Rabu, 04 Januari 2012

Berhala Bernama ‘aku’

AGAMA, IMAN, dan BERHALA.
Oleh Gayatri W. Muthari
Yunus, say one last thing about the power of words — Only the word “I” divides me from God. (Yunus Emre)
“Sa’di, if you destroy an idol, ~Then destroy the idol of the self.” (Sa’di)
Mukadimah
Sepanjang sejarah, para nabi tidak diutus untuk merekayasa dan menciptakan atau menginovasi sesuatu yang baru sama sekali. Tidak agama, tidak ilmu pengetahuan, tidak pula ajaran (filosofi/teologi). Semuanya telah ada, dan tersedia, dihamparkan oleh Tuhan di alam semesta bagi seluruh anak cucu Adam, hanya kebanyakan manusia lupa dan tidak ingat sama sekali sehingga perlu untuk mencarinya, mengkajinya, dan diingngatkan kembali. Kita memerlukan kearifan dan ketelitian untuk menemukan hakikat ini. Berhala ke-aku-an sudah ada sejak ibu bapa kita Adam (as) dan Hawa (as) menghuni Taman Eden. Iblis adalah guru atau mursyid tarekat ke-aku-an ini. Kejatuhannya ke dalam neraka atau ke dalam lembah kutukan Illahi bukan karena dia mengingkari adanya Tuhan, sedangkan dia mengenal Tuhan. Kejatuhannya adalah karena ke-aku-an dalam dirinya, yang menolak kehendak Tuhan untuk menghormati manusia. Adam (as) dan Hawa (as) untuk sesaat terpikat oleh tarekat Iblis ini, dan dengan segera menyadari pula tipu daya sang mursyid palsu.
Tuhan Yang Maha Pemurah merahmati keinsafan Adam dan Hawa (as), dan dalam masa yang sama memberikan kesempatan bagi Iblis menjadi mursyid bagi anak cucu Adam yang berkenan. Namun, pada saat yang sama juga, Tuhan Yang Maha Pengasih, berjanji untuk selalu mengirimkan petunjuk akan adanya Jalan untuk menghancurkan berhala-berhala ke-aku-an ini, yaitu dengan mengutus citra-citra sempurna-Nya untuk mengingatkan tentang Jalan menuju Tuhan ini. Mereka diutus untuk mengabarkan akan tarekat yang sejati ini dan melalui dimensi syariat yang manakah yang mesti dilalui untuk sampai ke dimensi tarekat ini. Di samping melalui utusan-utusan-Nya, Tuhan juga menjelaskan sendiri dalam ayat-ayat-Nya dari sejak dulu sampai sekarang, yang tercatat dalam kitab-kitab maupun pada firman-firman-Nya dalam alam raya. Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia, dan selalu membimbing manusia bagaimana berjalan lurus menuju Dia. Dari abad ke abad Tuhan menjaga dan mewariskan panduan ini kepada setiap umat dan setiap zaman sebagai suatu bentuk keadilan dan kasih sayang-Nya yang tiada bandingan.

1. Intisari Iman
Dalam perjalanan keimanan, dikenal adanya Empat Dimensi atau tingkatan yaitu: (1) Syariat, (2) Tarekat, (3) Hakikat, (4) Makrifat. Tahap pertama amatlah penting karena merupakan syarat utama bagi seorang hamba supaya dapat melanjutkan perjalanan keimanan dan spiritualnya. Tanpa syariat (law), seseorang tidak dapat sampai pada tarekat (path) yang benar. Dapat dikatakan, intisari iman terdapat dalam syariat pokok. Dengan kata lain, intisari iman merupakan rukun-rukun syariat yang paling fundamental dan mendasar.

1.A. Kata Kunci: “Pada mulanya”
Melampaui pembatasan agama, sekte, atau aliran keyakinan apa pun, intisari iman seharusnya telah dapat merangkul semua orang dan akan selalu merangkul seluruh orang dari seluruh zaman. Nabi Isa (as) menegaskan kebenaran ini dalam sabdanya (Mat 19:8) “Ia berkata kepada mereka, “(nabi) Musa memberi izin kepadamu untuk menceraikan istrimu sehubungan dengan kekerasan hatimu, tetapi pada mulanya tidaklah demikian.” (MILT, 2008). Dalam ayat ini beliau menegaskan kekalnya keabsahan “pada mulanya” dan adanya sifat yang dilaksanakan dengan bersyarat pada tradisi-tradisi berikutnya, yang kemudian kerap kali dan pada banyak tempat ia menjadi diperlukan karena mengerasnya hati umat manusia (McElwain, 2011).
Istilah “pada mulanya” merupakan suatu istilah yang berkenaan dengan kehidupan manusia yang menyejarah, yang terbatasi oleh ruang dan zaman. Pada beberapa pandangan filosofis, terdapat kecenderungan meletakkan syariat sebagai lapisan luar dalam lingkaran empat dimensi tersebut, sehingga sisi eksoteris yang berbeda-beda antara satu tradisi agama atau tradisi iman yang satu dengan yang lain dipandang sebagai suatu keniscayaan sejarah dan untuk itu, kesatuan yang dapat ditemukan adalah filosofi yang sama satu sama lain.
Penekanan “pada mulanya” menunjukkan adanya suatu ketetapan yang tetap kekal dan tidak berubah dalam keadaan yang menyejarah. Jadi di sini, kecenderungannya adalah meletakkan bahwa sisi eksoteris maupun sisi esoteris tidak ubahnya seperti dua sisi mata uang, dan sesuatu yang telah ditekankan dan disyariatkan pada mulanya tidak berubah sebagai syarat untuk tetap berada dalam tarekat, hakikat dan makrifat masing-masing sesuai sejauh mana seseorang telah mencapainya.
Pendek kata, karena syariat adalah syarat utama bagi tetap terpenuhinya dimensi-dimensi spiritual lainnya, maka ketetapan mengenai syariat pokok mestilah ajeg (tidak beruba-ubah) dalam kondisi yang menyejarah. Seseorang mungkin hanya memiliki dua dimensi, tiga dimensi, bahkan satu dimensi saja, tetapi tidak mungkin memiliki dimensi apapun tanpa dimensi syariat. Para nabi dan washinya dan para waliullah telah mencapai empat dimensi ini. Oleh karena itu, ada intisari yang terus-menerus dipertahankan dan dipelihara dan diwariskan oleh para nabi dan washinya dalam perjalanan spiritual yang menyejarah di dunia ini sebagai syarat untuk mencapai dimensi-dimensi lainnya yang dapat melampaui ruang dan zaman.
Jika intisari iman ini (dalam bahasa lain adalah intisari syariat) berubah-ubah dan tidak ajeg, manusia akan mengalami kebingungan, seperti suatu warganegara yang bingung setiap kali ganti pemerintahan berganti pula ketetapannya. Ini sama seperti susunan atau hukum-hukum di alam semesta, misalnya sejak dua ribu tahun lalu terdapat apa yang sekarang disebut gaya gravitasi, matahari beredar pada porosnya, sebuah komet melintasi tatasurya sehingga akan terlihat di bumi 76 tahun sekali, musim yang ajeg silih berganti, atau hukum bernafas di laut berbeda dengan hukum bernafas di darat, dst. Jelaslah, bahwa dasar ketetapan itu tidak ada yang berubah sejak duaribu tahun lalu hingga hari ini.
Di samping itu, ketetapan yang ajeg ini merupakan ukuran atau kriteria penting dalam menentukan apakah seorang pembawa ajaran itu adalah orang yang mengajarkan kebenaran, atau justru sebaliknya. Karena itu kata “pada mulanya” merupakan kata kunci untuk menentukan sejauh mana dimensi pertama dan utama yaitu dimensi syariat telah terpenuhi.
Wahyu kepada nabi Adam (as) dapat ditemukan dalam berbagai kedudukan yang terpelihara dalam seluruh tradisi keagamaan di dunia. Dalam Taurat, ia disebut “pada mulanya” dan dalam bagian yang dibaca mingguan pada bagian awal kitab tersebut (Kitab Kejadian), kekalnya hukum ini diungkapkan dalam bentuk narasi yang cukup komprehensif dan memadai serta ringkas (Kitab Kejadian 1:1-6:8).
Bagian ringkas ini merupakan hal yang bernilai bagi perenungan yang ajeg. Bahkan, seluruh syariat yang disampaikan kembali ke dalam kitab-kitab Suci berikutnya mesti dilihat sebagai penjelasan terhadap bagian ini, selalu ditafsirkan dalam cahaya wahyu yang turun kepada Adam (as), pada mulanya, fondasinya, dan prinsip-prinsip yang pertama (McElwain, 2011). Jika kita mau mengkaji secara mendalam di seluruh tradisi keagamaan serta isi kitab suci masing-masing, maka kita akan menemukan intisari iman ini, dan tidak terkecuali dalam AlQur’an juga.
Al-Qur’an sendiri telah menyebut beberapa ayat mengenai Al-Furqan, atau Criterion, yaitu pokok-pokok ajaran untuk membedakan suatu ajaran sebagai benar atau salah. Dalam hal ini, pertanyaannya adalah: “Apakah mungkin kita mengetahui kebenaran Islam dan AlQur’an selain mengetahuinya dari AlQur’an dan Hadist sendiri?” Pertanyaan berikutnya adalah, kalau kita bisa mengetahui bahwa AlQur’an dan Islam benar dari sumber-sumber di luar Islam, bagaimana kita bisa menerimanya kalau sejak semula kita sudah meragukan dan tidak menerimanya sebagai suatu sumber yang berkata benar? Maka ini juga berlaku dengan tradisi-tradisi keagamaan lain. Saya mengambil contoh Al-Qur’an karena saya (penulis) adalah seorang Muslim yang mengakui dan menerima Al-Qur’an.
Al-Qur’an surah al-Baqara (51-53), Ali Imran (2-3). Araf (144-145), dan Al-Anbiya (48-50) menyatakan tentang Nabi Musa (as) yang telah dianugrahi wahyu Illahi dan perjanjian di hadapan umatnya dan Al-Furqan (1) mengenai wahyu Illahi yang turun kepada hamba-Nya yakni petunjuk untuk mengetahui hal mana yang benar dan yang mana salah. Kita tahu bahwa para nabi sejak Adam (as) hingga Muhammad (saw) tidak diturunkan untuk membentuk suatu agama baru yang berbeda dari kakek moyangnya, melainkan masing-masing saling mengukuhkan kebenaran ajaran sebelumnya dan mereka diutus untuk mengingatkan kembali umat manusia kepada Tuhan, kepada jalan yang Benar. Oleh karena itu, walau pun diutus pada zaman dan umat yang berbeda-beda satu sama lain, pengokohan satu sama lain terhadap ajaran yang pokok adalah suatu keniscayaan. Karena itu, ajaran pokok ini terangkum dalam intisari iman sebagai suatu prinsip mendasar yang terus-menerus diulang dari satu nabi kepada nabi berikutnya, di antaranya dilakukan karena kealpaan manusia dari waktu ke waktu.
Beberapa dari prinsip mendasar yang diungkapkan di dalamnya adalah sebagai berikut (McElwain 2011):
1. Tuhan Sang Pencipta adalah berdaulat (atau berkuasa penuh) atas segala ciptaan-Nya, dan manusia sebagai makhluk ciptaan mesti hidup dalam ketaatan kepada-Nya, Dia (Yang Maha Esa) adalah satu-satunya yang berhak menentukan yang benar dan yang salah (Kejadian 1:1,26; 2:16,17).
2. Kemahakuasaan Tuhan menunjukkan definisi diri, supaya umat manusia, diciptakan untuk mengartikan dan menamai, memiliki kewajiban untuk mempelajari dan menamakan segala ciptaan, untuk menahan diri [atau menjauhkan diri] dari menetapkan suatu definisi tentang Tuhan melampaui ungkapan-ungkapan wahyu itu sendiri. (Kejadian.2:19,20).
3. Tugas utama manusia dalam menyembah dan mengenal Sang Pencipta adalah menyebut nama-Nya, yang ditentukan sebagai Yehuwa (YHWH) kemudian Ælohim, yang kemudian ini merupakan kata yang seasal dengan kata Arab Allahumma (Kejadian.2:4; 3:8-9; 4:26).
4. Keberadaan manusia terdiri oleh enam hari kerja untuk memperoleh sesuap nasi, dan satu hari istirahat, hari ketujuh yakni Sabbath [sabbath artinya hari ketujuh]. Waktu jeda istirahat kerja ini merupakan intisari pembatasan sosial bagi yang berkuasa atas bawahannya. (Kejadian.2:1-3; 2:8,15). Senarai bawahan yang termasuk memperoleh pembebasan atau cuti dibatasi kepada anak-anak (anak laki-laki maupun anak perempuan), pekerja laki-laki maupun perempuan, tetamu, dan binatang domestik [seperti keledai dan kuda] (Keluaran.20:10).
5. Menghormati orangtua [ayah dan ibu] merupakan hal yang mutlak. Orangtua tidak perlu memperoleh penghormatan dasar anak-anak mereka. Namun, ini merupakan hak alamiah (fitrah) mereka, sebagaimana halnya wewenang mereka terhadap anak-anak mereka mempunyai batasan-batasan alamiah sebagaimana yang diungkapkan dalam persoalan sebelum ini. Hal ini tidak pernah boleh ditafsirkan sebagai membenarkan kekerasan orangtua terhadap anak, dan ukuran-ukuran yang dibutuhkan untuk memperbaiki dan menjauhkan penyalahgunaan ada pada ungkapan itu sendiri mengenai penghormatan yang sepatutnya terhadap orangtua (Kejadian.1:28; 3:16).
6. Manusia tidak memiliki hak untuk mengambil nyawa sesama manusia (Kejadian 4.10).
7. Manusia tidak mempunyai hak dalam melakukan aktivitas seksual secara sembarangan, melainkan untuk menghormati secara mutlak kesucian hubungan pernikahan (Kejadian 2:22-25).
8. Tidak seorang pun berhak untuk melanggar hak-hak kepemilikan atau kekayaan pribadi orang lain, atau mengambil keuntungan pribadinya dalam aset-aset yang dipunyai masyarakat secara keseluruhan (Kejadian 2:15).
9. Setiap orang berhak untuk mengharapkan bahwa tidak ada laporan palsu (atau dusta) yang muncul menentang dirinya, sebagai mana halnya juga suatu kewajiban untuk tidak sekali-kali terlibat dalam menyebarluaskan suatu kebohongan (Kejadian 3:12-13).
10. Setiap orang berhak atas sarana dalam memenuhi nafkahnya dan keberadaannya tanpa rasa takut bahwa yang lain akan mencabut haknya atas rumahnya, mencabut haknya atas pernikahannya, berhak dalam mempekerjakan pegawai demi keuntungan, sarana dalam produksi dan transportasi dan segala sesuatu yang merupakan kebutuhannya. Dengan hak yang sama ini, maka setiap orang memiliki kewajiban dalam menghindari dari mencoba merebut kepemilikan satu sama lain. (Kejadian 4:15).
Dengan demikian, Dekalog (Sepuluh Perintah Tuhan) dalam Keluaran 20:1-17 mengikhtisarkan sifat pokok dalam hukum Illahi yang fundamental dan universal. Prinsip-prinsip dasar keadilan tersebut menjadi fondasi spesifik dalam perjanjian (bai’at) bani Israil. Hukum ini, kendati spesifik terhadap bani Israil dalam bentuknya yang dicatat pada batu, ia juga dicatat ke dalam hati manusia dalam tiap-tiap perjanjian baru. Yang demikian, bahwa prinsip-prinsip tersebut merupakan pokok-pokok logis yang tak dapat dinafikan (Yeremia 31:31-34).
Poin menarik mengenai “hukum hari Sabbath”, istri tidak termasuk dalam catatan sebagai dia yang diberi libur, oleh karena itu “pada mulanya” istri memang bukanlah sub-ordinat atau bawahan dari seorang laki-laki atau suami. Dan, dengan melihat ketentuan intisari syariat berikutnya, yaitu menghormati ayah dan ibu, maka sejak mula laki-laki maupun perempuan memiliki kedudukan setara. Al-Qur’an sendiri tidak pernah sekalipun bertentangan dengan intisari syariat mengenai Sabbath. Ada sejumlah ayat mengenai hukum Sabbath yang di antaranya terdapat cerita pelanggaran Sabbath yang mendapat murka serta kutuk dari Tuhan. (QS. 2: 65,66; QS 4: 47-58, dan 154; QS 7: 163; QS. 16: 124). Tentu, pada prakteknya, umat Islam tidak menjalankan Sabbath sebagaimana umat Yahudi, tetapi pada intinya bukan kepada detail syariat yang dipenuhi oleh umat Yahudi dalam menjalankan Sabbath, melainkan kepada substansi hari ketujuh sebagai hari untuk berlibur dari pekerjaan duniawi dan meliburkan para bawahan atau pegawai, yang dalam dunia modern saat ini digantikan kepada hari Minggu atau hari Ahad, atau hari pertama dari sudut bahasa dan hari ketujuh menurut Gereja Katholik Roma. Justeru, dengan menerapkan Hari Jum’at sebagai hari setengah hari dan hari Sabtu adalah hari libur sesudah sholat Jum’at berjamaah, kita akan semakin melihat bahwa intisari iman ini senantiasa berlaku ajeg.
Misalnya, dalam al-Qur’an surah Al-Jum’ah atau 62:9. Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. 62:10. Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. 62:11. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.
Sedikit, kalau tidak bisa dikatakan banyak, dari sekelompok umat Islam memiliki tradisi-tradisi khusus menghormati hari Jum’at maupun hari Sabtu. Misalnya para darwis Bektashi tertentu tidak memakan ikan pada hari Sabtu dan tidak berhubungan seks pada hari Sabtu. Pada waktu remaja saya mendengar anjuran untuk tidak berpuasa sunnah pada hari Sabtu dari ustazah saya seorang Sunni. Secara luas di kalangan darwis Bektashi dari berbagai alirannya, memotong kuku, mengadakan upacara pemakaman dan pernikahan juga dihindari pada hari Sabtu, yaitu menghindari hal-hal yang tidak ingin terulang kembali. Sebaliknya hal-hal yang ingin terus berulang lazim dilakukan pada hari Sabtu: Baik malam Jum’at maupun malam Sabtu dihiasi dengan banyak-banyak membaca al-Qur’an, doa dan berzikir, dan segalanya diawali pada malam Jum’at dengan mandi wajib bahkan mandi kembang, sesuatu yang lazim dianjurkan di kalangan umat Syi’ah maupun tradisi-tradisi sufi lainnya. Ada sebuah riwayat yang menceritakan nabi Muhammad melakukan shalat Dhuha hanya pada hari Sabtu pagi, tidak pada hari-hari lain. Kaum Sunni memandang shalat Dhuha adalah shalat sunnah, sedangkan kaum Syi’ah menganggap tidak ada ketentuan sunnah shalat pagi atau shalat dhuha. Kesahihan riwayat ini mungkin bisa dipertanyakan, tetapi benar atau tidaknya tidak mengubah makna kekudusan Jum’at (Tuhan menciptakan alam dalam enam hari, hari keenam selesai) maupun Sabbath sejak dulu sampai sekarang.

1.B. Kepemimpinan Illahiyah
Suatu tema pokok wahyu setelah (hal-hal) yang awal itu, juga ditegaskan oleh Kitab Kejadian adalah: tema mengenai penunjukan atau pengangkatan Illahi. Pemimpin-pemimpin yang diangkat atau ditunjuk secara Illahiyah sebagaimana halnya para nabi menjelaskan wahyu sejak awal hingga akhir. Bunda Hawa (as) mengakui wahyu Illahi dalam Kejadian 3:3. dan mendengar suara Tuhan disebutkan lagi dalam Kejadian 3:8. dan beberapa kali berikutnya. Janji mengenai penerus kepemimpinan yang diangkat Tuhan demi mengalahkan kejahatan telah masyhur dalam Kejadian 3: 15, dan kendati penafsiran sektarian telah menyebabkan perselisihan dalam hal yang spesifik yang mana teks ini merujuk kepadanya, namun sudah barang tentu janji Tuhan telah digenapi sebagiannya dalam setiap satu (umat dan zaman) yang Tuhan kirim untuk memimpin manusia sesuai jalan Illahi. (McElwain, 2011).
Tidak sedikit para rasul besar didampingi oleh para washi’ , wali atau imam, yang mereka semua itu ditunjuk langsung oleh Tuhan. Kita mengetahui bahwa Tuhan sendiri-lah yang menunjukkan kepada Musa (as) bahwa washi’nya adalah Harun (as) (Keluaran 7: 1) Demikian pula Yesus atau Isa (as) telah mengangkat Petrus atau Simon (as) sebagai washi’ beliau (Markus 3: 16). Demikian juga dalam riwayat-riwayat mutawattir tentang pengangkatan Ali (as) sebagai washi’ Muhammad (saw) yang sesudah itu turun wahyu yang berbunyi “Akmaltu lakum dinakum,” – (Qs.Al-Maidah,5) yang artinya: “pada hari ini telah Ku-sempurnakan agamamu. “
Dari sini kita mengetahui bahwa sejak semula tidak ada suatu inovasi atau pembaharuan apapun dalam suatu Jalan menuju Tuhan yang dibentangkan oleh para nabi atau para utusan Illahi. Selama ini kita sibuk mempertentangkan atau mengklaim bahwa umat Nasrani mengimitasi ajaran Yahudi, dan selanjutnya umat Islam meniru ajaran Nasrani, yang satu meng-copy-paste ajaran atau kitab suci sebelumnya atau yang satu memperbaiki ajaran yang lain dst. Suatu bentuk ajaran yang begitu mirip, katakanlah kosher (diet atau pola makan halal) yang dianut umat Syi’ah mirip dengan umat Yahudi, cara sembahyang antara umat Islam dengan Katholik Ortodoks yang mirip, atau mengajikan Qur’an dengan menyenandungkan Mazmur dalam bahasa Ibrani yang mirip, dst dianggap sebagai suatu peniruan satu kepada yang lain atau bahwa pendiri ajaran baru ini tidak lain adalah penganut agama sebelumnya sehingga agama yang dipandang benar adalah agama yang paling terlihat berbeda daripada yang sebelumnya atau agama yang baru dst. Padahal, dalam ke-bahasa-an saja misalnya, kita mengetahui, semakin dekat suatu bahasa dengan bahasa yang lain menunjukkan kesatuan rumpun dan asal-muasal induk bahasa yang sama. Terlebih lagi dalam hal keagamaan yang sudah pasti ada tradisi yang kekal yang diturunkan dari nabi ke nabi berikutnya baik nabi-nabi yang terkait secara biologis langsung maupun jauh secara biologis namun dekat secara spiritual. Akibatnya, satu sama lain saling mengklaim kebenaran dirinya dari sumber-sumber yang terdapat dari dalam dirinya sendiri, sementara saat hendak mengklaim bahwa sumber-sumber lain juga mengatakan kebenaran dirinya, ia justru menjadi hipokrit, karena sejak semula metodenya adalah meragukan sumber-sumber di luar dirinya sendiri. Kita akan melihat mengapa hal ini bisa terjadi pada mulanya.

1.C. Kurban dan Liturgi (Tata Cara Ibadah)
Banyak tradisi kepercayaan (atau agama) menetapkan kurban dan berkurban disebutkan dalam Kejadian 4: 3-5. Alkitab tidak menyatakan perintah dari Tuhan untuk melakukan kurban, atau bahkan menunjukkan secara tidak langsung tentang hal itu, tetapi ayat tersebut menunjukkan bahwa Tuhan menerima kerelaan manusia untuk memberikan kurban bagi-Nya. Pada saat yang sama, kurban tidak mengubah penilaian Tuhan mengenai dosa. Perundangan berikutnya akan membatasi berkembangnya praktek-praktek berkurban, melarang mengurbankan manusia, dan mengambil alih kepada institusi sebagai perangkat pendidikan. Sementara itu amalan-amalan kurban telah membentuk inti dari agama mula-mula yang manusiawi adanya, peribadatan kepada Tuhan, bertumpukan pada menyebutkan nama YHWH, pada mulanya, adalah dijalankan dengan nama Tuhan dan mengharap ridha dari-Nya. (Kejadian 3:8, 5:22, 6:9). [McElwain, 2011].
Habil (Abel) dan Kabil (Cain) - kini menjadi tamsil yang abadi.
Tradisi berkurban yang kelak kemudian melahirkan tradisi-tradisi keagamaan yang berbeda satu sama lain dapat dilacak sejauh Habil dan Kabil (Cain) dalam Alkitab. Oppenheimer dalam bukunya “The Eden in the East” memberikan gambaran tentang mitos-mitos yang berkembang di wilayah pedalaman-pedalaman Papua dan kepulauan Austrolenesia mengenai kisah serupa dengan perseteruan Habil dan Kabil dalam Alkitab, kendati suku-suku di pedalaman tersebut belum pernah mendengar kandungan Alkitab.

Kisah Kabil (Cain) dan Habil dalam kasus “kurban” memberi hikmah kepada beberapa hal sebagai berikut:
(1) Manusia sendirilah yang pada mulanya menginginkan melakukan persembahan kepada Tuhan sebagai naluri atau fitrahnya sebagai makhluk yang hendak bersyukur kepada Sang Penciptanya.
(2) Persembahan yang paling ikhlas dan menunjukkan ketundukan yang dalam kepada Tuhan itu yang diterima (yang mengharapkan keridhaan Tuhan saja), bukan besar atau banyaknya atau bagusnya.
(3) Sifat iri hati manusia telah ada sejak masa awal bani Adam, yang merasa ketetapannya dalam memberi persembahan kepada Allah adalah yang terbaik, inilah berhala “aku” pertama yang diciptakan manusia setelah sampai di dunia atau setelah keluar dari Taman Eden.
(4) Kabil ingin menunjukkan juga kepada Tuhan bahwa ia lebih kuat daripada saudaranya, dan dia lebih patut dipilih oleh Tuhan dalam segala hal apapun. Oleh karena itu, dia membunuh Habil untuk membuktikan hal ini.
(5) Habil tidak melawan saat akan dibunuh karena sepenuhnya meyakini Tuhan sajalah yang berhak mencabut nyawa manusia [larangan mengambil nyawa manusia]. Karena itu, pada kemudian hari turun wahyu Illahi bahwa melakukan kekerasan di kemudian hari dibenarkan dalam rangka mempertahankan diri atau melindungi nyawa lain yang berada dalam penindasan.
(6) Sejak peristiwa Habil dan Kabil inilah manusia mulai berlomba-lomba memberikan persembahan kepada Tuhan menurut liturgi, tatacara, atau ritual masing-masing dan di antara mereka ada yang menganggap apa yang dikerjakannya adalah yang paling benar dibandingkan saudara-saudara lainnya.
Kurban anak kepada tuhan sesembahan bangsa Kanaan
Seseorang membunuh saudaranya kadang-kadang tampaknya seperti solusi yang terbaik dari sudut pandang manusia. Tampaknya tidak masuk akal ketika Anda berpikir tentang itu, tetapi itulah alasan di balik setiap perang serta kejahatan, dan bahkan setiap gereja (baca: institusi agama) yang mapan menerima atau menyetujui perang atas nama agama baik di masa lalu maupun di masa kini.
Iman Kabil, menurut Kitab Kejadian 4, adalah sumber dari banyak hal baik di dunia, seluruh konfigurasi peradaban, pertanian, industri, bahkan peternakan, seni dan musik. Dengan semua kemajuan peradaban itu, yang sekilas menunjukkan kemajuan umat manusia, meskipun demikian tetap tidak dapat mencegah kekerasan, sebagaimana pengalaman sejarah telah menunjukkannya pada Lamekh. Bahkan, Lamekh bangga dengan kekerasannya. Dia menarik perhatian bagi perlindungan dari Tuhan [atas pengampunan Tuhan kepada Kabil] dari mereka yang hendak membalas dendam pada dirinya dalam perihal bualannya. Jika hukuman pada orang yang membunuh Kabil karena pembunuhan saudaranya adalah tujuh kali lipat, hukuman untuk Lamekh menjadi sebelas kali lebih besar. Begitulah keadilan di dunia ini menurut cara pandang iman Cainish, dan semua agama yang mapan adalah Cainish [atau dalam bahasa saya adalah Kabiliyah]. Ianya mengizinkan kekerasan pada tingkat elit [jenderal, raja, dll] dan membatasinya atau mengharamkan kekerasan pada tingkat orang-orang miskin dan putus asa. Ini semua didasarkan pada penemuan Kabil: pengorbanan manusia [baca: mempersembahkan kurban berwujud manusia kepada Tuhan].
Selama masa bani Israel, menyembah atau memuja dewa Molokh di Kanaan itu merupakan liturgi yang termasuk pemanasan patung logam berongga dengan lidah api di bawahnya dan kemudian memberi kurban anak-anak dengan menempatkan mereka pada lengan berhala yang merah lagi menyala itu. Bahkan beberapa raja di Israel berpartisipasi di dalam ibadah kurban ini. Ibadah kepada Baal meliputi adanya upacara kurban manusia. Para nabi selalu konsisten berkhotbah melawan sistem ibadah tersebut, tetapi selalu ada orang-orang yang bersikeras menentang para nabi [yang mendukung segala bentuk tidak kekerasan, termasuk terutamanya kurban manusia] dan terlibat di dalamnya. Bagi mereka, Kesuburan agama itu perlu untuk menjaga jumlah umat mereka (baca: supaya tetap banyak pengikut mereka). Jadi, mereka terus berpartisipasi dalam ritual seks dan pengurbanan manusia. (McElwain, 2011).

Skema Umum Cabang-cabang Umat Ibrahimiyah
Nabi Ibrahim (as) misalnya dihadapkan pada situasi dan zaman yang menuntut suatu agama yang benar adalah adanya suatu kurban manusia. Allah hendak memperingatkan manusia tentang kesalahan ini. Baik dalam tradisi di mana Ismail maupun di mana Ishak berada, Allah mengutus Ibrahim untuk menunjukkan kesesatan sistem berkurban ini. Oleh karena itu, baik dalam Alkitab maupun AlQur’an terdapat dua versi yang berbeda mengenai siapa yang dikurbankan. Jika kita mau tidak bertikai meributkan detail historisnya, melainkan kepada makna dan maksud dari peristiwa ini, maka akan kita temukan bahwa baik dalam masyarakat dan zaman tempat Ishak (as) maupun tempat Ismail (as) berada, Ibrahim dan anak-anaknya alahissalam dibimbing oleh Tuhan untuk menunjukkan kesesatan pengurbanan manusia ini.

Semua agama yang menyebabkan seseorang diizinkan untuk membunuh seorang manusia atau seorang anak sebagai pilar kepercayaan mereka hanyalah perpanjangan dari iman Kabil. Mereka mungkin membungkus iman busuk ini dalam kata-kata yang manis lagi indah (begitu pula orang-orang Kanaan) di bawah upacara yang hikmat dan menawan, dan dengan teologi yang amat filosofis. Namun, semua ini bermuara pada hal yang sama. Kabil mencari keselamatan dalam dosa, yang terbentang di pintu, dengan terlibat dalam pengurbanan manusia (dalam bentuk apapun ia pada masa kini). Teks dalam Kitab Kejadian 4 menunjukkan bahwa Tuhan tidak menerima kurban semacam ini. Kecuali, Tuhan adalah Tuhan yang berubah-ubah. Maka, pada hari ini pun Tuhan tidak menerima hal ini. Kanibalisme adalah ritual yang bisa dijumpai dalam banyak budaya, tetapi bahkan tanpa teks-teks tertulis Wahyu sekali pun, pikiran manusia tergelap dan batinnya yang mendalam mampu memahami bahwa adalah suatu kesalahan besar apabila memakan saudara sendiri. Namun sayangnya, institusi agama dan institusi politik serta institusi ekonomi yang mapan berdiri di atas pilar-pilar iman Kabiliyah ini. Banyak orang melihat nubuat Yesus dalam teks Kitab Kejadian 3:15. Saya (McElwain) cenderung mengambil refleksi dari dalam teks-teks kitab Kejadian 4. Menyusun dasar-dasar keimanan atas pembunuhan saudara (baca: sesama manusia) secara sederhana sudah keliru besar.
Namun, teks-teks dalam kitab Kejadian 4 menyajikan alternatif ketiga, yakni iman Seth. Iman yang sangat sederhana. Iman Seth adalah iman yang memohon atau menyeru nama YHWH (menyebut nama Allah) untuk memperoleh pertolongan (yang sejati). [McElwain, 2011].

Ayat-ayat AlQur’an banyak yang menegaskan tentang hal ini, di mana kekerasan hanya dibenarkan sebagai suatu bentuk pertahanan diri, suatu sikap defensif bukan suatu sikap menyerang untuk memperluas empirium atau kekhalifahan Islam, sebagaimana yang diduga dan menjadi fitnah kepada umat Islam. Selama 1400 tahun lebih umat Muhammad dikuasai oleh sejumlah elit yang mengambil bendera ajaran Muhammad di atas pilar-pilar iman Kabiliyah ini. Ini tidak jauh berbeda dari umat-umat lain, apakah itu umat Musa yang mencatut logo bintang Daud sebagai romantika kerajaan digdaya di masa lalu untuk membenarkan kezaliman demi sebuah negara bangsanya, atau umat Yesus yang berlindung di balik peristiwa salib yang memilukan demi mengumpulkan jemaat sebanyak-banyaknya di bawah gereja-gereja yang megah dan nyanyian-nyanyian yang mengharapkan berkat materi duniawi. Bahkan, umat-umat non-Semit tidak terkecuali, sepanjang “agama” apapun itu kemudian dijadikan “agama-negara” dan membenarkan pembunuhan, kekerasan, serta pengucilan bagi siapa saja yang menentang agama negara yang dianut. Sebab pemberlakuan agama-negara meniscayakan suatu institusi agama yang mapan yang kekuatannya sebagai penguasa dapat diselewengkan sewaktu-waktu untuk tujuan keuntungan pribadi dan kelompok sendiri. Berhala “aku” menjelma dalam berhala-berhala baru seperti berhala keselamatan, berhala negara, berhala bangsa, berhala uang, berhala kekuasaan, berhala harta benda, berhala kekuatan, dst. Pada akhirnya itu semua menjadi tujuan utama bagi setiap orang yang jatuh di dalam daya pikatnya dan bagi siapa saja yang mendukung serta mempromosikannya – baik secara sadar maupun tidak sadar.
Seluruh agama telah turun kepada umat manusia dari kepercayaan asal-mula ini (wahyu pertama kepada Adam, pada mulanya). Sejauh atau sepanjang tradisi-tradisi berikutnya mempertahankan hal-hal yang fundamental itulah, sejauh itu pula mereka telah berjalan pada jalan dan arah yang benar menuju Tuhan. Sejauh mana mereka berselisih atau bertentangan dengan hal-hal yang mendasar itu, sejauh itu pula mereka tersesat (yang justru semakin menjauh dari jalan menuju Tuhan). Sejauh mana mereka menambahkan yang fundamental itu, mereka melakukannya karena kekakuan serta mengerasnya hati umat manusia dalam hal mematuhi hal-hal yang mendasar sekali pun. Selama hati umat manusia keras lagi kaku membeku, sabda-sabda para nabi berikutnya dan para pembimbing Illahi berikutnya akan terus diperlukan. (McElwain, 2011).

2. Sedikit tentang Hikmah Tarekat para Nabi
Kisah Nuh (as) mengandung beberapa hikmah sbb: (1) Allah memberikan ketetapan kepada umat nabi Nuh jikalau mau selamat agar masuk ke dalam bahtera Nuh. Ini bukan sekedar suatu kisah literal yang materialis, tetapi juga suatu metafora atau tamsil bahwa Allah-lah yang paling berhak dalam menentukan urusan bentuk atau jalan apa yang bisa menjadikan umat di zaman Nuh (as) selamat atau diridhai Allah swt. (2) Tetapi, apa yang terjadi? Selama ratusan atau bahkan dalam berbagai versi, ribuan tahun, Nuh (as) berdakwah, hanya tujuh orang yang menganggapnya orang yang benar. Bahtera Nuh dianggap suatu ide gila, dan banjir yang bisa jadi merupakan metafora atau tamsil bagi generasi berikutnya sebagai “bencana iman dan musuh-musuh iman yang sejati” merupakan sesuatu yang tidak masuk akal. (3) Ketika Nuh ditetapkan untuk mengumpulkan berpasangan-pasangan sejumlah hewan pun, akal kita saat ini kemudian bermain-main di ranah ”mengapa hanya sepasang? Hewan apa saja? Mengapa hanya hewan-hewan itu?” yang seakan-akan mempertanyakan ketetapan Tuhan YME. (4) Oleh karena itu, umat mayoritas belum tentu selalu benar, karena bahtera nabi Nuh saja hanya diisi sedikit orang dalam sekian ratus atau sekian ribu tahun dakwahnya. Bahkan satu istri lain nabi Nuh dan anak nabi Nuh yang lain ada yang tidak termasuk di dalam bahteranya!

Kisah Ibrahim as memberikan begitu banyak hikmah bagi kita tapi hanya sebagian yang bisa saya sampaikan di sini karena keterbatasan tempat, yaitu sbb: (1) Ibrahim as adalah nabi yang mula-mula melakukan teologi atau filsafat dengan merasionalisasi secara logika tuhan-tuhan yang disembah umat atau bangsanya itu adalah pada hakikatnya Dia YME itu atau sesuatu ilusi atau maya semata. (2) Ibrahim (as) melakukan taqiyah saat berhadapan dengan raja Mesir yang menyukai Sarah demi menyelamatkan Sarah. Beliau-lah orang yang mula-mula melakukan taqiyah yakni menyembunyikan imannya dan menutupi kebenaran bahwa Sarah adalah istrinya sebagai suatu jalan yang dibenarkan Tuhan dalam keadaan-keadaan yang dapat membahayakan nyawa orang lain. (3) Allah telah menjanjikan kepada Ibrahim dan Sarah akan berputra. Akan tetapi, Sarah mulai meragukan janji Tuhan dan akhirnya dengan keputusan sendirinya-lah meminta Ibrahim agar memperistri Hajar. Lagi-lagi setelah kisah Nuh di mana para manusia saat itu menganggap ”aku” sudah berlogika benar, dan Kabil yang menganggap ”aku” sudah melakukan hal yang benar, kini Sarah memberi contoh bahwa ujian keimanan juga dihadapi seorang ummul mukminin. (4) Janji Allah kepada Ibrahim (as) kini telah digenapi-Nya. Keturunan ahlulbayt Ibrahim (as) kini telah berada di seluruh muka bumi. Jika ada sisa DNA yang dapat diambil dari jenazah atau bekas benda-benda nabi Ibrahim (as) bukan tidak mungkin kita akan menemukan bahwa sebagian besar penduduk bumi saat ini adalah keturunan beliau baik dari Sarah, Hajar maupun Keturah.

Kisah Musa (as) mengandung di antara banyaknya hikmah ada satu hikmah yang sangat istimewa. Yang menarik, nabi Musa (as) merupakan nama nabi yang lebih banyak disebut dalam Al-Qur’an dibandingkan nabi-nabi lainnya. Kisah Samiri yang tertuang baik dalam Taurat maupun al-Qur’an memberikan hikmah luarbiasa bagaimana bani Israil yang diberikan begitu banyak cobaan dan Tuhan selalu mengabulkan doa serta permohonan mereka supaya dibantu dan diberkati. Tetapi apa yang terjadi? Begitu Allah menetapkan bahwa Musa mesti pergi ke Gunung Sinai dan sebagai pengganti kepemimpinannya atau keimamannya adalah nabi Harun (as). Namun, sebagian kelompok dalam umat nabi Musa (as) menganggap keputusan tersebut berbau nepotisme karena putra dari bani mereka tidak mendapat kedudukan yang pantas. Maka, diprovokasi dan dipimpin oleh Samiri; mereka mengacuhkan keimaman Harun (as), membuat patung lembu yang bisa bersuara dan memujanya. Melalui kata kunci pada mulanya, kita mengetahui bahwa kepemimpinan atau keimaman yang berurusan dengan masalah-masalah Illahiyah telah ditetapkan oleh Allah swt, bukan atas dasar musyawarah mufakat, atau pemilihan umum (baca: demokrasi).
Oleh karena itu, sepanjang sejarah Tuhan melalui al-Qur’an juga kitab-kitab suci lainnya telah menggambarkan bahwa seorang pemimpin Illahi sudah lazim tidak diikuti oleh umatnya, istrinya, saudaranya, keluarganya atau sahabatnya. Ada di antara mereka yang insyaf dan menyadari kekhilafannya, dan ada pula yang mewariskan ”sistem ke-Samiri-an” mereka sepanjang zaman. Dan, di dalam sistem ini, iman Kabiliyah dipelihara dan diwariskan jalin-menjalin mendarah-daging.
Dalam Al-Qur’an, Tuhan berfirman supaya para ahli kitab untuk merujuk dari dalam kitabnya sendiri untuk memperoleh kebenaran tentang ajaran-ajaran yang dibawa Nabi Muhammad (saw) dalam Al-Qur’an. Alkitab mengajarkan bahwa ketetapan Illahi atas kenabian dan keimamahan merupakan jiwa atau roh bagi tegaknya Wahyu mula-mula itu. Sementara itu, dalam kitab-kitab suci non-Semit, kita menemukan nubuat-nubuat yang berkelindan dengan bahasa mitos dan legenda tentang para avatar, para buddha, atau para boddhisatva, yang bertugas membimbing umat manusia ke dalam keselamatan hakiki.
Al-Qur’an surah Anfal (94-110) misalnya telah memperingatkan Nabi Muhammad bahwa Allah tidak memberitahu kepada Muhammad (saw) tentang siapa saja di antara orang Arab di sekitarnya adalah kaum munafik. Ini adalah suatu indikasi bahwa tidak semua sahabat beliau itu adil atau selalu berbuat dan bertindak benar. Untuk melindungi umat manusia dari kesesatan manusia-manusia biasa ini, yang mungkin akan sentiasa ada sampai akhir masa, maka senantiasa dibutuhkan seorang pemimpin di antara seluruh umat yang dijaga dan dilindungi oleh Tuhan dari dosa dan selalu bersikap dan mencerminkan manifestasi sempurna Illahi. Sepanjang mereka tidak atau belum ada, maka sepanjang masa itu merupakan kesempatan sekaligus ujian untuk mengharapkannya kembali. Agaknya suatu kebingungan jika dikatakan logika ini adalah suatu ciptaan Yahudi, Kristen, atau Islam, atau siapapun, melainkan ia merupakan Rahmat dan Kasih-sayang Tuhan bagi umat manusia pada tiap-tiap zaman. Bisa jadi mereka (para pemimpin itu) adalah para nabi, rasul atau para washi’ dari nabi-nabi itu. Dalam istilah Buddhisme, saya menemukan istilah tatagatha, yaitu adalah mereka yang bertindak benar, berkata benar, berpikir benar dan telah pergi serta mencapai keadaan yang benar (baca: maqam tertinggi manusia, Insan Kamil).

3. Menghancurkan Berhala
Sejarawan Kuntowijoyo menyatakan, manusia belajar sejarah, tetapi manusia tidak belajar dari sejarah. Begitu banyak dan berseraknya hikmah kehidupan manusia sejak nabi Adam (as) hingga sekarang yang tertuang dalam kitab-kitab suci maupun legenda-legenda. Banyak sekali yang kita tahu, tapi sedikit sekali yang mau mengambil pelajaran darinya. Berhala bahwa ”aku” yang memiliki wewenang juga selain Tuhan itu jelas suatu penyekutuan terhadap Tuhan YME.
Suatu pendapat yang sulit kami terima bahwa tumbuhnya agama-agama baru adalah meniru agama-agama sebelumnya atau sebalinkya tumbuhnya agama-agama baru karena kekeliruan agama-agama sebelumnya dan untuk meluruskannya kembali ialah dengan cara mengubah semua aturan atau prinsip fundamental wahyu pada mulanya dengan membentuk agama baru.
Yang pertama keliru, karena wahyu Illahi akan selalu terjaga dan akan selalu diwariskan dari zaman ke zaman ,namun lenyap di hati dan pikiran mereka yang bebal dan memberhalakan ”aku” di atas segala berhala lainnya dan di atas Tuhan dari segala-galanya. Untuk itula, untuk mereka yang bebal dan lupa itulah, Tuhan mengutus para nabi-Nya. Jadi, ini lagi-lagi bukan yang satu meniru atau mencomot dari satu kepada yang lainnya, melainkan Tuhan-lah yang menghendaki kekalnya pewarisan wahyu-Nya dari generasi ke generasi sampai akhir zaman. Apabila dan sepanjang hati manusia masih mengeras lagi membatu, bimbingan Illahiyah masih terus diperlukan.
Yang kedua juga keliru, karena Tuhan tidak pernah mengutus para nabi manapun untuk membangun suatu institusi agama baru, melainkan semuanya menyerukan untuk kembali mengenal dan memuja Tuhan YME. Dalam keadaan yang menyejarah, yang terlingkup ruang dan zaman, memang suatu keniscayaan tumbuh dan suburnya agama-agama di muka bumi, sebagai suatu kehendak Tuhan juga. Akan tetapi, Tuhan juga berkehendak seluruh umat beriman bersatu, dan mengenal satu jalan yang lurus dan benar menuju Diri-Nya, betapa pun kendaraan yang digunakan berbeda-beda. Di samping itu, Tuhan melalui firman-firman-Nya dan nabi-nabi-Nya serta wali-wali-Nya, mengingatkan tentang adanya tarekat-tarekat di mana Iblis merupakan mursyid yang sesungguhnya, di mana tarekat-tarekat ini justru menawarkan janji-janji manis berkat duniawi dan rahmat surgawi. Untuk mengenalinya, tidaklah sulit dan tidak pula memerlukan filsafat yang rumit atau teologi yang canggih.
Al-Qur’an turun bagi menerangi dan menegaskan kembali intisari iman dalam wahyu-wahyu sebelumnya (Injil, Zabur, Taurat, dll). Yang dimaksud “jalan hidup” atau “agama” dalam alQur’an bukan suatu institusi agama baru yang ditemukan dan diinovasi oleh Muhammad (saw). Kata yang seakar dan berarti sama dengan “Islam” telah ada dalam banyak kitab suci dari Alkitab, sampai kepada Bhagavad gita maupun Dhammapada dan bahkan Tao Te Ching, dll. Jalan hidup yang dimaksud adalah berserah sepenuhnya kepada Tuhan, kepada Yang Sejati, yang mengikuti wahyu “pada mulanya”, melalui dimensi tarekat yang memehuhi syarat syariat “pada mulanya” dan di dalam tarekat ini, menghancurkan seluruh berhala yang ada, terutama dan pertama-tama adalah berhala “aku”. Dimensi hakikat ini tidak akan pernah tercapai kecuali seluruh berhala ini berhasil dihancurkan.
Para nabi, imam, dll telah mencapai dimensi makrifat ketika mereka telah menghancurkan seluruh berhala ini, bersatu dengan Sang Sejati, bahkan juga tidak menemukan realitas lain selain Tuhan itu saja yang nyata. Tuhan adalah Realitas satu-satunya. “There is no I but God”. Karena itu, ketika mereka meninggal dunia, mereka dengan bahagia menyambutnya sebagai suatu pesta perjumpaan kembali dengan-Nya. Pada saat yang sama para nabi dan imam besar pasti akan mengingat umatnya dalam detik-detik akhir hidupnya, apakah umatnya dapat memelihara peninggalan tarekat mereka itu supaya dapat berkumpul kembali bersama dengan-Nya. Mengapa demikian? Sebab, mereka yang dengan sepenuh hati mencintai Dia yang Sejati, maka mereka juga akan mencintai sesama manusia dengan sepenuh hati. Manusia yang belum dapat mencintai Tuhan yang ‘tak terlihat’ dengan tulus, tidak mungkin akan dapat mencintai sesama manusia yang terlihat dengan tulus. Manusia mesti mengenal Diri-Nya dengan baik sebelum mengenal diri-diri yang lain dengan baik. Seluruh kitab suci dari tradisi kepercayaan atau agama mana pun secara tersirat maupun tersurat menjelaskan tentang hal ini.

Penutup
Esensi iman yang pertama hingga keempat adalah mempersembahkan diri secara utuh kepada Tuhan, sedangkan esensi iman kelima sampai ke sepuluh sesungguhnya merupakan pilar-pilar dasar bagi prinsip etika sepanjang zaman dan tak terbatas oleh umat manusia tertentu yaitu suatu jawaban terhadap baik meta-etika maupun prinsip-prinsip moral universal:”What is goodness?” yang terangkum dalam enam poin ringkas yang dapat dijabarkan sejauh yang mungkin dapat dilakukan terhadap poin-poin tersebut. Namun, poin-poin kelima hingga kesepuluh tersebut, sebagai suatu an-sich prinsip-prinsip moral-sosial secara universal, tidak akan secara maksimal juga optimal terlaksana tanpa melalui poin-poin pertama yang utama yaitu: memusnahkan berhala “aku” yang kerap sadar maupun tak sadar menyatakan “There is no God but I.” melainkan dengan teguh menemukan dan menyadari realitas hakiki: “There is no I but God.“
http://duniachenchen.blogspot.com/

Muhammad bin Abdullah (2)

Pada saat Muhammad saw berumur 40 tahun, pada 27 Rajab, 610 M, sebagaimana sering yang beliau lakukan yaitu berkontemplasi/bermeditasi/berzikir di Gua Hira, Malaikat Jibril muncul di hadapannya, ”Recite!”(*) Tentu saja Muhammad heran dan kaget, ”Apa yang mesti saya recite?”.
Dalam hal ini, maka sesungguhnya Muhammad saw saat menerima Wahyu Illahi yang pertama kali bukanlah seorang yang buta huruf. Bagaimana itu mungkin? Muhammad berasal dari keluarga bangsawan Quraish, walaupun tidak kaya, tetapi tentulah mendapat pendidikan yang secukupnya dari paman-pamannya. Juga dia kemudian menikah dengan seorang putri terkemuka Quraish, serta memimpin banyak perjalanan bisnis yang tentu saja tidak mungkin dapat dilakukan oleh seorang yang tidak berpendidikan.
Maka, di Gua Hira itu, pada malam itu, Muhammad bingung bukan karena beliau tidak bisa membaca, tapi beliau heran apa yang mesti dibaca/dideklamasikan atau apa yang mesti dingajikan? Tak ada kertas atau buku apapun diberikan kepadanya? Sedangkan Jibril terus memberikan wahyu dari-Nya, “Recite O Muhammad!”
Pada kali yang ketiga malaikat Jibril mengatakan, “Recite in the Name of Your Lord Who created. He created the human being from a clot. Recite and your Lord is Most Honourable, Who taught (to write) with the pen, taught the human being what he knew not.” (Q.S 96:1-5).
Dengan kalimat-kalimat inilah, Jibril mengumumkan bahwa Muhammad adalah Nabi, utusan Allah, secara resmi yang akan membawakan Risalah dan Nubuat untuk umat manusia – walaupun kenabian beliau telah secara de facto sejak beliau lahir hanya saja baru pada umur 40 tahun dikukuhkan dengan resmi/pelantikan. Wahyu pertama inilah yang ditanamkan dalam dada Muhammad melalui suara Jibril yang mengajarkan Muhammad cara mengajikannya (recite/cantillation).
Sejak turunnya Zabur (Mazmur) kepada Daud as, Tuhan telah mengajarkan cara terbaik mengaji atau menyenandungkan Ayat-ayat Tuhan dengan nada-nada tertentu yang berasal dari suara manusia sendiri. Juga adalah penting untuk mengajikan setiap ayat Tuhan baik yang ada dalam Taurat, Mazmur, Injil maupun AlQuran dalam bahasa asli ia diturunkan untuk benar-benar menemukan ikatan dan kesatuan di dalam kesemuanya sebaga Wahyu Illahi. Jika pembaca dan pendengar tidak mengerti bahasa aslinya, maka barulah terjemahan atau tafsirannya dibacakan kemudian, tanpa mereduksi pentingnya ayat-ayat tersebut dibacakan dalam bahasa aslinya.
Cerita-cerita tentang ciri-ciri kenabian Muhammad yang diketahui oleh orang Yahudi maupun pendeta Kristen, menunjukkan bahwa sesungguhnya kedatangan Muhammad sebagai Utusan Allah akhir zaman telah dikhabarkan dalam kitab-kitab sebelum turunnya AlQur’an secara resmi pada peristiwa di Gua Hira ini (seperti dalam Kidung Agung atau Nyanyian Sulaiman 5:16, Mazmur 106, dan Kitab Samuel). Maha Suci Tuhan yang tetap melindungi Kebenaran walaupun semua orang hendak menutupi-Nya.
Sebelum turunnya Wahyu Illahi yang pertama, Muhammad telah dikenal sebagai “al-Amin” yaitu Yang Dapat Dipercaya. Beliau pernah dengan sukses menyelesaikan peristiwa saat renovasi Ka’bah sehingga tidak terjadi perang saudara akibat perebutan bani siapa yang paling berhak meletakkan batu Hajar Aswad. Beliau juga selalu memberikan nasehat kepada orang-orang yang dating kepadanya. Beliau juga dikenal dermawan dan murah hati, kepada mereka yang sakit dan miskin. Hatinya selalu dilimpahi oleh kasih-sayang.
Hatta, setelah Wahyu Illahi yang pertama itu turun, Muhammad saw kembali ke rumah dalam suasana yang hati lebih cerah. Khadijah telah menunggunya karena Muhammad saw tidak kunjung pulang. Ketika ditanyakan kepada Muhammad saw mengapa wajahnya telah berubah menjadi sangat bercahaya, maka Muhammad pun menjawab apa yang baru saja dialaminya, semuanya persis seperti yang telah disampaikan oleh pendeta Bahira kepadanya. Khadijah juga teringat cerita pelayannya Maysara tentang nubuat yang disampaikan pendeta di Damaskus mengenai kenabian Muhammad. Tidak lama kemudian Khadijah pun menemui sepupunya Waraqah bin Naufal dan menceritakan hal itu.
Alkisah, pendeta itu pun berkata bahwa yang mendatangi Muhammad adalah malaikat Jibril yang mendatangi Musa as. Pendeta itu meyakinkan bahwa Muhammad-lah nabi bagi umat manusia yang sudah lama dinantikan.
Walaupun demikian, tugas kenabian Muhammad baru berlangsung secara terbuka setelah sekitar tiga tahun dilakukan secara rahasia. Bahkan di antara keluarga Muhammad saw sendiri banyak yang menentangnya, seperti Abu Lahab, salah satu pamannya. Pemuda dalam keluarganya yang selalu menolong dan mendukungnya adalah Ali bin Abu Thalib, sepupunya. Selain itu juga pamannya Abbas dan Hamzah. Sementara itu, demi melindungi dirinya dari serangan para pemuka Quraish yang tidak rela menerima kenyataan bahwa posisi kenabian yang dijanjikan Tuhan kepada salah satu putra bani Ismail jatuh kepada keturunan bani Hasyim – yaitu Muhammad saw – maka paman yang selama ini menjadi walinya, Abu Thalib bin Abdul Muthalib, menyembunyikan imannya (taqiyah/dissimulation) sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Ibrahim as di hadapan Raja Namrud.
Dari sinilah, dari sejak peristiwa di Gua Hira, yang jatuh pada bulan Ramadhan, ketika Allah mengukuhkan Muhammad sebagai Utusan-Nya, tugas-tugas kenabian dan kerasulan Muhammad pun dimulai. Tugas seorang Tatagatha yang teragung, yang membimbing umat manusia untuk mencapai Kebenaran. Dia-lah Muhammad saw sang Tataghata yang menjadi “Buddha” yaitu Yang Tercerahkan, sejak dari Gua Hira, untuk mencerahkan umat manusia. Dia-lah Muhammad saw yang mengingatkan kembali kepada umat manusia tentang Jalan Tauhid, Jalan Pencerahan, Jalan mencapai The True-Self, dan dia-lah Muhammad saw, yang berada di arahat, maqam, yang tertinggi, yang tak satupun darinya terdapat keraguan, atau pun ketidaksempurnaan sebagai manusia secara hakikat (bukan fisik). Karena, tatkala berserah kepada-Nya, kepada setiap kehendak-Nya, maka menerima juga Muhammad sebagai utusan-Nya.
*recite : membaca, mendeklamasikan, mengaji
http://duniachenchen.blogspot.com/

Muhammad bin Abdullah (1)

Sang Tatagatha Teragung
(Bagian 1: Masa Kanak-kanak hingga Pernikahan)
Meminjam istilah yang diucapkan oleh Siddharta Gautama:
Ia yang telah datang
Ia yang telah pergi
Ia yang telah mencapai Kebenaran
Ia yang telah mencapai Pencerahan Tertinggi
Ia yang berkata benar, bertindak benar, berpikir benar
Ia yang berada di Arahat (maqam) tertinggi
Ia yang telah mengajarkan bagaimana umat
Manusia dapat mencapai Kebenaran dan
Melepaskan diri mereka dari Samsara (siksa dunia dan akhirat)
Maka Sang Tatagatha Teragung bagi umat Islam
Itulah Muhammad bin Abdullah
Menjelang ke-6 M, bani Ismail telah menjadi suatu bangsa yang besar di Jazirah Arab sebagaimana janji Tuhan (Kitab Kejadian 17). Walaupun demikian, dapat dipastikan pada masa itu setelah lama jarak jauhnya dari masa hidup Ismail as yang menjalankan ajaran Tauhid dan liturgi sebagaimana Ibrahim, bangsa Arab banyak yang telah meninggalkan ajaran tauhid nenek moyangnya (kepaten obor) dan beralih mengamalkan paganisme. Hanya sedikit sahaja dari mereka yang masih mengamalkan ajaran Tauhid dan berada di Jalan Tauhid sebagaimana Ismail as.
Di antara suku-suku dalam bani Ismail adalah bani Kinanah, yang merupakan keturunan dari nabi Ilyas (Elijah) as. Dan, di antara bani Kinanah adalah bani Quraisy yang hidup di Makkah. Dan, di antara bani Quraisy adalah bani Hasyim. Bani Hasyim merupakan salah satu suku terhormat di antara suku-suku yang ada karena Qushai bin Kilab adalah nenek-moyang mereka yang bertugas menjadi penjaga Ka’bah. Tugas menjaga bait Allah yang diemban oleh bani Hasyim ini serupa dengan tugas yang diemban oleh bani Lewi dari bani Israil dari bani Ishak.
Di Makkah, Hasyim dikenal sebagai orang yang mulia, bijaksana, dan terhormat. Ia banyak membantu mereka, memulai perniagaan pada musim dingin dan musim panas supaya mereka mendapatkan penghidupan yang layak. Atas jasa-jasanya, warga kota memberinya julukan “sayyid” (tuan). Julukan ini secara turun-temurun disandang oleh anak keturunan Hasyim. Setelah Hasyim, kepemimpinan bangsa Quraisy dipercayakan kepada anaknya yang bernama Muthalib, kemudian dilanjutkan oleh Abdul Muthalib.
Abdul Muthalib adalah seorang yang berwibawa. Pada masa jabatannya, Abrahah Al-Habasyi menyerbu Makkah untuk menghancurkan Ka’bah, namun berkat pertolongan Allah SWT, Abrahah dan pasukan gajahnya mengalami kekalahan. Tahun penyerbuan itu kemudian dikenal dengan nama Tahun Gajah (Al-Feel). Sejak peristiwa itu, nama Abdul Muthalib pun semakin terpandang di kalangan kabilah Arab. Abdul Muthalib mempunyai beberapa anak. Di antara mereka, Abdullah-lah anak yang paling saleh dan paling dicintainya.
Abdullah merupakan seorang penjaga Bait Allah di Mekkah, Ka’bah. Pada usia 24 tahun, Abdullah menikah dengan perempuan mulia bernama Aminah binti Wahab melalui perjodohan oleh ayahnya. Aminah adalah perempuan dari bani Zuhrah. Zuhrah adalah kakak dari Qushai bin Kilab. Umurnya pada saat menikah dengan Abdullah adalah 17 tahun. Dalam riwayat-riwayat sejarah, Abdullah digambarkan sebagai pemuda yang wajahnya bercahaya, yang menunjukkan bahwa dirinya kelak akan memiliki keturunan seorang teramat mulia sebagaimana telah dijanjikan oleh Tuhan (lihat Kitab Kejadian 17: 20).
Tidak lama setelah pernikahan mereka, maka Aminah pun mengandung. Sementara itu, Abdullah mendapat tugas pergi ke Syam (Suriah). Namun, dalam perjalanan pulang, Abdullah meninggal dunia.
Pada tahun 570 M, sekitar tanggal 12-17 Rabiulawal (seperti hari lahir di masa lalu sejarawan berbeda pendapat mengenai tanggal pastinya), Aminah melahirkan seorang putra yang diberi nama “Muhammad”. “Muhammad” berasal dari akar kata kerja “Hamada” (Arab) atau “Hamda” (Ibrani), artinya adalah ”untuk memuji, untuk memuliakan” (lihat Mazmur 106: 24 – dalam Alkitab berbahasa Ibrani).
Sebagaimana kisah kelahiran para nabi besar lainnya, kelahiran Muhammad bin Abdullah juga dalam riwayat-riwayat disertai dengan hal-hal yang luarbiasa. Alam semesta juga memberikan sambutan meriah akan lahirnya Muhammad. Pada hari itu, dikabarkan bahwa berhala-berhala berjatuhan; “kasra verandah” yaitu suatu bagian dalam Istana Raja Persia berguncang dan empatbelas dari takiknya rusak; Danau Saweh tempat orang memuja dewa selama bertahun-tahun mengering; air menggenang mengalir di Gurun Samaweh setelah bertahun-tahun tiada air; api di Kuil Persia padam setelah bertahun-tahun berkobar; pada malam lahirnya, semacam cahaya (atau barangkali bintang berekor) muncul dari Hijaz dan menyebar ke Timur.
Pada saat bayi, sesuai tradisi masyarakat (bangsawan) di kota Mekkah, Muhammad dikirim kepada seorang ibu susu di daerah pedesaan untuk ditempa sebagai bocah Arab yang mahir berbahasa Arab, mengenal kehidupan gurun, dan mengenal arti kebebasan. Ibu susu yang terpilih bagi Muhammad adalah wanita dari bani Sa’ad bernama Halimah binti Abu Dhuaib. Bani Sa’ad merupakan salah satu baduy dari bani Qais yang hidup di pedesaan yang hawanya bersih dan cocok untuk pertumbuhan seorang balita. Menurut riwayat, keluarga Halimah binti Abu Dhuaib memperoleh banyak berkah berkat menjadikan Muhammad anak susuannya. Seperti berkah ternak yang subur, yang menyebabkan mereka dilimpahi kesejahteraan.
Pada waktu berumur lima tahun, Muhammad kembali hidup bersama ibunya. Ketika berumur enam tahun, Aminah membawa Muhammad untuk mengunjungi kaum kerabatnya di Madinah dan juga dalam rangka untuk berziarah ke makam suaminya. Namun, dalam perjalanan kembali ke Mekkah, Aminah wafat di suatu tempat bernama Abwa. Maka, pada umur enam tahun genaplah sudah Muhammad menjadi seorang yatim piatu.
Sejak kanak-kanak, Muhammad telah menunjukkan sikap yang mulia. Maka, di samping juga karena peristiwa-peristiwa menakjubkan semasa lahirnya, Abdul Muthalib kakeknya memberikan perhatian khusus kepadanya. Beliau-lah yang mengasuh Muhammad sepeninggal ibunya. Karakter istimewa beliau ditegaskan oleh pamannya, Abu Thalib, yang menyatakan bahwa Muhammad semasa kecil tidak pernah berbuat nakal, berbohong, berbicara kasar dan seenaknya, tertawa berlebihan bahkan dia sepanjang waktu lebih banyak menyendiri (tapa ngrame).
Sesungguhnya, sebagian umat Yahudi yang mendalami Alkitab pada masa itu telah mengetahui kenabian Muhammad. Diriwayatkan, pada waktu Muhammad berumur tujuh tahun, mereka mengatakan “Dalam kitab-kitab suci kita, dinyatakan bahwa seorang Nabi tidak diperkenankan makan dari sebarang makanan yang secara agama diharamkan atau pun diragukan kehalalannya. Sekarang, mari kita mengujinya.”
Maka, mereka mencuri seekor ayam betina dan mengirimnya kepada keluarga Abu Thalib. Dan, keluarga Abu Thalib mengajak Muhammad makan bersama mereka. Mereka semua menikmati ayam pemberian orang-orang Yahudi itu, kecuali Muhammad. Tatkala ditanyakan mengapa Muhammad tidak mau makan, bahkan mencicipinya pun tidak mau, beliau menjawab bahwa Allah telah melarangnya makan ayam tersebut dan Allah melindunginya dari segala sesuatu yang dilarang Allah untuknya. Mendengar jawaban Muhammad tersebut, orang-orang Yahudi itu lantas berkata bahwa Muhammad adalah seorang berkarakter sangat istimewa dan kelak akan menduduki posisi sangat istimewa pula.
Pada waktu umur Muhammad delapan tahun, Abdul Muthalib wafat dan perwalian Muhammad diserahkan kepada Abu Thalib, saudara kandung seayah dan seibu Abdullah, ayah Muhammad. Beliau adalah seorang bani Hasyim yang dihormati. Bersama istrinya, Fatimah binti Asad, Abu Thalib merawat dan mengasuh Muhammad dengan baik. Hubungan Muhammad dengan pamannya Abu Thalib seperti hubungan dengan ayahnya sendiri, juga sahabatnya sendiri. Hubungan mereka teramat dekat sehingga Abu Thalib senantiasa enggan berpisah dari Muhammad. Fatimah binti Asad mengungkapkan berkah yang dibawa Muhammad ke dalam rumah tangganya, diantaranya adalah pohon-pohon yang tadi kering kerontang di halaman rumah mereka, sejak Muhammad menjadi anak mereka pohon-pohon telah subur berbuah kembali.
Diriwayatkan pula bahwa Muhammad selalu berdoa dan sembahyang sepanjang malam (sebagaimana yang dilakukan kaum Hanif di kalangan Bani Ismail). Bahkan, kendati sudah tak lazim lagi pada masa itu di kalangan orang Arab (Bani Ismail) untuk berdoa sebelum serta setelah makan dan minum, Muhammad melakukannya setiap makan dan minum.


Convent of Bahira Monastery
Alkisah, suatu ketika saat melakukan perjalanan bisnis ke Damaskus, Suriah, Abu Thalib membawa serta Muhammad yang pada waktu itu berumur 12 tahun dalam rombongan serta karavan mereka yang besar. Tatkala mencapai kota Busrah, di daerah sekitar suatu biara Kristen, mereka membangun tenda untuk beristirahat.
Bahira, salah seorang biarawan Kristen yang taat, menyadari pemandangan tenda-tenda itu dari balik jendela biaranya. Dia memandangi dengan heran gulungan awan besar memayungi rombongan tenda dan karavan itu. Lalu, ia pun memanggil salah satu dari pembantunya, ”Pergilah, beritahu mereka bahwa mereka semua adalah tamuku.”
Maka, rombongan itu pun datang kepadanya, kecuali Muhammad. Melihat gulungan awan telah menghilang dari rombongan itu, Bahira bertanya kepada para tamunya, ”Apakah semua anggota rombongan kalian sudah hadir di sini?”
Tamunya menjawab bahwa semua sudah hadir kecuali seorang anak muda di antara mereka. Maka, Bahira meminta supaya anak muda itu juga ikut serta bersama mereka. Kemudian Muhammad pun ikut ke dalam ruangan bersama Bahira. Pada saat Muhammad menuju dirinya, Bahira memerhatikan bahwa gulungan awan seakan-akan terus bergerak menaungi Muhammad dan sekarang berada juga di atas kepalanya. Bahira merasa takjub, sehingga tak henti-hentinya menatap Muhammad.
Maka Bahira pu n menjamu mereka. Setelah usai makan, biarawan taat itu berkata kepadanya, ”Aku punya pertanyaan untukmu, dan engkau mesti menjawab dengan bersumpah atas nama Lat dan Uzza untuk menjawabku.”
Muhammad saw menjawab, ”Dua nama yang engkau sebut untuk kubersumpah atas namanya adalah yang paling menjijikkan bagiku.” Maka, Bahira berkata, ”Bersumpahlah demi Allah untuk menjawabku.”
Muhammad saw menjawab, ”Aku selalu berkata kebenaran, dan aku tidak pernah berdusta; tanyakanlah apa yang hendak ditanyakan.”
Bahira bertanya, ”Apa yang paling kau sukai?”
Muhammad menjawab, ”Kesendirian.”
Bahira bertanya, ”Apa yang paling sering kau amati dan paling suka kau amati?”
Muhammad saw menjawab, ”Langit dan bintang-bntang padanya.”
Bahira bertanya, ”Apa yang kamu pikirkan tentangnya?”
Muhammad saw diam, tetapi Bahira secara hati-hati memandang sekilas dahinya.
Bahira bertanya, ”Kalau begitu, kapan kamu tidur dan dengan pikiran apa?”
Muhammad saw menjawab, ”Tatkala mataku tertuju ke langit, aku melihat bintang-bintang dan aku menemukan mereka dalam pangkuanku, dan diriku sendiri di atas mereka.”
Bahira bertanya, ”Apakah kamu melihat dalam mimpi juga?”
Muhammad saw menjawab, “Apapun yang kulihat dalam mimpi, itulah yang sama kulihat saat aku bangun.”
Bahira bertanya, ”Apa sajakah yang kau mimpikan, sebagai contoh?”
Muhammad saw terdiam, begitu pun Bahira.
Setelah senyap sejenak, Bahira bertanya lagi, “Bolehkah kulihat bagian tengah (pusat) pada kedua bahumu?
“Marilah tengok,” jawab Muhammad saw sambil berdiri. Kemudian, berdirilah Bahira, mendekat kepada Muhammad dan mengangkat pakaian Muhammad yang menunjukkan kedua bahunya. Suatu tanda tahi lalat tampak. Bahira memandanginya, dan kemudian berkata dengan menggumam, “Inilah orangnya.”
Bahira membungkuk di depannya, mulai menciumi tangan dan kakinya seraya berkata, “Jikalau aku masih hidup sampai engkau memulai tugas keIllahianmu, aku akan sangat setia menolong engkau dan melawan musuh engkau. Engkau adalah yang terbaik di antara semua keturunan Adam.”
Kemudian, Bahira bertanya, “Putera siapakah pemuda ini?” Para anggota rombongan kafilah menjawab dengan menunjuk kepada Abu Thalib. “Putranya.” Bahira berkata, “Tidak. Ayahnya pastilah sudah wafat!”
Abu Thalib berkata, “Engkau benar. Dia adalah keponakanku.” Bahira kemudian berkata, ”Tuan, pemuda ini kelak akan memiliki masa depan cemerlang dan sama sekali luarbiasa. Jikalau kaum Yahudi mengetahui bahwa aku menyadari siapa dirinya, maka mereka akan berupaya untuk menghancurkannya. Jagalah dia baik-baik, jangan sampai kaum Yahudi menyakitinya.”
Abu Thalib berkata, ”Dia ditakdirkan untuk apa? Apa yang akan dilakukan kaum Yahudi kepadanya?”
Bahira menjawab, ”Dia ditakdirkan untuk menjadi seorang Mulia, dan para malaikat pengilham akan selalu turun kepadanya dan kemudian akan mengirimkan wahyu-wahyu Illahi kepadanya.” (Lihat Kidung Agung 5:16 dalam bahasa Ibrani ~ Mahammad ~ lihat link youtube di bawah)
Maka, Abu Thalib menjawab dengan tenang, ”Jika begitu, maka Allah tidak akan membiarkannya sendirian dan Dia sendirilah yang akan melindungi Muhammad dari kaum Yahudi dan musuh-musuh kejam lainnya.”
Hatta, kendati Abu Thalib merupakan pemuka Quraish, tetapi dia bukan orang yang kaya raya. Oleh karena Muhammad telah mulai beranjak dewasa, maka ia pun haruslah mulai bekerja untuk menolong ekonomi keluarga.
Pekerjaan mula-mula yang dijalankan oleh Muhammad adalah sebagai penggembala. Tampaknya ini adalah suatu pekerjaan yang dilakoni hampir semua nabi besar dalam sejarah. Ada makna mendalam dalam tugas penggembalaan. Demikianlah Muhammad menjadi penggembala ternak kerabatnya dan upahnya diberikan kepada pamannya, Abu Thalib. Sebagai penggembala, Muhammad muda mempelajari banyak hal berharga guna tugas kenabian dan kepemimpinannya kelak, seperti kesabaran, toleransi, kejujuran, dan kesederhanaan. Musim demi musim berganti, tahun demi tahun berlalu, arakian kini Muhammad menjadi seorang pemuda yang cemerlang karena karakternya. Beliau pun digelari al-Sadiq (Yang Benar) dan al-Amin (Yang dapat dipercaya) oleh masyarakat di Mekkah.
Arakian, pada masa itu Khadijah binti Khuwailid merupakan seorang gadis kaya raya yang mewarisi bisnis ayahnya, Khuwailid bin Asad, saudagar kaya dari bani Hasyim. Khadijah juga kemudian menjadi pengusaha muda yang sukses seperti ayahnya. Beliau dikenal sebagai Putri Quraish, seorang perempuan dari kalangan Hanif, dermawan, dan mempunyai posisi yang tidak lazim bagi seorang wanita Arab muda pada zaman itu, yaitu dihormati dan disegani.
Khadijah mendengar perihal karakter Muhammad, dan melalui pembantunya, Khadijah merekrut Muhammad untuk menolongnya menjadi wakil dagangnya ke luar negeri. Muhammad pun melakukan beberapa kali perjalanan ke luar negeri sebagai utusan perusahaan Khadijah.
Alkisah, suatu saat Muhammad melakukan perjalanan ke Damaskus. Pada waktu itu umurnya kira-kira 23 tahun. Khadijah telah meminta pembantunya Maysara agar melayani Muhammad dengan baik. Dalam perjalanan ini, Muhammad lagi-lagi berjumpa dengan seorang pendeta Nasrani, yang memberitahukan akan nubuat tentang dirinya dan bagaimana kelak ia akan menikah serta keluarganya.
Sepulang dari Damaskus, Maysara pun menceritakan kepada puannya secara detail mengenai kesuksesan perjalanan bisnis mereka, termasuk tentang karakter Muhammad saw yang mengagumkan sepanjang perjalanan. Juga diceritakan tentang nubuat dari seorang Yahudi yang terpelajar mengenai karakter Illahiyahnya dan perkawinananya dengan seorang wanita terhormat di kalangan bani Quraish. Mendengar cerita Maysara, Khadijah merasa sangat berbunga-bunga. Sejak semula mendengar cerita tentang Muhammad, hatinya telah terpaut dan tertawan kepada Muhammad.
Ada yang mengatakan bahwa Khadijah bukan hanya dari kalangan bani Ismail yang Hanif, melainkan juga seorang penganut Nasrani. Tetapi jika yang dimaksud adalah kalangan Nasrani yang mengikuti segala ajaran Yesus as di Jalan Tauhid, itu merupakan hal yang tidak mustahil, juga bukan berarti Nasrani atau Kristen dalam pengertian saat ini.
Pada abad ke 6 M, suasana Kristenitas masih tergolong sebagai Masa Kristen Purba, atau Gereja-gereja Perdana, yang terdapat banyak sekali sekte-sekte atau kelompok-kelompok Nasrani yang berbeda satu sama lain secara signifikan seperti dogma Trinitas dalam Kristianitas. Lagipula Konsili Nikea I (320 M) yang berusaha mempersatukan umat Kristen dalam satu dogma dan kredo hanya dihadiri oleh 220 dari sekitar 1800 uskup atau biara yang diundang.
Pemikiran ini, tentang spiritual Khadijah, muncul berdasarkan riwayat bahwa Khadijah biasa berkonsultasi dengan pamannya, Waraqa bin Nawfal, seorag pendeta. Suatu ketika Waraqa mengatakan adanya nubuat tentang nabi akhir, dan tentang nubuat berita baik akan pernikahan nabi tersebut dengan Khadija. Hal ini menambah hatinya berseri-seri. Namun, untuk mengajukan lamaran kepadanya juga tentu dapat langsung dilakukan.
Melalui sahabatnya Nafisa, Khadijah mencurahkan isi hatinya. Dan singkat cerita, Nafisa kemudian menjadi ”perantara” di antara Khadijah dengan Muhammad. Muhammad sendiri pada mulanya menganggap mustahil dapat menikah dengan gadis sekaya Khadijah yang telah menolak banyak lamaran kaum aristokrat dan konglomerat Arabia pada masa itu. Namun, Nafisa berjanji untuk mengaturnya. Sementara itu, Muhammad berurun rembug dengan paman-pamannya tentang pernikahan ini. Mereka gembira mendengar berita baik ini dan merestuinya.
Demikianlah, akhirnya Muhammad bin Abdullah menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang gadis berumur 25 tahun (walau terdapat versi sejarah lain). Mereka mengarungi bahtera rumah tangga selama 25 tahun sebagai keluarga sakinah mawaddah warahmah. Menurut banyak peneliti terkini, pasangan mulia ini hanya dikaruniai seorang putri yaitu Fatimah Az-Zahra.
Pada masa itu pula, Muhammad, bersama pamannya yang lain seperti Hamzah (paman Muhammad yang lain) menolong pamannya Abu Thalib yang berada dalam kesulitan ekonomi dengan mengasuh salah satu putra Abu Thalib. Hamzah memilih salah satu putra Abu Thalib. Kemudian Muhammad mengambil Ali, lalu berkaata, ”Aku memilih putra yang dipilih oleh Allah untukku.”
Khadijah (pbuh) merupakan wanita pertama yang beriman terhadap Wahyu Illahi yang diturunkan kepada Muhammad. Sedangkan Ali bin Abi Thalib, karena tinggal di rumahnya, juga menjadi laki-laki pertama yang menerima Wahyu Illahi tersebut. Barulah kemudian diikuti oleh beberapa kalangan bani Ismail yang Hanif.
Selama hidupnya Khadijah merelakan seluruh jiwa dan raganya serta harta bendanya untuk mendukung Muhammad. Beliau wafat pada tahun 619 M sekitar sepuluh tahun setelah Wahyu Illahi yang pertama.
http://duniachenchen.blogspot.com/

Ya, Allah, jangan jadikan ku seperti Samiri dan pengikutnya…

Posted on August 7, 2011 | Leave a comment
JALAN YANG KUTEMPUH INI: YA ALLAH, JANGAN jadikan aku seperti SAMIRI DAN PENGIKUT SAMIRI!
~ Amin yra. Chen Chen, hamba-MU yang fakir ~
Jalan yang kutempuh ini, di atas Jembatan, bernama dunia. Nabi Isa as pernah bersabda jangan membangun sesuatu apa pun di atasnya, sebab kita hanyalah berjalan melewatinya, tugas kita adalah menjalani kehendak-Nya dan menjadi hamba-hamba-Nya bukan membangun suatu apapun di atasnya.
Sejak zaman nabi Musa as, Tuhan telah menetapkan sebuah “Criterion” atau “al-Furqan” atau panduan dasar bagi pembeda antara yang benar dan yang salah yang tidak akan lekang oleh zaman dan belum ada suatu dalil pun yang menegaskan bahwa ketetapan pertama ini telah dicabut pada wahyu-wahyu berikutnya melainkan Allah terus-menerus memperingatkan atau memfirmankan demi mengingatkan manusia kembali akan “Criterion” ini. (Lihat alBaqara:51-53, Ali Imran: 2-3, Araf: 144-145, al-Anbiya: 48-50, al-Furqan: 1)* Ini artinya suatu konsistensi Wahyu Illahi yang terwahyukan dan terekam dalam jejak peradaban manusia.
1. Tuhan Maha Esa.
2. Jangan menyekutukan Tuhan.
3. Jangan sembarangan menyembah atau menyebut nama Tuhan.
4. Mengingat hari ke-tujuh (Sabat/Sabtu) (Meliburkan para pekerja, berlibur kerja dari 6 hari kerja dan banyak beribadah pada hari libur ini)
5. Menghormati orangtua
6. Jangan membunuh
7. Jangan berzina
8. Jangan mencuri
9. Jangan berdusta/memfitnah
10. Jangan menginginkan hak dan kepunyaan orang lain
Kisah Samiri yang tertuang baik dalam Taurat maupun al-Qur’an memberikan hikmah luarbiasa bagaimana bani Israil yang diberikan begitu banyak cobaan dan Tuhan selalu mengabulkan doa serta permohonan mereka supaya dibantu dan diberkati. Tetapi apa yang terjadi? Begitu Allah menetapkan bahwa Musa mesti pergi ke Gunung Sinai dan sebagai pengganti kepemimpinannya atau keimamannya adalah nabi Harun as, sebagian kelompok dalam umat nabi Musa as menganggap keputusan tersebut berbau nepotisme karena putra dari bani mereka tidak mendapat kedudukan yang pantas. Maka, diprovokasi dan dipimpin oleh Samiri yang disebut Musa as sebagai saudara (tapi sayang nya berkhianat), mereka mengacuhkan keimaman Harun as, membuat patung lembu yang bisa bersuara dan memujanya.
Sekarang mari kita lihat Qur’an surah Anfal (94-110) [lihat catatan kaki], bahwa apa yang terjadi pada zaman Musa as bukankah tidak mustahil tidak terjadi juga pada zaman Muhammad saw, karena Allah sendiri yang berfirman dan memperingatkan Rasulullah saw? Betapa banyak yang akan berpaling sepeninggal beliau, bahkan langsung saja terjadi ketika jenazah beliau belum dikafani. Astaghfirullahalaziim!
Tentu, menyekutukan Tuhan pada zaman umat Muhammad saw menjadi lebih canggih bukan lagi memuja berhala seperti lembu. Berhala yang bernama Kekuasaan dan Harta Benda. Menguasai sebanyak mungkin tanah, wilayah, bangsa-bangsa dan negara-negara. Belum lagi, dengan bangga justru mengklaim apa yang telah dibangunnya sebagai diberkati Allah swt (nauzubillahiminzalik!), berikutnya dengan bangga menganggap “membantai” musuh-musuhnya adalah jihad dan perbuatan mulia, memfitnah ke sana ke mari dan akhirnya merampas hak-hak orang lain (hak berbudaya dan bertradisi sesuai asal-muasal nenek-moyang mereka, bahkan hak menjalankan ibadah sesuai keyakinannya sebagaimana Allah telah menjaminnya dalam alQur’an).
Roh memang penurut (kuat), tetapi daging itu lemah (mudah kalah), sabda nabi Isa as dalam Injil. Betapa sering kita merasa kita telah menjadi seorang beriman, menganggap agama yang kita anut paling sempurna dan paling benar, mazhab yang kita taati paling sesuai salafus-sholeh atau kita merasa sudah mengikuti teladan ahlulbayt dengan baik. Lihat saja banyak orang berada di jalan mazhab cinta pun masih terperosok, menjadi zalim lebih zalim daripada laknatnya kepada kaum zalim pada saat Ashura, apalagi yang bebal seperti para pengikut Samiri yang sedang tren saat ini: betapa mereka diagung-agungkan sebagai yang paling saleh, seolah mereka bersih seperti malaikat. Astaghfirullah…Astaghfirullah…Astaghfirullah…Di kalangan bani Israil tidak sedikit yang alim mengaji Taurat dan Mazmur, tetapi sebagian mereka itu hatinya tetap keras membatu; di kalangan kaum Nasrani tidak sedikit yang alim mengaji Mazmur dan Injil, tetapi sebagian mereka itu hatinya tetap keras membatu, begitu pun mereka yang telah menerima kenabian Muhammad saw, tidak sedikit yang alim mengaji Qur’an tetapi sebagian dari mereka ini justru hati mereka begitu dingin, begitu keras, dan begitu bebal. Naudzubillahi min zaliik.
Di tangan siapakah gerangan ketetapan itu berasal, dari Tuhan sajakah atau juga dari manusia?
Jalan yang kutempuh ini, bukan berdiri atas suatu bangunan di atas jembatan sementara ini, itulah agama yang lurus: agama Ibrahim adalah agamaku, agama Musa adalah agamaku, agama Daud adalah agamaku, agama Yesus adalah agamaku, agama Muhammad adalah agamaku. Taurat, Zabur, Injil dan Qur’an bahkan kitab-kitab Hindu menyebutnya agama yang tunduk dan damai dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan YME: Islam bahasa singkatnya. Bukan sekedar Islam suatu omongkosong, suatu bangunan, suatu masjid, suatu organisasi, atau suatu mushaf alQur’an, suatu pakaian berjubah berniqab dan berpendek di atas mata kaki, suatu suara azan, suatu ritual di mesjid-mesjid, atau suatu apapun yang sekedar materi! Melainkan sepenuhnya suatu jalan meliputi materi, esensi, substansi, dan yang lebih penting adalah yang berada dalam kalbu: ketundukan itu sendiri. Betapa hatiku, jiwaku, rohku dapat menggebu-gebu saat mendengar firman-Mu dan ingin segera menaati lagi menjalankannya, tetapi hawa-nafsuku seringkali menguasaiku – kekuasaan, uang, melihat orang-orang secara umum dan secara mayoritas tidak berada dan tidak mendukung dan tidak bersamaku di Jalan ini (padahal Engkau seringkali menegaskan di Jalan ini hanya sedikit sekali orang yang mau mengikuti) . Betapa keegoisanku, dan keinginan tetap meng-aku-kan segala sesuatu dst itu akhirnya mengalahkan hatiku yang cenderung kepada-Mu dan segala ketetapan-Mu. Oh!
Ya, Allah jangan jadikan aku seperti Samiri, dan jangan jadikan aku seperti para pengikut Samiri, tatkala Muhammad saw telah tiada dari hadapan mataku bahkan aku belum pernah berjumpa dengannya, aku justru semena-mena kepada ketetapan-Mu yang disampaikan kepada sabda baginda saw.

Ya, Allah jadikanlah aku seperti pengikut nabi Nuh as yang tidak peduli cemoohan dan fitnahan mereka yang mengatakan ini tidak masuk akal, itu sesat, ini gila, itu bodoh, dsb sehingga pada saatnya bencana banjir itu tiba, aku telah berada dalam bahtera-Mu bersama mereka yang Engkau pilih : Duhai, sebab Engkau saja-lah penolongku dan melalui Engkau saja-lah kudapatkan pertolongan. Ridhoi dan bimbinglah aku masuk dan teguh memasuki bahtera-Mu.
Amiin ya rabbal alamiin
http://duniachenchen.blogspot.com/

Jalan 12 Imam



Kitab Suci Qur’an bermula dengan nama Allah
Maka menjelmalah firdaus di atas tanah tumpah darah.
Ia bukanlah hal baru untuk ditulis dan dikatakan,
Sebab nama Allah menjadi tempat berlindung mereka yang terpingggirkan
Dan yang terancam oleh yang kuat semenjak Allah menetapkan wewenang.
Terdapat duabelas sarana dan jalan dalam sang Kitab Kebajikan,
Alkitab, demi nama Allah yang mereka gunakan.
Jalan pertama ialah pengabdian keimaman yang dijalani
Untuk melayani segala sesuatu di bawah sinar matahari. (Ulangan 18:5,7; 21:5)*
Demikanlah sabda Ali ialah pelayanan keimaman
Di muka bumi dan selamanya dengan kesetiaan.
Jalan kedua betapa nama Allah muncul
Yaitu dalam kata-kata tanpa dusta dan rasa takut
Dalam nama Allah firman-Nya dalam nubuat. (Ulangan 18:22; Raja-raja 22:16; 1 Tawarikh 21:19; 2 Tawarikh 18:15; 33:18; Yeremia 11.21; 26:9,16,20; 44:16; Zakaria 13:3; Yakobus 5:10)
Maka warkah Hasan yaitu dialah yang berkata
Nubuat tersebut dengan nyaring dalam nyanyian dan genta.
JJalan ketiga akan datang dengan nama Gusti Pangeran,
Dan betapa ia akan dibicarakan hanya karena kemasyhuran
Untuk Daud karena penyelamatannya terhadap gugatan (1Samuel 17:45; Mazmur 118:26)
Dan terhada al-Masih yang tiada sedikitpun dengan kecacatan
Putra Daud memancar bagaikan sinaran. (Matius 21:9; 23:9; Markus 11:9,10; Lukas 13:35; 19:38; Yohanes 12:13)
Maka bait pertama dari Kitab Suci Qur’an
Menunjukkan ingatan akan Daud yang belum diputuskan
Dan mengenali al-Masih pada permulaan.
Warkah dari Hussain, oh Hussain-ku yang rupawan,
Menyingkap tibanya al-Masih dalam penderitaan
Dan di dataran sungai melakukan pengorbanan.
Jalan keempat adalah dengan nama Tuhan maka terpaut
Pada sumpah dalam kumpulan perjanjian Daud
Dan Yahya, tentang hukum cinta yang melepas taut (1 Samuel 20:42). (1 Samuel 20:42)
Maka ketaatan cinta dalam damai adalah jalan Ali
Yang juga menyanyi Mazmur-nya pada Tuhan dengan sepenuh hati.
Jalan kelima dengan nama Tuhan kutemukan
Dalam rahmat-Nya, yang juga serupa dengan
Raja Daud saat membuat yang lain meletakkan jabatan (1 Samuel 6:18; 1 Tawarikh 16:2; Mazmur 129:8)
Maka Muhammad alBaqir mengambil alih kewenangan jua
Untuk merahmati setiap orang dengan nama Allah saja
Jalan keenam dengan nama Tuhan tersingkapkan
Altar yang dibangun Ilyas untuk mendentangkan
Gemuruh dan hujan dengan nama Tuhan
Untuk mengairi dan menyegarkan tanah air nan kekeringan (1 Raja-raja 18:32)
Demikianlah kimiawi Ja’far As-Sodiq membangkitkan jua
Menyingkap hukum, memperbaharui demi umat manusia
Jalan ketujuh dengan nama Tuhan yaitu kutukan
Yang dibawa nabi Ilyasa (Elisha), tanpa bimbingan
Kepada empat puluh pemuda yang mencerca kepalanya
Dan menodai nama Tuhan sedemikian rupa. (2 Raja-raja 2:24)
Pesan Al-Kazim berjalan melampaui jurang
Pemberkatan Daud bagi kutukan nan malang.
Jalan kedelapan dari nama Tuhan bahkan begitu menghampiri:
Kehancuran bagi yang jahat yang menampilkan diri.
Semua bangsa akan binasa tunduk menuruti Daud tiada terperi,
Sebelum kedigdayaan puteranya serta yang disayangi
Dengan nama Tuhan, menimpa dengan bati dan geligi (Mazmur 118:10,11,12)
Maka Ali Ridho (Ali Reza) menghancurkan demikian rupa
Pakta Kekaisaran Abbasiyyah yang bergelimang dusta
Jalan kesembilan dengan nama Allah yakni pertolongan KeIllahian
Yang datang dengan kekuatan dari Yang Esa maka terciptakan
Baik Surga maupun Bumi dengan mengatur mereka dalam perarakan (Mazmur 124:8)
Maka Imam Taqi adalah dia yang tetap menopang
Dengan pertolongan Allah ketika jalan terbentang.
Jalan kesepuluh dengan nama Tuhan ialah dengan sederhana mengimani
Di dalamnya hati manusia pada debu berduli
Bagi mereka yang takut Tuhan, mematuhi perkataan
Hamba Tuhan yang dikirim untuk memberi suatu pilihan,
Yang membimbing melalui lembah kegelapan untuk kebahagiaan. (Yesaya 50:10)
Maka juga mereka yang menderita dan miskin dimenangkan
Dengan meyakini nama Tuhan di atas bukit maupun kaki pegunungan. (Zephaniah 3:12)
Maka Imam Naqi, tanpa ketamakan atau birahi,
Mengajarkan jiwa meletakkan dirinya dalam Tuhan untuk mengimani.
Jalan kesebelas dengan nama Tuhan ialah untuk terus berjalan
Apapun yang orang kafir perbuat serta katakan
Maka Tuhan akan selamanya menjadi Tuhan kita
Serta membimbing dengan cinta dan cahaya di bawah wewenang-Nya (Mikah 4:5)
Imam al-Askari ialah pedang Ali
Menetapkan jalan yang mesti ditempuh dan akhirnya memenangi.
Jalan kedua dengan nama Allah yaitu untuk menerima
Minyak yang mengurapi demi mereka
Yang menderita sakit saat tersadar mereka
Akan kesukaran di dunia juga dilimpahi harapan dan pencarian . (Yakobus 5:14)
Maka Imam Mahdi, baginda memimpin dan melindungi
Dengan rahasia bagi mereka nan murni yang bersembayang dan meratapi,
Ialah balsem yang mujarab baik siang malam hari
Sampai terbitnya cahaya pengadilan hakiki.
Duabelas kegiatan dijalani dengan nama Tuhan
Melalui keseleruhan Alkitab telah dinubuat kemasyhuran
Akan duabelas imam yang membangun dengan keteguhan
Firman Tuhan yang menentang kehancuran
Iman yang dibina demi menindas jiwa
Kuberdoa agar Tuhan membimbingku ke jalan yang taat setia
(Thomas McElwain, “The Beloved and I”, New Jubilees Version, Vol. 5)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ
Perjalananku mengenal 12 Imam adalah perjalanan paling berliku dalam kehidupan imanku. Pada waktu SMP aku telah mengenal dengan begitu akrab Ibunda Fatimah Az-Zahra. Tetapi, aku belum benar-benar mengerti sejarah terpenggalnya Imam Husein sehingga beliau mati syahid. Aku yakin Tuhan-lah yang telah mengatur dengan baik saat aku terpanggil oleh bisikan-Nya saat memilih menulis sejarah hidup Ibunda Fatimah Az-Zahra sebagai tugas akhir untuk mata pelajaran agama Islam.
Pada waktu duduk di bangku SMA aku telah tertarik oleh buku-buku karangan Syahid Murtadha Muthahari, yang dalam bahasa Arab – kurasa bukanlah suatu kebetulan – namanya dengan nama kakekku juga dari kata yang sama.
Pada waktu duduk di bangku kuliah S1, aku terpikat dengan Hari Asyura, dan bagiku tidak pernah ada pengalaman yang membuatku “kecanduan” seperti pengalaman ber-Asyura, yaitu mendengar maqtal dan kisah Imam Husein beserta keluarganya. Aku telah mengikuti berbagai macam jenis pengajian, liqa, lingkaran, dan sebagainya, baik NII, HTI, kalangan tarbiyah akhwat/ikhwan yang banyak kemudian aktif di PKS, manhaj salafi, kajian liberal, pengajian ala tradisional NU, dan terutama karena aku terlahir dan dibesarkan dalam keluarga Muhammadiyah, maka aku sampai hari ini juga merasa sangat nyaman dalam pengajian-pengajian di lingkungan Muhammadiyah.
Akan tetapi pengalaman berhari Asyura itu merupakan pengalaman yang sering saya rindukan. Sampai akhirnya saya melanjutkan kuliah s2 di institusi tempat kami dapat lebih mengenal dekat tentang Jalan 12 Imam.
Tuhan telah mengatur jodoh persahabatan saya dengan banyak saudara baru di kampus saya ini, terutama dengan seorang muryid dari suatu tarekat Sunni yang amat mencintai ahlulbayt, dan darinya saya akhirnya mengimani Jalan 12 Imam sebagai Jalan Tauhid sejati. Sayang sekali saya tidak dapat menyebut namanya di sini, kendati ingin, karena saya ingin sekali berterimakasih kepada-nya.
Bentuk-bentuk dari Jalan 12 Imam ada begitu banyak, dan saya mempelajari setiap dari bentuk yang terbentang, yang mana yang paling sesuai dengan panggilan hati saya. Seperti mursyid tersebut, yang mana ia memilih Jalan 12 Imam yang tak lazim. Hati saya bagaimana pun telah mantap pada Jalan 12 Imam dan tidak terombang-ambing antara mana yang paling benar dan atau yang mana yang salah – hanya percaya siapa saja yang mengikuti Jalan 12 Imam semuanya adalah saudara dalam iman, dan hanya merasa bahwa bentuk yang dipilih itu karena jodoh dan karakter yang berbeda-beda.
Dan di sinilah pencarian saya tidaklah berhenti sebab peta di Jalan 12 Imam memerlukan pemandu yang dapat mengerti kecenderungan bagi yang menempuh jalan-nya.
Walaupun demikian, Jalan 12 Imam adalah jalan yang saya telah dijodohkan ke dalamnya, dan blog ini akhirnya saya dedikasikan untuk memberikan gambaran tentang Jalan 12 Imam ini dalam berbagai rupa dan warnanya. Kebanyakan orang mungkin akan memberi hujjah atau bukti-bukti teologis dan sejarah tentang lurusnya Jalan 12 Imam ini. Tetapi, di sini biarlah semua perdebatan berakhir. Saya menempuh Jalan ini dengan kesadaran sendiri dan dengan kehendak Tuhan juga. Saya tidak pernah memilih untuk sampai di Jalan ini. Takdir dengan begitu saja menarik saya dengan kuatnya ke dalam Jalan ini di mana saya sama sekali tidak dapat menyangkal dan membantah, bahkan kendati begitu banyak pertanyaan di awal jalan muncul dan mengemuka. Tuhan selalu menjawab dengan kata-kata-Nya sendiri atau melalui perantaraan hamba-hamba-Nya.
Katanya, ada begitu banyak Jalan menuju Tuhan. Tidak, kata seorang mursyid. Tidak ada Jalan selain kepada Tuhan. Tetapi, tentunya Jalan mana-kah yang lebih lurus, indah, dan membahagiakan? Sebenarnya itu-lah Jalan saat saya membiarkan Tuhan yang memilihkan untuk saya, membiarkan Dia-lah yang menetapkannya bagi saya. Dan demikian-lah, saya ikhlas-kan Tuhan memilihkan Jalan 12 Imam ini untuk saya tempuh, di sini saya harus berjalan dengan segala onak dan durinya, kelokan dan batu kerikilnya, debu dan hujannya, airmata dan deritanya, bahagia dan rahasianya.
1. Imam Ali bin Abi Thalib (as) : [599-661 M] 2. Imam Hasan al-Mujtaba (as): [625-669 M] 3. Imam Husein asy-Syahid (as): [626-680 M] 4. Imam Ali Zainal Abidin (as): [658-713 M] 5. Imam Muhammad al-Baqir (as): [676-743 M] 6. Imam Ja’far as-Shadiq (as): [702-765 M] 7. Imam Musa al-Kazim (as): [746-799 M] 8. Imam Ali Ridho/Ali Reza (as) : [765-818 M] 9. Imam Muhammad al-Jawad at-Taqi (as): [811-835 M] 10. Imam Ali al-Hadi al-Naqi (as): [828-868 M] 11. Imam Hasan al-Askari (as): [846-874 M] 12. Imam Muhammad al-Mahdi (as): [868 M- sekarang] Hatiku baik dan terang dengan cinta Haydar Di samping Haydar, al-Hasan adalah Pemandu dan Pemimpin kami Debu di bawah sepatu al-Husain adalah pahit perih bagi mataku al-Abidin, Sang ornamen bagi semua pengikut bagaikan mahkota di atas kepalaku Baqir adalah cahaya kedua mataku Agama Ja’far adalah sejati dan jalan Musa adalah benar O, para pengikut setia: dengarlah aku memuja Raja dari segala Raja siapa yang terkubur di Khurasan, ar-Ridho sebiji partikel dari debu di makamnya adalah pengobat semua penderitaan Pemimpin bagi semua orang mukmin adalah al-Taqi, o kaum Muslim terkasih, Jika kau mencintai al-Naqi daripada orang-orang lain, kau telah melakukan hal yang patut dan benar al-Askari adalah cahaya mata bagi Adam dan seluruh dunia Di mana dapat dijumpai, di dunia ini, pemimpin yang memerintah sebagaimana al-Mahdi?* *Diterjemahkan dari: (http://www.bektashiorder.com/the-twelve-imams)
Ini-lah Jalan yang bercabang dua Sejak zaman Yesus; sejak zaman Muhammad Setelah itu, sejak zaman Ali pula Bercabang dan bercabang banyak Dari pangkal yang Satu ke ujung yang Satu Tetapi, Jalan manakah yang Lurus, Tiada gelap, begitu jauh dari yang Satu Sebab aku yang memutuskan, bukan AKU? Ini-lah Ali, kekasih-KU yang namanya Telah disebut Musa saat berseru kepada Firaun Domba KU-gembalakan dan rela berkorban Telah lenyap aku dan hilang sama sekali aku Ali adalah Singa Allah yang membawa pedang-KU Yang mengorbankan diri dengan pedang-KU Dan itu-lah Ali imam pertama-mu Ini-lah Hasan, kekasih-KU yang menyanggupi Segala perintah-KU walau hak dirampas Oleh para aku dan akhirnya diracun juga Dan itu-lah Hasan imam kedua-mu Ini-lah Husein, kekasih-KU, putera-KU, Yang KU-sebut namanya dalam Kitab Yeremia, Di Sungai Eufrat KU-terima pengorbanannya Karena telah hilang segala aku walau para aku Memburu dan hendak membantai, lihat-lah Imam ketiga-mu yang diarak kepalanya oleh Yazid beserta keluarga dan umatnya yang celaka Dan sekarang ratapan serta airmata-mu semoga Termasuk air yang membasuh dahaga para syahid Dan yang menangis dalam kezaliman Yazid terkutuk Itu-lah imam ke-empatmu yang syahid nan hidup abadi Ini-lah Ali Zainal Abidin yang selamat Sebab itu-lah kehendak-KU untuk membuktikan Janji-KU akan KU-genapi walau tak masuk akal bagi-mu Itu-lah imam ketiga-mu yang sabar dan suka bersujud Ini-lah Muhammad al-Baqir yang mulia Yang mempersiapkan Jalan dengan gemilang Itu-lah imam kelima-mu yang dermawan Ini-lah Ja’far as-Shadiq yang cerdas luarbiasa Yang mengajarkan rahasia kimia dan fisika Kepada mereka yang berdiam di laboratorium Dan yang mengajarkan cara Rasulullah Sembahyang dan berpuasa dan beribadah Itu-lah imam ke-enammu yang agung Ini-lah Musa al-Kazim yang rupawan Yang setia kepada kehendak-KU dan Siapa yang tidak akan terlihat jua Itu-lah imam ketujuh-mu yang dikhianati Dan ini-lah Imam Ali Reza Yang menjadi tonggak mekarnya Jalan kami Dari bumi Persia tersebarlah wanginya Jalan Tauhid nan Sejati yang ternubuat Di setiap Kitab Suci Itu-lah imam kedelapan-mu yang dimakamkan di Khurasan Ini-lah Imam al-Taqi sang penerus Jalan Tauhid sejati yang rela terkubur begitu muda Itu-lah imam kesembilan-mu yang setia di Jalan para nabi Maka, ini-lah Imam al-Naqi yang bijaksana Yang mengatur dengan sempurna apa yang Diperintahkan AKU bagi Kerajaan yang akan datang Itu-lah imam kesepuluh-mu yang layak diteladani Ini-lah Imam al-Ashkari yang menjadi laskar cinta Bagi AKU dan hanya untuk AKU dalam kehidupan Yang singkat, pengasingan, dan nyaris tiada harapan Yang KU-anugrahi bidadari dari firman-KU dalam Kitab Wahyu Puteri terbaik dari Putera-KU Ishak, kemenakan Tercantik dari Putera-KU Yesus Sebab dari rahim-nya akan KU-genapi janji-KU Dan itu-lah imam-mu yang kesebelas yang selalu bahagia Maka ini-lah Muhammad al-Mahdi Yang kautunggu-tunggu Yang kauberdoa selalu memanggil namanya Dengan nama-KU supaya kusegerakan ia kembali Ke duniamu yang carut marut nan kacau balau Telah KU-ghaibkan ia tiada lama sesudah lahir Sebab AKU menguji dan mencobaimu Apakah kamu akan memusnahkan setiap aku dalam dirimu Dan yakin sepenuh hati kepada-KU? Percayakah engkau kepada setiap Janji-KU Dari sejak Taurat, kemudian Zabur/Mazmur, kemudian Injil sampai ke Al-Quran? Itu-lah Imam al-Mahdi, imam ke-12 Sebut-lah namanya bilamana engkau percaya pada-KU Pada janji-KU Akan segala kebahagiaan abadi dalam Bahtera-KU Umat-KU Kerajaan-KU Ya Mahdi! Ya Mahdi! Asholatu wassalamu alaika Ya Hujjatullah Shohibazzamanil Imam Mahdi Al Muntadzar Ajjalahu Farojaka wa sahhal mahroja’ http://duniachenchen.blogspot.com/

Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...