Selasa, 10 Juni 2014

Bagaimana Memilih Pemimpin ? Prof. Dr. Quraish Shihab Menjawab



Oleh Rachel — Rubrik Akhlak / Kajian Islam — June 9, 2014
LiputanIslam.com — Awalnya berteman lalu bermusuhan dan saling kecam, hingga menimbulkan pertengkaran di dalam keluarga – adalah fenomena yang belakangan ini marak terjadi lantaran Pilpres. Sudah tidak terhitung lagi yang mengaku persahabatannya putus hanya karena mendukung kandidat calon presiden yang berbeda. Yang lebih parah, saya [redaktur] juga menemukan pengguna jejaring sosial yang curhat di Kompasiana – mengungkapkan keresahan hatinya karena “perang dingin” dengan orangtuanya sendiri karena memiliki pandangan yang berbeda mengenai capres.
Yang tak kalah memprihatinkan, dalam kampanye kali ini marak dengan isu-isu miring yang tidak valid. Fitnah, demikian tepatnya. Baik kubu Prabowo –Hatta maupun Jokowi-JK, keduanya diserang kampanye hitam. Dari informasi yang dilansir Politikwave.com, diperoleh data sebagai berikut (lihat gambar)
Kampanye negatif (data kekurangan capres yang sudah terverifikasi): Jokowi  5.1 %,  Prabowo 86.5%.
Kampanye hitam (data kejelekan capres yang tidak/belum terverifikasi):  Jokowi diserang 94.9%, Prabowo  5.1%.

Melihat besarnya kampanye hitam yang terjadi di Indonesia yang jauh dari akhlak Islam Muhammadi—dan rentan menggiring perpecahan,  Prof Dr Quraish Shihab, seorang ulama, ahli tafsir dan  mantan menteri agama memberikan nasehat yang dituangkan pada halaman pribadinya, sebagai berikut:
I. Memilih pemimpin dalam perjalanan pun adalah perintah agama, apalagi memilih Kepala Negara. “Tiga orang yang berpergian hendaknya memilih pemimpinnya”. “Pemimpin yang berlaku otoriter lebih sedikit keburukannya daripada  chaos”. Namun ingatlah bahwa, “Siapa yang memilih seseorang untuk jabatan publik sedang dia mengetahui bahwa ada yang lebih baik daripada yang dipilihnya, maka dia telah mengkhianati Allah, Rasul dan amanat kaum muslimin”. Demikian tiga  dari sekian sabda Nabi  saw. Karena itu jangan tidak memilih. Pilihlah yang lebih baik atau yang lebih sedikit keburukannya.
II. Berkampanye untuk meraih kedudukan dapat dibenarkan agama (a.l. Q.S. Yusuf  [12]: 55), tetapi kampanye tidak dibenarkan dengan menyebarkan fitnah. Masyarakat hendaknya kritis dalam mendengar kampanye dan menghindari yang fitnah, karena penyebarnya sama dengan pengucapnya, bahkan telinga dapat serupa dengan lidah, karena itu jangan dengar yang juga membantu penyebaran fitnah.
III. Ada empat sifat wajib bagi setiap Nabi dan Rasul yang hendaknya dimiliki pula oleh setiap pemimpin, walau tentu kadarnya tidak dapat  sama.
1) As-Sidq: Bersikap benar dan bersungguh-sungguh. Karena kepemimpinan bukan  leha-leha bukan juga fasilitas tapi kerja keras dalam kebenaran.
2)Amanat: Terpercaya oleh yang memberinya, yakni dipercaya kemampuannya dan dipercaya pula memelihara dan melaksanakan amanat serta mengembalikannya dengan tulus bila diminta.
3) At-Tabligh: Menyampaikan apa yang harus disampaikan tanpa menyembunyikan sedikitpun, walau merugikan diri atau keluarganya sekalipun.
4) al-Fathanah: Kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Ini berarti pemimpin harus   paham seluk beluk tugasnya, harus juga seimbang emosinya, sehingga  tidak cepat marah, menggerutu, sebagaimana ia  harus memiliki kecerdasan  spiritual, yang tergambar dalam hubungan baik dengan Allah, yang dibuktikan dengan ibadah  ritual minimal yang wajib serta keterhindaran dari  dari takhyul dan khurafat.
IV. Allah tidak mengutus seorang Rasul kecuali dengan lisan/ budi bahasa kaum yang ia diutus kepadanya (Q.S. Ibrahim [14]: 4). Kata lisan bukan saja berarti bahasa yang digunakan, tetapi juga pikiran dan budaya mereka. Memang bahasa adalah jiwa bangsa dan cerminan budayanya. Itu sebabnya pemimpin harus tampil serupa dengan yang dipimpinnya dan berbaur dengan mereka tanpa  pencitraan.
V. Rahmat dan kasih sayang adalah sifat pemimpin yang paling menonjol. Nabi Muhammad dilukiskan oleh Q.S. Attaubah [9]: 128 sebagai sosok yang mendatangi umatnya, berbaur dengan mereka serta menyelami detak detik harapan dan keluhan mereka lagi perih dengan kesulitan mereka, serta sangat berkeinginan untuk melimpahkan kasih sayang. “Kesalahan  dengan melimpahkan kasih sayang kepada yang bersalah lebih ringan daripada menjatuhkan sanksi dan ketegasan kepada yang tidak bersalah”.
VI. Pemimpin dilukiskan oleh Al-Quran (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 73) sebagai sosok yang telah jelas dan mendarah daging kebajikan dan budi pekertinya. Sebelum menjabat ia mengantar masyarakatnya menuju kebajikan seakan-akan dia adalah pemimpin mereka dan begitu menjadi pemimpin ia berbaur juga tetapi seakan-akan dia bukan pemimpin mereka. Karena itu, siapa yang bermaksud menjadi pemimpin masyarakat, maka hendaklah dia memulai dengan mengajar dirinya sebelum mengajar orang lain, dan hendaklah pengajarannya itu melalui tindakannya sebelum lisannya. Siapa yang tidak mampu memberi contoh keteladanan yang baik, maka hendaklah dia menghindari/ dihindarkan dari kepemimpinan masyarakat.
VII. Rasul saw. mengingatkan agar jangan mengangkat/ memilih pemimpin yang menggebu-gebu meminta jabatan: “Kami tidak memberi jabatan kepada siapa yang memintanya dan tidak pula yang terlalu ingin memperolehnya”. “Dua serigala yang lapar yang berada di dekat kandang domba tidak lebih berbahaya dibanding dengan dua orang yang satu sangat menginginkakan jabatan dan yang kedua sangat loba terhadap harta.”
VIII. Janganlah menilai baik atau buruk sesuatu berdasar faktor eksternal – misalnya harta, nama, dan gelar yang disandang, atau semboyan dan partai yang mengusung, tetapi atas dasar nilai-nilai yang diperjuangkan dan diamalkannya. Kenalilah tokoh pilihan Anda antara lain dengan mengenal dan mengamati keluarga dan sahabatnya. Jangan menjadikan pemimpin siapa yang tidak dapat memimpin dirinya atau keluarganya.
IX. Gunakan hati nurani yang dihiasi oleh nilai-nilai agama untuk memilih. Tinggalkan apa yang meragukan Anda menuju apa yang tidak meragukan. Kebajikan adalah yang hati mantap menghadapinya, walau ada yang berkataini dan itu, sedang keburukan adalah yang hati ragu menerimanya. Jika Anda memilih sesuai hati nurani Anda tetapi kemudian ternyata keliru, Anda tidak dinilai berdosa, tetapi jika Anda memilih yang bertentangan dengan nurani Anda -misalnya karena materi atau jabatan- walau ternyata benar, Anda tetap dinilai berdosa, karena nilai satu aktivitas adalah berdasar niat pelakunya.
X. Camkanlah bahwa: Anda mau, Dia mau dan saya pun mau. Tapi yang terlaksana adalah apa yang dikehendaki Allah. Allah Pemilik Kekuasaan. Dia memberinya kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabutnya dari siapa yang dikehendaki. Karena itu berdoalah dengan doa populer: “Ya Allah, janganlah mengangkat Penguasa kami orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak juga merahmati kami.” Amin. [M. Quraish Shihab]

 http://liputanislam.com/kajian-islam/bagaimana-memilih-pemimpin-prof-dr-quraish-shihab-menjawab/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...