Kamis, 14 Februari 2013

Sekadar Catatan tentang Tulis Menulis




Penulis: Sindhunata
Oleh Penerbit Mizan, saya diminta untuk membagikan  pengalaman di sekitar tulis menulis pada rekan-rekan penulis.  Seingat saya, pengalaman menulis itu begitu luas dan panjang, banyak variasi dan bidangnya.  Karena itu, saya tidak tahu, harus mulai darimana, atau harus mengutarakan pengalaman yang mana. Di bawah ini saya justru ingin menyampaikan  terlebih beberapa pengalaman dan pernyataan para penulis dunia tentang suka duka kepenulisan mereka.  Pendapat mereka ingin saya jadikan acuan bagi pengalaman saya sendiri. Semoga juga bagi pengalaman Anda.  Memang, acuan itu sifatnya lebih reflektif, filosofis, bahkan teologis. 
Kepenulisan dan Keberadaan-Diri

Kepenulisan (Jerman: Schreiben) dan keberadaan-diri (Sein) adalah dua hal yang tak terpisahkan.  Bahkan untuk  seorang penulis, kesatuan antara dua hal itulah yang menentukan identitasnya (Undine Gruenter, lih. Die Zeit (2003)14, hlm. 53).  Dalam bidang penulisan sastra, menulis sendiri adalah semacam rencana, dimana seorang pengarang ingin membangun estetika hidupnya.  Dengan menulis, orang ingin menyatakan apa saja yang ia cita-citakan dan impikan dalam hidupnya.

Kebenaran dari pernyataan ini dapat kita lihat dalam hidup para penulis-penulis besar.  Tampak, karya tulis mereka adalah pergulatan hidup mereka sendiri.  Nyaris tiada lagi perbedaan antara hidup mereka dengan apa yang mereka tuliskan.  Mulai dari nilai, harapan, keputusasaan sampai cinta mereka.  Menulis itu adalah identias bagi keberadaan mereka, atau sebaliknya: keberadaan mereka ditentukan oleh kepenulisan mereka.

Jelas, menulis di sini lalu bukan sekadar pekerjaan sambilan, "upaya untuk menambah dan mengejar (ngoyak) setoran", atau pencarian keselebritasan yang dangkal.  Menulis adalah pergulatan hidup dalam intinya yang terdalam, semacam upaya untuk menemukan dan menentukan identitas kita yang paling orisinal.  Jelas disini menulis bukan hanya pekerjaan yang menyenangkan, tapi keperihan dan kepedihan untuk mencari diri kita yang hilang dan tenggelam dalam pelbagai kedangkalan.

Wacana untuk menembus kegelapan

Kau yang turun dari surga
menentramkan segala sakit dan derita
siapa yang deritanya berlipatganda
akan diteduhkan berlipat ganda pula.
Ah, lelah aku sudah dengan pelbagai upaya
Apalagi artinya semua nikmat dan derita
Tentram dan lega, datanglah padaku
berisirahatlah di dadaku
(Goethe: Wanders Nachtlied).

Puisi itu adalah jeritan agar Tuhan menolong manusia, yang didera oleh derita, dan diombang-ambingkan oleh nikmat dan derita.  Ia ingin semuanya itu berhenti dan ia menjadi tenang.  Dalam keadaan demikian rasanya kematian lebih menghiburkan daripada perjuangan.

Di manakah dia dapat menemukan ketentraman itu?  Ya, dalam puisi itu sendiri.  Bahan puisi yang ditulisnya adalah kententraman itu sendiri.  Dalam puisi itulah, orang membuat suatu wacana tentang kegelapan hidup ini, dan mencoba untuk menemukan alternatif rasional untuk memecahkannya.

Itulah kiranya yang harus kita alami ketika kita menulis.  Kita didera oleh suatu persoalan, kita menjadi lelah dan capai, kita ingin terbebas dari kelelahan dan kecapaian itu, kita ingin menemukan kedamaian dan ketentraman.  Cara kita membebaskan diri dari persoalan, bukan dengan berpolitik, atau berdemonstrasi, tapi dengan menulis.  Tulisan kita harus menjadi "obat", atau "perhentian", yang dapat menyembuhkan sakit kita, mengheningkan dan mengisitirahatkan kelelahan dan kegelisahan kita.

Tulisan yang terburu-buru dan asal-asalan kitanya tak bakal menjadi tempat sandaran yang menentramkan.  Kita puas mungkin, tapi kepuasan itu hanya menyentuh nama  kita di luaran saja.  Di dalam, kita tetap merasa tidak puas, merasa belum menemukan jawab.  Ironisnya, tulisan yang dalam justru menegur kita, mengapa kamu hanya sedangkal itu saja.  Tulisan yang dalam makin menggelisahkan kita untuk terus mencari dan mencari lagi.  Tulisan itu mungkin menentramkan pembaca, tapi tidak bagi kita.  Dalam arti ini menulis adalah pekerjaan yang menyakitkan seperti sebuah pencarian diri yang tak pernah terpuaskan juga amat menyakitkan.

Nasib tulisan itu di tangan pembaca

Tulisan itu menjadi berarti, ketika ia sudah memasyarakat.  Artinya, pembacalah yang menentukan apakah tulisan itu baik atau tidak (Martin Walser).  Ironisnya, ketika kita menulis, pembaca itu tidak terlalu kita perhitungkan.  KIta hanya berekspresi dan berekspresi.  Pembaca sendiri bisa mulai menemukan arti dalam tulisan itu, jika ia sendiri mempunyai pengalaman, seperti dituturkan dalam tulisan itu.

Dengan kata lain antara pembaca dan penulis harus ada sambungan pengalaman yang sama.  Dari sinilah sebuah tulisan itu akan membentuk suatu kesadaran.  Hanya kesadaran itu tidak dapat kita rencanakan dari awal.  Kesadaran itu muncul lewat pembaca dan dari pembaca, setelah mereka membacanya.  Ini paradoks suatu penulisan: arti dari suatu tulisan itu kelihatannya lebih merupakan produk dari pembaca daripada penulisan.  Karena itu benarlah kata-kata: "Nasib buku itu di tangan pembaca, sesuai dengan daya kemampuan dan tingkatan mereka" (Manfred Fuhrmann).

Dilihat dari kacamata di atas, menulis itu adalah suatu petualangan.  Kita boleh merasa tulisan kita baik, ternyata tulisan itu tak berbunyi apa-apa bagi pembaca.  Dalam bahasa pemasaran buku: pasar pembaca itu sulit diterka.  Melihat kenyataan itu, tak bisa kita mematok dari awal, bahwa tulisan kita akan laku.  Kita memang harus memperhitungkan pembaca, tapi kita tidak boleh didikte oleh pembaca.  Biarlah pembaca membacanya, sementara kita hanya menuliskannya.  Memang, jembatan antar kita dan pembaca akan terbangun, jika mempunyai pengalaman yang diandaikan juga dialami pembaca.  Maka menulis sesungguhnya bukan hanya pekerjaan otak, tapi pekerjaan pengalaman: pengalaman mendesak kita untuk merefleksikannya, dan kemudian menuliskannya.

Menulis karena dunia tak menyerupai kita

Andaikan dunia sudah sama dengan kita atau keinginan kita, literatur itu takkan pernah ada (Martin Walser).  Tapi dunia tak pernah sama dengan keinginan kita.  Mengapat dunia tak menyerupai kita?  Karena dari dirinya sendiri, dunia itu tak mempunyai makna.  Sebagai manusia, kita tak dapat menanggung sesuatu yang tanpa makna.   Bahka menyelidiki sesuatu yang tanpa makna pun sudah merupakan upaya untuk memberi makna.  Menulis tak lain tak bukan adalah menanggapi dunia yang tanpa makna dan tak menyerupai kemauan kita itu menjadi sesuatu yang menyerupai kita.  Dengan menulis kita memberi jawaban atas sesuatu yang kita anggap kurang, karena tidak menyerupai kita. 

Untuk menjalankan tugas kepenulisan itu, kita hanya punya satu alat, yakni bahasa. Dengan bahasa, kita mengungkapkan apa yang ingin kita ungkapkan.  Sesuatu yang sudah kita rasa sama dan serupa dengan keinginan kita, belum betul-betul terasa sebagai serupa, karena belum terungkap dan diungkapkan.  Baru dengan bahasa, kita dapat membuatnya terasa, nyata dan terungkap.  Kalimat, yang kita tuliskan, mengatakan pada kita tentang sesuatu, yang tidak kita sadari, sebelum kita mengkalimatkannya.  Jadi bahasa adalah semacam "alat produksi".  Patut diingat, kendati bahasa adalah alat kita, kita bukanlah tuan dari alat tersebut.  Karena itu, kita harus dengan sabar menunggu, sampai bahasa itu menjadi peluang, yang memberi kita jalan untuk mengerti dan membukakan banyak hal, yang sebelumnya tidak kita ketahui.  Percaya pada kekuatan bahasa, kita akan diajak untuk melihat banyak kemungkinan dalam hidup kita, untuk kita ungkapkan.

Banyak penulis lupa akan misteri dan kekuatan bahasa.  Mereka lebih percaya pada pengetahuan dan pengalamannya.  Padahal semua itu tadi masih mentah dan belum nyata, bila tidak dinyatakan dengan bahasa.  Jangan mengira, menyatakan dengan bahasa itu mudah.  Sebelum menyatakan dengan bahasa, kita harus menggulati pengetahuan kita dengan bahasa.  Sering terjadi, dalam pergulatan itu kita kalah.  Kita merasa tahu dan mengerti, merasa mengalami dan sadar, tapi semuanya itu tudak dapat kita kalimatkan, artinya bahasa tak membantu kita untuk menyatakan semuanya itu tadi.  Akhirnya, semuanya tinggal sebagai kegelapan dan kebawahsadaran, padahal kita merasa tenang dan sadar tentangnya.  Dalam hal ini bahasa adalah sarana pencerahan bagi kegelapan kita.

Kendati tidak pernah bisa menjadi seratus persen tuan atas bahasa, bahasa harus kita latih dan kuasai.  Kalau logika bahasa kita mampet, kalau gramatika kita kacau, kalau keindahan bahasa tidak kita kuasai, dan perbendaharaan bahasa tidak kita punyai, dalam menulis kita hanya akan menjumpai kekeringan belaka.  Sebaliknya, jika kita terlatih dan kaya akan bahasa, lorong-lorong kepenulisan tiba-tiba membuka dengan sendirinya.

Menulis dan kesepian

Berani menyendiri, berada dalam kesepian dan keterasingan adalah hal yang harus terjadi dalam kepenulisan (Marguerite Duras).  Kesepian itu bahkan harus dialami bukan hanya secara rohani, tapi juga secara badani.  Namun kesepian ini bukan berarti isolasi.  Kesepian itu lebih merupakan semacam keberadaan diri yang sadar, yang justru terus bergulat untuk menemukan kontak tapi juga menolak kontak.

Dalam kesepian itu orang bahkan menjadi liar.  Menulis memang membuat orang menjadi liar.  Menulis membuat orang kembali kepada kebuasan, yang  ada sebelum hidupnya.  Seorang penulis tiba-tiba mendapati dirinya liar seperti di hutan, dan selalu liar sepanjang hidupnya.  Untuk menulis, orang harus menggigit bibir, bergulat dengan keliarannya.  Untuk itu ia harus menjadi lebih kuat dari tubuhnya.  Ia juga harus lebih kuat daripada apa yang hendak ditulisnya.  Kalau tidak, ia akan menyerah dan kalah.  Maka menulis itu sebenarnya bukan hanya menulis, tapi mengalahkan kelemahan dirinya, menundukkan apa yang dihadapinya.  Penulis itu bagaikan binatang, yang berseru di kala malam.  Penulis itu tiba-tiba merasakan hidup ini vulgar, dan ia tidak bisa menghaluskannya, sebelum ia ikut dan terbenam dalam kevulgaran itu.

Jelas, orang yang tidak berani sepi, dia tak mungkin jadi penulis yang baik.  Tapi kesepian itu bukan romantisme kesendirian.  Kesepian itu adalah suasana, yang menantang kita untuk berani bergulat dengan seluruh realitas, yang ternyata tidak mudah kita taklukan.  Tak jarang orang menyerah dalam pergulatan itu, karena ia merasa tidak kuat dan tidak mampu.  Menulis akhirnya adalah suatu askese, matiraga, suatu kebertapaan di tengah keramaian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...