Rabu, 04 Januari 2012

Muhammad bin Abdullah (2)

Pada saat Muhammad saw berumur 40 tahun, pada 27 Rajab, 610 M, sebagaimana sering yang beliau lakukan yaitu berkontemplasi/bermeditasi/berzikir di Gua Hira, Malaikat Jibril muncul di hadapannya, ”Recite!”(*) Tentu saja Muhammad heran dan kaget, ”Apa yang mesti saya recite?”.
Dalam hal ini, maka sesungguhnya Muhammad saw saat menerima Wahyu Illahi yang pertama kali bukanlah seorang yang buta huruf. Bagaimana itu mungkin? Muhammad berasal dari keluarga bangsawan Quraish, walaupun tidak kaya, tetapi tentulah mendapat pendidikan yang secukupnya dari paman-pamannya. Juga dia kemudian menikah dengan seorang putri terkemuka Quraish, serta memimpin banyak perjalanan bisnis yang tentu saja tidak mungkin dapat dilakukan oleh seorang yang tidak berpendidikan.
Maka, di Gua Hira itu, pada malam itu, Muhammad bingung bukan karena beliau tidak bisa membaca, tapi beliau heran apa yang mesti dibaca/dideklamasikan atau apa yang mesti dingajikan? Tak ada kertas atau buku apapun diberikan kepadanya? Sedangkan Jibril terus memberikan wahyu dari-Nya, “Recite O Muhammad!”
Pada kali yang ketiga malaikat Jibril mengatakan, “Recite in the Name of Your Lord Who created. He created the human being from a clot. Recite and your Lord is Most Honourable, Who taught (to write) with the pen, taught the human being what he knew not.” (Q.S 96:1-5).
Dengan kalimat-kalimat inilah, Jibril mengumumkan bahwa Muhammad adalah Nabi, utusan Allah, secara resmi yang akan membawakan Risalah dan Nubuat untuk umat manusia – walaupun kenabian beliau telah secara de facto sejak beliau lahir hanya saja baru pada umur 40 tahun dikukuhkan dengan resmi/pelantikan. Wahyu pertama inilah yang ditanamkan dalam dada Muhammad melalui suara Jibril yang mengajarkan Muhammad cara mengajikannya (recite/cantillation).
Sejak turunnya Zabur (Mazmur) kepada Daud as, Tuhan telah mengajarkan cara terbaik mengaji atau menyenandungkan Ayat-ayat Tuhan dengan nada-nada tertentu yang berasal dari suara manusia sendiri. Juga adalah penting untuk mengajikan setiap ayat Tuhan baik yang ada dalam Taurat, Mazmur, Injil maupun AlQuran dalam bahasa asli ia diturunkan untuk benar-benar menemukan ikatan dan kesatuan di dalam kesemuanya sebaga Wahyu Illahi. Jika pembaca dan pendengar tidak mengerti bahasa aslinya, maka barulah terjemahan atau tafsirannya dibacakan kemudian, tanpa mereduksi pentingnya ayat-ayat tersebut dibacakan dalam bahasa aslinya.
Cerita-cerita tentang ciri-ciri kenabian Muhammad yang diketahui oleh orang Yahudi maupun pendeta Kristen, menunjukkan bahwa sesungguhnya kedatangan Muhammad sebagai Utusan Allah akhir zaman telah dikhabarkan dalam kitab-kitab sebelum turunnya AlQur’an secara resmi pada peristiwa di Gua Hira ini (seperti dalam Kidung Agung atau Nyanyian Sulaiman 5:16, Mazmur 106, dan Kitab Samuel). Maha Suci Tuhan yang tetap melindungi Kebenaran walaupun semua orang hendak menutupi-Nya.
Sebelum turunnya Wahyu Illahi yang pertama, Muhammad telah dikenal sebagai “al-Amin” yaitu Yang Dapat Dipercaya. Beliau pernah dengan sukses menyelesaikan peristiwa saat renovasi Ka’bah sehingga tidak terjadi perang saudara akibat perebutan bani siapa yang paling berhak meletakkan batu Hajar Aswad. Beliau juga selalu memberikan nasehat kepada orang-orang yang dating kepadanya. Beliau juga dikenal dermawan dan murah hati, kepada mereka yang sakit dan miskin. Hatinya selalu dilimpahi oleh kasih-sayang.
Hatta, setelah Wahyu Illahi yang pertama itu turun, Muhammad saw kembali ke rumah dalam suasana yang hati lebih cerah. Khadijah telah menunggunya karena Muhammad saw tidak kunjung pulang. Ketika ditanyakan kepada Muhammad saw mengapa wajahnya telah berubah menjadi sangat bercahaya, maka Muhammad pun menjawab apa yang baru saja dialaminya, semuanya persis seperti yang telah disampaikan oleh pendeta Bahira kepadanya. Khadijah juga teringat cerita pelayannya Maysara tentang nubuat yang disampaikan pendeta di Damaskus mengenai kenabian Muhammad. Tidak lama kemudian Khadijah pun menemui sepupunya Waraqah bin Naufal dan menceritakan hal itu.
Alkisah, pendeta itu pun berkata bahwa yang mendatangi Muhammad adalah malaikat Jibril yang mendatangi Musa as. Pendeta itu meyakinkan bahwa Muhammad-lah nabi bagi umat manusia yang sudah lama dinantikan.
Walaupun demikian, tugas kenabian Muhammad baru berlangsung secara terbuka setelah sekitar tiga tahun dilakukan secara rahasia. Bahkan di antara keluarga Muhammad saw sendiri banyak yang menentangnya, seperti Abu Lahab, salah satu pamannya. Pemuda dalam keluarganya yang selalu menolong dan mendukungnya adalah Ali bin Abu Thalib, sepupunya. Selain itu juga pamannya Abbas dan Hamzah. Sementara itu, demi melindungi dirinya dari serangan para pemuka Quraish yang tidak rela menerima kenyataan bahwa posisi kenabian yang dijanjikan Tuhan kepada salah satu putra bani Ismail jatuh kepada keturunan bani Hasyim – yaitu Muhammad saw – maka paman yang selama ini menjadi walinya, Abu Thalib bin Abdul Muthalib, menyembunyikan imannya (taqiyah/dissimulation) sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Ibrahim as di hadapan Raja Namrud.
Dari sinilah, dari sejak peristiwa di Gua Hira, yang jatuh pada bulan Ramadhan, ketika Allah mengukuhkan Muhammad sebagai Utusan-Nya, tugas-tugas kenabian dan kerasulan Muhammad pun dimulai. Tugas seorang Tatagatha yang teragung, yang membimbing umat manusia untuk mencapai Kebenaran. Dia-lah Muhammad saw sang Tataghata yang menjadi “Buddha” yaitu Yang Tercerahkan, sejak dari Gua Hira, untuk mencerahkan umat manusia. Dia-lah Muhammad saw yang mengingatkan kembali kepada umat manusia tentang Jalan Tauhid, Jalan Pencerahan, Jalan mencapai The True-Self, dan dia-lah Muhammad saw, yang berada di arahat, maqam, yang tertinggi, yang tak satupun darinya terdapat keraguan, atau pun ketidaksempurnaan sebagai manusia secara hakikat (bukan fisik). Karena, tatkala berserah kepada-Nya, kepada setiap kehendak-Nya, maka menerima juga Muhammad sebagai utusan-Nya.
*recite : membaca, mendeklamasikan, mengaji
http://duniachenchen.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...