Rabu, 04 Januari 2012

Muhammad bin Abdullah (2)

Pada saat Muhammad saw berumur 40 tahun, pada 27 Rajab, 610 M, sebagaimana sering yang beliau lakukan yaitu berkontemplasi/bermeditasi/berzikir di Gua Hira, Malaikat Jibril muncul di hadapannya, ”Recite!”(*) Tentu saja Muhammad heran dan kaget, ”Apa yang mesti saya recite?”.
Dalam hal ini, maka sesungguhnya Muhammad saw saat menerima Wahyu Illahi yang pertama kali bukanlah seorang yang buta huruf. Bagaimana itu mungkin? Muhammad berasal dari keluarga bangsawan Quraish, walaupun tidak kaya, tetapi tentulah mendapat pendidikan yang secukupnya dari paman-pamannya. Juga dia kemudian menikah dengan seorang putri terkemuka Quraish, serta memimpin banyak perjalanan bisnis yang tentu saja tidak mungkin dapat dilakukan oleh seorang yang tidak berpendidikan.
Maka, di Gua Hira itu, pada malam itu, Muhammad bingung bukan karena beliau tidak bisa membaca, tapi beliau heran apa yang mesti dibaca/dideklamasikan atau apa yang mesti dingajikan? Tak ada kertas atau buku apapun diberikan kepadanya? Sedangkan Jibril terus memberikan wahyu dari-Nya, “Recite O Muhammad!”
Pada kali yang ketiga malaikat Jibril mengatakan, “Recite in the Name of Your Lord Who created. He created the human being from a clot. Recite and your Lord is Most Honourable, Who taught (to write) with the pen, taught the human being what he knew not.” (Q.S 96:1-5).
Dengan kalimat-kalimat inilah, Jibril mengumumkan bahwa Muhammad adalah Nabi, utusan Allah, secara resmi yang akan membawakan Risalah dan Nubuat untuk umat manusia – walaupun kenabian beliau telah secara de facto sejak beliau lahir hanya saja baru pada umur 40 tahun dikukuhkan dengan resmi/pelantikan. Wahyu pertama inilah yang ditanamkan dalam dada Muhammad melalui suara Jibril yang mengajarkan Muhammad cara mengajikannya (recite/cantillation).
Sejak turunnya Zabur (Mazmur) kepada Daud as, Tuhan telah mengajarkan cara terbaik mengaji atau menyenandungkan Ayat-ayat Tuhan dengan nada-nada tertentu yang berasal dari suara manusia sendiri. Juga adalah penting untuk mengajikan setiap ayat Tuhan baik yang ada dalam Taurat, Mazmur, Injil maupun AlQuran dalam bahasa asli ia diturunkan untuk benar-benar menemukan ikatan dan kesatuan di dalam kesemuanya sebaga Wahyu Illahi. Jika pembaca dan pendengar tidak mengerti bahasa aslinya, maka barulah terjemahan atau tafsirannya dibacakan kemudian, tanpa mereduksi pentingnya ayat-ayat tersebut dibacakan dalam bahasa aslinya.
Cerita-cerita tentang ciri-ciri kenabian Muhammad yang diketahui oleh orang Yahudi maupun pendeta Kristen, menunjukkan bahwa sesungguhnya kedatangan Muhammad sebagai Utusan Allah akhir zaman telah dikhabarkan dalam kitab-kitab sebelum turunnya AlQur’an secara resmi pada peristiwa di Gua Hira ini (seperti dalam Kidung Agung atau Nyanyian Sulaiman 5:16, Mazmur 106, dan Kitab Samuel). Maha Suci Tuhan yang tetap melindungi Kebenaran walaupun semua orang hendak menutupi-Nya.
Sebelum turunnya Wahyu Illahi yang pertama, Muhammad telah dikenal sebagai “al-Amin” yaitu Yang Dapat Dipercaya. Beliau pernah dengan sukses menyelesaikan peristiwa saat renovasi Ka’bah sehingga tidak terjadi perang saudara akibat perebutan bani siapa yang paling berhak meletakkan batu Hajar Aswad. Beliau juga selalu memberikan nasehat kepada orang-orang yang dating kepadanya. Beliau juga dikenal dermawan dan murah hati, kepada mereka yang sakit dan miskin. Hatinya selalu dilimpahi oleh kasih-sayang.
Hatta, setelah Wahyu Illahi yang pertama itu turun, Muhammad saw kembali ke rumah dalam suasana yang hati lebih cerah. Khadijah telah menunggunya karena Muhammad saw tidak kunjung pulang. Ketika ditanyakan kepada Muhammad saw mengapa wajahnya telah berubah menjadi sangat bercahaya, maka Muhammad pun menjawab apa yang baru saja dialaminya, semuanya persis seperti yang telah disampaikan oleh pendeta Bahira kepadanya. Khadijah juga teringat cerita pelayannya Maysara tentang nubuat yang disampaikan pendeta di Damaskus mengenai kenabian Muhammad. Tidak lama kemudian Khadijah pun menemui sepupunya Waraqah bin Naufal dan menceritakan hal itu.
Alkisah, pendeta itu pun berkata bahwa yang mendatangi Muhammad adalah malaikat Jibril yang mendatangi Musa as. Pendeta itu meyakinkan bahwa Muhammad-lah nabi bagi umat manusia yang sudah lama dinantikan.
Walaupun demikian, tugas kenabian Muhammad baru berlangsung secara terbuka setelah sekitar tiga tahun dilakukan secara rahasia. Bahkan di antara keluarga Muhammad saw sendiri banyak yang menentangnya, seperti Abu Lahab, salah satu pamannya. Pemuda dalam keluarganya yang selalu menolong dan mendukungnya adalah Ali bin Abu Thalib, sepupunya. Selain itu juga pamannya Abbas dan Hamzah. Sementara itu, demi melindungi dirinya dari serangan para pemuka Quraish yang tidak rela menerima kenyataan bahwa posisi kenabian yang dijanjikan Tuhan kepada salah satu putra bani Ismail jatuh kepada keturunan bani Hasyim – yaitu Muhammad saw – maka paman yang selama ini menjadi walinya, Abu Thalib bin Abdul Muthalib, menyembunyikan imannya (taqiyah/dissimulation) sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Ibrahim as di hadapan Raja Namrud.
Dari sinilah, dari sejak peristiwa di Gua Hira, yang jatuh pada bulan Ramadhan, ketika Allah mengukuhkan Muhammad sebagai Utusan-Nya, tugas-tugas kenabian dan kerasulan Muhammad pun dimulai. Tugas seorang Tatagatha yang teragung, yang membimbing umat manusia untuk mencapai Kebenaran. Dia-lah Muhammad saw sang Tataghata yang menjadi “Buddha” yaitu Yang Tercerahkan, sejak dari Gua Hira, untuk mencerahkan umat manusia. Dia-lah Muhammad saw yang mengingatkan kembali kepada umat manusia tentang Jalan Tauhid, Jalan Pencerahan, Jalan mencapai The True-Self, dan dia-lah Muhammad saw, yang berada di arahat, maqam, yang tertinggi, yang tak satupun darinya terdapat keraguan, atau pun ketidaksempurnaan sebagai manusia secara hakikat (bukan fisik). Karena, tatkala berserah kepada-Nya, kepada setiap kehendak-Nya, maka menerima juga Muhammad sebagai utusan-Nya.
*recite : membaca, mendeklamasikan, mengaji
http://duniachenchen.blogspot.com/

Muhammad bin Abdullah (1)

Sang Tatagatha Teragung
(Bagian 1: Masa Kanak-kanak hingga Pernikahan)
Meminjam istilah yang diucapkan oleh Siddharta Gautama:
Ia yang telah datang
Ia yang telah pergi
Ia yang telah mencapai Kebenaran
Ia yang telah mencapai Pencerahan Tertinggi
Ia yang berkata benar, bertindak benar, berpikir benar
Ia yang berada di Arahat (maqam) tertinggi
Ia yang telah mengajarkan bagaimana umat
Manusia dapat mencapai Kebenaran dan
Melepaskan diri mereka dari Samsara (siksa dunia dan akhirat)
Maka Sang Tatagatha Teragung bagi umat Islam
Itulah Muhammad bin Abdullah
Menjelang ke-6 M, bani Ismail telah menjadi suatu bangsa yang besar di Jazirah Arab sebagaimana janji Tuhan (Kitab Kejadian 17). Walaupun demikian, dapat dipastikan pada masa itu setelah lama jarak jauhnya dari masa hidup Ismail as yang menjalankan ajaran Tauhid dan liturgi sebagaimana Ibrahim, bangsa Arab banyak yang telah meninggalkan ajaran tauhid nenek moyangnya (kepaten obor) dan beralih mengamalkan paganisme. Hanya sedikit sahaja dari mereka yang masih mengamalkan ajaran Tauhid dan berada di Jalan Tauhid sebagaimana Ismail as.
Di antara suku-suku dalam bani Ismail adalah bani Kinanah, yang merupakan keturunan dari nabi Ilyas (Elijah) as. Dan, di antara bani Kinanah adalah bani Quraisy yang hidup di Makkah. Dan, di antara bani Quraisy adalah bani Hasyim. Bani Hasyim merupakan salah satu suku terhormat di antara suku-suku yang ada karena Qushai bin Kilab adalah nenek-moyang mereka yang bertugas menjadi penjaga Ka’bah. Tugas menjaga bait Allah yang diemban oleh bani Hasyim ini serupa dengan tugas yang diemban oleh bani Lewi dari bani Israil dari bani Ishak.
Di Makkah, Hasyim dikenal sebagai orang yang mulia, bijaksana, dan terhormat. Ia banyak membantu mereka, memulai perniagaan pada musim dingin dan musim panas supaya mereka mendapatkan penghidupan yang layak. Atas jasa-jasanya, warga kota memberinya julukan “sayyid” (tuan). Julukan ini secara turun-temurun disandang oleh anak keturunan Hasyim. Setelah Hasyim, kepemimpinan bangsa Quraisy dipercayakan kepada anaknya yang bernama Muthalib, kemudian dilanjutkan oleh Abdul Muthalib.
Abdul Muthalib adalah seorang yang berwibawa. Pada masa jabatannya, Abrahah Al-Habasyi menyerbu Makkah untuk menghancurkan Ka’bah, namun berkat pertolongan Allah SWT, Abrahah dan pasukan gajahnya mengalami kekalahan. Tahun penyerbuan itu kemudian dikenal dengan nama Tahun Gajah (Al-Feel). Sejak peristiwa itu, nama Abdul Muthalib pun semakin terpandang di kalangan kabilah Arab. Abdul Muthalib mempunyai beberapa anak. Di antara mereka, Abdullah-lah anak yang paling saleh dan paling dicintainya.
Abdullah merupakan seorang penjaga Bait Allah di Mekkah, Ka’bah. Pada usia 24 tahun, Abdullah menikah dengan perempuan mulia bernama Aminah binti Wahab melalui perjodohan oleh ayahnya. Aminah adalah perempuan dari bani Zuhrah. Zuhrah adalah kakak dari Qushai bin Kilab. Umurnya pada saat menikah dengan Abdullah adalah 17 tahun. Dalam riwayat-riwayat sejarah, Abdullah digambarkan sebagai pemuda yang wajahnya bercahaya, yang menunjukkan bahwa dirinya kelak akan memiliki keturunan seorang teramat mulia sebagaimana telah dijanjikan oleh Tuhan (lihat Kitab Kejadian 17: 20).
Tidak lama setelah pernikahan mereka, maka Aminah pun mengandung. Sementara itu, Abdullah mendapat tugas pergi ke Syam (Suriah). Namun, dalam perjalanan pulang, Abdullah meninggal dunia.
Pada tahun 570 M, sekitar tanggal 12-17 Rabiulawal (seperti hari lahir di masa lalu sejarawan berbeda pendapat mengenai tanggal pastinya), Aminah melahirkan seorang putra yang diberi nama “Muhammad”. “Muhammad” berasal dari akar kata kerja “Hamada” (Arab) atau “Hamda” (Ibrani), artinya adalah ”untuk memuji, untuk memuliakan” (lihat Mazmur 106: 24 – dalam Alkitab berbahasa Ibrani).
Sebagaimana kisah kelahiran para nabi besar lainnya, kelahiran Muhammad bin Abdullah juga dalam riwayat-riwayat disertai dengan hal-hal yang luarbiasa. Alam semesta juga memberikan sambutan meriah akan lahirnya Muhammad. Pada hari itu, dikabarkan bahwa berhala-berhala berjatuhan; “kasra verandah” yaitu suatu bagian dalam Istana Raja Persia berguncang dan empatbelas dari takiknya rusak; Danau Saweh tempat orang memuja dewa selama bertahun-tahun mengering; air menggenang mengalir di Gurun Samaweh setelah bertahun-tahun tiada air; api di Kuil Persia padam setelah bertahun-tahun berkobar; pada malam lahirnya, semacam cahaya (atau barangkali bintang berekor) muncul dari Hijaz dan menyebar ke Timur.
Pada saat bayi, sesuai tradisi masyarakat (bangsawan) di kota Mekkah, Muhammad dikirim kepada seorang ibu susu di daerah pedesaan untuk ditempa sebagai bocah Arab yang mahir berbahasa Arab, mengenal kehidupan gurun, dan mengenal arti kebebasan. Ibu susu yang terpilih bagi Muhammad adalah wanita dari bani Sa’ad bernama Halimah binti Abu Dhuaib. Bani Sa’ad merupakan salah satu baduy dari bani Qais yang hidup di pedesaan yang hawanya bersih dan cocok untuk pertumbuhan seorang balita. Menurut riwayat, keluarga Halimah binti Abu Dhuaib memperoleh banyak berkah berkat menjadikan Muhammad anak susuannya. Seperti berkah ternak yang subur, yang menyebabkan mereka dilimpahi kesejahteraan.
Pada waktu berumur lima tahun, Muhammad kembali hidup bersama ibunya. Ketika berumur enam tahun, Aminah membawa Muhammad untuk mengunjungi kaum kerabatnya di Madinah dan juga dalam rangka untuk berziarah ke makam suaminya. Namun, dalam perjalanan kembali ke Mekkah, Aminah wafat di suatu tempat bernama Abwa. Maka, pada umur enam tahun genaplah sudah Muhammad menjadi seorang yatim piatu.
Sejak kanak-kanak, Muhammad telah menunjukkan sikap yang mulia. Maka, di samping juga karena peristiwa-peristiwa menakjubkan semasa lahirnya, Abdul Muthalib kakeknya memberikan perhatian khusus kepadanya. Beliau-lah yang mengasuh Muhammad sepeninggal ibunya. Karakter istimewa beliau ditegaskan oleh pamannya, Abu Thalib, yang menyatakan bahwa Muhammad semasa kecil tidak pernah berbuat nakal, berbohong, berbicara kasar dan seenaknya, tertawa berlebihan bahkan dia sepanjang waktu lebih banyak menyendiri (tapa ngrame).
Sesungguhnya, sebagian umat Yahudi yang mendalami Alkitab pada masa itu telah mengetahui kenabian Muhammad. Diriwayatkan, pada waktu Muhammad berumur tujuh tahun, mereka mengatakan “Dalam kitab-kitab suci kita, dinyatakan bahwa seorang Nabi tidak diperkenankan makan dari sebarang makanan yang secara agama diharamkan atau pun diragukan kehalalannya. Sekarang, mari kita mengujinya.”
Maka, mereka mencuri seekor ayam betina dan mengirimnya kepada keluarga Abu Thalib. Dan, keluarga Abu Thalib mengajak Muhammad makan bersama mereka. Mereka semua menikmati ayam pemberian orang-orang Yahudi itu, kecuali Muhammad. Tatkala ditanyakan mengapa Muhammad tidak mau makan, bahkan mencicipinya pun tidak mau, beliau menjawab bahwa Allah telah melarangnya makan ayam tersebut dan Allah melindunginya dari segala sesuatu yang dilarang Allah untuknya. Mendengar jawaban Muhammad tersebut, orang-orang Yahudi itu lantas berkata bahwa Muhammad adalah seorang berkarakter sangat istimewa dan kelak akan menduduki posisi sangat istimewa pula.
Pada waktu umur Muhammad delapan tahun, Abdul Muthalib wafat dan perwalian Muhammad diserahkan kepada Abu Thalib, saudara kandung seayah dan seibu Abdullah, ayah Muhammad. Beliau adalah seorang bani Hasyim yang dihormati. Bersama istrinya, Fatimah binti Asad, Abu Thalib merawat dan mengasuh Muhammad dengan baik. Hubungan Muhammad dengan pamannya Abu Thalib seperti hubungan dengan ayahnya sendiri, juga sahabatnya sendiri. Hubungan mereka teramat dekat sehingga Abu Thalib senantiasa enggan berpisah dari Muhammad. Fatimah binti Asad mengungkapkan berkah yang dibawa Muhammad ke dalam rumah tangganya, diantaranya adalah pohon-pohon yang tadi kering kerontang di halaman rumah mereka, sejak Muhammad menjadi anak mereka pohon-pohon telah subur berbuah kembali.
Diriwayatkan pula bahwa Muhammad selalu berdoa dan sembahyang sepanjang malam (sebagaimana yang dilakukan kaum Hanif di kalangan Bani Ismail). Bahkan, kendati sudah tak lazim lagi pada masa itu di kalangan orang Arab (Bani Ismail) untuk berdoa sebelum serta setelah makan dan minum, Muhammad melakukannya setiap makan dan minum.


Convent of Bahira Monastery
Alkisah, suatu ketika saat melakukan perjalanan bisnis ke Damaskus, Suriah, Abu Thalib membawa serta Muhammad yang pada waktu itu berumur 12 tahun dalam rombongan serta karavan mereka yang besar. Tatkala mencapai kota Busrah, di daerah sekitar suatu biara Kristen, mereka membangun tenda untuk beristirahat.
Bahira, salah seorang biarawan Kristen yang taat, menyadari pemandangan tenda-tenda itu dari balik jendela biaranya. Dia memandangi dengan heran gulungan awan besar memayungi rombongan tenda dan karavan itu. Lalu, ia pun memanggil salah satu dari pembantunya, ”Pergilah, beritahu mereka bahwa mereka semua adalah tamuku.”
Maka, rombongan itu pun datang kepadanya, kecuali Muhammad. Melihat gulungan awan telah menghilang dari rombongan itu, Bahira bertanya kepada para tamunya, ”Apakah semua anggota rombongan kalian sudah hadir di sini?”
Tamunya menjawab bahwa semua sudah hadir kecuali seorang anak muda di antara mereka. Maka, Bahira meminta supaya anak muda itu juga ikut serta bersama mereka. Kemudian Muhammad pun ikut ke dalam ruangan bersama Bahira. Pada saat Muhammad menuju dirinya, Bahira memerhatikan bahwa gulungan awan seakan-akan terus bergerak menaungi Muhammad dan sekarang berada juga di atas kepalanya. Bahira merasa takjub, sehingga tak henti-hentinya menatap Muhammad.
Maka Bahira pu n menjamu mereka. Setelah usai makan, biarawan taat itu berkata kepadanya, ”Aku punya pertanyaan untukmu, dan engkau mesti menjawab dengan bersumpah atas nama Lat dan Uzza untuk menjawabku.”
Muhammad saw menjawab, ”Dua nama yang engkau sebut untuk kubersumpah atas namanya adalah yang paling menjijikkan bagiku.” Maka, Bahira berkata, ”Bersumpahlah demi Allah untuk menjawabku.”
Muhammad saw menjawab, ”Aku selalu berkata kebenaran, dan aku tidak pernah berdusta; tanyakanlah apa yang hendak ditanyakan.”
Bahira bertanya, ”Apa yang paling kau sukai?”
Muhammad menjawab, ”Kesendirian.”
Bahira bertanya, ”Apa yang paling sering kau amati dan paling suka kau amati?”
Muhammad saw menjawab, ”Langit dan bintang-bntang padanya.”
Bahira bertanya, ”Apa yang kamu pikirkan tentangnya?”
Muhammad saw diam, tetapi Bahira secara hati-hati memandang sekilas dahinya.
Bahira bertanya, ”Kalau begitu, kapan kamu tidur dan dengan pikiran apa?”
Muhammad saw menjawab, ”Tatkala mataku tertuju ke langit, aku melihat bintang-bintang dan aku menemukan mereka dalam pangkuanku, dan diriku sendiri di atas mereka.”
Bahira bertanya, ”Apakah kamu melihat dalam mimpi juga?”
Muhammad saw menjawab, “Apapun yang kulihat dalam mimpi, itulah yang sama kulihat saat aku bangun.”
Bahira bertanya, ”Apa sajakah yang kau mimpikan, sebagai contoh?”
Muhammad saw terdiam, begitu pun Bahira.
Setelah senyap sejenak, Bahira bertanya lagi, “Bolehkah kulihat bagian tengah (pusat) pada kedua bahumu?
“Marilah tengok,” jawab Muhammad saw sambil berdiri. Kemudian, berdirilah Bahira, mendekat kepada Muhammad dan mengangkat pakaian Muhammad yang menunjukkan kedua bahunya. Suatu tanda tahi lalat tampak. Bahira memandanginya, dan kemudian berkata dengan menggumam, “Inilah orangnya.”
Bahira membungkuk di depannya, mulai menciumi tangan dan kakinya seraya berkata, “Jikalau aku masih hidup sampai engkau memulai tugas keIllahianmu, aku akan sangat setia menolong engkau dan melawan musuh engkau. Engkau adalah yang terbaik di antara semua keturunan Adam.”
Kemudian, Bahira bertanya, “Putera siapakah pemuda ini?” Para anggota rombongan kafilah menjawab dengan menunjuk kepada Abu Thalib. “Putranya.” Bahira berkata, “Tidak. Ayahnya pastilah sudah wafat!”
Abu Thalib berkata, “Engkau benar. Dia adalah keponakanku.” Bahira kemudian berkata, ”Tuan, pemuda ini kelak akan memiliki masa depan cemerlang dan sama sekali luarbiasa. Jikalau kaum Yahudi mengetahui bahwa aku menyadari siapa dirinya, maka mereka akan berupaya untuk menghancurkannya. Jagalah dia baik-baik, jangan sampai kaum Yahudi menyakitinya.”
Abu Thalib berkata, ”Dia ditakdirkan untuk apa? Apa yang akan dilakukan kaum Yahudi kepadanya?”
Bahira menjawab, ”Dia ditakdirkan untuk menjadi seorang Mulia, dan para malaikat pengilham akan selalu turun kepadanya dan kemudian akan mengirimkan wahyu-wahyu Illahi kepadanya.” (Lihat Kidung Agung 5:16 dalam bahasa Ibrani ~ Mahammad ~ lihat link youtube di bawah)
Maka, Abu Thalib menjawab dengan tenang, ”Jika begitu, maka Allah tidak akan membiarkannya sendirian dan Dia sendirilah yang akan melindungi Muhammad dari kaum Yahudi dan musuh-musuh kejam lainnya.”
Hatta, kendati Abu Thalib merupakan pemuka Quraish, tetapi dia bukan orang yang kaya raya. Oleh karena Muhammad telah mulai beranjak dewasa, maka ia pun haruslah mulai bekerja untuk menolong ekonomi keluarga.
Pekerjaan mula-mula yang dijalankan oleh Muhammad adalah sebagai penggembala. Tampaknya ini adalah suatu pekerjaan yang dilakoni hampir semua nabi besar dalam sejarah. Ada makna mendalam dalam tugas penggembalaan. Demikianlah Muhammad menjadi penggembala ternak kerabatnya dan upahnya diberikan kepada pamannya, Abu Thalib. Sebagai penggembala, Muhammad muda mempelajari banyak hal berharga guna tugas kenabian dan kepemimpinannya kelak, seperti kesabaran, toleransi, kejujuran, dan kesederhanaan. Musim demi musim berganti, tahun demi tahun berlalu, arakian kini Muhammad menjadi seorang pemuda yang cemerlang karena karakternya. Beliau pun digelari al-Sadiq (Yang Benar) dan al-Amin (Yang dapat dipercaya) oleh masyarakat di Mekkah.
Arakian, pada masa itu Khadijah binti Khuwailid merupakan seorang gadis kaya raya yang mewarisi bisnis ayahnya, Khuwailid bin Asad, saudagar kaya dari bani Hasyim. Khadijah juga kemudian menjadi pengusaha muda yang sukses seperti ayahnya. Beliau dikenal sebagai Putri Quraish, seorang perempuan dari kalangan Hanif, dermawan, dan mempunyai posisi yang tidak lazim bagi seorang wanita Arab muda pada zaman itu, yaitu dihormati dan disegani.
Khadijah mendengar perihal karakter Muhammad, dan melalui pembantunya, Khadijah merekrut Muhammad untuk menolongnya menjadi wakil dagangnya ke luar negeri. Muhammad pun melakukan beberapa kali perjalanan ke luar negeri sebagai utusan perusahaan Khadijah.
Alkisah, suatu saat Muhammad melakukan perjalanan ke Damaskus. Pada waktu itu umurnya kira-kira 23 tahun. Khadijah telah meminta pembantunya Maysara agar melayani Muhammad dengan baik. Dalam perjalanan ini, Muhammad lagi-lagi berjumpa dengan seorang pendeta Nasrani, yang memberitahukan akan nubuat tentang dirinya dan bagaimana kelak ia akan menikah serta keluarganya.
Sepulang dari Damaskus, Maysara pun menceritakan kepada puannya secara detail mengenai kesuksesan perjalanan bisnis mereka, termasuk tentang karakter Muhammad saw yang mengagumkan sepanjang perjalanan. Juga diceritakan tentang nubuat dari seorang Yahudi yang terpelajar mengenai karakter Illahiyahnya dan perkawinananya dengan seorang wanita terhormat di kalangan bani Quraish. Mendengar cerita Maysara, Khadijah merasa sangat berbunga-bunga. Sejak semula mendengar cerita tentang Muhammad, hatinya telah terpaut dan tertawan kepada Muhammad.
Ada yang mengatakan bahwa Khadijah bukan hanya dari kalangan bani Ismail yang Hanif, melainkan juga seorang penganut Nasrani. Tetapi jika yang dimaksud adalah kalangan Nasrani yang mengikuti segala ajaran Yesus as di Jalan Tauhid, itu merupakan hal yang tidak mustahil, juga bukan berarti Nasrani atau Kristen dalam pengertian saat ini.
Pada abad ke 6 M, suasana Kristenitas masih tergolong sebagai Masa Kristen Purba, atau Gereja-gereja Perdana, yang terdapat banyak sekali sekte-sekte atau kelompok-kelompok Nasrani yang berbeda satu sama lain secara signifikan seperti dogma Trinitas dalam Kristianitas. Lagipula Konsili Nikea I (320 M) yang berusaha mempersatukan umat Kristen dalam satu dogma dan kredo hanya dihadiri oleh 220 dari sekitar 1800 uskup atau biara yang diundang.
Pemikiran ini, tentang spiritual Khadijah, muncul berdasarkan riwayat bahwa Khadijah biasa berkonsultasi dengan pamannya, Waraqa bin Nawfal, seorag pendeta. Suatu ketika Waraqa mengatakan adanya nubuat tentang nabi akhir, dan tentang nubuat berita baik akan pernikahan nabi tersebut dengan Khadija. Hal ini menambah hatinya berseri-seri. Namun, untuk mengajukan lamaran kepadanya juga tentu dapat langsung dilakukan.
Melalui sahabatnya Nafisa, Khadijah mencurahkan isi hatinya. Dan singkat cerita, Nafisa kemudian menjadi ”perantara” di antara Khadijah dengan Muhammad. Muhammad sendiri pada mulanya menganggap mustahil dapat menikah dengan gadis sekaya Khadijah yang telah menolak banyak lamaran kaum aristokrat dan konglomerat Arabia pada masa itu. Namun, Nafisa berjanji untuk mengaturnya. Sementara itu, Muhammad berurun rembug dengan paman-pamannya tentang pernikahan ini. Mereka gembira mendengar berita baik ini dan merestuinya.
Demikianlah, akhirnya Muhammad bin Abdullah menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang gadis berumur 25 tahun (walau terdapat versi sejarah lain). Mereka mengarungi bahtera rumah tangga selama 25 tahun sebagai keluarga sakinah mawaddah warahmah. Menurut banyak peneliti terkini, pasangan mulia ini hanya dikaruniai seorang putri yaitu Fatimah Az-Zahra.
Pada masa itu pula, Muhammad, bersama pamannya yang lain seperti Hamzah (paman Muhammad yang lain) menolong pamannya Abu Thalib yang berada dalam kesulitan ekonomi dengan mengasuh salah satu putra Abu Thalib. Hamzah memilih salah satu putra Abu Thalib. Kemudian Muhammad mengambil Ali, lalu berkaata, ”Aku memilih putra yang dipilih oleh Allah untukku.”
Khadijah (pbuh) merupakan wanita pertama yang beriman terhadap Wahyu Illahi yang diturunkan kepada Muhammad. Sedangkan Ali bin Abi Thalib, karena tinggal di rumahnya, juga menjadi laki-laki pertama yang menerima Wahyu Illahi tersebut. Barulah kemudian diikuti oleh beberapa kalangan bani Ismail yang Hanif.
Selama hidupnya Khadijah merelakan seluruh jiwa dan raganya serta harta bendanya untuk mendukung Muhammad. Beliau wafat pada tahun 619 M sekitar sepuluh tahun setelah Wahyu Illahi yang pertama.
http://duniachenchen.blogspot.com/

Ya, Allah, jangan jadikan ku seperti Samiri dan pengikutnya…

Posted on August 7, 2011 | Leave a comment
JALAN YANG KUTEMPUH INI: YA ALLAH, JANGAN jadikan aku seperti SAMIRI DAN PENGIKUT SAMIRI!
~ Amin yra. Chen Chen, hamba-MU yang fakir ~
Jalan yang kutempuh ini, di atas Jembatan, bernama dunia. Nabi Isa as pernah bersabda jangan membangun sesuatu apa pun di atasnya, sebab kita hanyalah berjalan melewatinya, tugas kita adalah menjalani kehendak-Nya dan menjadi hamba-hamba-Nya bukan membangun suatu apapun di atasnya.
Sejak zaman nabi Musa as, Tuhan telah menetapkan sebuah “Criterion” atau “al-Furqan” atau panduan dasar bagi pembeda antara yang benar dan yang salah yang tidak akan lekang oleh zaman dan belum ada suatu dalil pun yang menegaskan bahwa ketetapan pertama ini telah dicabut pada wahyu-wahyu berikutnya melainkan Allah terus-menerus memperingatkan atau memfirmankan demi mengingatkan manusia kembali akan “Criterion” ini. (Lihat alBaqara:51-53, Ali Imran: 2-3, Araf: 144-145, al-Anbiya: 48-50, al-Furqan: 1)* Ini artinya suatu konsistensi Wahyu Illahi yang terwahyukan dan terekam dalam jejak peradaban manusia.
1. Tuhan Maha Esa.
2. Jangan menyekutukan Tuhan.
3. Jangan sembarangan menyembah atau menyebut nama Tuhan.
4. Mengingat hari ke-tujuh (Sabat/Sabtu) (Meliburkan para pekerja, berlibur kerja dari 6 hari kerja dan banyak beribadah pada hari libur ini)
5. Menghormati orangtua
6. Jangan membunuh
7. Jangan berzina
8. Jangan mencuri
9. Jangan berdusta/memfitnah
10. Jangan menginginkan hak dan kepunyaan orang lain
Kisah Samiri yang tertuang baik dalam Taurat maupun al-Qur’an memberikan hikmah luarbiasa bagaimana bani Israil yang diberikan begitu banyak cobaan dan Tuhan selalu mengabulkan doa serta permohonan mereka supaya dibantu dan diberkati. Tetapi apa yang terjadi? Begitu Allah menetapkan bahwa Musa mesti pergi ke Gunung Sinai dan sebagai pengganti kepemimpinannya atau keimamannya adalah nabi Harun as, sebagian kelompok dalam umat nabi Musa as menganggap keputusan tersebut berbau nepotisme karena putra dari bani mereka tidak mendapat kedudukan yang pantas. Maka, diprovokasi dan dipimpin oleh Samiri yang disebut Musa as sebagai saudara (tapi sayang nya berkhianat), mereka mengacuhkan keimaman Harun as, membuat patung lembu yang bisa bersuara dan memujanya.
Sekarang mari kita lihat Qur’an surah Anfal (94-110) [lihat catatan kaki], bahwa apa yang terjadi pada zaman Musa as bukankah tidak mustahil tidak terjadi juga pada zaman Muhammad saw, karena Allah sendiri yang berfirman dan memperingatkan Rasulullah saw? Betapa banyak yang akan berpaling sepeninggal beliau, bahkan langsung saja terjadi ketika jenazah beliau belum dikafani. Astaghfirullahalaziim!
Tentu, menyekutukan Tuhan pada zaman umat Muhammad saw menjadi lebih canggih bukan lagi memuja berhala seperti lembu. Berhala yang bernama Kekuasaan dan Harta Benda. Menguasai sebanyak mungkin tanah, wilayah, bangsa-bangsa dan negara-negara. Belum lagi, dengan bangga justru mengklaim apa yang telah dibangunnya sebagai diberkati Allah swt (nauzubillahiminzalik!), berikutnya dengan bangga menganggap “membantai” musuh-musuhnya adalah jihad dan perbuatan mulia, memfitnah ke sana ke mari dan akhirnya merampas hak-hak orang lain (hak berbudaya dan bertradisi sesuai asal-muasal nenek-moyang mereka, bahkan hak menjalankan ibadah sesuai keyakinannya sebagaimana Allah telah menjaminnya dalam alQur’an).
Roh memang penurut (kuat), tetapi daging itu lemah (mudah kalah), sabda nabi Isa as dalam Injil. Betapa sering kita merasa kita telah menjadi seorang beriman, menganggap agama yang kita anut paling sempurna dan paling benar, mazhab yang kita taati paling sesuai salafus-sholeh atau kita merasa sudah mengikuti teladan ahlulbayt dengan baik. Lihat saja banyak orang berada di jalan mazhab cinta pun masih terperosok, menjadi zalim lebih zalim daripada laknatnya kepada kaum zalim pada saat Ashura, apalagi yang bebal seperti para pengikut Samiri yang sedang tren saat ini: betapa mereka diagung-agungkan sebagai yang paling saleh, seolah mereka bersih seperti malaikat. Astaghfirullah…Astaghfirullah…Astaghfirullah…Di kalangan bani Israil tidak sedikit yang alim mengaji Taurat dan Mazmur, tetapi sebagian mereka itu hatinya tetap keras membatu; di kalangan kaum Nasrani tidak sedikit yang alim mengaji Mazmur dan Injil, tetapi sebagian mereka itu hatinya tetap keras membatu, begitu pun mereka yang telah menerima kenabian Muhammad saw, tidak sedikit yang alim mengaji Qur’an tetapi sebagian dari mereka ini justru hati mereka begitu dingin, begitu keras, dan begitu bebal. Naudzubillahi min zaliik.
Di tangan siapakah gerangan ketetapan itu berasal, dari Tuhan sajakah atau juga dari manusia?
Jalan yang kutempuh ini, bukan berdiri atas suatu bangunan di atas jembatan sementara ini, itulah agama yang lurus: agama Ibrahim adalah agamaku, agama Musa adalah agamaku, agama Daud adalah agamaku, agama Yesus adalah agamaku, agama Muhammad adalah agamaku. Taurat, Zabur, Injil dan Qur’an bahkan kitab-kitab Hindu menyebutnya agama yang tunduk dan damai dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan YME: Islam bahasa singkatnya. Bukan sekedar Islam suatu omongkosong, suatu bangunan, suatu masjid, suatu organisasi, atau suatu mushaf alQur’an, suatu pakaian berjubah berniqab dan berpendek di atas mata kaki, suatu suara azan, suatu ritual di mesjid-mesjid, atau suatu apapun yang sekedar materi! Melainkan sepenuhnya suatu jalan meliputi materi, esensi, substansi, dan yang lebih penting adalah yang berada dalam kalbu: ketundukan itu sendiri. Betapa hatiku, jiwaku, rohku dapat menggebu-gebu saat mendengar firman-Mu dan ingin segera menaati lagi menjalankannya, tetapi hawa-nafsuku seringkali menguasaiku – kekuasaan, uang, melihat orang-orang secara umum dan secara mayoritas tidak berada dan tidak mendukung dan tidak bersamaku di Jalan ini (padahal Engkau seringkali menegaskan di Jalan ini hanya sedikit sekali orang yang mau mengikuti) . Betapa keegoisanku, dan keinginan tetap meng-aku-kan segala sesuatu dst itu akhirnya mengalahkan hatiku yang cenderung kepada-Mu dan segala ketetapan-Mu. Oh!
Ya, Allah jangan jadikan aku seperti Samiri, dan jangan jadikan aku seperti para pengikut Samiri, tatkala Muhammad saw telah tiada dari hadapan mataku bahkan aku belum pernah berjumpa dengannya, aku justru semena-mena kepada ketetapan-Mu yang disampaikan kepada sabda baginda saw.

Ya, Allah jadikanlah aku seperti pengikut nabi Nuh as yang tidak peduli cemoohan dan fitnahan mereka yang mengatakan ini tidak masuk akal, itu sesat, ini gila, itu bodoh, dsb sehingga pada saatnya bencana banjir itu tiba, aku telah berada dalam bahtera-Mu bersama mereka yang Engkau pilih : Duhai, sebab Engkau saja-lah penolongku dan melalui Engkau saja-lah kudapatkan pertolongan. Ridhoi dan bimbinglah aku masuk dan teguh memasuki bahtera-Mu.
Amiin ya rabbal alamiin
http://duniachenchen.blogspot.com/

Jalan 12 Imam



Kitab Suci Qur’an bermula dengan nama Allah
Maka menjelmalah firdaus di atas tanah tumpah darah.
Ia bukanlah hal baru untuk ditulis dan dikatakan,
Sebab nama Allah menjadi tempat berlindung mereka yang terpingggirkan
Dan yang terancam oleh yang kuat semenjak Allah menetapkan wewenang.
Terdapat duabelas sarana dan jalan dalam sang Kitab Kebajikan,
Alkitab, demi nama Allah yang mereka gunakan.
Jalan pertama ialah pengabdian keimaman yang dijalani
Untuk melayani segala sesuatu di bawah sinar matahari. (Ulangan 18:5,7; 21:5)*
Demikanlah sabda Ali ialah pelayanan keimaman
Di muka bumi dan selamanya dengan kesetiaan.
Jalan kedua betapa nama Allah muncul
Yaitu dalam kata-kata tanpa dusta dan rasa takut
Dalam nama Allah firman-Nya dalam nubuat. (Ulangan 18:22; Raja-raja 22:16; 1 Tawarikh 21:19; 2 Tawarikh 18:15; 33:18; Yeremia 11.21; 26:9,16,20; 44:16; Zakaria 13:3; Yakobus 5:10)
Maka warkah Hasan yaitu dialah yang berkata
Nubuat tersebut dengan nyaring dalam nyanyian dan genta.
JJalan ketiga akan datang dengan nama Gusti Pangeran,
Dan betapa ia akan dibicarakan hanya karena kemasyhuran
Untuk Daud karena penyelamatannya terhadap gugatan (1Samuel 17:45; Mazmur 118:26)
Dan terhada al-Masih yang tiada sedikitpun dengan kecacatan
Putra Daud memancar bagaikan sinaran. (Matius 21:9; 23:9; Markus 11:9,10; Lukas 13:35; 19:38; Yohanes 12:13)
Maka bait pertama dari Kitab Suci Qur’an
Menunjukkan ingatan akan Daud yang belum diputuskan
Dan mengenali al-Masih pada permulaan.
Warkah dari Hussain, oh Hussain-ku yang rupawan,
Menyingkap tibanya al-Masih dalam penderitaan
Dan di dataran sungai melakukan pengorbanan.
Jalan keempat adalah dengan nama Tuhan maka terpaut
Pada sumpah dalam kumpulan perjanjian Daud
Dan Yahya, tentang hukum cinta yang melepas taut (1 Samuel 20:42). (1 Samuel 20:42)
Maka ketaatan cinta dalam damai adalah jalan Ali
Yang juga menyanyi Mazmur-nya pada Tuhan dengan sepenuh hati.
Jalan kelima dengan nama Tuhan kutemukan
Dalam rahmat-Nya, yang juga serupa dengan
Raja Daud saat membuat yang lain meletakkan jabatan (1 Samuel 6:18; 1 Tawarikh 16:2; Mazmur 129:8)
Maka Muhammad alBaqir mengambil alih kewenangan jua
Untuk merahmati setiap orang dengan nama Allah saja
Jalan keenam dengan nama Tuhan tersingkapkan
Altar yang dibangun Ilyas untuk mendentangkan
Gemuruh dan hujan dengan nama Tuhan
Untuk mengairi dan menyegarkan tanah air nan kekeringan (1 Raja-raja 18:32)
Demikianlah kimiawi Ja’far As-Sodiq membangkitkan jua
Menyingkap hukum, memperbaharui demi umat manusia
Jalan ketujuh dengan nama Tuhan yaitu kutukan
Yang dibawa nabi Ilyasa (Elisha), tanpa bimbingan
Kepada empat puluh pemuda yang mencerca kepalanya
Dan menodai nama Tuhan sedemikian rupa. (2 Raja-raja 2:24)
Pesan Al-Kazim berjalan melampaui jurang
Pemberkatan Daud bagi kutukan nan malang.
Jalan kedelapan dari nama Tuhan bahkan begitu menghampiri:
Kehancuran bagi yang jahat yang menampilkan diri.
Semua bangsa akan binasa tunduk menuruti Daud tiada terperi,
Sebelum kedigdayaan puteranya serta yang disayangi
Dengan nama Tuhan, menimpa dengan bati dan geligi (Mazmur 118:10,11,12)
Maka Ali Ridho (Ali Reza) menghancurkan demikian rupa
Pakta Kekaisaran Abbasiyyah yang bergelimang dusta
Jalan kesembilan dengan nama Allah yakni pertolongan KeIllahian
Yang datang dengan kekuatan dari Yang Esa maka terciptakan
Baik Surga maupun Bumi dengan mengatur mereka dalam perarakan (Mazmur 124:8)
Maka Imam Taqi adalah dia yang tetap menopang
Dengan pertolongan Allah ketika jalan terbentang.
Jalan kesepuluh dengan nama Tuhan ialah dengan sederhana mengimani
Di dalamnya hati manusia pada debu berduli
Bagi mereka yang takut Tuhan, mematuhi perkataan
Hamba Tuhan yang dikirim untuk memberi suatu pilihan,
Yang membimbing melalui lembah kegelapan untuk kebahagiaan. (Yesaya 50:10)
Maka juga mereka yang menderita dan miskin dimenangkan
Dengan meyakini nama Tuhan di atas bukit maupun kaki pegunungan. (Zephaniah 3:12)
Maka Imam Naqi, tanpa ketamakan atau birahi,
Mengajarkan jiwa meletakkan dirinya dalam Tuhan untuk mengimani.
Jalan kesebelas dengan nama Tuhan ialah untuk terus berjalan
Apapun yang orang kafir perbuat serta katakan
Maka Tuhan akan selamanya menjadi Tuhan kita
Serta membimbing dengan cinta dan cahaya di bawah wewenang-Nya (Mikah 4:5)
Imam al-Askari ialah pedang Ali
Menetapkan jalan yang mesti ditempuh dan akhirnya memenangi.
Jalan kedua dengan nama Allah yaitu untuk menerima
Minyak yang mengurapi demi mereka
Yang menderita sakit saat tersadar mereka
Akan kesukaran di dunia juga dilimpahi harapan dan pencarian . (Yakobus 5:14)
Maka Imam Mahdi, baginda memimpin dan melindungi
Dengan rahasia bagi mereka nan murni yang bersembayang dan meratapi,
Ialah balsem yang mujarab baik siang malam hari
Sampai terbitnya cahaya pengadilan hakiki.
Duabelas kegiatan dijalani dengan nama Tuhan
Melalui keseleruhan Alkitab telah dinubuat kemasyhuran
Akan duabelas imam yang membangun dengan keteguhan
Firman Tuhan yang menentang kehancuran
Iman yang dibina demi menindas jiwa
Kuberdoa agar Tuhan membimbingku ke jalan yang taat setia
(Thomas McElwain, “The Beloved and I”, New Jubilees Version, Vol. 5)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ
Perjalananku mengenal 12 Imam adalah perjalanan paling berliku dalam kehidupan imanku. Pada waktu SMP aku telah mengenal dengan begitu akrab Ibunda Fatimah Az-Zahra. Tetapi, aku belum benar-benar mengerti sejarah terpenggalnya Imam Husein sehingga beliau mati syahid. Aku yakin Tuhan-lah yang telah mengatur dengan baik saat aku terpanggil oleh bisikan-Nya saat memilih menulis sejarah hidup Ibunda Fatimah Az-Zahra sebagai tugas akhir untuk mata pelajaran agama Islam.
Pada waktu duduk di bangku SMA aku telah tertarik oleh buku-buku karangan Syahid Murtadha Muthahari, yang dalam bahasa Arab – kurasa bukanlah suatu kebetulan – namanya dengan nama kakekku juga dari kata yang sama.
Pada waktu duduk di bangku kuliah S1, aku terpikat dengan Hari Asyura, dan bagiku tidak pernah ada pengalaman yang membuatku “kecanduan” seperti pengalaman ber-Asyura, yaitu mendengar maqtal dan kisah Imam Husein beserta keluarganya. Aku telah mengikuti berbagai macam jenis pengajian, liqa, lingkaran, dan sebagainya, baik NII, HTI, kalangan tarbiyah akhwat/ikhwan yang banyak kemudian aktif di PKS, manhaj salafi, kajian liberal, pengajian ala tradisional NU, dan terutama karena aku terlahir dan dibesarkan dalam keluarga Muhammadiyah, maka aku sampai hari ini juga merasa sangat nyaman dalam pengajian-pengajian di lingkungan Muhammadiyah.
Akan tetapi pengalaman berhari Asyura itu merupakan pengalaman yang sering saya rindukan. Sampai akhirnya saya melanjutkan kuliah s2 di institusi tempat kami dapat lebih mengenal dekat tentang Jalan 12 Imam.
Tuhan telah mengatur jodoh persahabatan saya dengan banyak saudara baru di kampus saya ini, terutama dengan seorang muryid dari suatu tarekat Sunni yang amat mencintai ahlulbayt, dan darinya saya akhirnya mengimani Jalan 12 Imam sebagai Jalan Tauhid sejati. Sayang sekali saya tidak dapat menyebut namanya di sini, kendati ingin, karena saya ingin sekali berterimakasih kepada-nya.
Bentuk-bentuk dari Jalan 12 Imam ada begitu banyak, dan saya mempelajari setiap dari bentuk yang terbentang, yang mana yang paling sesuai dengan panggilan hati saya. Seperti mursyid tersebut, yang mana ia memilih Jalan 12 Imam yang tak lazim. Hati saya bagaimana pun telah mantap pada Jalan 12 Imam dan tidak terombang-ambing antara mana yang paling benar dan atau yang mana yang salah – hanya percaya siapa saja yang mengikuti Jalan 12 Imam semuanya adalah saudara dalam iman, dan hanya merasa bahwa bentuk yang dipilih itu karena jodoh dan karakter yang berbeda-beda.
Dan di sinilah pencarian saya tidaklah berhenti sebab peta di Jalan 12 Imam memerlukan pemandu yang dapat mengerti kecenderungan bagi yang menempuh jalan-nya.
Walaupun demikian, Jalan 12 Imam adalah jalan yang saya telah dijodohkan ke dalamnya, dan blog ini akhirnya saya dedikasikan untuk memberikan gambaran tentang Jalan 12 Imam ini dalam berbagai rupa dan warnanya. Kebanyakan orang mungkin akan memberi hujjah atau bukti-bukti teologis dan sejarah tentang lurusnya Jalan 12 Imam ini. Tetapi, di sini biarlah semua perdebatan berakhir. Saya menempuh Jalan ini dengan kesadaran sendiri dan dengan kehendak Tuhan juga. Saya tidak pernah memilih untuk sampai di Jalan ini. Takdir dengan begitu saja menarik saya dengan kuatnya ke dalam Jalan ini di mana saya sama sekali tidak dapat menyangkal dan membantah, bahkan kendati begitu banyak pertanyaan di awal jalan muncul dan mengemuka. Tuhan selalu menjawab dengan kata-kata-Nya sendiri atau melalui perantaraan hamba-hamba-Nya.
Katanya, ada begitu banyak Jalan menuju Tuhan. Tidak, kata seorang mursyid. Tidak ada Jalan selain kepada Tuhan. Tetapi, tentunya Jalan mana-kah yang lebih lurus, indah, dan membahagiakan? Sebenarnya itu-lah Jalan saat saya membiarkan Tuhan yang memilihkan untuk saya, membiarkan Dia-lah yang menetapkannya bagi saya. Dan demikian-lah, saya ikhlas-kan Tuhan memilihkan Jalan 12 Imam ini untuk saya tempuh, di sini saya harus berjalan dengan segala onak dan durinya, kelokan dan batu kerikilnya, debu dan hujannya, airmata dan deritanya, bahagia dan rahasianya.
1. Imam Ali bin Abi Thalib (as) : [599-661 M] 2. Imam Hasan al-Mujtaba (as): [625-669 M] 3. Imam Husein asy-Syahid (as): [626-680 M] 4. Imam Ali Zainal Abidin (as): [658-713 M] 5. Imam Muhammad al-Baqir (as): [676-743 M] 6. Imam Ja’far as-Shadiq (as): [702-765 M] 7. Imam Musa al-Kazim (as): [746-799 M] 8. Imam Ali Ridho/Ali Reza (as) : [765-818 M] 9. Imam Muhammad al-Jawad at-Taqi (as): [811-835 M] 10. Imam Ali al-Hadi al-Naqi (as): [828-868 M] 11. Imam Hasan al-Askari (as): [846-874 M] 12. Imam Muhammad al-Mahdi (as): [868 M- sekarang] Hatiku baik dan terang dengan cinta Haydar Di samping Haydar, al-Hasan adalah Pemandu dan Pemimpin kami Debu di bawah sepatu al-Husain adalah pahit perih bagi mataku al-Abidin, Sang ornamen bagi semua pengikut bagaikan mahkota di atas kepalaku Baqir adalah cahaya kedua mataku Agama Ja’far adalah sejati dan jalan Musa adalah benar O, para pengikut setia: dengarlah aku memuja Raja dari segala Raja siapa yang terkubur di Khurasan, ar-Ridho sebiji partikel dari debu di makamnya adalah pengobat semua penderitaan Pemimpin bagi semua orang mukmin adalah al-Taqi, o kaum Muslim terkasih, Jika kau mencintai al-Naqi daripada orang-orang lain, kau telah melakukan hal yang patut dan benar al-Askari adalah cahaya mata bagi Adam dan seluruh dunia Di mana dapat dijumpai, di dunia ini, pemimpin yang memerintah sebagaimana al-Mahdi?* *Diterjemahkan dari: (http://www.bektashiorder.com/the-twelve-imams)
Ini-lah Jalan yang bercabang dua Sejak zaman Yesus; sejak zaman Muhammad Setelah itu, sejak zaman Ali pula Bercabang dan bercabang banyak Dari pangkal yang Satu ke ujung yang Satu Tetapi, Jalan manakah yang Lurus, Tiada gelap, begitu jauh dari yang Satu Sebab aku yang memutuskan, bukan AKU? Ini-lah Ali, kekasih-KU yang namanya Telah disebut Musa saat berseru kepada Firaun Domba KU-gembalakan dan rela berkorban Telah lenyap aku dan hilang sama sekali aku Ali adalah Singa Allah yang membawa pedang-KU Yang mengorbankan diri dengan pedang-KU Dan itu-lah Ali imam pertama-mu Ini-lah Hasan, kekasih-KU yang menyanggupi Segala perintah-KU walau hak dirampas Oleh para aku dan akhirnya diracun juga Dan itu-lah Hasan imam kedua-mu Ini-lah Husein, kekasih-KU, putera-KU, Yang KU-sebut namanya dalam Kitab Yeremia, Di Sungai Eufrat KU-terima pengorbanannya Karena telah hilang segala aku walau para aku Memburu dan hendak membantai, lihat-lah Imam ketiga-mu yang diarak kepalanya oleh Yazid beserta keluarga dan umatnya yang celaka Dan sekarang ratapan serta airmata-mu semoga Termasuk air yang membasuh dahaga para syahid Dan yang menangis dalam kezaliman Yazid terkutuk Itu-lah imam ke-empatmu yang syahid nan hidup abadi Ini-lah Ali Zainal Abidin yang selamat Sebab itu-lah kehendak-KU untuk membuktikan Janji-KU akan KU-genapi walau tak masuk akal bagi-mu Itu-lah imam ketiga-mu yang sabar dan suka bersujud Ini-lah Muhammad al-Baqir yang mulia Yang mempersiapkan Jalan dengan gemilang Itu-lah imam kelima-mu yang dermawan Ini-lah Ja’far as-Shadiq yang cerdas luarbiasa Yang mengajarkan rahasia kimia dan fisika Kepada mereka yang berdiam di laboratorium Dan yang mengajarkan cara Rasulullah Sembahyang dan berpuasa dan beribadah Itu-lah imam ke-enammu yang agung Ini-lah Musa al-Kazim yang rupawan Yang setia kepada kehendak-KU dan Siapa yang tidak akan terlihat jua Itu-lah imam ketujuh-mu yang dikhianati Dan ini-lah Imam Ali Reza Yang menjadi tonggak mekarnya Jalan kami Dari bumi Persia tersebarlah wanginya Jalan Tauhid nan Sejati yang ternubuat Di setiap Kitab Suci Itu-lah imam kedelapan-mu yang dimakamkan di Khurasan Ini-lah Imam al-Taqi sang penerus Jalan Tauhid sejati yang rela terkubur begitu muda Itu-lah imam kesembilan-mu yang setia di Jalan para nabi Maka, ini-lah Imam al-Naqi yang bijaksana Yang mengatur dengan sempurna apa yang Diperintahkan AKU bagi Kerajaan yang akan datang Itu-lah imam kesepuluh-mu yang layak diteladani Ini-lah Imam al-Ashkari yang menjadi laskar cinta Bagi AKU dan hanya untuk AKU dalam kehidupan Yang singkat, pengasingan, dan nyaris tiada harapan Yang KU-anugrahi bidadari dari firman-KU dalam Kitab Wahyu Puteri terbaik dari Putera-KU Ishak, kemenakan Tercantik dari Putera-KU Yesus Sebab dari rahim-nya akan KU-genapi janji-KU Dan itu-lah imam-mu yang kesebelas yang selalu bahagia Maka ini-lah Muhammad al-Mahdi Yang kautunggu-tunggu Yang kauberdoa selalu memanggil namanya Dengan nama-KU supaya kusegerakan ia kembali Ke duniamu yang carut marut nan kacau balau Telah KU-ghaibkan ia tiada lama sesudah lahir Sebab AKU menguji dan mencobaimu Apakah kamu akan memusnahkan setiap aku dalam dirimu Dan yakin sepenuh hati kepada-KU? Percayakah engkau kepada setiap Janji-KU Dari sejak Taurat, kemudian Zabur/Mazmur, kemudian Injil sampai ke Al-Quran? Itu-lah Imam al-Mahdi, imam ke-12 Sebut-lah namanya bilamana engkau percaya pada-KU Pada janji-KU Akan segala kebahagiaan abadi dalam Bahtera-KU Umat-KU Kerajaan-KU Ya Mahdi! Ya Mahdi! Asholatu wassalamu alaika Ya Hujjatullah Shohibazzamanil Imam Mahdi Al Muntadzar Ajjalahu Farojaka wa sahhal mahroja’ http://duniachenchen.blogspot.com/

Selasa, 14 Juni 2011

Kisah Sahabat Nabi: Abu Dzar Al-Ghifari, Tokoh Gerakan Hidup Sederhana

Senin, 13 Juni 2011 16:32 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Ia datang ke Makkah sambil terhuyung-huyung, namun sinar matanya bersinar bahagia. Memang, sulitnya perjalanan dan teriknya matahari yang menyengat tubuhnya cukup menyakitkan. Namun tujuan yang hendak dicapainya telah meringankan penderitaan dan meniupkan semangat kegembiraan.

Ia memasuki kota dengan menyamar seolah-olah hendak melakukan thawaf mengelilingi berhala-berhala di sekitar Ka'bah, atau seolah-olah musafir yang sesat dalam perjalanan, yang memerlukan istirahat dan menambah perbekalan.

Padahal seandainya orang-orang Makkah tahu bahwa kedatangannya itu untuk menjumpai Nabi Muhammad SAW dan mendengarkan keterangan beliau, pastilah mereka akan membunuhnya.
Ia terus melangkah sambil memasang telinga, dan setiap didengarnya orang mengatakan tentang Rasulullah, ia pun mendekat dan menyimak dengan hati-hati. Sehingga dari cerita yang tersebar di sana-sini, diperolehnya petunjuk yang dapat mengarahkannya ke kediaman Nabi Muhammad dan mempertemukannya dengan beliau.

Pada suatu pagi, lelaki itu, Abu Dzar Al-Ghifari, pergi ke tempat tersebut. Didapatinya Rasulullah sedang duduk seorang diri. Ia mendekat kemudian menyapa, "Selamat pagi, wahai kawan sebangsa."

"Wa alaikum salam, wahai sahabat," jawab Rasulullah.

"Bacakanlah kepadaku hasil gubahan anda!"

"Ia bukan syair hingga dapat digubah, tetapi Al-Qur'an yang mulia," kata Rasulullah, kemudian membacakan wahyu Allah SWT.

Tak berselang lama, Abu Dzar berseru, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bahwa bersaksi bahwa engkau adalah hamba dan utusan-Nya."

"Anda dari mana, kawan sebangsa?" tanya Rasulullah.

"Dari Ghifar," jawabnya.

Bibir Rasulullah menyunggingkan senyum dan wajahnya diliputi rasa kagum dan takjub. Abu Dzar juga tersenyum, karena ia mengetahui rasa terpendam di balik kekaguman Rasulullah setelah mendengar bahwa orang yang telah mengaku Islam di hadapannya secara terus terang itu adalah seorang laki-laki dari Ghifar.

Ghifar adalah suatu kabilah atau suku yang tidak ada taranya dalam soal menempuh jarak. Mereka jadi contoh perbandingan dalam melakukan perjalanan yang luar biasa. Malam yang kelam dan gelap gulita tak jadi soal bagi mereka. Dan celakalah orang yang kesasar atau jatuh ke tangan kaum Ghifar di waktu malam.

Rasulullah pun bersabda, "Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada yang disukainya..."

Benar, Allah menunjuki siapa saja yang Dia kehendaki. Abu Dzar adalah salah seorang yang dikehendaki-Nya memperoleh petunjuk, orang yang dipilih-Nya akan mendapat kebaikan. Ia termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam. Urutannya di kalangan Muslimin adalah yang kelima atau keenam. Jadi ia telah memeluk agama itu di masa-masa awal, hingga keislamannya termasuk dalam barisan terdepan.

Lelaki yang bernama Jundub bin Junadah ini termasuk seorang radikal dan revolusioner. Telah menjadi watak dan tabiatnya menentang kebatilan di mana pun ia berada. Dan kini kebatilan itu nampak di hadapannya, berhala-berhala yang disembah oleh para pemujanya—orang-orang yang merendahkan kepala dan akal mereka.

Baru saja masuk Islam, ia sudah mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah. "Wahai Rasulullah, apa yang sebaiknya saya kerjakan menurut anda?"

"Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintahku nanti!" jawab Rasulullah.

"Demi Tuhan yang menguasai jiwaku," kata Abu Dzar, "Saya takkan kembali sebelum meneriakkan Islam di depan Ka'bah."

Ia pun menuju menuju Haram dan menyerukan syahadat dengan suara lantang. Akibatnya, ia dipukuli dan disiksa oleh orang-orang musyrik yang tengah berkumpul di sana. Rasulullah kembali menyuruhnya pulang dan menemui keluarganya. Ia pun pulang ke Bani Ghifar dan mengajak sanak kerabatnya memeluk agama baru ini.

Ketika Rasulullah dan kaum Muslimin telah berhijrah ke Madinah dan menetap di sana, pada suatu hari, barisan panjang yang terdiri atas para pengendara dan pejalan kaki menuju pinggiran kota. Kalau bukan karena takbir yang mereka teriakkan dengan suara bergemuruh, tentulah yang melihat akan menyangka mereka adalah pasukan tentara musyrik yang akan menyerang kota.

Begitu rombongan besar itu mendekat, lalu masuk ke dalam kota dan masuk ke Masjid Rasulullah, ternyata mereka tiada lain adalah kabilah Bani Ghifar. Semuanya telah masuk Islam tanpa kecuali; laki-laki, perempuan, orang tua, remaja dan anak-anak.

Rasulullah semakin takjub dan kagum. Beliau bersabda, "Takkan pernah lagi dijumpai di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar. Benar batinnya, benar juga lahirnya. Benar akidahnya, benar juga ucapannya."

Pada suatu ketika, Rasulullah SAW mengajukan pertanyaan kepadanya. "Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu bila menjumpai para pembesar yang mengambil upeti untuk diri mereka?"

Ia menjawab, "Demi Allah yang telah mengutus anda dengan kebenaran, akan saya tebas mereka dengan pedangku!"

"Maukah kau kutunjukkan jalan yang lebih baik dari itu? Bersabarlah hingga kau menemuiku!"

Abu Dzar akan selalu ingat wasiat guru dan Rasul ini. Ia tidak akan menggunakan ketajaman pedang terhadap para pembesar yang mengambil kekayaan dari harta rakyat sebagaimana ancamannya dulu. Namun ia juga tidak akan bungkam atau berdiam diri mengetahui kesesatan mereka.

Ketika kepemimpinan Rasulullah dan para Khulafaur Rasyidin telah berlalu, dan godaan harta mulai menjangkiti para pembesar dan penguasa Islam, Abu Dzar turun tangan. Ia pergi ke pusat-pusat kekuasaan dan gudang harta, dengan lisannya yang tajam dan benar untuk merubah sikap dan mental mereka satu per satu.

Dalam beberapa hari saja tak ubahnya ia telah menjadi panji-panji yang di bawahnya bernaung rakyat banyak dan golongan pekerja, bahkan sampai di negeri jauh yang penduduknya pun belum pernah melihatnya. Nama Abu Dzar bagaikan terbang ke sana, dan tak satu pun daerah yang dilaluinya, bahkan walaupun baru namanya yang sampai ke sana, sudah menimbulkan rasa takut dan ngeri pihak penguasa dan golongan berharta yang berlaku curang.

Penggerak hidup sederhana ini selalu mengulang-ulang pesannya, dan bahkan diulang-ulang juga oleh para pengikutnya, seolah lagu perjuangan. "Beritakanlah kepada para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak. Mereka akan diseterika dengan seterika api neraka, menyeterika kening dan pinggang mereka di hari kiamat!"

Abu Dzar telah mencurahkan segala tenaga dan kemampuannya untuk melakukan perlawanan secara damai dan menjauhkan diri dari segala kehidupan dunia. Ia menjadi maha guru dalam seni menghindarkan diri dari godaan jabatan dan harta kekayaan.

Abu Dzar mengakhiri hidupnya di tempat sunyi bernama Rabadzah, pinggiran Madinah. Ketika menghadapi sakaratul maut, istrinya menangis di sisinya. Ia bertanya, "Apa yang kau tangiskan, padahal maut itu pasti datang?"

Istrinya menjawab, "Karena engkau akan meninggal, padahal kita tidak mempunyai kain kafan untukmu!"

"Janganlah menangis," kata Abu Dzar, "Pada suatu hari, ketika aku berada di majelis Rasulullah bersama beberapa sahabat, aku mendengar beliau bersabda, 'Pastilah ada salah seorang di antara kalian yang akan meninggal di padang pasir liar, dan disaksikan oleh serombongan orang beriman.'

Semua yang ada di majelis itu sudah meninggal di kampung, di hadapan kaum Muslimin. Tak ada lagi yang masih hidup selain aku. Inilah aku sekarang, menghadapi sakaratul maut di padang pasir. Maka perhatikanlah jalan itu, siapa tahu kalau rombongan orang-orang beriman itu sudah datang. Demi Allah, aku tidak bohong, dan tidak juga dibohongi!"

Ruhnya pun kembali ke hadirat Ilahi... Dan benarlah, ada rombongan kaum Muslimin yang lewat yang dipimpin oleh Abdullah bin Mas'ud. Sebelum sampai ke tujuan, Ibnu Mas'ud melihat sosok tubuh terbujur kaku, sedang di sisinya terdapat seorang wanita tua dan seorang anak kecil, kedua-duanya menangis.

Ketika pandangan Ibnu Mas'ud jatuh ke mayat tersebut, tampaklah Abu Dzar Al-Ghifari. Air matanya mengucur deras. Di hadapan jenazah itu, Ibnu Mas'ud berkata, "Benarlah ucapan Rasulullah, anda berjalan sendirian, mati sendirian, dan dibangkitkan kembali seorang diri!"


Redaktur: cr01
Sumber: 101 Sahabat Nabi karya Hepi Andi Bastoni

Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...