Senin, 14 Maret 2016

al-Asfar al-Arba'ah Perjalanan (1): Dari al-Khalq Menuju al-Haq



Jumat, 27 Maret 2015, 19:38 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Meskipun manusia sama-sama sebagai hamba dan khalifah serta sama-sama memiliki instrumen kecerdasan spiritual, manusia memiliki tingkatan kecerdasan spiritual yang berbeda-beda satu sama lain. Menurut Sayid Kamaluddin Haidary, ada tujuh tingkatan sekaligus instrumen kecerdasan spiritual, yaitu jiwa (al-nafs), akal (al-'aql), kalbu (al-qalb), roh (al-ruh), rahasia (al-sirr), yang tersembunyi (al-khafy),  yang lebih dalam tersembunyi (al-akhfa).

1.    Maqam jiwa (al-nafs) ialah kualitas manusia yang masih berkutat kepada kesenangan dan kepuasan fisik-duniawi. Keadaan dirinya masih sebatas: Rabbana atina si aldunya… (Ya Allah anugrahkanlah kebaikan di dunia/QS al-Baqarah/2:201). Orang seperti ini masih terlilit dengan cinta dunia (hub al-dunya). Orang ini berpotensi menyerupai binatang atau lebih buruk lagi (ulaika ka al-an'am bal hum adhal/QS al-A'raf [7]:179 ). Out-put orang ini sama dengan yang dikatakan di dalam Alquran: Ma lahu fi al-akhirah min khilaq (“…tiadalah baginya keuntungan di akhirat”/QS al-Baqarah [2]:102).

2.    Maqam akal (al-'aql) ialah mereka yang sudah mulai melek akhirat meskipun dunianya masih lebih kuat. Mereka inilah yang dilukiskan di dalam Alquran: Rabbana atina fi al-dunya hasanah wa fi al-akhirh hasanah ("Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat/ QS al-Baqarah [2]:201). Keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

3.    Maqam qalbu (al-qalb) ialah orang yang sudah mencapai maqam ihsan, yang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan dan dijawab: An ta'bud Allah ka annaka tarahu (ia menyembah Allah SWT bagaikan melihat-Nya/HR Bukhari).

4.    Maqam roh (al-ruh) ialah orang yang sudah sampai kepada maqam “anna”, bukan lagi “ka anna”, maksudnya ia sudah melihat Allah, bukan lagi bagaikan melihat Allah.

5.    Maqam rahasia (al-sirr), yaitu orang yang sudah sampai kepada tingkatan fana' (lihat artikel terdahulu tentang al-fana'). Ia sudah seperti seorang yang sedang fana' berucap: Ma raitu sayi'an illa wa rait Allah qablahu wa ba'dahu wa ma'ahu (Saya tidak melihat sesuatu kecuali melihat Allah sebelum, sesudah, dan bersama-Nya).

6.    Maqam tersembunyi, tertutup (al-khafiy), yaitu orang yang sudah sampai kepada maqam al-qurb al-nawafil (lihat artikel terdahulu tentang hal ini). Inilah yang mendapatkan janji dari nabi dalam ungkapan: “… ma yazalu 'abdi yataqarrabu ilayya bi al-nawafil hatta ahbabtuhu kuntu sam'uhu al- ladzi yasma'u bihi….” (Tiada seorang hamba yang berusaha mendekati diriku (dengan al-qurb al-nawafi) hingga Aku mencintainya. Jika  Aku mencintainya maka jadilah telingaku yang digunakan untuk mendengar…”).

7.    Maqam  yang lebih tersembunyi dan lebih mistryfull lagi (al-akhfa), yaitu orang yang sudah sampai kepada maqam al-qurb al-faraid, sebagaimana telah dijelaskan dalam artikel terdahulu. Orang ini tidak lagi menggunakan “pendengaran” (al-sami') atau “penglihatan” (al-bashirah) Allah SWT, tetapi sudah menggunakan “telinga” (al-udzun) dan “mata” (al-'ain) Allah SWT. Tidak ada lagi kekhawatiran sedikut pun karena pengetahuannya sudah sampai kepada haqq al-yaqin.

Meskipun sudah sedemikian tinggi maqam capaian hamba sebagaimana tersebut di atas, masih tetap di dalam safar atau al-asfar al-awwal. Orang yang sudah sampai di maqaman tersebut di atas masih banyak maqam lebih tinggi. Masih ada tiga safar lagi yang menantang kita untuk melewatinya. Tidak mungkin memimpikan safar-safar lanjutan tanpa khatam dengan safar awal ini. (Bersambung). 

Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Biografi Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam

  Pada tanggal 19 April 1939, calon Pemimpin Iran Islam lahir di kota suci Mashhad, di provinsi Khorasan. Sayyed Ali adalah putra kedua Sayy...