Selasa, 15 November 2016

Sehari Bersama Tetamu Nabi Ibrahim, Daud, Sulaiman, Ayyub & Muhammad saw


Allah SWT berfirman, “Sudahkah sampai kepadamu cerita tamu Ibrahim yang dimuliakan?” (QS. adz-Dzariyat: 24). Allah telah mendidik para nabi-Nya dengan semua keutamaan, dan berpesan kepada mereka untuk mengajarkan sifat-sifat mulia kepada umatnya. Salah satu sifat utama ialah senang menerima dan menghormati tamu.

Di antara semua nabi ada lima nabi yang sangat terkenal suka menerima dan menghormati tamu, yaitu Nabi Ibrahim as, Nabi Daud as, Nabi Sulaiman as, Nabi Ayyub as dan Nabi Muhammad saw.
Dalam ayat di atas disebutkan, “Sudahkah sampai kepadamu cerita tamu Ibrahim yang dimuliakan?” Para ulama mengatakan, karena Ibrahim as suka menerima tamu, dalam ayat di atas tercantum kata “mukramin” (orang-orang yang dimuliakan).

Kisah dalam surat adz-Dzariat itu begini: Tatkala serombongan tamu datang kepada Ibrahim, beliau berkata kepada mereka, “Salam sejahtera bagi kalian rombongan yang tidak aku kenal.” Beberapa saat kemudian Ibrahim menjamu mereka dengan menu sapi panggang muda.
Nabi Ibrahim as tidak pernah makan kecuali bersama tamu. Terkadang ia pergi ke gurun sekadar untuk mencari orang yang mau bertamu ke rumahnya.

Diceritakan bahwa pernah selama sehari semalam Nabi Ibrahim as mencari tamu yang mau makan bersamanya. Akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang telah lanjut usia. Nabi Ibrahim as tahu bahwa ia orang musyrik. Lalu beliau berkata kepadanya, “Jika engkau seorang Muslim aku akan menjadikanmu sebagai tamuku.” Kemudian Jibril turun dan mengabarkan firman Allah SWT: “Aku telah memberinya rezeki selama tujuh puluh tahun padahal ia menyekutukanku. Tapi kau tidak bersedia menjamunya meski untuk sehari saja.”

Mendengar itu Nabi Ibrahim as menyesal dan mencari-cari orang itu lagi. Setelah menemukannya, dengan segera ia mengundangnya dan berkata kepadanya, “Jibril telah datang menyampaikan berita bahwa Allah Swt telah berkata demikian.” Mendengar itu, orang musyrik tersebut langsung menjadi Muslim.
Nabi Ayyub as telah berkata, “Demi kemulian-Mu, Ya Allah, aku bersumpah bahwa aku tidak akan makan kecuali bersama anak yatim atau orang miskin.”

Berkenaan dengan Nabi Sulaiman as dan Nabi Daud as, Al-Quran berkata: “Mereka menyiapkan makanan di periuk-periuk yang besar dan memakannya di piring-piring yang besar. Bersyukurlah engkau wahai keluarga Daud. Sesungguhnya sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur. “(QS. Saba:13)
Dari kelima nabi di atas hanya Nabi Muhammad saw yang miskin. Namun sifat senang menjamu tamu beliau sampai pada derajat mengorbankan dirinya sendiri.

Dalam beberapa hadis, Nabi bersabda yang maknanya berintikan seperti ini: “Senang menerima tamu akan mendatangkan kebaikan dan keberkahan, menghilangkan bencana, dan menyebabkan turunnya ampunan dosa.” Manfaat-manfaat duniawi penghormatan pada tamu juga sangat banyak.
Rasulullah saw bersabda, “Seorang Mukmin yang mendengar suara langkah tamu dan merasa senang dengannya, niscaya Allah SWT akan mengampuni seluruh dosanya, meskipun dosanya memenuhi langit dan bumi.”

MH/Islam Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...