Kamis, 12 November 2009

Tahu Diri

Kategori Organisasi Industri
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 4/18/2008
________________________________________

Tahu Diri Itu Proses!
Istilah tahu diri ini memang kalimatnya mudah dan sederhana. Tetapi terus terang saja sulit dijelaskan seperti apa detail-nya. Sama seperti istilah orang baik. Kalimatnya sederhana dan mudah diucapkan oleh siapa saja, tetapi seperti apa orang baik itu bisa dibeberkan, tentu ini sulit. Sama juga istilah kehidupan yang baik dalam agama. Orang yang langkahnya baik dan punya amal perbuatan baik pada orang lain akan diberi hadiah berupa kehidupan yang baik yang menyedapkan pandangan mata. Meskipun tidak bisa dijelasan detailnya, tetapi perasaan kita sudah tahu itu.
Kenapa istilah tahu diri itu susah didetailkan? Salah satu sumber kesulitan itu adalah karena cakupannya yang sangat luas. Kalau dilihat dari penggunaannya sehari-hari, pengertian tahu diri dalam agama itu berbeda dengan tahu diri dalam ilmu pengetahuan (khususnya SDM atau Psikologi). Beda lagi dengan yang sering kita gunakan dalam pergaulan sehari-hari. Kalau kita minta sesuatu ke teman atau kenalan, lalu kita masih milih juga atau menuntut yang lebih baik lagi, ini namanya tidak tahu diri. Sudah minta nyuruh pula. Tahu diri di sini diartikan sebagai sikap atau prilaku yang "sensitive" menempatkan posisi orang lain dan posisi diri sendiri di tempatnya masing-masing.

Seorang pengusaha pernah mengatakan karyawannya yang bernama si A itu tidak tahu diri. Dulu dia pengangguran lalu diterima sebagai pegawai. Setelah tahu seluk beluk bagaimana menjalankan bisnis di kantor itu, eee malah pamit tidak bilang-bilang, plus membajak anak buahnya yang terampil dan membikin bisnis saingannya. Orang Jawa menyebutnya dengan istilah menolong harimau yang sedang terjepit. Harimau yang kita tolong itu malah menerkam kita.
Tahu diri juga sering kita gunakan untuk menjelaskan prilaku seseorang yang tahu "diuntung". Lawannya adalah orang yang tidak tahu diuntung. Ini seperti yang dialami Ibu S yang saya saksikan dalam tayangan tivi. Dengan niat baiknya, Ibu ini ingin membesarkan salah satu anak jalanan yang sering mangkal di dekat kantornya. Kenangnya, anak itu kelihatan masih bersih, lugu, dan tidak tahu siapa orangtuanya. Tapi setelah besar, si anak yang dulu diasuhnya dengan susah-payah itu malah berbalik menjadi duri di dalam rumah tangganya. Si anak dibilang tidak tahu diri. Saking kesalnya, Ibu S berteriak dengan maksud berbagi pengalaman kepada masyarakat. "Jangan mengambil anak sembarangan atau karena kasihan. Mungkin saja dia bukan keturunan orang baik-baik."
Dalam agama, istilah tahu diri itu sering digunakan untuk menjelaskan sikap yang tidak sombong. Kesombongan seperti apa yang dimaksudkan? Kesombongan di sini maksudnya adalah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia (arogan). Kalau kita sudah tahu kebenaran tetapi kita menolaknya karena kebenaran-egoisme milik kita, namanya kesombongan. Begitu juga kalau kita sudah merasa "lebih" dari orang lain lalu perasaan itu kita gunakan untuk merendahkan mereka, namanya kesombongan. Kesombongan identik dengan ketidaktahun-diri.
Nah, dalam konsep dan praktek pengembangan SDM, tahu diri itu punya pengertian yang lain lagi. Tahu diri di sini diartikan sebagai bentuk kemampuan seseorang dalam mengetahui kelebihan dan kekurangannya lalu menggunakan semua itu untuk meraih prestasi di bidang-bidang yang dipilih. Tahu diri juga digunakan untuk menjelaskan kemampuan seseorang dalam memahami peluang untuk maju atau kemampuan seseorang dalam memahami masalah yang menghambat langkahnya. Tahu diri di sini mengarah pada pengertian pengetahuan-diri (self-knowledge).
Jadi, secara keseluruhan, tahu diri sini terkait dengan sejauhmana seseorang itu mampu mengaktifkan kapasitas intelektual, emosional, dan spiritualnya secara proporsional sehingga mampu memahami etika kepatutan, mampu menerapkan ajaran moral, dan mampu menjalankan agenda aktualisasi potensi-diri. Tentu saja, karena ini luas cakupannya, maka tidak ada orang yang punya pengetahuan-diri sampai ke tingkat yang sempurna dan sudah final. Pengetahuan-diri adalah proses yang terus dinamis sampai kita meninggal.
"Kau kira dunia di luar dirimu itu luas, padahal dunia di dalam dirimu itu jauh lebih luas." (Ali Bin Abu Thalib)
Intrapersonal Skill
Teori pengembangan SDM industri mengenal istilah intrapersonal skill yang kerap digunakan untuk menjelaskan apa itu pengetahuan-diri (self-knowledge). Disebut skill berarti itu adalah hasil yang didapat berdasarkan pencapaian individu (achieved). Meskipun ada juga yang menyebutnya dengan intrapersonal intelligence, namun maksud intelligence di situ bukan kecerdasan bawaan, melainkan hasil pemberdayaan (new construct). Ada yang menyebutnya juga sebagai cara belajar yang paling pas untuk individu, the way the people can learn best.
Apa itu intrapersonal? Menurut Howard Gardner (Frames of Mind: 1983), intrapersonal (skill / intelligence) adalah sensitivitas seseorang terhadap perasaannya, keinginannya, pengalaman hidupnya atau sensitivitasnya terhadap "hal-hal" yang mengancam dirinya. Sensitivitas di sini maksudnya lebih dekat pada pengertian sejauhmana orang itu mengetahui, menyadari dan bisa menggunakan "hal-hal" tersebut sebagai bahan pembelajaran-diri. Termasuk dalam pengertian ini adalah kesadaran seseorang terhadap kekuatan, kelemahan, rencana, dan tujuannya. Semakin bagus skill seseorang di beberapa hal ini kira-kira akan semakin akuratlah pengetahuannya.
Sama seperti Howard Gardner, Microsoft Education menjelaskan bahwa yang disebut intrapersonal itu adalah kesadaran seseorang terhadap bakat, kemampuan, peluang, kekuatan, keterbatasan dan kelemahannya. Bedanya, Microsoft punya penyekalaan. Alasannya, semua orang sedikit-banyaknya punya pengetahuan tentang dirinya, tetapi yang berbeda adalah levelnya. Soal level ini penjelasannya sebagai berikut:
LEVEL INDIKATOR UMUM
Level 1 Anda baru mengetahui bakat, kemampuan, peluang, kekuatan, keterbatasan dan kelemahan anda.
Level 2 Anda menyadari bakat, kemampuan, peluang, kekuatan, keterbatasan dan kelemahan anda. Anda bisa memperkirakan berbagai bentuk kemampuan / kelemahan yang paling mungkin, dan bisa mensinergikannya dengan orang lain pada momen yang tepat. Anda melakukan proses pembelajaran untuk meningkatkan skill atau pengetahuan anda.
Level 3 Anda sudah mengidentifikasi motif, harapan, kecenderungan, keinginan, dan kebutuhan secara akurat. Anda sudah punya gambaran yang jelas tentang diri anda (kemampuan, kelebihan atau bakat anda). Anda berusaha menggali feedback dengan berkreasi, terbuka terhadap kritik, terbuka menerima masukan perbaikan. Anda sudah bisa mendeklarasikan kelebihan dan kelemahan anda secara fair. Anda sudah bisa menghindari penudingan (blaming) atas apa yang menimpa anda atau kesalahan anda.
Level 4 Anda sudah bisa mengajari / membimbing orang lain untuk menemukan dan menggali potensi mereka.
Bagi banyak orang, memang standar yang ditetapkan Microsof itu terasa ketinggian. Maklum saja. Mungkin itu bukan untuk umum, tetapi untuk karyawan mereka. Sebab, kalau kita melihat ke masyarakat umum, banyak orang yang tidak tahu kelebihannya atau merasa tidak punya kelebihan apa-apa. Mereka hanya mengetahui kelemahan atau kekurangannya. Kata Robbin S. Sharma, kebanyakan orang sudah mati begitu usianya masuk duapuluh tahun dan baru dikebumikan nanti ketika usianya sudah di atas enam puluh tahun. Mati di sini sudah tahu dong apa maksudnya. Kalau kita sampai gagal mengungkap apa kelebihan dan keunggulan kita, itu sama saja kita mati dalam tanda kutip.
Ada lagi yang sudah tahu tetapi tidak mau dan tidak mampu menggunakannya. Misalnya saja tidak memiliki komitmen, fokus, dan semangat belajar (learning). Atau juga lebih mengarahkan fokus pikirannya pada masalah, bukan pada peluang atau tujuan. Ada lagi yang angot-angotan atau tidak jelas. Punya banyak keinginan tetapi usahanya minim. Menurut Jenderal Soemitro, kehebatan Pak Harto (sebagai pribadi) itu adalah keinginannya yang sederhana dan perjuangannya yang luar biasa.
Ada lagi yang sudah tahu dan sudah menggunakannya, tetapi cara yang ditempuh, tujuan yang ingin diraih, atau motif yang menggerakkannya negatif. Jadilah dia orang yang hebat tetapi kehebatannya itu menelan korban (merugikan atau mencelakakan orang banyak). Ada lagi yang menggunakannya untuk kepentingan diri sendiri. Sejauh itu proporsional tentu masih bisa dibilang cukup baik, namun tentu belum sampai ke yang terbaik.
Nah, yang perlu kita jadikan acuan adalah: kita mengeksplorasi berbagai kelebihan, menggunakannya untuk merealisasikan target positif, menempuh cara yang benar atau tidak melanggar, dan tidak semata-mata kita niati untuk kepentingan diri sendiri. Jadi, sasaran idealnya adalah beraktualisasi untuk berkontribusi. Kalau kita hanya beraktualisasi, memang sudah baik namun belumlah yang terbaik. Sebaliknya, kalau kita ingin berkontribusi tetapi tidak beraktualisasi, ini tidak realistis juga atau tidak tahu diri.



Refleksi Lima Kelompok Manusia *
1. Manusia yang tidak tahu atau tidak mau tahu apa kelebihan dan apa keinginannya. Mereka menginginkan agar orang lain atau Tuhan menghendaki sesuatu untuk dirinya. Mereka ini termasuk pecundang yang kalah.
2. Manusia yang tahu dan mau tahu tetapi tidak tahu atau tidak mau tahu cara yang harus ditempuh. Mereka ini termasuk orang yang frustasi
3. Manusia yang sudah tahu dan tahu cara yang harus ditempuh tetapi ujung-ujungnya tidak mau melakukan. Mereka ini termasuk yang merugi
4. Manusia yang sudah tahu kelebihan dan keinginannya, tahu cara untuk mendapatkannya, dan sudah menggunakan cara itu, tetapi semangatnya setengah-setengah. Mereka ini termasuk pemalas
5. Manusia yang sudah tahu, tahu cara untuk mendapatkannya, dan sudah menggunakan cara dengan semangat yang tinggi atau selalu berusaha untuk membuat semangatnya menyala terus. Mereka ini termasuk orang yang beruntung.
*) Dari berbagai sumber
"Peranan Anda lebih menentukan ketimbang kecerdasan yang Anda miliki"

Howard Gardner

Lima Acuan
Sebetulnya ada acuan yang lebih lengkap mengenai pengetahuan-diri itu. Ini bisa kita lihat di The Bar-on Model of Emotion-Social Intelligence (2000). Pengetahuan-diri di sini punya cakupan sebagai berikut:
1. Self-Regard: punya persepsi, punya pemahaman, dan punya penerimaan yang akurat. Tanda-tandanya adalah tidak minder dan tidak over; tidak rendah-diri dan tidak pula tinggi hati; tidak inferior dan tidak superior.
2. Emotion Self-Awareness: punya kesadaran terhadap berbagai emosi yang muncul di dalam dirinya. Tanda-tandanya adalah punya kemampuan dalam menangani stress atau menggunakannya untuk hal-hal positif, tidak menanggapi secara berlebihan (reaktif) terhadap kesenangan atau kesedihan, tetap bisa fokus pada hal-hal positif di tengah kekacauan atau kemapanan.
3. Assertiveness: punya kemampuan mengekspresikan perasaan secara konstruktif dan efektif. Tanda-tandanya adalah mampu memikirkan dan memilih kalimat atau ungkapan yang bagus dan kuat dalam berkomunikasi atau mengkomonikasikan sesuatu kepada orang lain.
4. Independence: punya kematangan dan keberlimpahan emosi, bahagia pada dirinya (self-worth) atau punya kemandirian mental (pede). Tanda-tandanya adalah tidak mudah tertusuk perasaannya oleh orang lain, tidak mudah merasa merana, rasional dalam menyelesaikan persoalan, tidak mudah terbuai oleh hal-hal yang menipu, atau punya locus of control ke internal.
5. Self-Actualization: punya tujuan yang terus direalisasikan dengan mengembangkan potensinya. Tanda-tandanya adalah memiliki langkah hidup yang dinamis (bergerak menuju ke yang lebih bagus, lebih tinggi, lebih besar, lebih mendalam, lebih bermanfaat, dst), punya kemauan belajar, berani bereksperimentasi ide-ide baru, tetap memiliki perhitungan, membutuhkan orang lain namun tidak mengandalkan mereka.
"Orang yang mengetahui banyak hal, tetapi kurang mengetahui dirinya,
pengetahuan yang banyak itu tidak bisa memberikan manfaat yang banyak."
(Petuah Bijak)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...