Selasa, 17 November 2015

Idealisme H Mahbub Djunaidi


Oleh Ahmad Halim 
Tepat pada hari ini, Kamis 1 Oktober 2015, adalah adalah haul ke-20 H. Mahbub Djunaidi. Banyak pelajaran dari anak Betawi kelahiran 1933 ini. Tapi idealismenya yang kokoh bagaikan batu karang, susah ditiru siapa pun.

Hari ini, kita bisa saksikan sendiri dengan mata dan kepala, banyak para politisi, seniman, wartawan, dan pemimpin di sebuah organisasi baik kemahasiswaan, organisasi massa (Ormas) ataupun Lembaga swadaya Masyarakat (LSM) yang terbuai akan kekuasaan, dan malah ikut dalam menyumbangkan permasalahan yang sampai saat ini agak sulit untuk diberantas, yakni korupsi.

Jika saat ini para politisi, seniman, wartawan dan pemimpin organisasi sibuk untuk mendekatkan diri dalam pusaran kekuasaan. Mahbub yang juga pernah menjadi politisi, seniman, jurnalis dan pemimpin organisasi besar justru tidak memanfaatkan untuk ambisi politiknya atau mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.

Saat ditawarkan kekayaan oleh Orde Baru, pria yang memiliki tradisi Nahdlatul Ulama (NU) itu justru menolak. Sampai akhirnya pendiri organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini akhirnya dipenjarakan di rutan Nirbaya oleh Suharto. Bersama dengan sahabat-sahabatnya Soebandrio, Omar Dhani dan beberapa nama lain dengan alasan yang tak masuk akal yakni dianggap menghasut karena mengusulkan pencalonan Ali Sadikin sebagai Presiden RI di depan forum mahasiswa.

Namun dalam sebuah surat kepada temannya yang dikirim dari dalam penjara, Mahbub mengatakan “Rasanya bui bukan apa-apa buat saya. Apalagi bukankah ditahan itu suatu ‘resiko bisnis’? Kata orang, penjara itu ibaratnya perguruan tinggi terbaik, asal saja kita tidak dijebloskan karena mencuri! Saya merasakan benar kebenaran misal itu…Sedangkan nonton bioskop perlu ongkos, apalagi demokrasi. Dan ongkos itu perlu dibayar! Iuran saya sebenarnya sedikit sekali. Jalan masih panjang, apapun yang terjadi mesti ditempuh…” (Emmy Kuswandari, 2008).

Hal di atas tentu tidak akan dilakukan oleh ketua DPR Setyo Novanto, dan wakilnya Fadli Zon yang menghadiri kampanye kandidat presiden Amerika Donald Trump, dan kunjungan  politik ketua majelis permusyawaratan rakyat (MPR) Zulkifli Hasan ke negeri tirai bambu. Sebab, idealisme mereka sudah pudar bahkan bisa dikatakan sudah hilang.

Oleh karena itu, wajar jika tokoh pers Jakob Oetama berani mengatakan bahwa  Mahbub Djunaidi adalah seorang yang berprinsip, demokratis, moderat, dan tak pernah mencerca lawan-lawannya. Berbeda dengan para politisi saat ini.

Inilah yang saat ini sulit dicari, dimana kebanyakan orang jika sudah ada dalam pusaran kekuasaan akan memanfaatkan kedekatannya, bahkan sudah menjadi lumrah jika orang-orang yang dekat dengan kekuasaan ikut menimbun harta dengan cara yang tidak wajar (korupsi).

Idealisme yang kokoh, memang membuat pria kelahiran Jakarta 27 Juli 1933 ini menjadi orang yang sederhana: penampilan dan material. Tapi itu menjadi kekuatanya dalam mempertahankan prinsip.

Saat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR GR) pada tahun 1967-1971 ia tetap mengkritik pemerintah dan mempertahankan prinsipnya melalui kata-kata yang disusunya dengan dibumbui rasa humor tentunya. Oleh karenanya ia dijuluki sebagai “pendekar pena”.

Mahbub pernah menulis artikel, "Buku Petunjuk Pendidikan Politik Sejak Dini" (Kompas, 18 Maret 1981). Dalam tulisannya, pendekar pena tersebut, mengkritik para pemimpin bangsa dengan gaya penulisan yang satire dan juga dibumbui rasa humor. 

Begini tulisannya: Apabila seorang anak sudah duduk di kelas V sekolah dasar, paling lambat di kelas VI, ajaklah dia ke kebun binatang. Begitu menginjak pintu gerbang, segera bisikkan di kupingnya, "Kamu tidak mau dijebloskan ke dalam kandang seperti makhluk-makhluk itu, kan? Nah, jadilah kamu manusia yang paham politik. Manusia yang tidak berpolitik itu namanya binatang, dan binatang yang berpolitik itu namanya manusia."

Mungkin mantan ketua umum PMII tiga periode 1960-1967 itu ingin berpesan kepada publik agar kita jangan sampai seperti monyet dalam memilih pemimpin. Kata Mahbub, "Kamu lihat monyet yang paling besar dan paling beringas itu? Dialah kepala, pemimpin monyet-monyet lain di kandang itu. Dia menjadi kepala dan menjadi pemimpin itu bisa disebabkan beberapa faktor. Bisa karena dia paling tua, bisa juga karena paling pintar. Tetapi yang jelas karena dia paling besar, paling kuat, paling perkasa, paling mampu membanting monyet-monyet lainnya yang tidak menurut. Alasan takutlah yang membuatnya bisa menjadi pemimpin. Monyet tidak pernah mengenal sistem pemilihan seperti halnya bangsa manusia. Ini kedunguan warisan,".

Tokoh multi talenta ini, kini sudah meninggalkan kita 20 tahun lamanya, namun bukti idealismenya sampai saat ini masih dapat kita baca dan pelajari. Karya-karyanya dan jasa-jasanya kini telah tertoreh dalam tinta emas dunia pergerakan dan jurnalis, sehingga kita dapat mengikuti dan belajar dari sosok multi talenta, pemegang teguh prinsip, demokratis, moderat dan humoris seperti Mahbub Djunaidi. Alfatihah... 


Ahmad Halim, Sekretaris PMII DKI Jakarta
http://www.nu.or.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...