Jumat, 07 Februari 2014

From Solo to Bandung with “Lodaya” Train




Satu hari satu malam rasanya sudah cukup, untuk sekedar melepas rindu bersilaturrahim dengan ibunda ku. Sebagai suatu kewajiban seorang anak untuk sebisa mungkin berbakti kepada orang tua yang telah melahirkan sekaligus membesarkan, mendidik dan mengantarkan hingga menjadi seperti sekarang ini. Patut kiranya aku bersyukur ke hadirat-Nya, karena dikaruniai seorang ibu yang berusia di atas rata-rata, saat ini berusia sekitar 94 tahun. Kondisi fisik yang juga masih bagus untuk ukuran seusia beliau.
Walaupun jauh, aku senantiasa menyempatkan waktu untuk mengunjungi ibu, 2 sampai 3 kali dalam 1 tahun. Yang pasti momen lebaran Idul Fitri dan sisanya menyesuaikan situasi dan kondisi. Kebiasaan sebelumnya aku pulang beserta keluarga, akan tetapi pada kali ini keluarga tidak bisa ikut dikarenakan anak-anak tidak bisa libur dan isteri yang menjaganya di rumah.

Tepatnya tanggal 31 Januari jam 6:30 wibb, aku berangkat dari Bandung ke Solo dengan mengendarai Bus Malam “Kramat Jati”. Rute yang diambil adalah jalur utara. Di luar dugaanku, yang biasanya perjalanan normal bisa di tempuh  dalam waktu 10 - 12 jam, tidak untuk kali ini. Jalan jalur Pantura yang kondisinya rusak berat akibat banjir karena curah hujan yang cukup tinggi menyebabkan perjalanan Bus sangat tergangu, maksimal 20 km/jam. Sehingga waktu yang ditempuh hampir 15 jam. A long trip……
Penat & letihnya perjalanan, terobati sudah begitu tiba di rumah ibu, melihat kondisinya sehat wal afiat. Ada satu hal yang membuat terharu, kepulanganku memang tidak aku khabarkan sebelumnya. Jadi ibu tidak tahu kalau aku akan pulang. Beliau menyampaiakan kepadaku bahwa sore hari  sebelum keberangkatanku, ibu memanggilku untuk pulang. “parto…, le.., parto muliho yo le….” Begitu kira-kira panggilan yang di lontarkan ibu. Bisa jadi itu satu bentuk hubungan batin yang bersifat metafisika yang kebenaranya sulit untuk dibuktikan dengan ilmu empiris. Tapi kenyataanya bisa terjadi.
1 x 18 jam aku berada di rumah ibu, tidak banyak aktifitas yang aku lakukan, selain ngobrol banyak hal sambil memijiti kaki beliau, aku juga sempatkan untuk berziarah ke makam almarhum bapak aku. Sisa waktu yang ada aku manfaatkan untuk ngobrol dengan  kakak  yang tinggal 1 rumah dengan ibu & 1 lagi kakak yang tinggal berdekatan dengan rumah ibu.
Ada sedikit kebingungan berkaitan dengan waktu kepulangan, karena sampai jam 5 sore belum mendapatkan tiket. Kepinginya kembali ke Bandung dengan menggunakan Kereta Api Lodaya Pagi. Aku coba mencari di salah satu agen penjualan tiket kereta online, hasilnya nihil alias udah habis untuk semua kelas. Belum berputus asa, aku mencoba minta bantuan keponakan untuk mencari kan tiket langsung ke Stasiun Solo Balapan. Alhamdulillah tentunya , dikarenakan usaha keponakanku tersebut dapatlah tiket kereta yang tinggal satu-satunya. Yaitu gerbong eksekutif A no. kursi 1C. (alias kursi ganjil).


Jam 7:00 kereta berangkat dari Stasiun Solo Balapan dengan jumlah penumpang yang masih sedikit, ini karena Lodaya pagi mayoritas penumpangnya banyak yang dari stasiun Tugu Yogyakarta. Benar saja, sampai stasiun Yogyakarta tepat jam 8:00, berhenti sekitar 10 menit untuk menaikan seluruh penumpang. Waktu 10 menit aqu manfaatkan untuk turun sejenak guna membeli oleh-oleh khas Yogya, Bakpia Pathok & Wingko. Hari itu kebetulan cuaca cukup bagus, tidak panas tapi juga tidak turun hujan. Disepanjang perjalanan lancar-lancar saja sehingga bisa menikmati pemandangan di sepanjang sisi rel kereta dengan nyaman. 

Kondisi kontur tanah yang dilewati rel ada perbedaan yang mencolok antara Wilayah Jawa Tengah dengan Jawa Barat. Di Jateng datar-datar aja dan lurus, sedangkan saat memasuki wilayah Jawa Barat banyak rel kereta yang berkelok, bahkan ada naik dan turunya. Pemandangannya juga sangat beda,  di wilayah Jabar selain ada juga sawah tapi kebanyakan tegalan, jurang & tebing di sepanjang sisi rel.
Sesuai dengan jadwal kedatangan yang tertera di tiket, jam 16:00 wibb, sekitar 10 menit lebih lambat kereta tiba di stasiun Hall Bandung.
Terima kasih ya Allah…., berkat Rahman & Rahim-Mu perjalananku menjadi lancar. Hingga aku bisa berkumpul kembali dengan keluarga, sahabat & temen-temenku di Bandung.



Bross Peniti berlapis emas pemberian dari Ibu.

Sisi lain :
·         Hari sabtu biasanya jadwal rutin untuk olahraga yakni Badminton, terpaksa aku tinggalkan.
(so…. kerinduanku kepada temen-temen group badminton bisa ditunda untuk sabtu berikutnya)
Apapun kejadianya ….” Sing penting Hepiiiiiiii”

(AsTo, 7 Pebruari 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...