Jumat, 13 November 2015

Tingkatan Manusia menurut Wahdah al-Wujud Ibn Arabi


Oleh: Haidar Bagir

Dalam hubungan dengan pemahaman atas prinsip ketunggalan wujud, para pemikir faham ini—diwakili oleh Sayid Haidar ‘Amuli—biasa membagi manusia dalam hal kemajuannya di dalam perjalanan ruhaniah ke dalam tiga kelompok.

Kelompok pertama adalah orang-orang kebanyakan (awam). Termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang hanya menggunakan akalnya saja (dzaw al-‘aql). Yang paling rendah adalah orang-orang yang tak bisa melihat sesuatu yang lain kecuali dunia kasat mata ini. Bagi mereka, tak ada sesuatu di baliknya. Masih dalam kelompok orang awam ini, terdapat sekelompok orang yang bisa melihat bahwa di balik dunia fenomenal yang kasat mata ini sesungguhnya ada Sesuatu Zat Yang Mutlak, disebut Tuhan. Tapi, bagi kelompok ini, Tuhan tampil sebagai Zat Yang (semata-mata) Transenden atau ter­pisah dari ciptaan-ciptaan-Nya. Dalam pandangan ini, tak ada hubungan lain antara Tuhan dan ciptaannya kecuali hubungan ekster­nal seperti penciptaan dan dominasi Allah atas ciptaan-ciptaan-Nya. Mereka inilah “manusia-manusia lahir” (ahl al-zhâhir).

Kelompok kedua, yang sudah lebih tinggi maqâm-nya dalam perjalanan ruhaniah ini (khawâshsh, yakni orang-orang yang telah menggunakan intuisi-mistikal­nya, atau dzaw al-‘ain), telah berhasil mencapai tingkat fanâ’—yakni kesirnaan-diri di dalam Allah Swt. Bersama dengan itu, mereka pun tak lagi menampak alam se­mesta ini. Di “mata” mereka, yang ada hanya Allah. Tak ada diri mereka, tak ada pula ciptaan-ciptaan-Nya yang lain. Yang mereka lihat hanya “ke-Tunggal-an”, hanya Allah. Namun, ketika orang-orang ini kembali dari ke-fanâ’-annya—karena fanâ’ adalah satu di antara ber­­bagai keadaan ruhaniah (ahwâl ) yang bersifat se­men­tara saja—maka mereka kembali melihat kejamak­an (mul­­­tisiplisitas) ciptaan-ciptaan-Nya. Hanya, kali ini me­­reka melihat segala kejamakan ini sebagai ilusi, atau maya. Dalam pandangan mereka, dunia feno­menal itu tak memiliki nilai ontologis (kewujudan) karena sejati­nya kesemuanya itu tak real. Objek-objek eksternal itu sesungguhnya tak “wujud” dalam makna-sejati kata itu.

Tapi, di mata kelompok ketiga (filosof-sufi dari maqâm tertinggi), pandangan kelompok kedua ini tak sepenuhnya benar. Dunia eksternal ciptaan-ciptaan ini sesungguhnya benar-benar ada. Bahkan, ketika mereka mengalami “peng­lihatan” (visiun) akan Allah, mereka sebenarnya meli­hat itu sebagai terpantul dalam ciptaan-ciptaan-Nya. Hanya saja, sebagian orang dalam kelompok ketiga, yang belum lagi mencapai puncak perjalanan, silau oleh sinar kemilau tak terkira (yang bersumber dari) Allah, sehingga mereka kehilangan kemampuan untuk melihat ciptaan-ciptaan yang memantulkan-Nya itu.

Jika bagi kelompok pertama – yang melihat Tuhan dalam berbagai ciptaan di alam semesta -- Sang Mutlak bertindak sebagai cermin-mengkilat yang di dalamnya ciptaan-ciptaan-Nya terpantulkan, maka bagi kelompok kedua segala-sesuatu yang selain Allah itulah yang memantul­kan Sang Mutlak. Dalam kedua hal itu, orang biasanya hanya melihat bayangan-bayangan yang dipantulkan dalam cermin itu, sementara cermin itu sendiri tak tampak. 

Dalam pandangan kelompok ketiga yang telah ma­suk ke dalam yang elite dari para elite (khawwâsh al-khawwâsh atau orang-orang yang menggunakan akal dan intuisinya, dzaw al-‘aql wa al-‘ain) ini, hubungan antara Allah dan ciptaan-Nya mengambil bentuk ke-Tunggal-an dalam kejamakan. Orang-orang yang te­lah meng­alami “tinggal-tetap” (baqa) dalam Allah ini mampu melihat Allah dalam ciptaan-Nya dan ciptaan-Nya dalam Allah. Mereka dapat melihat, baik cermin maupun bayangan-bayangan yang terpantul di dalam­nya. Dengan kata lain, Allah dan ciptaan-Nya secara bergantian bertindak sebagai cermin dan bayangan. (Satu-satunya) “wujud”—dalam hal ini harus ditulis se­bagai “Wujud”—adalah sekaligus Allah dan ciptaan-Nya, Sang Mutlak dan dunia fenomenal (inderawi), serta ke-Tunggal-an dan kejamakan (unitas dan multiplisitas). Peng­lihat­­an akan hal-hal fenomenal tidak menghalangi mereka dari melihat ke-Tunggal-an murni dari Hakikat pun­cak. Tak pula penglihatan akan yang Tunggal meng­halangi mereka dari menangkap kejamakan. 

Sebalik­nya, keduanya melengkapi satu sama lain da­lam meng­ungkapkan struktur Hakikat yang sebenarnya. Karena keduanya adalah dua aspek dari Hakikat yang sama. Ke-Tunggal-an menampilkan aspek “kemutlak­an” (ithlâq), sementara kejamakan menampilkan aspek “per­luasan konkret” (perluasan dalam bentuk-bentuk kasat mata atau tafshîl ) (dari Yang Mutlak itu). Orang-orang yang telah mencapai maqâm ini disebut juga sebagai “yang memiliki dua mata (dzaw al-‘ainyin),” yang satu melihat ke-Tunggal-an dan yang lain melihat kejamakan. Proses pe­nampakan ke-Tunggal-an yang pada awalnya tak-ter­bedakan ke dalam berbagai bentuk ini biasa disebut sebagai “pengejawantahan-diri” atau “manifes­tasi-diri” (tajallî ) dari Sang Wujud (Allah). 

Memisalkan hu­bungan ini dengan hubungan matahari dan sinarnya mungkin akan mem­bantu. Sinar matahari hanya ada bersama dengan ma­ta­hari, sebagai sumbernya. Selama ada mata­hari, sinar matahari ada. Sinar matahari juga tak pernah berada terpisah dari matahari itu sendiri. Tapi, sinar matahari tak sama dengan matahari itu sen­diri. Jadi, meski tak pernah terpisah, sinar matahari ber­­beda dengan mata­hari.

[Islam-Indonesia]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOMOR 2

Nomor Dua Oleh: Dahlan Iskan Kamis 15-02-2024,04:37 WIB SAYA percaya dengan penilaian Prof Dr Jimly Assiddiqie: pencalonan Gibran sebagai wa...