Rabu, 04 Januari 2012

Ya, Allah, jangan jadikan ku seperti Samiri dan pengikutnya…

Posted on August 7, 2011 | Leave a comment
JALAN YANG KUTEMPUH INI: YA ALLAH, JANGAN jadikan aku seperti SAMIRI DAN PENGIKUT SAMIRI!
~ Amin yra. Chen Chen, hamba-MU yang fakir ~
Jalan yang kutempuh ini, di atas Jembatan, bernama dunia. Nabi Isa as pernah bersabda jangan membangun sesuatu apa pun di atasnya, sebab kita hanyalah berjalan melewatinya, tugas kita adalah menjalani kehendak-Nya dan menjadi hamba-hamba-Nya bukan membangun suatu apapun di atasnya.
Sejak zaman nabi Musa as, Tuhan telah menetapkan sebuah “Criterion” atau “al-Furqan” atau panduan dasar bagi pembeda antara yang benar dan yang salah yang tidak akan lekang oleh zaman dan belum ada suatu dalil pun yang menegaskan bahwa ketetapan pertama ini telah dicabut pada wahyu-wahyu berikutnya melainkan Allah terus-menerus memperingatkan atau memfirmankan demi mengingatkan manusia kembali akan “Criterion” ini. (Lihat alBaqara:51-53, Ali Imran: 2-3, Araf: 144-145, al-Anbiya: 48-50, al-Furqan: 1)* Ini artinya suatu konsistensi Wahyu Illahi yang terwahyukan dan terekam dalam jejak peradaban manusia.
1. Tuhan Maha Esa.
2. Jangan menyekutukan Tuhan.
3. Jangan sembarangan menyembah atau menyebut nama Tuhan.
4. Mengingat hari ke-tujuh (Sabat/Sabtu) (Meliburkan para pekerja, berlibur kerja dari 6 hari kerja dan banyak beribadah pada hari libur ini)
5. Menghormati orangtua
6. Jangan membunuh
7. Jangan berzina
8. Jangan mencuri
9. Jangan berdusta/memfitnah
10. Jangan menginginkan hak dan kepunyaan orang lain
Kisah Samiri yang tertuang baik dalam Taurat maupun al-Qur’an memberikan hikmah luarbiasa bagaimana bani Israil yang diberikan begitu banyak cobaan dan Tuhan selalu mengabulkan doa serta permohonan mereka supaya dibantu dan diberkati. Tetapi apa yang terjadi? Begitu Allah menetapkan bahwa Musa mesti pergi ke Gunung Sinai dan sebagai pengganti kepemimpinannya atau keimamannya adalah nabi Harun as, sebagian kelompok dalam umat nabi Musa as menganggap keputusan tersebut berbau nepotisme karena putra dari bani mereka tidak mendapat kedudukan yang pantas. Maka, diprovokasi dan dipimpin oleh Samiri yang disebut Musa as sebagai saudara (tapi sayang nya berkhianat), mereka mengacuhkan keimaman Harun as, membuat patung lembu yang bisa bersuara dan memujanya.
Sekarang mari kita lihat Qur’an surah Anfal (94-110) [lihat catatan kaki], bahwa apa yang terjadi pada zaman Musa as bukankah tidak mustahil tidak terjadi juga pada zaman Muhammad saw, karena Allah sendiri yang berfirman dan memperingatkan Rasulullah saw? Betapa banyak yang akan berpaling sepeninggal beliau, bahkan langsung saja terjadi ketika jenazah beliau belum dikafani. Astaghfirullahalaziim!
Tentu, menyekutukan Tuhan pada zaman umat Muhammad saw menjadi lebih canggih bukan lagi memuja berhala seperti lembu. Berhala yang bernama Kekuasaan dan Harta Benda. Menguasai sebanyak mungkin tanah, wilayah, bangsa-bangsa dan negara-negara. Belum lagi, dengan bangga justru mengklaim apa yang telah dibangunnya sebagai diberkati Allah swt (nauzubillahiminzalik!), berikutnya dengan bangga menganggap “membantai” musuh-musuhnya adalah jihad dan perbuatan mulia, memfitnah ke sana ke mari dan akhirnya merampas hak-hak orang lain (hak berbudaya dan bertradisi sesuai asal-muasal nenek-moyang mereka, bahkan hak menjalankan ibadah sesuai keyakinannya sebagaimana Allah telah menjaminnya dalam alQur’an).
Roh memang penurut (kuat), tetapi daging itu lemah (mudah kalah), sabda nabi Isa as dalam Injil. Betapa sering kita merasa kita telah menjadi seorang beriman, menganggap agama yang kita anut paling sempurna dan paling benar, mazhab yang kita taati paling sesuai salafus-sholeh atau kita merasa sudah mengikuti teladan ahlulbayt dengan baik. Lihat saja banyak orang berada di jalan mazhab cinta pun masih terperosok, menjadi zalim lebih zalim daripada laknatnya kepada kaum zalim pada saat Ashura, apalagi yang bebal seperti para pengikut Samiri yang sedang tren saat ini: betapa mereka diagung-agungkan sebagai yang paling saleh, seolah mereka bersih seperti malaikat. Astaghfirullah…Astaghfirullah…Astaghfirullah…Di kalangan bani Israil tidak sedikit yang alim mengaji Taurat dan Mazmur, tetapi sebagian mereka itu hatinya tetap keras membatu; di kalangan kaum Nasrani tidak sedikit yang alim mengaji Mazmur dan Injil, tetapi sebagian mereka itu hatinya tetap keras membatu, begitu pun mereka yang telah menerima kenabian Muhammad saw, tidak sedikit yang alim mengaji Qur’an tetapi sebagian dari mereka ini justru hati mereka begitu dingin, begitu keras, dan begitu bebal. Naudzubillahi min zaliik.
Di tangan siapakah gerangan ketetapan itu berasal, dari Tuhan sajakah atau juga dari manusia?
Jalan yang kutempuh ini, bukan berdiri atas suatu bangunan di atas jembatan sementara ini, itulah agama yang lurus: agama Ibrahim adalah agamaku, agama Musa adalah agamaku, agama Daud adalah agamaku, agama Yesus adalah agamaku, agama Muhammad adalah agamaku. Taurat, Zabur, Injil dan Qur’an bahkan kitab-kitab Hindu menyebutnya agama yang tunduk dan damai dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan YME: Islam bahasa singkatnya. Bukan sekedar Islam suatu omongkosong, suatu bangunan, suatu masjid, suatu organisasi, atau suatu mushaf alQur’an, suatu pakaian berjubah berniqab dan berpendek di atas mata kaki, suatu suara azan, suatu ritual di mesjid-mesjid, atau suatu apapun yang sekedar materi! Melainkan sepenuhnya suatu jalan meliputi materi, esensi, substansi, dan yang lebih penting adalah yang berada dalam kalbu: ketundukan itu sendiri. Betapa hatiku, jiwaku, rohku dapat menggebu-gebu saat mendengar firman-Mu dan ingin segera menaati lagi menjalankannya, tetapi hawa-nafsuku seringkali menguasaiku – kekuasaan, uang, melihat orang-orang secara umum dan secara mayoritas tidak berada dan tidak mendukung dan tidak bersamaku di Jalan ini (padahal Engkau seringkali menegaskan di Jalan ini hanya sedikit sekali orang yang mau mengikuti) . Betapa keegoisanku, dan keinginan tetap meng-aku-kan segala sesuatu dst itu akhirnya mengalahkan hatiku yang cenderung kepada-Mu dan segala ketetapan-Mu. Oh!
Ya, Allah jangan jadikan aku seperti Samiri, dan jangan jadikan aku seperti para pengikut Samiri, tatkala Muhammad saw telah tiada dari hadapan mataku bahkan aku belum pernah berjumpa dengannya, aku justru semena-mena kepada ketetapan-Mu yang disampaikan kepada sabda baginda saw.

Ya, Allah jadikanlah aku seperti pengikut nabi Nuh as yang tidak peduli cemoohan dan fitnahan mereka yang mengatakan ini tidak masuk akal, itu sesat, ini gila, itu bodoh, dsb sehingga pada saatnya bencana banjir itu tiba, aku telah berada dalam bahtera-Mu bersama mereka yang Engkau pilih : Duhai, sebab Engkau saja-lah penolongku dan melalui Engkau saja-lah kudapatkan pertolongan. Ridhoi dan bimbinglah aku masuk dan teguh memasuki bahtera-Mu.
Amiin ya rabbal alamiin
http://duniachenchen.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...