Jumat, 06 November 2009

Serat Wedhatama

Tembang Macapat Pangkur 14 bait

1. Mingkar mingkuring angkara, akarana karenan mardi siwi, sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta, mrih kretarta pakartining ngilmu luhung, kang tumprap neng tanah jawi, agama ageming aji.
(Menjauhkan diri dari nafsu angkara, karena berkenan mendidik putra dalam bentuk syair dan lagu, dihias penuh variasi, biar meniwai ilmu luhur yang dituju, di tanah jawa/ indonesia ini, adalah agama sebagai pegangan hidup).

2. Jinejer neng wedhatama, mrih tan kemba kembanganing pambudi, mangka nadyan tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yekti sepi asepa lir sepah, samun samangsane pasamuan, gonyak ganyuk nglilingsemi.
(disajikan di wedhatama, agar jangan kekurangan pengertian, bahwa sebenarnya walau telah tua bangka, jika tak punya perasaan, sebenarnya tanpa guna, bagai sepah buangan, bila dalam pertemuan, sering bertanduk salah dan memalukan).

3. Nggugu kersaning priyangga, nora nganggo peparah lamun angling, lubuh ingaran balilu, uger guru aleman, nanging janma ingkang wus waspeding semu, sinamun ing samudana, sesadon ingadu manis.
(hanya mengikuti kehendak sendiri, bila berkata tanpa perhitungan,tidak mau dianggap bodoh, hanya mabuk pujian, namun orang yang tahu gelagat/pandai, justru selalu merendah hati, berpura-pura, mnanggapi semua dengan baik).

4. Si pengung nora nglegewa, sangsayarda denira cacariwis, ngandhar-ngandhar angendhukur, kandhane nora kaprah, saya elok alangka lokanganipun, si wasis waskhita ngalah, ngalingi marang si pinging.
(si dungu tidak menyadari, bualannya semakin menjadi-jadi, melantur tidak karuan, bicaranya yang hebat-hebat, makin aneh dan tak masuk akal, si pandai maklum dan mengalah, menutupi ulah si bodoh).

5. Mangkono ngelmu kang nyata, sanyatane mung weh reseping ati, bungah ingaran cubluk, sukeng tyas yen denira, nora kaya si punggung anggung gumrunggung, ugungan sadina-dina, ojo mangkono wong urip.
(demikianlah ilmu yang sejati. sebenarnya hanya menyenagkan hati, suka dianggap bodoh, gembira apabila dihina, tidak seperti si dungu yang sombong, ingin dipuji setiap hari, janganlah demikian hidup dalam pergaulan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...