Jumat, 11 November 2016

AKHLAK–Puncak Suluk



Oleh Haidar Bagir

Suatu pagi, setelah salat jama’ah Subuh, penglihatan Rasulullah Saw tertumbuk pada seorang anak muda yang bernama Haritsah ibn Malik ibn Nu’man Al-Anshari. Kurus dan pucat, kedua matanya sembap, dia tampak seperti linglung dan tak bisa tetap berdiri.
“Bagaimana keadaanmu,?” tanya Rasulullah.
“Saya telah sampai pada keimanan tertentu,” si anak muda menyahut.
“Apakah tanda-tanda keimananmu,?” Nabi bertanya lagi.
Anak muda itu menjawab bahwa keimanannya telah menenggelamkannya ke dalam kesedihan, sehingga membuatnya tak bisa tidur di malam hari (karena harus mengisinya dengan beribadah) dan membiarkan dirinya merasakan lapar dan dahaga di siang hari (dalam berpuasa).
Keadaan itu juga telah sepenuhnya menceraikannya dari dunia ini dan segala urusannya, sedemikian sehingga seolah-olah dia dapat melihat ‘Arasy Allah ditegakkan untuk memulai perhitungan atas (amal-amal) umat manusia, dan bahwa ia bersama seluruh manusia telah dibangkitkan dari kematian.
Dikatakannya pula bahwa pada saat itu pun dia merasa dapat melihat para ahli surga menikmati karunia-karunia Allah, para ahli neraka menderita siksaan-siksaannya dan bahwa dia dapat mendengar gemuruh jilatan apinya.
Mendengar itu Nabi menoleh kepada para sahabatnya seraya berkata, “ini adalah seseorang yang hatinya telah disinari dengan cahaya keimanan oleh Allah.” Lalu Nabi pun berkata kepada si anak muda tadi, “Pertahankan keadaanmu ini, dan jangan biarkan ia lepas darimu.”
“Berdoalah untukku,” sahut si anak muda, “agar Allah mengaruniaiku syahadah.” Syahdan, tak lama setelah pertemuan itu, sebuah peperangan meletus, dan si anak muda ikut hingga dia mendapatkan syahadah yang didambakannya.
Hadis di atas seringkali dikutip orang sebagai salah satu petunjuk mengenai tradisi tasawuf di zaman Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam. Muhammad Iqbal, pujangga Muslim dari Anak-Benua India itu, malah menyebutnya sebagai semacam penelitian yang dilakukan oleh sang Nabi atas gejala psikologis—tepatnya gejala spiritual — yang belakangan lebih dikenal sebagai gejala sufistik itu.
Kisah di atas sekaligus bisa menjadi ilustrasi bagi pemahaman makna ‘ihsân’ yang dianggap sebagai dasar penghayatan kesufian dan–bersama iman serta Islam–membangun trilogi pembentuk unsur-unsur agama Islam. Seperti telah banyak diketahui, terungkap dalam hadis masyhur yang lain bahwa lewat Jibril Al-Amin, para sahabat telah diajar makna ihsân sebagai “suatu situasi yang di dalamnya seseorang beribadah dalam keadaan seolah-olah ia melihat Allah atau, kalau pun tak dapat melihat-Nya, ia yakin bahwa Allah melihatnya.”
Lalu, untuk kesekian kalinya kita pertanyakan, apa sejatinya tasawuf itu?
Amat banyak rujukan disampaikan oleh para ahli terhadap asal-muasal istilah tasawuf ini. Dalam berbagai buku teks tasawuf, kata ini biasanya dirujukkan kepada beberapa kata dasar. Termasuk di dalamnya shaff  (baris, dalam shalat) karena dianggap kaum sufi berada dalam shaff pertama. Atau shûf, yakni bahan wol atau bulu domba kasar yang biasa mencirikan pakaian kaum sufi.
Atau juga Ahlu al-Shuffah, yakni para zâhid (pezuhud) dan ‘âbid (ahli ibadah) yang tak punya rumah dan tinggal di serambi masjid Nabi. Ada juga yang mengaitkannya dengan nama sebuah suku Badui yang memiliki gaya hidup sederhana, yakni Bani Shufa. Meski jarang, sebagian yang lain mengaitkan asal-muasal istilah ini dengan sopohon, atau sufa, atau sufin, yang bermakna pelayanan kegerejaan (kerahiban). Jabir ibn Hayyan — seorang alkemis yang disebut-sebut sebagai murid Imam Ja‘far Shadiq — dikatakan mengaitkan istilah ini dengan shufâ’, yang bermakna penyucian sulfur merah.
Di dalam berbagai buku tashawuf, menurut  Abdul Qadir Al-Suhrawardi, ada lebih dari seribu definisi istilah ini. Tapi, pada umumnya, berbagai definisi itu mencakup atau mengandung makna shafâ’ (suci), wara‘ (kehati-hatian ekstra untuk tidak melanggar batas-batas agama), dan ma‘rifah (pengetahuan ketuhanan atau tentang hakikat segala sesuatu). Tapi, kepada apa pun dirujukkan, semua sepakat bahwa kata ini terkait dengan akar shafâ’ yang berarti suci. Pada gilirannya, ia akan bermuara pada ajaran Al-Quran tentang penyucian hati.
“Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Al-Syams [91]: 7-10)
Kata menyucikan (zakkâ) yang dipakai ayat di atas berasal dari akar kata yang juga membentuk salah satu ungkapan-kunci tasawuf, yaitu tazkiyah al-nafs (penyucian jiwa, yakni penyucian jiwa dari dosa-dosa yang menutupi hati kita, lalu memenuhinya dengan kebaikan-kebaikan, sehingga pada puncaknya orang selalu memiliki akses terhadap panduan cahaya Allah yg ada di dalam hati kita). Lebih jauh dari itu, dalam kosa kata tasawuf istilah ini biasa disinonimkan dengan ‘tashfiyah’ — lagi sebuah kata benda bentukan (mashdar) dari akar-kata shafâ’.
Salah satu yang mencirikan tasawuf dari upaya keberagamaan biasa, adalah bahwa tasawuf memperkenalkan suatu disiplin yang disebutkan sebagai ‘suluk’. Dalam suluk tercakup penyelenggaraan ibadah secara ihsan, dan penerapan mujahadah serta riyadhah sebagai pendukung bagi pencapaian kemampuan ihsan dalam beribadah tersebut.
Hal yang harus diperhatikan dalam menjalani suluk – kalau tak malah menjadi ciri kedua tasawuf – adalah bahwa proses penyucian hati harus melibatkan amal-amal saleh. Yakni setiap tindakan untuk berkontribusi dalam memperbaiki kehidupan sosial di lingkungan kita. Dalam hadis yang dikutip di awal tulisan ini, hal itu tampak dalam semangat yang lahir pada diri Haritsah. Bukannya menikmati kebahagiaan penyingkapan spiritual itu secara sendirian (egois), dia siap mengorbankan dirinya demi tegaknya kebenaran dan kebaikan bagi orang banyak. Meski itu berarti dia harus mati syahid. Penting untuk dipahami di sini bahwa syahid berarti penyaksi. Kata ini memiliki akar kata yang sama dengan musyahadah –  sebagai puncak setiap perjalanan tasawuf – yakni menyaksikan (“bermuka-muka” dengan) Allah Swt. []

AJ/IslamIndonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...