Rabu, 22 Januari 2014

Mahzab CINTA



Rudolf Otto, seorang pemikir yang dianggap sebagai seorang ahli fenomenologi agama, menyebutkan ada­nya dua situasi pertemuan manusia dengan Tuhannya. Dalam situasi pertama, Tuhan tampil di hadapan manusia sebagai suatu “misteri yang menggentarkan” (mysterium tremendum).  Pada situasi lainnya, Dia hadir sebagai “misteri yang memesonakan” (mysterium fascinum).  Biasanya, para ahli—seperti  Van der Leeuw—melihat Islam (dan juga agama Yahudi) sebagai mewakili situasi yang pertama. Secara hampir refleks, para ahli seperti ini pun me-reserve situasi yang kedua—yang didomi­nasi cinta—untuk Kekristenan. Namun, para ahli me­ngenai aspek esoterisme Islam (spiritualitas Islam atau tasawuf) yang lebih belakangan, seperti diwakili de­ngan baik oleh Annemarie Schimmel, melihat Islam se­ba­gai tak kurang-kurang mempromosikan orientasi cinta dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan­nya sebagai berorientasi cinta. Bahkan, seperti akan diuraikan di bawah ini, dalam hal ini Islam justru lebih memujikan orientasi cinta ketimbang orientasi yang di­dominasi rasa takut.

Untuk memulai pembahasan mengenai soal ini, perlu disampaikan bahwa khazanah pemikiran Islam klasik sesungguhnya juga telah mengenal kedua situasi pertemuan manusia dan Tuhannya ini. Yakni, aspek ke­dahsyatan yang menggentarkan (disebut jalâl ) dan as­pek keindahan yang memesonakan (jamâl ).  Namun, adalah benar juga bahwa selama berabad-abad—khu­susnya selama abad-abad modernistik belakangan ini—kaum Muslim seperti lupa pada sisi esoteris agama me­reka yang melihat hubungan manusia-Tuhan seba­gai kecintaan makhluk kepada keindahan yang meme­sonakan Sang Khalik. Jadilah Islam, seperti diungkap­kan oleh para ahli fenomenologi agama itu, sebagai suatu agama yang secara eksoteris melulu berorientasi nomos (syarî‘ah dalam arti sempit, hukum) dan kering dari orientasi eros (cinta, hubb).

Kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu an u‘rafâ’. Fa khalaqtu al-khalqa li kay u’raf [Aku adalah perbenda­hara­an yang terpendam. Aku cinta (ahbabtu) un­tuk di­ketahui.  Maka Aku ciptakanlah alam semesta]. Demi­kianlah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam suatu hadis qudsi. Basis dari penciptaan sejak awal-mulanya, me­nu­rut hadis yang merupakan kutipan standar dalam hampir setiap uraian tasawuf ini, adalah kerinduan atau kecintaan Tuhan akan (mar‘ifah) manusia. Lepas dari “ocehan” para sufi ini, Al-Quran menegaskan hubung­an cinta an­tara Allah Sang Pencipta (Al-Wadûd) dan ma­nusia (lihat, antara lain, Al-Quran Surah Al-Mâ’idah [5]: 54; Al-Baqarah [2]: 165, 216).Inilah salah satunya:

“Adapun orang-orang yang beriman itu, sangat dalam kecintaan mereka kepada Allah.”

Menurut salah satu penelitian, bukan saja lebih ba­nyak porsi dalam 99 nama Allah (al-asmâ’ al-husnâ) bagi nama-nama yang termasuk dalam aspek jamâl Allah Swt., seperti Maha Pengasih (Al-Rahmân), Maha Penyayang (Al-Rahîm), Maha Pencinta (Al-Wadûd ), Maha Pemaaf (Al-Ghafûr), Maha Penyabar (Al-Shabûr), Maha Lembut (Al-Lathîf ), dan seterusnya. Bahkan di dalam Al-Quran terdapat 5 kali lebih banyak ayat yang me­ngan­dung nama jamâliyyah ini ketimbang jalâliyyah. Sebagai contoh, menurut catatan kata-kata Al-Rahmân dan Al-Rahîm dipergunakan sebanyak 124 kali dalam Al-Quran. Sementara kata-kata ghadhab (murka) dan bentuknya terdapat hanya 7 kali dalam seluruh kitab suci yang sama. Dengan kata lain, Allah menampilkan dirinya—dan tak ada yang dapat menampilkan Allah kecuali diri-Nya sendiri—lebih sebagai Zat yang indah dan memesona serta menimbulkan cinta kasih, ketim­bang sebagai suatu misteri dahsyat yang menggen­tarkan.

Kenyataan ini tentu sama sekali tak berarti bahwa kita harus mengabaikan penampilan Allah Swt. dalam segenap kedahsyatannya. Tapi, bahwa segenap kedah­syatan Allah itu—kemurkaan, kepemaksaan, janji pem­balasan-Nya terhadap kejahatan makhluk, dan seba­gai­nya—merupakan bagian dari kecintaan-Nya kepada makhluk. Dalam sebuah hadis qudsi, disebutkan bah­wa Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya kasih-sayang-Ku mendahului kemurkaan-Ku.” Di dalam Al-Quran, Dia sendiri menyatakan sebagai “telah menetapkan atas-Diri-Nya sifat pengasih (rahmat),” serta mengajar­kan bahwa rahmat-Nya “seluas langit dan bumi” dan “meliputi segala sesuatu.Sejalan dengan itu, Nabi-Nya pernah mengabarkan kepada kita bahwa: “Allah memiliki seratus rahmat. (Hanya) satu yang ditebar­kan-Nya ke atas alam semesta, dan itu sudah cukup untuk menanamkan kecintaan di hati para ibu kepada anak-anaknya.” Sehingga, “seekor induk kuda meng­ang­kat kakinya agar tak menginjak anaknya, dan se­ekor ayam betina mengembangkan sayapnya agar anak-anaknya berlindung di bawahnya.”

Sayangnya, dalam segenap kegentaran kita kepada kedahsyatan (jalâl ) Allah Swt., banyak di antara kita sulit membayangkan bentuk hubungan cinta antara Yang Maha Segala dan makhluk ringkih bernama manusia ini. Paling banter, orang akan menafsirkannya sebagai sinonim dari keterikatan atau ketaatan seorang hamba (‘abd ) yang takut kepada Tuhan (Rabb)-nya.

Untuk membuyarkan fiksasi kita tentang Allah yang menakutkan ini, izinkan saya mengungkapkan simbo­lisasi Ibn ‘Arabî dalam karya-besarnya, Fushûsh Al-Hikam. Hubungan cinta antara Allah dan manusia, kata sang sufi besar yang kontroversial ini, adalah seperti hu­bung­an cinta antara manusia lelaki dan perempuan. (Ini­lah, kata Ibn ‘Arabî, hikmah hadis termasyhur Nabi Saaw. mengenai kecintaan beliau kepada perempuan, di samping kepada shalat dan wangi-wangian. Bisa jadi pada awalnya sang sufi besar itu berpikir: “Pasti ada hikmah yang lebih ‘sakral’ di balik kesukaan Sang Ma­nusia Sempurna Saaw. kepada objek profan yang tam­pak ‘remeh-temeh’ itu”). Artinya, kecintaan Allah kepada manusia—dan yang sebaliknya—adalah seperti cinta-kasih dua sejoli anak manusia yang asyik âsyiq-masyuk (istilah bahasa Arab yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia ini sebetulnya merupakan bentukan dari kata ‘isyq—berarti cinta—yang merupakan salah satu istilah kunci dalam tasawuf). Banyak sekali ujar-ujar para sufi besar lainnya mengenai hal ini.

Selain dari sufi-sufi seperti Ibn ‘Arabî dan Ibn Al-Faridh, yang menonjol di antaranya adalah dari sufi perem­puan Rabi‘ah Al-‘Adawiyyah. Dia dikenal dengan syair-syair menggetarkan yang menunjukkan hubung­an cinta kasih antara manusia dan Tuhan:


“Ya Allah,” demikian munajatnya di suatu malam, “saat ini gelap telah menyelimuti bumi. Lentera-lentera telah dimatikan, dan para manusia telah berdua-dua dengan kekasih-Nya. Maka, inilah aku, mengharapkan-Mu.”

Diriwayatkan, dia pernah ditemui orang berjalan di jalanan Kota Bagdad sambil membawa obor di salah satu tangannya, dan seember air di tangannya yang lain. Ketika ditanya orang tentang tujuannya, dia men­jawab: “Aku akan membakar surga de­ngan obor ini, dan memadamkan api neraka dengan seember air ini.” Memang Rabi‘ah juga dikenal luas dengan syairnya:

“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena ber­ha­rap surgamu, maka jauhkanlah surga itu dariku. Jika aku menyembah-Mu karena takut nerakamu, maka masukkan aku ke dalamnya. Tapi, jangan halangi aku dari melihat wajah-Mu.”

Munajat Rabi‘ah ini kiranya sejalan belaka dengan berbagai ujaran ‘Ali ibn Abi Thalib—sahabat dan pene­rima wasiat Nabi, guru para sufi awal, dan pangkal ham­pir semua silsilah tarekat—khususnya bagian-bagi­an tertentu dalam Doa Kumail yang oleh Nabi diajar­kan kepadanya:

“… kalaupun aku sabar menanggung beban-pen­deritaan (di neraka) bersama musuh-musuh-Mu dan Kau kumpulkan aku dengan para penerima siksa-Mu, dan Kau ceraikan aku dari para kekasih dan sahabat-Mu … kalaupun aku, Wahai Ilah-ku, Tuanku, Sahabatku, dan Rabb-ku, sabar menanggung siksa-Mu, bagaimana kubisa sabar menanggung perpisahan dengan-Mu ... kalaupun aku bisa bersabar menanggung panas-neraka-Mu, bagaimana kubisa bersabar dari melihat kemu­lia­an-Mu ….”

Dalam konteks ini menjadi terpahamkan ketika, suatu kali, ‘Ali menyayangkan ibadah ala budak yang keta­kut­an, atau ala pedagang yang selalu menghitung-hitung imbalan, seraya memuji hubungan yang berlan­das­kan cinta.

Seolah menjelaskan maksud ujaran Bapaknya, Husain ibn ‘Ali menyeru: “… merugilah perdagangan seorang hamba yang tidak menjadikan cinta kepada-Mu se­ba­gai bagiannya.”

Akhirnya, munajat cucu Nabi dan mazmur ‘Ali Zainal ‘Abidin berikut ini dapat menjelaskan hubungan kompleks antara manusia dan Tuhan dalam ajaran Islam:

“Wahai Zat yang memberikan kelezatan persaha­bat­an kepada para kekasih-Nya sehingga mereka bisa berdiri tegak dengan akrab di hadapan-Nya, dan wahai Zat yang memberi para wali-Nya pakaian kebe­saran se­hingga mereka bisa berdiri tegak di hadapan-Nya seraya memohon ampunannya.”



(Oleh : Haidar Bagir)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...