatan bulanan tukang gado-gado itu. Sudah bisa belum meraih sebanyak itu?

Jika belum; maka Anda mesti bekerja lebih baik dari itu. Anda mesti berhasil mendapatkan kepercayaan atau berkontribusi lebih besar. Supaya bisa mendapatkan bayaran yang lebih besar.

Untuk itu, Anda tidak cukup hanya bekerja dengan cara-cara standar. Anda mesti lebih kreatif. Lebih gigih. Lebih beredikasi. Meskipun semua itu menuntut Anda untuk mengorbankan kenyamanan.

Jika alasan Anda bekerja itu benar-benar untuk mendapatkan uang, maka jangan tanggung-tanggung dong kerjanya. Mari berjuang lebih giat lagi kawan. Supaya bisa mengoptimalkan peluang pendapatan yang terbentang luas dikantor kita.

Jika status dan penampilan mentereng kita sudah diimbangi dengan penghasilan yang signifikan, naaah itu baru keren beneran namanya. Kalau cuman tongkrongan doang yang keren, padahal dompet lepet bin kere? Yaaaa lebih hebatan tukang gado-gado itu dong.

Meski penampilannya sederhana; tapi penghasilannya lebih besar dari kita. Kenapa? Karena dia benar-benar bekerja mengejar uang. Sedangkan kita, ngakunya aja bekerja demi uang. Tapi sikap dan perilaku kerja kita, tidak memperlihatkan bahwa kita memang layak untuk mendapatkan lebih banyak uang.

Anda bersungguh-sungguh bekerja demi mengejar uang? Jika demikian, mari tinggalkan kebiasaan dan cara kerja yang biasa-biasa saja. Dan mulai sekarang, niatkan dan tunjukkan kegigihan dan kedisiplinan serta dedikasi yang tinggi selama menjalani hari-hari kerja itu.


Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 08 February 2014
Author, Trainer, and Professional Public Speaker

Jumat, 07 Februari 2014

From Solo to Bandung with “Lodaya” Train




Satu hari satu malam rasanya sudah cukup, untuk sekedar melepas rindu bersilaturrahim dengan ibunda ku. Sebagai suatu kewajiban seorang anak untuk sebisa mungkin berbakti kepada orang tua yang telah melahirkan sekaligus membesarkan, mendidik dan mengantarkan hingga menjadi seperti sekarang ini. Patut kiranya aku bersyukur ke hadirat-Nya, karena dikaruniai seorang ibu yang berusia di atas rata-rata, saat ini berusia sekitar 94 tahun. Kondisi fisik yang juga masih bagus untuk ukuran seusia beliau.
Walaupun jauh, aku senantiasa menyempatkan waktu untuk mengunjungi ibu, 2 sampai 3 kali dalam 1 tahun. Yang pasti momen lebaran Idul Fitri dan sisanya menyesuaikan situasi dan kondisi. Kebiasaan sebelumnya aku pulang beserta keluarga, akan tetapi pada kali ini keluarga tidak bisa ikut dikarenakan anak-anak tidak bisa libur dan isteri yang menjaganya di rumah.

Tepatnya tanggal 31 Januari jam 6:30 wibb, aku berangkat dari Bandung ke Solo dengan mengendarai Bus Malam “Kramat Jati”. Rute yang diambil adalah jalur utara. Di luar dugaanku, yang biasanya perjalanan normal bisa di tempuh  dalam waktu 10 - 12 jam, tidak untuk kali ini. Jalan jalur Pantura yang kondisinya rusak berat akibat banjir karena curah hujan yang cukup tinggi menyebabkan perjalanan Bus sangat tergangu, maksimal 20 km/jam. Sehingga waktu yang ditempuh hampir 15 jam. A long trip……
Penat & letihnya perjalanan, terobati sudah begitu tiba di rumah ibu, melihat kondisinya sehat wal afiat. Ada satu hal yang membuat terharu, kepulanganku memang tidak aku khabarkan sebelumnya. Jadi ibu tidak tahu kalau aku akan pulang. Beliau menyampaiakan kepadaku bahwa sore hari  sebelum keberangkatanku, ibu memanggilku untuk pulang. “parto…, le.., parto muliho yo le….” Begitu kira-kira panggilan yang di lontarkan ibu. Bisa jadi itu satu bentuk hubungan batin yang bersifat metafisika yang kebenaranya sulit untuk dibuktikan dengan ilmu empiris. Tapi kenyataanya bisa terjadi.
1 x 18 jam aku berada di rumah ibu, tidak banyak aktifitas yang aku lakukan, selain ngobrol banyak hal sambil memijiti kaki beliau, aku juga sempatkan untuk berziarah ke makam almarhum bapak aku. Sisa waktu yang ada aku manfaatkan untuk ngobrol dengan  kakak  yang tinggal 1 rumah dengan ibu & 1 lagi kakak yang tinggal berdekatan dengan rumah ibu.
Ada sedikit kebingungan berkaitan dengan waktu kepulangan, karena sampai jam 5 sore belum mendapatkan tiket. Kepinginya kembali ke Bandung dengan menggunakan Kereta Api Lodaya Pagi. Aku coba mencari di salah satu agen penjualan tiket kereta online, hasilnya nihil alias udah habis untuk semua kelas. Belum berputus asa, aku mencoba minta bantuan keponakan untuk mencari kan tiket langsung ke Stasiun Solo Balapan. Alhamdulillah tentunya , dikarenakan usaha keponakanku tersebut dapatlah tiket kereta yang tinggal satu-satunya. Yaitu gerbong eksekutif A no. kursi 1C. (alias kursi ganjil).


Jam 7:00 kereta berangkat dari Stasiun Solo Balapan dengan jumlah penumpang yang masih sedikit, ini karena Lodaya pagi mayoritas penumpangnya banyak yang dari stasiun Tugu Yogyakarta. Benar saja, sampai stasiun Yogyakarta tepat jam 8:00, berhenti sekitar 10 menit untuk menaikan seluruh penumpang. Waktu 10 menit aqu manfaatkan untuk turun sejenak guna membeli oleh-oleh khas Yogya, Bakpia Pathok & Wingko. Hari itu kebetulan cuaca cukup bagus, tidak panas tapi juga tidak turun hujan. Disepanjang perjalanan lancar-lancar saja sehingga bisa menikmati pemandangan di sepanjang sisi rel kereta dengan nyaman. 

Kondisi kontur tanah yang dilewati rel ada perbedaan yang mencolok antara Wilayah Jawa Tengah dengan Jawa Barat. Di Jateng datar-datar aja dan lurus, sedangkan saat memasuki wilayah Jawa Barat banyak rel kereta yang berkelok, bahkan ada naik dan turunya. Pemandangannya juga sangat beda,  di wilayah Jabar selain ada juga sawah tapi kebanyakan tegalan, jurang & tebing di sepanjang sisi rel.
Sesuai dengan jadwal kedatangan yang tertera di tiket, jam 16:00 wibb, sekitar 10 menit lebih lambat kereta tiba di stasiun Hall Bandung.
Terima kasih ya Allah…., berkat Rahman & Rahim-Mu perjalananku menjadi lancar. Hingga aku bisa berkumpul kembali dengan keluarga, sahabat & temen-temenku di Bandung.



Bross Peniti berlapis emas pemberian dari Ibu.

Sisi lain :
·         Hari sabtu biasanya jadwal rutin untuk olahraga yakni Badminton, terpaksa aku tinggalkan.
(so…. kerinduanku kepada temen-temen group badminton bisa ditunda untuk sabtu berikutnya)
Apapun kejadianya ….” Sing penting Hepiiiiiiii”

(AsTo, 7 Pebruari 2014)

Hari Tua Kita Bakalan Seperti Apa Ya?




Semua orang, pasti mengharapkan hari tuanya bisa hidup dengan penuh berkah. Cirinya hidup berkah itu antara lain; sehat walafiat, berkecukupan, dan keluarga rukun, serta dihargai oleh orang lain.

Kita ingin mendapatkan semua hal diatas bukan hanya sewaktu masih muda dan produktif saja. Kita pengen kalau sudah masuk usia senja, juga masih memilikinya.

Memang ada unsur 'ketentuan' Tuhan atas segala sesuatu yang kita alami. Namun ikhtiar pun punya peranan penting. Ikhtiar yang saya maksud bukan hanya sekedar olah raga atau menabung dan berinvestasi.

Ikhtiar yang saya maksudkan berkaitan dengan aspek-aspek yang 'tidak kasat mata'. Tidak bisa dilihat oleh mata lahir kita. Dan tidak bisa didengar oleh telinga kiri dan kanan kita.

Banyak contoh nyata dalam kehidupan kita tentang orang yang menderita di masa tuanya, karena ketika masih muda dulu mereka sering membuat orang lain menderita.

Saya tidak tahu jika itu karma atau bukan. Yang jelas, setiap perbuatan kita; akibatnya akan kembali kepada kita. Entah itu perbuatan baik, atau perbuatan buruk.

Dikantor, misalnya. Kita berinteraksi dengan anak buah, atasan, atau teman. Kadang kita tidak sadar jika sudah menyakiti hati orang lain. Dengan kata, atau perbuatan kita.

Bahkan ada juga orang sedemikian arogannya. Mentang-mentang punya kedudukan tinggi, memperlakukan orang lain sesuka hati. Hati-hati loh. Akibat buruknya bisa kembali pada diri sendiri ketika tua nanti.

Kok bisa begitu? Bisa. Karena boleh jadi, anak buah yang kita tindas itu, kolega yang kita hina itu, pesuruh yang kita rendahkan itu; berdoa kepada Tuhan agar membalaskan perbuatan buruk yang diterimanya.

Maka diusia muda, mungkin saja kita berkuasa, kaya raya, sehat pula. Tapi dimasa tua; mungkin kita akan menderita. Akibat perbuatan kita dimasa muda.

Rasulullah telah mewanti-wanti kita soal doanya orang tertindas. Sabda beliau, orang tertindas itu doanya langsung sampai kehadapan Allah. Tidak ada penghalangnya. Sehingga peluang dikabulkannya lebih besar.

Oleh karena itu sahabatku. Mumpung kita masih muda, mari menyibukkan diri dengan hal-hal yang baik dan berguna. Mumpung masih punya jabatan, mari memanusiakan anak buah kita. Mumpung masih punya pekerjaan, mari hargai kolega kita.

Supaya mereka rela mendoakan hal-hal baik untuk kita. Bukan malah mendoakan hal-hal jelek agar menimpa kita. Minimal mereka tidak menyimpan dendam atau kekesalan sama kita. Netral juga tak apa.

In sya Allah, hidup kita kelak kalau sudah tua; tidak akan dibebani oleh doa-doa buruk orang lain yang terluka hatinya oleh lidah, tangan, atau keputusan kita. Dan kita, menjalani hari tua yang tenang, tenteram, sehat sentosa. Semoga.



Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman   
Author, Trainer, and Public Speaker

Rabu, 05 Februari 2014

Meretas Jalan Sukses dengan Mindset Positif




Mindset positif merupakan bekal yang sangat penting bagi seseorang untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup yang diidamkan. Jangan pernah menganggap remeh pandangan hidup dan cara berpikir anda karena hal itu akan menjadi fondasi yang melandasi kehidupan anda. Cara berpikir yang negatif justru akan menghambat kesuksesan.
Dalam bisnis, membangun mindset positif sangatlah penting untuk dilakukan bahwa menjadi salah satu kunci sukses karena akan memberikan pengaruh besar terhadap dalam mengambil tindakan atau keputusan.
Membangun mindset yang positif juga akan memberikan motivasi diri yang lebih kuat dan kekal serta membantu untuk menjaga fokus.
Perasaan yang penuh dengan kekhawatiran, was-was, merasa tidak mampu prasangka buruk dan yang lainnya adalah hal-hal atau cara berpikir yang harus dieliminir dari pikiran anda. Pola berpikir negatif semacam itu, sekali lagi, justru akan menghambat kesuksesan yang ingin anda raih.
Mengapa mindset positif harus dibangun? Berikut ada beberapa alasan yang melandasinya.
- Mindset positif adalah suatu bentuk rasa percaya diri akan kemampuan dan kualitas diri yang anda miliki. Merasa yakin dengan potensi yang anda miliki menjadi modal awal yang sangat berharga untuk membangun motivasi dir yang lebih kuat dan kekal.
- Memiliki mindset positif akan membantu anda untuk lebih fokus dalam meraih tujuan. Kata-kata bijak yang menyatakan bahwa, “jangan terlalu memusingkan perkataan orang” ada benarnya. Jika anda terlalu memikirkan perkataan negatif maka justru semangat anda akan lemah dan anda akan selalu merasa kurang. Yakinkan kepada diri anda bahwa anda memiliki potensi yang tidak dimiliki oleh orang lain dan anda mampu menhadapi segala rintangan yang akan anda temui.
- Mindset positif memberikan aura positif pula kepada diri untuk bisa berbuat yang lebih baik lagi.
- Mindset postif adalah kunci meraih kesuksesan, baik itu dalam hidup, karir maupun bisnis. Keyakinan terhadap diri anda sendiri akan memberikan dorongan dan semangat yang berlipat untuk meraih kesuksesan. Cara berpikir anda memberikan dampak akan jalan mana yang akan anda tempuh dan keputusan semacam apa yang akan anda ambil.
Meski terlihat sederhana, namun ternyata lebih banyak orang yang mendengar berbagai perkataan negatif ketimbang yang positif. Mereka tidak pernah menganggap perkataan positif orang lain karena dianggap sanjungan kosong yang tidak berarti apa-apa.
“Sanjungan adalah teror” adalah prinsip yang hendaknya selalu dihapus di dalam pikiran. Saat seseorang memberikan pujian atau sanjungan terhadap apa yang anda lakukan, berarti ada suatu hal baik yang dia lihat. Saat orang lain memberikan kritikan, anda harus mempergunakannya sebagai penyemangat untuk lebih baik.
Anda tidak perlu takut untuk bersaing dengan perusahaan atau pengusaha lain karena belum tentu mereka lebih baik. Kalaupun anda belum bisa menarik banyak konsumen, bukan berarti bahwa produk atau kualitas pelayanan anda buruk.
Mungkin, anda harus memberikan inovasi yang lebih terhadap produk dan pelayanan anda. Selalu yakini bahwa anda memiliki potensi besar yang tidak dimiliki oleh pengusaha atau orang lain.
Percaya dirilah karena hal itu menjadi salah satu kunci menjadi seorang pengusaha sukses. Hapuskan pikiran-pikiran negatif dan perasaan-perasaan yang justru akan membuat anda lemah. Kekurangan yang anda miliki adalah kunci bagaimana anda berkembang.
Anggap persaingan sebagai perlombaan dan anda memiliki kemampuan auntuk keluar sebagai pemenang, dan jangan takut untuk berinovasi karena konsumen selalu menunggu hal-hal baru dan unik. 

(Menjadi wirausaha blog)

Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...